Anda di halaman 1dari 8

Pengertian Geologi

Secara Etimologis Geologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Geo yang artinya bumi dan Logos
yang artinya ilmu, Jadi geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi. Bumi merupakan
salah satu planet yang ada di sistem tatasurya kita. Bumi didiskripsikan berbentuk bulat pepat
dan berputar pada poros pendeknya. Jari-jari bumi 6.370 km, yang terdiri dari benda padat
(batuan), benda cair, dan gas (udara). Karena Bumi tersusun oleh batuan, pengetahuan mengenai
komposisi, pembentukan, dan sejarahnya merupakan hal utama dalam memahami sejarah bumi.
Dengan kata lain batuan merupakan objek utama yang dipelajari dalam geologi.
2. Ruang Lingkup Geologi
Secara keseluruhan bumi ini terdiri dari beberapa lapisan yaitu :
1. Atmosfer, yaitu lapisan udara yang menyelubungi Bumi
2. Hidrosfer, yaitu lapisan air yang berada di permukaan Bumi
3. Biosfer, yaitu Lapisan tempat makhluk hidup
4. Lithosfer, yaitu lapisan batuan penyusun Bumi
Ruang lingkup pembelajaran geologi yaitu lithosfer yang merupakan lapisan batuan penyusun
bumi dari permukaan sampai inti bumi. Geologi juga mempelajari benda-benda luar angkasa,
dan bukan tak mugkin suatu saat nanti kita dapat mengetahui keadaan geologi bulan atau planet
lainnya misalnya.
Cabang-cabang ilmu geologi : Kajian geologi memiliki ruang lingkup yang luas, di dalamnya
terdapat kajian-kajian yang kemudian berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri walaupun
sebenarnya ilmu-ilmu tersebut tidak dapat dipisahkan dan saling menunjang satu sama lain.
ilmu-ilmu tersebut yaitu :
1. Mineralogi, yaitu ilmu yang mempelajari mineral, berupa pendeskripsian mineral yang
meliputi warna, kilap, goresan, belahan, pecahan dan sifat lainnya.
2. Petrologi, yaitu ilmu yang mempelajari batuan, didalamnya termasuk deskripsi, klasifikasi dan
originnya.
3. Sedimentologi, yaitu ilmu yang mempelajari batuan sediment, meliputi deskripsi, klasifikasi
dan proses pembentukan batuan sediment.
4. Stratigrafi, yaitu ilmu tentang urut-urutan perlapisan batuan, pemeriannya dan proses
pembentukannya.
5. Geologi Struktur, adalah ilmu yang mempelajari arsitektur kerak bumi dan proses
pembentukannya.
6. Palentologi, yaitu ilmu yang mempelajari aspek kehidupan masa lalu yang berupa fosil.
Paleontology berguna untuk penentuan umur dan geologi sejarah.
7. Geomorfologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk bentang alam dan proses-proses
pembentukan bentang alam tersebut. Ilmu ini berguna dalam menentukan struktur geologi dan
batuan penyusun suatu daerah.
8. Geologi Terapan, merupakan ilmu-ilmu yang dikembangkan dari geologi yang digunakan
untuk kepentingan umat manusia, diantaranya Geologi Migas, Geologi Batubara, Geohidrologi,
Geologi Teknik, Geofisila, Geothermal dan sebagainya.
Secara umum interior bumi terdiri dari daratan (benua, pulau-pulau, lembah-lembah, dan
pegunungan), serta lautan (lembah, palung, serta pegunungan bawah laut). Puncak gunung
tertinggi > 8.000 m dpl (Pegunungan Himalaya), sedangkan palung yang terdalam mencapai
kedalaman > 10.000 meter di bawah muka laut (Palung Philipina).

Informasi utama dari susunan dalam bumi diketahui berdasarkan informasi seismologi.
Berdasarkan penyelidikan oleh H. Jeffreys dan K.E. Bullen (1932-1942) yang mengacu pada
penyelidikan E. Wiechert (1890-an) dengan menggunakan cepat rambat gelombang P dan S,
didefinisikan pembagian bentuk dalam (lapisan-lapisan) dari interior bumi, yaitu terdiri dari inti
dalam, inti luar, mantel bawah, dan mantel atas, serta kerak bumi (Gambar 1 dan 2), dimana :
A. Inti bumi (paling dalam), terdiri dari inti dalam (kedalaman 5.140-6.371 km, padat, berat, dan
sangat panas), inti luar (kedalaman 2.883-5.140 km, cair atau lelehan lebih ringan, dan sangat
panas).
B. Mantel, terdiri dari mesosfer (kedalaman 350-2.883 km, padat, bertekanan tinggi, panas, dan
keras), astenosfer (kedalaman 100-350 km, lemah, mudah terdeformasi oleh panas dan tekanan,
serta plastis).
C. Litosfer (kerak bumi), kedalaman 0-100 km, padat, dingin, kaku, rapuh, dan ringan, yang
terdiri dari kerak benua (tebal), dan kerak samudera (tipis)..
Kerak benua didominasi oleh batuan yang kaya Silikat, dekat permukaan kaya dengan
alumunium (SiAl), dan pada kedalaman yang besar kaya akan magnesium (SiMa), lihat Gambar
2. Pada batas bawah kerak bumi, terjadi penambahan cepat rambat gelombang dan disebut
dengan bidang diskontinuitas Mohorivicic, dan ini juga berarti terjadinya perubahan komposisi
mineral batuan (spesies mineral), yang diinterpretasikan sebagai perubahan komposisi dari
gabbro menjadi suatu batuan ultrabasa (mineral dunit atau eklogit).
Kerak bumi yang merupakan bagian teratas dari interior bumi yang langsung kontak dengan
oksigen dan merupakan tempat akumulasi mineral-mineral batuan merupakan sasaran utama dari
ilmu genesa endapan bahan galian untuk dapat mengetahui sebaran mineral-mineral berharga.
Keterdapatan mineral-mineral berharga tersebut sangat bergantung pada jumlah (konsentrasi)
mineral-mineralnya, serta letak dan bentuk endapannya.
3. Kerak Bumi
Kerak bumi (earthcrust) merupakan padatan yang relatif dingin, rapuh, dan kaku (rigid) dengan
BJ lebih rendah sehingga seolah-olah mengapung di atas mantel. Ini adalah bagian yang berada
di permukaan bumi sampai kedalaman 100 km.
Karena adanya perbedaan panas yang sangat tinggi antara bagian bumi yang tengah dengan
bagian bumi yang lebih luar, maka akan terjadi perbedaan tekanan dimana tekanan pada bagian
dalam lebih besar, sehingga pergerakan magma akan menghasilkan aliran konveksi di dalam
mantel. Lelehan magma yang lebih panas akan bergerak ke atas dan lelehan magma yang lebih
dingin tenggelam (seperti gerakan air panas dan air dingin pada waktu kita menjerang air di atas
kompor, Gambar 3).
Akibat aliran konveksi lelehan magma tersebut lapisan kerak bumi yang padat dan relatif rapuh
yang ada di atasnya (mengapung) ikut bergerak sesuai dengan gerakan lelehan magma. Pada
suatu tempat tertentu lapisan kerak bumi akan retak dan bergerak saling menjauh, dan rekahan
yang ditinggalkannya akan segera terisi oleh lelehan magma yang kemudian juga akan membeku
(disebut sebagai daerah regangan dimana lempengan kerak bumi yang saling berdekatan
menjauh), contohnya pada laut yang dalam di tengah samudera (Atlantik, Pasifik, dll).
Pada bagian bumi lain akan terjadi tumbukan antara lempeng-lempeng yang saling mendekat
sehingga akan terjadi penunjaman dari salah satu lempeng tersebut. Lempeng yang lebih tipis
(lempeng samudera) akan menunjam di bawah lempeng benua yang relatif lebih tebal, dan sering

disebut sebagai sebagai zona subduksi (subduction zone). Pada bagian yang menunjam akan
meleleh menjadi magma dan bagian dari lempeng yang lain akan mengalami perlipatan,
pengangkatan, dan pensesaran (Gambar 4).
Dengan adanya retakan/bukaan akibat terbentuknya sesar-sesar tersebut maka pada bagianbagian tertentu pada zona tersebut kadang-kadang diterobos oleh lelehan batuan panas dari
mantel (magma) dan membentuk kantong-kantong lelehan batuan panas yang disebut sebagai
dapur magma (magma chamber).
Kalau penerobosan tersebut berlangsung sampai mencapai permukaan bumi, maka terjadilah
pembentukan deretan gunung berapi. Magma yang keluar akan menghasilkan material hasil
letusan gunung api, yang berupa tufa, lahar, maupun menghasilkan aliran lava panas yang akan
membentuk batuan lava di permukaan. Magma yang tidak mencapai permukaan akan membeku
di dalam bumi membentuk bermacam-macam jenis batuan beku.
4. Pembentukan Batuan
Batuan merupakan suatu bentuk padatan alami yang disusun oleh satu atau lebih mineral, dan
kadang-kadang oleh material non-kristalin. Kebanyakan batuan merupakan heterogen (terbentuk
dari beberapa tipe/jenis mineral), dan hanya beberapa yang merupakan homogen (disusun oleh
satu mineral atau monomineral). Tekstur dari batuan akan memperlihatkan karakteristik
komponen penyusun batuan, sedangkan struktur batuan akan memperlihatkan proses
pembentukannya (dekat atau jauh dari permukaan).
Batuan kristalin terbentuk dari tiga proses (fisika-kimia) dasar, yaitu kristalisasi dari suatu
larutan panas (magma), presipitasi dari larutan, serta rekristalisasi dari suatu bentuk padatan.
Proses-proses tersebut akan menghasilkan tipe atau produk akhir dari batuan sesuai dengan
kondisi atau tahapan pembentukannya, dan kadang-kadang muncul sebagai suatu produk
residual. Berdasarkan proses pembentukannya batuan dapat dikelompokkan sebagai batuan beku,
batuan sedimen, dan batuan metamorf.
4.1 Batuan Beku
Batuan beku merupakan produk akhir dari magma, yang merupakan suatu massa larutan silikat
panas, kaya akan elemen-elemen volatil, dan terbentuk jauh di bawah permukaan bumi melalui
reaksi panas (fusion) dari massa padatan. Bagian dari pelarutan pada bagian tengah lapisan kerak
bumi (hasil dari magma primer), biasanya mempunyai komposisi basaltik, dan muncul di
permukaan bumi melalui proses erupsi membentuk batuan volkanik atau ekstrusif, atau melalui
pen-injeksian pada perlapisan atau rekahan-rekahan dalam kerak bumi pada kedalaman yang
bervariasi membentuk batuan hipabissal (hypabyssal rocks). Magma-magma lain yang berasal
dari larutan basaltik yang melalui proses differensiasi kadang-kadang juga muncul ke permukaan
bumi.
Mineral-mineral yang pertama kali mulai mengkristal dari basalt (pada temperatur 1100 C
1200 C) membentuk mineral spinels (kromit) & sulfida, mineral-mineral jarang, serta logamlogam berharga (spt platinum), yang sering dikenal sebagai mineral-mineral aksesoris yang
terbentuk dalam jumlah yang sedikit pada tipe batuan tersebut. Kadang-kadang pada temperatur
terendah (pada range temperatur pembentukan), mengkristal silikat yang kaya akan besi &
magnesium (olivin), sodium & kalsium (piroksen), serta kadang-kadang juga mengandung
potasium & air (mika dan amfibol). Seri (reaksi-reaksi) pembentukan mineral pada batuan beku
(basaltis) dipelajari oleh N.L. Bowen, dan urutannya dikenal dengan Deret (Series) Reaksi
Bowen seperti yang terlihat pada Gambar 5 dan 6.

Pada deret ini dapat dipresentasikan dua urutan pararel, yaitu :


Seri kontinious, dimana tipe plagioklas berupa feldspar (mineral-mineral felsik) yang terbentuk
setelah kristalisasi, dan dengan proses yang berkesinambungan dengan turunnya temperatur
terbentuk komposisi yang kaya akan kalsium (anortit) s/d komposisi yang kaya akan sodium
(albit).
Seri diskontinious, dimana mineral-mineral besi dan magnesium terbentuk pada awal kristalisasi
dari larutan dan terendapkan dengan sempurna membentuk mineral-mineral baru dengan suatu
sekuen reaksi yaitu :
Olivine hypersthene augit hornblende biotit
Berdasarkan letak dan bentuknya, batuan beku dapat digambarkan seperti yang terlihat pada
Gambar 7.
Batuan beku juga dapat dikelompokkan berdasarkan perbedaan susunan kimianya, yaitu :
1. Batuan beku asam, dengan kandungan SiO2 > 55% (granit, monzonit).
2. Batuan beku sedang, dengan kandungan SiO2 50-55% (granodiorit, diorit, andesit).
3. Batuan beku basa, dengan kandungan SiO2 di permukaan bumi.
3. Aktivitas atmosfir akan merubah batuan menjadi lapuk, tererosi, tertransportasi dan
diendapkan menjadi sedimen.
4. Karena beban dan konsolidasi serta penyemenan, sedimen berubah menjadi batuan sedimen
yang kompak dan keras.
5. Batuan sedimen dapat terangkat ke permukaan bumi. Atau mengalami proses metamorfosa
menjadi batuan metamorf. Batuan sedimen juga bisa tenggelam (penunjaman) dan meleleh
menjadi magma baru (mantel).
6. Batuan metamorf dapat terangkat ke permukaan bumi atau tenggelam menjadi magma baru
(mantel).
7. Batuan beku juga dapat mengalami metamorfosa menjadi batuan metamorf.
4. Stratigrafi
Secara umum stratigrafi diartikan sebagai suatu kesatuan ciri batuan yang berbeda dengan di atas
dan di bawahnya. Stratum dibatasi dari stratum lainnya oleh bidang perlapisan atau ciri-ciri lain
yang membedakannya dari yang berbatasan.
Penggolongan batuan berdasarkan lapisan-lapisan batuan di bumi menjadi satuan-satuan batuan
berdasarkan ciri-ciri litologinya disebut dengan litostratigrafi.
Beberapa konsep stratigrafi yang perlu diketahui antara lain :
1. Superposisi (Steno, 1669), yaitu lapisan yang lebih muda selalu berada di atas lapisan batuan
yang lebih tua.
2. Kedataran (Steno, 1669), yaitu susunan lapisan yang kedudukannya tidak horizontal berarti
telah mengalami proses geologi lain setelah pengendapannya.
3. Kesinambungan (Steno, 1669), yaitu pada dasarnya batas hasil suatu pengendapan berupa
bidang perlapisan akan menerus sampai penyebab kejadiannya menghilang pada suatu tempat.
Perubahan-perubahan posisi muka air laut (transgresi dan regresi) sangat mempengaruhi proses
pembentukan batuan sedimen tersebut sehingga batuan sedimen yang terbentuk sangat
tergantung pada kondisi lingkungan pengendapan pada waktu tersebut (sekuen stratigrafi). Jika
hubungan antar lapisan tidak normal (karena urutannya tidak menerus, atau karena sebagian
lapisan hilang akibat proses geologi) dikenal dengan istilah ketidakselarasan (unconformity).
Secara umum yang dapat dipelajari dari penampang stratigrafi suatu daerah antara lain :

mengetahui urutan-urutan pengendapan batuan di daerah tersebut, mengetahui susunan batuan,


ketebalan, dan hubungan setiap lapisan, dapat memberikan gambaran dalam melakukan
interpretasi lingkungan pengendapan daerah tersebut.
5. Mineralogi
Mineral didefinisikan sebagai bahan/zat anorganik padat yang homogen, terbentuk di alam dan
mempunyai susunan kimia dan sistem kristal tertentu. Beberapa contoh mineral dapat sebagai
berikut.
Contoh beberapa mineral
Komposisi kimia
Sistem kristal
Nama mineral
Ca Co3
Rombohedral
Kalsit
Ca Co3
Ortorombik
Aragonit
PbS
Isometrik
Galena
Fe2O3
Rombohedral
Hematit
Fe2O4
Isometrik
Magnetit
NaCl
Isometrik
Halit
CaSO4
Ortorombik
Anhidrit
CaSO4 . 2H2O
Monoklin
Gipsum

C
Isometrik
Intan
C
Heksagonal
Grafit
FeS2
Isometrik
Pyrit
FeS
Heksagonal
Pyrotit
Ada bahan lain yang tidak dapat disebut sebagai mineral, misalnya : SiO2 (opal, karena amorf),
C (batubara, karena merupakan bahan organik), H2O (air, karena bukan benda padat).
Mineral dapat merupakan bahan berharga/bahan tambang seperti : Cu5FeS4 (bornit, merupakan
bijih tembaga), CuFeS4 (kalkopirit, merupakan bijih tembaga), Fe2O3 (hematit, merupakan bijih
besi), Fe3O4 (magnetit, merupakan bijih besi), dll. Atau dapat merupakan gangue (pengotor)
bahan tambang (dibuang), misalnya : SiO2 (kuarsa, pada tambang timah), FeS2 (pirit, pada
tambang tembaga, emas), Na-Ca Si3O8 (felspar, pada tambang timah primer), dll
6. Struktur Geologi
Struktur geologi adalah suatu struktur atau kondisi geologi yang ada di suatu daerah sebagai
akibat dari terjadinya perubahan-perubahan pada batuan oleh proses tektonik atau proses lainnya.
Dengan terjadinya proses tektonik, maka batuan (batuan beku, batuan sedimen, dan batuan
metamorf) maupun kerak bumi akan berubah susunannya dari keadaannya semula. Struktur
geologi (makro) yang penting untuk diketahui antara lain ; bidang perlapisan, sistem sesar,
sistem perlipatan, sistem kekar, dan bidang ketidakselarasan.
6.1 Bidang Perlapisan
Bidang perlapisan hanya ditemukan pada batuan sedimen, yaitu suatu bidang yang memisahkan
antara suatu jenis batuan tertentu dengan batuan lain yang diendapkan kemudian, misalnya batas
antara lapisan batupasir dengan batugamping, atau batas lapisan batupasir yang satu dengan
batupasir lainnya yang dapat dibedakan (Gambar 10). Biasanya batuan sedimen terdiri dari
banyak sekali lapisan-lapisan yang berurutan dari tua ke muda, sehingga banyak pula bidang
perlapisannya. Bidang perlapisan tersebut merupakan bagian yang lemah dibandingkan dengan
kekuatan batuan sedimennya, karena itu dalam analisis kemantapan posisinya menjadi sangat
penting.
6.2. Sistem Sesar
Sesar atau patahan (fault) adalah suatu bidang yang terbentuk karena kekuatan batuan tidak dapat
menahan lagi tekanan/beban yang ada sehingga akhirnya batuan tersebut patah. Setelah
terjadinya sesar tersebut, kedua bagian yang tadinya berhubungan dapat bergeser naik, turun,
atau bergeser secara mendatar (Gambar 11).
Sesar yang terbentuk karena proses tektonik yang kuat umumnya tidak berdiri sendiri (tunggal),
tetapi akan menghasilkan sesar-sesar lain yang lebih kecil di sekitarnya sehingga dapat

membentuk suatu sistem sesar yang kompleks (Gambar 12).


6.3. Sistem Perlipatan
Karena aktivitas tektonik, lapisan batuan sedimen yang relatif elastis akan mengalami tekanan
yang tinggi dan terlipat, dan membentuk sistem sinklin-antiklin. Pada sistem perlipatan maka
lapisan batuan yang tadinya mendatar akan berubah posisinya menjadi miring dengan sudut
kemiringan (dip) dan jurus (strike) yang bervariasi (Gambar 13 dan 14).
Apabila besarnya tegangan yang bekerja pada batuan sedimen tersebut melampaui batas
elastisnya, maka sistem tersebut akan mengalami penyesaran dan pergeseran (Gambar 15).
Sedangkan kalau tidak terlalu besar, maka pada bagian-bagian tertentu mungkin akan terbentuk
sistem kekar tarik (pada batuan yang rapuh/getas).
Perlipatan menghasilkan bagian punggungan perlipatan yang disebut sebagai antiklin dan bagian
lembah yang disebut sebagai sinklin. Jarak antara antiklin dengan sinklin di dekatnya juga
bervariasi, tergantung pada besarnya gaya yang membentuknya. Demikian juga mengenai
kemiringan yang terbentuk pada perlipatan tersebut, yaitu tergantung pada amplitudo dan
frekuensi yang terjadi.
Lapisan batuan yang tidak mendatar lagi (miring) posisinya dinyatakan dalam jurus dan
kemiringannya (strike/dipnya), sehingga dibutuhkan interpretasi untuk mengkorelasikannya
(Gambar 16).
6.4. Sistem Kekar
Seperti juga pada sesar dan perlipatan, kekar umumnya terbentuk karena proses tektonik yang
terjadi pada suatu daerah tertentu. Dalam hal ini kekar merupakan akibat lanjutan dan proses
pembentuk sesar atau perlipatan. Kalau kekuatan suatu batuan (kuat tekan atau kuat tarik) tidak
sanggup lagi melawan tegangan yang ada, maka batuan tersebut akan pecah atau retak. Jika
ukuran dari retakan tersebut besar dan terjadi pergeseran yang besar disebut terjadi sesar,
sedangkan dalam ukuran retakan tersebut kecil (hanya sampai beberapa meter) dan relatif tidak
terjadi pergeseran disebut sebagai kekar (Gambar 17).
Pada suatu batuan yang sama dalam daerah yang relatif kecil sering terdapat beberapa pasang
kekar yang berbeda (sistem kekar). Kekar-kekar yang mempunyai orientasi (jurus dan
kemiringan) sama disebut sebagai satu set kekar. Dalam suatu sistem kekar bisa terdapat lebih
dari satu set kekar.
Permukaan bidang kekar ada yang halus, kasar, bergelombang, licin, dll, tergantung pada jenis
batuan, kekuatan batuan, besarnya gaya, dan jenis gaya yang bekerja padanya.
Dalam analisis kekar yang perlu diperhatikan adalah : ukuran kekar (persistensi), kekasaran
bidang kekar, bukaan kekar (separation), isi bukaan kekar (infilling), ada/tidaknya air pada
kekar, besar aliran air pada sistem kekar, orientasi bidang kekar (jurus dan kemiringan), jumlah
set kekar pada daerah yang sama, dan kerapatan/jarak kekar
6.5. Pengaruh Struktur
6.5.1 Terhadap kekuatan/kestabilan batuan
Adanya struktur sangat mempengaruhi kekuatan batuan, karena bidang-bidang struktur tersebut
jelas mengganggu kontinuitas kekuatan batuan, baik dalam skala besar maupun kecil. Misalnya :
batuan beku yang utuh kuat sekali dan karena itu stabil tetapi apabila ada kekar atau sesar
kekuatannya akan berkurang (Gambar 18), sedimen berlapis (Gambar 19), dan batuan
terkekarkan (Gambar 20).

6.5.2 Terhadap mineralisasi


Struktur (terutama sesar dan sistem kekar), yang terbentuk sebelum mineralisasi sangat penting
artinya karena merupakan saluran dan tempat berkumpulnya mineral berharga, terutama dalam
pembentukan endapan hidrothermal (Gambar 21). Contoh : endapan-endapan hidrothermal Au,
Cu, Pb, Zn, dll.
Struktur yang terbentuk sesudah mineralisasi atau terbentuknya suatu cebakan bahan galian akan
memindahkan bahan galian tersebut ke tempat lain, sehingga sulit dicari atau hilang (Gambar
22).
DAFTAR PUSTAKA
Dunham, R.J., 1862, Clasifikasi of Carbonate Rocks According to Depostional Texture, Amer.
Assn. Pet. Geol. Mem. No: 1, pp 108-121.
Graha, D.S. 1987., Batuan dan Mineral, Bandung.
Koesoemadinata, R.P. 1981. Prinsip-Prinsip Sedimentasi, ITB. Bandung.
Pendowo, B., 1985. Mengenal Batuan Beku, PPPG, Bandung.
Pettijohn, E.J., 1975. Sedimentary Rocks, Third Edition. Harper & Row.
Purbo, M.M., 1975, Peristilahan Geologi dan Ilmu yang berhubungan, Universitas ITB.,
Bandung.
Simpson, B., 1966, Rock and Minerals, Pergamon Press.
Turner, F.J., and Verhoogen, J., 1960. Igneous Rock and Metamorphic Petrology, John Wiley &
Sons.