Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

2.1 Depresi
Depresi dapat memiliki dampak negatif pada hidup anda. Depresi merupakan
perasaan yang dialami oleh setiap orang pada satu masa dalam kehidupan mereka.
Perasaan-perasaan negatif seperti kesedihan, kekhawatiran, dan frustrasi merupakan
perasaan-perasaan yang umum dirasakan oleh banyak orang. Merupakan suatu hal yang
wajar jika anda merasa kecewa setelah mengalami kegagalan, sedih, perpisahan atau
kehilangan.
Perasaan-perasaan tersebut adalah hal yang wajar dan dalam beberapa kejadian,
perasaan-perasaan tersebut justru dapat digunakan untuk keuntungan kita karena
perasaan-perasaan tersebut menunjukkan kelemahan kita. Pengalaman yang muncul dari
kondisi negatif dalam hidup kita tersebut memberikan kita keberanian dan kemauan untuk
mengubah hidup kita serta kekuatan untuk menangani depresi dan situasi negatif lainnya di
masa yang akan datang.
Ketika perasaan negatif semacam ini terus menerus muncul, bertahan lebih dari dua
minggu, dan mulai mengganggu kegiatan sehari-hari kita, pekerjaan, diet, tidur dan
hubungan kita; maka kemungkinan besar kita mengalami depresi dan kita harus
menemukan cara untuk mengatasinya. Karakteristik utama depresi adalah perasaan negatif
dan kesedihan yang sangat mendalam dan terjadi dalam waktu yang lama.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1. Definisi Depresi
Depresi merupakan gangguan mental yang serius yang ditandai dengan
perasaan sedih dan cemas. Gangguan ini biasanya akan menghilang dalam beberapa
hari tetapi dapat juga berkelanjutan yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari
(National Institute of Mental Health, 2010).
Menurut WHO, depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan
munculnya gejala penurunan mood, kehilangan minat terhadap sesuatu, perasaan
bersalah, gangguan tidur atau nafsu makan, kehilangan energi, dan penurunan
konsentrasi (World Health Organization, 2010).

2.1.2. Epidemiologi Depresi


Pada tahun 2009, American College Health Association-National College
Health Assesment (ACHA-NCHA) melakukan penelitian terhadap mahasiswa/i dan
mendapatkan 30% mahasiswa/i mengalami gangguan depresi (National Institute of
Mental Health, 2010). Selain penelitian diatas, penelitian lain yang melibatkan 1,455
mahasiswa/i juga melaporkan bahwa gejala-gejala depresi muncul ketika memasuki
awal tahun perkuliahan, 4 penyebab utama tersebut adalah masalah akademik,
ekonomi, kesendirian, dan kesulitan dalam bersosialisasi (Furr, et al, 2001).
Penelitian pada mahasiswa/i pada suatu universitas di Boston, dilaporkan
bahwa 14% dari 701 mahasiswa/i menunjukkan gejala-gejala signifikan dari depresi,
dan sebagian dari mereka berpotensi untuk mengalami gangguan depresi mayor
(USA TODAY, 2001).
Mahasiswa/i pada tahun pertama perkuliahan cenderung mengalami
gangguan depresi mayor dilaporkan dari suatu penelitian di salah satu universitas
Kanada. Pada penelitian tersebut dilaporkan 7% mahasiswa dan 14% mahasiswi
memiliki kriteria-kriteria yang sesuai dengan gangguan depresi mayor (Price et al,
2006).
2

2.1.3. Etiologi dan Klasifikasi Depresi


2.1.3.1. Etiologi
1. Faktor biologis
Banyak penelitian menjelaskan adanya abnormalitas biologis pada pasienpasien dengan gangguan mood. Pada penelitian akhir-akhir ini, monoamine
neurotransmitter seperti norephinefrin, dopamin, serotonin, dan histamin
merupakan teori utama yang menyebabkan gangguan mood(Kaplan, et al, 2010).
2. Biogenic amines
Norephinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmitter yang paling
berperan dalam patofisiologi gangguan mood.
2.a. Norephinefrin
Hubungan norephinefrin dengan gangguan depresi berdasarkan penelitian
dikatakan bahwa penurunan regulasi atau penurunan sensitivitas dari reseptor 2
adrenergik dan penurunan respon terhadap antidepressan berperan dalam
terjadinya gangguan depresi (Kaplan, et al, 2010).
2.b. Serotonin
Penurunan jumlah dari serotonin dapat mencetuskan terjadinya gangguan
depres, dan beberapa pasien dengan percobaan bunuh diri atau megakhiri hidupnya
mempunyai kadar cairan cerebrospinal yang mengandung kadar serotonin yang
rendah dan konsentrasi rendah dari uptake serotonin pada platelet (Kaplan, et al,
2010). Penggunaan obat-obatan yang bersifat serotonergik pada pengobatan depresi
dan efektifitas dari obat-obatan tersebut menunjukkan bahwa adanya suatu teori
yang berkaitan antara gangguan depresi dengan kadar serotonin (Rottenberg, 2010).
3. Gangguan neurotransmitter lainnya
Ach ditemukan pada neuron-neuron yang terdistribusi secara menyebar pada
korteks cerebrum. Pada neuron-neuron yang bersifat kolinergik terdapat hubungan
yang

interaktif

terhadap

semua

sistem

yang

mengatur

monoamine
3

neurotransmitter. Kadar choline abnormal yang dimana merupakan prekursor untuk


pembentukan Ach ditemukan abnormal pada pasien-pasien yang menderita
gangguan depresi (Kaplan, et al, 2010).
4. Faktor neuroendokrin
Hormon telah lama diperkirakan mempunyai peranan penting dalam
gangguan mood, terutama gangguan depresi. Sistem neuroendokrin meregulasi
hormon-hormon penting yang berperan dalam gangguan mood, yang akan
mempengaruhi fungsi dasar, seperti : gangguan tidur, makan, seksual, dan
ketidakmampuan dalam mengungkapkan perasaan senang. 3 komponen penting
dalam sistem neuroendokrin yaitu : hipotalamus, kelenjar pituitari, dan korteks
adrenal yang bekerja sama dalam feedback biologis yang secara penuh berkoneksi
dengan sistem limbik dan korteks serebral (Kaplan, et al, 2010).
5. Abnormalitas otak
Studi neuroimaging, menggunakan computerized tomography (CT) scan,
positron-emission tomography (PET), dan magnetic resonance imaging (MRI) telah
menemukan abnormalitas pada 4 area otak pada individu dengan gangguan mood.
Area-area tersebut adalah korteks prefrontal, hippocampus, korteks cingulate
anterior, dan amygdala. Adanya reduksi dari aktivitas metabolik dan reduksi volume
dari gray matter pada korteks prefrontal, secara partikular pada bagian kiri,
ditemukan pada individu dengan depresi berat atau gangguan bipolar (Kaplan, et al,
2010).

2.1.3.2. Klasifikasi Depresi


Gangguan depresi terdiri dari berbagai jenis, yaitu:
1. Gangguan depresi mayor
Gejala-gejala dari gangguan depresi mayor berupa perubahan dari nafsu
makan dan berat badan, perubahan pola tidur dan aktivitas, kekurangan energi,

perasaan bersalah, dan pikiran untuk bunuh diri yang berlangsung setidaknya 2
minggu (Kaplan, et al, 2010).

2. Gangguan dysthmic
Dysthmic bersifat ringan tetapi berlangsung lama. Gejala gejala dysthymia
berlangsung lama dari gangguan depresi mayor yaitu selama 2 tahun atau lebih.
Dysthmia bersifat bersifat lebih berat dibandingkan dengan gangguan depresi
mayor, tetapi individu dengan gangguan ini masih dapat berinteraksi dengan
aktivitas sehari harinya. (National Institute of Mental Health, 2010)
3. Gangguan depresi minor
Gejala-gejala dari depresi minor mirip dengan gangguan depresi mayor dan
dysthmia, tetapi gangguan ini bersifat lebih ringan dan atau berlangsung lebih
singkat (National Institute of Mental Health, 2010)
4. Gangguan depresi psikotik
Gangguan depresi berat yang ditandai dengan gejala-gejala, seperti:
halusinasi dan delusi (National Institute of Mental Health, 2010).
5. Gangguan depresi musiman
Gangguan depresi yang muncul pada saat musim dingin dan menghilang pada
musi semi dan musim panas (National Institute of Mental Health, 2010)

2.1.4. Faktor Resiko Depresi


1. Jenis Kelamin
Secara umum dikatakan bahwa gangguan depresi lebih sering terjadi pada
wanita dibandingkan pada pria. Pendapat-pendapat yang berkembang mengatakan
bahwa perbedaan dari kadar hormonal wanita dan pria, perbedaan faktor psikososial
berperan penting dalam gangguan depresi mayor ini (Kaplan, et al, 2010).

Sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh American Psychological


Association (APA) menyatakan bahwa perbedaan gender sebagian besar disebabkan
oleh lebih banyaknya jumlah stres yang dihadapi wanita dalam kehidupan
kontemporer (Goleman et al, (1990) dalam Nevid et al (2005).
2. Umur
Depresi dapat terjadi dari berbagai kalangan umur. Serkitar 7,8% dari setiap
populasi mengalami gangguan mood dalam hidup mereka dan 3,7% mengalami
gangguan mood sebelumnya. (Weissman et al, (1991) dalam Barlow (1995)).
Depresi mayor umumnya berkembang pada masa dewasa muda, dengan usia
rata-rata onsetnya adalah pertengahan 20 (APA, (2000) dalam Nevid et al, (2005)).
Namun gangguan tersebut dapat dialami bahkan oleh anak kecil, meski hingga usia
14 tahun resikonya sangat rendah (Lewinsohn, et al, (1986), Nevid et al, (2005).
3. Faktor Sosial-Ekonomi dan Budaya
Tidak ada suatu hubungan antara faktor sosial-ekonomi dan gangguan
depresi mayor, tetapi insiden dari gangguan Bipolar I lebih tinggi ditemukan pada
kelompok sosial-ekonomi yang rendah (Kaplan, et al, 2010). Dari faktor budaya tidak
ada seorang pun mengetahui mengapa depresi telah mengalami peningkatan di
banyak budaya, namun spekulasinya berfokus pada perubahan sosial dan
lingkungan, seperti meningkatnya disintegrasi keluarga karena relokasi, pemaparan
terhadap perang, dan konflik internal, serta meningkatnya angka kriminal yang
disertai kekerasan, seiring dengan kemungkinan pemaparan terhadap racun atau
virus di lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan mental maupun fisik (Cross
National Colaborative Group, (1992) dalam Nevid et al, (2003).

2.1.5. Patofisiologi Depresi


Depresi dan gangguan mood melibatkan berbagai faktor yang saling
mempengaruhi. Konsisten dengan model diatesis-stres, depresi dapat merefleksikan
antara

faktor-faktor

biologis

(seperti

faktor

genetis,

ketidakteraturan

neurotransmitter, atau abnormalitas otak), faktor psikologis (seperti distorsi kognitif


6

atau ketidakberdayaan yang dipelajari), serta stressorsosial dan lingkungan (seperti


perceraian atau kehilangan pekerjaan).

Faktor Potensial Pelindung


Sumber sumber daya
Coping
Dukungan social

Diatesis

Faktor Resiko

Kerentanan psikologis

Pengangguran

Kerentanan biologis

Perceraian
Sosio kultural

Model diatesis-stres dari depresi (Nevid et al, 2005).

2.1.6. Gejala Klinis Dan Diagnosis Depresi


Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa 3, Gejala utama
depresi adalah:
-

Afek depresif
Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa
lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

Gejala lainnya:
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Konsentrasi dan perhatian berkurang;


Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
Tidur terganggu;
7

g) Nafsu makan berkurang.

Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode
lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung
cepat.
Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1) dan berat (F32.2)
hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif
berikutnya harus diklasifikasikan bawah salah satu diagnosis gangguan depresif
berulang (F33. -)

1. Episode Depresif Ringan


- Sekurang kurangnya harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi seperti tersebut di
atas;
- Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya (a) (g)
- Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya.
- Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu.
- Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan social yang biasa
dilakukannya.
2. Episode Depresif Sedang
- Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi.
- Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya;
- Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu.
- Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan social, pekerjaan dan
urusan rumah tangga.
3. Episode Depresif Berat Tanpa Gejala Psikotik
- Semua 3 gejala utama depresi harus ada.
- Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa di antaranya
harus berintensitas berat.
- Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan
banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh
terhadap episode depresif berat masih dapat dibenarkan.
- Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan
tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan
untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu.
- Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan social,
pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

4. Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik


- Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2
- Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa
bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya
berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging
membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Jika
diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak
serasi dengan afek (mood-congruent)

Menurut DSM 5, antara lain kelainan depresi adalah gangguan disregulasi suasana
perasaan.
Gangguan disregulasi suasana perasaan
Kriteria diagnostik gangguan disregulasi suasana perasaan adalah;
a) Berat ledakan marah berulang diwujudkan secara verbal (misalnya, mengamuk
lisan) dan/atau perilaku (misalnya, agresi fisik terhadap orang atau barang) yang
di luar dari intensitas atau durasi sesuai dengan situasi atau provokasi.
b) Ledakan marah tidak konsisten dengan tingkat perkembangan.
c) Terjadi ledakan marah, rata-rata tiga kali atau lebih per minggu.
d) Suasana ledakan marah adalah terus-menerus sepanjang hari, hampir setiap hari,
dan dapat dilihat oleh orang lain (misalnya, orang tua, guru, teman sebaya)
e) Kriteria A - D telah hadir selama lebih 12 bulan. Sepanjang waktu itu, pasien tidak
memiliki gejala yang berlangsung 3 bulan atau lebih secara berturut-turut tanpa
semua gejala di Kriteria A - D.
f) Kriteria A dan D yang hadir dalam setidaknya dua dari tiga pengaturan (misalnya,
di rumah, di sekolah, dengan teman sebaya) dan parah di akhirnya salah satu dari
ini.
g) Diagnosis tidak boleh dilakukan untuk pertama kalinya sebelum usia 6 tahun atau
setelah usia 18 tahun.
9

h) Menurut anamnesis atau observasi, usia saat onset Kriteria A - E adalah sebelum
10 tahun.
i) Tidak pernah periode yang berbeda yang berlangsung lebih dari 1 hari di mana
kriteria gejala penuh, kecuali durasi, untuk episode manik atau hypomanic telah
dipenuhi.
j) Perilaku tidak terjadi secara eksklusif selama gangguan depresi mayor dan tidak
lebih baik dijelaskan oleh gangguan mental lain (misalnya, gangguan spektrum
autisme, gangguan stres pasca trauma, gangguan ansitas pemisahan, gangguan
depresi persisten (dysthymia)
k) Gejala tersebut tidak menyebabkan secara fisiologis mempengaruhi suatu zat
atau kondisi medis atau neurologis lainnya.

2.1.7. Pengobatan
- Pengobatan secara biologis
1. Tricyclic Antidepressants
Obat ini membantu mengurangi gejala-gejala depresi dengan mekanisme
mencegah reuptake dari norephinefrin dan serotonin di sinaps atau dengan cara
mengubah reseptor-reseptor dari neurotransmitter norephinefrin dan serotonin.
Obat ini sangat efektif, terutama dalam mengobati gejala-gejala akut dari depresi
sekitar 60% pada individu yang mengalami depresi. Tricyclic antidepressants yang
sering digunakan adalah imipramine, amitryiptilene, dan desipramine (Reus V.I.,
2004).
2. Monoamine Oxidase Inhibitors
Obat lini kedua dalam mengobati gangguan depresi mayor adalah
Monoamine Oxidase Inhibitors. MAO Inhibitors meningkatkan ketersediaan
neurotransmitter dengan cara menghambat aksi dari Monoamine Oxidase, suatu
enzim yang normalnya akan melemahkan atau mengurangi neurotransmitter dalam
sambungan sinaptik (Greene, 2005). MAOIs sama efektifnya dengan Tricyclic
Antidepressants tetapi lebih jarang digunakan karena secara potensial lebih
berbahaya (Reus V.I., 2004).
10

3. Selective Serotonine Reuptake Inhibitors and Related Drugs


Obat ini mempunyai struktur yang hampir sama dengan Tricyclic
Antidepressants, tetapi SSRI mempunyai efek yang lebih langsung dalam
mempengaruhi kadar serotonin. Pertama SSRI lebih cepat mengobati gangguan
depresi mayor dibandingkan dengan obat lainnya. Pasien-pasien yang menggunakan
obat ini akan mendapatkan efek yang signifikan dalam penyembuhan dengan obat
ini.
Kedua, SSRI juga mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibandingkan
dengan obat-obatan lainnya. Ketiga, obat ini tidak bersifat fatal apabila overdosis
dan lebih aman digunakan dibandingkan dengan obat-obatan lainnya. Dan yang
keempat SSRI juga efektif dalam pengobatan gangguan depresi mayor yang disertai
dengan gangguan lainnya seperti: gangguan panik, binge eating, gejala-gejala
pramenstrual (Reus, V.I., 2004).
4. Terapi Elektrokonvulsan
Terapi ini merupakan terapi yang paling kontroversial dari pengobatan
biologis. ECT bekerja dengan aktivitas listrik yang akan dialirkan pada otak.
Elektroda-elektroda metal akan ditempelkan pada bagian kepala, dan diberikan
tegangan sekitar 70 sampai 130 volt dan dialirkan pada otak sekitar satu setengah
menit. ECT paling sering digunakan pada pasien dengan gangguan depresi yang tidak
dapat sembuh dengan obat-obatan, dan ECT ini mengobati gangguan depresi sekitar
50%-60% individu yang mengalami gangguan depresi (Reus, V.I., 2004).

- Pengobatan secara psikologikal


1. Terapi Kognitif
Terapi kognitif merupakan terapi aktif, langsung, dan time limited yang
berfokus pada penanganan struktur mental seorang pasien. Struktur mental tersebut
terdiri ; cognitive triad, cognitive schemas, dan cognitive errors (C. Daley, 2001).
2. Terapi Perilaku
11

Terapi perilaku adalah terapi yang digunakan pada pasien dengan gangguan
depresi dengan cara membantu pasien untuk mengubah cara pikir dalam
berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan orang-orang sekitar. Terapi perilaku
dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, sekitar 12 minggu (Reus, V.I., 2004).

3. Terapi Interpersonal
Terapi ini didasari oleh hal-hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal
seorang individu, yang dapat memicu terjadinya gangguan mood (Barnett & Gotlib,
1998: Coyne, 1976). Terapi ini berfungsi untuk mengetahui stressor pada pasien yang
mengalami gangguan, dan para terapis dan pasien saling bekerja sama untuk
menangani masalah interpersonal tersebut (Barlow, 1995).

2.1.8. Pencegahan Depresi


Akibat banyaknya dampak buruk yang disebabkan oleh gangguan
depresi maka dibuat suatu pencegahan dalam menangani gangguan depresi pada
individu-individu sebelum mereka mengalami gangguan depresi tersebut. Beberapa
penelitian menerapkan terapi kognitif perilaku dan terapi interpersonal yang dimana
dapat mencegah onset awal dari terjadinya gangguan depresi pada individu-individu
yang mempunyai faktor resiko tinggi untuk mengalami gangguan depresi; sebagai
contoh: terapi kognitif-perilaku dapat digunakan untuk mencegah gangguan depresi
pada individu-individu dengan pendapatan yang rendah, yang terpapar dengan
stressor-stressor yang ada.
Penelitian yang menjelaskan gangguan depresi terjadi pertama kali pada
masa remaja telah meyakinkan para peneliti untukk melakukan pencegahan awal
pada anak remaja yang mempunyai faktor resiko tinggi untuk mengalami gangguan
depresi. Sebagai contohnya anak remaja yang sudah menunjukkan gejala-gejala
depresi ringan sedang secara acak mendapatkan terapi kognitif-perilaku dan
kontrol group. Para remaja mendapatkan terapi kognitif-perilaku sebanyak 15 sesi
dalam suatu kelompok-kelompok kecil setelah kam sekolah atau perkuliahan selesai.

12

Terapi ini berfungsi untuk membantu mereka menangani cara berpikir mereka yang
negatif dan untuk mempelajari cara belajar yang efektif (Reus V.I., 2004).

2.1.9 PROGNOSIS
Gangguan depresi berat bukan merupakan gangguan yang ringan. Keadaan
ini cenderung merupakan gangguan yang kronis dan pasien cenderung mengalami
relaps. Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif
memiliki kemungkinan 50 % untuk pulih di dalam tahun pertama.
Rekurensi episode depresi berat juga sering, kira-kira 30 sampai 50 % dalam
dua tahun pertama dan kira-kira 50 sampai 70 % dalam 5 tahun. Insidensi relaps
adalah jauh lebih rendah dari pada angka tersebut pada pasien yang meneruskan
terapi psikofarmakologis profilaksis dan pada pasien yang hanya mengalami satu
atau dua episode depresi.

KESIMPULAN
Gangguan depresi berat merupakan suatu masa terganggunya fungsi
manusia yang berkaitan dengan perasaan yang sedih dan gejala penyertanya,
termasuk perubahan pada psikomotor, kemampuan kognitif, pembicaraan dan
fungsi vegetatif.
Penyebab dari gangguan depresi terdiri dari faktor biologis, faktor genetika
dan faktor psikososial. Pada hipotesis timbulnya depresi dihubungkan dengan peran
beberapa neurotransmiter aminergik. Hipotesis tersebut menjadi dasar penggunaan
dan pengembangan obat-obat anti depresan.
Untuk menegakkan diagnosis gangguan depresi berat, PPDGJ III mensyarati
harus didapati tiga gejala utama gangguan depresi dan minimal empat gejala lainnya
dan beberapa di antaranya harus berintensitas berat.
Pada gangguan depresi yang sering terdapat pikiran-pikiran atau rancangan
bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit dengan pemberian
terapi elektrokonvulsi di samping psikoterapi dan obat anti depresan.

13

Pemberian anti depresan diberikan melalui tahapan-tahapan, yaitu dosis


initial, titrasi, stabilisasi, maintenance dan dosis tapering. Dimana dosis dan lama
pemberiannya berbeda-beda.
Kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi adalah pengobatan yang paling
efektif untuk gangguan depresi berat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ 111 dan DSM
V. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya, Jakarta 2013.
2. Kaplan H. I, Sadock B. J, Sadock V. A. Synopsis of Psychiatriy: Behavioral Sciences /
Clinical Psychiatriy, 10th Edition. 2007; 527 539.
3. Marina M, M. Taghi Yasamy, Mark V. O, Dan C, Shekhar S. Depression
A Global Public Health Concern. WHO Department of Mental Health and Substance
Abuse. 2010.
4. Tom Insel, M.D. Depression. National Institute of Mental Health. 2014.
http://www.nimh.nih.gov/health/topics/depression/index.shtml
5. Kurt D. M, Timothy J. H, Claudia G,Theresa M, Gilligan, Melissa R. G. Depression
Among College Students: Trends in Prevalence and Treatment Seeking. Counseling
and Clinical Psychology Journal, 2006. Appalachian State University. 2006.
6. Marilyn Elias. Study: Net use doesn't increase depression, after all. USA Today. 2001.
7. Coy Stoker. Depression. University of Phoenix.2008.
8. Gregory E. Simon, MD, MPH, Michael VonKorff, ScD. Recognition, Management, and
Outcomes of Depression in Primary Care. Archives of family medicine, 1995.

14