Anda di halaman 1dari 6

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Oksigen Terlarut


Oksigen terlarut ( DO ) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air
yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut
di suatu perairan sangat berperan dalam proses penyerapan makanan oleh
mahkluk hidup dalam air. Umtuk mengetahui kualitas air dalam suatu
perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia
seperti aksigen terlarut (DO). Semakin banyak jumlah DO (dissolved
oxygen ) maka kualitas air semakin baik.jika kadar oksigen terlarut yang
terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi
anaerobik yang mungkin saja terjadi. Satuan DO dinyatakan dalam
persentase saturasi. Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup
untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian
menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu,
oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan bahan organik dan
anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu
perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil
fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (SALMIN.
2000). Kecepatan difusi oksigen dari udara tergantung dari beberapa faktor
seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara
seperti arcs, gelombang dan pasang surut. ODUM (1971) menyatakan
bahwa kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin
rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada
lapisan permukaaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses
difusi antar air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis.
Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen
terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen
yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan bahan
organik dan anorganik. Keadaan oksigen terlarut berlawanan dengan
keadaan BOD, semakin tinggi BOD semakin rendah oksigen terlarut.
Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada
lems, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam
keadaan diam relatif lebih sedikit dibandingkan dengan ikan pada saat
bergerak. Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam
keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun. Idealnya,
kandungan oksigen terlarut dan tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama
waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 %
(HUET, 1970). KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut
adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut
( ANONIMOUS,2004). Oksigen memegang peranan penting sebagai
indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses
oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga
menentukan biologik yang dilakukan oleh organisme aerobik dan

anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk


mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah
nutrien yang ada pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan.
Dalam kondisi anaerobik oksigen yang dihasilkan akan mereduksi
senyawa senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien
dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen
terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran
pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang
ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga.
Oksigen terlarut dapat dianalisis dengan 2 macam cara, yaitu :
a.
Metoda titrasi dengan cara WINKLER
b.
Metoda elektrokimia
2.2 Biologi Terumbu Karang
2.2.1 Metode Titrasi dengan Cara Winkler
Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang
akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H - KI,
sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan menambahkan H2SO4 atan
HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan
membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut.
Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar
natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum
(kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan :
MnCI2 + NaOH ==> Mn(OH)2 + 2 NaCI
Mn(OH)2 + O2 ==> 2 MnO2 + 2 H20
MnO2 + 2 KI + 2 H2O ==> Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
\I2 + 2 Na2S2O3 ==> Na2S4O6 + 2 NaI
2.2.2 Metode Elektrokimia
Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia
adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO
meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri
dari katoda dan anoda yang direndam dalam larutan elektrolit. Pada alat
DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda
timbal (Pb). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran
plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Reaksi kimia yang
akan terjadi adalah
Katoda : O2 + 2 H2O + 4e ==> 4 HOAnoda : Pb + 2 HO- ==> PbO + H20 + 2e
2.2.3 Kelebihan dan Kekurangan Metode Winkler
Kelebihan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut
(DO) adalah dimana dengan cara titrasi berdasarkan metoda WINKLER

lebih analitis, teliti dan akurat apabila dibandingkan dengan cara alat DO
meter. Hal yang perlu diperhatikan dala titrasi iodometri ialah penentuan
titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tio dan penambahan indikator
amilumnya. Dengan mengikuti prosedur yang tepat dan standarisasi tio
secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih
akurat. Sedangkan cara DO meter, harus diperhatikan suhu dan salinitas
sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital
terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter.
Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan kalibrasi
alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan
pengalaman di lapangan, penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi
lebih dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alat DO
meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya hanya bersifat kisaran.
Kelemahan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut
(DO) adalah dimana dengan cara WINKLER penambahan indikator
amylum harus dilakukan pada saat mendekati titik akhir titrasi agar
amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar
bereaksi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan
sesegera mungkin, hal ini disebabkan karena I2 mudah menguap. Dan ada
yang harus diperhatikan dari titrasi iodometri yang biasa dapat menjadi
kesalahan pada titrasi iodometri yaitu penguapan I 2, oksidasi udara dan
adsorpsi I2 oleh endapan.
2.3. Larutan Standar Thiosulfat
Larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) termasuk dalam larutan baku
sekunder, oleh karena itu, larutan yang akan digunakan dalam titrasi perlu
distandardisasi terlebih dahulu. Hal ini disebabkan kestabilan larutan ini
mudah dipengaruhi oleh pH rendah (<5), sinar matahari, dan adanya daya
bakteri yang memanfaatkan sulfur (S). Pada pH yang rendah (<5),
kestabilan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) akan terganggu sebab S2O32akan mengalami penguraian menurut reaksi berikut :
S2O32- + H+ D HS2O3- D HSO3- + S
Reaksi penguraian yang terjadi pada S2O32- ini berjalan lambat,
maka kesalahan pada waktu titrasi tidak perlu dikuatirkan walaupun
larutan yang dititrasi bersifat cukup asam, asal titrasi dilakukan dengan
penambahan titran yang tidak terlalu cepat. Selain disebabkan adanya

reaksi penguraian S2O32-, ketidakstabilan larutan natrium tiosulfat


(Na2S2O3) juga dipengaruhi oleh adanya aktivitas dari bakteri yang
menyebabkan terjadinya perubahan S2O32- menjadi SO3-, SO42-, dan S. S
ini tampak sebagai endapan koloidal yang membuat larutan menjadi keruh
( tanda bahwa larutan harus diganti ). Untuk mencegah aktivitas dari
bakteri, pada pembuatan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) hendaknya
digunakan air yang sudah dididihkan atau dapat pula ditambahkan
pengawet seperti khloroform, natrium benzoat, atau HgI2.
Standarisasi larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) biasanya
menggunakan larutan KIO3 yang mempunyai kemurnian yang tinggi,
sehingga cukup memenuhi syarat sebagai larutan baku primer. Namun
sebagai baku primer KIO3 juga mempunyai kelemahan yaitu mempunyai
berat ekivalen yang cukup rendah yaitu sebesar 35,67.
Daftar Pustaka :
Harijadi, W., 1993, Ilmu Kimia Analitik Dasar, halaman 212- 233, PT.
Gramedia, Jakarta.
2.4 Indikator Amilum
Pati disebut juga amilum, terbagi dua yaitu :
1. Amilosa atau disebut -amilosa
Yaitu suatu senyawaan berantai lurus dan terdapat berlimpah dalam pati
kentang, memberi warna biru dengan iod dan rantainya mengambil bentuk
spiral.
2. Amilopektin atau -amilosa
Amilopektin mempunyai struktur rantai bercabang, membentuk suatu
produk berwarna ungu-merah, mungkin dengan adsorbsi.
Mekanisme pembentuka kompleks berwarna tidak dikerahui
dengan tepat. Akan tetapi molekul iodium akan ditahan pada permukaan
amilosa, salah satu unsur kanji. Unsur kanji lain yaitu amilopektin
membentuk kompleks kemerah-merahan (violet) dengan yodium, yang
sulit dihilangkan warnanya karena rangkaian yang panjang dengan Mr.
50000-1000000 sedangkan amilosa Mr. 10000-50000.
Dari kenyataan itu sebaiknya jika pati banyak mengandung
amilopektin jangan dipakai sebagai indicator. Larutan kanji /pati mudah
terurai oleh bakteri dapat dicegah dengan penambahan larutan pengawet
yaitu HgI2, asam borat, asam furoat keadaan ini menyebabkan hidrolisa
atau koagulasi dari kanji harus dihindarkan. Ketajaman indicator akan
berkurang dengan bertambahnyasuhu dan kekuatam atau dya tarik serta
pH dan waktu.

Keunggulan kanji yang utama adalah harganya murah, namun kelemahankelemahannya sebgai berikut :
1. Tidak dapat larut dalam air dingin
2. Ketidakstabilan suspense dalam air
3. Dengan iod memberi suatu kompleks yang tak larut dlam air, sehingga
kanji tidak boleh ditambahkan terlalu dini dalam titrasi.
4. Kadang-kadang terdapat titik akhir yang hanyut yang mencolok bila
larutan encer.
Kanji tidak boleh ditambahkan pada medium yang sangat asam
karena akan terjadi hidrolisis dari kanji itu, juga penambahan etanol 50%
atau lebih karena warna tidak akan muncul.
2.5 Kadar Oksigen Terlarut di Suatu Perairan Laut dan Tawar
Disolved Oxygen (DO) merupakan banyaknya oksigen terlarut
dalam suatu perairan. Oksigen terlarut merupakan faktor yang sangat
penting di dalam ekosistem perairan, terutama sekali dibutuhkan untuk
proses respirasi bagi sebagian besar organisme-organisme air. Kelarutan
oksigen di dalam air sangat dipengaruhi terutama oleh faktor suhu.
Kelarutan maksimum oksigen di dalam air terdapat di dalam air terdapat
pada suhu 0 oC, yaitu sebesar 14,16 mg/l O 2. Dengan terjadinya
peningkatan suhu akan menyebabkan konsentrasi oksigen akan menurun
dan sebaliknya suhu yang semakin rendah akan meningkatkan konsentrasi
oksigen terlarut (Barus, 2004).
Menurut Effendi (2003), oksigen merupakan salah satu gas yang
terlarut dalam perairan. Kadar oksigen yang terlarut alami bervariasi,
tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air dan tekanan atmosfer.
Semakin besar suhu dan ketinggian serta semakin kecil tekanan atmosfer,
kadar oksigen terlarut semakin kecil. Semakin tinggi suatu tempat dari
permukaan air laut, tekanan atmosfer semakin rendah. Kadar oksigen
terlarut juga berfluktuasi secara harian dan musiman, tergantung pada
percampuran dan pergerakan massa air, aktifitas fotosintesis, respirasi, dan
limbah yang masuk ke badan air. Sumber oksigen terlarut dapat berasal
dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (sekitar 35%) dan aktifitas
fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Difusi oksigen kedalam
air dapat terjadi secara langsung pada kondisi air diam/ stagnan (Yin,
2004).

2.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan Oksigen Terlarut


Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung dari beberapa faktor,
seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa dan udara, seperti
kekeruhan, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara, seperti arus,
gelombang dan pasang surut (Salmin, 2005)
Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintesis tumbuhan air dan
dari proses fotosintesis tumbuhan air dan dari udara yang masuk ke dalam
air. Konsentrasi DO dalam air tergantung pada suhu dan tekanan udara. Pada

suhu 200C tekanan udara satu atmosfer konsentrasi DO dalam keadaan jenuh
9,2 ppm dan pada suhu 500 C (tekanan udara sama) konsentrasi DO adalah
5,6 ppm (Manik, 2000)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan oksigen dalam air menurut
(WILLOUGHBY, 1978; REID, 1961; WELCH, 1980) :
1. Suhu
2. Salinitas
3. Pergerakan air di permukaan
4. Tekanan atmosfer
5. Persentase oksigen di sekitarnya
2.7 Penanggulangan Kelebihan & Kekurangan Oksigen Terlarut
Cara untuk menanggulangi jika kelebihan kadar oksigen terlarut
adalah dengan cara :
1. Menaikkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur naik maka
kadar oksigen terlarut akan menurun.
2. Menambah kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut maka
semakin kadar oksigen terlarut akan menurun karena proses fotosintesis
semakin berkurang dan kadar oksigen digunakan untuk pernapasan dan
oksidasi bahan bahan organik dan anorganik.
Cara untuk menanggulangi jika kekurangan kadar oksigen terlarut
adalah dengan cara :
1. Menurunkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur turun maka
kadar oksigen terlarut akan naik.
2. Mengurangi kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut maka
semakin kadar oksigen terlarut akan naik karena proses fotosintesis
semakin meningkat.
3. Mengurangi bahan bahan organik dalam air, karena jika banyak
terdapat bahan organik dalam air maka kadar oksigen terlarutnya rendah.
4. Diusahakan agar air tersebut mengalir.