Anda di halaman 1dari 42

i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN.........................................................................

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA................................................................

CA MAMMAE
2.1. Definisi...................................................................................
2.2. Anatomi..................................................................................
2.3. Epidemiologi...........................................................................

10

2.4. Klasifikasi...............................................................................

11

2.5. Patofisiologi............................................................................

12

2.6. Faktor risiko


2.7. Manifestasi klinis

13
14

2.8. Stadium...................................................................................

16

2.9. Diagnosis................................................................................

19

2.10 Penatalaksanaan......................................................................

21

2.11. Prognosis................................................................................

23

2.12. Pencegahan............................................................................

23

BAB III

LAPORAN KASUS......................................................................

27

BAB IV

PEMBAHASAN............................................................................

43

BAB V

KESIMPULAN ............................................................................

45

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Karsinoma mammae merupakan salah satu tumor ganas paling sering
ditemukan pada wanita. Kebanyakan pada usia setengah baya dan lansia. Jarang
terjadi pada usia kurang dari 30 tahun, sedangkan yang kurang dari 20 tahun sangat
jarang. Belakangan ini insiden karsinoma mammae cenderung meningkat, sedangkan
mortalitas cenderung menurun.1
Penyebab pasti meningkatnya insiden belum jelas, ada yang berpendapat
berkaitan dengan meningkatnya taraf hidup dan perubahan pola hidup. Penyebab
utama menurunnya mortalitas karsinoma mammae mencakup intervensi terhadap
faktor risiko karsinoma mammae, meluasnya penapisan masal dengan foto mammae
serta kemajuan terapi karsinoma mammae.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat
dan tidak terkendali.
Kanker payudara adalah kanker pada jaringan payudara. Kanker ini adalah
jenis kanker paling umum yang diderita kaum wanita. Kaum pria juga dapat terserang
kanker payudara, walaupun kemungkinannya lebih kecil dari 1 di antara 1000. Selain
itu, kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit
neoplasma ganas yang berasal dari parenkim. Penyakit ini oleh WHO (Word Health
Organization)

dimasukkan

ke

dalam

ICD

(International

Classification

of

Diseases) dengan kode nomor 17.2


2.2. Anatomi payudara normal 1
Payudara wanita dewasa berlokasi dalam fascia superficial dari dinding depan dada.
Dasar dari payudara terbentang dari iga kedua di sebelah atas sampai iga keenam atau
ketujuh di sebelah bawah, dan dari sternum batas medialnya sampai ke garis
midaksilrasis sebagai batas lateralnya. Duapertiga dasar tersebut terletak di depan
M.pectoralis major dan sebagian M.serratus anterior. Sebagian kecil terletak di atas
M.obliquus externus.
Pada 95% wanita terdapat perpanjangan dari kuadran lateral atas sampai ke
aksila. Ekor ini (tail of Spence) dari jaringan mammae memasuki suatu hiatus (dari
Langer) dalam fascia sebelah dalam dari dinding medial aksilaI. Hanya ini jaringan
mammae yang ditemukan secara normal di bawah fascia sebelah dalam.

Setiap payudara terdiri dari 15 sampai 20 lobus, beberapa lebih besar daripada yang
lainnya, berada dalam fascia superficial, dimana dihubungkan secara bebas dengan
fascia sebelah dalam. Lobus-lobus ini beserta duktusnya adalah kesatuan dalam
anatomi, bukan kesatuan dalam bedah.Suatu biopsy payudara bukan suatu lobektomi,
dimana pada prosedur semacam itu, sebagian dari 1 atau lebih lobus diangkat.

Antara fascia superficial dan yang sebelah dalam terdapat ruang retromammary
(submammary) yang mana kaya akan limfatik.
Lobus-lobus parenkim beserta duktusnya tersusun secara radial berkenaan
dengan posisi dari papilla mammae, sehingga duktus berjalan sentral menuju papilla
seperti jari-jari roda berakhir secara terpisah di puncak dari papilla.Segmen dari
duktus dalam papilla merupakan bagian duktus yang tersempit. Oleh karena itu,
sekresi atau pergantian sel-sel cenderung untuk terkumpul dalam bagian duktus yang
berada dalam papilla, mengakibatkan ekspansi yang jelas dari duktus dimana ketika
berdilatasi akibat isinya dinamakan lactiferous sinuse .Pada area bebas lemak di
bawah areola, bagian yang dilatasi dari duktus laktiferus (lactiferous sinuses)
merupakan satu-satunya tempat untuk menyimpan susu. Intraductal papillomas
sering terjadi di sini.
Ligamentum suspensori Cooper membentuk jalinan yang kuat, pita jaringan
ikat berbentuk ireguler menghubungkan dermis dengan lapisan dalam dari fascia
superfisial, melewati lobus-lobus parenkim dan menempel ke elemen parenkim dan
duktus. Kadang-kadang, fascia superfisial terfiksasi ke kulit, sehingga tidak mungkin
dilakukan total mastectomy subkutan yang ideal. Dengan adanya invasi keganasan,
sebagian dari ligamentum Cooper akan mengalami kontraksi, menghasilkan retraksi
dan fiksasi atau lesung dari kulit yang khas. Ini berbeda dengan penampilan kulit
yang kasar dan ireguler yang disebut peau d'orange, dimana pada peau d'orange
perlekatan subdermal dari folikel-folikel rambut dan kulit yang bengkak
menghasilkan gambaran cekungan dari kulit.

Gambar 1.3.Dumpling of the breast, akibat dari terlibatnya ligamentum


Cooper pada penyakit yang invasive.Dapat diperjelas dengan penekanan oleh
tangan pemeriksa.
Suplai darah
Mammae diperdarahi dari 3 sumber, yaitu A. thoracica interna, cabang dari A.
axillaries, dan A. intercostal.

Gambar 1.4. : A. Pada 18% individu, payudara diperdarahi oleh arteri internal
thoracic, axillary, dan intercostals. B. Pada 30%, kontribusi dari A.aksilaris
tidak berarti. C. Pada 50%, A.intercostal hanya sedikit kontribusinya.
Vena aksilaris, vena thoracica interna, dan vena intercostals 3-5 mengalirkan
darah dari kelenjar mamma.Vena-vena ini mengikuti arterinya.
Vena aksilaris terbentuk dari gabungan vena brachialis dan vena basilica, terletak di
medial atau superficial terhadaop arteri aksilaris, menerima juga 1 atau 2 cabang
pectoral dari mammae.Setelah vena ini melewati tepi lateral dari iga pertama, vena ini

menjadi vena subclavia. Di belakang, vena intercostalis berhubungan dengan sistem


vena vertebra dimana masuk vena azygos, hemiazygos, dan accessory hemiazygos,
kemudian mengalirkan ke dalam vena cava superior. Ke depan, berhubungan dengan
brachiocephalica.
Melaui jalur kedua jalur pertama, metastasis ca mammae dapat mencapai
paru-paru.Melalui jalurketiga, metastasis dapat ke tulang dan system saraf pusat.

Gambar 1.5.Diagram potongan frontal mammae kanan menunjukkan


jalur drainase vena.A. Drainase medial melalui internal thoracic vein ke jantung
kanan. the right heart. B. Drainage posterior ke vertebral veins. C. Drainase
lateral ke intercostal, superior epigastric veins, dan hati. D. Darinase superior
lateral superior melalui vena aksilaris ke jantung kanan.
Aliran limfatik
Kelenjar getah bening dari regio mammae terdapat dalam kelompok inkonstan
yang bervariasi.Seringnya pembagian menurut Haagensen.

Gambar 1.6.Kelenjar getah bening aksila dan payudara menurut klasifikasi dari
Haagensen (kiri).Aliran limfatik mammae (kanan).
Klasifikasi utama Haagensen adalah axillary dan internal thoracic (mammary).
1. Drainase Aksilaris (35.3 nodes).
Group 1.External mammary nodes (1.7 nodes), juga dikenal sebagai anterior pectoral
nodes. Ini terletak sepanjang batas lateral dari M. pectoralis minor, di bawah M.
pectoralis major, sepanjang sisi medial dari aksila mengikuti aliran lateral thoracic
artery pada dinding dada, mulai dari iga 2-6. Di bawah areola terdapat perluasan
jaringan pembuluh-pembuluh limfatik, dinamakan subareolar plexus of Sappey.

Gambar 1.7.Aliran limfatik mammae.Aliran limfe langsung dari kulit ditunjukkan


oleh tanda panah pada mammae kanan dan sisi medial mammae kiri.1. Areolar plexus
of vessels, draining areola, nipple and some parenchyma. 2. Anterior pectoral nodes.
3. Central axillary nodes. 4. Interpectoral nodes (a path which can bypass central
axillary nodes). 5. Apical, infraclavicular nodes. 6. Retrosternal nodes.
Group 2.Scapular nodes (5.8 nodes).Terletak di atas pembuluh-pembuluh darah
subsakapular.Limfatik dari KGB ini salng berhubungan dengan pembuluh limfe
intercistal.
Group 3.Central nodes (12.1 nodes).Merupakan kelompok kelenjar getah bening
yang terbesar; merupakan KGB yang paling mudah dipalpasi di aksila karena
ukurannya yang besar. Ketika KGB ini membesar, dapat menekan intercostobrachial
nerve, cabang kutaneus lateral dari second atau third thoracic nerve, dapat timbul
nyeri.
Group 4.Interpectoral nodes (Rotter's nodes) (1.4 nodes). Terletak antara otot
pektoralis mayor dan minor, sering terdapat tunggal. Merupakan kelompok KGB
terkecil dari KGB aksila dan tidak dapat ditemukan walaupun M.pectoralis major
diangkat.

10

Group 5.Axillary vein nodes(10.7nodes).Merupakan kelompok KGB terbesarkedua di


aksila.Terletak di permukaan ventral dankaudal dari bagian lateralvena aksilaris.
Group 6.Subclavicular nodes(3.5 nodes).Terletak pada permukaan ventral dan kaudal
dari bagian medial vena aksilaris. Theselie on the caudal and ventralsurfaces of the
medial part of the axillary vein.
2. Drainase Internal Thoracic (Mammary)(8.5 Nodes)
Pembuluh-pembuluh limfatik timbul dari tepi medial mammae pada fasciapectoralis.
KGB ini juga menerima trunkus limfatikus dari kulit mammaekontralateral, hati,
diafragma, rectus sheath, bagian atas rectus abdominis. KGBsekitar 4-5 setiap
sisinya,

kecil,

dan

biasanya

dalam

lemak

dan

jaringan

ikat

dariruang

interkosta.Saluran ini bermuara ke ductusthoracicus atau ductuslimfatikusdextra.Rute


ke vena aksilaris lebih pendek daripada rute aksila.
Dalam staging, bila ditemukan metastasis ke KGB supraclavicular, cervical,atau
contralateralinternal mammary dianggap telah mengadakan metastasis jauh(M1).
Yang termasuk KGB regional :
1.KGB aksila (ipsilateral) : interpectoral (Rotter's) nodes dan KGB sepanjang vena
aksilaris dan bagian-bagiannya yang dapat dibagi ke dalam beberapa tingkat :
a. Level I (low axilla): KGB lateral dari tepilateral M pectoralis minor
b. Level II (midaxilla):KGB antara tepi medial dan lateral M pectoralis minordan
KGB interpectoral (Rotter's)
c. Level III (apical axillary): KGB medial daritepi medialM pectoralis minor
termasuk subclavicular, infraclavicular, or apicalCatatan : KGB intramammary
disandikan sebagai KGB aksila.

11

Gambar 2.8. Kelompok kelenjar getah bening aksila. Level I meliputi beberapa
kelenjar getah bening yang terletak lateral dari M. Pectoralis minor, Level II
meliputi beberapa kelenjar getah bening yang terletak di bawah M. Pectoralis
minor, Level III meliputi beberapa kelenjar getah bening yang terletak medial
dari M. Pectoralis minor.
2. Internal mammary (ipsilateral) : KGB di ruang anterior sepanjang segi sternum
dalam fascia endothoracica.
2.3

Epidemiologi
Karsinoma payudara pada wanita menduduki tempat nomor dua setelah

karsinoma serviks uterus. Di Amerika Serikat, karsinoma payudara merupakan 28%


kanker pada wanita kulit putih, dan 25% pada wanita kulit hitam. Kurva insidens usia
bergerak naik terus sejak usia 30 tahun. Kanker ini jarang sekali ditemukan pada
wanita usia di bawah 20 tahun. Angka tertinggi terdapat pada usia 45-66 tahun.
Insidens karsinoma mammae pada lelaki hanya 1% dari kejadian pada perempuan.3

12

2.4. Klasifikasi
Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker
payudara diklasifikasikan sebagai berikut:2
1. Non-invasif karsinoma
Non-invasif karsinoma adalah kanker yang masih berada pada tempatnya,
merupakan kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari
tempat asalnya. Non-invasif karsinoma dibedakan menjadi menjadi dua, yaitu:

Non-invasif duktal karsinoma

Lobular karsinoma in situ

2. Invasif karsinoma
Invasif karsinoma adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan
lainnya, bisa terlokalisir (terbatas pada payudara) maupun metastatik
(menyebar ke bagian tubuh lainnya). Sekitar 80% kanker payudara invasif
adalah kanker duktal dan 10% adalah kanker lobuler. Invasif karsinoma
terdapat beberapa jenis, antara lain :

Invasif duktal karsinoma


o Papilobular karsinoma
o Solid-tubular karsinoma
o Scirrhous karsinoma
o Special types
o Mucinous karsinoma
o Medulare karsinoma

Invasif lobular karsinoma


o Adenoid cystic karsinoma
o Karsinoma sel squamos
o Karsinoma sel spindle
o Apocrin karsinoma

13

o Karsinoma dengan metaplasia kartilago atau osseus metaplasia


o Tubular karsinoma
o Sekretori karsinoma
o Lainnya
3. Paget's Disease
Pagets disease adalah suatu kanker kulit yang jarang terjadi yang menyerupai
dermatitis (peradangan kulit berupa bercak kemerahan dan berasal dari
kelenjar di dalam atau di bawah kulit). Biasanya berasal dari kanker pada
saluran susu di payudara, sehingga kanker ini biasanya ditemukan di sekitar
puting susu.2
2.5. Patofisiologi
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.2
1. Fase inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang
memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini
disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa
bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. Tetapi tidak
semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan
genetik dalam sel atau bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel
lebih rentan terhadap suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik menahun pun
bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.
2. Fase promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah
menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh
oleh promosi. Karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya
keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).

14

2.6. Faktor Resiko


Penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat
banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker
payudara antara lain:2
1. Faktor reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker
payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada
umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker
payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya
haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama merupakan window of
initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi dan fungsional,
payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari
25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga
diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan
klinis.
2. Penggunaan hormon
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan
dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan
kanker payudara yang signifikan pada para pengguna terapi estrogen
replacement. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat
risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita yang
menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk
mengalami kanker payudara sebelum menopause.
3. Penyakit fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada
peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan
papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada

15

hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.


4. Obesitas
Obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara masih diperdebatkan.
Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai faktor resiko kanker
payudara kemungkinan karena tingginya kadar estrogen pada wanita obes.
5. Konsumsi lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker
payudara. Willet dkk. melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang
konsumsi lemak dan serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara
pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.
6. Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan
terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan
disimpulkan bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara linier
dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.
7. Riwayat keluarga dan faktor genetik
Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat
penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat
peningkatan risiko keganasan pada wanita yang keluarganya menderita kanker
payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan
dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen kerentanan
terhadap kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar
60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun.
2.7. Manifestasi Klinis
Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu
mula-mula kecil, semakin lama akan semakin besar, lalu melekat pada kulit atau
menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu. Kulit atau puting

16

susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklatcoklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau
d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu semakin
lama akan semakin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh
payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah.2
Ciri-ciri lainnya antara lain:2

Pendarahan pada puting susu

Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul apabila tumor sudah
besar, sudah timbul borok, atau bila sudah muncul metastase ke tulangtulang

Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak


(edema) pada lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh

Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria operbilitas
Heagensen sebagai berikut:2

Terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih 1/3 luas kulit payudara)

Nodul satelit pada kulit payudara

Kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa

Terdapat model parasternal

Terdapat nodul supraklavikula

Adanya edema lengan

Adanya metastase jauh

Serta terdapat dua dari tanda-tanda locally advanced, yaitu ulserasi


kulit, edema kulit, kulit terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah bening
aksila berdiameter lebih 2,5 cm, dan kelenjar getah bening aksila melekat satu
sama lain.

17

2.8. Stadium
Stadium penyakit kanker adalah suatu keadaan dari hasil penilaiandokter saat
mendiagnosis suatu penyakit kanker yang diderita pasiennya, sudah sejauh manakah
tingkat penyebaran kanker tersebut baik ke organ atau jaringan sekitar maupun
penyebaran ketempat lain. Stadium hanya dikenal pada tumor ganas atau kanker dan
tidak ada pada tumor jinak. Untuk menentukan suatu stadium, harus dilakukan
pemeriksaan klinis dan ditunjang dengan pemeriksaan penunjang lainnya
yaitu histopatologi atau PA, rontgen, USG, dan bila memungkinkan dengan CT
scan, scintigrafi, dll. Banyak sekali cara untuk menentukan stadium, namun yang
paling banyak dianut saat ini adalah stadium kanker berdasarkan klasifikasi sistem
TNM

yang

direkomendasikan

oleh

UICC

(International

Union

Against

Cancer dari World Health Organization)/AJCC (American Joint Committee On


cancer yang disponsori oleh American Cancer Society dan American College of
Surgeons). TNM merupakan singkatan dari "T" yaitu tumor size atau ukuran tumor,
"N" yaitu node atau kelenjar getah bening regional dan "M" yaitu metastasis atau
penyebaran jauh. Ketiga faktor T, N, dan M dinilai baik secara klinis sebelum
dilakukan operasi, juga sesudah operasi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi
(PA).1
Pada kanker payudara, penilaian TNM sebagai berikut:
T (tumor size), ukuran tumor:

T 0:

tidak ditemukan tumor primer

T 1:

ukuran tumor diameter 2 cm atau kurang

T 2:

ukuran tumor diameter antara 2-5 cm

T 3:

ukuran tumor diameter > 5 cm

T 4:

ukuran tumor berapa saja, tetapi sudah ada penyebaran ke kulit atau

18

dinding dada atau pada keduanya, dapat berupa borok, edema atau bengkak,
kulit payudara kemerahan atau ada benjolan kecil di kulit di luar tumor utama
N (node), kelenjar getah bening regional:

N 0:

tidak terdapat metastasis pada kgb regional di ketiak/aksilla

N 1:

ada metastasis ke kgb aksilla yang masih dapat digerakkan

N 2:

ada metastasis ke kgb aksilla yang sulit digerakkan

N 3:

ada metastasis ke kgb di atas tulang selangka (supraclavicula) atau

pada kgb di mammary interna di dekat tulang sternum


M (metastasis), penyebaran jauh:

M x:

metastasis jauh belum dapat dinilai

M 0:

tidak terdapat metastasis jauh

M 1:

terdapat metastasis jauh

Setelah masing-masing faktor T, N, dan M didapatkan, ketiga faktor tersebut


kemudian digabung dan akan diperoleh stadium kanker sebagai berikut:

Stadium 0:

T1 N0 M0

Stadium 1:

T1 N0 M0

Stadium II A: T0 N1 M0 / T1 N1 M0 / T2 N0 M0

Stadium II B: T2 N1 M0 / T3 N0 M0

Stadium III A: T0 N2 M0 / T1 N2 M0 / T2 N2 M0 / T3 N1 M0 / T2 N2 M0

Stadium III B: T4 N0 M0 / T4 N1 M0 / T4 N2 M0

Stadium III C: Tiap T N3 M0

Stadium IV:

Tiap T-Tiap N-M1

1. Stadium 0
Disebut Ductal Carsinoma In Situ atau Non-invasive Cancer, yaitu kanker
tidak menyebar keluar dari pembuluh / saluran payudara dan kelenjar-kelenjar

19

(lobules) susu pada payudara.4


2. Stadium I
Tumor masih sangat kecil, diameter tumor terbesar kurang dari atau sama
dengan 2 cm dan tidak ada metastasis ke kelenjar limfe regional.4
3. Stadium II A
o

Tidak ada tanda-tanda tumor pada payudara, tetapi terdapat metastasis


kelenjar limfe mobil di fosa aksilar ipsilateral

Diameter tumor lebih kecil atau sama dengan 2 cm dan telah ditemukan
metastasis kelenjar limfe mobil di fosa aksilar ipsilateral

Diameter tumor lebih lebar dari 2 cm tapi tidak lebih dari 5 cm dan tidak
ada metastasis ke kelenjar limfe regional.1

4. Stadium II B
o

Diameter tumor lebih dari 2 cm tapi tidak lebih dari 5 cm dan terdapat
metastasis kelenjar limfe mobil di fosa aksilar ipsilateral

Diameter tumor lebih dari 5 cm, tetapi tidak terdapat metastasis kelenjar
limfe regional.1

5. Stadium III A
o

Diameter tumor lebih kecil dari 5 cm dan terdapat metastasis kelenjar


limfe di fosa aksilar ipsilateral yang terfiksasi dengan jaringan lain

Diameter tumor lebih dari 5 cm dan terdapat metastasis kelenjar limfe di


fosa aksilar ipsilateral yang terfiksasi dengan jaringan lain.1

6. Stadium III B
Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan
bisa juga luka bernanah di payudara. Didiagnosis sebagai Inflamatory Breast
Cancer. Bisa sudah atau bisa juga belum menyebar ke pembuluh getah bening
di ketiak dan lengan atas, tapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ
tubuh.1
7. Stadium III C

20

Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe
infraklavikular ipsilateral, atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis
kelenjar limfe mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau
metastasis kelenjar limfe supraklavikular ipsilateral.1
8. Stadium IV
Ukuran tumor bisa berapa saja, tetapi telah menyebar ke lokasi yang jauh,
yaitu : tulang, paru-paru, liver atau tulang rusuk.4
2.9. Diagnosis
1. Anamnesis
Anamnesis harus mencakup status haid, perkawinan, partus, laktasi, dan
riwayat kelainan mammae sebelumnya, riwayat keluarga yang menderita
kanker, fungsi kelenjar tiroid, penyakit ginekologik, dan lain-lain. Dalam
riwayat penyakit sekarang terutama harus perhatikan waktu timbulnya massa,
kecepatan pertumbuhan, dan hubungan dengan haid.1
2. Pemeriksaan fisik
Mencakup pemeriksaan fisik menyeluruh (sesuai pemeriksaan rutin) dan
pemeriksaan kelenjar mammae. Dari inspeksi, amati ukuran, simetri kedua
mammae, perhatikan apakah ada benjolan tumor atau perubahan patologik
kulit (misal cekungan, kemerahan, udem,erosi, nodul satelit, dll). Perhatikan
kedua papila mammae apakah simetri, ada retraksi, distorsi, erosi, an kelainan
lain. Palpasi umumnya dalam posisi berbaring, juga dapat kombinasi duduk
dan baring. Waktu periksa rapatkan keempat jari, gunakan ujung dan perut jari
berlawanan arah jarum jam atau searah jarum jam. Kemudian dengan lembut
pijat areola mammae. Papila mamae, lihat apakah keluar sekret. Jika terdapat
tumor, harus secara rinci periksa dan catat lokasi, ukuran, konsistensi, kondisi
batas, permukaan mobilitas, nyeri tekan. Ketika memeriksa apakah tumor
melekat ke dasarnya, harus meminta lengan pasien sisi lesi bertolak pinggang,

21

agar m. Pektoralis mayor berkerut. Jika tumor dan kulit atau dasar melekat,
mobilitas terkekang, kemungkinan kanker sangat besar. Jika terdapat sekret
papila mammae, harus buat sediaan apus untuk pemeriksaan sitologi.
Pemeriksaan kelenjar limfe regional paling baik posisi duduk. Ketika
memeriksa aksila kanan, dengan tangan kiri topang siku kanan pasien, dengan
ujung jari kiri palpasi seluruh fosa aksila secara berurutan. Waktu memeriksa
fosa aksila kiri sebaliknya, dan terakhir periksa kelenjar supraklavikular.1
3. Pemeriksaan penunjang
a) Mammografi
Kelebihan mamografi adalah dapat menampilkan nodul yang sulit dipalpasi
atau terpalpasi atipikal menjadi gambar, dapat menemukan lesi mammae yang
tanpa nodul namun terdapat bercak mikrokalsifikasi, dapat digunakan untuk
analisis diagnostik dan rujukan tindak lanjut. Ketepatan diagnostik sekitar
80%.5
b) USG
Transduser frekuensi tinggi dan pemeriksaan dopler tidak hanya dapat
membedakan dengan sangat baik tumor kistik atau padat, tapi juga dapat
mengetahui pasokan darahnya serta kondisi jaringan sekitarnya, menjadi dasar
diagnosis yang sangat baik.5
c) MRI mammae
Karena tumor mammae mengandung densitas mikrovaskular abnormal, MRI
mammae dengan kontras memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi dalam
diagnosis karsinoma mammae stadium dini.5
d) Pemeriksaan biopsi
Cara biopsi dapat berupa biopsi eksisi atau insisi, tapi umumnya dengan
biopsi eksisi. Juga dapat dilakukan pemeriksaan dengan biopsy jarum (FNAB)
yang memiliki validitas hingga 90%. Di RS yang menyediakan dapat
dilakukan pemeriksaan potong beku saat operasi. Bila tak ada perlengkapan
itu, untuk karsinoma mammae yang dapat dioperasi tidak sesuai dilakukan

22

insisi tumor, untuk menghindari penyebaran iatrogenik tumor.1

2.10. Penatalaksanaan
1. Terapi bedah
Pasien yang pada awal terapi termasuk stadium 0, I, II dan sebagian stadium
III disebut kanker mammae operabel. Pola operasi yang sering dipakai
adalah1:
a) Mastektomi radikal :
Tahun 1890 Halsted pertama kali merancang dan mempopulerkan operasi
radikal kanker mammae, lingkup reseksinya mencakup kulit berjarak
minimal 3 cm dari tumor, seluruh kelenjar mammae, m. Pektoralis mayor,
m. Pektoralis minor dan jaringan limfatik dan lemak subskapular, aksilar
secara kontinu enblok direseksi. Namun sekitar 20 tahun belakangan ini,
dengan pemahaman lebih dalam atas tabiat biologis karsinoma mammae,
ditambah makin banyaknya kasus stadium sedang dan dini serta kemajuan
terapi kombinasi, maka penggunaan mastektomi radikal konvensional
telah makin berkurang.
b) Mastektomi radikal modifikasi :
Lingkup reseksi sama dengan teknik radikal, tapi mempertahankan m.
Pektoralis mayor dan minor (model Auchincloss) atau mempertahankan
m. Pektoralis mayor, mereseksi m. Pektoralis minor (model Patey). Pola
operasi ini mempunyai kelebihan antara lain memacu pemulihan fungsi
pasca operasi, tapi sulit membersihkan kelenjar limfe aksilar superior.
Dewasa ini, mastektomi radikal modifikasi disebut sebagai mastektomi
radikal standar, luas digunakan secara klinis.
c) Mastektomi total :

23

Hanya membuang seluruh kelenjar mammae tanpa membersihkan kelenjar


limfe. Model operasi ini terutama untuk karsinoma in situ atau pasien
lanjut usia.

2. Radioterapi
Radioterapi terutama mempunyai 3 tujuan :1
a) Radioterapi murni kuratif :
Radioterapi murni terhadap kanker mammae hasilnya kurang ideal,
survival 5 tahun 10-37%. Terutama digunakan untuk pasien dengan
kontraindikasi atau menolak operasi.
b) Radioterapi adjuvan :
Menjadi bagian integral penting dari terapi kombinasi. Menurut
pengaturan waktu radioterapi dapat dibagi menjadi radioterapi pra-operasi
terutama untuk pasien stadium lanjut lokalisasi, dapat membuat sebagian
kanker mammae non-operabel menjadi kanker mammae yang operabel.
Radioterapi pasca operasi adalah radioterapi seluruh mammae (bila perlu
ditambah radioterapi kelenjar limfe regional). Indikasi radioterapi pasca
mastektomi adalah : diameter tumor primer 5 cm, fasia pektoralis
terinvasi, jumlah kelenjar limfe aksilar metastatik lebih dari 4 buah dan
tepi irisan positif. Area target iradiasi harus mencakup dinding toraks dan
regio supraklavikular. Regio mamaria interna jarang terjadi rekurensi
klinik, sehingga perlu tidaknya radioterapi rutin masih kontroversial.
c) Radioterapi paliatif :
Terutama untuk terapi paliatif kasus stadium lanjut dengan rekurensi,
metastasis. Dalam hal meredakan nyeri efeknya sangat baik.
3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk
pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker.

24

Tidak hanya sel kanker pada payudara, tapi juga di seluruh tubuh. Efek dari
kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok
karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi.2
4. Terapi hormonal
Terapi hormonal terutama mencakup bedah dan terapi hormon. Terapi
hormonal bedah terutama adalah ooforektomi (disebut juga kastrasi) terhadap
wanita pramenopause, sedangkan adrenalektomi dan hipofisektomi sudah
ditinggalkan. Terapi hormonal medikamentosa yang digunakan di klinis yang
terutama adalah obat antiestrogen. Tamoksifen merupakan penyekat reseptor
estrogen, mekanisme utamanya adalah berikatan dengan reseptor estrogen
secara kompetitif, menyekat transmisi informasi ke dalam sel tumor sehingga
berefek terapi. Tamoksifen juga memiliki efek mirip estrogen, berefek
samping trombosis vena dalam, karsinoma endometrium dan lain-lain.
Sehingga perlu diperhatikan dan diperiksa secara berkala.1
2.11. Prognosis
Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis, tapi yang jelas berpengaruh
adalah kondisi kelenjar limfe dan stadium. Survival 5 tahun pasca operasi pada kasus
kelenjar limfe negatif dan positif adalah masing-masing 80% dan 59%, survival 5
tahun untuk stadium 0-I, II, dan III adalah masing-masing 92%, 73%, dan 47%.
Sedangkan pada yang non-operabel, survival 5 tahun kebanyakan dilaporkan dalam
batas 20%. Oleh karena itu dalam kondisi dewasa ini untuk meningkatkan angka
kesembuhan kanker mammae kuncinya adalah penemuan dini, diagnosis dini, terapi
dini dan tepat.1
2.12. Pencegahan
Hampir setiap epidemiologi sepakat bahwa pencegahan yang paling efektif
bagi kejadian penyakit tidak menular adalah promosi kesehatan dan deteksi dini.
Begitu pula pada kanker payudara, pencegahan yang dilakukan antara lain berupa:2

25

1. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk
promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang "sehat" melalui upaya
menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan
melaksanakan pola hidup sehat.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk
terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki
siklus haid normal

merupakan

populasi at

risk dari

kanker

payudara.

Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini. Beberapa


metode

deteksi

dini

terus

mengalami

perkembangan.

Skrining

melalui mammografi diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita


kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada
wanita yang sehat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker
payudara.Karena itu, skrining dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan
dengan beberapa pertimbangan antara lain:

Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer


risk assessement survey

Pada

wanita

dengan

faktor

risiko

mendapat

rujukan

untuk

dilakukan mammografi setiap tahun

Wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampai


mencapai usia 50 tahun.

Foster dan Constanta menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih
sedikit pada wanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan
Payudara Sendiri) dibandingkan yang tidak. Walaupun sensitivitas SADARI
untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26%, bila dikombinasikan
dengan mammografi maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75%.
3. Pencegahan tertier

26

Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif


menderita kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara
sesuai

dengan

stadiumnya

akan

dapat

mengurangi

kecatatan

dan

memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier ini penting untuk


meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit
dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi
walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup penderita. Bila
kanker telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan
sitostatika. Pada stadium tertentu, pengobatan yang diberikan hanya berupa
simptomatik dan dianjurkan untuk mencari pengobatan alternatif.

27

BAB 3
LAPORAN KASUS
3.1.

Anamnesis

Identitas Pribadi
Nama

:Ny. P

Jenis Kelamin

:Perempuan

Usia

:71 thn

Pekerjaan

:Ibu Rumah Tangga

Status Perkahwinan

: Menikah

Suku Bangsa

:Melayu

Agama

:Islam

Alamat

:Desa Paya Bagas Dsn III Krompo

Tanggal Masuk

:09/12/2014

Waktu

: 1800 WIB

3.2.

Riwayat Perjalanan Penyakit

Keluhan Utama

: Borok pada payudara kanan

28

Telaah

: Hal ini dialami pasien sejak 3 bulan yang lalu awalnya


sebesar telur ayam tetapi tidak diobati.Semakin lama semakin
membesar. Pasien juga mengeluh tidak bisa duduk 3 bulan
ini. Nyeri seluruh tubuh badan (+). Pasien mengalami
penurunan berat badan dan nafsu makan dalam 2 6 bulan ini
sebanyak 6 kg. Riwayat menarche pada usia 12 tahun. Pasien
bernikah pada usia 18 tahun dan mempunyai 2 orang anak.
Anak pertama dilahirkan ketika pasien berusia 20 tahun.
Riwayat penggunaan pil KB (+). BAK (+) . BAB (+).

Pola makan:
Sarapan pagi biasanya pasien makan nasi dengan lauk. Makan tengah hari nasi
dengan ikan, telur atau daging ayam. Makan malam nasi dengan ikan atau telur.
Pasien jarang makan mie instan dan sering mengonsumsi sayur dan buah-buahan.
Kegiatan sehari-hari:
Pasien adalah ibu rumah tangga. Pasien lebih sering menghabiskan waktunya di
rumah untuk menjaga anak dan di dapur untuk memasak. Pasien memiliki 2 orang
anak. Riwayat merokok, menyirih dan minum alkohol disangkal pasien.
Riwayat pekerjaan dan lingkungan:
Pasien tidak pernah bekerja selain di rumah sebagai ibu rumah tangga. Paparan
dengan zat kimia maupun radiasi tidak dijumpai.
Riwayat penyakit dan pengobatan terdahulu: Tidak dijumpai
Riwayat menderita penyakit kronis tidak ada dan pasien tidak pernah
RPT
RPO

::-

Riwayat keluarga

: Pasien adalah anak pertama dari 5 bersaudara.


Riwayat keluarga pasien dengan penyakit yang sama tidak
dijumpai.

Pemeriksaan Fisik :
Status Presens ( tanggal 8 Disember 2014 Jam 0700 )

29

Skala Karnofsky : 40 ( Tidak mampu merawat diri sendiri dan tidak dapat bekerja)
Kesadaran

: compos mentis

Tekanan Darah : 110/80 mmHG

Anemia

: tidak dijumpai

Denyut jantung: 80x/i

Sianosis

: tidak dijumpa

Laju Nafas

: 24 x/i

Edema

: tidak dijumpai

Temperatur

: 36,5oC

Dispnue

: dijumpai

BB

: 45 kg

TB

: 156 cm

VAS

:3

Status Generalisata
Kepala

: Mata : reflex cahaya (+/+), pupil isokor, conjungtiva palp.Pucat (-/),


sclera ikterik (-/-), strabismus (-/-)

Telinga

: dalam batas normal

Hidung

: dalam batas normal

Mulut

: dalam batas normal

Leher

: Pembesaran KGB sulit dinilai, trakea medial, distensi TVJ R-

2cmH2O
Thoraks

: Inspeksi

: simetris, retraksi (-)

Palpasi

: Stem fremitus Ka = Ki

Perkusi

: Sonor pada lapangan paru kanan kiri

30

Batas atas jantung: Intercostal sinistra II; kiri: Intercosta


sinistra V, 1 cm medial linea midclavicularis sinistra;
kanan: Intercosta dextra IV parasternalis dextra
Auskultasi

: Suara pernafasan: kanan dan kiri: Vesikuler


Suara tambahan: ronki (-/-), wheezing (-/-)
Suara jantung: S1 (N), S2 (N), murmur (-)

Abdomen

: Inspeksi

: Simetris

Palpasi

: Soepel; hepar, lien dan renal tidak teraba; asites (-)

Perkusi

: Timpani, batas paru hati ICS VI midclavicularis


dextra; peranjakan paru hati 1 cm

Auskultasi

: Peristaltik (+) Normal

Ekstremitas Superior : edema (-/+), sianosis (-/-), clubbing (-/-), purpura (-/-)
Ekstremitas Inferior : edema (-/-), sianosis (-/-), clubbing (-/-), purpura (-/-)
Status Lokalisata
Payudara kiri :
Inspeksi: Tampak borok di payudara kanan. Warna kulit payudara sawo matang,
tampak ulkus pada right upper quadrant menjalar ke aksilla, pada nipple payudara
kanan. Dijumpai benjolan sebesar telur ayam di aksilla kanan. Pemekaran pembuluh
darah: (-) tarikan pada kulit sulit dinilai, peau de orange (-), tarikan pada putting (-),
Eczema pada puting/ areola (-), keluar cairan dari puting (-), benjolan/ tanda radang
di aksila (+), benjolan di infra/ supraklavikular (-)
Palpasi: Massa/ benjolan: pada payudara kiri, (-)

31

Permukaan payudara kiri berbenjol yang sudah pecah maka terjadi borok, konsistensi
keras, tidak dapat digerakkan, nyeri tekan(+), cairan dari puting (-) pembesaran kgb
aksila (+), dan tidak dijumpai kelainan pada payudara kanan.
Payudara kanan
Inspeksi: Adanya benjolan (-), satelit nodul (-) , Pemekaran pembuluh darah (-),
Tarikan pada kulit (-), Peau de orange: (-), Tarikan pada puting: (-), Eczema pada
puting/ areola (-), Keluar cairan dari puting (-), Benjolan/ tanda radang di aksila (-),
Benjolan di infra/ supraklavikular (-)
Palpasi: Tidak ada kelainan

Hasil Laboratorium (12/12/2014)


-

Hb/ Ht/ Leu/ PLT


PT/ INR/ aPTT/ TT
KGD ad Random
Ureum/ Kreatinin
Elektrolit

: 7.40/ 21.20/ 323000/ 339,000


: 18.2(14)/ 01.30/ 26(35.6)/ 20.2(17.8)
: 193
: 33.20/ 0.92
: Na/K/Cl : 123/3.6/102

Foto Pasien

Foto Thoraks ( Tanggal 25 November 2014)

Kesan: Tampak terpasang chest tube setinggi ICS 5 posterior kiri, efusi pleura kiri
dibanding foto sebelumnya sedikit berkurang
USG Liver ( Tanggal : 11/12/2014)

32

Kesan: Tidak tampak metastase ke hepar

3.5. Diagnosis : (R) Breast Cancer (T4bN1M0)+ Anemia + Hipoalbuminemia


3.6. Penatalaksanaan
-IVFD RL 20 gt/i
- PCT 3x 500mg
-Inj.Ranitidin 50mg/ 12 j

3.7. Follow up
Hasil Laboratorium

33

Tgl

10-122014

Borok di Sens : CM

(R) Neoplasma

- 02 2-3 L/I nasal DARAH LENGKAP :

payudara

payudara + curiga

canul

kanan

HD Stabil,
karnofsky
40

keganasan
T4bN1M0 +
anemia

Hb : 6,00

-IVFD RL 20gtt/i
-Transfusi

RBC : 2,47

PRC

2bag
-Inj. Ranitidin 50

WBC : 43,88
Albumin : 1,8

mg/12 jam
- PCT 3X500mg
Rencana
-USG Liver

Hasil
Tgl

11-12-

Borok di Sens : CM

(R)

2014

payudar

payudara + curiga canul

a kanan

HD Stabil,
karnofsky
40

P
Neoplasma - 02 2-3 L/I nasal

keganasan
T4bN1M0
anemia

Laboratorium

USG HEPAR

-IVFD RL 20gtt/i
-Transfusi

PRC ukuran

2bag
-Ranitidin

Hepar
permukaan

50

mg/12 jam
- PCT 3X500mg

dalam
normal,
rata,

parenkim homogen,
tidak tampak lesi
fokal.
Kesimpulan: Tidak

34

tampak

metastase

hepar

Hasil
Tgl

12-12-

Borok

2014

payudara

di Sens : CM

kanan

HD Stabil,
karnofsky 40

(R) Neoplasma

- 02 2-3 L/I nasal .

payudara + curiga

canul

keganasan

Laboratorium

-IVFD RL 20gtt/i

T4bN1M0 +

-Ranitidin

anemia

50

mg/12 jam
- PCT 3X500mg

Hasil
Tgl

13-12-

Borok

2014

payudara
kanan

O
di Sens : CM
HD Stabil,
karnofsky 40

A
(R)

Laboratorium

Neoplasma - 02 2-3 L/I nasal

payudara + curiga canul


keganasan

-IVFD RL 20gtt/i

T4bN1M0

anemia

+ -Transfusi

hipoalbuminia

2bag

PRC

35

-Ranitidin

50

mg/12 jam
- PCT 3X500mg
Koreksi HB : 2
bag PRC
Kebutuhan
Albumin : 25% 2 flash

Hasil
Tgl

14-12-

Borok di Sens : CM

(R)

2014

payudara

payudara + curiga 1 Fls / hari (25%

kanan

HD Stabil,
karnofsky 40

P
Neoplasma -IVFD plusbumin

keganasan

plusbumin)

T4bN1M1(pleura)
+

Laboratorium

anemia

hipoalbuminuria

-IVFD RL 20 gtt/i
-Transfusi PRC 1
bag, 175 cc lagi
-Inj

Asam

traneksamat
500mg/8jam
-Ranitidin

50

mg/12 jam
- PCT 3X500mg

36

Hasil
Tgl

15-12-

Sesak

Sens : CM

2014

nafas(-)
Lengan
kiri
bengkak.

HD Stabil,
karnofsky 40

Laboratorium

(R)Neoplasma - 02 2-3 L/I nasal


payudara + curiga canul
keganasan
T4bN1M0
anemia

-IVFD RL 20gtt/i
-Transfusi

PRC

2bag
-Inj

Asam

traneksamat
500mg/8jam
-Ranitidin

50

mg/12 jam
- PCT 3X500mg
Rencana :
-kemoterapi

37

BAB 4
PEMBAHASAN
TEORI

KASUS

38

Kurva insidens usia bergerak naik terusPada kasus ini pasien adalah wanita
sejak usia 30 tahun. Kanker ini jarang sekali dengan umur 56 tahun.
ditemukan pada wanita usia di bawah 20
tahun. Angka tertinggi terdapat pada usia 4566 tahun.

Gejala dan tanda yang sering dikeluhkanBenjolan dan borok pada payudara
antara lain adalah benjolan yang tidak nyerikanan. Hal ini dialami pasien sejak 2
pada payudara. Benjolan itu mula-mulatahun yang lalu (tahun 2012) awalnya
kecil, semakin lama akan semakin besar, lalu sebesar telur ayam. Kemudian semakin
melekat

pada

kulit

atau

menimbulkanmembesar lalu pecah dan menimbulkan

perubahan pada kulit payudara atau padaborok. Borok didapati berdarah dan
puting susu. Kulit atau puting susu tadibernanah
menjadi

tertarik

berwarna

merah

ke

dalam

muda

atau

(retraksi),
kecoklat-

coklatan sampai menjadi oedema hingga


kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau
d'orange), mengkerut, atau timbul borok
(ulkus) pada payudara. Pendarahan pada
puting susu.
Dari pemeriksaan laboratorium didapatkanHail pemeriksaan laboratorium pasien
tingginya nilai leukosit dapat disebabkandijumpai leukositosis (Leukosit 43,883).
adanya

proses

payudara pasien.

inflamasi

pada

tumor

39

BAB V
KESIMPULAN

Karsinoma mamae merupakan salah satu tumor ganas paling sering ditemukan
pada wanita Setiap orang di dunia ini memiliki resiko untuk terkena kanker payudara,
walaupun wanita lebih beresiko daripada laki-laki. Penyakit ini oleh WHO (Word

40

Health Organization) dimasukkan ke dalam ICD (International Classification of


Diseases) dengan kode nomor 17.
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi. Penyebab spesifik
kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak faktor yang
diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara antara lain
adalah faktor reproduksi, penggunaan hormon, penyakit fibrokistik, obesitas,
makanan tinggi lemak,radiasi,faktor keturunan dan genetik.
Gejala klinis berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan akan
melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada
puting susu. Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi),
berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit
kelihatan seperti kulit jeruk (peau d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus)
pada payudara. Borok itu semakin lama akan semakin besar dan mendalam sehingga
dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah.
Cara untuk menentukan stadium yang paling banyak dianut saat ini adalah
stadium kanker berdasarkan klasifikasi sistem TNM yang direkomendasikan oleh
UICC (International Union Against Cancer dari World Health Organization) / AJCC
(American Joint Committee On Cancer yang disponsori oleh American Cancer
Society dan American College of Surgeons). TNM merupakan singkatan dari "T"
yaitu tumor size atau ukuran tumor, "N" yaitu node atau kelenjar getah bening
regional dan "M" yaitu metastasis atau penyebaran jauh.
Diagnosis ditegakan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang seperti mammografi, USG, MRI mammae dan pemeriksaan biopsi.
Penatalaksanaan meliputi terapi bedah seperti Mastektomi radikal, Mastektomi
radikal modifikasi, Mastektomi total, Radioterapi, Kemoterapi dan terapi hormonal.
Pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular adalah
promosi kesehatan dan deteksi dini. , pencegahan yang dilakukan antara lain berupa
pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tertier.

41

DAFTAR PUSTAKA

1. Wan desen, 2008. Onkologi klinis. Edisi 2. FK UI


2. Sjamsuhidayat R, Wim de Jong, 2005, Tumor ganas. Buku Ajar Ilmu Bedah,
Jakarta.
3. National Breast Cancer Foundation. Stage of Breast Cancer. 2010.

42

4. Hemant Singhal, MD. Breast Cancer Evaluation. 2009. http://emedicine.com,


5. Susan Storck. Breast Lump Self Exam. 2008. http://medline.com,
6. Ramli, M., Kanker Payudara dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian
Bedah Staf Pengajar FK-UI, Jakarta, 1995.
7. Copelnd, E.M dan Bland, F.I., Payudara dalam Buku Ajar Bedah, Sobiston
Bagian 1, EGC, Jakarta, 1995.
8. Gani, W.T., Diagnosis dan Tatalaksana Sepuluh Jenis Kanker Terbanyak di
Indonesia, EGC, Jakarta, 1995; 25-50.
9. Aryandono, T., Prinsip Oncologi dan Kanker Payudara dalam Hand Out
Bedah Tumor, FK-UGM, Yogyakarta, 1997.
10. Moersadik, S., Seratus Pertanyaan Mengenai Kanker, Wanita Sejahtera,
Jakarta, 1981, 51-60.
11. Djamaloeddin, Kelainan pada Mammae dalam Ilmu Kandungan, ed. 2,
Wiknjosastro H, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1997.