Anda di halaman 1dari 6

SITOKIN

PEMBAHASAN
Sitokin merupakan protein sistem imun yang mengatur interaksi antar sel
dan memacu reaktivitas imun, baik pada imunitas nonspesifik maupun spesifik
(Baratawidjaja dan Rengganis, 2010). Sitokin dikategorikan sebagai molekul yang
berperan dalam komunikasi seluler yang penting dalam perkembangan dan fungsi
respon imun alami dan adaptif. Sitokin sering disekresikan oleh sel-sel imun
dengan adanya bakteri patogen, dengan demikian mengaktifkan dan merekrut selsel imun lain untuk meningkatkan respon terhadap bakteri patogen (Triskayani,
2010)
Sitokin berperan dalam aktivasi sel T, sel B, monosit, makrofag, inflamasi
dan induksi sitotoksisitas. Beberapa sitokin juga mempunyai efek anti neoplastik
dan fungsi dalam hematopoiesis. Sitokin yang berperan pada imunitas nonspesifik
dan spesifik umumnya diproduksi oleh berbagai sel dan bekerja terhadap sel
sasaran yang berbeda, meskipun tidak mutlak. Hal tersebut disebabkan karena
sitokin yang sama dapat diproduksi selama reaksi imun nonspesifik dan soesifik
(Baratawidjaja dan Rengganis, 2010)
Respon-respon terhadap sitokin diantaranya meningkatkan atau
menurunkan ekspresi protein-protein membran (termasuk reseptor-reseptor
sitokin), proliferasi, dan sekresi molekul-molekul efektor. Sitokin bisa beraksi
pada sel-sel yang mensekresinya (aksi autokrin), pada sel-sel terdekat dari sitokin
disekresi (aksi parakrin). Sitokin bisa juga beraksi secara sinergis (dua atau lebih
sitokin beraksi secara bersama-sama) atau secara antagonis (sitokin menyebabkan
aktivitas yang berlawanan) (Triskayani, 2010).
Sitokin dibagi dalam sitokin imunologi yaitu tipe 1 (IFN-, TGF-), dan
tipe 2 (IL-4, IL-10, IL- 13), yang mendukung respon antibodi. Fokus utama yang
menarik adalah bahwa sitokin dalam salah satu dari dua-set sub cenderung untuk
menghambat dampak yang timbul dari pada yang lain. Disregulasi kecenderungan
ini masih dalam studi intensif atas peran yang mungkin dalam patogenesis
gangguan autoimun. Beberapa sitokin inflamasi diinduksi oleh stres oksidan.
Fakta bahwa sitokin, sendiri memicu pelepasan sitokin lainnya dan menyebabkan
stres oksidan juga meningkat, membuat mereka penting dalam inflamasi kronis.
Disregulasi sitokin-sitokin baru-baru ini telah dibagi menjadi dua kelompok yaitu
ada bersifat memacu dan menghambat. Bersifat memacu yaitu sesuai dengan
populasi sel yang fungsi mereka mempromosikan: sel T helper 1 atau 2. Kategori
kedua sitokin memiliki peran dalam pencegahan berlebihan tanggapan kekebalan
pro-inflamasi, termasuk IL-4, IL-10 dan TGF- (untuk beberapa nama). Sitokin

merupakan sinyal penting yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh untuk dapat
mengaktifkan kerja sel yang lain, sehingga jenis dari sitokin yang disekresikan
oleh sel akan memberikan efek pada sel targetnya. Beberapa penyakit autoimun
ditandai dengan perubahan komposisi Th1 vs Th2 dan keseimbangan IL-12/TNF vs IL-10. Pada beberapa penyakit seperti RA, MS, DM tipe 1, penyakit tiroid
autoimun, dan Crohns, keseimbangan bergeser menuju Th1 (IL-12 & TNF-),
sedangkan aktifitas Th2 (IL-10) berkurang. Pada SLE berkaitan dengan
pergeseran ke Th2 (IL-10), sedangkan produksi IL-12 dan TNF- oleh Th1 sangat
kurang. pada gambar berikut ini menjelaskan pada penyakit DM tipe 1 yang
diperantarai oleh sitokin yang dihasilkan sampai terjadinya kerusakan sel-sel beta
pankreas (Anonimous,2012).
Klasifikasi Sel Sitokin
Sitokin adalah nama umum, nama yang lain diantaranya limfokin (sitokin
yang dihasilkan limfosit), monokin (sitokin yang dihasilkan monosit), kemokin
(sitokin dengan aktivitas kemotaktik), dan interleukin (sitokin yang dihasilkan
oleh satu leukosit dan beraksi pada leukosit lainnya). Sitokin berdasarkan jenis sel
penghasil utamanya, terbagi atas monokin dan limfokin.
Makrofag sebagai sel penyaji antigen (Antigen Presenting Cell / APC),
mengekspresikan peptida protein Mayor Histocompatibility Complex (MHC) klas
II pada permukaan sel dan berikatan dengan reseptor sel T (Tcr), sel T helper.
Makrofag mensekresi Interleukin (IL)-1, IL-6, IL-8, IL-12, dan TNF-.
Pada sel T terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok sel Th1
memproduksi Interleukin-2 (IL-2), Interferon- (IFN- ) dan Limfotoksin (LT).
Kelompok sel Th2 memproduksi beberapa interleukin yaitu IL-4, IL-5, IL-6, IL10.
Klasifikasi Struktural
Homologi struktural telah mampu membedakan antara sebagian sitokin yang tidak
menunjukkan tingkat redundansi sehingga mereka dapat diklasifikasikan menjadi
empat jenis:

Keempat famili -helix bundel sitokin Anggota memiliki struktur tiga


dimensi dengan empat bundel -heliks. Famili ini dibagi menjadi tiga subkeluarga subfamily IL-2
subfamili interferon (IFN)
subfamili IL-10
Yang pertama dari ketiga subfamili adalah yang terbesar. Hal itu berisi
beberapa non-imunologi sitokin termasuk eritropoietin (EPO) dan

thrombopoietin (TPO). Juga, empat bundel -helix sitokin dapat


dikelompokkan menjadi sitokin rantai panjang dan rantai pendek.
Famili IL-1 yang primer termasuk IL-1 and IL-18
Famili IL-17 , yang belum sepenuhnya ditandai, meskipun sitokin anggota
memiliki efek khusus dalam mempromosikan proliferasi T-sel yang
menyebabkan efek sitotoksik

Sitokin Imun
Selektif dan
Aktivitasnya
GM-CSF

IL-1 IL-1
Sel sel B
Sel sel NK
bervariasi
IL-2
IL-3

Sel penghasil

Sel Th

MonositMakrofagSel
sel BDC

Sel-sel Th1
Sel-sel ThSel-sel
NK

Sel mast
IL-4

Sel-sel Th2

Makrofag
Sel-sel T
IL-5

Sel-sel Th2

IL-6

Sel plasma
Sel pokok
Bervariasi
Il-7

IL-8
IL-10

MonositMakrofagSelsel Th2Sel-sel
stromal

Stroma
sumsum,timus
MakrofagSel
endotelium
Sel-sel Th2

Sel target

Fungsi

Sel-sel progenator

Pertumbuhan dan
differensiasi monosit
dan DC
co-stimulasi

Sel sel Th

Maturasi dan proliferasi


Aktivasi
Inflamasi, fase respon akut, demam
Pengaktifan sel T dan
Pertumbuhan,
B, sel-sel NK
proliferasi,aktivasi
Sel pokok
Pertumbuhan dan
differensiasi
Pertumbuhan dan pelepasan histamin
Pengaktifan Sel B
Proliferasi dan
differensiasi lgG1
dan sintesis Ig E
MHC klas II
Proliferasi
Pengaktifan sel B
Proliferasi dan
differensiasi sintesis
lgA
Pengaktifan sel B
Differensiasi sel
plasma
Sekresi antibodi
Differensiasi
Respon fase akut
Sel pokok
Differensiasi
kedalam progenitor
sel T dan B.
Neutrofil-neutrofil
Kemotaksis
Makrofag

Produksi sitokin

Aktivasi
Pengaktifan sel-sel Tc Differansiasi CTL
(dengan IL-2)
Pengaktifan
Sel-sel NK
Leukosit
Bervariasi
Replikasi virus,
IFN-
ekspresi MCH I
Fibroblas
Bervariasi
Replikasi virus,
IFN-
ekspresi MCH I
Sel-sel Th1Sel-sel Tc,
Bervariasi
Replikasi virus
IFN-
sel-sel NK
Respon MHC
Makrofag
Perubahan Ig menjadi IgG2a
Pengaktifan sel B
Proliferasi
Sel-sel Th
Eliminasi patogen
Makrofag
Makrofag
Monosit, sel-sel T
Kemotaksis
MIP-1
Limfosit
Monosit, sel-sel T
Kemotaksis
MIP-1
Sel T, monosit
Monosit, Makrofag
Kemotaksis
TGF-
Sintesis IL-1
Pengaktifan makrofag
Sintesis lgA
Pengaktifan sel B
Proliferasi
Bervariasi
MakrofagSel mast,
Makrofag
Ekspresi CAM dan
TNF-
sel-sel NK
sitokin
Sel mati
Sel tumor
Sel Th1 dan Tc
Fagosit-fagosit
Fagositosis, tidak
TNF-
ada produksi
Sel mati
Sel tumor
Sel-sel B
IL-12

MakrofagSel-sel B

RESEPTOR SITOKIN
Sitokin bekerja pada sel-sel targetnya dengan mengikat reseptor-reseptor
membran spesifik. Reseptor dan sitokin yang cocok dengan reseptor tersebut
dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan struktur dan aktivitasnya.
Klasifikasi reseptor sitokin berdasarkan pada struktur tiga-dimensi yang dimiliki:
a. Reseptor sitokin tipe 1 ( Haemopoitin Growth Factor family )
Anggota-anggotanya memiliki motif tertentu pada ekstraseluler asam-amino
domain. Contoh, IL-2 reseptor memiliki rantai (umumnya untuk beberapa
sitokin lain) yang kurang sehingga secara langsung bertanggung jawab atas xlinked Severe Combined Immunodeficiency (X-SCID).2,6 X-SCID menyebabkan
hilangnya aktivitas kelompok sitokin ini.
b. Reseptor sitokin tipe 2 ( Interferon )
Anggota-anggotanya adalah reseptor-reseptor terutama untuk interferon.
Reseptor-reseptor kelompok interferon memiliki sistein residu (tetapi tidak

rangkain Trp-Ser-X-Trp-Ser) dan mencakup reseptor-reseptor untuk IFN, IFN,


IFN.
c. Reseptor sitokin tipe 3 ( Tumor Necrosis Factor family ) 2
Anggota-anggotanya berbagi sistein-ekstraseluler yang umumnya banyak
mengikat domain, dan termasuk beberapa non-sitokin lain seperti CD40, CD27,
dan CD30, selain yang diberi nama (TNF).
d. Reseptor kemokin
Reseptor kemokin mempunyai tujuh transmembran heliks dan berinteraksi dengan
G protein. Kelompok ini mencakup reseptor untuk IL-8, MIP-1, dan RANTES. 1
Reseptor kemokin, dua diantaranya beraksi mengikat protein untuk HIV (CXCR4
dan CCR5), yang juga tergolong ke dalam kelompok ini.
e. Immunoglobulin (Ig) superfamili
Immunoglobulin (Ig) yang sudah ada seluruhnya pada beberapa sel dan jaringan
dalam tubuh vertebrata, dan berbagi struktural homologi dengan immunoglobulin
(antibodi), sel molekul adhesi, dan bahkan beberapa sitokin. Contoh, IL-1
reseptor.
f. Reseptor TGF beta
Anggotanya dari transformasi faktor pertumbuhan beta superfamili, yang
tergolong kelompok ini, meliputi TGF-1, TGF-2, TGF-3.
Reseptor sitokin bisa keduanya merupakan membran berbatas dan larut. Reseptor
sitokin yang larut umumnya secara ekstrim sebagai pengatur fungsi sitokin.2
Aktivitas sitokin bisa dihambat oleh antagonisnya, yaitu molekul yang mengikat
sitokin atau reseptornya. Selama berlangsungnya respon imun, fragmen-fragmen
membran reseptor terbuka dan bersaing untuk mengikat sitokin (Triskayani,
2010).
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2012. Imunologi Dasar Sitokin dan Aspek Klinisnya.
http://allergycliniconline.com/2012/03/18/imunologi-dasar-sitokin-danaspek-klinisnya/. Akses 14 september 2014.
Baratawidjaja, K. G. dan I. Rengganis. 2010. Imunologi Dasar Edisi 9.Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta
Triskayani, Winda. 2010. Peranan Sitokin pada Proses Destruksi Jaringan
Periodonsium. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara:
Medan.

TUGAS PAPER MIKROBIOLOGI

SITOKIN

Disusun Oleh

AWALUDDIN
1402101020005

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH, 2014