Anda di halaman 1dari 10

SINYAL VIDEO

ary.viryananda@gmail.com

1. PENDAHULUAN
Tujuan dari sistem televisi adalah menampilkan gambar bergerak di tempat
lain yang jauh. Gambar tersebut adalah citra 2-dimensi yang berubah-ubah
dari waktu ke waktu. Solusinya adalah mengirimkan gambar diam (still
pictures) secara berturutan dalam pergantian waktu yang cukup singkat (25
fps untuk PAL dan 30 fps untuk NTSC) dan setiap gambar 2-dimensi dilarik
(scan) secara berturutan dalam baris-baris (625 untuk PAL dan 525 untuk
NTSC) dalam dua field sebagai sinyal video. Sinyal video inilah yang akan
dimodulasi dan ditransmisikan melalui gelombang elektromagnet (dengan
pemancar dan atau satelit) atau kabel ke pesawat penerima televisi.

Gambar 1.1. Scanning TV


Sinyal video dikirim secara berturutan sesuai dengan urutan scanning, yaitu
baris ganjil terlebih dahulu dan kemudian baris genap. Setiap baris
disisipkan sinyal Sync yang merupakan tanda bagi CRT (Cathode Ray Tube
= Tabung gambar) untuk kembali ke awal baris (retrace).
Dalam perkembangan selanjutnya, ditemukan cara merekam sinyal video ini
ke dalam pita magnetik, dan juga kemudian akhir-akhir ini juga dapat
direkam ke bentuk media lain seperti LD, VCD, DVD dan juga Hard disk.
Namun untuk dapat merekam sinyal video ini ada berbagai teknik, dan juga
jenis sinyal yang digunakan. Ini juga menentukan dari kualitas gambar yang
dapat direkam dan juga biaya yang diperlukan.
Dalam duania video kita mengenal beberapa sinyal video. Sinyal video
secara umum terbagi menjadi dua jenis yaitu sinyal analog dan sinyal
digital. Sinyal video analog dan digital ini masin-masing terdiri dari beberapa
macam yang berbeda dalam kualitas pengirimannya. Peredaan antara
analog dan digital ialah dalam metoda pengirimannya. Sinyal analog adalah
sinyal kontinu yang informasinya disampaikan berdasarkan perbedaan level
tegangan terhadap waktu.

Gambar 1.2. Sinyal Analog

Sinyal digital adalah sinyal diskrit yang informasinya disampaikan secara


angka (digit). Proses untuk mendapatkan sinyal digital (metoda PCM) adalah
sbb:
1. Sampling; adalah proses pengambilan nilai sesaat.
2. Kuantisasi; adalah proses pemberian nilai sesaat tersebut dalam range
yang ditentukanmisalkan dalam resolusi 8 bit, didapat 28 = 256 step,
atau 10 bit, didapat 210 = 1024 step.
3. Encoding; adalah proses pemberian kode nilai-nilai sesaat pada proses
kuantisasi.

Gambar 1.3. Proses Sampling


Perbandingan sinyal digital dengan sinyal analog diantaranya adalah:
1. Sinyal digital tidak terpengaruh oleh noise yang biasanya timbul dalam
transmisi melalui kabel, atau dalam rangkaian, atau pada gesekan
antara head dengan pita, seperti yang terjadi pada sistem sinyal
analog.

2. Sinyal digital dapat dimanipulasi dengan perhitungan digital oleh


mikroprosesor dengan lebih mudah, dibanding proses sinyal analog.
3. Kualitas sinyal digital yang diskrit lebih banyak ditentukan oleh
kecepatan (frekuensi) sampling dan resolusi kuantisasi (bit) yang pada
saat ini sudah cukup memadai dibanding sinyal analog ideal.
4. Kualitas sinyal analog lebih banyak ditentukan oleh perbandingan
sinyal terhadap noise (S/N ratio).
5. Sinyal digital dengan kualitas yang baik memerlukan kecepatan
transfer yang sangat tinggi, dan memori yang sangat besar.
6. Volume Sinyal digital yang besar dapat direduksi (compres) dengan
skema algoritme tertentu dengan perbandingan kompresi yang
bervariasi, dan semakin besar kompresi semakin kecil volume dan
semakin buruk kualitasnya, bahkan dapat lebih buruk dari sinyal
analog.
2. SINYAL VIDEO ANALOG
Pada awal pertelevisian, kita hanya mengenal sinyal gambar saja
(Luminance) yaitu sinyal dengan informasi gelap terang karena hanya ada
televisi hitam putih. Dengan perkembangan teknologi, dapat dibuat sistem
televisi warna yang harus kompatibel dengan sistem hitam putih
pendahulunya. Sistem warna dibuat dengan beberapa standar, seperti PAL
yang digunakan di negara-negara Eropa dan Indonesia, NTSC yang
digunakan di Amerika Serikat dan Jepang, dan SECAM yang digunakan di
Perancis dan Russia. Untuk selanjutnya, kita hanya bicarakan sistem warna
PAL yang dipergunakan di Indonesia.

Gambar 2.1. Proses Encoding sinyal PAL

2.1. SINYAL VIDEO RGB


Sistem warna pada televisi warna didasari dari tiga warna dasar yaitu

merah, hijau dan biru (Red, Green, Blue = RGB), sedang warna-warna
lainnya adalah campuran dari ketiga warna dasar tersebut. Kamera video
menagkap citra(image) dari obyek dalam warna merah, hijau dan biru.
Sedangkan tabung gambar menghsilkan citra (image) dengan
menembakkan elektron ke permukaan tabung dengan warna dasar merah,
hijau dan biru. Tabung gambar (CRT = Cathode Ray Tube) memerlukan tiga
sinyal dan sinyal sync untuk menghasilkan image warna tersebut. Sinyal
tersebut disebut sinyal RGB dengan sync pada hijau atau terpisah (HD atau
composite). Masing-masing sinyal RGB memberikan informasi image dari
obyek yang sama, sehingga masing-masing membutuhkan lebar jalur
(bandwidth) yang sama lebar yaitu sekitar 5 MHz.
Kelebihan dari sinyal ini adalah menghasilkan gambar yang baik, tetapi
membutuhkan bandwidth yang lebar, dan tidak kompatibel dengan sistem
televisi hitam putih. Disamping itu juga sinyal RGB memerlukan tiga jalur
yang terpisah (masing-masing dengan bandwidth yang lebarnya 5 MHz), dan
ini tidak bisa digunakan dalam pemancar yang hanya dapat menggunakan
hanya satu jalur transmisi. Untuk itu, sinyal RGB harus dikonversikan
sedemikian rupa agar dapat dibuat satu jalur untuk transmisi pemancar.
Sinyal video RGB ini biasa ditemui dalam sistem video projector, professional
video monitor, monitor komputer, printer dan scanner. Pada sistem video
tape recorder, biasanya sinyal RGB dengan sync on green didistribusikan
menggunakan 3 kabel video 75Ohm (RG-59) dengan konektor BNC (atau
dibundel menjadi satu). Sedang untuk sistem video projector dan komputer
mendistribusikan sinyal RGBHV atau RGB sync menggunakan 5 kabel atau 4
kabel dibundel menjadi satu dengan konektor BNC atau D-sub.

Gambar 2.2. Sinyal RGB pada Color Bar.

2.2. Sinyal Video Komponen (Component VIDEO)


Dengan menggunakan rangkaian matrix, maka sinyal RGB dapat diubah
menjadi sinyal komponen. Sinyal komponen adalah sinyal yang terdiri dari
satu sinyal gambar (lumiance) seperti pada sistem televisi hitam putih, dan
dua sinyal informasi warna U (B-Y) dan V (R-Y) dengan komposisi sbb:

Y = 0,299R + 0,587G + 0,114B


V = 0,877 (R Y)
U = 0,493 (B Y)

Dengan hanya sinyal gambar, maka kita akan mendapatkan image hitam
putih, dan dengan penambahan komponen warna, akan didapatkan image
warna. Bandwidth untuk sinyal gambar (luma) harus tetap dibuat lebar
karena sinyal gambar banyak mengandung informasi untuk mendapatkan
resolusi gambar yang tinggi. Bandwidth untuk sinyal warna masih dapat
direduksi karena tidak terlalu banyak informasi seperti halnya sinyal
gambar. Sinayl video komponen ini (Y / R-Y / B-Y ) masih mewakili sinyal
aslinya (RGB) dan dengan mudah akan dapat dikonversikan kembali menjadi
sinyal RGB dengan hanya menjumlahkan komponennya.
Konversi sinyal ini tidak terlalu berpengaruh dalam kualitas gambar, karena
hanya sekali konversi dan masih mewakili sinyal asli. Penggunaan sinyal
komponen ini adalah dalam sistem perekaman pita dengan format Betacam,
dengan membuat jalur-jalur (tracks) tersendiri.
Pada peralatan Video, sinyal komponen ini biasanya ditransmisikan
menggunakan 3 kabel video impedansi 75 Ohm (RG-59) dengan
menggunakan konektor BNC, atau multikabel 75 Ohm dibundel menjadi 1,
dengan konektor BNC.

Gambar 2.3. Sinyal Video Komponen pada Color Bar.

2.3. SINYAL VIDEO KOMPOSIT (COMPOSITE VIDEO).


Untuk dapat mempertahankan kompatibilitas, maka diperlukan sinyal yang
dapat mengandung informasi warna selain gambar dalam satu jalur. Sinyal
video yang mengandung informasi warna, gambar dan sync dalam satu jalur
disebut sinyal komposit.
Sinyal komposit didapat dari proses encoding dari sinyal komponen. Sinyal
gambar (Y = Luminance) didapat langsung dari keluaran proses matriks.
Sinyal warna ( C = Chrominance = Chroma) didapat dari penjumlahan
modulasi DSB supressed carrier sinyal-sinyal informasi warna U dan V
dengan frekuensi pembawa (fcarrier) dengan beda fasa 1800 (lihat gambar
2.1.).

Gambar 2.4. Sinyal Komposit pada Color Bar

Sinyal warna (chrominance) adalah sinyal yang termodulasi. Proses


modulasi dan demodulasi ini adalah proses transformasi yang mangandung
kemungkinan tidak linear. Hal ini berarti salah satu penurunan kualitas
sangatlah mungkin terjadi di sini.
Dengan proses modulasi sinyal warna dengan frekuensi fcarrier, maka sinyal
ini dapat dicampur (mix) dengan sinyal gambar karena masing-masing
menenpati daerah frekuensi yang berbeda. Hasil dari pencampuran inilah
yang didapat satu sinyal yang mengandung informasi gambar dan warna
dalam satu jalur yang disebut sinyal komposit.. Kelemahan dari sinyal
komposit ini antara lain adalah ketika pemisahan antara sinyal warna dari
sinyal gambar dengan filter, dapat saja terjadi kemungkinan pemisahannya
tidak sempurna atau ada sebagian informasi dari kedua sinyal tersebut
hilang, sehingga memberikan penurunan kualitas yang disebut efek cross
color.
Sinyal video komposit ini sangat luas dipergunakan dan dapat ditemukan
sebagai masukan pada jalur transmisi televisi konvensional dan dalam
berbagai format perekaman video seperti Betamax, VHS, 8mm, U-matic, 1Inch,
Pada peralatan video, sinyal komposit ini biasanya ditransmisikan
menggunakan 1 kabel video dengan impedansi 75 Ohm (RG-59), dengan
konektor BNC atau RCA.

2.4. SINYAL S-VIDEO (Y/C)

Untuk mengatasi efek cross-color yang terjadi sewaktu pemisahan sinyal


warana dari sinyal gambar, maka dewasa ini mulai dipopulrekan sinyal SVideo. Sinyal ini adalah sinyal yang terdiri dari dua jalur, yaitu jalur untuk
gambar (Y =Luminance) termasuk sync dan satu lagi jalur untuk warna (C =
Chrominance). Sinyal ini memang lebih baik dari sinyal komposit, tetapi
sinyal warna pada sinyal ini juga telah mengalami transformasi yang
mungkin tidak linear dalam proses modulasi yang mengakibatkan kurang
baik jika dibandingkan dengan sinyal video komponen yang masih mewakili
sinyal asli RGB.
Sinyal S-Video ini mulai dipopulerkan sebagai jalur input/output pada sistem
perekaman video (terutama S-VHS dan Hi-8), tetapi tidak digunakan
sebagai jalur perekaman video pada format perekaman pita S-VHS maupun
Hi-8 (S-VHS dan Hi-8 tetap menggunakan sinyal komposit. dengan
peningkatan bandwidth pada jalur video).
Pada peralatan video, sinyal S-Video ini biasanya ditransmisikan
menggunakan kabel isi 2 coax, dengan konektor DIN-4pin. Biasanya kabel
S-video ini tidak panjang, hanya 3 atau 5 meter.

Gambar 2.5. Sinyal S-Video pada Color Bar.


3. SINYAL VIDEO DIGITAL
Sinyal analog mempunyai beberapa kelemahan yang sulit diatasi yaitu
mengenai masalah noise dalam proses sinyal dan transmisi. Dengan
perkembangan teknologi digital yang dapat mengatasi masalah noise, maka
sinyal video digital juga dikembangkan. Dengan besarnya bandwidth dari
sinyal video, maka jika ditransformasikan menjadi sinyal digital dengan
kualitas yang baik, menghasilkan sinyal dengan kecepatan bit (bit rate) yang
sangat tinggi, dan jika disimpan, memerlukan media yang sangat besar.
Dalam perkembangannya, maka kemudian timbul bentuk-bentuk sinyal
video yang terkompresi untuk mengurangi besarnya kecepatan dan media
yang diperlukan. Selanjutnya teknik kompresi dan protokol interface sinyal

digital inilah yang menjadi persaingan antar perusahaan yang bergerak di


bidang peralatan video.

3.1. SERIAL DIGITAL INTERFACE (SDI)


Serial Digital Interface adalah merupakan sinyal digital yang mengikuti
standar SMPTE dan CCIR-601. Serial digital interface diperkenalkan ketika
diluncurkan VTR dengan format D1 dan D2 yang diikuti oleh Digital
Betacam. D1 merupakan sinyal digital yang pada dasarnya adalah
mendigitalkan sinyal video komponen (Y/R-Y/B-Y) dengan frekuensi samplng
4xfsc untuk Y, 2xfsc untuk R-Y dan B-Y (dikenal sebagai 4:2:2), sedang D2
pada dasarnya adalah mendigitalkan sinyal video komposit (termasuk sync
dan burst). Sedang untuk membedakan sinyal PAL dan NTSC, digunakan
istilah 625 dan 525, yang diambil dari jumlah baris scanning pada PAL yaitu
625 dan NTSC yaitu 525.
SDI merupakan sinyal synchronous, yaitu sinyal yang terus menerus
mengirimkan data konstan. Bandwidth dari sinyal SDI D1 adalah 270Mbps
(Mega Bit per second). Hal ini dapat dilihat dari frekuensi sampling (13.5MHz
+ 6.75 MHz + 6.75 MHz) dikalikan kuantisasi sebesar 10-bit, karena data
yang diserialkan.
Pada peralatan video digital, sinyal SDI ditransmisikan melalui kabel video
dengan impedansi 75Ohm dengan penampang lebih besar dari sinyal analog
(RG-11 atau RG-62), dengan menggunakan konektor BNC.
3.3. IEEE 1394 (iLink / Firewire)
iLink/Firewire dibuat dengan dasar memenuhi kebutuhan perkabelan yang
sederhana, yaitu kabel yang dapat mentransmisikan sinyal video dan audio
digital dan kontrol sekaligus (AVC). Transmisi ini umum dikenal baik di
kalangan audio-visual, maupun di kalangan IT yang sudah menyatu. Di
dalam transmisi digital iLink/Firewire ini, sinyal video telah terkompressi
dengan algoritma DV (Digital Video), atau HDV.
Penggunaan yang sangat umum adalah transfer video dari perangkat VTR
atau Camcorder ke Komputer untuk dilakukan editing, dan dikembalikan lagi
ke Pita melalui VTR. Transmisi ini adalah digiatal, sehingga tidak ada
penurunan kualitas dalam transmisinya, alhasil turunan dari DV ini bisa
sampai puluhan kali turunan tanpa terlihat degradasi kualitas, tidak seperti
turunan sinyal analog betacam yang hanya maksimal 7 kali.
Perlu diperhatikan bahwa iLink/Firewire ini dapat mentransmisikan dua jenis

video coding, yaitu DV (digital Video) dan HDV (High Definition), bergantung
kepada setting dan kemampuan perangkat. Dalam lingkungan Standard
Definition (720 x576 PAL), maka gunakanlah DV, untuk transfer antar
perangkat miniDV atau DVCAM, sedangkan HDV (High definition 720)
digunakan untuk perangkat yang mampu bekerja untuk system HDV.