Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Penulis Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas Rahmat dan Karunia-Nya sehingga makalah yang membahas tentang DIARE dapat
selesai tepat pada waktunya sebagai salah satu tugas dari mata kuliah HIV/AIDS.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari harapan pembaca yang mana di
dalamnya masih terdapat berbagai kesalahan baik dari sistem penulisan maupun isi. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga dalam
makalah berikutnya dapat diperbaiki serta ditingkatkan kualitasnya.
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Palu ,november 2014

DIARE
Definisi
Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer
lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.
Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan
terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.
Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana
terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang
air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih
dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau
lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.
Klasifikasi Diare
Klasifikasi diare berdasarkan lama waktu diare terdiri dari diare akut, diare persisten
dan diare kronis. (Asnil et al, 2003).
a.

Diare Akut

Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu, berlangsung kurang dari 14 hari, dengan
pengeluaran tinja lunak atau cair yang dapat atau tanpa disertai lendir dan darah
b.

Diare Persisten

Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari, merupakan kelanjutan dari diare akut
atau peralihan antara diare akut dan kronik.

c.

Diare kronis

Diare kronis adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung lama dengan penyebab non-infeksi,
seperti penyakit sensitif terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang menurun. Lama diare
kronik lebih dari 30 hari.

Etiologi
a.

Faktor infeksi

Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, meliputi
infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb),
infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica,
G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan
diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.

b.

Faktor Makanan:
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi

terhadap jenis makanan tertentu.


c.

Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).

Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
a. Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke
dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare.

b.

Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi

peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena
peningkatan isi lumen usus.
c.

Gangguan motilitas usus.


Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk

menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.

Gejala Diare
Beberapa gejala penyakit diare dapat langsung dikenali atau dirasakan oleh penderita.
Di antara gejala tersebut adalah:

Buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan

Tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari

Pegal pada punggung, dan perut sering berbunyi

Mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh)

Diare yang disebabkan oleh virus dapat menimbulkan mual dan muntah-muntah

Badan lesu atau lemah

Panas

Tidak nafsu makan

Darah dan lendir dalam kotoran


Pemeriksaan Penunjang

Menurut Hassan dan Alatas (1998) pemeriksaan laboratorium pada diare adalah:
a.

Feses

Makroskopis dan Mikroskopis


pH dan kadar gula pada tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat
intoleransi gula.
Biakan dan uji resisten.
b.

Pemeriksaan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan pH dan

cadangan alkalin atau dengan analisa gas darah.


c.

Ureum kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

d.

Elektrolit terutama natrium, kalium dan fosfor dalam serium.

e.

Pemeriksaan Intubasi deudenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit.

Komplikasi
a.

Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).

b.

Renjatan hipovolemik.

c.

Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi,

perubahan pada elektro kardiagram).


d.

Hipoglikemia.

e.

Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena

kerusakan vili mukosa, usus halus.


f.

Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.

g.

Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga

mengalami kelaparan.

Konsep Dasar Keperawatan


2.2.1

Pengkajian

a.

Identitas klien.

b.

Riwayat keperawatan.

Awalan serangan : Suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.


Keluhan utama : Faeces semakin cair, muntah, bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi
gejala dehidrasi, berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit
berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan
konsistensi encer.
c.

Riwayat kesehatan masa lalu.


Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

d.

Riwayat psikososial keluarga.


Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi

keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,
setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
e.

Kebutuhan dasar.
Pola eliminasi

Akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.

Pola nutrisi

Diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.

Pola tidur dan istirahat

Terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

Pola hygiene

Kebiasaan mandi setiap harinya.

Aktivitas

Akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.
Pemerikasaan fisik.
a.

Pemeriksaan psikologis :
Keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai koma, suhu

tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.


b.

Pemeriksaan sistematik :

Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan
menurun, anus kemerahan.
Perkusi : adanya distensi abdomen.
Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
Auskultasi : terdengarnya bising usus.
Diagnosa Keperawatan
a. Intoleransi Aktivitas
b. Kekurangan volume cairan
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
d. Resiko Kerusakan Integritas Kulit
Intervensi
No.
1.

Diagnosa
Keperawatan
Intolerasi Aktivitas

NOC
Konservasi energi.

NIC
Terapi aktivitas :

Toleransi aktivitas.

Bantu klien untuk

Perawatan diri.

mengidentifikasi aktivitas

Kriteria hasil :

yang mampu dilakukan.

Bantu untuk memilih

Berpatisipasi dalam aktivitas

fisik.

aktivitas konsisten yang

Mampu melakukan aktivitas

sesuai dengan kemampuan

sehari hari secara mandiri.

fisik, psikologi dan social.


Bantu untuk
mengidentivikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas
yang diinginkan.
Bantu untuk
mengidentifikasi aktivitas
yang disukai.

2.

Kekurangan

Keseimbangan

Bantu klien untuk

Volume Cairan

elektrolit/Cairan.

meningkatkan eletrolit dan

Status Nutrisi.

cairan.

Kriteria hasil :

Bantu untuk

meningkatkan keseimbangan

Tidak mengalami haus yang

tidak normal.

cairan dan mencegah

Memiliki keseimbangan

komplikasi kadar cairan yang

asupandan haluaran yang seimbang abnormal atau yang tidak


diharapkan.
dalam 24 jam.
Membran mukosa lembap dan

Bantu untuk menyediakan

mampu berkeringat.

asupan makanan dan cairan

Memiliki asupan cairan

dalam diet seimbang.

oral/atau intravena yang kuat.

Kumpulkan dan analisa


data pasien untuk mencegah
atau meminimalkan

malnutrisi.
3.

Ketidakseimbangan Selera makan.

Membantu dan

Nutrisi Kurang dari

Status gizi.

menyediakan asupan

Kebutuhan Tubuh

Kriteria hasil :

makanan diet seimbang.

Bantu untuk makan.

Punya keinginan untuk makan

ketika dalam keadaan sakit atau

Merangsang selera makan

sedang menjalani pengobatan.

pasien dengan cara mecari

Melaporkan tingkat energy

tahu makanan kesukaan.

yang adekuat.
4.

Kerusakan

Respon Alergi.

Bantu klien untuk menjaga

integritas Kulit

Iritasi.

kebersihan.

Perawatan diri.

Bantu untuk mencegah

Kriteria hasil :

iritasi pada perineal.

Tidak ada tanda-tanda iritasi

pada sekitar Perianal.

Kesimpulan
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam
tinja. Diare juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan
elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih
dengan bentuk encer atau cair.
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih
dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau
lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.
Saran
Dengan dibuatnya asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Diare ini diharapkan
mahasiswa untuk lebih bisa memahami, mengetahui dan mengerti tentang cara pembuatan
asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Diare.

DAFTAR PUSTAKA

3.

Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis & Nanda Nic Noc edisi revisi

Jilid 1 tahun 2013.


4.

Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis & Nanda Nic Noc edisi revisi

Jilid 2 tahun 2013.


5.

Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi tahun 2012-1014.

6.

Buku saku diagnosis keperawatan edisi 9 oleh Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern.