Anda di halaman 1dari 15

1.

PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin)


Suatu pembangkit listrik dari energi angin merupakan hasil dari penggabungan dari
beberapa turbin angin sehingga akhirnya dapat menghasilkan listrik. Cara kerja dari
pembangkitan listrik tenaga angin ini yaitu awalnya energi angin memutar turbin angin.
Turbin angin bekerja berkebalikan dengan kipas angin (bukan menggunakan listrik untuk
menghasilkan listrik, namun menggunakan angin untuk menghasilkan listrik). Kemudian
angin akan memutar sudu-sudu turbin, lalu diteruskan untuk memutar rotor pada generator
letaknya di bagian belakang turbin angin. Generator mengubah energi putar rotor menjadi
energi listrik dengan prinsip hukum Faraday, yaitu bila terdapat penghantar di dalam suatu
medan magnet, maka pada kedua ujung penghantar tersebut akan dihasilkan beda potensial.
Ketika poros generator mulai berputar, maka akan terjadi perubahan fluks pada
stator yang akhirnya dihasilkan tegangan dan arus listrik. Tegangan dan arus listrik yang
dihasilkan ini disalurkan melalui kabel jaringan listrik dan didistribusikan ke rumah-rumah,
kantor, sekolah, dan sebagainya.
Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan oleh generator ini berupa AC (alternating
current) yang memiliki bentuk gelombang kurang lebih sinusoidal. Energi Listrik ini biasanya
akan disimpan kedalam baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Turbin untuk pemakaian umum
berukuran 50-750 kilowatt. Sebuah turbin kecil, kapasitas 50 kilowatt, digunakan untuk
perumahan, piringan parabola, atau pemompaan air.
PLTB ini sedang dikembangkan di wilayah Indonesia Timur yaitu di wilayah Nusa
Tenggara Timur (NTT).

2. PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap)

Keterangan gambar :
1. Stack
2. Boiler
3. FD Fan
4. Air Heater
5. Steam Drum
6. Primary Superheater
7. Economizer
8. Header
9. Water Wall
10. Secondary Superheater
11. Reheater
12. Wind Box
13. HP Turbine
14. IP Turbine
15. LP Turbine
16. Generator
17. Condenser
18. MFO Tank
19. MFO Pump
20. MFO Heater
21. Burner
22. Circulating Water Pump
23. Desalination Plant
24. Distillate Water Pump

25. Make Up Water Tank


26. Make Up Water Pump
27. Demin Water Tank
28. Demin Water Pump
29. Condensate Pump
30. LP Heater
31. Deaerator
32. Boiler Feed Pump
33. HP Heater
34. 18 kV/150kV Switch Yard
35. Transmission
Siklus Rankine Ideal
Siklus di PLTU menggunakan siklus rankine dengan superheater dan reheater.

Keterangan gambar :
a) Proses 1 1 : Penaikan tekanan pada air menggunakan condensate
extraction pump.
b) Proses 1 2 : Pemanasan air pada low pressure heater.
c) Proses 2 2 : Penaikan tekanan air menggunakan boiler feed pump.
d) Proses 2 3 : Pemanasan air pada high pressure heater dan pada economizer.
e) Proses 3 4 : Pemanasan air menjadi uap air pada wall tube dan downcomer
di dalam boiler.
f) Proses 4 5 : Pemanasan uap air menjadi uap panas lanjut (superheated
steam) pada superheater.
g) Proses 5 6 : Ekspansi uap di dalam high pressure turbine.
h) Proses 6 7 : Pemanasan kembali uap yang keluar dari high pressure turbine
yang terjadi dalam reheater.
i) Proses 7 7 : Ekspansi uap yang keluar dari reheater di dalam intermediate
pressure turbine.
j) Proses 7 8 : Ekspansi uap di dalam low pressure turbine tanpa mengalami
pemanasan ulang.
k) Proses 8 1 : Pendinginan uap menjadi air di dalam condenser.

3. PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air)


Air adalah sumber daya alam yang merupakan energi primer potensial untuk Pusat
Listrik Tenaga Air (PLTA), dengan jumlah cukup besar di Indonesia. Potensi tenaga air
tersebut tersebar di seluruh Indonesia. Dengan pemanfaatan air sebagai energi primer, terjadi
penghematan penggunaan bahan bakar minyak. Selain itu, PLTA juga memiliki keuntungan
bagi pengembangan pariwisata, perikanan dan pertanian.Pada dasarnya, energi listrik yang
dihasilkan dari air, sangat tergantung pada volume aliran dan tingginya air yang dijatuhkan.

Sumber air potensial didapat dari hasil pembelokkan arah arus air sungai di daerah
pegunungan

tinggi

oleh

sebuah bendungan/waduk yang memotong arah aliran sungai dan mengubah arah arus
menuju PLTA. Dari cara membendung air, PLTA terbagi atas 2 jenis, yaitu: PLTA Run-Off
River (Memotong Aliran Sungai) dan PLTA Kolam Tando.Ilustrasi siklus perubahan wujud
energi pada PLTA:Kedua PLTA tersebut memiliki kesamaan, yaitu membendung aliran air
sungai dan mengubah arahnya ke PLTA. Bedanya, pada PLTA Kolam Tando sebelum aliran
air sampai ke PLTA, debit air ditampung dalam suatu kolam yang biasa disebut kolam tando.
Sedangkan pada PLTA Run-Off River tidak. Kolam Tando ini berguna menjadi sumber
cadangan air, ketika debit air sungai menurun akibat musim kemarau yang panjang.Memang
dari segi biaya pembangunan, PLTA Run-Off River akan menelan biaya yang lebih rendah
daripada PLTA Kolam Tando karena PLTA Kolam Tando memerlukan waduk yang besar
dan

daerah

genangan

yang

luas.

Tetapi

jika

terdapat

sungai

yang

mengalir

keluar dari sebuah danau, danau ini dapat dipergunakan sebagai kolam tando alami, seperti
pada PLTA Asahan di Danau Toba, Sumatra Utara.Air yang terbendung dalam waduk akan
dialirkan melalui saluran/terowongan tertutup/pipa pesat sampai ke turbin, dengan melalui

katup pengaman di Intake dan katup pengatur turbin sebelum turbin. Pada saluran pipa pesat
terdapat tabung peredam (surge tank), yang berfungsi sebagai pengaman tekanan yang tibatiba naik, saat katup pengatur ditutup.Air mengenai sudu-sudu turbin yang merubah energi
potensial air menjadi energi gerak/mekanik yang memutar roda turbin, yang pada gilirannya
generator akan merubah energi gerak/mekanik tersebut menjadi energi listrik. Katup pengatur
turbin akan mengatur banyaknya air yang akan dialirkan ke sudu-sudu turbin sesuai
kebutuhan energi listrik yang akan dibangkitkan pada putaran turbin yang tertentu. Putaran
turbin yang terlalu cepat dapat menimbulkan kerusakan pada turbin dan generator, dimana
hal ini dapat terjadi pada saat beban listrik tiba-tiba lepas/ hilang. Untuk mengatasi putaran
yang berlebihan maka katup pengatur turbin harus segera ditutup. Katup pengatur turbin yang
tiba-tiba menutup akan mengakibatkan terjadinya goncangan tekanan arus balik air ke pipa
pesat, dimana goncangan ini diredam dalam tabung peredam.

4. PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap)


Uap Uap yang terjadi dari hasil pemanasan boiler/ketel uap pada Pusat Listrik
Tenaga Uap (PLTU) digunakan untuk memutar turbin yang kemudian oleh generator diubah
menjadi energi listrik. Energi primer yang digunakan oleh PLTU adalah bahan bakar yang
dapat berwujud padat, cair maupun gas. Batubara adalah wujud padat bahan bakar dan
minyak merupakan wujud cairnya. Terkadang dalam satu PLTU dapat digunakan beberapa
macam bahan bakar.PLTU menggunakan siklus uap dan air dalam pembangkitannya. Mulamula air dipompakan ke dalam pipa air yang mengelilingi ruang bakar ketel. Lalu bahan
bakar dan udara yang sudah tercampur disemprotkan ke dalam ruang bakar dan dinyalakan,
sehingga terjadi pembakaran yang mengubah bahan bakar menjadi energi panas/ kalor. Udara
untuk pembakaran yang dihasilkan kipas tekan/force draf fan akan dipanasi dahulu oleh
pemanas udara/heater. Setelah itu, energi panas akan dialirkan ke dalam air di pipa melalui
proses radiasi, konduksi dan konveksi, sehingga air berubah menjadi uap bertekanan tinggi.
Drum ketel akan berisi air di bagian bawah dan uap di bagian atasnya. Gas sisa setelah
dialirkan ke air masih memiliki cukup banyak energi panas, tidak dibuang begitu saja melalui
cerobong, tetapi akan digunakan kembali untuk memanasi Pemanas Lanjut ( Super Heater),
Pemanas Ulang (Reheater), Economizer dan Pemanas Udara.Dari drum ketel, uap akan
dialirkan menuju turbin uap. Pada PLTU besar (di atas 150 MW), turbin yang digunakan ada
3 jenis yaitu turbin tekanan tinggi, menengah dan rendah. Sebelum ke turbin uap tekanan
tinggi, uap dari ketel akan dialirkan menuju Pemanas Lanjut, hingga uap akan mengalami

kenaikan

suhu

dan

menjadi

kering.

Setelah keluar dari turbin tekanan tinggi, uap akan masuk ke dalam Pemanas Ulang yang
akan menaikkan suhu uap sekali lagi dengan proses yang sama seperti di Pemanas Lanjut.
Selanjutnya uap baru akan dialirkan ke dalam turbin tekanan menengah dan langsung
dialirkan kembali ke turbin tekanan rendah. Energi gerak yang dihasilkan turbin tekanan
tinggi, menengah dan rendah inilah yang akan diubah wujudnya dalam generator menjadi
energi listrik.Dari turbin tekanan rendah uap dialirkan ke kondensor untuk diembunkan
menjadi air kembali. Pada kondensor diperlukan air pendingin dalam jumlah besar. Inilah
yang menyebabkan banyak PLTU dibangun di daerah pantai atau sungai. Jika jumlah air
pendingin tidak mencukupi, maka dapat digunakan cooling tower yang mempunyai siklus
tertutup. Air dari kondensor dipompa ke tangki air/deareator untuk mendapat tambahan air
akibat kebocoran dan juga diolah agar memenuhi mutu air ketel berkandungan NaCl, Cl,O2
dan derajat keasaman (pH). Setelah itu, air akan melalui Economizer untuk kembali
dipanaskan dari energi gas sisa dan dipompakan kembali ke dalam ketel.

5. PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas)


Gas yang dihasilkan dalam ruang bakar pada pusat listrik tenaga gas (PLTG) akan
menggerakkan turbin dan kemudian generator, yang akan mengubahnya menjadi energi
listrik. Sama halnya dengan PLTU, bahan bakar PLTG bisa berwujud cair (BBM) maupun
gas (gas alam). Penggunaan bahan bakar menentukan tingkat efisiensi pembakaran dan
prosesnya.Prinsip kerja PLTG adalah sebagai berikut, mulamula udara dimasukkan dalam
kompresor dengan melalui air filter/penyaring udara agar partikel debu tidak ikut masuk
dalam kompresor tersebut. Pada kompresor tekanan udara dinaikkan lalu dialirkan ke ruang
bakar untuk dibakar bersama bahan bakar. Di sini, penggunaan bahan bakar menentukan
apakah bisa langsung dibakar dengan udara atau tidak. Jika menggunakan BBG, gas bisa

langsung dicampur dengan udara untuk dibakar. Tapi jika menggunakan BBM, harus
dilakukan proses pengabutan dahulu pada burner baru dicampur udara dan dibakar.
Pembakaran bahan bakar dan udara ini akan menghasilkan gas bersuhu dan bertekanan tinggi
yang berenergi (enthalpy). Gas ini lalu disemprotkan ke turbin, hingga enthalpy gas diubah
oleh turbin menjadi energi gerak yang memutar generator untuk menghasilkan listrik. Setelah
melalui turbin sisa gas panas tersebut dibuang melalui cerobong/stack. Karena gas yang
disemprotkan ke turbin bersuhu tinggi, maka pada saat yang sama dilakukan pendinginan
turbin dengan udara pendingin dari lubang pada turbin. Untuk mencegah korosi turbin akibat
gas bersuhu tinggi ini, maka bahan bakar yang digunakan tidak boleh mengandung logam
Potasium, Vanadium dan Sodium yang melampaui 1 part per mill (ppm).
6.

PLTGU

(Pembangkit

Listrik

Tenaga

Gas

dan

Uap)

Gas dan Uap Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) merupakan kombinasi antara
PLTG dan PLTU. Gas buang PLTG bersuhu tinggi akan dimanfaatkan kembali sebagai
pemanas uap di ketel penghasil uap bertekanan tinggi. Ketel uap PLTU yang memanfaatkan

gas buang PLTG dikenal dengan sebutan Heat Recovery Steam Generator (HRSG).
Umumnya 1 blok PLTGU terdiri dari 3 unit PLTG, 3 unit HRSG dan 1 unit PLTU. Daya
listrik yang dihasilkan unit PLTU sebesar 50% dari daya unit PLTG, karena daya turbin uap
unit PLTU tergantung dari banyaknya gas buang unit PLTG. Dalam pengoperasian PLTGU,
daya PLTG yang diatur dan daya PLTU akan mengikuti saja. PLTGU merupakan
pembangkit yang paling efisien dalam penggunaan bahan bakarnya.Secara umum HRSG
tersebut adalah pengganti boiler pada PLTU, yang bekerja untuk menghasilkan uap. Setelah
uap dalam ketel cukup banyak, uap tersebut akan dialirkan ke turbin uap dan memutar
generator untuk menghasilkan daya listrik. Dan efisiensi PLTGU lebih baik dari pusat listrik
termal lainnya mengingat listrik yang dihasilkan merupakan penjumlahan yang dihasilkan
PLTG ditambah PLTU tanpa bahan bakar.
7. PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi) GEOTHERMAL

Panas Bumi Panas bumi merupakan sumber tenaga listrik untuk pembangkit Pusat
Listrik Tenaga Panas (PLTP). Sesungguhnya, prinsip kerja PLTP sama saja dengan PLTU.
Hanya saja uap yang digunakan adalah uap panas bumi yang berasal langsung dari perut
bumi. Karena itu, PLTP biasanya dibangun di daerah pegunungan dekat gunung berapi.
Biaya operasional PLTP juga lebih murah daripada PLTU, karena tidak perlu membeli bahan
bakar, namun memerlukan biaya investasi yang besar terutama untuk biaya eksplorasi dan
pengeboran perut bumi.Ilustrasi siklus perubahan energi pada PLTP :Uap panas bumi
didapatkan dari suatu kantong uap di perut bumi. Tepatnya di atas lapisan batuan yang keras
di atas magma dan mendapat air dari lapisan humus di bawah hutan penahan air hujan.
Pengeboran dilakukan di atas permukaan bumi menuju kantong uap tersebut, hingga uap
dalam kantong akan menyembur keluar. Semburan uap dialirkan ke turbin uap penggerak

generator. Setelah menggerakkan turbin, uap akan diembunkan dalam kondensor menjadi air
dan disuntikkan kembali ke dalam perut bumi menuju kantong uap. Jumlah kandungan uap
dalam kantong uap ini terbatas, karenanya daya PLTP yang sudah maupun yang akan
dibangun harus disesuaikan dengan perkiraan jumlah kandungan tersebut. Melihat siklus dari
PLTP ini maka PLTP termasuk pada pusat pembangkit yang menggunakan energi
terbarukan.

8. PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel)


Diesel Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbahan bakar BBM (solar), biasanya
digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam jumlah beban kecil, terutama untuk
daerah baru yang terpencil atau untuk listrik pedesaan. Di dalam perkembangannya PLTD
dapat juga menggunakan bahan bakar gas (BBG).Mesin diesel ini menggunakan ruang bakar

dimana ledakan pada ruang bakar tersebut menggerak torak/piston yang kemudian pada poros
engkol dirubah menjadi energi putar. Energi putar ini digunakan untuk memutar generator
yang merubahnya menjadi energi listrik. Untuk meningkatkan efisiensi udara yang dicampur
dengan bahan bakar dinaikkan tekanan dan temperaturnya dahulu pada turbo charger. turbo
charger ini digerakkan oleh gas buang hasil pembakaran dari ruang bakar. Mesin diesel terdiri
dari 2 macam mesin, yaitu mesin diesel 2 langkah dan 4 langkah. Perbedaannya terletak pada
langkah penghasil tenaga dalam putaran toraknya. Pada mesin 2 langkah, tenaga akan
dihasilkan pada tiap 2 langkah atau 1 kali putaran. Sedang pada mesin 4 langkah, tenaga akan
dihasilkan pada tiap 4 langkah atau 2 putaran. Seharusnya mesin 2 langkah dapat
menghasilkan daya 2 kali lebih besar dari mesin 4 langkah, namun karena proses pembilasan
ruang bakar silindernya tidak sesempurna mesin 4 langkah, tenaga yang dihasilkan hanya
sampai 1,8 kalinya saja. Ilustrasi siklus perubahan energi pada PLTD :Selain kedua jenis

mesin di atas, mesin diesel yang digunakan di PLTD ada yang berputaran tinggi (high speed)
dengan bentuk yang lebih kompak atau berputaran rendah (low speed) dengan bentuk yang
lebih besar.

9.

Prinsip kerja PLTMH


Secara teknis, mikrohidro mempunyai tiga komponen utama yaitu air sumber energi,

turbin dan generator. Air yang mengalir dengan kapasitas tertentu disalurkan dengan
ketinggian tertentu melalui pipa pesat menuju rumah instalasi (powerhouse). Di rumah
instalasi, air tersebut akan menumbuk turbin sehingga akan menghasilkan energi mekanik
berupa berputarnya poros turbin. Putaran poros turbin ini akan memutar generator sehingga
dihasilkan energi listrik. Secara skematis ditunjukkan pada gambar 2.1. berikut ini :

Gambar 2.1 Skema PLTMH

Cara kerja PLTMH sebagai berikut:


a. Aliran sungai dibendung agar mendapatkan debit air ( Q) dan tinggi jatuh air (H),
kemudian air yang dihasilkan disalurkan melalui saluran penghantar air menuju
kolam penenang,
b.

Kolam penenang dihubungkan dengan pipa pesat, dan pada bagian paling bawah
di pasang turbin air.

c. Turbin air akan berputar setelah mendapat tekanan air ( P ), dan perputaran turbin
dimanfaatkan untuk memutar generator,

d.

Setelah mendapat putaran yang constan maka generator akan menghasilkan


tegangan listrik, yang dikirim kekonsumen melalui saluran kabel distribusi ( JTM
atau JTR).

2.2

Survei potensi
Peninjauan lapangan untuk survai potensi ini bersifat pengecekan/konfirmasi hasil

desk study terhadap situasi-kondisi lokasi yang sebenarnya. Survai potensi ini sering juga
disebut sebagai survai identifikasi lokasi. Disamping mengidentifikasi lokasi, di dalam survai
potensi juga dilakukan evaluasi, modifikasi dan sebagainya sehingga prospek selanjutnya dari
rencana lokasi tersebut dapat diperkirakan. Tidak selalu bahwa lokasi yang dimaksud akan
mempunyai prospek untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya. Ada kalanya suatu lokasi terlihat
sulit untuk dikembangkan, kemungkinan karena faktor kondisi air sungainya, situasi
topografinya, sulit dan jauh dari lokasi penduduk.
Kegiatan pokok di dalam lapangan (survai, pengukuran, dan lain-lain) pada survai
potensi antara lain sebagai berikut :( WIBAWA,U. 2006)
a.

Gambaran pencapaian lokasi, kondisi yang ada.

b.

Pengukuran debit sesaat dari aliran air sungai.

c.

Pengukuran tinggi jatuh (head).

d.

Menentukan beberapa alternatif susunan konfigurasi dari PLTMH, yaitu gambaran di


lapangan mengenai posisi-posisi lokasi bangunan utama PLTMH (bendung, intake,
saluran, kolam, pipa pesat, gedung pembangkit, tail race, switchyard, jalan masuk,
rute jaringan, dll).

e.

Survai-survai yang berhubungan dengan aspek-aspek tersebut di atas yakni topografi,


hidrologi, geologi/geoteknik, sistem kelistrikan, metode pusat beban, sosial-ekonomi,
fasilitas-fasilitas yang mendukung, sumber material dan data pendukung lainnya.

Adapun karakteristik potensi untuk menentukan tingkat prospek pengembangan


PLTMH adalah sebagai berikut : (MASONYI, 2007)
a.

Kapasitas lebih dari 100 kW.

b.

Kemiringan dasar sungai minimum 2 % atau debit air relatif besar.

c.

Jarak PLTMH ke pusat beban, maksimum 20 km.

d.

Teknis pelaksanaan mudah.

Nama

Lokasi

Kapasitas

Jenis dan jumlah


pembangkit

Kecamatan Silih Nara , Kabupaten


PLTA Peusangan Aceh Tengah, Nanggroe Aceh
Darussalam

2 x 22.1 MW;2 PLTA total 4 unit


x 21,2 MW
86,6 MW

PLTA Sigura-gura Sumatera Utara

4 x 71,50 MW

PLTA Tangga

Sumatera Utara

PLTA Lau Renun Sumatera Utara


PLTA
Sipansihaporas

Sumatera Utara

PLTA Asahan I

Sumatera Utara

PLTA Batang
Agam

Sumatera Barat

PLTA Maninjau

Sumatera Barat

PLTA Singkarak

Kecamatan Lubuk Alung,


Kabupaten Padang Pariaman,
Sumatera Barat

PLTA Tes

Bengkulu

PLTA Musi
PLTA Koto
Panjang
PLTA Besai
PLTA Batutegi
PLTA Ubrug
PLTA Bengkok
PLTA Cibadak
PLTA Cikalong
PLTA Saguling
PLTA Cirata
PLTA Jatiluhur

PLTA total 4 unit


286 MW
PLTA total 4 unit
4 x 79,25 MW
317 MW
PLTA total 2 unit
2 x 41 MW
82 MW
1 x 33 MW & 1 PLTA total 2 unit
x 17 MW
50 MW
PLTA total 2 unit
2 x 90 MW
180 MW
PLTA total 3 unit
3 x 3,5 MW
10,5 MW
PLTA total 4 unit
4 x 17 MW
68 MW
4 x 43,75 MW

PLTA total 4 unit


175 MW

PLTA total 4 unit


16 MW
PLTA total 3 unit
Bengkulu
3 x 70 MW
210 MW
PLTA total 3 unit
Riau
3 x 38 MW
114 MW
PLTA total 2 unit
Lampung
2 x 46,4 MW
90 MW
PLTA total 2 unit
Lampung
2 x 14 MW
28 MW
2 x 10,80 MW;1 PLTA total 3 unit
Jawa Barat
x 6,30 MW
17,1 MW
3 x 3,15 MW;1 PLTA total 4 unit
Jawa Barat
x 0,70 MW
3,85 MW
Jawa Barat
? PLTA
KecamatanPangalengan, Kabupaten
PLTA total 3 unit
3 x 6,40 MW
Bandung, Jawa Barat
19,2 MW
PLTA total 4 unit
Jawa Barat
4 x 175 MW
700 MW
PLTA total 8 unit
Jawa Barat
8 x 126 MW
1.008 MW
PLTA total 7 unit
Jawa Barat
7 x 25 MW
175 MW
4 x 4 MW

PLTA total 3 unit


19,2 MW
PLTA Parakan
PLTA total 4 unit
Jawa Barat
4 x 2,48 MW
Kondang
9,92 MW
KecamatanPangalengan, Kabupaten
PLTA total 5 unit
PLTA Plengan
5 x 6,27 MW
Bandung, Jawa Barat
6,27 MW
PLTA total 4 unit
PLTA Jelok
Jawa Tengah
4 x 5,12 MW
20,48 MW
PLTA total 4 unit
PLTA Timo
Jawa Tengah
4 x 3 MW
12 MW
PLTA total 2 unit
PLTA Ketenger
Jawa Tengah
2 x 3,52 MW
7 MW
PLTA Gajah
PLTA total 1 unit
Jawa Tengah
1 x 12,4 MW
Mungkur
12,4 MW
Kecamatan Garung, Kabupaten
PLTA total 2 unit
PLTA Garung
2 x 13,2 MW
Wonosobo, Jawa Tengah
26,4 MW
PLTA
Kecamatan Wadaslintang,
PLTA total 2 unit
2 x 8,2 MW
Wadaslintang
Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah
16,4 MW
PLTA total 3 unit
PLTA Mrica
Jawa Tengah
3 x 61,5 MW
184,5 MW
PLTA Kedung
PLTA total 1 unit
Jawa Tengah
1 x 23 MW
Ombo
23 MW
PLTA total 1 unit
PLTA Sidorejo
Jawa Tengah
1 x 1,4 MW
1,4 MW
PLTA total 1 unit
PLTA Klambu
Jawa Tengah
1 x 1,1 MW
1,1 MW
PLTA,PLTGU
PLTU Semarang Jawa Tengah
1469 MW
1469 MW
PLTA total 3 unit
PLTA Mendalan Jawa Timur
3 x 5,8 MW
23 MW
PLTA total 3 unit
PLTA Siman
Jawa Timur
3 x 3,6 MW
10,8 MW
2 x 1,35 MW;1 PLTA total 3 unit
PLTA Giringan
Jawa Timur
x 0,5 MW
3 MW
PLTA total 1 unit
PLTA Selorejo
Jawa Timur
1 x 4,48 MW
4,48 MW
PLTA
PLTA total 3 unit
Jawa Timur
3 x 35 MW
Karangkates
105 MW
PLTA total 2 unit
PLTA Wlingi
Jawa Timur
2 x 27 MW
54 MW
PLTA total 1 unit
PLTA Lodoyo
Jawa Timur
1 x 4,5 MW
4,5 MW
PLTA total 2 unit
PLTA Sengguruh Jawa Timur
2 x 14,5 MW
29 MW
PLTA Tulung
Jawa Timur
2 x 23 MW
PLTA total 2 unit
PLTA Lamajan

KecamatanPangalengan, Kabupaten
3 x 6,40 MW
Bandung, Jawa Barat

Agung
PLTA Tulis

Jawa Timur

PLTA Riam
Kanan

Kecamatan Aranio, Kabupaten


Banjar, Kalimantan Selatan
Kecamatan Tondano Utara ,
PLTA Tonsea
Kabupaten Minahasa, Sulawesi
Lama
Utara
Kecamatan Tondano Utara ,
PLTA Tanggari I Kabupaten Minahasa, Sulawesi
Utara
Kecamatan Tondano Utara ,
PLTA Tanggari II Kabupaten Minahasa, Sulawesi
Utara
PLTA Larona

2 x 7 MW
3 x 10 MW

1 x 4.44 MW;1
PLTA total 3 unit
x 4,5 MW;1 x
14,38 MW
5,44 MW
1 x 17,2 MW

PLTA total 1 unit


17,2 MW

1 x 19 MW

PLTA total 1 unit


19 MW

Sulawesi Selatan

3 x 55 MW

PLTA Balambano Sulawesi Selatan

2 x 65 MW

PLTA Karebbe

Sulawesi Selatan

2 x 70 MW

PLTA Bakaru

Sulawesi Selatan

2 x 63 MW

PLTA SulewanaPoso I
PLTA SulewanaPoso II
PLTA SulewanaPoso III
PLTG Cikarang
PLTG Plengan
PLTG Sunyaragi

Kecamatan Pamona Utara ,


Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah
Kecamatan Pamona Utara ,
Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah
Kecamatan Pamona Utara ,
Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah

PLTG Trisakti
PLTP Geo Dipa
Unit Dieng
PLTP Gunung
Salak
PLTP Kamojang
PLTP Wayang
Windu
PLTU Tarahan
PLTU AsamAsam

46 MW
PLTA total 2 unit
14 MW
PLTA total 3 unit
30 MW

4 x 40 MW
3 x 65 MW
5 x 80 MW

Kecamatan Banjarmasin Barat, Kota


3 x 10 MW
Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa
1 x 60 MW
Tengah

PLTA total 3 unit


165 MW
PLTA total 2 unit
130 MW
PLTA total 2 unit
140 MW
PLTA total 2 unit
126 MW
PLTA total 4 unit
160 MW
PLTA total 3 unit
195 MW
PLTA total 5 unit
400 MW
? PLTG
? PLTG
? PLTG
PLTA total 3 unit
30 MW PLTG
PLTP total 1 unit
60 MW
? PLTP

Garut, Jawa Barat

375 MW

Pangalengan, Bandung, Jawa Barat


Kecamatan Katibung, Lampung
Selatan, Lampung
Desa Asam-asam, Kecamatan
Jorong, Kabupaten Tanah Laut,
Kalimantan Selatan

PLTP
? PLTP

2 x 100 MW

Unit III dan IV

2 x 65 MW

Unit I dan II

PLTU PT
Krakatau Daya
Listrik
PLTU Priok
PLTU Punggur
PLTU Paiton
Swasta I
PLTU Paiton
Swasta II
PLTU Suralaya
Unit
Pembangkitan
Brantas
Unit
Pembangkitan
Cirata
Unit
Pembangkitan
Gresik
Unit
Pembangkitan
Muara Karang
Unit
Pembangkitan
Muara Tawar
Unit
Pembangkitan
Paiton

Cilegon, Banten

400 MW

5 PLTU

Jakarta Utara, DKI Jakarta


Kepulauan Riau, Batam
Kecamatan Paiton, Kabupaten
Probolinggo, Jawa Timur
Kecamatan Paiton, Kabupaten
Probolinggo, Jawa Timur
Kecamatan Pulo Merak, Kota
Cilegon, Banten

1384 MW
2X55 MW

PLTU, PLTGU
PLTU, PLTGU

1230 MW

2 PLTU

1300 MW

2 PLTU

4 x 400 MW;3 x PLTU total 7 unit


600 MW
3.400 MW

Kecamatan Sumberpucung,
Kabupaten Malang, Jawa Timur

281 MW

12 PLTA

Kecamatan Plered, Kabupaten


Purwakarta, Jawa Barat

1.008 MW

8 PLTA

Kabupaten Gresik, Jawa Timur

2.280 MW

5 PLTG, 1 PLTU
dan 3 PLTGU

Pluit, Jakarta Utara

1.200 MW

5 PLTU dan 1
PLTGU

Kabupaten Bekasi, Jawa Barat

920 MW

2 PLTG dan 3
PLTGU

Kecamatan Paiton, Kabupaten


Probolinggo, Jawa Timur

800 MW

2 PLTU

PLTU Lati

Kabupaten Berau, Kalimantan


Timur

2 x 7 MW

1 PLTU

Unit
Pembangkitan
Talang Duku

Kabupaten Sekayung, Musi


banyuasin, Sumatera Selatan

35 MW