Anda di halaman 1dari 5

Plutella xylostella merupakan salah satu hama penting pada tanaman kubis.

Selain
kubis,P.xylostela menjadi hama beberapa varietas kubis dan beberapa tanaman dari
familia. Cruciferae termasuk lobak, sawi dan bunga kol (Harjaka dan Suryanti, 2002;
Hastuti, 2003; Wikipedia, 2011. Pengendalian dengan menggunakan musuh alami
dirasa sangat baik dan aman karena tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
Bakteri B.cereus adalah salah satu agensia patogen yg mempunyai potensi besar
untuk digunakan sebagai pengendali hayati . Bakteri ini termasuk ke dalam bakteri
selulolitik karena dapat ditemukan pada tanah, pupuk atau jaringan tumbuhan yang
membusuk dan mempunyai inang yg spesifik, tidak berbahaya bagi musuh alami
hama dan organisme non target lainnya, mudah terbiodegradasi oleh lingkungan serta
dapat dinaikkan patogenisitasnya dengan teknik rekayasa genetika (Khetan, 2001).
Binoto (2001) menemukan strain B.cereus yang diisolasi dari serangga sakit dan diuji
terhadap larva Crocidolomia binotalis. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa
strain-strain B.cereus dan bakteri entomopatogenik lainnya dapat diisolasi dari
berbagai tempat di seluruh kepulauan Indonesia. Pada penelitian ini perlu dilakukan
pengujian bakteri tanah B.cereus untuk mengetahui patogenisitasnya terhadap larva
P.xylostella yang merupakan salah satu hama penting tanaman kubis di Indonesia.
Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh isolat bakteri B.cereus dari tanah yang
berpotensi sebagai pengendali hayati hama P.xylostella.
Tahapan proses isolasi Bakteri Bacillus Cereus:

Tahap Sampel
Sampel tanah di koleksi dari tiga kabupaten di Sulawesi Utara (Kabupaten
Minahasa Selatan, Minahasa dan Kota Tomohon) pada areal pertanian, kebun,
sawah dan tempat-tempat tertentu yang diduga mengandung endospora bakteri.

Tahap Pxylostella
Larva P.xylostella sebagai bahan pnelitian diperoleh dengan mengumpulkan larva
dari kebun kubis, kemudian dipelihara dan diperbanyak di laboatorium. Untuk
memperoleh larva dalam jumlah yg cukup, perbanyakan dilakukan dengan
menggunakan daun kubis yang masih segar sebagai pakannya. Penggantian pakan
dilakukan setiap hari sampai larva menjadi pupa. Pupa lalu dimasukkan dalam
kurungan kasa. Di dalam kurungan telah disiapkan tanaman kubis muda (umur 34 minggu) untuk tempat meletakkan telur bagi serangga imago (ngengat).
Ngengat diberi pakan larutan madu 10% yang dioleskan pada kapas yang
digantung dalam kurungan kasa.

Tahap Uji Bunuh


Uji daya bunuh bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri menginfeksi dan
menimbulkan kematian larva P.xylostella, dengan jumlah spora tertentu pada
batas kisaran yang dipandang potensial sampai virulen, tergantung dari besarnya
persentase kematian larva uji. Pada pengujian ini, konsentrasi spora yang
digunakan adalah 1,22x108 spora/ml dengan menggunakan metode pencelupan
daun (leaf dipped method). Pengamatan dilakukan pada 24,48,72 dan 96 jam
setelah perlakuan. Perkembangan gejala penyakit pada serangga uji dicatat mulai
awal pengujian sampai serangga uji mati. Jumlah inidividu yg mati dicatat untuk
perhitungan mortalitas

Pada Jurnal Isolasi dan Identifikasi Bakteri Selulolitik Aktivitas Tinggi Dalam
Saluran Pencernaan Keong Mas (Pomacea Canaliculata) Penelitian mengenai
keberadaan bakteri simbiotik dalam saluran pencernaan keong emas sejauh ini masih
belum pernah dilakukan, oleh sebab itu tujuan penelitian ini untuk menganalisis

keberadaan bakteri selulolitik dalam saluran cerna keong emas serta diidentifikasi.
Hasil identifikasi lanjut menunjukkan bahwa isolat C-4 yang semula diidentifikasi
sebagai Actinobacillus sp. ternyata lebih mengarah pada Klebsiella sp. Berdasarkan
uji aktivitas endoglukanase, diketahui terdapat dua isolat bakteri selulolitik yang
mempunyai aktivitas selulolitik tinggi yaitu Klebsiella sp. dan Burkholderia
pseudomallei.
Umumnya spesies-spesies Burkholderia bersifat patogen terhadap tanaman serta
sebagai bakteri tanah kecuali B. mallei dan B. pseudomallei yang bersifat patogen
terhadap manusia dan hewan (Coenye and Vandamme, 2003), namun beberapa strain
Burkholderia juga diketahui sebagai bakteri yang menguntungkan karena dapat
mengontrol penyakit pada tanaman dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri
dan jamur patogen terhadap tanaman (Aoki et al,. 1993), meningkatkan produksi
tanaman (Tran-Van, 2000) serta mengikat nitrogen (Gillis et al., 1995).
Kingdom

: Bacteria

Phylum

: Proteobacteria

Class

: Gamma proteobacteria

Order

: Enterobacteriales

Family

: Enterobacteriaceae

Genus

: Klebsiella

Spesies

: Klebsiella pneumoni

Klebsiella pneumoniae merupakan bakteri gram negatif dari subdivisi gamma dari
kelas Proteobacteria dan secara genetis mempunyai kedekatan yang tinggi dengan
genus lain dari Enterobacteriaceae, antara lain Escherichia, Salmonella, Shigella, dan
Yersinia (Brenner et al., 2005). Klebsiella pneumoniae juga menjadi penyebab
bakterimia serta infeksi yang tahan terhadap antibiotika (Ko et al., 2002; Paterson et
al., 2004). Sifat Biakan atau Kultur dari Klebsiella sp tersebut pada media EMB dan
Mac Conkey koloni menjadi merah. Kemudian pada media padat tumbuh koloni

mucoid (24 jam). Mudah dibiakan di media sederhana (bouillon agar) dengan koloni
putih keabuan dan permukaan mengkilap.

Tahapan proses Isolasi Bakteri jenis Klebsiella sp


1. Beberapa ekor keong emas masing-masing disterilisasi pada bagian luar
cangkang dengan ethanol 70%, dicuci dengan PBS steril, diambil bagian isi
usus dan lambung dengan cara dibuka menggunakan gunting steril, ditimbang
sebanyak 10 gram kemudian ditambah dengan 90 ml aquadest steril dan
dihomogenisasi
2. Dibuat lima buah media selektif mengandung CMC. Larutan media selektif
disterilisasi kemudian dituang ke dalam cawan Petri, setelah media dingin
selanjutnya larutan isi usus dan lambung keong emas masing-masing diambil
sebanyak 1 ml dan dituang di atas media CMC agar dan diratakan dengan
spreader, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35 C.
3. Isolat-isolat bakteri yang sudah murni, selanjutnya ditumbuhkan pada media
CMC yang terdiri dari MgSO4.7H2O 0,05 g/100 ml, Na2HPO4.2H2O 0,5
g/100 ml, NaCl 0,23 g/100 ml, Yeast extract 0,2 g/100 ml, CMC 1 g/100 ml
serta Agar 2,5 g/100 ml. Sebanyak 1 ose koloni bakteri ditanam dan
diinkubasikan selama 24 jam pada suhu 35 C, diwarnai dengan Congo red
0,1% dan diinkubasikan selama 30 menit kemudian dibilas dengan larutan
NaCl 1%
4. Dilakukan pengamatan adanya halo (daerah bening) di sekitar koloni dan
diukur diameternya. Beberapa isolat bakteri yang dapat menghasilkan daerah
halo dengan diameter lebar dipilih sebagai isolat unggulan. Masing-masing
koloni selanjutnya diidenti kasi dengan uji morfologis dan biokimiawi
(Barrow and Feltham, 1993), serta diuji aktivitas endoglukanasenya. Isolat
bakteri dengan aktivitas endoglukanase paling tinggi selanjutnya diidenti
kasi dengan 16S-rRNA menggunakan Primer umum.

DAFTAR PUSTAKA
Aminin, A.L.N., Madayanti, F., Aditiawati, P., dan Akhmaloka, 2007, 16S Ribosomal
RNA-Based Analysis of Thermophilic Bacteria in Gedongsongo Hot Spring,
Microbiology Indonesia, Vol. 1, No.1, ISSN 1978-3477
Baharuddin, A.S., Razak, M.N.A., Hock, L.S., Ahmad M.N., Aziz, S.A., Rahman,
N.A.A dan Shah, U.K.M., 2010, Isolation and Characterization of
Thermophilic Cellulase- Producing Bacteria from Empty Fruit Bunches-Palm
Oil Mill Effluent Compost, American Journal of Applied Sciences, 7: 56-62
Rahayu, s, Fredy T, Maggy T., J.K. Hwang, dan Y.R. Pyun, 1999, Eksplorasi Bakteri
Termofilik Penghasil Kitinase asal Indonesia, Penelitian Ilmu Hayat, IPB
Tika, I.N, Redhana I.W dan Ristiati, N.P, 2007, Isolasi Enzim Lipase Termostabil
Dari
Bakteri Termofilik Isolat Air Panas Banyuwedang Kecamatan Gerogak,
Buleleng Bali, Akta Kimindo Vol. 2 No. 2: 109 112