Anda di halaman 1dari 5

TUGAS BIOETIKA PPDGS PROSTODONTI 2014

Kasus:

Contoh yang paling aktual, yaitu kasus yang dialami oleh dokter gigi (drg) Nelly yang
mengalami kebutaan permanen pasca operasi bedah tumor pada punggungnya. Nelly melalui
kuasa hukumnya menggugat para dokter dan RS Medistra di Jakarta Selatan, tempat ia dirawat,
karena telah melakukan malpraktek atas dirinya.
Malang bagi Nelly, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menyidangkan kasusnya akhirnya
menolak gugatannya. Alasannya, dari bukti-bukti yang diajukan selama persidangan tidak
terbukti bahwa rumah sakit dan tiga dokter yang merawatnya telah melakukan malpraktek
terhadap sang dokter gigi (baca hukumonline, 30/4).
Nelly barangkali tidak pernah membayangkan bahwa keputusannya untuk sembuh dari tumor
punggung yang dideritanya justru malah membawa bencana baru bagi dirinya dan juga
keluarganya. Lebih jauh, seharusnya kita bisa mengkritisi pertimbangan hakim yang menyatakan
bahwa kebutaan Nelly adalah akibat dari penyakit diabetes yang ia miliki dan bukan lantaran
operasi bedah.
Pasalnya kalau memang kebutaan tersebut diakibatkan oleh penyakit yang diidap oleh Nelly
sendiri, maka sebagai awam kita akan mempertanyakan apakah pihak rumah sakit dan para
dokter telah menyampaikan hal tersebut kepada Nelly sebelum operasi dimulai. Atau lebih
tepatnya lagi saat sebelum ada informed consent dari si pasien. Hal ini rupanya luput dari
perhatian majelis hakim.
"Mereka (para dokter) tidak pernah bisa bilang salah, yang dicari kebenarannya saja. Karena
faktanya jelas, mata saya buta. Kalau memang ketahuan bisa menimbulkan kebutaan, kenapa
saya tidak diberitahu sejak awal. Malah saya ditakuti-takuti, kalau saya dioperasi, kaki saya
lumpuh. Saya merasa diperlakukan tidak adil," ungkap Nelly kepada hukumonline.
'Vonis' bahwa penyebab kebutaan Nelly adalah karena diabetes dikeluarkan oleh ahli dari
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang menjadi salah satu saksi ahli dalam
persidangan kasus malpraktek tersebut. Selain itu, ada beberapa dokter lain yang hadir sebagai
saksi ahli yang kesemuanya mementahkan tuduhan malpraktek yang diajukan kuasa hukum
Nelly.
Sementara itu, RS Medistra menganggap gugatan Nelly salah alamat. Bahkan, RS Medistra
menyatakan tidak bertanggungjawab atas tindakan dokternya yang melakukan operasi terhadap
pasien. Para dokter itu hanyalah dokter spesialis tamu yang mengambil segala keputusan untuk
kepentingan pasien. RS Medistra hanya pemberi fasilitas, sedangkan kewenangan sepenuhnya
pada para dokter yang menangani.

Lebih jauh dr. Susilawati, direktur RS Medistra, dalam jawabannya (24/1) mengungkapkan
bahwa secara fakta para dokter yang melakukan operasi terhadap Nelly tidak pernah menerima
gaji dari RS Medistra. Karena itu, apa yang dilakukan para dokter menjadi tanggung jawab
dokter terhadap pasien yang mereka tangani.

Sumber: http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol5471/pasien-jadi-korban-rumah-sakit-lepas-tangan

Pembahasan kasus menurut Kaedah Dasar Bioetika:


I. KDB Beneficence
Kriteria
Mengutamakan altruism
Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
Memandang pasien/keluarga/ sesuatu tak hanya sejauh
menguntungkan dokter
Mengusahakan kebaikan/manfaat lebih banyak
dibandingkan keburukannya
Paternalism bertanggung jawab/ berkasih sayang
Menjamin kehidupan-baik-minimal manusia
Pembatasan goal based
Maksimilisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
Minimalisasi akibat buruk
Kewajiban menolong pasien gawat-darurat
Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
Tidak menarik honorarium diluar kepantasan
Maksimiliasasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
Mengembangkan profesi secara terus-menerus
Memberikan obat berkhasiat namun murah
Menerapkan golden rule principle

Ada

Tidak ada
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V

Terjadi pelanggaran beneficence, karena:


-

Pasien tidak diberikan kejelasan hukum karena pihak rumah sakit mengatakan bahwa dokter yang
melakukan operasi bukanlah dokter resmi di rumah sakit tersebut
Pihak rumah sakit seharusnya tidak mengizinkan dokter yang tidak terdaftar sebagai bagian dari
rumah sakit tersebut untuk menjalankan operasi
Rumah sakit lepas tangan terhadap resiko pasca operasi

II. KDB Autonomi


Kriteria
Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai
martabat pasien
Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan
(pada kondisi elektif)
Berterus terang
Menghargai privasi
Menjaga rahasia pasien
Menghargai rasionalitas pasien
Melaksanakan informed consent
Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil
kputusan sendiri
Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi
pasien

Ada

Tidak ada
V
V
V
V
V
V
V
V
V

Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam


membuat keputusan, termasuk keluargaa pasien sendiri
Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien
pada kasus non emergensi

V
V

Terjadi pelanggaran KDB Autonomi, karena:


-

Pasien dirugikan karena tidak diberi informasi mengenai resiko kebutaan sebelum
dilaksanakannya dioperasi jika penyebab kebutaan dikarenakan penyakit diabetes pasien

III. KDB Justice


Kriteria
Memberlakukan segala sesuatu secara universal
Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang
telah ia lakukan
Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam
posisi yang sama
Menghargai hak sehat pasien
Menghargai hak hukum pasien
Menghargai hak orang lain
Menjaga kelompok yang rentan
Tidak melakukan penyalahgunaan
Bijak dalam makro alokasi
Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan
kebutuhan pasien
Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kebutuhannya
Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian
Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang
tepat dan kompeten
Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa
alasan tepat

Ada
-

Dalam scenario, tidak disebutkan adanya pelanggaran KDB Justice.

Tidak ada
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V

IV. KDB Non Maleficence


Kriteria
Menolong pasien emergensi
Kondisi untuk menggambarkan kriteria ini adalah:
- Keadaan pasien amat berbahaya (darurat)/ risiko
hilangnya sesuatu yang penting
- Dokter sanggup mencegah bahaya atau
kehilangan tersebut
- Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
- Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya
resiko minimal)
Mengobati pasien yang luka
Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)
Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
Tidak memandang pasien hanya sebagai objek
Mengobati secara proporsional
Mencegah pasien dari bahaya
Menghindari misrepresentasi dari pasien
Tidak membahayakan kehidupan pasien karena
kelalaian
Memberikan semangat hidup
Melindungi pasien dari serangan
Tidak melakukan white collar crime dalam bidang
kesehatan/kerumah-sakitan yang merugikan pihak
pasien/keluarganya

Ada

Tidak Ada
-

V
V
V

V
V
V
V
V
V
V

Terjadi pelanggaran KDB Non-Maleficence, karena:


-

Pasien dirawat oleh dokter yang tidak resmi terdaftar di rumah sakit sehingga resiko operasi tidak
dapat dipertanggung jawabkan
Pihak rumah sakit gagal meminimalisir resiko kebutaan pada pasien
Kerugian pasca operasi lebih besar dibandingkan manfaatnya