Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA UMUM 2

Nama

: Thari Agustini

NRP

: 13020085

Grup

: K-4

Dosen

: Dra. Hj. Sri Iriani, M.M.

Asisten

: Siti S., M.Pd. / Darijan

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2014

I.

II.

III.

JUDUL
1.1

Penetapan kadar Formalin BM 30 cara Yodometri

1.2

Penetapan kadar Hidrosulfit BM 174,3 cara Yodimetri

1.3

Penetapan kadar Ca secara Volumetri

MAKSUD DAN TUJUAN


2.1

Dapat menetapkan kadar Formalin BM 30 cara Yodometri

2.2

Dapat menetapkan kadar Hidrosulfit BM 17 cara Yodimetri

2.3

Dapat menetapkan kadar Ca secara Volumetri

TEORI PENDEKATAN
3.1

Penetapan kadar Formalin BM 30

Iodimetri merupakan metoda titrasi atau volumetri yang pada


penentuan atau penetapan berdasar pada jumlah I2 (iodium) yang bereaksi
dengan sampel atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan ion
iodida (I-).
Metoda ini tergolong titrasi langsung, berbeda dengan metoda iodometri
yang sama-sama menggunakan I2 sebagai dasar penetapannya. Iodimetri
termasuk titrasi redoks dengan I2 sebagai titran. Seperti dalam reaksi
redoks umumnya yang harus selalu ada oksidator dan reduktor, sebab bila
suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan elektron), maka
harus ada suatu unsur yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun
(menangkap elektron), jadi tidak mungkin hanya ada oksidator saja ataupun
reduktor saja. Dalam metoda analisis ini analit dioksidasikan oleh I2,
sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodide, dengan kata lain I2 bertindak
sebagai oksidator dengan reaksi:
I2 + 2 e -

2 I-

Indikator yang digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi biasanya


adalah kanji atau Amilum 0,5-1%, karbon tetraklorida atau kloroform dapat
mengetahui titik akhir titrasi, akan tetapi lebih umum digunakan suatu
larutan (dispersi koloidal) kanji. Warna yang terjadi adalah biru tua hasil

reaksi I2-amilum. Pada umumnya larutan I2 distandarisasi dengan


menggunakan standar primer As2O3, As2O3 dilarutkan dalam natrium
hidroksida

dan

kemudian

dinetralkan

dengan

penambahan

asam.

Disebabkan kelarutan iodin dalam air nilainya kecil maka larutan I2 dibuat
dengan melarutkan I2 dalam larutan KI, dengan demikian dalam keadaan
sebenarnya yang dipakai untuk titrasi adalah larutan I3-.
I2 + I-

I3-

Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam kisaran asam
lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat
mengalami reaksi disproporsionasi menjadi hipoiodat.
I2 + 2OH-

IO3- + I- + H2O

Sedangkan pada keadaan asam kuat maka amilum yang dipakai sebagai
indikator akan terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini iodide (I-) yang
dihasilkan dapat diubah menjadi I2 dengan adanya O2 dari udara bebas,
reaksi ini melibatkan H+ dari asam.
4I- + O2 + 4H+

2I2 + 2H2O

Hal penting lain yang harus diperhatikan, larutan iod merupakan larutan
yang tidak stabil, bahkan masih memungkinkan untuk menguap, sehingga
perlu distandarisasi berulang kali.
Dalam percobaan ini digunakan penetapan cara yodimetri dan
yodometri. Penetapan cara yodimetri adalah penitaran dengan larutan I2
(iodium) atau disebut juga titrasi secara langsung dengan iodium. Cara
yodometri adalah penitaran dengan larutan Na2S2O3 (natrium tiosulfat) atau
disebut juga titrasi secara tidak langsung karena iodium yang dititar berasal
dari donor iodium yaitu kI atau NaI. Sebagai indikator disini dipergunakan
larutan kanji 0.5%. penambahan indikator dilakukan pada akhir titrasi, tidak
sejak permulaan titrasi, yaitu setelah larutan berwarna kuning muda.
Perubahan warna titrasi yang diamati dari coklat tua + tioulfat ----- kuning
muda, lalu ditambah kanji --------- biru tua = tioulfat ----- tepat tidak
berwarna lagi.
Formalin merupakan hasil oksidasi dari senyawa organik dengan gugus
hidroksil dengan asam periodat. Formalin disebut juga asam formaldehid.
Pada percobaan ini, formalin direaksikan dengan larutan NaOH dan larutan
yodium akan menghasilkan asam formiat. Pada penetapan kadar formalin

ini mengunakan cara titrasi Reduktometri yaitu penitaran dengan


menggunakan

larutan

iodium

(yodimetri)

atau

penitaran

dengan

menggunakan larutan natrium tiosulfat (yodometri). Prinsipnya pada


percobaan ini larutan contoh direaksikan terlebih dahulu dengan larutan
iodium, lalu kelebihan iodium dititar dengan larutan natrium tiosulfat.
Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat
bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau
merah lembayung yang kuat kepada pelarut pelarut seperti karbon
tetraklorida atau kloroform, dan kadang hal ini digunakan untuk
mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu
larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji
iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. Kepekaan
lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada dalam larutan netral
dan lebih besar dengan adanya ion iodida. Pada penetapan kadar formalin
ini menggunakan indikator kanji 0,5 %. Larutan kanji mudah terurai oleh
bakteri, suatu proses yang dapat diperlambat dengan jalan sterilisasi atau
penambahan zat pengawet. Hasilhasil pengurai memakai iodium dan
berubah menjadi kemerahmerahan. Merkuri (II) iodida, asam borat atau
asam furoat dapat digunakan sebagai bahan pengawet. Keadaankeadaan
yang menyebabkan hidrolisa atau koagulasi dari kanji harus dihindarkan.
Kepekaan indikator berkurang dengan kenaikan suhu dan oleh beberapa zat
organik seperti metil dan etil alkohol. Formalin pada industri tekstil
digunakan pada proses penyempurnaan sebagai resin anti kusut, resin anti
hama, dan resin anti jamur. Kain yang akan diekspor menggunakan
formalin dengan kadar formalin 70 % tetapi untuk pakaian bayi 0 %.
Formalin ini berbahaya pada mata karena akan menyebabkan iritasi pada
mata yaitu mata menjadi merah. Pemeriksaan formalin ada dua cara, yaitu :
1. Yodometri
2. Colourimetri
- Shift dimana memberikan warna violet.
- Nash memberikan warna merah jambu.
Disini digunakan alat Erlenmeyer tutup asah yang berfungsi untuk
menahan uap yodium. Pada saat penetapan cara yodimetri digunakan pH
alkali yaitu NaOH yang berfungsi untuk mengatur pH alkali. Sedangkan

pada penetapan cara yodometri digunakan pH asam yaitu HCl yang


mengatur pH asam. Jika warna larutan setelah disimpan diruang tertutup
merah coklat itu berarti larutan sempurna bereaksi dalam gelap. Sedangkan
jika larutan tidak berwarna maka larutan belum bereaksi ditempat gelap.

3.2

Penetapan kadar Hidrosulfit BM 174,3

Pada penetapan kadar hidrosulfit ini mengunakan cara titrasi Yodimetri


dan k-ferisianida. Cara yodimetri yaitu penitaran dengan menggunakan
larutan iodium. Prinsipnya pada percobaan ini larutan contoh direaksikan
terlebih dahulu dengan larutan formaldehid, lalu dititar dengan larutan
iodium baku (standar 0,1 N). Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup
kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium
juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut
pelarut seperti karbon tetraklorida atau kloroform, dan kadang hal ini
digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum
digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari
kompleks kanjiiodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap
iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada
dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida. Pada
penetapan kadar hidrosulfit ini menggunakan indikator kanji 0,5 %.
Mekanisme yang tepat dari pembentukan kompleks berwarna tidak
diketahui. Akan tetapi diduga bahwa molekul iodium ditahan pada
permukaan -amilosa, sebuah unsur dari kanji. Unsur kanji yang lain, amilosa atau amilopektin, membentuk kompleks kemerahmerahan dengan
iodium, yang tidak mudah dihilangkan warnanya. Karena itu kanji yang
mengandung banyak amilopektin harus tidak dipakai. Zat dengan nama
dagang kanji larut adalah terutama -amilosa. Larutan kanji mudah
terurai oleh bakteri, suatu proses yang dapat diperlambat dengan jalan
sterilisasi atau penambahan zat pengawet. Hasilhasil pengurai memakai
iodium dan berubah menjadi kemerahmerahan. Merkuri (II) iodida, asam
borat atau asam furoat dapat digunakan sebagai bahan pengawet. Keadaan
keadaan yang menyebabkan hidrolisa atau koagulasi dari kanji harus
dihindarkan. Kepekaan indikator berkurang dengan kenaikan suhu dan oleh

beberapa zat organik seperti metil dan etil alkohol. Hidrosulfit ini
mempunyai sifat sebagai reduktor yang kuat. Pada percobaan penetapan
kadar hidrosulfit ini menggunakan larutan formaldehid/formalin pekat
(HCOH) dimana berfungsi untuk menstabilkan agar hidrosulfit tidak cepat
bereaksi.
Pada industri tekstil, hidrosulfit digunakan untuk pencucian reduksi
(reduction cleaning) setelah proses pencelupan atau pencapan dan untuk
proses pencelupan zat warna bejana pada selulosa dimana zat warna bejana
tidak larut dalam air karena ikatannya sangat kuat. Hidrosulfit juga
digunakan pada proses penyempurnaan tekstil yaitu untuk menghasilkan
kain anti bakteri (untuk pakaian dalam dan kaos kaki), kain anti hama, dan
kain tahan masa (tidak gampang rapuh).

3.3

Penetapan kadar Ca secara Volumetri

Titrasi atau disebut juga volumetri merupakan metode analisis kimia


yang cepat, akurat dan sering digunakan untuk menentukan kadar suatu
unsur atau senyawa dalam larutan. Titrasi didasarkan pada suatu reaksi
yang digambarkan sebagai :

Volumetri (titrasi) dilakukan dengan cara menambahkan (mereaksikan)


sejumlah volume tertentu (biasanya dari buret) larutan standar (yang sudah
diketahui konsentrasinya dengan pasti) yang diperlukan untuk bereaksi
secara sempurna dengan larutan yang belum diketahui konsentrasinya.
Untuk mengetahui bahwa reaksi berlangsung sempurna, maka digunakan
larutan indikator yang ditambahkan ke dalam larutan yang dititrasi. Analisis
volumetri yang disebut juga analisis titrimetri adalah teknis analisis yang
berdasarkan pada jumlah ( volume ) suatu larutan yang sudah diketahui
konsentrasinya yang diperlukan untuk bereaksi sempurna dengan jumlah
tertentu. Kalsium adalah logam putih perak, yang agak lunak. Ia melebur

pada 845C. Ia terserang oleh oksigen atmosfer dan udara lembab, pada
reaksi ini terbentuk kalsium oksida dan atau kalsium hidroksida. Kalsium
menguraikan air dengan membentuk kalsium hidroksida dan hidrogen.
Kalsium membentuk kation kalsium (II) Ca2+, dalam larutan-larutan air.
Garam-garamnya biasanya berupa bubuk putih dan membentuk larutan
yang tak berwarna, kecuali bila anionnya berwarna. Kalsium korida padat
bersifat higroskopis dan sering dijadikan sebagai zat pengering. Kalsium
merupakan logam alkali tanah (BM = 40) dan mempunyai titik leleh
terbesar setelah BE. Kalsium banyak terdapat di alam dalam bentuk batu
kapur (CaCO3 yang bercampur dengan tanah lempung dan zat lainnya).
Kegunaan dari senyawa Ca :
- CaCO3

: Bahan pasta gigi,bahan kapur tulis

- Ca(OH)2 : Pemurnian gula pasir


- CaCl2

: Zat pengering

- CaOCl2

: Kapur klor,zat pengelantang

- CaSO4

: Zat pengering,pembuatan keramik

Prinsip

: Mula-mula kalsium diendapkan sebagai Ca oksalat kemudian

endapan tersebut dilarutkan kembali dalam asam,yang seterusnya larutan


tersebut dititar kembali dengan larutan standar KMnO4 0,1N.

IV.

ALAT DAN PEREAKSI


4.1

4.2

Labu ukur 100 mL 1 buah

- Larutan Yodium 0,1 N

Erlenmeyer 250 mL 1 buah

- Larutan Natrium Tiosulfat 0,1 N

Pipet Volume 10 mL 1 buah

- Larutan NaOH 4 N

Pipet Volume 25 mL 1 buah

- Larutan HCl 4 N

Buret 50 mL 1 buah

- Larutan Kanji 0,5%

Gelas Kimia 100 mL 1 buah

- Larutan Formaldehida (HCHO)

Labu Ukur 100 mL 1 buah

- Larutan Yodium 0,1 N

4.3

V.

Pipet Volume 10 mL 1 buah

- Larutan Kanji 0,5%

Erlenmeyer 250 mL 1 buah

Buret 50 mL 1 buah

Gelas Kimia 250 mL 1 buah

- Larutan Contoh CaCl2 5%

Batang Pengaduk 1 buah

- Indikator Metil Merah (MM)

Pipet Volume 10 mL 1 buah

- Larutan HCl 4 N

Kaca Arloji 1 buah

- Larutan (NH4)2C2O4 4%

Pembakar Lengkap 1 buah

- Larutan NH4OH

Corong 1 buah

- Larutan AgNO3 0,1 N

Kertas Saring 1 buah

- Larutan H2SO4 4 N

Buret 50 mL 1 buah

- Larutan KMnO4 0,1 N

Gelas Ukur 10 mL 1 buah

REAKSI
5.1

5.2

5.3

2NaOH + I2

NaIO + NaI + H2O

NaIO + HCHO

HCOOH + NaI

NaIO + NaI + 2 HCl

2NaCL + H2O + I2

I2 + Na2S2O3

2 NaI + Na2S2O6

Na2S2O4 + 2 CH2O + H2O HOCH2 + SO3Na + HCOH2-SO2Na

HCOH2 + SO3Na + 2 I+ 2 H2O NaHSO3 + CH2O + 4 HI

CaCl2 + (NH4)2C2O4

CaC2O4 + NH4Cl

CaC2O4 + H2SO4

CaSO4 + H2C2O4

5H2C2O4 + 2KMnO4

K2SO4 + 2MnSO4 + 8H2O + 5CO2

VI.

CARA KERJA
6.1

Penetapan kadar Formalin BM 30


Dimasukkan ke dalam
labu ukur lalu diencerkan
100 mL kemudian segera
dikocok.

Di pipet 1 mL
larutan contoh uji
(Formalin).

Di pipet 10 mL atau
25 mL larutan encer
ke dalam Erlenmeyer
tutup asah.

+ 3 mL NaOH 4N dan + 10
mL larutan yodium 0,1N
(larutan berwarna seperti
betadine).

+ 6 mL Larutan
HCl 4N (2x volume
NaOH).

Diamkan selama 515 menit dalam


ruangan gelap.

+ Indikator Amilum
(kanji) 0,5% (larutan
menjadi berwarna
biru).

Di titrasi menggunakan
larutan Natrium Tiosulfat
0,1N hingga larutan berwarna
kuning muda.

Dititrasi lagi menggunakan


larutan Natrium Tiosulfat 0,1N
hingga warna biru tepat hilang
menjadi tidak berwarna.

6.2

Penetapan kadar Hidrosulfit BM 174,3


Ditimbang 0,5-1
gram contoh
sampel

Di titrasi menggunakan
larutan Yodium 0,1N
hingga larutan berwarna
biru permanen.

Diencerkan 50 mL hingga larut dan


ditambahkan 1 mL formalin kemudian
diencerkan hingga 100 mL.

Di pipet 10 mL larutan encer


lalu + 50 mL air suling, + 1
mL larutan CH3COOH, + 1
mL larutan kanji 0,5% pada
Erlenmeyer.

6.3

Penetapan kadar Ca secara Volumetri


Diencerkan 5 mL CaCl2
dengan air suling 30 mL ke
dalam gelas kimia 250 mL.

Ditambahkan 10 mL (NH4)2C2O4 4%
sedikit demi sedikit kemudian
ditambahkan beberapa tetes NH4OH
hingga larutan berwarna kuning.

Diamkan 15-30 menit


hingga terpisah antara
endapan dan filtratnya.

Endapan di bilas 2x dengan air suling


panas. Pengujian apakah masih
terkandung Cl dlm residu yaitu pada air
cucian terakhir dimasukkan ke dalam tb
reaksi kemudian diuji dengan AgNO3
0,1N.

Ditambahkan 2 tetes MM
dan 1 tetes HCl 4 N

Dipanaskan hingga
suhu 90C.

Diuji apakah sudah


terbentuk endapan
sempurna dengan NH4OH.

Disaring dengan kertas


waltman kemudian
filtrat dibuang.

Dibilas residu dengan


H2SO4 4N 10 mL ke
dalam gelas kimia.

Dibilas dengan air suling


secukupnya kemudian
dipanaskan hingga suhu 40-70C.

Dimasukkan kertas waltman


+ Residu (larutan menjadi
tidak berwarna).

Di titrasi dengan KMnO4 0,1


N hingga larutan berwarna
Merah Muda seulas.

Dipanaskan lagi hingga


suhu 40-70C.

Di titrasi lagi dengan KMnO4 0,1 N


hingga larutan berwana Merah
Muda Seulas.

VII. HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN


7.1

Penetapan kadar Formalin BM 30


Titrasi
Titik akhir
Titik awal
Titik titrasi
Kadar Formalin

I (blanko)
10,20 mL
0,00 mL
10,20 mL
=

II
0,80 mL
0,00 mL
0,80 mL

= 14,1 %
7.2

Penetapan kadar Hidrosulfit BM 174,3


Titrasi
Titik akhir
Titik awal
Titik titrasi
Rata-rata

I
0,70 mL
0,00 mL
0,70 mL

II
4,80 mL
4,00 mL
0,80 mL
0,75 mL

Kadar Hidrosulfit =

= 6,191 %
7.3

Penetapan kadar Ca secara Volumetri


Titrasi
Titik akhir
Titik awal
Titik titrasi
Kadar Ca

I
14,20 mL
0,00 mL
14,20 mL

= ( mL titrasi x N KMnO4 ) x BE Ca x P (mg/L)


= ( 14,20 mL x 0,1N ) x 40/2 x 1000/5 mg/L
= 5680 mg/L = 5,68 g/L

VIII. PEMBAHASAN
8.1

Penetapan kadar Formalin BM 30


Penetapan kadar formalin dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara
Spektrofotometri dan cara titrasi Yodometri. Formalin bersifat reduktor
sehingga digunakan NaOH sebagai pengatur pH. Pada percobaan ini
menggunakan Titrasi cara Yodometri yaitu titrasi secara tidak langsung
dimana larutan dititrasi menggunakan Natrium Tiosulfat sebagai larutan
penitarnya karena Iodium yang di titar berasal dari donor iodium yaitu KI
dan NaI. Disini digunakan alat Erlenmeyer tutup asah yang berfungsi untuk
menahan uap yodium. Pada saat penetapan cara yodometri digunakan pH
alkali yaitu NaOH yang berfungsi untuk mengatur pH alkali. Ketika
penambahan larutan encer ditambahkan dengan 3 mL NaOH 4N dan 10 mL
yodium 0,1000N larutan menjadi tidak berwarna karena yodium direduksi
dalam suasana alkali oleh Formaldehida mengubah larutan menjadi tidak
berwarna jika larutan masih berwarna maka sebaiknya ditambahkan NaOH
hingga larutan tidak berwarna, setelah itu larutan harus disimpan di tempat
yang gelap selama 5-15 menit karena yodium tidak tahan terhadap cahaya
oleh karena itu harus di simpan di tempat yang gelap agar larutan menjadi
stabil. Jika warna larutan setelah disimpan di tempat yang gelap berwarna
merah coklat itu berarti larutan sempurna bereaksi dalam gelap. Sedangkan
jika larutan tidak berwarna maka larutan belum bereaksi ditempat gelap.

8.2

Penetapan kadar Hidrosulfit BM 174,3


Pada percobaan ini menggunakan Titrasi cara Yodimetri yaitu titrasi
langsung dimana larutan langsung dititar menggunakan KI sebagai larutan
penitarnya. Hidrosulfit berwarna putih berbau seperti belerang bersifat
reduktor dan mudah menguap. Dalam pertekstilan digunakan untuk
pencucian reduksi khususnya poliester yang telah dicelup zat warna.di
lakukan dengan cara yodimetri yang prinsipnya adalah reaksikan contoh
dengan larutan formaldehida dan dititar dengan larutan yodium baku
(standar

0,1N).

Pada

percobaaan

ini

digunakan

larutan

formaldehida/formalin pekat sebagai stabilisator yang berguna untuk

melarutkan natrium hidrosulfit dalam air. Pada praktikum ini ditambahkan


asam asetat agar suasananya menjadi asam. Pada saat diberikan larutan
kanji, setelah titrasi larutan akan berwarna biru yang menunjukkan adanya
yodium sisa dalam larutan. Titik akhir titrasinya ialah pada saat larutan
berubah menjadi biru permanen maka dari itu kita harus hati-hati dan teliti
pada saat melakukan titrasi jangan sampai melebihi batas titrasi yang
seharusnya apabila terlalu banyak warnanya akan berubah sehingga
kadarnya yang akan dihitung kurang tepat dan untuk lebih teliti lagi praktik
ini dilakukan duplo. Dalam industri tekstil natrium hidrosulfit digunakan
pada pencucian reduksi dalam suasana pH alkali, sebagai bahan detergen,
dan pembentukan leuko zat warna bejana.

8.3

Penetapan kadar Ca secara Volumetri


Pada percobaan ini menggunakan Titrasi secara Volumetri dimana
Volumetri (titrasi) dilakukan dengan cara menambahkan (mereaksikan)
sejumlah volume tertentu (biasanya dari buret) larutan standar (yang sudah
diketahui konsentrasinya dengan pasti) yang diperlukan untuk bereaksi
secara sempurna dengan larutan yang belum diketahui konsentrasinya. Pada
percobaan penetapan kadar Ca secara volumetri ini kita melakukan tiga
tahap percobaan, yaitu pengendapan, pelarutan dan penitaran. Pada
percobaan ini praktikan harus sangat berhati-hati karena percobaan ini
dilakukan harus dalam keadaan panas yang bertujuan agar pengendapan
lebih cepat terjadi, setelah terbentuk endapan praktikan harus lebih berhatihati agar filtrat dan residunya tidak tercampur lagi, dan juga pada saat
menyaring menggunakan kertas waltman jangan sampai ada endapan yang
tersisa pada gelas kimia karena apabila hal ini terjadi maka hasil yang
didapat kurang sempurna. Kemudian pada saat akan menitar H2SO4 dengan
KMnO4 harus dalam keadaan panas karena jika tidak reaksinya akan
berjalan lambat dan akan sangat berpengaruh pada volume titrasi yang
didapat.

IX.

KESIMPULAN
9.1

Kadar Formalin

= 14,1 %

9.2

Kadar Hidrosulfit = 6,19 %

9.3

Kadar Ca

= 5,68 %

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2004. Pedoman Praktikum Kimia Umum II. Bandung: Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil.
HanggiRadenMas(2011).Laporan-kimiaumum.Fromhttp://radenmashanggi.blogspot.com/2011/07/laporan-kimiaumum.html
Prinsip-titrasi.From http://www.chem-istry.org/materi_kimia/instrumen_analisis/titrasi-volumetri/prinsip-titrasi/
FauziRijal(2011).Laporan-kimiaumum.Fromhttp://www.scribd.com/doc/58372351/laporan-praktikum-kimiaumum-2