Anda di halaman 1dari 19

PERLAKUAN PANAS DAN PERMUKAAN

1. Perlakuan panas pada baja perkakas (Tool Steel)


A. HIGH SPEED STEEL (HSS)

High speed stell (HSS) merupakan perkakas yang tahan terhadap kecepatan kerja yang
tinggi dan tempeatur yang tinggi juga dengan sifat tahan softening, tahan abrasi dan tahan
breaking.

Klasifikasi HSS menurut komposisinya terdiri atas :

a. HSS Konvensional yaitu :


Group M (Molybdenum HSS)
Group T (Tungsten HSS)

b. HSS Spesial yaitu :


Cobalt added HSS
High vanadium HSS
High hardness Co HSS
Cast HSS
Powdered HSS
Coated HSS

a. HSS Konvensional

HSS Konvensional jenis T (paduan utama tungsten/wolfram) terutama digunkana


untuk pahat-pahat yang kecil. Paduan karbon dan kromium berfungsi untuk meningkatkan
kekerasan tool steel. Penambahan vanadium sebanyak kurang dari 1% akan memperhalus
butir. Semakin besar konsentrasi vanadium maka semakin cepat terbentuknya vanadium
karbida sehingga menambah ketahanan terhadap keausan. Tungsten digunakan untuk
menghasilkan ketahanan terhadap softening (pelunakan) pada temperatur tinggi.

Jenis molybdenum memerlukan proses laku panas dengan tungku kolam garam (salt
bath furnace) untuk menghindari terjadinya proses dekarburisasi. Tungku tersebut terdiri
atas tiga bagian yaitu :
1. Preheat salt berisi KCl dan NaCl pada temperatur 740-875 0C
2. High heat salt berisi BaCl2 pada temperatur 1150-1200 0C
3. Quenching salt berisi CaCl2, KCl, NaCl pada temperature 550-600 0C

Dalam high heat salt bath furnace BaCl2, teroksidasi menjadi BaO yang dihilangkan
secara periodik

(untuk mencegah terjadinya dekarburisasi

pada

HSS) dengan

menambahkan silika (menjadi Ba silicate yang terapung) atau menambahkan methychoride


(menjadi BaCl2, melepaskan gas H2 dan CO).
Proses pembuatan HSS konvensional ini dilakukan dengan cara secondary
hardening yaitu perlakuan pengerasan kedua dengan tujuan menghilangkan austenit sisa
dan tegangan sisa. Proses perlakuan panas ini dibagi menjadi 4 bagian:
Preheating (pemanasan awal)
Austenisasi (pengerasan)

Quenching (pendinginan)
Tempring (pengerasan)

Dengan penjelasan sebagai berikut:


Preheating

Preheating mempunyai tujuan untuk:


Mengurangi thermal shock (panas tiba-tiba) yang timbul ketika perkakas dingin
diletakkan ke tumgku yangpanas. Tujuannya adalah untuk mengurangi terjadinya retak.
Meningkatkan produktivitas dengan cara mempercepat waktu proses pemanasan pada
tungku.
Mengurang jika terjadinya karburisasi yang terbentuk jika tidak dilakukannya preheating.
Austenisasi

Austenisasi merupakan proses pembentukan austenit yang tergantung pada


temperatur dan lamanya proses yang dilakukan. Sifat high speed tool steels mengakibatkan
terhalangnya proses pelarutan campuran karbida selama austenisasi. Campuran karbida
tidak akan larut kecuali baja tersebut dipanaskan antara temperature 280C 560C (500F
1000F) yaitu titik cairnya. Temperatur proses austenisasi bekisar antara 1150C- 12900C
(2100F 12500F) dan pertahankan selama 2 6 menit,tergantung pada jenis baja dan
peralatan.
Quenching

Proses quenching atau pendinginan dari temperature austenisasi bertujuan untuk


merubah austenit yang terbentuk pada temperatur tinggi menjadi struktur martensit yang
keras. Kadang proses quenching dilakukan dua tahap, pertama sekali dilakukan
pendinginan minyak hingga antara temperature 5400C 5950C (1000 sampai 11000F),
setelah itu dilanjutkan dengan pendinginan udara hingga mendekati temperatur daerah
sekitar.
Tempering

Setelah proses austenisasi dan quenching, baja mengalami tegangan yang tinggi dan
oleh karena itu rawan terhadap retak. Proses temper awal terjdi antara temperature 600
sampai 8500C berfungsi untuk meningkatkan ketangguhan baja dan memungkinkan untuk
dilakukan tahap pengerasan kedua.

Proses temper kedua mengurangi stress sisa dan mengubah austenit sisa dari proses
quenching menjadi martensit. Endapan karbida yang terbentuk membantu proses secondary
hardening, menyisakan karbida dan karbon.

Gambar. Proses Tempering

b. HSS Spesial

HSS dengan paduan Cobalt akan menyebabkan HSS mempunyai sifat-sifat hot
hardness dan wear resistance yang lebih baik.
High hardness Co-HSS

Adalah jenis yang relatif baru dari HSS, kekerasannya dapat mencapai 69-70HRC
sehingga memiliki hot hardness yang tinggi dengan ketangguhan yang cukup. Dengan
kecepatan potong yang sedikit lebih rendah dari kecepatan potong pahat karbida serta
dengan sudut geram yang besar, maka jenis pahat ini mampu memotong benda kerja
yang telah dikeraskan, titanium steel serta baja campuran Ni dan Co yang sulit dipotong
(turbin jet engine). Mudah digerinda akan tetapi sewaktu heat treatment perlu
pengontrolan temperatur yang seksama.
Cast HSS

Dengan majunya teknologipenuangan, makaHSS mungkindituang menjadi


bentuk-bentuk yang rumit dari perkakas potong (misalnya milling cutter) dengan
keuletan yang cukup baik. Hampir semua jenis baja perkakas dapat dituang, dalam hal
ini penuangan lebih dimaksudkan untuk menghindari permesinan (pembentukan
geometri pahat) dari bahan HSS yang susah dibentuk dengan proses konvensional
(jenis paduan tinggi seperti T 15).
Powdered HSS

Merupakan salah satu teknik untuk memperhalus besar butir dengan cara
menyentir (sintering) serbuk halus karbida dengan tjuan untuk mempertinggi kekuatan
(transverse rupture strength) dan hot hardness, selain itu sifat machinability,
grindability, maupun hettebility-nya menjadi lebih baik. Serbuk ferritte di dapat dengan

teknik atomisasi secara semburan air atau gas mulia, teknik sentrifugal ataupun teknik
elektroda putar. Pada teknk water jet serbuk ferritte akan teroksidasi sehingga perlu
direduksi pada waktu sintering. Serbuk TiC, WC atau MoC dibuat dengan cara
karburisasi, pengilingan serta penyaringan serbuk ferritte dan karbida ini dicampur
dengan perbandingan berat tertentukemudian dipanaskan sambil ditekan. Hasil proses
sintering ini berupa bahan dasar mula yang diproses lebih lanjut secara tempa
ataupunpengerolan menjadi bahan baku HSS berupa batang, silinder atau plat.
Coated HSS

Baja HSS biasa (molten HSS) maupun powdered HSS setelah dibentuk menjadi
perkakas potong (pahat gurdi, hob, tap dsb) dapat dilapisi Nitrida maupun oksida
dengan proses PVD diperlukan energi yang tinggi untuk menguapkan metal/bahan
pelapis secara induksimaupun penembakan berkas elektron. Dalam kamar reaksi uap
bahan pelapis tersebut menempel pada benda yang akan dilapis karena daya tarik
molekuler. Proses pelapisan dapat dilakukan pada temperatur di bawah temperatur
tempering HSS (550 0C), sehingga tidakterjadi perubahan bentuk atau pelunakan.

Pada umumnya lapisan oksida sangat stabil pada temperatur kerja yang tinggi.
Selain dari penarikan tahanan keausan lapisan ini juga mempunyai sifat non adhesi
sehingga mencegah terjadinya BUE. Jika kecepatan potong yang digunakan terlalu
tinggi akan terjadi keausan kawah sedangkan keausan tepi hampir tidak terjadi.
Pemakaian coated HSS perlu direncanakan dengan cermat sebab lapisan trinida ataupun
oksida tersebut sesungguhnya sangat tipis lagi pula sangat dipengaruhi oleh keandalan
lapisan serta keseragaman pelapisan.

Semua jenis HSS dapat diperkeras hingga tingkat yang lebih tinggi daripada jenis
tool steel lainnya, HSS memiliki partikel karbida yang tersebar dengan baik yang dapat
meningkatkan ketahanan terhadap keausan.

B. HOT WORK TOOL STEEL

Hot work tool steel merupakan baja perkakas yang tahan terhadap tekanan tinggi pada
temperatur tinggi, tahan terhadap abrasi, loading. Berdasarkan paduannya, HWTS (Hot Work
Tool Steel) dibagi menjadi tiga tipe :
Tipe Chromium (H1-H19)
Tipe Tungsten (H20-H39)
Tipe molybdenum (H40-H59)

Paduan dari HWTS yaitu W< Mo< CR, dan V yang berguna untuk membentuk
karbida pada waktu proses temper yang mencegah terjadinya dislokasi dan mengurangi efek
softening pada waktu pemanasan. HWTS juga dibuat melalui pengerasan kedua atau
peningkatan kekerasan pada waktu tempering.

Untuk tipe Chromium bersifat resist softening (tahan terhdapa pelunakan) hingga
temperatur 800 0F (430 0C) sedangkan tipe tungsten bersifat softening hingga temperatur
1150 0F (620 0C). komposisi dari H10 hingga H13 sama dan juga memiliki kekerasan yang
sama. H14 dan H19 terdiri dari tungsten yang banyak untuk meningkatkan kekerasan dan
ketahanan terhadap hot erotion. H11 dan H13 banyak digunakan untuk HWTS. H11
digunakan untuk aplikasi struktural, dan H13 dipakai di industri untuk pengerjaan panas.

Baja tersebut secara kasar dapat digolongkan menjadi baja yang diperkuat oleh Cr,
Mo, dan W baja yang diperkuat dengan presipitasi :
Hot work tool steel yang diperkuat dengan Cr

Baja ini mepunyai mampu keras yang baik, jadi meskipun ukurannya besar, dapat
dikeraskan dengan udara. Ketahanan pada temperatur tinggi sedikit kurang dibandingkan
dengan baja yang diperkeras oleh W, tapi mempunyai ketahanan yang baik terhadap
pemanasan berulang, dan pendinginan berulang dan sangat ulet. Kalau V ditambah 1%
ketahanan pelunakan karena penemperan menjadi lebih tinggi, jadi ketahanan panas dan
tahan terhadap kerugian karena fusi logam yang cair dapat diperbaiki. Dengan
menambahkan 1% W kekuatan panasnya dapat diperbaiki.
Hot work tool steel yang diperkuat dengan Mo

Baja ini sangat mudah dkeraskan dengan pendinginan udara. Sifat-sifatnya ada diantara
sifat baja tipe Cr dan tipe W, lebih kuat dari tipe W dalam keadaan panas dan mempunyai
keuletan yang lebih baik. Tetapi baja ini mudah mengalami dekarburisasi.
Hot work tol steel yang diperkuat dengan W

Mampu keras baja ini kurang baik tetapi dapat dikeraskan dengan pendinginan udara.
Ketahanan pelunakan lebih baik pada temperature tinggi tetapi kalau W bertambah
konduktivitas panasnya berkurang yang menyebabkan lemah terhadap kelelahan termal.
Dalam tipe ini telah dibuat baja yang ditambah dengan Co dengan maksud untuk
memperbaiki kekuatan panas dan ketahanan impact.
Pengerasan presipitasi Hot work tool steel

Setiap baja perkakas dapat mengalami pengerasan kedua pada waktu penemperan, hal ini
hanya terjadi sedikit ada tiga macam benda baja di atas, tetapi baja tersebt mempunyai
kekerasan yang rendah setelah dikeraskan sementara itu pengerjaan permesinan dapat
dilakukan dengan mudah. Dengan presipitasi setelah permesinan kekerasannya meningkat.
Pada umunya baja tersebut ditemper sampai pada kekerasan yang lebih rendah daripada
kekerasan maksimum dan presipitasi berlanjut pada permukaan sehingga menjadi lebih
keras. Pada pengerasan presipitasi kekerasan baja lainnya lebih endah dan ketahanan
ausnya juga kurang dibandingkan dengan baja tipe Cr.

Jenis Chromium HWTS digunakan pada logam dengan titk lebur yang rendah seperti
Al, Mg, sedangkan jenis tungsten dan Mo digunakan pada logam dengan titik lebur tinggi
seperti brass, Ni dan steel alloy. Makin tinggi kandungan alloy maka makin besar ketahaan
terhadap temperature softening dan menambah kekerasannya, tetapi lebih getas.

C. COLD WORK TOOL STEEL


Cold work tool steel (CWTS) mempunyai sifat yang tidak tahan trhadap softening
pada temperatur tinggi. Temperatur kerja tidak lebih dari 260 0C.

CWTS dibagi menjadi empat kelompok yaitu :


Kelompok A yang dilakukan pengerasan udara (air hardening)
Kelompok D dengan komposisi C dan Cr yang tinggi
Kelompok O yang dilakukan pengerasan minyak (oil harening)
Kelompok W yaitu pengerasan air (water hardening)

Dengan penjelasan sebagai berikut:

Air hardening tool steel

Biasanya total paduan air hardening tool steel ini berkisar anatara 5% sampai 10%,
dan memiliki mampu keras yang cukup dengan ketebalan hingga 6 in (150 mm). Paduan
yang biasanya digunakan yaitu : C, Mn, Si, W, Mo, Cr, V dan Ni.

Chromium dan molybdenum meningkatkan kekerasan dan mempercepat terbentuknya


campuran karbida.
High carbon, high chromium

Proses hardening tool steel ini ada yang menggunakan proes air hardening dan ada
juga dengan oil hardening. Total paduannya yaitu sekitar 12% chromium dan carbon lebih
dari 1,5%. Selain C dan Cr ada juga paduan lain seperti Mo, V, Co. Tipe D2 mengandung
paduan Chromium krbida yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap abrasi. Tipe D3
memiliki arbon yang lebih tinggi untuk menghasilkan campuran karbida dan meningkatkan
ketahanan terhadap aus. Tipe D4 memiliki karbon yang lebih tinggi dari D2 untuk
ketahanan abrasi yang lebih besar. D5 mengandung Cobalt untuk meningkatkan ketahanan
terhadap terper softening.
Oil hardening tool steel

Kadar karbon tool steel ini cukup tinggi dengan paduannya yaitu C, Mn, Si, W, Mo,
dan Cr. Tool steel ini bersifat tahan aus pada temperatur normal dan tidak tahan terhadap
softening. Tipe O1 dan O2 memiliki sifat yang sama. Tipe O2 mempunyai autenisasi yang
sedikit lebih rendah dari pada tipe O1. temperature pengerasan yang rendah mengurangi
distorsi sewaktu quenching. Tipe O6 mempunyai kadar karbon yang cukup untuk merubah
0,3% grafit menjadi matrix martensit dari struktur yang dikeraskan. Ini disebut baja

perkakas grafit. Grafit tersebut dimaksudkan sebagai pelumas dalam system sliding pada
logam dengan logam. Tipe O7 mempunyai konsentrasi tungsten yang signifikan untuk
mepercepat terbentuknya karbida tungsten sehingga meningkatkan ketahanan terhadap
abrasi.

D. SHOCK-RESISTING TOOL STEEL

Tool steel ini biasa digunakan untuk pahat dengan campuran yaitu C, Mn, Si, W, Mo,
dan Cr. Jenis tool steel ini memiliki kadar karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan
Cold work tool steels. Tingkat kekerasannya tidak pernah sama dengan Cold work tool steel
(maksimal 58 HRC), tetapi memilii ketangguhan yang lebih baik. Pada S1 terdapat paduan
tungsten untuk meningkatkan ketahanan terhadap keausan. Tipe ini merupakan bahan utama
pahat. Tipe S2, S5 dan S6 memiliki silikon yang dapat memperkeras sifatnya. Tipe-tipe ini
memiliki karakter yang sama tetapi berbeda dalam pengerasannya. Tipe S7 angat berbeda
dengan tipe lainnya. Dengan adanya chromium dan molybdenum membuatnya dapat
dilakukan air hardening , maka tipe ni biasa digunakan untuk injection molding cavities,
ketahanan terhadap abrasi sangat rendah karena shock resisting tool steel tidak memiliki
kekerasan dan campuran karbida sebagaimana pada Cold work tool steel. Jadi tool steel ini
hanya digunakan ketik faktor ketangguhan lebih dibutuhkan dibandingkan dengan ketahanan
terhadap keausan.

E. MOLD TOOL STEEL

Tool steel ini memilki kadar karbon yang rendah dengan komposisi alloy (%). Tool
steel ini banyak digunakan untuk low temperatur die casting dies dan mold untuk plastik
injection Tipe P2 sampai P6 memiliki kadar karbon yang rendah dan tidak dapat dilakukan
pengerasan dengan quenching. Tipe P20 memiliki kadar karbon dan paduan yang cukup

dengan kekerasan hingga mencapai 30 HRC. Tipe P21 dapat dilakukan pengerasan
quenching dan perlakuan panas hingga mencapai 32 sampai36 HRC dengan cara presipitation
hardening steel paduan Aluminium.

F. SPECIAL PURPOSE TOOL STEEL

Tool hanya terdiri dari dua tipe yaitu L2 dan L6 dengan komposisi paduan sebagai
berikut: Tipe L2 terdiri dari beberapa macam tingkatan kekerasan dengan posisi karbon
yang berbeda. Tipe L2 dan L6 biasanya dilakukan keras minyak hingga tingkat kekerasan
antara 30-45 HRC. Kedua tipe ini biasanya digunakan untuk machine part, iveting tool
wrenches, dsb.

G. WATER HARDENING TOOL STEEL

Tool steel ini tidak mengandung campuran karbida. Kadar karbon yang ada yaitu 0,6
sampai 1,4 dan paduannya yaitu Cr dan V, dimana Cr berguna untuk menaikkan tingkat
kekerasannya tetapi tidak aus. Paduan Vanadium nberguna untuk memperhalus ukuran
butirannya sehingga meningkatkan ketanguhannya Tipe W2 mengandung Vanadium
sehingga memperhalus butirannya dan mengurangi terjadinya retak sewaktu quenching. W5
mengandung chromium untuk meningkatkan kekerasannya. Semua tool steel ini sangat
kurang kekerasannya dan memerlukan pendinginan air. Karena sedikitnya alloy yang ada
pada tool steel ini maka harganya cukup murah. Sifatnya mudah retak karena pendinginan
air.

2. Perlakuan panas pada stainless steel dan aplikasinya


Stainless steel merupakan baja paduan tinggi dengan tujuan utama dapat menahan
korosi keras dan tangguh.

Stailess steel dibagikan atas lima kelompok yaitu :

1. Martensit
2. Austenit
3. Feritte
4. Duplex
5. Presipitation hardening

1. Martensit merupakan baja cr dengan atau tanpa paduan lain.

Sifat-sifat penting dari martensit

1. Sifat Mekanis,

- Kekuatan dan kekerasannya lebih baik dari ferrite dan austeit

2. Ketahanan korosif

- Paling buruk dibanding jenis stainless steel yang lain, tapi lebih baik daripada baja
karbon dan HSLA

3. Karakteristik fabrikasi

- Bisa diproses cold working draw, bending dan machinery

- Weldenbility kurang baik karena selama pengerasan bias terbentuk embrittement dan
filler metal = kandungan Cr dari base metal

4. Sifat magnetit paling baik disbanding stainless steel lainnya

Proses pembuatan martensit:

- Proses dilakukan dengan cara pendinginan pada fasa martensit sehingga material sebisa
mungkin untuk menghindari partikel austenit,feritte karena dapat terbentuk fasa
austenit jika didinginkan.

- Pendinginan hot rolled

- Heat treatment :
1. Pemanasan dengan temperature 850- 870 o c
2. Pendinginan pada temperature 540o c dilakukan dengan laju pendinginan tertentu

3. pendinginan langsung dari hot rolled


4. Preheting pada temperature 540oc- 670oc atau temperature hardening kemudian di
tempering.

Klasifikasi dan aplikasi dari martensit :

1. AISI 403
- sedang, dengan lingkungan korosif sedang

- dipakai pada part roteting turbin

2. AISI 410
- sedang , korosif sedang

- dipakai pada pompa stainless tubbles cups

3. AISI 416

- machineability baik

- untuk nut, bolt valve

2. Austenit staenles stell.

Sifat-sifat :

1. Ketangguhan baik sekali


2. Ketahana korosi yang paling baik dari SS yang lain
3. Bentuk kristal pada suhu ruangan dan temperature tinggi adalah FCC
4. Non hardened heattretment
5. Mudah dibentuk
6. Dapat menhan timbulnya scc dan linier granulun corrosion
7. Paling banyak dipakai dalam industri
8. Non magnetit

Klasifikasi austenit :

1. AISI 301
2. AISI 304
3. AISI 305

301 dan 304 berfungsi sebagai streghtend by cold working

301 dan 305 sebagai cow alloy, heavy deformation working.

3. Ferrite stainless stell

Sifat- sifat :

1. Ketangguhan rendah
2. Ketahan korosi medium
3. Bentuk kristal bcc dengan matrik utama feritic
4. Non Hardenet heatried sebagai pengganti peningkatan ketangguhan dengan cara cold
working.
5. Material ini dapat menghilangkan korosi pada lingkungan namun sifatnya hanya
menghandel terbentuknya acid corotion
6. Pengelasan pada material ini agak sulit karena pada temperature tinggi bias terjadi
sensitation dan embritented welding untuk mengatasinya biasanya material ini dipadu
dengan titanium atau dengan filler yang mengandung titanium.
7. Operasi pada temperature rendah atau medium, tidak baik pada temperatur tinggi.

Klasifikasi dan Aplikasinya

1. Masuk dalam standar AISI 400.

Aplikasi dalam industri :

Tipe 405 : tower lining, separation, turbin blade, baffles

Tipe 430 : hiprit acid service, industrial atmosfir, structural dan arsitechirework

Tipe 456 : Kadang disebut generasi kedua dari 430, 4% Mo: resistance corotion.

Tipe 430 F : pump, shaff, value part, 0,018% S: free machining

Tipe 440 : buner buffle, furnace

Fabrication :

Material ini dilakukan dengan pengecoran teknik industri pada pembuatan baja dengan
komposisi dan unsur-unsur paduan utama Cr atau Mo, kemudian dilakukan pendinginan
secara lambat sekali dan biasanya hasil produk bias dalam bentuk sebagai berikut : bar,
material ketangguhan, sebagai pengganti dilakukan cold working. Material ini mudah
dimachining dengan adanya S dan dapat diforging hot working, stumping-drawing, material
ferrite ini pada temperature 280oC memiliki elongation yang baik dan sering pada
temperature ini dilakukan drawning.

3. Fenomena Terbentuknya Perlite, Martensite dan Bainit

a. Perlite
Baja Eutektoid didinginkan pada temperatur Austenite (8500C 7500C) setelah sampai
pada temperatur 6500C perlite akan mulai dibentuk pada 1 detik dan sempurna pada 210
detik. Formasi perlite ditandai dengan pertumbuhan batas butir austenite akibat difusi
permukaandari batas butir, dimana perlite sebagai Junction (ranting) akibat difusi ferrite
dan sementite. Pertumbuhan batas butir semakin banyak tergantung system pendinginan
dan kandungan karbon yang dimiliki.

Gambar Skematik Terbentuknya Pearlite

Gambar Pertumbuhan Pearlit Pada Batas Butir Akibat Difusi

b. Martensite

Martensite terjadi akibat pendinginan cepat dari temperatur Austenite. Akibat quenching
(pendinginan cepat) dengan air menyebabkan karbon tidak dapat berdifusi keluar dan
terperangkap didalam larutan jenuh sehingga terbentuk fase Martensite (dalam bentuk
BTC) dengan tranformasi geser. Pembentukan tergantung pada komposisi karbon yang
dikandung. Secara umum Martensite terbagi menjadi Lath Martensit dan Plate
Martensite. Full Martensite dapat dibuat dengan proses quenching dari suhu kamar
sampai suhu -400C (Zero Martensite).

Gambar Transformasi Geser Terbentuknya Martensit


c.Bainit
Pada temperatur dibawah 550C bainit akan mulai terbentuk dan memisah sepanjang
pearlit. Pada formasi ini diasumsikan untuk menandai nukleus ferrit yang tumbuh

sebagai pelet dari batas butir. Kandungan karbon austenit meningkat terus.Jika peletpelet dari bentuk simenentit dalam jugtion dengan pellet-pelet ferrit maka terbentuklah
yang namanya bainit. Temperatur bainit terbentuk dimulai dari sisi butiran pada waktu
yang sama model formasi bainit berubah tergantung pada temperatur pendinginan dan
formasi komposisi dari baja itu sendiri.

Memang sulit untuk membedakan jenis bainit yang terbentuk. Berdasarkan temperatur
pembentukannya maka bainit diklasifikasikan menjadi upper bainit dan lower bainit.
Upper bainit terbentuk pada temperatur 550 - 400"C dimana Fe3C terbentuk pada batas
agregat (<0,03C) terhadap

Gambar Temperatur Terbentuknya Upper dan Lower Bainit


Dengan hubungan kristal (001)Fe3C

(225 ) [100]fe3C(554) .Sifat dari uper

bainit ini adalah lebih rapuh dibanding lower bainit. Lower bainit terbentuk pada
temperatur (400-250oC), dimana Fe karbida / simentit tumbuh berupa batang jarum
didalam agregat (<0,03C).

By Andy Sembiring Zone