Anda di halaman 1dari 20

PTK SMA: PENINGKATAN KUALITAS

PEMBELAJARAN SAINTIFIK MELALUI


KEGIATAN IN HOUSE TRAINING BAGI
GURU-GURU KELAS X
Selasa, 09 September 2014 0 comments

ABSTRAK
Permasalahan penelitian tindakan sekolah (PTS) ini adalah pembelajaran Saintifik di
SMA Kota Surakarta masih rendah. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran saintifik guru-guru kelas X melalui In House Training (IHT)
peer teaching dan mengamati video pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah
guru-guru kelas X di SMA Kota Surakarta sejumlah 19 guru dari SMA Negeri dan
SMA Swasta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2014
( 3 bulan) dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik dalam
mengimplementasikan Kurikulum 2013. Kegiatan penelitian ini meliputi (1) tahap
persiapan proposal (2) membuat instrumen (3) pelaksanaan siklus I dan II (4)
Menganlisa data (5) pembahasan (6) membuat laporan.Penelitian tindakan sekolah
(PTS) termasuk jenis kuantitatif menggunakan Analisis Diskrptif Komparatif dengan
membandingkan hasil kondisi awal dengan hasil siklus I kegiatan In House Training
(Peer Teaching) dan hasil siklus II In House Training (mengamati tayangan video
pembelajaran). Kondisi awal kemampuan pelaksanaan pembelajaran saintifik ratarata 77,11 (C). Setelah kegiatan In House Training peer teaching pada siklus I
hasilnya meningkat rata-rata 82,26 (B) namun masih ada 5 guru yang mendapatkan
C, maka perlu dilaksanakan tindakan siklus II yaitu kegiatan In House Training
mengamati tayangan video pembelajaran. Hasil pembelajaran saintifik pada siklus II
ini lebih meningkat lagi rata-rata 89,84 (B) dan sudah tidak ada guru yang
mendapat nilai C sehingga tidak perlu diadakan siklus III. Berdasarkan hasil anlisis
di atas dapat disimpulkan bahwa In House Training dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran saintifik guru-guru kelas X SMA Kota Surakarta semester 2 tahun
pelajaran 2013/2014.

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Pada tahun pelajaran 2013/2014 mulai dilaksanakan piloting kurikulum 2013 untuk
kelas X ( sepuluh ) di seluruh Indonesia. Untuk Kota Surakarta ada 6 SMA yang
digunakan untuk sekolah piloting. Hasil dari sosialisasi guru kelas X , guru Mata
Pelajaran Sejarah, Matematika dan Bahasa Indonesia, Kepala Sekolah dan Pengawas
Sekolah pada awal bulan Juli 2013 secara bersamaan ditempat yang terpisah semua
SMA yang digunakan untuk sekolah piloting semua kelas X tahun pelajaran
2013/2014 harus mengimplementasikan kurikulum 2013.
Hasil pelatihan kami antara lain Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan
manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga
negara yang beriman, produktif , kreatif, inovatif dan efektif serta mampu
berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban
dunia. Olah karena itu materi Kurikulum 2013 diantaranya mencakup:
1.

Penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan

perluasan materi, penguasaan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar


agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang
dihasilkan. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa,
mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam
mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi
pembelajaran.
2.

Materi bahan ajar pengelolaan pembelajaran saintifik adalah materi

pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan
logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau
dongeng semata.
3.

Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat

perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
4.

Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat

dipertanggungjawabkan.
Peneliti sebagai pengawas sekolah yang mempunyai wilayah 5 sekolah binaan SMA
sebagai Sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum secara mandiri yaitu SMA
Negeri 2, SMA Negeri 6, SMA Warga, SMA Muhamadiyah 2 dan SMA Yosodipuro
Surakarta. Temuan di lapangan pada saat melaksanakan kegiatan supervisi guru
kelas X sebagian besar proses pembelajaran belum nampak pembelajaran
saintifiknya karena belum mendapat pelatihan yang diselenggarakan oleh
pemerintah. Kondisi yang demikian diperparah dengan kurang kreatifnya guru pada
saat proses pembelajaran, artinya guru dalam mengajar belum trampil membuka
dan menutup pelajaran, ketrampilan bertanya rendah dan metode yang digunakan
ceramah dan pemberian tugas sehingga kualitas pembelajarannya masih rendah.
Hal ini memotivasi peneliti untuk memberikan pelatihan sendiri secara mandiri

dengan bekal pelatihan yang penulis terima selama pelatihan yang diselenggarakan
oleh pemerintah terhadap guru-guru kelas X melalui kegiatan in house training agar
kualitas pembelajaran saintifik dapat dilaksanakan secara maksimal, berkualitas dan
kreatifitas guru meningkat.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa rendahnya kualiatas
pembelajaran saintifik dipengaruhi kurang kreatifnya guru dalam pembelajaran
secara kontekstual, mungkin juga disebabkan karena kurangnya pendampingan
pengawas sekolah yang kurang optimal. Dengan adanya kesenjangan tersebut
penulis sebagai pengawas satuan pendidikan yaitu pengawas SMA mengadakan
penelitian dengan Judul Peningkatan Kualitas Pembelajaran Saintifik Melalui
Kegiatan In House Training Bagi Guru - Guru Kelas X Di SMA Kota Surakarta
Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014.
Rumusan Masalah
Berdasar identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas peneliti merumuskan
masalah sebagai berikut : Apakah melalui kegiatan In House Training dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik guru kelas X di SMA Kota Surakarta
Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014?
Tujuan Penelitian
Tujuan umum: Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik.
Tujuan khusus:
1.

Meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik melalui kegiatan In House

Training (IHT)
2.

Meningkatkan kreatifitas guru dalam pembelajaran saintifik melalui kegiatan In

House Training (IHT)


Manfaat Penelitian
a)

Bagi Sekolah

b)

Bagi Guru

: Meningkatkan kompetensi Guru dalam proses

pembelajaran.

1) Meningkatkan kreativitas guru


2) Meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik
3) Meningkatkan kreativitas guru dan kualitas pembelajaran saintifik.
c) Bagi Siswa : meningkatkan prestasi
d). Bagi Pengawas

1)

Meningkatnya kreativitas guru melalui kegiatan In House Training

2)

Meningkatnya kualitas pembelajaran saintifik melalui kegiatan In House

Training
e)

Manfaat bagi perpustakaan : menambah daftar sumber belajar

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS TINDAKAN


KAJIAN TEORI
1.

Konsep Dasar Pendekatan Saintifik

a.

Definisi Pendekatan Saintifik

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang


dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep,
hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi
atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan
hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.
Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta
didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan
ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung
pada informasi searah dari guru. Penerapan pendekatan saintifik dalam
pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi,
mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan
proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut
harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa atau
semakin tingginya kelas siswa.
Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik
Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada keunggulan
pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik
adalah:
1)

untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir

tingkat tinggi siswa.


2)

untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah

secara sistematik.
3)

terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu

merupakan suatu kebutuhan.


4)

diperolehnya hasil belajar yang tinggi.

5)

untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam

menulis artikel ilmiah.


6)

untuk mengembangkan karakter siswa.

b.

Prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatan saintifik

Beberapa prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai


berikut:1) Pembelajaran berpusat pada siswa. 2) Pembelajaran membentuk
students self concept.3) Pembelajaran terhindar dari verbalisme.4) Pembelajaran
memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi
konsep, hukum, dan prinsip.5) Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan
kemampuan berpikir siswa.6) pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa
dan motivasi mengajar guru.7) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melatih kemampuan dalam komunikasi
c.

Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik

Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam proses pembelajaran

meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian


mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan
menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Pendekatan
saintifik dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut:
1). Mengamati (observasi)
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran
(meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan
media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah
pelaksanaannya. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran sebagaimana
disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a, hendaklah guru membuka secara
luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui
kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Adapun kompetensi yang
diharapkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari informasi.
2).

Menanya

Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta
didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat.
Kegiatan menanya dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam
Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah mengajukan pertanyaan tentang
informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk
mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari
pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Adapun
kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas,
rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran
kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
3)

Mengumpulkan Informasi

Kegiatan mengumpulkan informasi merupakan tindak lanjut dari bertanya.


Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai
sumber melalui berbagai cara. Dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013,
aktivitas mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca
sumber lain selain buku teks, mengamati objek/ kejadian/, aktivitas wawancara
dengan nara sumber dan sebagainya. Adapun kompetensi yang diharapkan adalah
mengembangkan sikap teliti, jujur,sopan, menghargai pendapat orang lain,
kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi
melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan
belajar sepanjang hayat.
3)

Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi/Menalar

Kegiatan mengasosiasi/ mengolah informasi/ menalar dalam kegiatan


pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun
2013, adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari
hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati
dan kegiatan mengumpulkan informasi. Adapun kompetensi yang diharapkan

adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras,
kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif
dalam menyimpulkan. Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai kegiatan menalar, yaitu
proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat
diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
4)

Menarik kesimpulan

Kegiatan menyimpulkan dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik


merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah data atau informasi. Setelah
menemukan keterkaitan antar informasi dan menemukan berbagai pola dari
keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bersama-sama dalam satu kesatuan
kelompok, atau secara individual membuat kesimpulan.
5)

Mengkomunikasikan

Pada pendekatan scientific guru diharapkan memberi kesempatan kepada peserta


didik untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan
mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan
dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah menyampaikan hasil
pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media
lainnya. Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah
mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis,
mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan
kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
d.

Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran

Kegiatan pembelajaran meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan pendahuluan,


kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk menciptakan suasana awal pembelajaran
yang efektif yang memungkinkan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran
dengan baik. Sebagai contoh ketika memulai pembelajaran, guru menyapa anak
dengan nada bersemangat dan gembira (mengucapkan salam), mengecek kehadiran
para siswa dan menanyakan ketidakhadiran siswa apabila ada yang tidak hadir.
Dalam metode saintifik tujuan utama kegiatan pendahuluan adalah memantapkan
pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang telah dikuasai yang berkaitan
dengan materi pelajaran baru yang akan dipelajari oleh siswa.
Kegiatan inti merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran atau dalam
proses penguasaan pengalaman belajar (learning experience) siswa. Kegiatan inti
dalam metode saintifik ditujukan untuk terkonstruksinya konsep, hukum atau
prinsip oleh siswa dengan bantuan dari guru melalaui langkah-langkah kegiatan
yang diberikan di muka.
Kegiatan penutup ditujukan untuk dua hal pokok. Pertama, validasi terhadap
konsep, hukum atau prinsip yang telah dikonstruk oleh siswa. Kedua, pengayaan
materi pelajaran yang dikuasai siswa.
e.

Strategi Pembelajaran Saintifik

Dalam penerapan pembelajaran saintifik ada beberapa strategi pembelajaran yang


dapat mendukung keterlaksanaannya diantaranya strategi pembelajaran discovery
learning, project based learning, dan problem based learning.
1)

Discovery learning.

Strategi discovery learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses
pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam
bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Bruner memakai strategi
yang disebutnya discovery learning, dimana murid mengorganisasi bahan yang
dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 1996:41). Strategi discovery
learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk
akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery
dilakukan melalaui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan.
2)

Project Based Learning.

Kleil, et al (2009) mendefinisikan pembelajaran berbasis proyek (Project-based


learning) sebagai the instructional strategy of empowering learners to pursue
content knowledge on their own and demonstrate their new understandings through
a variety of presentation modes. Mengacu pada beberapa definisi di atas, dapat
dipahami bahwa pembelajaran berbasis proyek (PBP) merupakan strategi
pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai sarana pembelajaran
untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Secara umum, langkah-langkah Pembelajaran berbasis proyek (PBP) dapat
dijelaskan sebagai berikut.

Gambar 1: Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Proyek


Diadaptasi dari Keser & Karagoca (2010)
3)

Problem Based Learning ( PBL )

Pembelajaran Berbasis Masalah adalah pembelajaran yang menggunakan masalah


nyata (autentik) yang tidak terstruktur (ill-structured) dan bersifat terbuka sebagai
konteks bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan
masalah dan berpikir kritis serta sekaligus membangun pengetahuan baru.
Kurikulum 2013 menurut Permendikbud nomor 81a tahun 2013 tentang
implementasi kurikulum, menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak
dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Tahapan-tahapan PBM

tersebut dapat diintegrasikan dengan aktivitas-aktivitas pendekatan saintifik sesuai


dengan karakteristik pembelajaran dalam Kurikulum 2013 sebagaimana tertera pada
Permendikbud No. 81a Tahun 2013. Aktivitas-aktivitas tersebut adalah mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi/eksperiman, mengasosiasikan/mengolah
informasi, dan mengkomunikasikan.
f.

Teknik Penilaian dalam Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik.


Penilaian pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik meliputi :
1). Penilaian Proses, dilakukan melalui: a) Observasi saat siswa bekerja

kelompok ,b) Bekerja individu, c) Berdiskusi, d) Presentasi dengan menggunakan


lembar observasi kinerja.
2). Penilaian Produk atau Pengetahuan. Pemahaman Konsep, Prinsip, Dan Hukum
Dilakukan Dengan Tes Tertulis.
3). Penilaian Sikap; a) Observasi Saat Siswa Bekerja Kelompok,b) Bekerja Individu,
c) Berdiskusi, d) Saat Presentasi Dengan Menggunakan Lembar Observasi Sikap.
g.
1)

Muatan Materi Pembelajaran (Pengetahuan) meliputi :


Fakta, yaitu kejadian atau peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dibaca,

disentuh, atau diamati


2)

Konsep, merupakan ide yang mempersatukan fakta-fakta atau dengan kata lain

konsep merupakan suatu penghubung antara fakta-fakta yang saling berhubungan


3)

Prinsip, merupakan generalisasi tentang hubungan antara konsep-konsep yang

berkaiatan.
Dari uraian pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan kreatifitas guru dapat
disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran saintifik bisa baik jika pembelajaraannya
saintifik dan gurunya kreatif ditunjukkan pada kegiatan inti dan guru memfasilitasi
siswa untuk mengamati, bertanya, menalar dan memanfaatkan media alat dan
sumber belajar.
2.

Kegiatan In House Training

a.

Pengertian In House Training

In House Training adalah program pelatihan / training yang diselenggarakan oleh


suatu perusahaan atau organisasi dengan menggunakan tempat pelatihan sendiri,
peralatan sendiri, menentukan peserta dan dengan mendatangkan Trainer sendiri.
b.

Macam-macam Kegiatan In House Training

1)

Peer teaching. 2) Menagamati video pembelajaran. 3) Diklat. 4) Workshop. 5)

Seminar. 6) Diskusi mengenai pendidikan. 7) Membuat alat peraga.8) Penelitian. 9)


Penulisan buku/ bahan ajar. 10) Pembuatan media pembelajaran 11) Pembuatan
karya teknologi/ karya seni
Pada penelitian ini kegiatan In House Training (IHT) yang digunakan adalah peer
teaching dan mengamati video pembelajaran tempat kegiatan IHT di SMA yang
merupakan Sekolah Binaan.
c.

Tujuan In House Training

In House Training (IHT) biasanya diselenggarakan dengan berbagai tujuan dan

target tertentu. Tujuan In House Training diantaranya : Meningkatkan kualitas


Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang bekerja atau diberdayakan oleh instansi terkait.
Hal ini diharapkan dapat mendukung target organisasi dalam upaya mencapai
sasaran yang telah ditetapkan . bekerja sesuai misi dan visi organisasi.
d.

Manfaat In House Training

1)

Menciptakan interaksi antara peserta. Dengan In House Training peserta dapat

bertukar informasi sehingga bukan tidak mungkin ini cara yang paling efektif untuk
menciptakan standarisasi kinerja yang paling efektif.
2)

Mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan antara karyawan.

3)

Meningkatkan motivasi dan budaya belajar berkesinambungan.

Pada penelitian ini tujuan in house training adalah meningkatkan kualitas


pembelajaran saintifik melalui peer teaching dan mengamati video pembelajaran
pada kegiatan MGMP.
e.

Keuntungan Menyelenggarakan In House Training

Keuntungan dari In House Training ini, diantaranya :


1)

Biaya lebih murah. 2) Hasil bisa lebih maksimal. 3) Peserta dari 1 organisasi

sehingga tidak perlu khawatir bocornya rahasia penting / masalah intern yang
terjasi di perusahaan anda. 4) Materi lebih spesifik.
KERANGKA BERPIKIR
Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan dalam kajian teori di atas dapat
dibuat pemikiran yang merangkaikan teori-teori tersebut sehingga dapat
menghasilkan kerangka berpikir sebagai berikut :
1.

Untuk meningkatakan kualitas pembelajaran scientific kepada guru kelas X

perlu diadakan kegiatan In House Training (IHT) di MGMP.


2.

Kegiatan In House Training (IHT) bermacam-macam, yang sesuai untuk

penelitian ini kegiatan peer teaching dan mengamati tanyangan video pembelajaran.
3.

Dengan kegiatan peer teaching guru bisa bebas bertanya dan menyampaikan

hasil resume yang sangat bermanfaat bagi yang melakukan peer teaching karena
dengan disampaikan hasil pengamatan (resume) teman sejawat akan
meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik.
4.

Setelah mendapat masukan pada kegiatan peer teaching selanjutnya

mengamati tayangan video pembelajaran. Dengan mengamati dan membawa


instrumen guru dapat meresume pembelajaran pada tayangan video, sehingga
dapat mengetahui bagaimana pembelajaran saintifik yang baik
5.

Setelah mengetahui pembelajaran saintifik yang baik maka akan

diimplementasikan pada pembelajaran saintifik di kelasnya sehingga kualitas


pembelajaran saintifik meningkat.
6.

Dengan melalui In House Training (peer teaching dan mengamati tayangan

video pembelajaran saintifik ) dapat meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik


guru-guru kelas X SMA Kota Surakarta tahun pelajaran 2013/2014

Gambar 2. Kerangka Berpikir


B.

Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah melalui kegiatan In House Training (IHT) dapat
meningkatkan kualiatas pembelajaran saintifik guru-guru kelas X SMA Kota
Surakarta Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014.
METODOLOGI PENELITIAN
Setting dan Subyek Penelitian
1.

Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari s/d Maret 2013, karena penelitian ini
merupakan tindak lanjut dari hasil supervisi kelas X (pelaksanaan pembelajaran
scientifik) di Sekolah Binaan yang digunakan untuk piloting maupun mandiri dalam
implementasi Kurikulum 2013 pada semester 1..
2.

Tempat Penelitian

Lokasi yang digunakan dalam penelitian tidakan sekolah ini di SMA Kota Surakarta
terdiri dari SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 6 dan SMA Muhammadiyah2 Surakarta..
Kegiatan In House Training di Lokasi Sekolah masing-masing. Peneliti memilih
tempat penelitian sesuai dengan tugas binaan dan peneliti mendapat tugas dinas
sebagai pengawas SMA di wilayah tersebut sehingga hasil penelitian ini tidak
menganggu pembelajaran justru membantu guru memecahkan masalah
pembelajaran.
Subjek Penelitian
Subjek Penelitian Tindakan Sekolah ( PTS ) ini adalah semua guru kelas X SMA Kota
Surakarta sejumlah 19 guru khusus mata pelajaran Bahasa Indonesia, Sejarah dan
Matematika karena Buku Siswa dan Buku Guru yang sudah ada pada mata pelajaran
tersebut. Adapun jumlah subjek masing-masing SMA dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 3. Subjek Penelitian
No

Nama SMA

Jumlah Guru Kelas X

SMA Negeri 2 Surakarta

SMA Negeri 6 Surakarta

SMA Muhammadiyah 2 Surakarta


Jumlah

19

Sumber Data
1). Sumber data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari
subjek penelitian yaitu guru kelas X SMA Kota Surakarta semester 2 tahun
pelajaran 2013/2014.
2)

Sumber data sekunder merupakan data pendukung yang digunakan untuk

mendukung sumber data primer yang diperoleh dari peneliti sendiri dan dari teman
sejawat.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1)

Teknik pengumpulan data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang penulis pergunakan adalah
dengan angket dan obsevasi. Angket digunakan untuk mengetahui kondisi awal.
2)

Alat pengumpulan data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpulan data instrumen


penilaian pembelajaran saintifik yang digunakan kepala sekolah untuk menilai
pembelajaran saintifik, dan instrumen keaktifan siswa. Karena guru yang kreatif
akan membuat siswa aktif. Guru yang kreatif pelaksanaan pembelajarannya pasti
kualiatasnya baik.
Indikator - indikator yang ada pada instrumen observasi pelaksanaan pembelajaran
guru sesuai pada pendampingan pada Kurikulum 2013dan kesesuaian antara
pelaksanaan pembelajaran dengan RPP .
Validasi Data
Validitas merupakan ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidasian suatu
instrumen. Uji validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas
instrumen lembar observasi. Diharapkan setelah diuji cobakan instrumen dapat
menunjukkan valid dan dapat digunakan sebagai alat penelitian.
Analisa Data
Analisa data yang peneliti gunakan adalah analisis diskriptif komparatif dengan
membandingkan kondisi awal, hasil siklus I kegiatan In House Traing (peer
teaching) dan hasil siklus II In House Training (mengamati video pembelajaran).
Analisa nilai yang digunakan sebagai berikut :
Rubrik Penilaian
Skor yang diperoleh
Nilai = -------------------------- X 100
36
PERINGKAT

NILAI

Amat Baik ( AB )

90 < AB < 100

Baik

80 < B < 89

(B )

Cukup

(C )

Kurang

(K)

70 < C < 79
< 70

Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Sekolah.
Peneliti menggunakan prosedur yang dinilai paling efektif, melalui IHT kegiatan peer
teaching dan mengamati tayangan video untuk meningkatkan kreatifitas dan
kualitas pembelajaran saintifik. Peneliti melaksanakan penelitian sejak 1)
perencanaan tindakan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) Hasil Pengamatan dan 4)
Refleksi.
Siklus I
a)

Perencanaan Tindakan (planning)

Setelah peneliti mengadakan supervisi kelas X hasilnya kualitas pembelajaran


saintifik rendah disampaikan ke semua kepala sekolah pada sekolah binaan masingmasing. Kemudian peneliti menyampaikan rencana penelitian untuk meningkatkan
kreatifitas dan kualitas pembelajaran saintifik kelas X. Rencana ini diterima oleh
semua kepala sekolah. Kemudian Peneliti menginformasikan proses pelaksanaan
penelitian pada kegiatan Siklus I tahap perencanaan, tindakan, (peer teaching)
pengamatan pembelajaran dan refleksinya. Kegiatan tindakan melalui In House
Training (IHT) di sekolah binaan masing-masing maka oleh peneliti pembelajaran
dilakukan oleh semua kepala sekolah masing-masing (sebagai kolabolator) hasilnya
diserahkan ke peneliti untuk refleksi. Peneliti membagi instrumen observasi
pembelajaran dan menjelaskan isi instrumen tersebut.
b)

Pelaksanaan tindakan (action)

1.

Peneliti mengawali kegiatan IHT pada sekolah binaan ini dengan menyampaikan

materi tentang peer teaching yang diikuti oleh semua guru dan kepala sekolah
(kolaborator).
2.

Semua guru kelas X membuat RPP untuk praktek peer teaching

3.

Kegiatan Peer teaching guru kelas X diamati semua guru dan kepala sekolah

menggunakan instrumen yang sudah disiapkan peneliti.


4.

Membacakan hasil pengamatan peer teaching dan pemberian masukan/saran

dari peneliti dan guru kelas X sampai jelas tentang pembelajaran saintifik.
c)

Pengamatan (observation)

Semua kepala sekolah (kolaborator) mengadakan penilaian mengunakan instrumen


dari peneliti. Kegiatan pengamatan pembelajaran dimulai dari jam pertama sampai
jam terakhir karena pembelajarannya saintifik. Mengamati dari kegiatan awal
sampai penutup. Hasil pengamatan instrumen diserahkan kepada peneliti untuk
direfleksi.
d)

Refleksi (reflection)

Berdasarkan hasil data dari kolaborator hasil pembelajaran saintifik pada siklus I
lebih meningkat dibanding hasil kondisi awal namun masih ada guru yang mendapat
nilai cukup. Maka perlu adanya tindakan siklus II.

Siklus II
a)

Perencanaan Tindakan (planning)

Hasil pengamatan pembelajaran setelah direfleksi disampaikan kepada semua


kepala sekolah (kolaborator) . Kemudian peneliti menyampaikan kegiatan siklus II.
Diharapkan pada siklus II hasilnya meningkat. Peneliti melalui kegiatan IHT (MGMP)
menyampaikan hasil siklus I dan menyampaikan rencana kegiatan Mengamati video
Pembelajaran serta membagi instrumen observasi pembelajaran.
b)

Pelaksanaan Tindakan (action)

1.

Pemutaran video pembelajaran, semua guru mengamati dan meresume dengan

menggunakan instrumen observasi pembelajaran.


2.

Guru menyampaikan hasil resume

3.

Peneliti menyimpulkan bersama guru kelebihan dan kekurangan guru dalam

video pembelajaran yang selesai diamati.


c)

Pengamatan (observation)

Pada minggu berikutnya semua guru kelas X melaksanakan pembelajaran


disupervisi sehari penuh oleh kepala sekolah mulai jam pertama sampai jam terakhir
untuk mengamati dan mengisi instrumen observasi pembelajaran.
Hasil pengamatan instrumen yang sudah diserahkan kepada peneliti.
d)

Refleksi

Diharapkan hasil siklus II melalui kegiatan mengamati video pembelajaran guru


dapat lebih kreatif dan lebih meningkatkan mutu dibanding pembelajaran siklus I.
Diharapkan pada siklus II ini semua guru ( 19 guru) kelas X mendapat nilai
observasi pembelajaran minimal B.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah melalui kegiatan In House
Training artinya kegiatan dilaksanakan pada saat pelaksanaan Musyawarah Guru
Mata Pelajaran Sekolah. Penelitian ini melalui dua siklus. Siklus yang pertama
kegiatan In House Training peer teaching dan pada siklus ke dua kegiatan In House
Training mengamati video pembelajaran. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan
kreatifitas dan kualitas pembelajaran saintifik di kelas X.
Deskripsi Kondisi Awal
Hasil supervisi kelas X yang dilakukan oleh pengawas sekolah di SMA Kota Surakarta
atau khususnya seklah binaan kualitas pembelajaran saintifiknya rendah hal ini
ditunjukkan dengan rata-rata nilai pembelajaran saintifik kelas X 77,11 (C). Dari
guru kelas X yang berjumlah 19 orang yang mendapat nilai B ( Baik ) 4 orang (
21,05 %) , yang mendapat nilai C ( Cukup ) ada 12 orang ( 63,16 %) dan yang
mendapat nilai K ( Kurang ) ada 3 orang ( 15,79 % ). Maka guru kelas X harus
segera diberi pendampingan agar kualitas pembelajaran saintifiknya meningkat.
Tabel 4. Kondisi Awal
NO

Kode Nama Guru

Mapel

HASIL

B.Indonesia

72 ( C )

B.Indonesia

77 ( C )

B.Indonesia

77 ( C )

Sejarah

77 ( C )

Sejarah

83 ( B )

Matematika

86 ( B )

Matematika

75 ( C )

Matematika

77 ( C )

Matematika

77 ( C )

10

Matematika

89 ( B )

11

Matematika

77 ( B )

12

Matematika

83 ( B )

13

Sejarah

77 ( C )

14

Sejarah

77 ( C )

15

B.Indonesia

69 ( K )

16

B.Indonesia

69 ( K )

17

B.Indonesia

77 ( C )

18

Sejarah

19

Matematika

Rata-rata

69 ( K )
77 ( C )

77,11 ( C )

Kondisi awal diatas agar lebih jelas peneliti sajikan diagram batang untuk melihat
nilai pembelajarannya masing-masing sekolah A (amat baik) nilai

90 <

AB < 100, B (baik) nilai 80 < B < 89, C (cukup) 70 < C < 79, atau D (kurang)
< 70. Nilai rata-ratanya 77,11(C).
Gambar 3.Grafik kondisi awal
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik pada penelitian ini kegiatan IHT
pada MGMP adalah Peer Teaching. Diharapkan dengan adanya kegiatan peer
teaching pada siklus I ini kualitas pembelajaran saintifik kelas X SMA Kota
Surakarta tahun pelajaran 2013/2014 meningkat.
Deskripsi Hasil Siklus I
1.

Perencanaan Tindakan

Dalam kegiatan perencanaan tindakan ini peneliti mengadakan pertemuan dengan


kepala sekolah di sekolah binaan untuk membahas persiapan penelitian. Peneliti
membagi lembar pembelajaran saintifik dengan petunjuk teknisnya kemudian
membahasnya. Peneliti kemudian menyampaikan rencana langkah-langkah
penelitian, kemudian menyampaikan ke subjek.
Perencanaan tindakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
2.

Pelaksanaan Tindakan (action)

a.

Kegiatan In House Training yang pertama ini adalah peer teaching, Untuk peer

teaching ini perlu RPP pembelajaran saintifik, maka kegiatan ini diawali dengan
workshop penyusunan RPP pembelajaran saintifik. Kegiatan In House Training dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.
b.

Pelaksanaan Peer Teaching, semua guru kelas X melaksanakan peer teaching.

Pada saat salah satu guru melaksanakan pembelajaran, yang lain mengamati
kemudian menyampaikan hasil resume. Kegiatan In House Training Peer Teaching
dapat dilihat pada gambar dibawah ini
c.

Peneliti menyampaikan indikator-indikator yang ada pada instrumen observasi

pelaksanaan pembelajaran saintifik. Dengan tujuan pada saat pelaksanaan


pembelajaran nanti guru dapat memenuhi indikator yang diharapkan.
3.

Hasil Pengamatan (Observation)

Semua kepala sekolah (kolabolator) mengadakan penilaian menggunakan instrumen


dari peneliti. Kegiatan pengamatan pembelajaran dimulai dari jam pertama sampai
jam terakhir karena pembelajarannya scaintifik terintegrasi dalam satu hari mulai
dari kegiatan awal sampai penutup. Hasil pengamatan instrumen diserahkan kepada
peneliti untuk direfleksi.
Kegiatan Observasi pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada gambar dibawah
ini.
4.

Refleksi

Hasil pelaksanaan pembelajaran setelah peer teaching sebagai berikut:


Tabel 5. Hasil Siklus I
NO

Kode Nama Guru

Mapel

B.Indonesia

72 ( C )

B.Indonesia

83 ( B )

B.Indonesia

77 ( C )

Sejarah

83 ( B )

Sejarah

92 ( AB )

Matematika

92 ( AB )

Matematika

83 ( B )

Matematika

83 ( B )

Matematika

83 ( B )

10

Matematika

92 ( AB )

11

Matematika

83 ( B )

12

Matematika

92 ( AB )

13

Sejarah

83 ( B )

14

Sejarah

83 ( B )

15

B.Indonesia

72 ( C )

16

B.Indonesia

72 ( C )

17

B.Indonesia

83 ( B )

18

Sejarah

19

Matematika

72 ( C )
83 ( B )

HASIL

82,26 ( B )
Berdasarkan data dari kolabolator hasil pembelajaran saintifik pada siklus I rata-rata
82,26 (B) guru yang mendapatkan nilai C ada 5 orang yang mendapatkan nilai B
ada 10 orang dan yang mendapatkan nilai A ada 4 orang. Kegiatan pelaksanaan
pembelajaran melalui peer teaching menunjukkan meningkat dibanding hasil kondisi
awal yang rata-ratnya 77,11 (C) peningkatannya 5,15 % namun masih ada guru
yang mendapat nilai cukup 4 orang maka perlu adanya tindakan siklus II. Agar lebih
jelasnya peneliti membuat diagram batang untuk mengetahi rata-rata hasil siklus I
dan diagram lingkaran untuk mengetahui jumlah guru dengan hasil pembelajaran
saintifik AB, B, C, atau K.
Gambar 4 .Grafik hasil siklus I
Diskripsi Hasil Siklus II
1.

Perencanaan Tindakan

a.

Perencanaan yang pertama menyampaikan hasil pelaksanaan observasi

pembelajaran melalui IHT Peer Teaching di sekolah binaan kepada semua kepala
sekolah, masih ada menyampaikan rencana kegiatan Siklus II yaitu IHT yang ke dua
yaitu mengamati video pembelajaran.
b.

Menyampaikan instrumen untuk observasi pelaksanaan pembelajaran setelah

selesai mengamati tayangan video pembelajaran kepada kepala sekolah


(kolabolator)
2.

Pelaksanaan tindakan

a.

Pelakasanaan IHT (mengamati tayangan video pembelajaran)

Peneliti menjelaskan kegiatan yang harus dikerjakan guru yaitu mengamati


pembelajaran saintifik yang akan ditayangkan
b.

Semua guru meresume pelaksanaan pembelajaran saintifik menggunakan

petunjuk instrumen yang sudah disiapkan peneliti.


c.

Guru membacakan hasil resume

d.

Peneliti menegaskan hasil resume agar gutu mengetahui dengan jelas apa yang

seharusnya dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran


e.

Tanya jawab atau diskusi

Pelaksanaan tindakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.


3.

Hasil Pengamatan (observation)

Semua kepala sekolah (kolabolator) mengadakan penilaian menggunakan instrumen


dari peneliti. Kegiatan pengamatn pembelajaran pada siklus II ini sama dengan pada
siklus I dimulai dari jam pertama sampai jam terakhir karena pembelajarannya
saintifik dilaksanakan satu hari mulai dari kegiatan awal sampai penutup. Hasil
pengamatan instrumen diserahkan kepada peneliti untuk direfleksi. Kegiatan IHT
pada siklus II Mengamati Tayangan Video Pembelajaran Saintifik Kegiatan
observasi Pelaksanaan Pembelajaran dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
4.

Refleksi

Hasil pelaksanaan pembelajaran setelah mengamati tayangan video pembelajaran


saintifik sebagai berikut :
Tabel 6. Hasil Siklus II
NO

Kode Nama Guru

Mapel

B.Indonesia

89 ( B )

B.Indonesia

94 ( AB )

B.Indonesia

86 ( B )

Sejarah

92 ( AB )

Sejarah

94 ( AB )

Matematika

94 ( AB )

Matematika

89 ( B )

Matematika

89 ( B )

Matematika

HASIL

89 ( B )

10

Matematika

94 ( AB )

11

Matematika

89 ( B )

12

Matematika

94 ( AB )

13

Sejarah

89 ( B )

14

Sejarah

89 ( B )

15

B.Indonesia

83 ( B )

16

B.Indonesia

83 ( B )

17

B.Indonesia

89 ( B )

18

Sejarah

19

Matematika

89 ( B )
92 ( AB )

89,84 ( B )
Berdasarkan data dari kolabolator hasil pembelajaran saintifk pada siklus II ratarata 89,84 ( Baik ) guru yang mendapatkan nilai Amat Baik (AB) ada 7 orang dan
yang mendapatkan nilai Baik ( B ) ada 12 orang. Kegiatan pelaksanaan
pembelajaran melalui kegiatan In House Training (IHT) mengamati tayangan video
pembelajaran saintifik lebih meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik dibanding
kegiatan IHT melalui peer teaching. Pada Siklus II ini menunjukkan meningkat
dibanding hasil siklus I yang rata-ratanya 89,84 yaitu Baik (B) peningkatannya
12,73 %.
Gambar 5. Grafik Hasil Siklus II
Pembahasan
Hasil penelitian melalui kegiatan In House Training (IHT) dapat meningkatkan pada
siklus I melalui In House Training (Peer Teaching) guru mengetahui kekurangan
dalam melaksanakan pembelajaran saintifik dan diimplentasikan pada pengamatan
pembelajaran saintifik sehingga kualitas dan kreativitas guru dalam pelaksanaan
pembelajaran saintifik sehingga kualitas dan kreativitas guru dalam pelakasanaan

pembelajaran saintifik meningkat. Pada siklus II melalui In House Training (


mengamati tayangan video) diimplementasikan pada pembelajaran saintifik pada
pengamatan siklus II sehingga pelaksanaan pembelajaran guru lebih kreatif dan
lebih inovatif sehingga kualitas pembelajaran saintifiknya lebih meningkat. Hasil
akhir penelitian pelaksanaan pembelajaran saintifik Nilai rata-rata 89,84 yaitu Baik
( B ) dan tidak ada guru yang memperoleh nilai Cukup ( C ) dari 19 guru yang
memperoleh Amat Baik ( AB ) 7 guru, Baik ( B ) 12 guru. Hasil akhir penelitian
dibuat diagram lingkaran untuk mengetahui jumlah guru dengan hasil pembelajaran
saintifiknya Amat Baik (AB), Baik (B), Cukup (C), atau Kurang (K).
Gambar 6.Diagram Hasil Sikus II dan jumlah guru yang mendapatkan nilai AB, B, C
atau K
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan melalui kegiatan In House Training dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik guru kelas X SMA Kota Surakarta
Semester 2 Tahun Pelajaan 2013/2014. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I
kegiatan In House Training melalui Peer Teaching rata-rata 82,26 meningkat 5,15
%, guru yang memperoleh nilai A ada 4 orang, memperoleh nilai Baik (B) 10 orang
dan yang memperoleh nilai Cukup (C) ada 5 orang sehingga membutuhkan kegiatan
siklus II. Hasil dibanding kondisi awal 77,11. Pembelajaran saintifik pada siklus II
NIlai rata-rata 89.84 Baik ( B ) lebih meningkat lagi dibanding hasil siklus I rata-rata
82.26 naik 12,73 %. Guru yang mendapatkan nilai Baik (B) ada 12 orang dan yang
mendapatkan nilai Amat Baik (AB) ada 7 orang. Kegiatan pelaksanaan pembelajaran
melalui kegiatan In House Training (IHT) mengamati tayangan video pembelajaran
saintifik lebih meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik dibanding kegiatan IHT
melalui peer teaching. Peningkatan rata-rata dari kondisi awal, siklus I dan siklus II
dapat dilihat pada grafik di bawah ini
Gambar 7. Grafik rata-rata hasil penelitian

PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan teori yang telah dijawab melalui hipotesis pada bab II maupun secara
empirik berdasarkan hasil tindakan pada bab IV dapat disimpulkan bahwa melalui
kegiatan In House Training dapat meningkatkan kualitas pembelajaran saintifik
guru-guru kelas X SMA Kota Surakarta Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014
Implikasi
Berdasar pada landasan teori pada hasil penelitian ini maka penulis akan
menyampaikan implikasi yang berguna secara teoritis maupun praktis dalam upaya

mengoptimalkan kualitas pembelajaran saintifik.


1.

Implikasi Teoritis; Dengan In House Training guru akan mengetahu kekurangan

dalam pembelajaran sehingga dapt meningkatkan kualitas pembelajarannya


saintifik.
2.

Implikasi Praktis ; Dari urutan pada implikasi teoritis tampak bahwa kualitas

pembelajaran saintifik memerlukan ketrampilan sehingga dengan adanya tindak


lanjut dari supervisi kelas / observasi pembelajaran kepala sekolah dan pengawas
sekolah guru dapat mengoptimalkan kualitas pembelajaran saintifik.
Saran
Berdasar hasil penelitian, analisis data dan simpulan dalam penelitian ini, ada
beberapa hal yang perlu disarankan yaitu :
1.

Saran bagi guru; a)

a.

Hendaknya guru melaksanakan pembelajaran saintifik sesuai RPP saintifik yang

telah dibuat.
b.

Apabila ada masalah/ kesulitan segeralah minta bantuan teman guru/KS/

Pengawas Sekolah untuk memecahkannya, sehingga kualitas pembelajaran saintifik


bisa maksimal.
c.

Kreativitas dalam melaksanakan pembelajaran saintifik akan terwujud bila guru

ada kemauan untuk aktif dan kreatif.


2.

Saran bagi para pengawas sekolah

a.

Pengawas sekolah sebaiknya menjalin hubungan yang baik sebagai patner kerja

bukan sebagai atasan dan bawahan ( pengawas sekolah sahabat guru)


b.

Kegiatan IHT perlu diimplementasikan juga di sekolah yang lain guru di sekolah

lain agar kreativitas dan kualitas pembelajaran di tiap sekolah meningkat semua.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standar Nasional Pendidikan (2006) Naskah Akademik Tentang Standar
Pengawas Satuan Pendidikan, Direktorat Pendidikan, Jakarta.
Depdiknas (2001) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka. Jakarta.
.......... (2008) Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah Peningkatan Kompetensi
Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK, Dirjen PMPTK, Jakarta.
.............. (2013), Panduan Teknis Penyusunan Rencan Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) di Sekolah Menengah, Jakarta.
..............

(2013) Pemendikbud No. 81 A tahun 2013, Jakarta

..............

(2013) Pemendikbud No. 65 tahun 2013, Jakarta

Fathurrohman Pupuh & Sutikno Sobry (2007) Strategi Belajar Mengajar, Bandung PT
Rafika Aditama.
Gijselaers, W.H. 1996. Connecting problem-based practices with educational
theory. Dalam Bringing problem-based learning to higher education: Theory and
Practice (hal 13-21). San Francisco: Jossey-Bass.
https://www.google.com/search Surakarta 2 Nopember 2013 Kegiatan IHT
Ibrohim (2011) Makalah Program Induksi Guru Pemula, FMIPA Universitas Malang

Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Badn Pengembangan Sumber Daya


Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu Pendidikan Kementrian
Mutu Pendidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2013), Bahan Pelatihan
Implementasi Kurikulum 2013, Yogyakarta.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah (2013) Panduan Teknis Pembelajaran
Pendekatan Saintifik di Sekolah Menengah, Jakarta.
Nur, M. 2011. Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: PSMS Unesa.
Nur, M. 1998. Teori-teori Perkembangan. Surabaya: Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan.
Nur, M. & Wikandari, P.R. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa Dan Pendekatan
Konstruktivis Dalam Pengajaran. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya University
Press.
Surono (2007) Supervisi, Monitoring dan Evaluasi, Lembaga Penjamin Mutu
Pendidikan Jawa Tengah, Semarang
Tim Sertifikasi Unesa. 2010. Modul Pembelajaran Inovatif. Surabaya: PLPG Unesa.