Anda di halaman 1dari 8

Teori Analisis Cobb Douglas

Produksi sering diartikan sebagai penciptaan guna, yaitu kemampuan


barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Produksi dalam hal ini
mencakup pengertian yang luas yaitu meliputi semua aktifitas baik penciptaan
barang maupun jasa-jasa. Proses penciptaan ini pada umumnya membutuhkan
berbagai jenis faktor produksi yang dikombinasikan dalam jumlah dan kualitas
tertentu. Untuk menunjukkan hubungan antara input produksi dan output yang
dihasilkan maka terbentuk suatu fungsi yang disebut fungsi produksi.
Setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang dalam landasan
teori tersebut disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau
persamaan yang menunjukkan hubungan antara tingkat output dari tingkat
penggunaan input-input (Boediono, 1989).
Menurut Soekarwati (1990) Fungsi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi atau
persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu
disebut dengan variabel dependen (yang dijelaskan/Y), dan yang lain disebut
variabel independen (yang menjelaskan/X). Fungsi Cobb Douglas diperkenalkan
oleh Cobb C. W dan Douglas P. H pada tahun 1928 melalui artikel yang berjudul
A theory of Production di majalah Ilmiah American Economic Review 18
(Suplement) halaman 139 sampel 165,
Analisis fungsi produksi Cobb Douglas merupakan metode analisis yang
menerangkan suatu bentuk persamaan dilihat dari hubungan dan pengaruhnya
antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas (Nurul Hidayah, 2012)
Bentuk umum fungsi produksi Coob Douglas :
=
Keterangan :
Q : output
: konstanta
: tenaga kerja (labour)
: modal (kapital)
a, b : elastisitas input faktor produksi
Ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi dalam menggunakan fungsi produksi
Cobb Douglas, yaitu :

1. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol atau suatu bilangan yang besarnya
tidak diketahui (infinite);
2. Tidak ada perbedaan teknologi pada pengamatan;
3. Tiap-tiap variabel X adalah persaingan sempurna;
4. Perbedaan lokasi (pada fungsi produksi) adalah sudah tercakup pada factor
kesalahan (Soekartawi, 1990).

Elastisitas Produksi
Elastisitas Produksi parsial yang berkenaan dengan faktor produksi
merupakan ukuran perubahan proporsional outputnya yang disebabkan oleh
perubahan proporsional pada faktor produksi ketika faktor-faktor produksi lainnya
konstan (Beathe dan Taylor, 1994). Pada fungsi Cobb-Douglas, parameter a, dan b
dapat ditafsirkan sebagai elastisitas produksi untuk masing-masing faktor
produksi. Jadi elastisitas produksi untuk faktor-faktor produksi L, K dan
dinyatakan oleh besaran a,dan b.
Skala Hasil (Return to Scale)
Return to Scale didefinisikan sebagai derajat perubahan output apabila
semua inputnya diubah dalam proporsi yang sama. Skala hasil perlu dihitung
untuk mengetahui apakah kegiatan dari suatu usaha mengikuti kaidah increasing,
decreasing, atau constant return to scale. Menurut Soekartawi (1990) ada 3
alternatif dari kondisi Return to Scale, yaitu :
1. decreasing return to scale, bila 1 + 2 < 1
Dalam keadaan demikian dapat diartikan bahwa proporsi penambahan
factor produksi melebihi proporsi penambahan produksi. Misalnya, bila
penggunaan faktor produksi ditambah 25%, maka produksi akan ditambah sebesar
15%.
2. constant return to scale, bila 1 + 2 = 1
Dalam keadaan ini, penambahan faktor produksi akan proporsional dengan
penambahan produksi yang diperoleh. Misalnya, bila faktor produksi ditambah
25%, maka produksi akan bertambah 25% juga.

3. increasing return to scale, bila 1 + 2 > 1


Ini

artinya

bahwa

proporsi

penambahan

faktor

produksi

akan

menghasilkan tambahan produksi yang proporsinya lebih besar. Misalnya, bila


factor produksi ditambah 10%, maka produksinya akan bertambah sebesar 20%.

Review Jurnal
Analisis Efisiensi Usahatani Padi Sawah
(Studi Kasus di Subak Pacung Babakan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten
Badung)
Metode pelaksanaan
Lokasi penelitian Subak Pacung Babakan, Desa Werdi Bhuana, Kecamatan
Mengwi, Kabupaten Badung. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan
November sampai Desember 2011. Variabel-variabel yang dianalisis dalam
penelitian ini adalah: (1) Faktor Produksi; (2) Penerimaan; (3) Kendala. Penentuan
sampel dan teknik pengambilan sampel menggunakan Teori Slovin. Pada
penelitian ini taraf kekurang telitian (e2) yang diterapkan adalah sebesar 10%,
sehingga jumlah petani menjadi 73 petani dari 272 petani. Metode analisis
menggunakan pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas.
Estimasi fungsi produksi Cobb-Douglas.
LnY = 0 + 1LnX1 + 2LnX2 + 3LnX3 + 4LnX4+ 5LnX5 + 6LnX6 (1)

Di mana:
Y = Jumlah produksi padi (kg)
X1 = Bibit (kg)
X2 = Pupuk Urea (kg)
X3 = Pupuk NPK (Phonska dan Pelangi) (kg)
X4 = Pupuk Organik (kg)
X5 = Pestisida (lt)
X6 = Tenaga Kerja (HOKP)

Efisiensi Harga atau Allocative Efficiency


1.

Produksi Pisik Marginal (PPM)


Produksi Pisik Marginal atau Marginal Physical Product (MPP)

menggambarkan perubahan penggunaan satu-satuan input yang digunakan.


Adapun nilainya dapat dicari dengan rumus:
PPMxi = bi Yrata-rata
Xi rata-rata
Keterangan:
PPMxi = Produksi Pisik Marginal dari Xi
Yrata-rata = Geometrik mean dari output
Xi rata-rata = Geometrik mean dari input Xi
bi
= Koefisien regresi dari masing-masing faktor produksi (Xi)

2. Nilai Produk Marginal (NPM)


Nilai Produk Marginal dapat dihitung dengan mengalikan produk pisik
marginal atau marginal physical product (MPP) dengan harga satu-satuan unit
produksi yang dihasilkan (Py). Adapun rumusnya sebagai berikut.
NPMxi = PPMxi . Py
Keterangan:
NPMxi = Nilai Produk Marginal dari input Xi
Py = Harga rata-rata satu-satuan unit produksi (Y)

3. Indeks Efisiensi Faktor Produksi


Efisiensi

penggunaan

faktor

produksi

ditentukan

dengan

cara

membandingkan Nilai Produksi Marginal (NPM) faktor produksi dengan harga


faktor produksi yang ditimbulkan. Adapun rumusnya adalah :

Keterangan:
Ef

= Indeks efisiensi faktor produksi (Xi)

NPMxi = Nilai Produksi Marginal karena menggunakan Xi


Pxi = Harga faktor produksi yang digunakan

Alokasi penggunaan faktor produksi tidak efisien dapat terjadi karena dua
kemungkinan yaitu: (1) alokasi masukan faktor produksi masih terlampau rendah
atau (2) alokasi masukan faktor produksi sudah terlampau tinggi.
Menurut Soekartawi (2003) bahwa dalam kenyataan NPMxi tidak selalu
sama dengan Pxi, yang sering terjadi adalah sebagai berikut:
a. (NPMxi/Pxi) > 1, artinya penggunaan input X belum efisien, untuk mencapai
efisiensi maka input X perlu ditambah.
b. (NPMxi/Pxi) < 1, artinya penggunaan input X tidak efisien, untuk menjadi
efisien maka penggunaan input X perlu dikurangi.

Efisiensi Ekonomis
Efisiensi ekonomi usahatani padi sawah dapat dinyatakan sebagai berikut.
EE = ET. EH
Keterangan:
EE = Efisiensi Ekonomi
ET = Efisiensi Teknik
EH = Efisiensi Harga
Kendala-Kendala dalam Usahatani Padi Sawah
Kendala-kendala dalam usahatani padi sawah di Subak Pacung Babakan
Desa Werdi Bhuana, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung memakai metode
deskriptif kualitatif. Kendala di Subak Pacung Babakan dikaji dalam aspek tempat
pembelian sarana produksi, dan modal menggunakan analisis kualitatif.

Hasil dan Pembahasan


Efisiensi Teknis pada Usahatani Padi Sawah di Subak Pacung Babakan
Tabel : Hasil Analisis Regresi Faktor Produksi pada Usahatani Padi Sawah di
Subak Pacung Babakan

LnY=8,380 -0,147 LnX1+ 0,017 LnX2+0,010 LnX3 +0,000 LnX4 -0,034 LnX5 -0,049 LnX6

Dari hasil analisis regresi di atas dapat diketahui bahwa semua faktor
produksi tidak efisien, tidak ada yang berpengaruh nyata secara teknis terhadap
produksi. Ketidak nyataannya dikarenakan semua nilai elastisitas faktor produksi
<1.
Efisiensi Harga pada Usahatani Padi Sawah di Subak Pacung Babakan
Tabel : Hasil Analisis Efisiensi Harga

Dari hasil analisis regresi faktor-faktor produksi di atas, dapat dilihat


bahwa semua penggunaan faktor produksi tidak efisien dikarenakan NPM semua
faktor produksi <1 pemakaian input secara berlebihan sehingga perlu dikurangi.

Efisiensi Ekonomi pada Usahatani Padi Sawah di Subak Pacung Babakan

Tabel : Hasil Analisis Efesiensi Ekonomi


Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa semua faktor produksi X1 sampai X6
semuanya tidak efisien dalam usaha padi sawah. Maka semua penggunaan input
di Subak Pacung Babak secara efisiensi ekonomi tidak ada yang efisien yang
artinya penggunaan input yang tidak optimal sehingga belum mencapai
keuntungan maksimal.

Kendala-kendala dalam Usahatani Padi Sawah di Subak Pacung Babakan


Kendala yang dihadapi oleh petani di Subak Pacung Babakan dikarenakan
sering terjadinya perolehan sarana produksi yang terlambat, tidak tepat waktu,
ketika petani akan membeli sarana produksi harus menunggu dikarenakan
persediaan yang ada di KUD tidak mencukupi dan dikoperasi unit desa tersebut
tidak memberikan kredit kepada petani.

Bruce R. Beattie & C. Robert Taylor. 1994. Ekonomi Produksi. Yogyakarta:


UGM PRESS
Boediono. 1989. Ekonomi Mikro. Yogyakarta : BPFE-UGM.
Soekartawi. 1990. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Pembahasan Analisis
Faktor Produksi Cobb Douglas. Jakarta : Rajawali Pres.
Nurul Hidayah, Anggun. 2012. Analisis Fungsi Produksi Cobb Douglas Dengan
Metode Iterasi Gauss Newton. Jakarta : Pustaka Agung Harapan