Anda di halaman 1dari 5

1

Modul 1

Rise Time Budget


Risant Rizqi Dzulauzan (18110018) / Kelompok 9 / Selasa 2 April 2011
Email : risant.rizqi@students.itb.ac.id
Asisten : Mutsla Adlan
AbstrakDalam modul ini, praktikan mengamati efek dispersi
pada penjalaran cahaya LED di fiber optic, baik pada
Singlemode-Fiber maupun pada Multimode-Fiber dengan
metode Rise Time Budget, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh
sinyal untuk meningkatkan nilai tegangan dari low point (10%
amplitude) ke high point(90% amplitude).
Kata KunciRise Time Budget, MATLAB Simulink

I. PENDAHULUAN
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu:
Menggunakan MATLAB Simulink untuk Virtual Network
Laboratory
Melihat hubungan pelebaran pulsa pada generator pulsa,
transmitter, dan receiver pada simulasi serat optik
Mempelajari
metode
Rise
Time
Budget
dan
membandingkannya dengan simulasi

Intramodal dispersion merupakan dispersi yang disebabkan


karena dua hal berikut :
a. Material Dispersion : Dispersi yang disebabkan karena
adanya sebaran perbedaan indeks bias pada material tempat
penjalaran cahaya. Perbedaan indeks bias ini dapat disebabkan
karena adanya perbedaan unsur dan kerapatan material pada
saat fabrikasi fiber optic, sehingga terdapat titik-titik pada
serat fiber dengan indeks bias berbeda-beda.
b. Waveguide Dispersion : Dispersi yang disebabkan karena
adanya perbedaan cepat rambat gelombang yang merambat
pada core dan cladding pada suatu mode tertentu.
Dispersi intermodal adalah Dispersi yang disebabkan
karena adanya perbedaan cepat rambat mode cahaya yang
merambat tepat di tengah core (tidak memantul pada
perbatasan core-cladding) dan mode cahaya yang merambat
dengan memantul mantul sepanjang lintasan fiber optic.
Perbedaan cepat rambat ini menyebabkan perubahan bentuk
gelombang (pulsa melebar) antara transmitter dan reciever.

II. DASAR TEORI


Rise time adalah waktu yang dibutuhkan oleh sinyal digital
untuk menaikkan nilai tegangan dari low point (10%
amplitude) ke high point (90% amplitude)
Rise time budget adalah metode analisa pelebaran pulsa
dengan menghitung rise time nya. Pelebaran pulsa disebabkan
karena adanya efek dispersi saat cahaya menjalar sepanjang
fiber optic.
Rise time total dari suatu link optik (MMF) dapat dihitung dari
rumus berikut:
tsys = k x [t2tx + t2mod + t2GVD + t2rx]
= k x [t2tx + (

D2 2 L2 + (

III. METODOLOGI
3.1. KONFIGURASI AWAL
1) Gunakan program Matlab R2008a
2) Pasang komponen seperti pada gambar berikut :

) ]

Keterangan:
tsys = total link rise time
ttx = transmitter rise time
tmod = modal dispersion rise time
tGVD = GVD rise time
trx = receiver rise time
L = panjang fiber
B0 = bandwidth untuk 1 km fiber
D = dispersi
Brx = bandwidth-3dB receiver
= Half power spectral width of the source
k = 1.1 (jika yang ingin diketahui adalah tsys untuk worst case)
Dispersi pada penjalaran cahaya pada serat optik dibagi
menjadi dua yaitu intramodal dispersion dan intermodal
dispersion.

3) Atur parameter setiap komponen dengan spesifikasi


sebagai berikut :
a. Pulse Generator
i. Bit rate : 1Gbps
ii. Amplitude : 1mA
iii. Duty Cycle : 100
b. LED
i. Quantum Efficiency : 1mW/mA
ii. Bias Current : 1mA
iii. Rise Time : 0.1ns
iv. Fall Time : 0.05ns
v. Wavelength : 1550 nm
vi. Spectral Width : 30nm
vii. Beamwidth : 1
c. SMF
i. Attenuation : 0dB/km

2
ii. Length : 1km
iii. Dispersion : 0.01ns/nm.km
iv. Numerical Aperture : 0.2425
v. Indeks Bias Inti : 1.48
vi. Indeks Bias Cladding : 1.46
d. PIN Diode
i. Responsivity : 1mA/W
ii. Peak Responsivity Wavelength :
1550nm
iii. Upper Wavelength Cut-Off :
1700nm
iv. Lower Wavelength Cut-Off :
850nm
v. Dark Current : 0A
vi. Rise Time : 0.1ns
4) Jalankan simulasi
5) Amati hasil pada scope
6) Amati hasil pada Workspace

Gambar Scope pada pin keluaran generator sinyal dan


transmitter

3.2. PENGAMATAN RISE TIME BUDGET


1) Amati scope dan numerik pada reciever untuk
a. dispersi serat 0.01-0.04 dengan selisih 0.005
b. pada dispersi 0.03, amati rise time LED 0.52 dengan selisih 0.5
2) Hitung rise time dengan perhitungan dan bandingkan
dengan hasil pada scope
3.3. PENGAMATAN HUBUNGAN LENGTH
WAVELENGTH DENGAN RISE TIME

FIBER

DAN

1) Ubah nilai rise time dan fall time LED menjadi 0.1,
dispersi serat menjadi 0.01. Wavelength pada LED
menjadi 850nm, 1350nm, 1550nm, dan 1700nm.
Lakukan pengamatan untuk length fiber 1-50km
dengan selisih 10km.
2) Pada length fiber 5km, lakukan pengamatan rise time
pada wavelength : 850nm, 1350nm, 1400nm,
1550nm, dan 1700nm. Lakukan pengamatan.
3) Ganti SMF menjadi MMF-SI dan lakukan
pengamatan terhadap perubahan nilai rise time nya.

IV. HASIL DAN ANALISIS


4.1. Konfigurasi Awal
Pada pengamatan konfigurasi awal ini, hasil yang terlihat
adalah, pelebaran pulsa terlihat pada pin reciever. Untuk
memperjelas hal tersebut, dapat dilihat gambar berikut.

Gambar Scope pada pin reciever


Terdapat dua hal yang jelas berbeda dari kedua gambar di
atas. Hal pertama, yaitu bentuk sinyal yang tadinya kotak
sempurna berubah menjadi lebih lebar dengan daerah rise dan
fall nya menjadi lebih landai. Hal ini merupakan fenomena
pelebaran pulsa yang disebabkan karena adanya dispersi pada
serat fiber. Hal kedua yang terlihat berbeda adalah perubahan
nilai amplitude sinyal pada pin reciever lebih kecil
dibandingkan dengan pada pin transmitter. Hal ini disebabkan
terjadinya pelemahan sinyal atau atenuasi selama penjalaran
sinar LED sepanjang fiber optic.
4.2. Pengamatan Rise Time Budget
Pada bagian ini dan seterusnya, praktikan tidak
menggunakan data yang praktikkan dapatkan sendiri pada saat
melakukan praktikum. Hal ini dikarenakan praktikkan
melakukan kesalahan dengan menghilangkan modul
praktikum yang berisikan seluruh catatan hasil yang
didapatkan selama praktikum berlangsung. Oleh karena itu,
praktikkan menggunakan data yang didapatkan oleh teman
satu kelompok praktikkan, yaitu Thariq Abdullah M I Aziz
dengan NIM 18110019 sebagai sumber untuk dianalisa atas
sepengetahuan pihak yang bersangkutan.
Untuk menganalisa hubungan perbedaan nilai dispersi serat
dengan besarnya rise time, digunakan nilai dispersi serat 0.010.04 dengan selisih 0.005. Berikut adalah tabel dan grafik
yang praktikkan dapatkan :

t10% (ps)

t90% (ps)

Rise Time
hasil
pengamatan
(ps)

0.01

235

457

222

0.015

1180

1547

367

0.02

274

680

406

Rise time
hasil
perhitungan
(ps)

0.025

289

813

524

2000

0.03

304
-

943
-

639
-

1500

0.035
0.04

1000

700

500

600
500

400

300
200
100
0
0

0.01

0.02

0.03

0.04

0.05

Tabel dan grafik di atas menunjukkan nilai rise time


berdasarkan besarnya nilai dispersi serat optik. Sesuai dengan
hasil pengamatan dan perhitungan, didapatkan nilai rise time
bertambah seiring dengan bertambah besarnya dispersi pada
serat optik. Semakin besarnya rise time menunjukkan semakin
besarnya pula pulsa yang diterima oleh reciever. Maka, jika
nilai dispersi terlalu besar, dapat menyebabkan nilai rise time
yang sangat besar pula yang dapat mengakibatkan reciever
tidak dapat membedakan lagi mana pulsa yang memberikan
kode high 1 dan low 0, sehingga bit yang diterima
menjadi tumpang tindih. Hal ini menyebabkan terjadinya bit
error pada reciever.
Pada tabel di atas terlihat pula perbedaan nilai yang
didapatkan dari hasil perhitungan dan hasil pengamatan pada
scope. Namun, hasil yang lebih akurat ditunjukkan pada
scope, hal ini dikarenakan perhitungan yang dilakukan
mathlab jauh lebih akurat dibanding dengan yang dilakukan
oleh praktikan, dikarenakan banyak unsur yang tidak
praktikan hitung (diabaikan) dalam rumus.
Untuk menganalisa hubungan antara perubahan nilai rise
time transmitter dengan nilai rise time pada reciever,
dilakukan percobaan dengan menset nilai dispersi serat 0.03,
nilai fall time LED sebesar 0.5ns, dan memvariasikan nilai rise
time LED dari 0.5ns sampai 2ns dengan selisih 0.5ns. Berikut
adalah tabel dan grafik yang praktikkan dapatkan :

0.5

1.5

2.5

Tabel dan grafik di atas menunjukkan nilai rise time pada


reciever berdasarkan nilai rise time pada transmitter.
Pengamatan menunjukkan bahwa semakin besarnya nilai rise
time pada transmitter menyebabkan semakin besar pula nilai
rise time pada reciever. Namun, pada data yang didapat,
terdapat sedikit keanehan dimana nilai rise time reciever
menjadi lebih rendah saat nilai rise time LED dinaikkan dari
1ns ke 1.5ns.
4.3. Pengamatan Hubungan Length Fiber dan Wavelength
dengan Rise Time
Untuk mengamati pengaruh panjang fiber terhadap
besarnya rise time pada SMF, dilakukan pengamatan terhadap
empat panjang wavelength yang berbeda yaitu 850nm,
1350nm, 1550nm, dan 1700nm, sementara nilai fiber length
divariasikan dari 1km hingga 50km dengan selisih 10km.
Dikarenakan praktikkan menghilangkan modul praktikum
yang berisi catatan untuk panjang gelombang 850nm, maka
praktikkan menggunakan data yang didapatkan oleh Zaki
Abdurrasyid dengan NIM 18110006 dengan sepengetahuan
pihak yang bersangkutan. Berikut adalah tabel beserta grafik
yang praktikkan dapatkan :
Wave
length
(nm)

Length
(km)

t10% (ps)

t90% (ps)

Rise Time
(ps)

141

10

215

20

468

30

613

40

Rise Time
(LED)

t10% (ps)

t90% (ps)

Rise Time
(ps)

0.5

357

1003

646

170

434

264

4349

5024

678

10

2161

2415

254

1.5

397

1036

639

20

2195

2680

485

519

2256

1737

30

303

943

643

40

4108

4198

90

10

4161

4413

252

850

1300

1550

50

50

20

2195

2680

486

300

30

4227

4944

717

250

40

200

1107

1197

90

150

198

389

191

100

4195

4680

485

50

4226

4944

718

50
1
10
20
30
40
1700

50

800
700
600
500
400
300
200
100
0

850
1300
1550
1700

10

20

30

40

Praktikkan mendapatkan hasil dimana perbedaan nilai


wavelength tidak terlalu mempengaruhi besarnya nilai rise
time. Hal ini terlihat pada grafik di atas, dimana garis yang
menunjukkan tiap nilai wavelength saling berhimpit dan
nilainya tidak jauh berbeda. Hal ini menyalahi literatur,
dimana seharusnya dispersi terjadi paling besar pada
wavelength 850nm dan paling kecil pada wavelength 1550nm.
Praktikkan juga mendapatkan hasil bahwa semakin panjang
fiber yang digunakan, maka semakin besar pula nilai rise time
nya. Hal ini sesuai dengan literatur dan juga dapat dianalisis
kebenarannya dari rumus, dimana panjang fiber berbanding
lurus dengan besar rise time. Maka, semakin panjang fiber
yang digunakan menyebabkan semakin besar pula dispersi
yang akan terjadi.
Untuk mengamati pengaruh wavelength yang digunakan
terhadap besarnya rise time, dilakukan pengamatan dengan
menset panjang fiber 5km dan memvariasikan nilai
wavelength pada nilai 850nm, 1350nm, dan 1550nm. Hal ini
ditujukan untuk melihat pada wavelength berapakah dispersi
yang terjadi paling minimum. Hasil yang praktikkan dapatkan
dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :
(nm)

t10% (ps)

t90% (ps)

Rise Time
(ps)

850

2139

2290

151

1350

203

436

233

1550

205

439

234

500

1000

1500

2000

Hasil di atas menunjukkan bahwa semakin panjang


gelombang yang digunakan, maka semakin besar pula nilai
rise time nya. Hal ini menyalahi literatur, dimana seharusnya
nilai rise time paling kecil pada panjang gelombang 1550nm,
dan paling besar pada panjang gelombang 850nm.
Untuk mengamati pengaruh penggunaan MMF-SI
dibandingkan dengan SMF pada besarnya rise time, dilakukan
pengamatan ulang terhadap pengamatan terakhir, namun
digunakan jenis fiber yang berbeda yaitu MultimodeStepIndex. Hasil yang praktikkan dapatkan adalah sebagai
berikut :
(nm)

t10% (ps)

t90% (ps)

Rise Time
(ps)

850

2166

2449

283

1350

239

470

231

1550

300
250
200
150
100
50
0
0

500

1000

1500

2000

Pada Tabel dan grafik di atas terlihat bahwa pada


wavelength 850nm, nilai rise time pada multimode-fiber jauh
lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai rise time pada
singlemode-fiber. Namun, pada wavelength 1350nm,
praktikkan melakukan kesalahan pengukuran pada SMF
sehingga nilai rise time untuk multimode-fiber lebih rendah
dibandingkan dengan nilai rise time pada singlemode-fiber.
Nilai rise time singlemode-fiber lebih rendah jika
dibandingkan dengan multimode-fiber disebabkan karena pada
singlemode-fiber tidak terjadi intermodal dispersion,
disebabkan karena singlemode-fiber hanya memuat satu
modal saja.

5
V. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah praktikkan lakukan, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1) Mathlab
Simulink dapat
digunakan untuk
menganalisa terjadinya dispersi pada serat optik.
Mathlab Simulink dapat menunjukkan respons V
terhadap t yang terjadi pada setiap node pada
rangkaian, sehingga user dapat dengan mudah
melihat pelebaran pulsa yang terjadi.
2) Pelebaran pulsa terjadi antara node transmitter
dengan reciever disebabkan karena dispersi terjadi
pada serat optik tempat menjalarnya cahaya
pembawa sinyal.
3) Faktor-faktor yang menyebabkan semakin besarnya
nilai rise time yang berakibat pada semakin besarnya
pelebaran pulsa adalah sebagai berikut :
a. Semakin besarnya nilai dispersi pada serat
optik
b. Semakin besarnya nilai rise time pada
transmitter
c. Semakin panjangnya fiber yang digunakan
d. Nilai wavelength yang digunakan, dimana
nilai ini bervariasi. Panjang gelombang yang
paling efektif digunakan agar pelebaran
pulsa yang terjadi minimum adalah 1550nm
yang merupakan wavelength window ke-3,
sedangkan penggunaan panjang gelombang
850nm (wavelength window pertama) dan
1700nm menghasilkan pelebaran pulsa yang
besar.
4) Singlemode-Fiber lebih efektif digunakan untuk
transmisi optik jarak jauh dibandingkan dengan
multimode-Fiber, karena dispersi yang terjadi pada
singlemode-Fiber jauh lebih kecil dibandingkan
dengan pada multimode-Fiber. Hal ini disebabkan
karena pada singlemode-Fiber tidak terjadi
intermodal dispersion dikarenakan pada singlemode
Fiber hanya digunakan satu modal saja untuk
penjalaran cahaya dalam fiber optic. Sehingga,
penggunaan singlemode-Fiber dapat meminimalisir
terjadinya bit error pada reciever.

VI. DAFTAR PUSTAKA


[1] Modul 1 Praktikum Sistem Komunikasi Optik, Rise Time Budget,
2010.
[2] Gerd Keiser, Optical Fiber Communication, 3rd ed. New york:
McGraw-Hill,2000

Biografi Praktikkan
Risant Rizqi Dzulauzan, dengan panggilan
Ichan merupakan seorang putra dari
pasangan Anto Hermawan dan Reris
Rusdiana merupakan mahasiswa pada
Institut Teknologi Bandung yang saat ini
sedang
menekuni
jurusan
Teknik
Telekomunikasi. Ichan lahir pada tanggal
13 Juni 1992 di Jakarta. Ichan memulai

tahap pendidikan formal di Sekolah Dasar Islam Al-Izhar


Pondok Labu dan kemudian meneruskan jenjang pendidikan
SMP di institusi yang sama yaitu SMPI Al-Izhar Pondok
Labu. Ichan kemudian melanjutkan ke tahap pendidikan SMA
di SMAN 8 Jakarta.

Kesan & Pesan Terhadap Asisten :


Mutsla Adlan adalah seseorang yang sangat bersemangat dan
giat berusaha. Kerja keras dan antusiasme nya tersebut
ditunjukkan pada saat Saudara Adlan melakukan kesalahan
yang sedikit memberikan kesulitan bagi para praktikkan,
Saudara Adlan tetap berusaha dan memberikan dorongan dan
semangat bagi pada praktikkannya untuk dapat menyelesaikan
praktikum dengan sempurna. Berkat dorongan dan semangat
yang ia curahkan, akhirnya para praktikkan dapat
menyelesaikan praktikum ini dengan sempurna. Terimakasih
Saudara Adlan dan tetap semangat. Gw ga njilat lho dlan.
Sorry telat ngumpulin laporannya.