Anda di halaman 1dari 2

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi urea-nitrogen plasma sebelum dialisis seperti antara

lain :
Hasil urea-nitrogen plasma lebih tinggi dari yang diharapkan.
a. Peningkatan masukan protein.
b. Hiperkatabolisme (infeksi).
c. Perdarahan gastrointestinal.
d. Fungsi renal residual menurun.
e. Efisiensi hemodialisis menurun.
- Resirkulasi.
- Kehilangan klearensi pada pemakaian ulang dialiser
Hasil urea-nitrogen plasma lebih rendah dari yang diharapkan.
a. Penurunan pemasukan protein
- Kelelahan.
- Ekonomi.
- Disengaja.
b. Fungsi ginjalk residu meningkat.
c. Efisiensi hemodialisis meningkat.
d. Penyakit hati
Pemeriksaan ureum dipakai sebagai parameter tes fungsi faal ginjal. Ureum merupakan senyawa kimia
yang menandakan fungsi ginjal masih normal. Oleh karena itu, tes ureum selalu digunakan untuk
melihat fungsi ginjal kepada pasien yang diduga mengalami gangguan pada organ ginjal.
Tinjauan Klnis
Adapun tinjauan klinis dari ureum adalah :
1. Uremia
Ureum bersifat racun dalam tubuh, pengeluarannya dari tubuh melalui ginjal berupa air seni. Bila ginjal
rusak atau kurang baik fungsinya maka kadar ureum akan meningkat dan meracuni sel-sel
tubuh. Keadaan tersebut disebut uremia.
2. Gagal ginjal Kronik
Gangguan ginjal yang kronik akan menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus (fungsi penyaringan
ginjal) sehingga ureum, kreatinin, dan asam urat yang seharusnya disaring oleh ginjal untuk kemudian
dibuang melalui air seni menurun, akibatnya zat-zat tersebut akan meningkat di dalam darah.
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang
bersifat menahun. Pada gagal ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein
yang normalnya diekskresikan ke dalam urin tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi
setiap system tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berat.
Penurunan jumlah glomeruli yang menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang seharusnya
dibersihkan oleh ginjal.
Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah
amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum
darah yang normal adalah 20 mg 40 mg setiap 100 ml darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah
normal protein yang di makan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum.
Hampir seluruh ureum dibentuk di dalam hati, dari metabolisme protein (asam amino). Urea berdifusi
bebas masuk ke dalam cairan intra sel dan ekstrasel. Zat ini dipekatkan dalam urin untuk diekskresikan.
Pada keseimbangan nitrogen yang stabil, sekitar 25 gram urea diekskresikan setiap hari. Kadar dalam
darah mencerminkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi urea.
Ureum berasal dari penguraian protein, terutama yang berasal dari makanan. Pada orang sehat yang
makanannya banyak mengandung protein, ureum biasanya berada di atas rentang normal. Kadar

rendah biasanya tidak dianggap abnormal karena mencerminkan rendahnya protein dalam makanan
atau ekspansi volume plasma. Namun, bila kadarnya sangat rendah bisa mengindikasikan penyakit hati
berat. Kadar urea bertambah dengan bertambahnya usia, juga walaupun tanpa penyakit ginjal.
Pada praktikum kali ini Kadar ureum (BUN) diukur dengan metode analyzer kimiawi. Pengukuran
berdasarkan atas reaksi enzimatik dengan diasetil monoksim yang memanfaatkan enzim urease yang
sangat spesifik terhadap urea. Konsentrasi urea umumnya dinyatakan sebagai kandungan nitrogen
molekul, yaitu nitrogen urea darah (blood urea nitrogen, BUN). Namun di beberapa negara, konsentrasi
ureum dinyatakan sebagai berat urea total. Nitrogen menyumbang 28/60 dari berat total urea, sehingga
konsentrasi urea dapat dihitung dengan mengalikan konsentrasi BUN dengan 60/28 atau 2,14.
Adapun matriks yang digunakan adalah plasma urin. Meski ureum terdatat juga dalam bentuk serum,
plasma urin dipilih karena ureum terlarut dalam plasma serta supaya terpisah dari senyawa lain sebagai
parameter kerusakan ginjal seperti kreatinin.
Pemeriksaan kadar ureum dalam darah dapat menjadi acuan untuk mengetahui adanya Gagal ginjal akut
(GGA) yaitu suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan mendadak (dalam beberapa jam
sampai beberapa hari) kecepatan penyaringan ginjal, disertai dengan penumpukan sisa metabolisme
ginjal (ureum).
Semua prosedur ini dilakukan pada panjang gelombang 340 nm (Hg 344 nm atau Hg 365 nm).
Adapun reagen yang digunakan dalam analisis ureum ini terbagi menjadi dua bagian, yang pertama
adalah tris buffer. Sedangkan yang kedua adalah Urease, GLDH, NADH, Adenosin-5-diphospat dan alfa
oxoglutarat. Selain mempertahankan pH, tris buffer berfungsi untuk mempertahankan tekanan osmotik
dan keseimbangan elektrolit. Pada pembuatan reagen pertama ini perlu diinkubasi selama 5 menit
kemudian dibaca dengan alat spektrofotometer. Sedangkan reagen bagian kedua berisi enzim dan
energi yang dibutuhkan untuk reaksi enzimatis penguraian ureum. Reaksi enzimatis ini dapat terjadi di
luar tubuh, dengan inkubasi selama 1 menit pada suhu kamar (25oC) kemudian dibaca dengan alat
spektrofotometer untuk mendapatkan Absorbansi pertama (A1). Setelah itu inkubasikan 1 menit lagi
suhu kamar (25oC) kemudian dibaca dengan alat spektrofotometer untuk mendapatkan Absorbansi
kedua (A2).
Standar ini memiliki konsentrasi urea dalam darah sebesar 50 mg/100 mL. Ini akan menjadi pembanding
untuk menginterprestasikan hasil pengukuran.
Setalah dihitung kadar urea dalam satuan mg/dl, hasil dapat dikonversi kedalam satuan mmol/L. Dari
hasil tersebut juga dapat ditentukan Nilai BUN dengan mengkalikan dengan angka konversi 0,467.
Setelah dirata-ratakan hasil diperoleh 14,14 mg/dL. Angka ini menunjukan bahwa kadar ureum pasien
normal sesuai kriteria kadar normal berikut Dewasa : 5 25 mg/dl, Anak-anak : 5 20 mg/dl, Bayi : 5
15 mg/dl, Lanjut usia : kadar sedikit lebih tinggi daripada dewasa.