Anda di halaman 1dari 6

PERAN KALSIUM DALAM PROSES SEKRESI, INTEGRITAS

MEMBRAN PLASMA DAN TRANSPOR PLASMA

Di Susun Oleh : Kelompok 2


Anggota : Lia Addyanty
Ira Novita Rahayu
Rumi Sahara Zamzami
Ayu Dwi Fitriani
Octa Sicilia Rampai
Mahmudi
Mella Riski Prima

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAHKUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2014

Kalsium
Kalsium merupakan zat yang sangat penting bagi tubuh manusia, karena kalsium
memiliki banyak peran yang cukup vital dalam pengaturan fungsi-fungsi fisiologis tubuh.
Peran kalsium antara lain untuk proses mineralisasi tulang, proses sekresi, reaksi enzim,
integritas membran, transpor membran plasma, koagulasi darah, kerja intraselular sejumlah
hormon, pelepasan hormon dan neurotransmitter, eksitabilitas neuromuskular, dan masih
banyak lagi. Sekitar 99% kalsium terdapat di tulang (bergabung bersama fosfat membentuk
hidroksil apatit), sisanya sekitar 1% berada bebas diluar tulang dan dapat dipertukar secara
bebas.
Kalsium dalam plasma terdapat dalam tiga bentuk, yaitu :
1.

Sekitar 41% (1 mmol/L) kalsium bergabung dengan protein plasma dan bentuk ini tidak
dapat berdifusi melalui membran kapiler.

2.

Sekitar 9% kalsium (0,2 mmol/L) dapat berdifusi melalui membran kapiler, namun
bergabung dengan zat anionik plasma dan cairan interstisial (contohnya, sitrat danfosfat)
sedemikian rupa sehingga tidak terionisasi.

3.

Sisa 50% kalsium dalam plasma dapat berdifusi melalui membran kapiler dan terionisasi.
Konsentrasi ion kalsium normalnya diatur dengan sangat tepat, sehingga jarang

menurun atau meningkat terlampau jauh melebihi beberapa persen dari nilai normalnya
sebesar kira-kira 9,4 mg/dl yang setara dengan 2,4 mmol kalsium per liter. Separuh dari
konsentrasi ion kalsium normal tersebut berada dalam plasma dan cairan interstisial
(1,2mmol kalsium per liter) yang sudah dipersentasi total masing-masing diatas, sisanya
berada ditempat lain seperti cairan ekstrasel.
Pengaturan yang tepat dari kadar atau konsentrasi ion kalsium tersebut sangat penting,
karena kalsium berperan utama dalam banyak proses fisiologis seperti yang sudah disebutkan
diatas. Contohnya pada neurotransmitter atau transmisi impuls saraf, yang hanya beberapa
dari sejumlah proses fisiologis. Sel yang dapat teriksitasi, seperti neuron, sangat sensitif
terhadap perubahan konsentrasi ion kalsium, dan peningkatan konsentrasi ion kalsium
melebihi normal ( hiperkalsemia ) menyebabkan depresi progresif pada sistem saraf pusat.
Sebaliknya, penurunan konsentrasi kalsium (hipokalsemia) menyebabkan sistem saraf
menjadi lebih mudah untuk dirangsang. Sehingga pengaturan kadar atau konsentrasi ion
kalsium ditubuh sangat penting Untuk pengaturannya sendiri.

Kalsium berfungsi utama untuk membangun tulang dan gigi, fungsi yang lain yaitu :
1.

Menstabilkan membran sel dan memblokade transport natrium menuju sel. Maka
penurunan kadar kalsium akan meningkatkan eksitabilitas sel dan sebaliknya
peningkatan kadar kalsium akan menurunkan eksitabilitas.

2.

Pembekuan darah, bila kalsium tidak tersedia, missal terikat dengan sitrat atau oksalat,
maka pembekuan darah tidak terjadi.

3.

Produksi air susu.

4.

Sekresi beberapa hormon dan factor pelepas hormon.


Kalsium plasma terdapat dalam 3 bentuk :

1.

Bentuk senyawa kompleks dengan asam organik ex. Sitrat, phosphat

2.

Bentuk terikat protein ex. Albumin, globulin

3.

Bentuk terionisasi/ bentuk tak terikat (Ca2+) (Murray, R. K., et all., 2003)

A. Peran Kalsium dalam Proses Sekresi


Secara luas kalsium terionisasi merupakan unsur regulator proses seluler termasuk
kontraks iotot, rangkaian proses pembekuan darah, aktifitas enzim dan eksitabilitas
membrane dan mediator dari kerja hormon. Peran kalsium ion dalam aksi hormone diusulkan
karena banyak hormon :
1. Dihambat dalam media kalsium bebas atau bila kada rkalsium intrasel berkurang
2. Mempengaruhi aliran kalsium sel
Diketahui konsentrasi Ca2+ sitosol lebih rendah dibandingkan konsentrasi Ca2+ dalam
cairan ekstraseluler dan organela intraseluler. Keadaan ini dipertahankan oleh adanya pompa
Ca2+/Mg2+ ATPase dependent. Hormon dan zat efektor lain dapat merangsang pelepasan ion
kalsium kedalam sitosol. Pengaruh kalsium dalam proses sekresi hormone :
1. Kelenjar paratiroid
Paratiroid menghasilkan parathormon yang merupakan hormon polipeptida.
Pengaturan pelepasan PTH dipengaruhi oleh kadar serum kalsium melalui mekanisme umpan
balik negatif. Pada keadaan serum kalsium tinggi sekresi PTH menurun mengakibatkan
penurunan mobilitas ion kalsium dari tulang, sehingga serum kalsium menjadi menurun.
Kadar magnesium dan phospat juga mempunyai efek pada penurunan sekresi PTH. Pada
keadaan hipomagnesemia kadar kalsium normal akan menurunkan sekresi PTH. Parathormon
mengatur metabolisme kalsium dan phospat tubuh.
2. Kelenjar pankreas (sekresi insulin)
Peningkatan kadar glukosa menginduksi fase pertama dalam glucose-mediated
insulin Secretion yakni dengan pelepasan insulin yang baru saja disintesa dan penyimpanan

dalam granula sekretorik sel . Masuknya glukosa ke dalam sel di deteksi oleh glukokinase,
sehingga glukosa tadi difosforilasi menjadi glukosa-6-fosfat (G6P). Proses ini membutuhkan
ATP. Penutupan kanal K+ ATP-dependent mengakibatkan depolarisasi membran plasma dan
aktivasi kanal kalsium yang voltage-dependent yang menyebabkan peningkatan konsentrasi
kalsium intraseluler. Peningkatan kadar kalsium inilah yang menyebabkan sekresi insulin.
3. Hormon kalsitonin
Hormon Kalsitonin merupakan hormon polipeptida yg berefek hipokalsemik dan
hipofosfatemik, berfungsi dalam menjaga keseimbangan kalsium dalam darah. Faktor utama
yang mempengaruhi sekresi kalsitonin adalah kadar kalsium serum. Kadar kalsium serum
yang rendah akan menekan pengeluaran tirokalsitonin dan sebaliknya peningkatan kalsium
serum akan merangsang pengeluaran tirokalsitonin. Bila kadar ion kalsium dalam darah
meningkat, kadar kalsitonin akan naik dan mengendapkannya dalam tulang.
Kalsitonin merupakan suatu peptida yang terdiri dari 32 asam amino, yang dihasilkan
oleh sel C kelenjar tiroid dan berfungsi menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas.
Aksi biologik ini digunakan didalam klinik untuk mengatasi peningkatan resorpsi tulang,
misalnya pada penderita osteoporosis, hiperkalsemia akibat keganasan. Hormon ini bekerja
menurunkan absorbsi Ca2+ didalam usus dan menurunkan resorpsi Ca2+ di dalam tulang
sehingga serum Ca2+ yang semula tinggi menjadi turun. Hormon ini bekerja berkebalikan
dengan hormon paratiroid. Ca plasma >normal, dapat menyebabkan gangguan sistem saraf
(refleks lambat, kontraksi otot lambat, lemah konstipasi, dan nafsu makan).
B. Proses kalsium sebagai perannya dalam integritas membran dan transport plasma.
Membran Plasma Ca2+ ATPase (PMCA) adalah protein transportasi di membran
plasma dari sel dan berfungsi untuk menghilangkan kalsium dari sel. Fungsi PMCA sangat
penting untuk mengatur jumlah kalsium dalam semua sel eukariotik. Ada transmembran yang
gradien elektrokimia sangat besar dari kalsium mendorong masuknya ion ke dalam sel,
namun sangat penting untuk mempertahankan konsentrasi kalsium dengan tepat. Dengan
demekian, perlu bagi sel-sel untuk melakukan pompa ion untuk menghilangkan kalsium.
Pengangkutan kalsium ke dalam ruang ekstraselular, PMCA juga merupakan regulator
penting dari konsentrasi kalsium dalam ruang ekstraselular.
Ion kalsium adalah salah satu second messenger yang paling luas yang digunakan
dalam transduksi sinyal. Kalsium terikat dengan protein transport, pada penukaran kalsiumnatrium (NCX) menggunakan gradien elektrokimia natrium, dengan cara masuknya natrium
ke dalam sel dengan pengangkutan kalsium dari luar sel. Selain itu, PMCA memperoleh

energi untuk memompa kalsium keluar dari sel dengan menghidrolisa adenosin trifosfat
(ATP). Dalam neuron, ion kalsium selektif namun tergantung tegangan pada sinaptik
transmisi melalui pelepasan neurotransmiter ke dalam celah sinaps dengan vesikel fusi dari
vesikel sinaptik. Atau dengan kata lain PMCA memompa kalsium keluar dengan adanya
hidrolisis dari adenosin trifosfat (ATP), dengan stoikiometri satu ion kalsium dihilangkan
untuk setiap molekul ATP dihidrolisis. Ia mengikat ion kalsium dengan erat tetapi tidak
menghapus atau menghilangkan ion kalsium pada tingkat yang sangat cepat. Hal ini kontras
pada penukaran kalsium natrium (NCX), yang memiliki afinitas yang rendah dan kapasitas
yang tinggi.
Dengan demikian PMCA efektif pada pengikatan kalsium bahkan ketika konsentrasi
ion tersebut sangat rendah dalam sel, sehingga cocok untuk menjaga keseimbangan ion
kaslium tersebut. NCX lebih cocok untuk menghantarakan sejumlah besar ion kalsium
dengan cepat, seperti yang dibutuhkan dalam neuron setelah potensial aksi. Dengan demikian
kegiatan dua jenis pompa saling melengkapi.
Ketika PMCA tidak berfungsi dengan baik, maka beberapa penyakit dapat terjadi
seperti tuli sensorineural, diabetes, dan hipertensi. Dalam eksositosis, dimana jumlah yang
berlebihan dari neurotransmitter glutamat overactivate neuron sehingga menyebabkan
masuknya ion kalsium secara berlebihan ke dalam sel, aktivitas dari PMCA mungkin tidak
cukup untuk menghilangkan kelebihan ion kalsium tersebut.
Pada jaringan mammae, sel-sel epitel menunjukkan PMCA yang mengangkut kalsium
melintasi permukaan apikal sel ke dalam sus. PMCA lisis pada saat penyapihan, apoptosis
tersebut menyebabkan kalsium dan kelenjar mammae involusi.

DAFTAR PUSTAKA
Anthony David J & Lewis E Fordham. 1961. Disease of The Pig 5th edition. Balliere, Tindall
and Cox. London
Bristol, R. M. 2004. Hypocalcemia ( Milk Fever )-Is it all about calcium. ILC Resources,
Iowa
Bullock Barbara L & Rosendahl Pearl Philbrock. 1984. Pathophysiology Adaptations and
Alterations Function. Little, Brown and Company. United States of America
Cunningham, James G. 2002. Textbook of Veterinary Physiology 3rd, W. B. Saunders.
Philadhelpia
Engstrom, C. W, Horst, R. L, Reinhardt, T. A and Littledike, E. T. 1984. 25-Hydroxyvitamin
D 1- and 24-Hydroxylase Activities in Pig Kidney Homogenates: Effect of Vitamin
D Deficiency. The Journal of Nutrition, 114: 119-126
Hungerford, T. G., 1967, Disease of Livestock,Angus and Robertson : Sydney
Miller, E. R, Ullrey, D. E, Zutaut, C. L, baltzer, B. V, Schmidt, D. A, Vincent, B. H and
Luecke, R. W. 1964. Vitamin D2 Requirement of Baby Pig

1,2

. The Journal of

Nutrition, 83.
Mitruka, Brij M. 1981. Clinical Biochemical and Hematological reference Values in Normal
experimental animals and Normal Humans 2nd, Year Book Medical Publisher. INC.
Chicago.
Rahmadhani, A. 2014. Makalah Fisiologi Hormon Kalsitonin. Fakultas Kedokteran Gigi.
Universitas Baiturrahmah. Padang.