Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN ASURANSI JIWA SECARA UMUM

A. Pengertian Asuransi Jiwa


Dalam KUHDagang yang mengatur tentang asuransi jiwa, pengaturannya
sangat singkat sekali dan hanya terdiri dari tujuh (7) pasal yaitu Pasal 302 sampai
dengan Pasal 308.
Pasal 302 KUHDagang sebagai dasar asuransi jiwa, yang menyatakan
bahwa :
Jika seseorang dapat guna keperluan seseorang yang berkepentingan,
dipertanggungkan, baik untuk selama hidupnya jiwa itu, baik untuk suatu
waktu yang ditetapkan dalam perjanjian.
Pengertian asuransi jiwa yang terdapat pada ketentuan di atas lebih
menekankan kepada suatu waktu yang ditentukan dalam asuransi jiwa. Sedangkan
untuk waktu selama hidupnya tidak ditetapkan dalam perjanjian, ini berarti
undang-undang tidak tegas memberi kemungkinan untuk mengadakan asuransi
jiwa itu selama hidupnya bagi yang berkepentingan.
Selain dari definisi/ pengertian formil yang terdapat dalam undangundang, ada juga pendapat ahli hukum juga memberikan definisi asuransi jiwa
dimaksud. Menurut Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika yang dikutip dari
pendapat Molenggraf berpendapat bahwa,
Asuransi jiwa dalam pengertian luas memuat semua perjanjian mengenai
pembayaran sejumlah

modal atau

bunga,

yang

didasarkan atas

Universitas Sumatera Utara

kemungkinan hidup atau mati, dan daripada itu pembayaran premi atau
dua-duanya dengan cara digantungkan pada masa hidupnya atau
meninggalnya seseorang atau lebih. 8
Kemudian menurut Wirjono Prodjodikoro, pada Pasal 1a Bab I Staatsblad
1941-101, pengertian asuransi jiwa sebagai berikut :
Perjanjian asuransi jiwa ialah perjanjian tentang pembayaran uang
dengan nikmat dari premi dan yang berhubungan dengan hidup atau
matinya seseorang termasuk juga perjanjian asuransi kembali/uang dengan
pengertian/catatan bahwa perjanjian dimaksud tidak termasuk perjanjian
asuransi kecelakaan. 9
Sedangkan menurut H.M.N Purwosutjipto,
Asuransi jiwa dapat diartikan sebagai pertanggungan jiwa adalah
perjanjian timbal balik antara penutup (pengambil) asuransi dengan
penanggung dengan mana penutup asuransi mengikatkan diri selama
jalannya pertanggungan membayar uang premi kepada penanggung,
sedangkan penanggung sebagai akibat langsung dari meninggalnya orang
yang jiwanya dipertanggungkan atau telah lampaunya suatu jangka waktu
yang diperjanjikan mengikat diri untuk membayar sejumlah uang tertentu
kepada

orang

yang

ditunjuk

untuk

penutup

asuransi

sebagai

penikmatnya. 10

Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, SH, Hukum Asuransi Indonesia, Bina Aksara, Jakarta, 1989,
hal 265
9
Prof. Dr. wirjono Prodjodikoro, SH, Locc.cit
10
H.M.N Purwosutjipto, SH, Pengertian Pokok Hukum Dagang, Jilid 6 Hukum Perdagangan,
Djambatan, Jakarta 1992, hal 9

Universitas Sumatera Utara

Kemudian menurut Volmar, menyebutkan pertanggungan jiwa itu dengan


istilah sommen verzekering, berpendapat bahwa :
Secara luas sommen verzekering itu dapat diartikan sebagai suatu
perjanjian dimana suatu pihak mengikatkan dirinya untuk membayar
sejumlah uang secara sekaligus atau periodik, sedangkan pihak
mengikatkan dirinya untuk membayar premi dan pembayaran itu adalah
tergantung kepada hidup atau matinya seseorang tertentu atau lebih. 11
Santoso Poejosoebroto memberikan pengertian asuransi itu sebagai
berikut,
Asuransi pada umumnya adalah suatu perjanjian timbal balik dalam
mana pihak penanggung dengan menerima premi mengikatkan diri untuk
memberikan pembayaran kepada pengambil asuransi atau orang yang
ditunjuk, karena terjadinya peristiwa yang belum pasti. Yang disebutkan di
dalam perjanjian, baik karena pengambil asuransi atau tertunjuk menderita
kerugian yang disebabkan oleh peristiwa lain, maupun karena peristiwa
tadi mengenai hidup dan kesehatan. 12
Kemudian dapat dilihat makna asuransi jiwa yang dilihat dari beberapa
segi yaitu segi jaminan, segi sosial, segi ekonomi, segi finansial.
Dari segi jaminan, asuransi jiwa merupakan asuransi dengan manusia
sebagai kepentingan interest yang diasuransikan berbeda dengan asuransi
kerugian, dengan harta benda sebagai kepentingan yang diasuransikan. Dan

11

Prof. Emmy Pangaribuan Simanjuntak, SH, 1990, Hukum Pertanggungan, Hukum Dagang
Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1975, hal 91.
12
Santoso Poejosoebroto, Beberapa Aspek Tentang Hukum Pertanggungan Jiwa di Indonesai,
Bharata, Jakarta, 1969

Universitas Sumatera Utara

pengertian ini di atas dengan membayar premi setiap tahun atau selama suatu
jangka waktu terbatas, seseorang tertanggung sebagai imbalan dari premi yang
dibayarkan kepada penanggung menerima jaminan yaitu :
1. Pada hari tua tertanggung akan diberikan sejumlah uang sebagai santunan
biaya hidup.
2. Bila tertanggung meninggal dunia, akan diberikan sejumlah uang kepada
ahli waris tertanggung sebagai santunan biaya hidup.
3. Bila tertanggung mengalami kecelakaan fisik, akan diberikan sejumlah
uang santunan biaya hidup bila tertanggung menjadi cacat tetap/ biaya
pengobatan.
Kemudian dari segi sosial, asuransi dapat diartikan sebagai suatu rencana
sosial yang bertujuan memberikan santunan kepada orang yang menderita karena
ditimpa musibah, yang santunannya diambil dari kontribusi yang dikumpulkan
dari semua pihak yang berpartisipasi dalam rencana sosial itu. 13
Sedangkan dari segi ekonomi, adalah suatu disiplin ilmu tentang usaha
manusia mencari kepuasan guna memenuhi kebutuhan kesejahteraan hidup,
dengan cara berusaha mencapai hasil maksimal dengan pengorbanan minimal,
namun upaya manusia untuk mencari dan memenuhi kebutuhan hidup tidak selalu
berhasil karena setiap upaya maupun perbuatan mengandung resiko. Jadi pada
hakekatnya asuransi jiwa merupakan pelimpahan resiko oleh tertanggung kepada

13

Ibid, hal 271

Universitas Sumatera Utara

penanggung agar kerugian yang diderita oleh tertanggung dijamin oleh


penanggung. 14
Kemudian dari segi finansial, perusahaan asuransi menghimpun dana dari
para tertanggung dalam bentuk premi. Dari dana yang terkumpul itu, sebagian
untuk dana klaim, dan bagian yang lainnya diinvestasikan dalam bentuk deposito,
dalam surat-surat berharga (saham, obligasi) dalam aktiva tetap seperti kantor, dan
rumah untuk disewakan sehingga memperoleh penghasilan. 15
Dari beberapa pengertian tentang asuransi jiwa yang dikemukakan oleh
para pakar hukum di atas ada beberapa hal yang sebenarnya harus ada dalam suatu
asuransi jiwa. Dimana asuransi jiwa tersebut merupakan perjanjian timbal balik
antara penanggung dengan tertanggung yang bertujuan untuk mengatasi resiko
atau peristiwa yang dapat merugikannya.

B. Jenis-Jenis Asuransi Jiwa


Sasaran asuransi jiwa menunjukan kelas dan jenis asuransi jiwa yang
ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan asuransi jiwa, yaitu :

16

1. Sasaran terhadap perorangan (asuransi biasa/perorangan)


2. Sasaran terhadap masyarakat (asuransi rakyat)
3. Sasaran terhadap kumpulan orang/ karyawan (asuransi kumpulan
kolektif)
4. Sasaran terhadap dunia usaha (asuransi dunia usaha)
5. Sasaran terhadap orang-orang yang muda (asuransi orang muda)
14

Ibid, hal 273


Ibid, hal 274
16
Ibid, hal 280-281
15

Universitas Sumatera Utara

6. Sasaran terhadap keluarga (asuransi keluarga)


ad. 1. Asuransi jiwa biasa
Asuransi jiwa biasa (ordinary life) diperuntukan bagi perorangan adalah
asuransi jiwa yang umumnya dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan asuransi
jiwa. Pada umumnya asuransi ini diperuntukan bagi golongan masyarakat
menengah ke atas. Pada dasarnya premi dibayarkan oleh pembeli polis setiap
tahun atau setiap semester atau setiap triwulan dan boleh juga setiap bulan, atau
dibayar sekaligus sebagai premi tunggal bagi mereka yang mempunyai cukup
uang.
ad. 2. Asuransi rakyat
Asuransi

rakyat

diperuntukan

bagi

anggota

masyarakat

yang

berpenghasilan kecil seperti buruh, karyawan rendah, pedagang kecil, pelayan,


petani, nelayan, dan sebagainya.
Asuransi ini dibayar preminya dengan frekuensi tinggi (setiap minggu) dan
besarnya premi disesuaikan dengan kesanggupan calon tertanggung membayar
setiap minggu. Besarnya uang pertanggungan dengan berpedoman

kepada

besarnya premi setiap minggu dan lamanya pertanggungan apakah seumur hidup
atau hingga calon tertanggung mencapai usia tertentu.
ad. 3. Asuransi kumpulan
Asuransi kumpulan (Group Insurance) disebut juga asuransi kolektif
dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

1. Satu polis untuk sekelompok tertanggung, misalnya para karyawan suatu


perusahaan diasuransikan dengan menggunakan satu polis yang disebut
polis induk (master policy).
2. Pemegang polis adalah perusahaan kepada masing-masing karyawan yang
diberikan sertifikat tanda bukti peserta asuransi kumpulan.
3. Pada umumnya para peserta tidak perlu melalui pemeriksaan medis.
4. Pembayaran premi asuransi kumpulan biasanya terdiri dari tiga macam
yaitu :
a.

Dibayar sendiri oleh masing-masing peserta berupa kontribusi yang


dipungut secara berkala dari setiap peserta.

b.

Semua premi ditanggung oleh perusahaan.

c.

Sebagian dibayar oleh perusahaan dan sebagian lagi dibayar oleh


para peserta misalnya 50%-50% atau 60%-40%.

ad. 4. Asuransi dunia usaha


Pada umumnya ada 4 macam sasaran pokok dari asuransi jiwa dunia
usaha, yaitu :
a. Asuransi orang penting, tenaga yang memegang peranan penting, seperti
direktur

utama,

para

manajer.

Apabila

meninggal

dunia

dapat

menimbulkan kerugian ekonomis bagi perusahaan berupa pemberian


santunan besar kepada keluarga almarhum.
b. Rencana kesejahteraan karyawan. Dengan menutup asuransi kumpulan,
asuransi keselamatan kerja, asuransi kecelakaan, dan asuransi kesehatan

Universitas Sumatera Utara

bagi karyawan maka semakin sempurnalah peranan dan bantuan


perusahaan dalan memberi kesejahteraan bagi karyawan.
c. Meningkatkan kepercayaan. Asuransi jiwa dapat

berperan untuk

meningkatkan kepercayaan kepada relasi terhadap perusahaan karena


asuransi dapat memberikan jaminan stabilitas posisi finansial perusahaan,
yang sekaligus menjadi gambaran yang baik kreditur.
d. Kelangsungan usaha.

Bagi perusahaan

yang

dimilikinya bersifat

partnership seperti kongsi, Firma, CV, apabila salah seorang pemiliknya


meninggal, maka akan timbul masalah yaitu membayar terus-menerus hakhak almarhum kepada jandanya, tanpa mengikutsertakannya dalam
pimpinan perusahaan. Polis asuransi jiwa dapat menghindarkan keadaan
tersebut yaitu dengan memberi santunan kepada janda almarhum sehingga
hak-hak dari almarhum tidak perlu terus-menerus dibayar oleh perusahaan.
Ad. 5. Asuransi orang muda
Seseorang yang masih muda dan mempunyai penghasilan dapat membeli
polis asuransi jiwa atas dirinya dan menunjuk orangtuanya atau adik-adiknya
sebagai penerima manfaat.
Ad. 6. Asuransi keluarga
Dengan memiliki polis asuransi jiwa dapat memberikan rasa tenteram
terhadap kehidupan ekonomi keluarga, juga menjamin kelangsungan pendidikan
anak-anak.
Asuransi keluarga mempunyai tiga macam jaminan yaitu jaminan
kematian, jaminan hari tua, dan jaminan atas kelangsungan pendidikan anak-anak.

Universitas Sumatera Utara

Kemudian apabila ditinjau dari sudut ada atau tidaknya pemeriksaan kesehatan
tertanggung ada 2 jenis asuransi jiwa, yaitu :
1. Asuransi Jiwa Medical (dengan pemeriksaan dokter). Asuransi jiwa
medical berarti si tertanggung sebelum menutup perjanjian asuransinya
terlebih dahulu harus memeriksakan kesehatannya kepada dokter yang
sudah disediakan untuk itu. Disamping itu juga harus dilengkapi dengan
surat keterangan kesehatan dan Laporan Kesehatan Lengkap (LAKES). Isi
laporan ini dapat bermacam-macam tergantung dari besarnya jumlah uang
asuransi yang diminta. Hal lainnya diwajibkan juga mengisi dan
menandatangani surat permintaan dan formulir-formulir lainnya yang
khusus disediakan untuk keperluan itu dan disampaikan kepada pihak
penanggung.
Adapun formulir-formulir atau surat-surat yang diperlukan untuk
penutupan asuransi dengan pemeriksaan dokter (medical) ini adalah :
1. Surat Permintaan (SP)
2. Laporan Kesehatan Lengkap (LAKES)
2. Asuransi Jiwa Non Medical (tanpa pemeriksaan dokter). Jenis asuransi ini
tidak memerlukan pemeriksaan dokter terhadap diri tertanggung sewaktu
diadakan penutupan perjanjian asuransi. Untuk asuransi jenis ini
keterangan kesehatan calon tertanggung akan dianggap cukup dan
sehubungan dengan resiko yang kemungkinan lebih besar dalam asuransi
jiwa non medical maka biasanya premi dikenakan suatu tambahan sampai
presentase tertentu.

Universitas Sumatera Utara

Adanya pemisahan jenis asuransi jiwa diatas yaitu asuransi jiwa medical
dan asuransi jiwa non medical ditentukan oleh faktor-faktor umur calon
tertanggung dan besarnya jumlah uang asuransi yang diminta.
Pada prakteknya di PT. Asuransi Jiwasraya untuk asuransi jiwa non
medical batas umur tertanggung maksimal 59 tahun dengan jumlah uang
pertanggungan maksimal Rp. 30.000.000 ( tiga puluh juta rupiah).
Sedangkan untuk tertanggung usia 60 tahun ke atas digolongkan ke dalam
asuransi jiwa medical dengan uang pertanggungan di atas Rp. 30.000.000 (tiga
puluh juta rupiah)

C. Polis Asuransi Jiwa


Dalam pasal 255 KUHD disebutkan bahwa :
Suatu pertanggungan harus dibuat secara tertulis dalam suatu akte yang
dinamakan polis.
Ketentuan tersebut di atas memberikan kesan seolah-seolah perjanjian
asuransi jiwa harus dibuat secara tertulis sebagai syarat mutlak. Padahal polis
bukanlah syarat mutlak adanya perjanjian asuransi jiwa, tetapi hanyalah
merupakan alat bukti adanya perjanjian.
Hal tersebut dijelaskan dalam Pasal 257 KUHDagang yang menyatakan
bahwa :
Perjanjian pertanggungan diterbitkan seketika setelah ia ditutup, hak-hak
dan kewajiban-kewajiban bertimbal balik dari si penanggung dan si

Universitas Sumatera Utara

tertanggung mulai berlaku semenjak saat itu, bahkan sebelum polisnya


ditandatangani.
Dalam hal ini berarti bahwa walaupun tidak ada polis (polis sebelum
terbit), perjanjian asuransi jiwa tetap berlaku apabila telah ditutup (telah ada
persesuaian kehendak) dan dapat dibuktikan dengan bukti-bukti lain, misalnya
dengan kwintansi pembayaran premi.
Meskipun untuk sahnya suatu perjanjian asuransi jiwa menurut undangundang tidak ada keharusan adanya formalitas tertentu (seperti akte tertulis yang
disebut polis), namun sangatlah penting adanya akte yang demikian itu. Hal ini
dengan mengingat bahwa perjanjian asuransi jiwa adalah berhubungan dengan
kepentingan finansial dan perjanjian tersebut bersifat perjanjian kemungkinan.
Oleh karena itu undang-undang sendiri hendaknya melindungi penanggung
(perusahaan asuransi jiwa), dengan cara bahwa adanya perjanjian asuransi jiwa itu
harus dibuktikan secara tertulis. Sehingga ditetapkan adanya akte yang
ditandatangani penanggung yang disebut polis, sebagai bukti adanya perjanjian
asuransi jiwa tersebut.
Polis menurut pengertian umum adalah suatu perjanjian yang perlu dibuat
bukti tertulis atau suatu perjanjian antara pihak-pihak yang mengadakan
perjanjian-perjanjian bukti tertulis untuk perjanjian asuransi.
Surat perjanjian ini dibuat dengan itikad baik dari kedua belah pihak yang
mengadakan perjanjian. Di dalam surat perjanjian itu disebutkan dengan tegas dan
jelas mengenai hal-hal yang diperjanjikan kedua belah pihak, hak-hak masingmasing pihak, sanksi atas pelanggaran perjanjian dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

Kemudian polis dapat juga diartikan surat perjanjian asuransi jiwa yang
menguraikan

hal-hal

yang

menjadi

dasar

dan

syarat-syarat

asuransi,

ditandatangani oleh penanggung dan pemegang polis. Dari pengertian di atas


bahwa polis asuransi merupakan salah satu dari alat bukti telah terjadi perjanjian
asuransi. Pada dasarnya pengertian polis asuransi jiwa sama dengan pengertian
polis pada umumnya.
Perbedaan polis asuransi jiwa dengan polis asuransi pada umumnya hanya
dari isi polis, dimana isi polis asuransi jiwa diatur dalam Pasal 304 KUHDagang
dan isi polis pada umumnya diatur dalam Pasal 256 KUHDagang.
Menurut Pasal 304 KUHDagang, polis asuransi jiwa harus memuat hal-hal
sebagai berikut :
1. Hari ditutupnya pertanggungan
2. Nama si tertanggung
3. Nama orang yang jiwanya dipertanggungkan
4. Saat mulai dan berakhirnya bahaya bagi si penanggung
5. Jumlah uang untuk mana diadakan pertanggungan
6. Premi pertanggungan tersebut
Sedangkan menurut polis dari pertanggungan perorangan PT. Asuransi
Jiwasraya, yaitu :
1. Dasar permintaan asuransi dari calon pemegang polis atas penawaran yang
dilakukan PT. Asuransi Jiwasraya (melalui brosur-iklan atau agen
perusahaan), dengan adanya kalimat Berdasarkan Surat Permintaan
tanggal

Universitas Sumatera Utara

2. Nama Pemegang Polis


3. Nama Tertanggung
4. Macam Asuransi
5. Besarnya Uang Asuransi
6. Berlakunya Asuransi
7. Premi (besarnya, periode pembayaran dan cara pembayaran)
8. Penerima faedah yang ditunjuk (menurut urutannya)
Sekarang kita perbandingkan isi polis menurut undang-undang (KUHD)
dengan isi polis yang berlaku dalam praktek pada PT. Asuransi Jiwasraya. Jika
kita perhatikan isi polis seperti polis PT. Asuransi Jiwasraya, maka dapat
diberikan catatan sebagai berikut :
1. Hari ditutupnya pertanggungan (butir 1 Pasal 304 KUHD) tidak
disebutkan di dalam polis (Surat Permintaan tanggal ..), tidak dapat
dianggap sebagai hari ditutupnya pertanggungan. Karena seperti telah
dikatakan, bahwa Surat Permintaan itu baru merupakan penawaran dari
pihak pemegang polis. Penerimaan penawarannya adalah pada tanggal
yang dinyatakan dalam Non-Penutupan.
2. Nama si Tertanggung (butir 2 Pasal 304 KUHDagang), seharusnya
disebutkan : nama pemegang polis (titik 2 polis PT. Asuransi Jiwasraya).
Sebab pemegang polis yang menjadi kontrakan, walaupun mungkin saja ia
juga sekaligus menjadi tertanggung (dalam hal pemegang polis
mempertanggungkan dirinya sendiri).

Universitas Sumatera Utara

3. Nama orang yang jiwanya dipertangungkan (butir 3 Pasal 304


KUHDagang), maksudnya adalah nama tertanggung (titik polis PT.
Asuransi Jiwasraya).
4. Macam asuransi (butir 4 polis PT. Asuransi Jiwasraya), tidak ada
disebutkan

dalam

Pasal

304

KUHDagang,

hal

ini

merupakan

perkembangan di dalam praktek, yang memerlukan pencantumannya di


dalam polis.
5. Saat mulai dan berakhirnya bahaya bagi si Penanggung (butir 4 Pasal 304
KUHDagang) adalah sama dengan berlakunya asuransi (butir 6 polis PT.
Asuransi Jiwasraya)
6. Yang ditunjuk untuk menerima faedah asuransi (butir 8 Pasal 304
KUHDagang) tidak disebutkan di dalam Pasal 304 KUHDagang. Padahal
pihak yang ditunjuk untuk menerima faedah (uang) asuransi ini atau
tertunjuk adalah sangat penting, karena untuk kepentingan tertunjuk inilah
perjanjian asuransi jiwa itu sebenarnya diadakan. Oleh karena itu
pencantumannya di dalam polis mutlak harus ada.
Pada halaman belakang polis PT. Asuransi Jiwasraya terdapat ruang
catatan, dengan keterangan :
1. Semua catatan yang tercantum di dalam ruang ini maupun yang terdapat
dalam lampiran-lampiran polis ini adalah bagian mutlak dari perjanjian
ini.
2. Perjanjian ini dibuat berdasarkan surat permintaan pemegang polis dan
jika tidak diadakan ketentuan-ketentuan dan atau perubahan-perubahan

Universitas Sumatera Utara

yang dicantumkan di dalam polis ini, maka berlakulah syarat-syarat umum


asuransi jiwa terlampir yang merupakan bagian mutlak yang tidak dapat
dipisahkan dari perjanjian ini.
Ruang catatan yang dimaksud untuk mencantumkan hal-hal atau
keterangan-keterangan yang penting yang menyangkut ketentuan-ketentuan
(tambahan) atau perubahan-perubahan terhadap kontrak asuransi. Selain itu
tentang polis diatur di dalam Pasal 305 KUHDagang yang menyatakan tentang
perkiraan jumlah uang mana diadakan pertanggungan tersebut dan penentuan
tentang syarat-syarat pertanggungan itu diserahkan sama sekali kepada
persetujuan kedua belah pihak.
Dari uraian di atas dapat kita lihat polis asuransi jiwa diatur sendiri dalam
Pasal 304 KUHDagang, namun dapat kita lihat Pasal 304 KUHDagang mengenai
isi polis asuransi jiwa tidak baku, karena masing-masing perusahaan asuransi jiwa
mempunyai isi polis tersendiri yang sebenarnya tidak bertentangan dengan bentuk
baku Pasal 304 KUHDagang.
Dalam polis dijelaskan apa yang menjadi hak dan kewajiban pemegang polis serta
hak dan kewajiban dari perusahaan asuransi jiwa.
Hak dan Kewajiban Pemegang Polis
Pemegang polis ialah pihak yang kedudukannya sangat penting disamping
penanggung. Sebab ia dapat menentukan kehendak secara bebas, apakah akan
melanjutkan perjanjian pertanggungan atau akan menghentikannya.
Hak-hak dari pemegang polis meliputi :
1. Penebusan polis (Pasal 7 syarat-syarat polis)

Universitas Sumatera Utara

2. Penggadaian polis (Pasal 8 syarat-syarat umum polis)


3. Menerima pembayaran faedah asuransi (Pasal 9)
4. Merubah pihak yang ditunjuk (Pasal 11)
Ad. 1. Penebusan Polis
Menurut Pasal 7 syarat-syarat umum polis pemegang polis berhak untuk
meminta agar perusahaan bersedia menebus polisnya, dengan syarat asalkan
perjanjian masih berlaku dan mempunyai nilai tebus. Dengan berlakunya transaksi
penebusan polis dan polis diserahkan kepada perusahaan maka perjanjian menjadi
hapus.
Cara seperti ini adalah merupakan penyelesaian perjanjian asuransi yang
tidak sesuai dengan tujuan berasuransi, karena dalam berasuransi kita berharap
untuk memperoleh perlindungan dari resiko terhadap diri kita sepanjang masa
kontrak asuransi.
Ad. 2. Penggadaian Polis
Pasal 8 syarat-syarat umum polis memuat ketentuan tentang hak
pemegang polis untuk menggadaikan polis (meminjam uang kepada perusahaan
dengan polis sebagai jaminan).
Menurut ketentuan perusahaan dan dengan syarat polis harus sudah
mempunyai nilai tebus. Besarnya pinjaman yang diberikan maksimal adalah sama
dengan nilai tebus dan dikenakan bunga yang besarnya ditentukan perusahaan,
pengembalian pinjaman itu secara angsuran/ sekaligus dalam waktu yang
ditentukan atau akan diperhitungkan dengan pembayaran uang angsuran.

Universitas Sumatera Utara

Ad. 3. Menerima Pembayaran Faedah Asuransi


Pemegang polis atau pihak yang ditunjuk berhak menerima pembayaran
faedah asuransi dari penanggung di dalam masa kontrak apabila terjadi resiko.
Bukti-bukti yang diperlukan untuk menerima uang pembayaran faedah asuransi
ialah :
Jika tertanggung masih hidup :
1. Polis
2. Tanda bukti diri dari pemegang polis
3. Kwitansi pembayaran premi terakhir yang sah
Jika tertanggung meninggal dunia :
1. Polis yang bersangkutan
2. Surat keterangan meninggal dunia yang dikeluarkan instansi yang
berwenang
3. Surat keterangan sebab meninggal dunia yang dikeluarkan oleh dokter
yang memeriksa jenazah atau yang merawat
4. Tanda bukti diri dari penerima faedah
5. Kwitansi pembayaran premi terakhir yang sah
Disamping bukti-bukti di atas perusahaan asuransi jiwa sebagai
penanggung berhak untuk meminta keterangan-keterangan lain yang di anggap
perlu dalam hubungannya dengan pembayaran uang asuransi.
Dalam hal penerima faedah atau pihak yang ditunjuk lebih dari satu orang maka
pihak perusahaan tidak bertanggung jawab terhadap bagian dari masing-masing

Universitas Sumatera Utara

pihak. Pihak perusahaan asuransi akan memberikan uang asuransi kepada orang
yang dikuasakan untuk menerimanya.
Ad. 4. Merubah Pihak Yang Ditunjuk
Penerima faedah asuransi yang sudah tercantum di dalam polis masih
dimungkinkan untuk dirubah. Pemegang polis masih berhak mengadakan
perubahan terhadap pihak tertunjuk dan harus dilakukan secara tertulis, dengan
pembatasan bahwa jika pemegang polis meninggal dunia tetapi pembayaran premi
berlangsung terus, maka pengubahan itu hanya berlaku untuk bagian asuransi
yang diperoleh atas dasar premi-premi yang telah dibayar hingga saat
meninggalnya pemegang polis. Terhadap penunjukan itu pihak tertunjuk
mempunyai hak untuk minta secara tertulis agar penunjukan atas dirinya bersifat
mutlak, sehingga penunjukan selanjutnya oleh pemegang polis hanya dapat
dilakukan dengan persetujuan tertulis dari tertunjuk mutlak tersebut.
Kedudukan pihak tertunjuk yang sudah meninggal dunia dapat digantikan
oleh ahli warisnya apabila tidak ada lagi pihak yang ditunjuk, perubahan pihak
yang ditunjuk oleh pemegang polis tersebut selamanya harus dengan persetujuan
perusahaan dan harus dinyatakan dalam catatan polis atau keterangan lain dari
perusahaan.
Ad.5. Kewajiban Tertanggung/ Pemegang Polis
Perjanjian asuransi jiwa adalah suatu persetujuan dua pihak dimana pihak
tertanggung membayar premi sebagai prestasi, yang sebagai gantinya menerima
gaji ganti rugi dari penanggung. Pembayaran premi kepada pihak penanggung

Universitas Sumatera Utara

selama kontrak berjalan merupakan kewajiban dari pihak tertanggung/ pemegang


polis.
Untuk menetapkan besarnya premi yang harus dibayar pemegang polis
perlu diperhatikan beberapa prinsip :
a. Besarnya uang pertanggungan
Premi atas uang pertanggungan yang besar akan lebih besar dibandingkan
dengan premi atas uang pertanggungan yang lebih kecil.
b. Umur Tertanggung
Premi atas tertanggung berusia tua akan lebih besar dibandingkan dengan
premi atas tertanggung berumur muda.
c. Cara pembayaran premi
Premi yang dibayar secara bulanan lebih besar dibandingkan dengan premi
tahunan.
d. Masa asuransi
Jumlah premi dengan masa asuransi yang lama akan lebih kecil dibandingkan
dengan masa asuransi yang singkat, kecuali untuk asuransi Jangka Warsa.
e. Jenis asuransi
Premi atas asuransi yang mempunyai manfaat yang banyak akan lebih besar
dibandingkan yang mempunyai manfaat sedikit.
f. Standart dan Substandart
Premi atas asuransi standart akan lebih kecil dibandingkan dengan substandart.

Universitas Sumatera Utara