Anda di halaman 1dari 21

A.

BATARI TRYPUTRI

RAHMIANI

RESKY ANDRIANI

AYU NINGSI TARRA

RIKA ANGRIANI

NURULWAHY

NURUL FITRIA.M

NURUL SAKINAH UNI

RISMAYANTI

NUR PUTRI UTAMI

DIAN ATMA PERTIWI

BELLA FATMA.P

ELVY HERAWATI

LA ODE MUHAMMAD

TIARA OLIVIA

GUSNADIN

ELI TRI LESTARI

ABDUL HALIM

FARADIBA

ANATOMI

Prostat adalah organ genital yang merupakan


penghasil cairan semen yang hanya dihasilkan oleh
pria. Prostat berbentuk piramid, tersusun atas
jaringan fibromuskular yang mengandung kelenjar.
Kelenjar prostat terletak tepat di bawah leher
kandung kemih. Kelenjar ini mengelilingi uretra dan
dipotong melintang oleh duktus ejakulatorius, yang
merupakan kelanjutan dari vas deferen.
Berat prostat pada orang dewasa kira-kira 20
gram dengan panjang 1,25 inchi atau kira kira 3
cm, mengelilingi uretra pria.

FISIOLOGI PROSTAT
Prostat merupakan organ berbentuk pyramid yang mengandung
kelenjar. Kelenjar prostat relatif kecil sepanjang masa kanak-kanak
dan mulai tumbuh pada masa pubertas dibawah stimulus
tostesteron.
Kelenjar ini mencapai ukuran maksimal pada usia sekitar 20
tahun dan tetap dalam ukuran ini sampai usia mendekati 50 tahun.
Pada waktu tersebut pada beberapa pria kelenjar tersebut mulai
berdegenerasi bersamaan dengan penurunan pembentukan
testosteron oleh testis.
Kelenjar prostat mensekresi sedikit cairan yang berwarna putih
susu dan bersifat alkalis. Cairan ini mengandung asam sitrat, asam
fostase, kalsiun, dan koagulasi serta fibrinolisin. Selama pengeluaran
cairan prostat, kapsul kelenjar prostat akan berkontraksi bersama
dengan kontraksi vas deferens dan cairan dari prostat keluar
bercampur dengan segmen yang lainnya.

DEFINISI
Benigna Prostat Hiperplasia
adalah pertumbuhan yang bersifat
jinak pada prostat, secara
berangsur-angsur menyebabkan
obstruksi pada sistem urinaria
(William & Hopper, 2007).
Benigna Prostat Hiperplasia
adalah kelenjar prostat mengalami
perbesaran, memanjang keatas
kedalam kandung kemih dan
menyumbat aliran urin dengan
menutupi orifisium uretra. BPH
adalah kondisi patologis yang paling
umum pada pria lansia dan
penyebab kedua yang paling sering
untuk intervensi medis pada pria di
atas usia 60 tahun (Smeltzer & Bare
, 2001).

ETIOLOGI
Etiologi masih belum diketahui secara pasti. Tetapi
beberapa hipotesis menyebutkan hyperplasia prostate erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrostosteron
(DHT) dan proses aging (menjadi tua).
Teori
dehidrotestosteron

Ketidakseimbangan
antara estrogentestosteron

Berkurangnya
kematian sel
(apoptosis)

Interaksi antara sel


stoma dan sel epitel
prostat

Teori stem sel

MANIFESTASI KLINIS
1. Obstruksi Dini pada saluran keluar :
Pancaran lemah,
hesitansi,
intermitensi,
Urinmeneters
mengedan saat berkemih,
Retensi Turin akut
2. Ketidakstabilan destruktor
menyebabkan :

Frekuensi,

urgensi ,

nokturia,

disuria,

Inkontinensia.

3.

Akhiranya terjadi kegagalan otot


destructot dan retensi kronis :

Kandung kemih yang teraba


Inkontinensia
Pembesaran prostat yang licin
pada pemeriksaan RT

Sumber : (Grace & Borley, 2006)

PATOFISIOLOGI

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi
urin akut, dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok septik.

Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui adanya hidronefrosis, dan
pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. Palpasi terasa adanya
ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya

residual urin.

Pemeriksaan penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktur uretra,
batu uretra, karsinoma maupun fimosis.

Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis

Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi sistim persarafan
unit vesiko uretra dan besarnya prostat.
Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu
a)

Derajat I = beratnya 20 gram.

b)

Derajat II = beratnya antara 20 40 gram.

c)

Derajat III = beratnya > 40 gram.

Pemeriksaan Diagnostik
Foto polos abdomen (BNO)

Pielografi Intravena (IVP)

Sistogram retrograd

Pemeriksaan Sistografi

USG secara transrektal (Transrectal Ultrasonography = TURS)

MRI atau CT jarang dilakukan

Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar
gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien
Pemeriksaan Prostat Specific Antigen (PSA)
Pengukuran kadar kreatinin dan ureum
Uroflowmetri dan pengukuran residu urin ( normal <100 ml ) untuk
membuktikan adanya obstruksi.

PENATAKASANAAN

BPH Ringan. Pasien belum memiliki keluhan atau gejala. Pasien tidak diberikan terapi apapun,
hanya edukasi untuk mengurangi faktor resiko dan faktor predisposisi seperti :
Tidak minum kopi atau alkohol, cola, minuman bersoda, coklat,
Tidak menahan buang air kecil,
Selanjutnya dilakukan follow up tiap 3-6 bulan sekali dengan pemeriksaan uroflowmetri, dan PSA ( Prostate
Spesific Antigen ).
Mandi air panas
Melakukan aktivitas seksual (ejakulasi) seperti biasanya
Menghindari asupan cairan yang berlebihan (terutama pada malam hari)
Untuk mengurangi nokturia, sebaiknya kurangi asupan cairan beberapa jam sebelum tidur.
Penderita BPH sebaiknya menghindari pemakaian obat flu dan sinus yang dijual bebas, yang mengandung
dekongestan karena bisa meningkatkan gejala BPH
Lakukan latihan kegel (Latihan penguatan otot panggul
Manajemen stress. Gugup dan ketegangan dapat menimbulkan keinginan buang ar kecil.
Jaga kehangatn tubuh dan berolahrag secara teratur. Cuaca dingin dan kurang aktivitas fisik dapat

memperburuk gejala.

Cont
BPH Sedang. Pasien dengan fungsi ginjal masih normal dengan tidak
ada komplikasi lainnya kecuali hipertensi ringan. Medikomentosa
dengan whatch full waiting, yaitu:
Adrenoreseptor Blocker yang menurunkan tonus otot polos prostat.
Contoh: Prozosin 2x sehari, terazosin atau afluzosin atau doxazosin 1x
sehari.
5--Reduktase Inhibitor yang menurunkan DHT sehingga menghentikan
hiperplasia dan mengurangi gejalanya. Contoh: finasteride 5mg/hari
selama 6 bulan.
Fitofarma, yaitu : Pygeum africanum, Serenoa repens, Hypoxi
rooperi, Radix urtica, dsb. Terapi jenis ini tidak boleh diberikan jika
terjadi hipotensi postural atau orthostatik dan alergi betabloker.

BPH Berat. Dilakukan pembedahan yang dapat berupa operasi


terbuka, TURP, TUIP, Elektroevapusi dan prosedur-prosedur minimal
invasif. Tujuan dari pembedahan adalah untuk mengambil bagian
prostat yang membesar untuk mengurangi gejala yang dialami pasien
(Sylvia, 2014).

Komplikasi
Retensi kronik dapat menyebabkan refluks
vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, gagal
ginjal.
Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi
infeksi pada waktu miksi.
Karena selalu terdapat sisa urin sehingga
menyebabkan terbentuknya batu.
Hematuria.
Disfungsi seksual.

PKDM

ASKEP
No

Diagnosa Keperawatan

1.

Gangguan rasa nyaman


nyeri suprapubik
berhubungan dengan
spasme
otot spincter.

Tujuan/Kriteria Hasil

a. Tujuan : Nyeri berkurang


atau hilang
b. Kriteria hasil:
Secara verbal pasien
mengungkapkan nyeri
berkurang atau hilang
Pasien dapat beristirahat
dengan tenang.

Intervensi

Rasional

1) Monitor dan catat adanya rasa


nyeri, lokasi, durasi dan faktor
pencetus serta penghilang nyeri.
2) Observasi tanda-tanda non
verbal nyeri (gelisah, kening
mengkerut, peningkatan tekanan
darah dan denyut nadi).
3) Beri kompres hangat pada
abdomen terutama perut bagian
bawah.
4) Anjurkan pasien untuk
menghindari stimulan (kopi, teh,
merokok, abdomen tegang).
5) Atur posisi pasien senyaman
mungkin, ajarkan teknik
relaksasif.
6) Lakukan perawatan aseptik
terapeutik
.
7) Laporkan pada dokter jika nyeri
meningkat.

1.Memberikan informasi untuk


membantu dalam
menentukan pilihan atau keefektifan
intervensi.
2. memberikan informasi untuk
membantu dalam
menentukan keefektifan dalam
menentukan pilihan
atau keefektifan intervensi.
3. Untuk meningkatkan relaksasi
otot.
4. Untuk menurunkan spasme
kandung kemih.
5. Meningkatkan relaksasi,
memfokuskan kembali
perhatian dan dapat meningkatkan
kemampuan
koping.
6. Untuk mengurangi resiko infeksi.
7. Pembesaran prostat dapat terjadi
dengan hilangnya
sebagian kelenjar.

2.

Perubahan pola eliminasi


urine: retensi urin
berhubungan dengan
obstruksi sekunder.

a. Tujuan : Tidak terjadinya


retensi urine
b. Kriteria hasil :
1) Pasien dapat buang air kecil
teratur bebas dari distensi
kandung
kemih.
2) Menunjukan residu pasca
berkemih kurang dari 50 ml,
dengantak adanya
tetesan/kelebihan.

1) Lakukan irigasi kateter secara


berkala atau terus- menerus
dengan teknik steril.
2) Atur posisi selang kateter dan urin
bag sesuai gravitasi dalam
keadaan tertutup.
3) Observasi adanya tanda-tanda
shock/hemoragi (hematuria, dingin,
kulit lembab, takikardi, dispnea).
4) Mempertahankan kesterilan sistem
drainage cuci tangan
sebelum dan sesudah menggunakan
alat dan observasi aliran urin serta
adanya bekuan darah atau jaringan.
5) Monitor urine setiap jam (hari
pertama operasi) dan setiap 2
jam (mulai hari kedua post operasi).
6) Ukur intake output cairan.
7) Beri tindakan asupan/pemasukan
oral 2000-3000 ml/hari, jika
tidak ada kontra indikasi.
8) Berikan latihan perineal (kegel
training) 15-20x/jam selama 2-3
minggu, anjurkan dan motivasi pasien
untuk melakukannya.
.

1. Menghindari terjadinya gumpalan


yang dapat
menyumbat kateter, menyebabkan
peregangan dan
perdarahan kandung kemih
2. Untuk mencegah peningkatan tekanan
pada
Kandung kemih.
3. Untuk mencegah komplikasi berlanjut.
4. Pemberi perawatan menjadi penyebab
terbesar infeksi
nosokomial. Kewaspadaan umum
melindungi pemberi
perawatan dan pasien.
5. Cairan membantu mendistribusikan
obat-obatan ke seluruh tubuh. Risiko
terjadinya ISK dikurangi bila aliran urine
encer konstan di pertahankan melalui
ginjal.
6. Menjamin keamanan untuk membantu
penyembuhan pascaoperasi.
7. Cairan membantu mendistribusikan
obat-obatan ke seluruh tubuh. Risiko
terjadinya ISK dikurangi bila aliran urine
encer konstan dipertahankan melalui
ginjal.
8. Mengajarkan pasien bagaimana
melakukannya
sendiri

Resiko tinggi disfungsi


seksual berhubungan
dengan sumbatan
saluran
ejakulasi, hilangnya
fungsi tubuh.

a. Tujuan : Tidak terjadinya


disfungsi seksual
b. Kriteria hasil :
Pasien menyadari
keadaannya dan akan mulai
lagi intaraksi seksual
dan aktivitas secara
optimal.

1) Motivasi pasien untuk


mengungkapkan perasaannya
yang
berhubungan dengan
perubahannya.
2) Jawablah setiap pertanyaan
pasien dengan tepat.
.
3) Beri kesempatan pada pasien
untuk mendiskusikan perasaannya
tentang efek prostatektomi dalam
fungsi seksual.
4) Libatkan kelurga/istri dalam
perawatan pmecahan masalah
fungsi seksual.
5) Beri penjelasan penting
tentang:
a) Impoten terjadi pada prosedur
radikal
b) Adanya kemungkinan fungsi
seksual kembali normal
c) Adanya kemunduran ejakulasi.
6) Anjurkan pasien untuk
menghindari hubungan seksual
selama 1
bulan (3-4 minggu) setelah
operasi.

1) Memberikan informasi untuk


membantu dalam
menentukan pilihan atau keefektifan
intervensi.
2) Untuk menginformasikan kondisi
klien.
3) Memberikan informasi untuk
membantu dalam
menentukan pilihan atau keefektifan
intervensi.
4) Memberikan informasi untuk
membantu dalam
menentukan pilihan atau keefektifan
intervensi.
5) Memberikan informasi untuk
membantu dalam
menentukan pilihan atau keefektifan
intervensi.
6) Menjamin keamanan untuk
membantu
penyembuhan pascaoperasi.

Resiko terjadinya infeksi


berhubungan dengan port de
entre
mikroorganisme melalui
kateterisasi, dan jaringan
terbuka.

a. Tujuan : Tidak terjadinya


infeksi
b. Kriteria hasil:
1). Tanda-tanda vital dalam batas
normal
2). Tidak ada bengkak, aritema,
nyeri
3). Luka insisi semakin sembuh
dengan baik

1) Lakukan irigasi kandung kemih


dengan larutan steril.
2) Observasi insisi (adanya indurasi
drainage dan kateter), (adanya
sumbatan, kebocoran).
3) Lakukan perawatan luka insisi secara
aseptik, jaga kulit sekitar
kateter dan drainage.
4) Monitor balutan luka, gunakan
pengikat bentuk T perineal untuk
menjamin dressing.
5) Monitor tanda-tanda sepsis (nadi
lemah, hipotensi, nafas
meningkat, dingin).
.

1) Gumpalan dapat menyumbat kateter,


menyebabkan
peregangan dan perdarahan kandung
kemih.
2) Sumbatan pada selang kateter oleh
bekuan dapat
menyebabkan distensi kandung kemih,
dengan
peningkatan spasme.
3) Untuk mengurangi resiko infeksi
4) Untuk mengurangi resiko infeksi.
5) Deteksi awal terhadap komplikasi
dengan intervensi
yang tepat dapat mencegah kerusakan
jaringan
yang permanen..

5.

Kurang pengetahuan
berhubungan dengan kurang
informasi tentang
penyakit, perawatannya.

a. Tujuan : Pengetahuan pasien


dapat meningkat
b. Kriteria hasil :
Secara verbal pasien mengerti
dan mampu mengungkapkan dan
mendemonstrasikan perawatan.

1) Motivasi pasien/keluarga untuk


mengungkapkan pernyataannya
tentang penyakit.
2) Berikan pendidikan pada
pasien/keluarga tentang:
a) Perawatan lsuka, pemberian nutrisi,
cairan irigasi, kateter.
b) Perawatan di rumah, adanya tandatanda hemoragi.

1) Memberikan informasi sejauh mana


pengetahuan klien tentang penyakit yang
dialami
.
2) Memberikan informasi kepada
klien/keluarga klien cara perawatan pasca
operasi.

6.

Anxietas
berhubungan
dengan kurangnya
pengetahuan,
salah
interpretasi
informasi, tidak
mengenal sumber
informasi,
ditandai
dengan : Gelisah,
Informasi kurang

a. Tujuan : Tidak
terjadinya ansietas.
b. kriteria hasil :
1) Klien tidak
gelisah.
2) Tampak rileks

1) Kaji tingkat anxietas.


2) Observasi tanda-tanda
vital.
3) Berikan informasi yang
jelas tentang prosedur
tindakan yang
akan dilakukan.
4) Berikan support
melalui pendekatan
spiritual.

1) Mengetahui tingkat
anxietas yang dialami
klien, sehingga
memudahkan dalam
memberikan tindakan
selanjutnya.
2) Indikator dalam
mengetahui peningkatan
anxietas yang dialami
klien.
3)Mengerti/memahami
proses penyakit dan
tindakan yang diberikan.
4) Agar klien mempunyai
semangat dan tidak putus
asa dalam menjalankan
pengobatan untuk
penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Grace, P. A., & Borley, N. R. (2006). Surgery At a Glance.
Jakarta: Erlangga.
Purnomo, B. B. (2012). Dasar-dasar Urologi (3rd ed.).
Jakarta: Sagung Seto.
Sylvia. (n.d.). Retrieved Maret Jumat, 2014, from
livinghealth.co.id:
http://livinghealth.co.id/artikel/pembesaran-prostat-jinakatau-benign-prostate-hyperplasia-/
Smeltzer, S. C & Bare, B. G. (2001). Keperawatan medikal
bedah Brunner & Suddart. Jakarta: EGC.
William, L.S., & Hopper, P.D. (2007). Understanding medical
surgical nursing, 3rd ed. Philadelphia : F.A Davis Company.

Anda mungkin juga menyukai