Anda di halaman 1dari 48

Wrap-up

KEPUTIHAN
Blok Reproduksi dan Tumbuh Kembang

Kelompok: B-5
KETUA

: Sila Inggit Faramita

(1102012276)

SEKRETARIS

: Prima Eriawan Putra

(1102012212)

ANGGOTA

: Nuryadi Hermita

(1102012209

Pratistha Satyanegara

(1102012211)

Rizal Fadhlurrahman

(1102012250)

Rizky Alamsyah Martani

(1102012253)

Shofa Muminah

(1102012275)

Zulfa Vinanta

(1102011302)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2014/2015

KATA SULIT

1. Eritema
Kemerahan pada kulit yang disebabkan kongesti pembuluh darah.
2. IUD
(Intrauterine Device). Alat kontrasepsi berbentuk T berukuran 3 cm dengan balutan tembaga seluas 380 mm2

dipasang pada cavum uteri.


3. Erosi

Terkikisnya suatu permukaan; ulcerasi profunda superficial


4. Discharge vagina homogen

Cairan/mukus dari vagina


5. Pap Smear

Pemeriksaan dengan cara pewarnaan sekret di portio untuk mengetahui adanya proses keganasan
6. Swab vagina

Pemeriksaan cairan vagina dengan usapan


7. Inspekulo

Cara pemeriksaan dengan alat spekulum yang dimasukan ke dalam vagina sehingga terlihat bagian
dalamnya
8. Sistem GPAH

G: Gravid
P: Partus
A: Abortus
H: Hidup

PERTANYAAN DAN JAWABAN


Pertanyaan
1. Apakah keputihan berbahaya?
2. Bagaimana cara membedakan keputihan fisiologis dengan patologis?
3. Apa yang menyebabkan eritema pada labium majus dan labium minus?
4. Mengapa keputihannya berwarna hijau, berbau amis, dan gatal?
5. Kenapa gejala muncul di awal kehamilan?
6. Apa kaitan keputihan dengan suami yang berganti-ganti pasangan?
7. Apa kaitan penggunaan IUD dengan keputihan?
8. Apa yang menyebabkan erosi portio dan sekret melekat pada dinding vagina?
9. Apakah keputihan membahayakan janin?
10. Apa tujuan dilakukan pemeriksaan swab vagina & pap smear?
11. Apa indikasi dilakukan pap smear?
Jawaban
1. (Sekaligus menjawab pertanyaan no.7 )
Keputihan fisiologis: Akibat stress, kelelahan, sebelum & sesudah menstruasi, sekret waktu senggama > tidak
berbahaya

2.

Keputihan patologis: karena infeksi


Keputihan Patologis (bakteri, jamur, parasit), keganasan,
masuknya benda asing (termasuk
Selain jernih (hijau, putih)
IUD)

Objektif

Keputihan Fisiologis

Warna

Jernih

Bau

Tidak berbau

Bau busuk, amis

Konsistensi

Encer

Menggumpal

pH

Asam (3.8 - 4.5)

Lebih basa

Mikroskopis

Sel epitel normal (epitel


kuboid, silindris)

Clue cell, leukosit

3. Ada

infeksi

4. Discharge
warna
Berbau
amis
karena
Gatal
adalah
5. Imunitas

ibu

saat

yang
hijau
adanya
gejala

hamil

adalah
patogen

menurun,

menyebabkan

khas
yang
klinis
dan

ibu

pada
mengeluarkan
khas
tidak

inflamasi
infeksi
trichomonas.
gas
berbau
(amine)
pada
candidiasis

menjaga

sanitasi

genitalnya

6. Apabila sering berganti-ganti pasangan, maka akan meningkatkan risiko tertular penyakit hubungan seksual (STD)
8. Karena

terjadi

peradangan,

dan

patogen

menginvasi

mukosa

9. Keputihan tidak membahayakan janin karena letak janin yang lebih tinggi secara anatomis dari lokasi infeksi

genital

HIPOTESIS

Keputihan dapat bersifat patologis maupun fisiologis. Keputihan fisiologis disebabkan oleh stress, kelelahan, terjadi
sebelum & sesudah menstruasi, serta adanya sekret sewaktu senggama. Gejala yang dirasakan pada keputihan fisiologis
antara lain keluarnya sekret dari vagina yang berwarna jenih, tidak berbau, serta konsistensi encer. Keputihan patologis
disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, parasit, adanya benda asing, dan keganasan. Kelompok orang yang memiliki
faktor risiko tinggi adalah ibu hamil, diduga karena imunitas ibu yang menurun pada saat kehamilan, dan wanita yang
sering berganti-ganti pasangan (terkait dengan penyakit menular seksual).

SASARAN BELAJAR

1. Memahami dan Menjelaskan Sistem Reproduksi Wanita


1.1. Makroskopis
1.2. Mikroskopis
2. Memahami dan Menjelaskan Keputihan
1.1. Definisi
1.2. Etiologi
1.3. Epidemiologi
1.4. Klasifikasi
1.5. Patofisiologi
1.6. Manifestasi Klinis
1.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding
1.8. Tatalaksana
1.9. Pencegahan
1.10.
Komplikasi
1.11.
Prognosis
3. Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Pap Smear
4. Memahami dan Menjelaskan Bersuci saat Menderita Keputihan (kaitannya dengan thaharah)

6
1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi dan Histologi Organ Reproduksi Wanita
1.1. Anatomi Makroskopis
Genitalia Intera

Gambar 1. Organ intera wanita (Netter, 2014)


Uterus
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa). Selama kehamilan berfungsi
sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding
uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Uterus memiliki bentuk seperti buah pir dengan
panjang 7-8 cm, dan terdiri dari corpus (fundus dan isthmus), serta cervix. Pada potongan coronal, terlihat bahwa
cavitas uteri berbentuk segitiga, namun pada potongan sagittal, cavitasnya hanya terlihat seperti jalur tipis. Posisi
normal uterus pada tubuh adalah anteflexi. (Snell, 2012)
Cervix Uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars
supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin)
dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium
uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi 7 epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri
internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat
kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi serviks

7
mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah
serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air.
Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks dipengaruhi
siklus haid. (Snell, 2012)
Corpus Uteri
Terdiri dari, paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum uteri di
intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah
serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding
cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus
intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria. Proporsi ukuran
corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita.
(Snell, 2012)
Ligamenta penyangga uterus
Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum
sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina, ligamentum
rectouterina. (Snell, 2012)
Suplai Darah Ateri
Suplai darah ke uterus yang utama adalah dari arteri uterina (cabang dari arteri iliaca interna). Pembuluh
darah ini dapat mencapai uterus dengan cara menembus secara medial pada bagian basal dari ligamentum
latum uteri. Arteri uterina ini kemudian bersilangan di atas ureter dan mencapai cervis. Mulai dari cervix,
arteri uterina berjalan ke atas sepanjang dinding lateral uterus. Pada akhirnya, ateri uterina beranastomosis
dengan arteri ovarica. (Snell, 2012)
Drainase Darah Vena
Vena uterina berjalan beriringan dengan arteri uterina, dan bermuara ke vena iliaca interna

Gambar 2. Perdarahan uterus, ovarium, dan vagina (Netter, 2014)

Salping / Tuba Falopii


Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi
sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri. Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa,
muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars
isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan
dinding yang berbeda- beda pada setiap bagiannya. (Snell, 2012)
Pars isthmica (proksimal/isthmus)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet.
Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik
(patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan
ovarium. Fimbriae berfungsi menangkap ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan
membawanya ke dalam tuba.
(Snell, 2012)
Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).
Ovarium

9
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium,
sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks dan medula.
Fungsi
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal
primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi
hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi).
Ligamen Penggantung
a. Ligamentum suspensorium ovarii: menghubungkan mesovarium dengan dinding lateral pelvis
b. Ligamentum propium ovarii: menghubungkan ovarium dengan bagian lateral uterus
Suplai Darah Arteri
Ovarium mendapat suplai darah arteri dari Arteri Ovarica yang merupakan percabangan langsung dari aorta
abdominalis (percabangannya berada setinggi lumbal 1 vertebrae).
Drainase Darah Vena
Vena ovarica dextra bermuara langsung dengan vena cava inferior, sementara vena ovarica sinistra bermuara
dahulu pada vena renalis, baru menuju vena cava inferior.
Persarafan
Suplai saraf ovarium didapatkan dari plexus aorta yang beriringan dengan arteri ovarica
(Snell, 2012)

10
Gambar 3. Perdarahan ovarium (Netter, 2014)
Genitalia Externa
Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia
minora, clitoris, hymen, vestibulum, ostium urethrae externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.
Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut
pubis. (Snell, 2012)
Labia mayora
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena.
Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia
mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior).
Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh
darah, otot polos dan ujung serabut saraf. (Snell, 2012)
Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam
di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan penis pada pria. Terdapat juga reseptor
androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif. (Snell, 2012)
Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus
urogenital. Terdapat 6 lubang/ostium, yaitu ostium urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae
Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.
(Snell, 2012)
Introitus / ostium vaginae
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara /
hymen, utuh tanpa robekan. Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat
berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen
dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae).
Bentuk himen postpartum disebut parous. Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek
yang tampak pada wanita pernah melahirkan / para. (Snell, 2012)

11

Gambar 4. Anatomi vulva (Netter, 2014)


Vagina
Vagina merupakan rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial
dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran :
fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding
dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid. Bagian atas vagina
terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior,
posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri. (Snell, 2012)
Fungsi
vagina yaitu untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi
(persetubuhan).
Suplai Darah Arteri
Vagina mendapatkan suplai darah dari arteria vaginalis (cabang dari arteri iliaca interna), dan ramus
vaginalis arteri uterina.
Drainase Darah Vena
Vena vaginalis bermuara ke vena iliaca interna.

12
Gambar 5. Potongan sagittal uterus dan organ di sekitarnya (Netter,
2014)

Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot
diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma
urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra).
Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan
vagina. Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong
(episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.
(Snell, 2012)

Gambar 6. Perineum wanita (Agur & Daley, 2013)


1.2. Histologi
Ovarium
Ovarium merupakan organ dengan jumlah sepasang yang dibungkus oleh mesothelium (epitel germinal) dan
tunica albuginea. Ovarium dibagi menjadi dua bagian, yaitu cortex dan medulla. Pada cortex, terdapat berbagai
macam stadium folikel: folikel primordial, folikel primer, folikel sekunder, dan folikel graaf. Selain itu, pada
cortex juga dapat ditemukan corpus luteum. Corpus luteum merupakan glandula endokrin sementara yang
terbentuk setelah terjadinya ovulasi. Corpus luteum kemudian berdegenerasi dan menetap di ovarium membentuk
corpus albicans. Folikel juga ada yang mengalami degenerasi (atresia) sebelum terjadinya ovulasi, inilah yang
disebut folicel atretis. Pada medulla terdapat jaringan ikat, pembuluh darah, serabut saraf, dan pembuluh limfatik.
(Cui, 2011)

13
Gambar 7. Histologi ovarium (Cui, 2011)

Folikel

Gambar 8. Histologi folikel ovarium (Cui, 2011)


Pada ilustrasi di atas, tergambar stadium-stadium pematangan folikel: folikel primordial (resting), folikel primer
unilaminar, folikel primer multilaminar (growing follicle), folikel sekunder (antral atau vesicular), dan folikel
graaf (preovulatory). Oosit yang ada pada tiap-tiap folikel ini merupakan oosit primer (oosit yang immature).
Oosit sekunder terbentuk sesaat sebelum ovulasi (yaitu pada saat oosit telah selesai mengalami pembelahan
meiosis). Oosit sekunder ini tidak lagi mengalami pembelahan meiosis, kecuali apabila oosit dibuahi. (Cui, 2011)

14

Gambar 9. Proses pematangan folikel di dalam ovarium (Huether & Rote, 2014)
Folikel Primordial
Folikel primordial merupakan tipe folikel yang paling banyak dan paling kecil, terletak di cortex ovarium.
Oosit primer dikelilingi oleh sel epitel selapis gepeng (sel folikuler). Pada saat lahir, jumlah folikel
primordial sekitar 1 juta di dalam ovarium. Hanya ratusan dari folikel primordial ini yang mengalami
maturasi.

Gambar 10. Histologis folikel primordial (Cui, 2011)


Folikel Primer
Di dalam folikel primer, terdapat oosit primer dan sel folikel kuboidal. Folikel ini merupakan pertambahan
tinggi dari folikel sebelumnya (dari selapis gepeng menjadi kuboid). Pada tahap ini, sel-sel folikel disebut
sebagai sel granulosa. Folikel primer terbagi menjadi 2 tipe: folikel primer unilaminar dan folikel primer
multilaminar.
Folikel unilaminar: folikel yang memiliki 1 lapis sel granulosa kuboid, dan memiliki oosit yang lebih kecil.
Folikel multilaminar: folikel yang memiliki beberapa lapis sel granulosa, dan ada oosit yang lebih besar.
Ketika oosit semakin bertambah besar, terbentuk zona pellucida, yaitu lapisan amorphus antara permukaan
oosit dengan sel granulosa. Pada bagian luar membrana basalis sel granulosa, terdapat theca folliculi.

15

Gambar 11. Histologis folikel primer (Cui, 2011)


Folikel Sekunder
Khas pada folikel sekunder adalah adanya cairan folikuler (liquor folliculi) yang mengisi rongga-rongga sel
granulosa. Rongga ini kemudian bersatu membentuk daerah yang sangat luas yaitu antrum. Theca folliculi
(yang sebelumnya ada di folikel primer) berdiferensiasi menjadi theca interna dan theca externa.
Theca interna: sel sekretori berbentuk kuboid, dan berfungsi untuk menghasilkan androgen (steroid).
Androgen ini kemudian berdifusi menuju sel granulosa dan dikonversi menjadi estrogen (sebagai respon
terhadap FSH).
Theca externa: lapisan jaringan ikat yang terdiri atas kolagen, sel epitel gepeng kecil, dan juga bercampur
dengan sel otot polos.

Gambar 12. Histologis folikel sekunder (Cui, 2011)


Folikel Graaf
Folikel graaf merupakan folikel matur (disebut juga folikel preovulatory). Oosit terdorong ke arah perifer
folikel sebagai akibat dari bertambah banyaknya volume cairan di antrum, serta sel granulosa yang
jumlahnya berkurang. Pada tahap ini, oosit masih dalam bentuk oosit primer, dan hampir selesai mengalami
pembelahan meiosis 1.

16
Gambar 13. Histologis folikel Graaf (Cui, 2011)
Corpus Luteum
Setelah ovulasi, dinding folikel graaf yang tersisa membentuk corpus luteum. Dinding dari corpus luteum
berlipat-lipat dan mengandung 2 jenis sel: sel lutein granulosa (berasal dari sel granulosa), dan sel lutein
theca (berasal dari sel theca interna).
Sel lutein granulosa berukuran besar dan warna sitoplasmanya pucat. Sel ini berfungsi untuk menghasilkan
progesterone.
Sel lutein theca berukuran lebih kecil dan memiliki fungsi untuk mengashilkan hormon steroid: progesteron
serta androgen.

Gambar 14. Histologis corpus luteum (Cui, 2011)


Corpus albicans
Apabila tidak terjadi fertilisasi, corpus luteum hanya bertahan pada periode yang singkat (10-14 hari).
Corpus luteum berdegenerasi, mengecil, dan membentuk corpus albicans. Corpus albicans terdiri atas
jaringan ikat yang padat; ukurannya akan semakin mengecil di ovarium selama beberapa bulan hingga
beberapa tahun.
Apabila terjadi fertilisasi dan implantasi, corpus luteum dicegah degenerasinya oleh hormon human
chorionic gonadotropin (hCG) yang dihasilkan plasenta. Pada masa kehamilan, corpus luteum akan terus
aktif selama 6 bulan kehamilan, setelah itu corpus luteum berdegenerasi menjadi corpus albicans.
Pembentukan corpus luteum distimulasi oleh LH
surge.

17

Gambar 15. Histologis corpus albicans (Cui, 2011)

Tuba Uterina (Falopii)


Gambar 16. Histologis tuba uterina (Cui, 2011)
Tuba fallopi dibagi menjadi 4 bagian yaitu: infundibulum, ampulla, isthmus, dan intramural portion.
Infudibulum merupakan jalan keluar dengan bentuk seperti corong. Ampulla memiliki lumen berlabirin yang
cukup besar, karena di tempat inilah fertilisasi biasanya terjadi. Isthmus merupakan bagian sempit dari tuba
fallopi, posisinya dekat dengan uterus. Intramural portion merupakan segmen terakhir dan terletak di dinding
uterus.
Dinding dari tuba fallopi terdiri atas mucosa (epitel selapis silindris dan lamina propria), muscularis (otot polos
inner circular dan outter longitudinal), dan serosa. Pada epitel tuba fallopi, terdapat sel silia dan sel peg. Sel silia
berfungsi untuk mendorong oocyte menuju uterus. Sel peg merupakan sel sekretori yang berfungsi untuk
menutrisi dan menjaga oocyte, serta dapat membantu fertilisasi.
Uterus
Uterus manusia adalah organ berbentuk buah pir dengan dinding berotot tebal. Badan atau korpus membentuk
bagian uterus. Bagian atas uterus yang membulat dan terletak diatas pintu masuk tuba uterina disebut fundus.
Bagian bawah uterus yang lebih sempit dan terletak dibawah korpus adalah serviks. Serviks menonjol dan
bermuara ke dalam vagina.
Dinding uterus terdiri dari 3 lapisan :
1. Perimetrium : bagian luar yang dilapisi oleh serosa atau adventitia
2. Miometrium : terdapat 3 lapisan otot yang batas-batasnya kurang jelas. Tiga lapisan otot tersebut adalah

Lapisan
Sub
vascular
:
serat-serat
otot
tersusun
memanjang
Lapisan Vaskular : lapisan otot tengah tebal, serat tersusun melingkar dan serong dengan banyak
pembuluh
darah.
Lapisan Supravaskular : lapisan otot luar memanjang tipis.

18
3. Endometrium : dilapisi oleh epitel selapis silindris yang turun kedalam lamina propia untuk membentuk
banyak kelenjar uterus. Umunya endometrium dibagi menjadi dua lapisan fungsional, Stratum functionale di
luminal, dan stratum basale di basal. Pada wanita yang tidak hamil , stratum functionale superfisial dengan
kelenjar uterus dan pembuluh darah terlepas atau terkelupas selama menstruasi, meninggalkan stratum basale
yang utuh dengan sisa-sisa kelenjar uterus basal sebagai sumber untuk regenerasi stratum functionale yang
baru.
Arteri uterina di ligamentum latum membentuk arteri arkuata. Arteri ini menembus dan berjalan melingkari
miometrium uterus. Pembuluh darah aruata membentuk arteri rectae (lurus) dan spiralis yang mendarahi
endometrium.
Fase
Menstruasi
Dinding uterus terdiri atas endometrium, myometrium, dan serosa. Endometrium dan mucosa uterus dilapisi
oleh sel-sel epitel dan glandula uterina pada bagian stroma dari jaringan pengikatnya. Endometrium terdiri
atas basalis (lapisan basal) dan functionalis (lapisan fungsional). Lapisan fungsionalis adalah bagian terdekat
dari lumen dan pada siklus menstruasi, mengalami beberapa perubahan. Pada saat fase menstruasi, lapisan
fungsionalis ini meluruh akibat dari iskemi dan nekrosis (karena adanya kontraksi dari arteri). Hal ini terjadi
ketika tidak ada fertilisasi, dan corpus luteum mengalami atropi, sehingga menurunkan kadar estrogen serta

progesteron.
Gambar 17. Fase menstruasi endometrium, uterus (hari 1-4 dari siklus) (Cui, 2011)

19

Fase
Proliferative
Fase proliferative merupakan fase setelah terjadinya fase menstruasi. Pada fase ini, terjadi pembentukan
epitel, glandula uterina, dan jaringan penyambung, namun hanya sebatas di lapisan basal. Pada tahap ini,
glandula uterina berbentuk lurus dan memiliki lumen yang sempit; permukaan dari endometrium masih
halus.
Gambar 18. Fase proliferatif endometrium, uterus (hari 5-14 dari siklus) (Cui, 2011)
Fase
Sekretori
Fase sekretori terjadi sesaat setelah terjadinya ovulasi. Fase ini dipengaruhi oleh progesterone yang
diproduksi di corpus luteum. Pada tahap ini, endometrium menjadi sangat tebal (6-7 mm), dan glandula
uterina terlihat menggulung. Selain itu, terlihat arteri juga menggulung. Arteri-arteri yang menggulung ini
dapat disebut juga spiral artery, yang mana menjalar dari endometrium lapisan basal ke lapisan fungsional.

Gambar 19. Fase sekretori endometrium (hari 15-28 dari siklus) (Cui, 2011)
Cervix Uteri
Bagian inferior dari uterus membentuk canalis cervicalis. Permukaan endocervix dilapisi oleh epitel selapis
silindris dan sel-sel pensekresi mucus. Ectocervix dilapisi oleh sel epitel gepeng berlapis. Pada cervix, terdapat
glandula mucus yang bercabang-cabang, dinamakan glandula cervicalis. Apabila glandula ini mengalami
obstruksi, dapat menyebabkan cervical cyst (Nabothian cyst).
Sekresi cervix tergantung dari siklus menstruasi, namun permukaan mucosanya tidak meluruh seperti
endometrium pada fase menstruasi. Stroma cervicalis terdiri atas jaringan ikat padat dan sedikit otot polos.

20

Gambar 20. Histologis cervix uteri (Cui, 2011)

Vagina

Gambar 21. Histologis vagina (Cui, 2011)


Vagina merupakan organ berbentuk tubuler yang menghubungan cervix dengan genital externa. Dinding vagina
terdiri atas mucosa, muscularis, dan adventitia.
Mucosa terdiri atas sel epitel gepeng berlapis tanpa lapisan tanduk, dan bagian bawahnya terdapat lamina propria
(jaringan ikat padat ireguler). Muscularis terdiri atas otot polos longitudinal dan sel-sel otot polos oblique.
Adventitia terdiri atas jaringan ikat padat (yang dekat dengan muscularis) dan jaringan ikat longgar (bagian
terluar). Vagina lembab karena sekresi cervical, dan memiliki banyak ujung-ujung saraf pada bagian inferior
(dekat dengan lubang masuknya).
2. Memahami dan Menjelaskan Keputihan (Fluor Albus)
1.1. Definisi
Keputihan merupakan masalah klinis yang umum dengan banyak penyebab. Dalam terminologi terdahulu seperti
non spesifik vaginitis atau non spesifik infeksi saluran kelamin bawah sering digunakan untuk
menggambarkan kondisi yang menyebabkan keputihan. Baru-baru ini, definisi cermat dari sindrom klinis dan
peningkatan pengetahuan tentang agen khusus yang menyebabkan infeksi genital pada wanita telah membuat
kemungkinan diagnosis yang tepat (Puri, Madan, & Bajaj, 2003).

21
1.2. Epidemiologi
Penelitian secara epidemiologi, fluor albus patologis dapat menyerang wanita mulai dari usia muda, usia
reproduksi sehat maupun usia tua dan tidak mengenal tingkat pendidikan, ekonomi dan sosial budaya, meskipun
kasus ini lebih banyak dijumpai pada wanita dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. Fluor
albus patologis sering disebabkan oleh infeksi, salah satunya bakteri vaginosis (BV) adalah penyebab tersering
(40-50% kasus terinfeksi vagina), vulvovaginal candidiasis (VC) disebabkan oleh jamur candida species, 80-90%
oleh candida albicans, trichomoniasis (TM) disebabkan oleh trichomoniasis vaginalis, angka kejadiannya sekitar
5-20% dari kasus infeksi vagina (Haryadi, 2011)
1.3. Etiologi
Keputihan disebabkan oleh beberapa hal yaitu infeksi, benda asing, penyakit organ kandungan, kelelahan,
gangguan hormon, pola hidup tidak sehat dan stres akibat kerja. Keputihan disebabkan oleh adanya perubahan
flora normal yang berdampak terhadap derajat keasaman (pH) organ reproduksi wanita (Setyana, 2013)
Beberapa
patogen
dan
penyebab
keputihan
lainnya
tertera
pada
tabel
1.

Tabel
1.
Patogen
dan
Penyebab
Keputihan
Lainnya
(Saxena,
2010)
Bakteri
Gonococcus
Penyebab Gonococcus adalah coccus gram negative Neisseria gonorrhoeae ditemukan oleh Neisser in 1879. N.
gonorrhoeae adalah diplokok berbentuk biji kopi, bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora, jenis
diplokokkus gram negatif dengan ukuran 0,8 1,6 mikro, bersifat tahan asam. Bakteri gonokokkus tidak tahan
terhadap kelembaban, yang cenderung mempengaruhi transmisi seksual. Bakteri ini bersifat tahan terhadap
oksigen tetapi biasanya memerlukan 2-10% CO2 dalam pertumbuhannya di atmosfer. Bakteri ini membutuhkan
zat besi untuk tumbuh dan mendapatkannya melalui transferin, laktoferin dan hemoglobin. Organisme ini tidak
dapat hidup pada daerah kering dan suhu rendah, tumbuh optimal pada suhu 35-37C dan pH 7.2-8.5 untuk
pertumbuhan yang optimal.
Pada sediaan langsung dengan gram bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram bersifat
gram negative, terlihat diluar dan dalam leukosit, kuman ini tidak tahan lama diudara bebas, cepat mati dalam
keadaan kering, dan tidak tahan zat desinfektan.
Secara morfologik gonokok terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili dan bersifat virulen, serta 3
dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan

22
menyebabkan reaksi radang. Organisme ini menyerang membran mukosa, khususnya epitel kolumnar yang
terdapat pada uretra, servik uteri, rectum, dan konjungtiva.Gambaran tersebut dapat terlihat pada pemeriksaan
Pap Smear, tetapi biasanya bakteri ini diketahui pada pemeriksaan sedian apus dengan pewarnaan Gram. Cara
penularan penyakit ini adalah dengan senggama.
Chlamidia trachomatis
Chlamydiasis genital adalah infeksi yang disebakan oleh bakteri Chlamydia trachomatis, berukuran 0,2 -1,5
mikron, berbentuk sferis, tidak bergerak, dan merupakan parasite intrasel obligat. Terdapat 3 spasies yang
pathogen terhadap manusia yaitu, c. pneumonia, c. psittaci, dan c. trachomiasis. C. trachomiasis sendiri
mempunyai 5 macam serovar, serovar A,B,Bs, dan C merupakan trachoma endemic, serovar B,D,E,F,G,H,I,J dan
K dan M merupakan penyebab infeksi traktus genitouranius serta pneumonia pada neonates. Sementara itu,
serovar L1,L2,L3 menyebabkan limfogranuloma verereum. Yang menjadi dasar pembagian serovar CT adalah
ekspresi major outer membrane protein (MOMP).
Masa inkubasi berkisar antara 1-3 minggu. Manifestasi klinis infeksi CT merupakan efek gabungan beberapa
factor, yaitu kerusakan jaringan akibat replikasi CT, respon inflamasi terhadap CT dan bahan nekrotik dari sel
pejamu yang rusak. Sebagian besar CT asimptomatik dan tidak menunjukan gejala klinis spesifik. [endoservik
merupakan organ pada perempuan yang paling sering terinfeksi CT. walaupun umumnya infeksi CT asimtomatik,
37 % perempuan memberi gambaran klinik duh mukopurulen dan 19% ektopi hipertrofi. Servisitis dapat
ditegakkkan bila ditemukan duh servik yang mukopurulen, ektopi serviks, edema, dan perdarahan serviks baik
spontan maupun dengan hapusan ringan lidi kapas. Infeksi paada serviks dapat menyebar melalui rongga
endometrium hingga mencapai tuba fallopi. Secara klinis dapat memberi gejala menoragia dan metroragia.
Sebanyak 10% CT pada serviks akan menyebar secara ascendens dan menyebabkan penyakit radang panggul
(PRP). Infeksi CT yang kronis dan/atau rekuren menyebabkan jaringan parut pada tuba. Komplikasi jangka
panjang yang sering adalah kehamilan ektopik dan infertilitas akibat obstruksi. Komplikasi lain dapat pula terjadi
seperti artritis reaktif dan perihepatitis.
Gardanerrella vaginalis
Gardanerrella menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap sebagai bagian dari
mikroorganisme normal dalam vagina karena seringnya ditemukan. Bakteri ini biasanya mengisi penuh sel epitel
vagina dengan membentuk bentukan khas dan disebut clue cell. Pertumbuhan yang optimal pada pH 5.0-6.5.
Gardanerrella menghasilkan asam amino yang diubah menjadi senyawa amin yang menimbulkan bau amis seperti
ikan.
Treponema Pallidum (Spirochaeta pallida)
Bakteri ini merupakan penyebab penyakit sifilis. Pada perkembangan penyakit dapat terlihat sebagai kutil-kutil
kecil di vulva dan vagina yang disebut kondiloma lata. Bakteri berbentuk spiral P: 6 15 , L: 0,25 , lilitan: 9
24 dan tampak bergerak aktif (gerak maju & mundur, Berotasi undulasi sisi ke sisi) pada pemeriksaan
mikroskopis lapangan gelap. Mati pada kekeringan, panas, antiseptik ringan, hidup beberapa lama di luar tubuh.
Penularan dapat secara kontak langsung yaitu melalui coital STD dan dapat juga melalui non-coital (jarum
suntik) sulit terjadi.
Jamur
Candida albicans
Cairan yang dikeluarkan biasanya kental, berwarna putih susu seperti susu pecah atau seperti keju, dan sering
disertai gatal, vagina tampak kemerahan akibat proses peradangan. Dengan KOH 10% tampak sel ragi
(blastospora) dan hifa semu (pseudohifa).

23
Beberapa keadaan yang dapat merupakan tempat yang subur bagi pertumbuhan jamur ini adalah kehamilan,
diabetes mellitus, pemakai pil kontrasepsi. Pasangan penderita juga biasanya akan menderita penyakit jamur ini.
Keadaan yang saling menularkan antara pasangan suami-istri disebut sebagai phenomena ping-pong.
Parasit
Trichomonas vaginalis
Parasit ini berbetuk lonjong dan mempuyai bulu getar dan dapat bergerak berputar-putar dengan cepat. Gerakan
ini dapat dipantau dengan mikroskop. Cara penularan penyakit ini dengan senggama. Walaupun jarang dapat juga
ditularkan melalui perlengkapan mandi, seperti handuk atau bibir kloset.
Virus
Virus Herpes simpleks
Virus herpes yang paling sering > 95% adalah virus herpes simpleks tipe 2 yang merupakan penyakit yang
ditularakan melalui senggama. Namun 15-35% dapat juga disebabkan virus herpes simpleks tipe 1.Pada awal
infeksi tampak kelainan kulit seperti melepuh seperti terkena air panas yang kemudian pecah dan meimbulkan
luka seperti borok. Pasien merasa kesakitan.
Human Papilloma Virus
Papovavirus merupakan virus kecil ( diameter 45-55 nm ) yang mempunyai genom beruntai ganda yang sirkuler
diliputi oleh kapsid (kapsid ini berperan pada tempat infeksi pada sel) yang tidak berpembungkus menunjukkan
bentuk simetri ikosahedral. Berkembang biak pada inti sel.
Human Papilloma Virus merupakan penyebab dari kondiloma akuminata. Kondiloma ditandai dengan tumbuhnya
kutil-kutil yang kadang sangat banyak dan dapat bersatu membentuk jengger ayam berukuran besar. Cairan di
vagina sering berbau tanpa rasa gatal. Penyakit ini ditularkan melalui senggama dengan gambaran klinis menjadi
lebih buruk bila disertai gangguan sistem imun tubuh seperti pada kehamilan, pemakain steroid yang lama seperti
pada pasien dengan gagal ginjal atau setelah transplantasi ginjal, serta penderita HIV AIDS
1.4. Klasifikasi
Keputihan dapat dibedakan antara keputihan yang fisiologis dan patologis. Keputihan fisiologis terdiri atas cairan
yang terkadang berupa mucus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang. Sedangkan pada
keputihan
yang
patologis
terdapat
banyak
leukosit.
Keputihan fisiologis ditemukan pada:
A. Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari; di sini sebabnya ialah pengaruh estrogen dari plasenta
terhadap uterus dan vagina janin.
B. Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen; leukore di sini hilang sendiri, akan tetapi
dapat menimbulkan keresahan pada orang
C. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudasi
dari dinding vagina.
D. Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar servik uteri menjadi lebih encer.
E. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelanjar servik uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit menahun,
dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri.
(Setyana, 2013)
Penyebab keputihan patologis yang paling penting adalah infeksi. Di sini cairan mengandung banyak leukosit
dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina,
serviks, dan cavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula
timbul. Selanjutnya leukorea ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan

24
permukaannya untuk sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital. (Setyana, 2013)
Keputihan patologis digolongkan lagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan patogen infeksiusnya: Bacterial
vaginosis (BV), Candidiasis, Trichomoniasis, infeksi bakterial lainnya (streptococcal, staphylococcal, E. coli).
1.5. Patofisiologi
Flora
Normal
Vagina
dan
pH
Normal
Vagina
Flora normal yang ada pada vagina wanita asimptomatik antara lain bakteri aerob dan anaerob. Selain bakteri,
juga dapat ditemukan jamuar anaerob. Spesies bakteri dan jamur tersebut tertera pada tabel 2.

Tabel 2. Spesies flora normal vagina wanita asimptomatik (Hoffman, et al., 2012)
Jumlah flora normal anaerob yang ada pada vagina wanita lebih banyak dibandingkan aerob dengan rasio 10:1.
Bakteri
ini
hidup
dan
bersimbiosis
dengan
host.
Umumnya, keasaman vagina bervariasi antara 4-4,5. Meskipun keasaman ini masih belum diketahui
penyebabnya, namun pada vagina terdapat spesies bakteri Lactobacillus yang memproduksi asam laktat, asam
lemak, dan beberapa asam organik lainnya. Spesies bakteri lainnya juga berkontribusi terhadap pembentukan
asam-asam organik seperti produk katabolisme dari protein, sementara bakteri anaerob berkontribusi dengan cara
fermentasi
asam
amino.
Vaginitis terjadi akibat dari perubahan flora vagina (oleh karena masuknya/introduksi patogen, ataupun oleh
karena perubahan dari lingkungan vagina itu sendiri yang dapat menyebabkan proliferasi patogen). pH vagina
dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia, fase-fase siklus menstruasi, aktivitas seksual, terapi hormon,
pemilihan kontrasepsi, kehamilan, adanya jaringan nekrosis, adanya benda asing, dan menggunakan produkproduk higenitas atau antibiotik. Perubahan pH vagina ini dapat menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme
patogenik.
(Saxena,
2010)
Perubahan lingkungan vagina, misalnya peningkatan produksi glikogen pada wanita hamil, ataupun gangguan
kadar estrogen/progesterone karena penggunaan kontrasepsi oral, dapat menyebabkan pertumbuhan C. albicans.
(Saxena,
2010)
Perubahan

Flora

Normal

Vagina

25
Apabila terjadi perubahan ekologi (lingkungan) di vagina, maka spesies flora normal akan terganggu. Contohnya
pada remaja perempuan, atau wanita postmenopausal yang tidak menerima replacement estrogen > mereka
memiliki speses Lactobacillus yang lebih rendah daripada wanita produktif. (Hoffman, et al., 2012)
Siklus menstruasi juga berperan terhadap perubahan flora normal vagina. Hal ini terkait dengan perubahan
hormonal. Selain itu, sekret menstruasi yang keluar juga dapat menutrisi spesies bakteri tertentu >
menyebabkan overgrowth dari bakteri tersebut. Meskipun demikian, masih belum jelas kaitan antara siklus
menstruasi dengan infeksi saluran reproduksi wanita bagian atas. (Hoffman, et al., 2012)
Apabila wanita sedang menjalani terapi antibiotik broad-spectrum, maka dapat terjadi eradikasi spesies flora
normal di vagina. Akibatnya, dapat terjadi inflamasi oleh karena infeksi Candida albicans atau spesies Candida
lainnya.
(Hoffman,
et
al.,
2012)
Histerektomi (pengangkatan cervix) dapat menyebabkan perubahan flora di saluran reproduksi. Umumnya, dapat
ditemukan peningkatan jumlah spesies anaerob pasca operasi, terutama peningkatan Bacteroides fragilis. Selain
anaerob, juga dapat ditemukan peningkatan bakteri aerob seperti Escherichia coli dan spesies Enterococcus.
(Hoffman,
et
al.,
2012)
_____________________________________________________________________________________
Bacterial
Vaginosis,
Vaginal
Candidiasis,
Trichomoniasis
Bacterial
Vaginosis
(Non
STD)
Bacterial vaginosis merupakan sindroma yang menandakan adanya abnormalitas flora pada vagina. Saat ini
bacterial vaginosis masih belum diketahui dengan jelas perjalanan klinisnya. Sebelunya, bacterial vaginitis
disebut sebagai Haemophilus vaginitis, Corynebacterium vaginitis, Gardenella atau anaerobic vaginitis, dan
nonspecific
vaginitis.
(Hoffman,
et
al.,
2012)
Tanpa alasan yang jelas, simbiosis yang terjadi pada flora di vagina menyebabkan overgrowth hanya pada spesies
bakteri tertentu, yaitu Gardenerella vaginalis, Ureaplasma urealyticum, Mobiluncus, Mycoplasma hominis, dan
Prevotella. Bacterial vaginosis juga seringkali diasosiasikan dengan menurunnya (atau tidak adanya) spesies
bakteri yang memproduksi hidrogen peroksida (salah satunya spesies Lactobacillus). Apapun ekosistem yang
terjadi sehingga menyebabkan hilangnya Lactobacillus pada kasus bacterial vaginosis, masih belum diketahui
secara
jelas.
(Hoffman,
et
al.,
2012)

Normalnya, pada epitel vagina terdapat banyak sekali Lactobacillus acidophilus. Bakteri ini dapat menghasilkan
hidrogen peroksida yang toksik pada bakteri aerob maupun anaerob. Bakteri seperti Haemophilus vaginalis,
Gardnerella mobilicus, Mycoplasma hominis, Gardnerella vaginalis, dan Peptostreptococcus dapat
menghasilkan produk metabolik sampingan seperti amine. Senyawa amine ini dapat menyebabkan peningkatan
pH vagina dan menyebabkan tergerusnya (exfoliasi) sel epitel vagina. (Hoffman, et al., 2012)
Beberapa

faktor

risiko

bacterial

vaginosis

antara

lain

tertera

pada

tabel

3.

26

Tabel

3.

Faktor

risiko

bacterial

vaginosis

(Hoffman,

et

al.,

2012)

Vulvovaginal
Candidiasis
(Non
STD)
Beberapa spesies Candida dapat menyebabkan candidiasis. Candida sebetulnya merupakan bagian dari flora
normal kulit, membran mukosa, dan traktus gastrointestinalis. Spesies Candida mengkolonisasi permukaan
mukosa dari manusia sesaat setelah lahir, sehingga risiko infeksi endogen selalu ada. Spesies candida yang
berperan sebagai patogen antara lain C. albicans, C. parapsilosis, C. glabrata, C. tropicalis, C. guiliermondii,
dan
C.
dubliniensis.
Candidiasis superficialis (baik cutaneous maupun mucosal) terjadi karena peningkatan jumlah Candida pada
daerah tersebut. Peningkatan jumlah Candida ini menyebabkan invasi lokal jamur atau pseudohyphae ke dalam
kulit ataupun lapisan epitel. Candidiasis sistemik terjadi karena Candida masuk ke dalam aliran darah dan
pertahanan fagositik host tidak cukup kuat untuk melawan jamur. Dari sirkulasi ini, Candida dapat menginfeksi
ginjal, katup jantung, dan dapat menyebabkan infeksi candida dimanapun. Apabila infeksi terjadi di kulit atau
mukosa, maka akan terlihat lesi yang ditandai dengan reaksi inflamasi. Lesi dapat berupa abses piogenik, hingga
terjadi
granuloma
kronik.
(Jawetz,
et
al.,
2013)
Tahap awal terjadinya vulvovaginal candidiasis adalah kolonisasi sel epitel vagina. Perlekatan ke sel epitel host
terjadi karena adanya adhesin ataupun adanya peranan protease. Supaya dapat menembus perumakaan jaringan
dan menyebabkan infeksi yang invasif, Candida albicans harus menginvasi sel yang normalnya tidak bersifat
fagositik seperti epitel dan sel endotel. Temuan histopatologis yang umum didapat pada kasus candidiasis adalah

27
adanya

dinding

fungal

pada

jaringan

tersebut.

Terdapat dua mekanisme seluler yang menyebabkan invasi jamur ke dalam jaringan host: (1) invasi dengan cara
mendegradasi dinding sel target secara hidrolitik; (2) menginduksi sel-sel yang normalnya nonfagositik untuk
memakan patogen. Apabila patogen dapat menembus jaringan vagina, maka patogen akan masuk dalam aliran
darah. Penyebaran hematogen sangat berbahaya karena dapat menyebabkan infeksi Candidia sistemik.

Gambar 22. Proses kolonisasi dan invasi Candida albicans (Ericson,


et
al.,
2007)
Trichomoniasis
(STD)
Trichomonas vaginalis adalah parasit protozoa yang memiliki flagel. Organisme ini berukuran (panjang) 1020m (lebar) 2-14m. Terdapat axostyle yang memanjang dari bagian posterior organisme tersebut. Organisme
ini hanya memiliki stadium trophozoite (tidak memiliki stadium kista). T. vaginalis ditularkan melalui hubungan
seksual, dan pada umumnya, infeksi bersifat asimptomatik ataupun menimbulkan gejala yang ringan (baik pada
wanita
maupun
pria).

28

Gambar

23.

Morfologi

trophozoite

Trichomonas

vaginalis.

(Farrar,

et

al.,

2014)

T. vaginalis umumnya menginfeksi sel epitel gepeng pada saluran genital. Waktu inkubasinya adalah antara 4-28
hari. T. vaginalis hidup di saluran genital bawah wanita dan di urethra serta prostat pada pria. Penularan T.
vaginalis adalah dari manusia ke manusia melalui hubungan seksual. Saat ini hanya manusia yang diketahui
sebagai host T. vaginalis. Parasit ini tidak memiliki bentuk kista dan sangat sulit bertahan hidup di lingkungan
eksternal. T. vaginalis dapat hidup di luar tubuh manusia pada lingkungan yang lembab selama >3 jam. Infeksi T.
vaginalis dapat menyebabkan peningkatan resepon imunitas seluler lokal, ditandai dengan adanya inflamasi dari
epitel vagina dan exocervix pada wanita; pada pria, terjadi inflamasi epitel urethra. Pada studi meta-analisis,
diketahui bahwa infeksi Trichomonas vaginalis dapat meningkatkan risiko terkena neoplasia cerix sebanyak 1,9
kali
lipat.
(Farrar,
et
al.,
2014)

Gambar 24. Daur hidup Trichomonas vaginalis (Saxena,


2010)
Niesseria
gonorrhoeae
(STD)
Gonorrhea adalah penyakit menular seksual (Sexually
Transmitted Disease/STD). Gonorrhea menyebar melalui
kontak dengan penis, vagina, mulut, atau anus. Gonorrhea
juga dapat menyebar melalui ibu pada saat melahirkan
anaknya. Penyakit ini memiliki karakteristik yaitu adhesi
gonococcus pada permukan urethra ataupun permukaan
mukosa. Gonococcus dapat melakukan penetrasi ke rongga interseluler dan dapat mencapai jaringan ikat
subepitel
pada
hari
ke-3
infeksi.
Gejala yang paling umum ditemui adalah urethritis akut yang mengakibatkan dysuria, dan discharge penis yang
purulen. Infeksi dapat menjalar dari urethra hingga ke prostat, vesica seminalis, dan epididimis sehingga dapat
menyebabkan komplikasi seperti epididymitis, prostatitis, periurethral abscess dan chronic urehtritis. Infeksi juga
dapat
menyebak
melalui
jaringan
periurethral,
sehingga
dapat
terbentuk
abscess.
Pada wanita, tempat utama infeksi gonorrhea adalah pada endocervix, dan infeksinya dapat menyebar ke urethra

29
serta vagina. Gonorrhea menyebabkan discharge mucopurulen pada wanita. Gejala yang umumnya dikeluhkan
pasien adalah keputihan, dysuria, dan nyeri abdomen. Infeksi juga dapat menjalar ke glandula Barholin,
endometrium,
dan
tuba
fallopi.
Penyebab
Keputihan
Lainnya
Selain karena infeksi mikrobiologi dan parasit, keputihan juga dapat disebabkan oleh benda asing (kondom,
tampon yang menyangkut di vagina), polyp cervical, keganasan saluran genital, fistula, dan reaksi alergi. Apabila
ada bukti kuat bahwa pasien tidak mengalami infeksi, maka dapat dikonfirmasi bahwa pasien tersebut mengalami
keputihan fisiologis. Diketahui bahwa beberapa metode kontrasepsi juga dapat menyebabkan keputihan. Pasien
yang mengeluh adanya keputihan harus ditanyakan mengenai kontrasepsi yang saat ini dipakai dan yang pernah
dipakai.
1.6. Manifestasi
Klinis
Manifestasi klinis yang umumnya dikeluhkan pasien antara lain rasa gatal, dysuria, perdarahan abnormal, nyeri
perut atau panggul, dan demam
1.7. Diagnosis
&
Diagnosis
Banding
Anamnesis
Pada wanita yang datang dengan keluhan keputihan (terutama apabila pasien merasakan bahwa keputihan yang
saat itu dikeluhkan berbeda dengan keputihan biasanya), maka hal yang paling penting untuk diketahui adalah
riwayat klinisnya. Pasien dapat datang dengan kekhawatiran terkena STI (Sexually transmitted infection = STD)
atau
keganasan,
sehingga
harus
dieksplorasi
lebih
lanjut.
Adanya keputihan saja sebetulnya bukan merupakan prediktor yang baik untuk STI. Sehingga perlu dipastikan
lagi dengan menanyakan ke pasien mengenai riwayat hubungan seksualnya (misalnya jumlah pasangan
seksualnya, aktivitas seksualnya, penggunaan kondom, dan gender partnernya). Wanita yang aktif secara seksual
memiliki risiko terkena STI lebih tinggi apabila berusia <25 tahun. Selain itu, wanita yang memiliki pasangan
seksual lebih dari 1, atau yang sering berganti-ganti selama 12 bulan, juga memiliki risiko yang tinggi terkena
STI.
Pertanyaan
yang
perlu
ditanyakan
antara
lain
mengenai:
a.
Apa
perubahan
yang
dirasakan
b.
Onset
terjadinya
keputihan
c.
Durasi
terjadinya
keputihan
d.
Bau
yang
dikeluarkan
dari
sekret
e.
Warna
sekret
f.
Konsistensi
sekret
g.
Faktor
eksaserbasi
(misalnya
muncul
setelah
coitus,
atau
lainnya)
h. Perubahan siklus menstruasi
(Management of Vaginal Discharge in Non-genitourinary Medicine Settings, 2012)
Selain itu, penting juga untuk menanyakan gejala klinisnya:
a. Rasa gatal
b. Dispaerunia superficial
c. Dysuria
d. Perdarahan abnormal (berat, saat intermenstrual ataupun postcoital)
e. Dispareunia dalam
f. Nyeri perut atau panggul
g. Demam

30
(Management of Vaginal Discharge in Non-genitourinary Medicine Settings, 2012)
Pemeriksaan Fisik
Apabila dari anamnesis dugaannya ke arah candidiasis atau bacterial vaginosis, maka risiko terkena STI rendah.
Apabila tidak ada gejala-gejala indikatif infeksi saluran genital atas, maka terapi untuk candidiasis ataupun
bacterial vaginosis dapat dilakukan tanpa pemeriksaan fisik (manajemen sindromik). Pasien direkomendasi untuk
dilakukan pemeriksaan fisik apabila gejala tidak mereda, atau gejalanya berulang.
Pemeriksaan STI harus direkomendasi untuk wanita yang aktif secara seksual. Apabila wanita menolak untuk
dilakukan pemeriksaan fisik, maka vulvovaginal swab (VVS) dapat dilakukan sendiri untuk mengetes chlamydia
+/- gonorrhoea dengan cara nucleic acid amplification test (NAAT). Tes urine direkomendasikan untuk pria,
namun pada wanita, sebaiknya dilakukan tes NAAT VVS atau swab endocervical.
Wanita yang setuju untuk dilakukan pemeriksaan fisik, diukur keasaman vagina nya dengan menggunakan kertas
indikator pH dengan range yang sempit (pH 4-7). Sekret dari dinding lateral vagina ditampung dengan
menggunakan swab atau loop. Pemeriksaan pH penting dilakukan untuk mengetahui adanya candida (pH<4.5),
ataupun Bacterial Vaginosis/Trichomonas Vaginalis (pH > 4.5). Namun pemeriksaan pH tidak dapat
membedakan BV dan TV. Apabila ada dugaan STI, ataupun apabila ada permintaan dari pasien untuk tes STI,
maka dilakukan swab endocervical untuk memeriksa adanya chlamydia dan gonorrhea.
(Management of Vaginal Discharge in Non-genitourinary Medicine Settings, 2012)
a. Inspeksi vulva (untuk melihat adanya discharge dalam jumlah banyak, vulvitis, ulkus, ataupun lesi-lesi
lainnya)
b. Pemeriksaan dengan menggunakan speculum (pemeriksaan internal)

31
Pemeriksaan harus dilakukan dengan kondisi pencahayaan yang terang, penggunaan spekulum vagina dengan
ukuran yang tepat, pelumas water-soluble, dan peralatan untuk pemlakukan Pas smear, kultur bakteri, tes

DNA, ataupun diagnostik lain seperti KOH dan NaCl fisiologis.


Gambar 25. Spekulum dengan berbagai macam ukuran dan bentuk (Bickley, 2013)
Pilih spekulum dnegan ukuran dan bentuk yang tepat. Basahi spekulum dengan air hangat (pelumas atau gel
dapat memengaruhi tes-tes sitologi, kultur virus, dan kultur bakteri, sehingga perlu diperhatikan saat
menggunakan pelumas). Pasien diberitahu apabila spekulum akan dimasukan. Spekulum dimasukkan dengan
mendorong ke arah bawah secara perlahan. Miringkan spekulum saat dimasukkan, kemudian luruskan
kembali apabila spekulum sudah berada di dalam vagina.

32

Gambar 26. Memasukkan spekulum dengan arah ke bawah (Bickley, 2013)

Gambar 27. Posisi spekulum saat dimasukkan dan saat spekulum sudah berada di dalam vagina (Bickley,
2013)
Apabila spekulum sudah berada di dalam vagina dan dalam posisi yang tegak, buka spekulum secara
perlahan. Putar dan sesuaikan spekulum hingga terlihat portio cervix. Apabila discharge mengganggu
pandangan cervix, bersihkan secara perlahan dengan menggunakan swab besar.

Gambar 28. Gambaran portio cervix pada saat spekulum dibuka (Bickley, 2013)

33
Apabila ada indikasi infeksi saluran genital atas, maka dapat dilakukan palpasi abdominal, dan pemeriksaan

bimanual pelvis.
Gambar 29. Gambaran khas dari organisme yang berbeda pada keputihan vagina (Saxena, 2010)
Hasil pemeriksaan fisik lainnya tertera pada tabel 5.
Pada infeksi herpes simplex virus, kelainan klinis yang khas dijumpai berupa vesikel yang berkelompok di atas
kulit yang semam dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat menjadi krusta
yang kadang-kadang mengalami ulserasi yang dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatriks. Pada perbaan tidak
terdapat indurasi. Kadang-kadang dapat timbul infeksi sekunder sehingga memberikan gambaran yang tidak jelas.
Umumnya diapatkan pada orang yang kekurangan antibodi herpes simplex virus.
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan kriteria Amsel (pemeriksaan discharge, Whiff test, pemeriksaan mikroskopis, pH vagina)
Pemeriksaan discharge
Gambarakan klinis dari keputihan yang umum ditemui adalah bau yang khas, dan pemeriksaan fisik lainnya
normal. Terlihat sekret yang putih seperti susu, encer, dan melekat pada dinding vagina (biasanya pH dari
sekret > 4.5).
Whiff Test
Tercium bau amis apabila sekret dilarutkan pada solusi KOH 10%. Hal ini diakibatkan oleh produksi
(metabolisme) amino dari berbagai macam organisme.

34
Gambar 30. Gambaran Whiff test (Saxena, 2010)

Pemeriksaan Mikroskopis
Pada pemeriksaan mikroskopis ditemukan clue cell. Tanda khas pada bacterial vaginosis adalah
ditemukannya sel-sel vagina yang tidak biasa, dan dinamakan clue cell. Clue cell diyakini sebagai tanda
yang paling relaible untuk mendiagnosis bacterial vaginosis. Clue cell merupakan sel epitel yang dikelilingi
oleh bakteri pada permukaannya. Karena banyak bakteri yang mengelilingi sel tersebut, maka terjadi
obstruksi pada dinding-dinding sel epitel tersebut. Selain itu, wanita yang mengalami bacterial vaginosis
terlihat lebih sedikit memiliki bakteri Lactobacillus pada gambaran mikroskopis. pH vagina yang lebih dari
4.5 mengindikasikan adanya bacterial vaginosis ataupun Trichomonas vaginalis. (Saxena, 2010)

Gambar 31. Gambaran mikroskopis clue cell pada bacterial vaginosis (Saxena, 2010)
b. Pemeriksaan mikroskopis candidiasis vulvovaginal
Pemeriksaan mikroskopik dengan sediaan basah ataupun KOH menunjukkan hasil positif pada 50-70%
pasien yang terinfeksi Candida. Pada pasien yang gejala klinisnya sangat mengindikasikan adanya
candidiasis vulvovaginalis namun hasil mikroskopiknya negatif, perlu dilakukan pewarnaan Gram atau kultur
dengan medium Nickerson/Sabaouraud dextrose agar. Pada infeksi candidial, sediaan KOH yang diperiksa
secara mikroskopis dapat menunjukkan budding filament, mycelia, dan pseudohyphae.

Gambar 32. Gambaran mikroskopis sediaan basah Candida albicans (Saxena, 2010)

35

c. Pemeriksaan mikroskopis Trichomoniasis


Pada pemeriksaan mikroskopis sediaan basah didapatkan trichomonas motil. Apabila pemeriksaan
mikroskopis menunjukkan hasil negatif namun dari gejala dan pemeriksaan fisik sangat indikatif

trichomoniasis, maka dilakukan kultur dengan medium Diamond.


Gambar 33. Gambaran mikroskopis trophozoite Trichomonas vaginalis. (Saxena, 2010)
d. Pemeriksaan kultur & mikroskopis Gonorrhea
Pada pemeriksaan kultur Gonorrhea di media diperkaya (modified Thayer-Martin, Martin-Lewis, GC-Lect,
dan New York City), terlihat koloni yang berkonveksi, elevasi, mukoid dengan diameter 1-5 mm. Warna
koloni agak transparan atau putih, nonpigmen, dan nonhemolitik. Sampel kultur didapat dari sekresi dan pus,
diambil dari urethra cervix, rectum ataupun conjunctiva.
Pada pemeriksaan sediaan apus, akan terlihat bakteri dengan
bentuk diplococcus di antara sel-sel pus.

36

Gambar 34. Gambaran N. gonorrhoeae (dua pandah di bawah menunjukkan bakteri Gonorrhae yang berada
pada dalam sel) (Jawez, 2013)
Tabel 5. Differential diagnosis vaginal discharge (Saxena, 2010)

1.8. Tatalaksana
Bacterial Vaginosis
Tiga regimen direkomendasi oleh Centers for Disease Contorl (CDC) untuk terapi bacterial vaginosis, dan
regimen ini untuk wanita yang tidak sedang hamil. Regimen tersebut tertera pada tabel 6.
Tabel 6. Rekomendasi terapi pada bacterial vaginosis (Hoffman, et al., 2012)

Alternatif dari terapi di atas adalah tinidazole 2g oral setiap hari untuk 3 hari, atau clindamycin 300mg oral 3 kali
sehari selama 7 hari. Angka kesembuhan berkisar antara 80-90% setelah 1 minggu diterapi, namun dalam kurun
waktu 3 bulan kemudian, sebanyak 30% wanita kembali mengalami perubahan flora rekurens. Terapi lainnya
seperti introduksi lactobacillus ke ekosistem vagina, gel vagina yang bersifat asam, dan penggunaan probiotik
menunjukkan hasil yang inkonsisten. (Hoffman, et al., 2012)

37
Pada ibu hamil, bacterial vaginosis meningkatkan risiko janin lahir preterm. Terapi bacterial vaginosis sebelum
20 minggu kehamilan dapat mengurangi risiko tersebut. Namun, screening rutin dan terapi BV untuk seluruh ibu
hamil tidak direkomendasi. Kasus yang perlu diterapi adalah apabila telah terbukti BV sebagai penyebab
keputihan. Rekomendasi terapi untuk BV pada ibu hamil adalah metronidazole oral 400 mg 2 kali sehari selama
5-7 hari, atau terapi intravaginal. Dosis metronidazole 2g tidak direkomendasi pada ibu hamil dan menyusui.
(Management of Vaginal Discharge in Non-genitourinary Medicine Settings, 2012)
Gonorrhae
Rekomendasi yang diberikan CDC untuk terapi Gonorrhae adalah ceftriaxone, azithromycin, dan doxycycline
dengan regimen seperti pada tabel 7.
Tabel 7. Rekomendasi CDC untuk infeksi Gonococcus (Hoffman, et al., 2012)

Herpes Simplex Virus


Sampai saat ini belum ada terapi yang memberikan penyembuhan radikal, artinya tidak ada pengobatan yang
dapat mencegah episode rekurens secara tuntas. Pada lesi yang dini dapat digunakan obat topikal berupa
salap/krim yang mengandung preparat idoksuridin dengan cara aplikasi yang sering dengan interval beberapa
jam. Preparat asiklovir yang dipakai secara topikal tampaknya memberikan masa depan yang lebih cerah.
Asiklovir ini cara kerjanya mengganggu replikasi DNA virus. Klinis hanya bermanfaat bila penyakit sedang aktif.
Jiak timbul ulserasi, dapat dilakukan kompres.
Pengobatan oral berupa preparat asiklovir tampaknya memberikan hasil yang lebih baik, penyakit berlangsung
lebih singkat dan masa rekurensnya lebih panjang. Dosisnya 5 x 200 mg sehari selama 5 hari. Pengobatan
parenteral dengan asiklovir terutama ditujukan kepada penyakit yang lebih berat atau jika timbul komplikasi pada
alat dalam.
Untuk mencegah rekurens, macam-macam usaha yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan imunitas seluler,
misalnya memberikan preparat lupidon H (untuk HSV-I) dan lupidon G (untuk HSV-II) dalam satu seri
penobatan. Pemberian levamisol dan isoprinosin atau asiklovir secara berkala menurut beberapa penyelidik
memberikan hasil yang baik.

38
Tabel 7. Algoritma tatalaksana pasien wanita dengan keluhan vaginal discharge (Management of Vaginal

Discharge in Non-genitourinary Medicine Settings, 2012)

39

40

Vulvovaginal Candidiasis
Tabel 8. Agen topikal yang direkomendasi CDC untuk terapi candidiasis (Hoffman, et al., 2012)

Vulvovaginal candidiasis sering ditemui pada ibu hamil. Tidak ada bukti bahwa candidiasis mengganggu
kehamilan. Imidazol topikal (misalnya clotrimazole, econazole, miconazole, fenticonazole) diketahui sangat
efektif untuk wanita yang mengalami vulvovaginal candidiasis. Antifungal oral harus dihindari pada saat
kehamilan karena kurangnya data tentang efek teratogenitasnya. Regimen terapi sebaiknya diberikan selama 7
hari. (Management of Vaginal Discharge in Non-genitourinary Medicine Settings, 2012)

41

Trichomoniasis
Tabel 9. Regimen terapi oral yang direkomendasi CDC
untuk trichomoniasis (Hoffman, et al., 2012)

Meskipun kedua regimen tersebut sama efektifnya, namun terdapat beberapa laporan bahwa regimen
metronidazole selama 7 hari lebih efektif pada pasien yang patuh minum obat. Compliance pasien untuk terapi
metronidazole bisa saja rendah karena efek samping yang dihasilkan metronidazole yaitu rasa metalik (seperti
besi), dan mual muntah apabila dikombinasi dengan alkohol. Pasien harus berhenti minum alkohol pada saat
terapi, dan 24 jam setelah terapi metronidazole atau setelah 72 jam untuk tinidazole.
Beberapa strain Trichomonas diketahui resisten terhadap metronidazole, namun sensitif terhadap tinidazole. Pada
kasus ini, tinidazole diberikan dengan dosis 500 mg oral sebanyak 3 kali sehari selama 7 hari, atau empat kali
sehari selama 14 hari. (Hoffman, et al., 2012)
Trichomonas vaginitis dapat menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Efek metronidazole
saat ini belum diketahui terhadap kehamilan. (Management of Vaginal Discharge in Non-genitourinary Medicine
Settings, 2012)
Tatalaksana Non Farmakologis
1. Perubahan
Tingkah
Laku
Keputihan (Fluor albus) yang disebabkan oleh jamur lebih cepat berkembang di lingkungan yang hangat dan
basah maka untuk membantu penyembuhan menjaga kebersihan alat kelamin dan sebaiknya menggunakan
pakaian dalam yang terbuat dari katun serta tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat (Jones,2005).
Keputihan bisa ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan yang terinfeksi oleh karena itu sebaiknya
pasangan harus mendapat pengobatan juga.
2. Personal
Hygiene
Memperhatikan personal hygiene terutama pada bagian alat kelamin sangat membantu penyembuhan, dan
menjaga tetap bersih dan kering, seperti penggunaan tisu basah atau produk panty liner harus betul-betul
steril.Bahkan, kemasannya pun harus diperhatikan. Jangan sampai menyimpan sembarangan, misalnya tanpa
kemasan ditaruh dalam tas bercampur dengan barang lainnya. Karena bila dalam keadaan terbuka, bisa saja
panty liner atau tisu basah tersebut sudah terkontaminasi.Memperhatikan kebersihan setelah buang air besar

42
atau kecil.Setelah bersih, mengeringkan dengan tisu kering atau handuk khusus.Alat kelamin jangan
dibiarkan dalam keadaan lembab.
3. Pengobatan
Psikologis
Pendekatan psikologik penting dalam pengobatan keputihan.Tidak jarang keputihan yang mengganggu, pada
wanita kadang kala pemeriksaan di laboratorium gagal menunjukkan infeksi, semua pemgujian telah
dilakukan tetapi hasilnya negatif namun masalah atau keluhan tetap ada. Keputihan tersebut tidak
disebabakan oleh infeksi melainkan karena gangguan fsikologi seperti kecemasan, depresi, hubungan
yangburuk, atau beberapa masalah psikologi yang lain yang menyebabkan emosional. Pengobatan yang
dilakukan yaitu dengan konsultasi dengan ahli psikologi.Selain itu perlu dukungan keluarga agar tidak terjadi
depresi.

Pencegahan Keputihan
Menjaga kesehatan reproduksi untuk pencegahan keputihan pada wanita diawali dengan menjaga kebersihan
organ kewanitaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kebersihan organ kewanitaan, yaitu :
1. Membersihkan kotoran yang keluar dari alat kelamin dan anus dengan seksama. Membersihkan dilakukan
dari depan kebelakang (dari daerah kemaluan ke arah anus) secara satu arah. Hal ini dilakukan untuk
mencegah kotoran dari anus masuk kedalam vagina.
2. Membasuh secara teratur bagian bibir vagina secara hati-hati menggunakan air bersih dan sabun yang lembut
setiap habis BAK , BAB, dan ketika mandi. Yang terpenting adalah membersihkan bekas keringat dan bakteri
yang ada disekitar bibir vagina.
3. Gunakan sabun lembut tanpa pewangi saat mandi untuk menjaga keasaman vagina. Normalnya vagina berbau
asam dan kecut dengan pH keasaman sekitar 4-4,5. Terlalu sering membasuh vagina dengan cairan kimia dan
menggunakan deodoran disekitar vagina akan merusak keseimbangan organisme dan cairan vagina sehingga
memungkinkan terjadinya infeksi pada vagina (vaginitis).
4. Mengeringkan alat kelamin dengan tisu atau handuk agar tidak lembab setiap kali setelah mandi atau buang
air. Usahakan agar daerah kemaluan dan selangkangan selalu kering, lebih lebih bila tergolong gemuk karena
suasana lembab sangat disukai oleh jamur. Selalu keringkan bagian vagina sebelum berpakaian.
5. Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina kering sepanjang hari. Bedak
memiliki partikel partikel halus yang mudah terselip disana sini yang akhirnya mengundang jamur dan
bakteri bersarang.
6. Mengganti celana dalam minimal dua kali sehari setelah mandi, terutama bagi wanita aktif dan mudah
berkeringat. Gunakan celana dalam yang kering dan bila celana dalam keadaan basah segera mengganti
celana dalam yang bersih dan belum dipakai.
7. Tidak memakai celana dalam yang terlalu ketat , karena celana dalam yang terlalu ketat menyebabkan
permukaan vagina menjadi lebih mudah berkeringat. Gunakan celana dalam yang bahannya menyerap
keringat seperti katun. Celana dalam dari satin atau bahan sintetik lain membuat suasana disekitar vagina
panas dan lembab.
8. Pakaian luar juga harus diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena pori porinya sangat rapat, pilihlah
seperti rok atau celana bahan non jeans agar sirkulasi udara disekitar organ intim bergerak leluasa.
9. Ketika sedang haid dianjurkan sering mengganti pembalut terutama pada hari hari pertama haid. Pembalut
perlu diganti 4-5 kali dalam sehari untuk menghindari pertumbuhan bakteri pada pembalut yang digunakan
dan mencegah masuknya bakteri kedalam vagina. Pembalut yang baik yaitu pembalut yang berdaya serap
baik dan tidak berparfum.
10. Gunakan panty liner disaat perlu dan jangan terlalu lama. Misalnya saat berpergian keluar rumah dan
lepaskan sekembalinya dirumah.

43
11. Dianjurkan untuk mencukur rambut kemaluan karena rambut kemaluan dapat ditumbuhi sejenis jamur atau
kutu.
12. Hindari pemakaian barang barang yang dapat memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan
mandi. Dianjurkan tidak duduk diatas kloset di wc umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum
menggunakannya.
13. Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olahraga rutin, istirahat yang cukup , hindari rokok, dan alkohol
serta hindari stress yang berkepanjangan.
2.9

Komplikasi
Infertilitas/masalah kesuburan atau gangguan haid dan penyakit radang panggul, pelvic inflamatori disease, eczema
dan condylomata acuminata sekitar vulva, vulvovaginitis, uretritis, pada wanita hamil dapat menyebabkan bayi
prematur, gangguan perkembangan dan berat badan lahir rendah (BBLR) terutama akibat bacterial vaginosis dan
infeksi Trichomonas, serta dapat memfasilitasi terjadinya HIV.

2.10 Prognosis
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap pengobatan dalam beberapa
hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih
efektif
Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata rata 70 80% dengan regimen pengobatan. Kandidiasis
mengalami kesembuhan rata rata 80 -95 %.Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata rata 95 %

3. Memahami dan Menjelaskan Pap Smear


Pap Smear merupakan suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di
bawah mikroskop. Pap Smear merupakan tes yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun- tahun lamanya untuk
mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel- sel leher rahim. Tujuan dilakukannya tes pap smear antara lain
adalah untuk:
a. Diagnosis dini keganasan
Pap Smear berguna dalam mendeteksi dini kanker serviks, kanker korpus endometrium, keganasan tuba fallopi,
dan mungkin keganasan ovarium.
b. Perawatan ikutan dari keganasan
Pap Smear berguna sebagai perawatan ikutan setelah operasi dan setelah mendapat kemoterapi dan radiasai.
c. Interpretasi hormonal wanita
Pap Smear bertujuan untuk mengikuti siklus menstruasi dengan ovulasi atau tanpa ovulasi, menentukan maturitas
kehamilan, dan menentukan kemungkunan keguguran pada hamil muda.
d. Menentukan proses peradangan
Pap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi bakteri dan jamur.
Syarat yang harus dipenuhi agar pengambilan sampel sesuai standar, maka perlu diperhatikan:
1. Bahan pemeriksaan harus berasal dari portio serviks (sediaan servikal) dan mukosa endoserviks (sediaan
endoservikal)
2. Pengambilan Pap Smear dapat dilakukan setiap waktu di luar masa haid yaltu sesudah hari sikius haid ke tujuh
sampai masa premenstruasi.
3. Apabila penderita mengalami gejala perdarahan di luar masa haid dan dicuriigai disebabkan oleh kanker serviks
maka sediaan Pap Smear harus dibuat saat itu juga.

44
4. Alat-alat yang digunakan sedapat mungkin yang memenuhi syarat untuk menghindari hasil pemeriksaan negatif
palsu.
Teknik pengambilan sampel
1. Siapkan peralatan dan bahan.
2. Cuci tangan aseptik dengan langkah seperti pada cuci tangan rutin dengan menuangkan kira-kira 5 ml larutan
antiseptik pada tangan dan mengeringkan dengan mengangin-anginkan.
3. Pasang sarung tangan steril.
4. Pemeriksa duduk pada kursi yang telah disediakan, menghadap ke aspekus genitalis.
5. Lakukan periksa pandang (inspeksi) pada daerah vulva dan perineum.
6. Ambil spekulum dengan tangan kanan, masukkan ujung telunjuk kiri pada introitus vagina (agar terbuka),
masukkan ujung spekulum dengan arah sejajar introitus
7. Setelah masuk setengah panjang bilah, putar spekulum 90 derajat hingga tangkainya ke arah bawah. Atur bilah
atas dan bawah dengan membuka kunci pengatur bilah atas bawah (hingga masing-masing bila menyentuh
dinding atas dan bawah vagina).
8. Tekan pengungkit bilah sehingga lumen vagina dan serviks tampak jelas (perhatikan ukuran dan wama porsio,
dinding dan sekret vagina dan forniks).
9. Jika sekret vagina ditemukan banyak, bersihkan secara hati-hati (supaya pengambilan epitel tidak terganggu)
10. Pengambilan sampel pertama kali dilakukan pada porsio diusahakan di daerah squamo-columnair junction.
Sampel diambil dengan menggunakan spatula Ayre yang diputar 360.
11. Oleskan sampel pada gelas objek diusahakan tidak terlalu tebal/terlalu tipis.
12. Sampel segera difiksasi sebelum mengering. Fiksasi ini dapat menggunakan spray yang disemprotkan dari jarak
20-25 cm, atau dengan merendam pada wadah yang mengandung etil alkohol 95% selama 15 menit yang
kemudian dibiarkan mengering kemudian diberi label.
13. Setelah pemeriksaan selesai, lepaskan pengungkit dan pengatur jarak bilah, kemudian keluarkan spekulum.
14. Letakkan spekulum pada tempat yang telah disediakan. Beritahukan pada ibu bahwa pemeriksaan sudah selesal
dan persilahkan ibu untuk mengambil tempat duduk.
15. Masukkan tangan yang masih bersarung tangan kedalam baskom berisi larutan klorin 0,5%, gosokkan kedua
tangan untuk membersihkan bercak-bercak darah yang menempel pada sarung tangan.
16. Lepaskan sarung tangan.

45

Gambar 33. Pengambilan sediaan dengan menggunakan spatula Ayre


Intrepertasi Hasil
Saat ini, sistem intrepertasi hasil pap smear yang paling sering digunakan adalah Bethesda system 2001. Lebih dari
90% laboratorium di Amerika Serikat menggunakan metode Bethesda ini. Beberapa hal yang menjadi perhatian pada
intrepertasi sistem Bethesda 2001 antara lain tertera pada tabel 8.
Tabel 8. Intrepertasi
hasil
pap
smear
berdasarkan Bethesda
system 2001 (Saxena,
2010)

Adekuasi spesimen
Terdapat 3 kategori adekuasi spesimen: memuaskan, memuaskan namun terbatas karena sampling yang tidak baik,
dan tidak memuaskan. Hasil yang termasuk kategori kedua adalah apabila sediaan apus (smear) tidak mengandung sel
endocervical ataupun sel metaplastik, yang mana merupakan bukti sampling dari area transformasi. Namun kategori
ini dihapuskan karena pada akhirnya klinisi harus mengulang pengambilan sampel.

46
Apabila sediaan dikatakan inadekuat, alasannya harus diberikan. Sebanyak 8.000-12.000 sel epitel gepeng harus ada
pada sediaan apus.
Negative for Intraepithelial Lesion or Malignancy
Kelainan akibat inflamasi, irradiasi, ataupun adanya IUD diklasifikasikan ke dalam normal smear. Apabila ditemukan
adanya mikroorganisme, maka harus ditulis pada hasil intrepertasi.
Epithelial squamous cell abnormalities
a. Atypical squamous cells (ASC)
b. Squamous intraepithelial lesion
Low grade intraepithelial squamous lesion dan high grade intraepithelial squamous lesion dikaitkan pada virus
yang bersifat onkogenik. Low grade intraepithelial squamous lesion dapat regresi secara spontan dan berevolusi
secara perlahan menjadi high grade intraepithelial squamous lesion.
High grade intraepithelial lesion dikaitkan dengan infeksi virus persisten.
Epithelial glandular cells abnormalities
a. Atypical glandular cells
Sel glandular adalah sel yang memproduksi mucus dan banyak terdapat pada daerah uterus serta daerah sekitar
ostium uteri externum. Atypical glandular cell dapat terlihat sedikit abnormal, namun tidak dikteahui sifat kanker
nya.
b. Endocervical adenocarcinoma in situ
Abnormalitas yang dimaksud Endocervical adenocarcinoma in situ adalah abnromalitas morfologi spesifik.
c. Adenocarcinoma
(Bergeron, 2003)
4. Memahami dan Menjelaskan Bersuci Saat Mengalami Keputihan (Kaitannya dengan Thaharah)
Keputihan ini umum dialami oleh wanita. Dalam kitab shahih Bukhari disebutkan, suatu ketika ada beberapa sahabat
perempuan datang bertanya kepada Aisyah radhiallahu anha tentang batasan berakhirnya haidh. Beliau menjawab :
Jangan kalian tergesa-gesa (menetapkan akhir haidh) hingga kalian melihat cairan putih
Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya fathul bari menjelaskan bahwa cairan putih sebagaimana di sebut hadits di
atas menjadi salah satu tanda akhir masa haidh.
Selain jenis keputihan di atas, ada pula keputihan yang terjadi dalam keadaan tidak normal, yang umumnya dipicu
kuman penyakit dan menyebabkan infeksi. Akibatnya, timbul gejala-gejala yang sangat mengganggu, seperti
berubahnya warna cairan menjadi kekuningan hingga kehijauan, jumlah berlebih, kental, lengket, berbau tidak sedap,
terasa sangat gatal atau panas. Dalam khazanah Islam, keputihan jenis ini biasa disebut dengan cairan putih
kekuningan (sufrah )atau cairan putih kekeruhan (kudrah ). Terkait dengan kedua hal ini, di kitab shahih
Bukhari disebutkan bahwa Sahabat bernama Ummu Athiyyah radhiallahuanha berkata:


Kami tidak menganggap al-kudrah (cairan keruh) dan as-sufrah (cairan kekuningan) sama dengan haidh
Berdasarkan kedua hadis tersebut dapat disimpulkan :
1. Hukum orang yang mengalami keputihan tidak sama dengan hukum orang yang mengalami menstruasi. Orang
yang sedang keputihan tetap mempunyai kewajiban melaksanakan shalat dan puasa, serta tidak wajib mandi.

47
2. Cairan keputihan tersebut hukumnya najis, sama dengan hukumnya air kencing. Oleh karenanya, apabila ingin
melaksanakan shalat, sebelum mengambil wudhu, harus istinjak (cebok), dan membersihkan badan atau pakaian
yang terkena cairan keputihan terlebih dahulu.
Sedangkan apabila cairan keputihan keluar terus-menerus, maka orang yang mengalaminya dihukumi
dharurah/terpaksa, artinya orang tersebut tetap wajib melaksanakan shalat walaupun salah satu syarat sahnya shalat
tidak terpenuhi, yakni sucinya badan dan pakaian dari najis. Menurut ulama Syafiiyah, ketentuan tersebut bisa
dilaksanakan dengan syarat diawali dengan proses membersihkan, istinjak, wudhu dan kemudian shalat dilakukan
secara simultan setelah waktu shalat masuk.

Daftar Pustaka

Bickley, L. S., & Szilagyi, P. G. (2013). Bates' guide to physical examination and history-taking (11th ed.). Philadelphia:
Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins.
Cui, D. (2011). Atlas of histology: with functional and clinical correlations. Philadelphia: Wolters Kluwer
Health/Lippincott Williams & Wilkins.
Ericson, B. R. (2007). Extraction and partial characterization of a lipophilic, fungicidal molecule associated with serum
albumins. Worcester, Mass.: Worcester Polytechnic Institute.
Faculty of Sexual & Reproductive Healthcare Clinical Guidance. (n.d.). Clinical Guidance. Retrieved October 22, 2014,
from http://www.fsrh.org/pages/clinical_guidance.asp
Hoffman, B. L. (2012). Williams gynecology (2nd ed.). New York: McGraw-Hill Medical.
Jawetz, E. (2013). Jawetz, Melnick, & Adelberg's medical microbiology (26th ed.). New York: McGraw-Hill.
Manson, P., & Farrar, J. (2014). Manson's tropical diseases (23rd ed.). London: Saunders.

48
McCance, K. L., & Huether, S. E. (2014). Pathophysiology: the biologic basis for disease in adults & children (7th ed.).
St. Louis: Mosby.
Netter, F. H. (2014). Atlas of Human Anatomy (6th ed.). London: Elsevier Health Sciences.
Saxena, R. (2010). Bed Side Obstetric & Gynecology. New Delhi: Jaypee.
Snell, R. S. (2012). Snell's Clinical Anatomy (9th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.