Anda di halaman 1dari 6

Case report

Seorang wanita 31 tahun (163 cm, 54 kg)


dijadwalkan untuk reseksi kista ovarium
Pada pemeriksaan pre-operasi tidak ditemukan
adanya kelainan
Pasien juga tidak memiliki riwayat alergi
Pada kunjungan pre-operasi, pasien menunjukkan
kekhawatiran yang dalam tentang rasa sakit yang
akan nantinya pasien alami pasca operasi, yang
tampaknya melampaui tingkat kecemasannya
sebelum dioperasi.
Jenis anestesi yang di rencakan yaitu kombinasi
antara anestesi umum dengan anestesi epidural

Pada anestesi umum pasien diinduksi dengan


remifentanil 0,5 mg/kg dan diberikan propovol
pada konsentrasi 4.0 mg/ml
Intubasi dimulai dengan pemberian rocuronium
40 mg (iv)
Anestesi dipertahankan dengan propofol pada
1,5-2,5 mg/ml dan dilanjutkan pemberian
remifentanil 0,1-0,6 mg/kg/menit, dilengkapi
dengan dosis bolus fentanil 50-100 mg (total 450
mg)
Beberapa menit sebelum pembedahan selesai
pasien diberikan analgesia (IV) fentanyl sebanyak
0,52 mg/kg/jam dengan dosis sebesar 28 ug
dalam selang waktu 20 menit

Waktu operasi adalah selama 62 menit


Untuk menyempurnakan operasi, kedua sisi
bidang datar pada abdomen di blockade dengan
ropivacaine 80 mg
Lima belas menit kemudian diberikan
sugammadex 200 mg
Segera setelah ekstubasi, pasien tidak hanya
mengalami agitasi dan hiperventilasi tetapi
disertai juga dengan nafas yang tersengal-sengal
dan mengeluh nyeri pada bagian bawah perutnya
Pasien diberikan Fentanyl 50 ug, namun
tampaknya tidak efektif tiba-tiba pasien
kehilangan kesadaran dan menjadi apnea

Pasien segera diberikan oksigen 8 L/menit melalui


ventilator mekanik dengan face mask kurang efisien
saturasi oksigen turun sampai 60%
Pasien diberikan sevofluran 5% dan ternyata secara
bertahap memperbaiki ventilasi pasien, sehingga
memperbaiki saturasi oksigen menjadi 98%
Pasien sadar dan nafas kembali spontan dan 30 menit
kemudian pasien kembali mengeluh nyeri fentanil
25 ug (iv) dibagi menjadi 4 sosis dimana masing-masing
dosis dalam selang waktu 20 menit
Diberikan acetaminophen 300 mg melalui dubur tetapi
tetap tidak mengurangi rasa sakit pasien diberikan
anestesi lokal pada luka operasi dengan ropivacaine
120 mg

Di ruang perawatan, pasien tetap diberikan


analgesia intravena 48 jam pasca operasi,
dimana pasien diberikan dosis aman 12 kali
pada 12 jam pertama
Loxoprofen oral 180 mg/hari mulai diberikan
pada hari ketiga pasca operasi nyyeri secara
bertahap mereda
Operasi telah berjalan lancar dan pasien
keluar dari rumah sakit pada hari 7 pasca
operasi