Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Medan magnet bumi sangat penting bagi eksistensi kehidupan di bumi, karena
medan magnet bumi merupakan perisai di sekeliling bumi yang dapat melindungi
bumi dari energi plasma matahari (angin matahari), radiasi matahari yang mengandung
partikel energi tinggi dan perisai ini disebut magnetosphere (Gunnarsdttir, 2012). Bila
masuk ke dalam atmosfer bumi, partikel angin matahari ini dapat menyebabkan
gangguan yang dapat merusak sistem aliran listrik di bumi, sistem navigasi,
komunikasi radio, dan terhambatnya upaya survei magnetik. Magnetosphere
menghalangi masuknya partikel angin matahari ke dalam atmosfer bumi dengan cara
membelokkan aliran partikel tersebut sehingga aliran ini menjauhi bumi. Namun
magnetosphere tidak sepenuhnya sempurna dalam mencegah masuknya partikel angin
matahari ke atmosfer bumi sehingga sebagian partikel angin matahari akan selalu ada
yang lolos atau dengan kata lain masuk ke atmosfer bumi. Inilah yang menyebabkan
adanya gangguan medan magnet di bumi.
Medan magnet bumi terdiri atas beberapa komponen. Namun pada penelitian
ini akan dibahas bagaimana karakteristik pola variasi diurnal magnet dari komponen
horisontal (H) saja, karena komponen ini paling terpengaruh terhadap aktivitas
matahari. Nilai komponen horisontal (H) bervariasi seiring dengan perubahan waktu.
Fluktuasi nilai variasi diurnal magnet bumi ini sebagian besar disebabkan oleh arus
listrik induksi bumi yang berasal dari pengaruh eksternal, yaitu dari bagian atas
atmosfer bumi atau ionosfer. Arus listrik di ionosfer terjadi karena adanya aktivitas
matahari. Aktivitas matahari ada yang bersifat jangka panjang seperti siklus bintik
matahari selama 11 tahun dan gangguan jangka pendek seperti aktivitas Coronal Mass
Ejection (CME), Solar flare, Sudden Storm Comencement (SSC), dan lain-lain.

Aktivitas matahari ini menghasilkan arus listrik induksi ke bumi di ionosfer sehingga
terjadi variasi nilai medan magnet bumi.
Variasi diurnal medan magnet menggambarkan aktivitas matahari yang terjadi
selama sehari di ionosfer bumi. Selama terjadi aktivitas matahari yang tidak signifikan
di ionosfer bumi, maka kecenderungan nilai variasi diurnal relatif lebih teratur dan
periodik (berulang), karena hanya terjadi arus induksi bumi yang disebabkan rotasi dan
pergerakan mengorbit (revolusi) dari bumi, matahari, dan bulan. Namun, saat terjadi
aktivitas matahari yang signifikan seperti aktivitas Coronal Mass Ejection (CME),
Solar flare, Sudden Storm Comencement (SC), dan lain-lain, nilai variasi diurnal ini
cenderung fluktuatif dan tidak stabil.
Nilai komponen medan magnet bumi dapat dianggap sebagai kuantitas statistik
agar dapat dipelajari evolusi atau karakter perubahan nilainya (Gururajan, 2013). Atas
dasar inilah, penulis akan membuat prediksi nilai variasi diurnal medan magnet dari
data Stasiun Geofisika Tuntungan dengan menggunakan metode statistik yaitu analisis
time series. Pada prinsipnya, analisis time series dapat digunakan untuk membuat
model prediksi untuk data yang bersifat periodik (berulang). Oleh karena itu, penelitian
ini menitikberatkan pada variasi diurnal medan mganet bumi saat aktivitas matahari
tidak signifikan atau saat medan magnet bumi bervariasi secara teratur. Teknik
penghalusan data (smoothing) yang digunakan pada analisis time series ini berupa
teknik moving average (rata-rata bergerak).

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Variasi diurnal medan magnet yang tercatat selama sehari menggambarkan


bagaiamana aktivitas matahari di ionosfer bumi. Salah satu manfaat dari nilai variasi
diurnal magnet ini adalah untuk upaya reduksi data sebagai koreksi dalam survey
magnetik. Atas dasar inilah prediksi nilai variasi diurnal geomagnet sangat perlu
dilakukan, sehingga dapat dijadikan sebagai referensi dalam membuat rencana jadwal
pengukuran geomagnet.

I.3 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah


a. Untuk mengidentifikasi karakteristik dan pola nilai variasi diurnal magnet
komponen H dari data pengamatan stasiun geofisika BMKG Tuntungan.
b. Untuk memprediksi nilai variasi diurnal magnet komponen H pada beberapa
hari berikutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MEDAN MAGNET BUMI

Bumi memiliki medan magnet yang secara dominan dihasilkan dari dalam bumi
dan membentuk perisai pelindung di sekitar bumi yang dinamakan magnetosphere.
Perisai ini melindungi bumi dari partikel energi tinggi matahari yang berbahaya.
Medan magnet yang teramati di bumi (medan geomagnet) dihasilkan dari beberapa
sumber yang berbeda. Sumber-sumber pembangkit medan magnet bumi ini adalah:
1. Sumber internal. Medan magnet bumi secara global dibangkitkan oleh dinamo
magnetik yang berasal dari inti luar bumi yang cair dan variasinya berubah
sangat lambat dan kecil terhadap waktu. Medan magnet ini memilki pengaruh
dominan terhadap bumi sekitar 99 % dan disebut medan magnet utama.
2. Sumber lokal. Medan ini berasal dari kerak bumi dan disebabkan oleh arus
induksi di bumi akibat benda-benda termagnetisasi yang terpendam di kerak
bumi, seperti fossil, artefak besi dan beberapa jenis batuan yang mengandung
mineral-mineral magnetik.
3. Sumber eksternal. Medan magnet bumi dapat pula berasal dari luar bumi,
seperti dari aktivitas matahari dan benda-benda langit yang menghasilkan arus
di ionosfer dan magnetosfer. Medan ini bervariasi terhadap waktu relatif lebih
cepat daripada medan magnet yang berasal dari sumber internal.
Asal mula timbulnya medan magnet bumi merupakan salah satu pertanyaan
mendasar. Salah seorang ilmuwan terkemuka yang pertama kali pernah meneliti
masalah medan magnet bumi adalah William Gilbert (1600). Ia mengidentifikasi
bahwa medan magnet bumi berasal dari dalam (pusat) bumi sehingga pusat bumi
dapat dimodelkan seperti suatu magnet batang raksasa (lihat gambar 2.1).

Gambar 2.1 bumi dimodelkan seperti suatu batang magnet raksasa. (Sumber:
http://ase.tufts.edu)

Namun, teori tersebut ditinggalkan ketika ditemukan bahwa ternyata suhu di


dalam bumi sebagian besar lebih besar dari suhu curie, yaitu suhu pada saat sifat
kemagnetan suatu material hilang akibat panas. Penelitian tentang suhu curie ini
dilakukan oleh Heberling Adams dan J.Wilbur Green pada tahun 1931. Berselang
beberapa tahun setelah Gilbert, ada beberapa ilmuwan yang meneliti tentang asal mula
terbentuknya medan magnet. Hingga pada tahun 1939, yakni pada era modern
perkembangan teori medan magnet, Walter M. Elsasser menyatakan teori dinamo
hidromagnetik, teori ini menyatakan bahwa medan magnet dapat ditimbulkan dengan
sendirinya di dalam inti bumi karena pergerakan inti bumi yang cair dapat
menimbulkan arus konveksi yang menghasilkan arus listrik yang dapat menginduksi
bumi dan menghasilkan medan magnet bumi (Parkinson, 1900).

.
Gambar 2.2 bumi (sebelah kanan) membentuk perisai magnet (garis-garis biru) yang
melindungi bumi dari partikel angin matahari (sebelah kiri). (Sumber: Gunnarsdttir, 2012)

Inti bumi terdiri atas besi dan sejumlah kecil nikel dimana inti dalam bumi
berbentuk padat (solid) dan inti luar bersifat cair (liquid). Berdasarkan teori dinamo
hidromagnetik, medan magnet bumi terbentuk akibat arus konveksi listrik yang berasal
dari inti luar bumi yang cair. Rotasi bumi menyebabkan inti luar bumi yang cair itu
berputar dan menghasilkan arus konveksi listrik. Medan magnet yang terbentuk dari
medan listrik ini membentuk perisai yang dapat membelokkan angin matahari yang
menuju bumi. Perisai ini yang dinamakan magnetosphere. Angin matahari menekan
magnetosphere di salah satu sisi dan menyebabkan sisi lainnya memanjang melebihi
100 kali radius bumi (gambar 2.2). Induksi magnet di magnetosphere berkisar antara
10 sampai 60.000 nano tesla (Reeve, 2010).
Medan magnet bumi merupakan medan vektor. Sehingga di setiap titk dalam
ruang, besar dan arah medan magnet dapat diukur. Medan magnet bumi terdiri dari
beberapa komponen vektor yang dapat diilustrasikan seperti gambar 2.3:

Gambar 2.3 komponen vektor medan magnet bumi. (Sumber: M Husni, 2010)

Keterangan:
X = komponen utara geografis bumi
Y = komponen timur geografis bumi
Z = komponen vertikal/ intensitas vertikal magnet
H = komponen horizontal magnet (menunjuk utara meridian magnetik lokal)
6

F = intensitas total magnet


D = sudut deklinasi (sudut di antara utara geografis (X) bergerak ke arah timur menuju
komponen horizontal magnet (H))
I = sudut inklinasi (sudut di antara komponen horizontal magnet (H) dan intensitas
total magnet (F))

Hubungan komponen-komponen tersebut secara matematis dapat ditulis sebagai


berikut:
H2 = X2 + Y2

.......................(2.1)

X = H cos(D)

.......................(2.2)

Y = H sin(D) = X tan(D)

............(2.3)

Z = H tan(I) = F sin(I)

............(2.4)

I = arctan(Z/H)

........................(2.5)

D = arctan(Y/X)

........................(2.6)

2.2 VARIASI MEDAN MAGNET BUMI SECARA TEMPORAL

Pengukuran medan magnet bumi menunjukkan bahwa medan magnet bumi


bevariasi terhadap waktu. Berdasarkan durasi waktunya, variasi medan magnet bumi
dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Variasi jangka panjang (long term variation). Medan magnet bumi bervariasi
dalam waktu dengan jangka panjang selama bertahun-tahun (variasi sekuler)
dan variasi ini disebabkan oleh sumber internal bumi.
b. Variasi jangka pendek (short term variation). Variasi medan magnet dapat
terjadi dalam setiap detik dan variasi yang tercatat selama sehari disebut
sebagai variasi harian atau variasi diurnal. Variasi yang terjadi secara intensif
7

karena durasinya yang singkat ini diyakini berasal dari sumber eksternal bumi,
seperti pengaruh utama dari arus di ionosfer dan magnetosphere bumi yang
dapat bersumber dari aktivitas matahari, rotasi dan pergerakan mengorbit
(revolusi) dari bumi, bulan dan matahari, serta pengaruh arus induksi yang
terjadi di kerak bumi. Variasi yang berubah secara intensif dan cepat ini yang
direkam sebagai data magnetik pada observatorium magnet. Di stasiun
Geofisika Tuntungan nilai variasi medan magnet bumi yang tercatat merupakan
variasi jangka pendek yang terekam secara real time dalam setiap detik. Nilai
variasi diurnal medan magnet yang tercatat selama sehari disimpan dalam
sebuah file komputer (dengan ekstensi *.txt) yang berisi nilai variasi medan
magnet dalam setiap detik.
Karena data magnet yang terekam di observatorium magnet adalah variasi yang terjadi
dalam durasi singkat (variasi jangka pendek), maka pembahasan akan difokuskan
mengenai variasi jangka pendek.

2.2.1 Variasi Jangka Pendek (Variasi Diurnal)

Variasi jangka pendek merupakan variasi medan magnet yang berubah secara
cepat terhadap waktu dan dapat berdurasi dalam skala detik. Variasi yang terjadi dalam
setiap detik ini direkam oleh observatorium magnet sebagai data magnet harian yang
dikenal sebagai variasi diurnal medan magnet. Variasi jangka pendek berhubungan
dengan variasi medan magnet bumi yang disebabkan oleh arus listrik induksi bumi
yang berasal dari sumber eksternal dimana matahari merupakan faktor dominan yang
mempengaruhi besarnya nilai variasi medan magnet ini, meskipun arus listrik induksi
yang berasal dari kerak bumi juga mempengaruhi besarnya variasi medan magnet ini.
Variasi jangka pendek dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Variasi teratur (regular variation). Variasi yang sifatnya teratur dan relatif
berulang (periodik), ini disebabkan oleh rotasi bumi dan pergerakan mengorbit
(revolusi) bumi terhadap matahari serta bulan terhadap bumi.

b. Variasi tidak teratur (irregular variation). Variasi medan magnet yang tidak
teratur akibat adanya gangguan magnetik yaitu berupa interaksi antara angin
matahari dengan magnetosfer bumi. Interaksi yang terjadi ini menghasilkan
arus di magnetosfer dan ionosfer yang kemudian menginduksi bumi.
Penelitian ini hanya menitikberatkan pada variasi teratur sehingga pembahasan
mengenai variasi tidak teratur tidak dijelaskan secara rinci dalam penelitian ini.

2.2.1.1 Variasi Teratur (Regular Variation)

Variasi teratur cenderung bersifat periodik (berulang). Hal ini disebabkan oleh
rotasi bumi dan pergerakan mengorbit (revolusi) dari bumi terhadap matahari serta
bulan terhadap bumi. Variasi diurnal atau biasa disebut variasi harian matahari (solar
daily variation) didominasi oleh nilai medan magnet yang memiliki variasi teratur.
Variasi diurnal sebagian besar disebabkan oleh arus listrik yang bergerak di ionosfer,
namun arus listrik induksi di kerak bumi juga mempengaruhi variasi diurnal medan
magnet. Pada siang hari, matahari meradiasikan energi surya ke ionosfer bumi,
sehingga terjadi pertambahan densitas ion di ionosfer dan menyebabkan peningkatan
arus listrik di ionosfer bumi. Sistem arus di ionosfer ini menyebabkan timbulnya
medan magnet. Sistem arus ini dikendalikan oleh angin yang disebabkan adanya
perbedaan suhu antara siang dan malam hari dan angin yang secara elektris
terkonduksi akibat gaya tarik-menarik (gaya gravitasi) dari bulan dan matahari
(Gunnarsdttir, 2012). Pada malam hari, nilai variasi diurnal medan magnet hanya
berasal dari arus listrik induksi di kerak bumi yang berasal dari selain matahari.
Gambar 2.4 menunjukkan karakteristik variasi diurnal medan magnet dengan
koordinat lintang geomagnet yang berbeda pada saat variasi teratur (tidak ada
gangguan magnetik).

Gambar 2.4 variasi medan magnet pada lintang geomagnet yang berbeda-beda pada saat
variasi teratur atau tidak ada gangguan magnetik. (Sumber: Gunnarsdttir, 2012)

2.2.1.2 Variasi Tidak Teratur (Iregular Variation)


Variasi yang tidak teratur disebabkan oleh adanya interaksi antara medan
magnet dari angin matahari dengan medan magnet dari magnetosfer bumi. Interaksi ini
menyebabkan terjadinya transfer plasma dan energi, sehingga arus dalam magnetosfer
dan ionosfer berubah-ubah terhadap waktu dan medan magnet bumi mengalami
gangguan magnetik. Perubahan arus dan medan magnet di magnetosfer ini disebut
badai magnet. Medan magnet yang terjadi selama badai magnet bersifat sangat tidak
teratur, tak terduga, dan dapat berlangsung selama beberapa hari (M. Husni: modul
magnet bumi, 2010). Gangguan magnetik ini dapat menyebabkan variasi dari 1-1000
nT dan mempengaruhi semua komponen medan magnet bumi; Z , H dan D
(Gunnarsdttir, 2012).
Badai magnet terjadi ketika ada variasi medan magnet bumi secara cepat.
Secara umum, ada dua penyebab utama terjadinya badai magnet:
Pertama, Matahari sesekali memancarkan coronal mass ejection (CME),
berupa ledakan kuat atau loncatan emisi partikel bermuatan (dari korona
matahari) yang menyebabkan meningkatnya kecepatan dan densitas angin
matahari (Gambar 2.5-kiri). Ketika ledakan CME ini menabrak magnetosfer
10

bumi, medan magnet bumi terganggu dan berosilasi, sehingga membangkitkan


arus listrik di ionosfer dan daerah luar angkasa di sekitar bumi. Arus listrik ini
membangkitkan tambahan variasi medan magnet di bumi yang terukur sebagai
badai magnet.
Kedua, sebagian besar daerah di korona matahari menjadi lebih dingin
sehingga garis-garis medan magnet matahari membentang jauh ke luar
matahari dan masuk ke dalam media antar planet (interplanetary medium).
Pada daerah yang lebih dingin tersebut terjadi aliran partikel yang cepat
sehingga fenomena ini disebut Coronal hole high-speed stream (Gambar 2.5kanan). Garis-garis medan magnet matahari dapat langsung terhubung dengan
medan magnet bumi, proses ini disebut magnetic reconnection (rekoneksi
magnetik). Partikel bermuatan ini dapat menjalar di sepanjang garis medan
magnet matahari dan masuk ke magnetosfer bumi. Arus yang dihasilkan
menyebabkan medan magnet bumi bervariasi dan terganggu. Magnetic
reconnection adalah proses yang berkelanjutan dan besar dampaknya
tergantung pada tekanan plasma, medan magnet dan arahnya dan faktor lainnya
(Reeve, 2010).

Gambar 2.5 (kiri) CME berupa ledakan besar di matahari, dimana matahari melepaskan
partikel bermuatan yang dapat mengganggu medan magnet bumi. CME terkadang
diikuti oleh kobaran besar lidah api matahari (solar flare). (kanan) Coronal hole highspeed stream, daerah gelap menunjukkan densitas plasma yang lebih rendah dan lebih
dingin daripada daerah yang terang. Daerah ini memungkinkan garis medan magnet
matahari membentang jauh menuju medan magnet bumi. (Sumber: Reeve, 2010)

11

CME yang sampai ke bumi dan menekan magnetosfer dapat menyebabkan


storm sudden commencement (SC atau SSC). SC adalah fenomena yang menyebabkan
bertambahnya intensitas medan magnet bumi yang terukur di magnetometer pada
lintang rendah dan terkadang diikuti oleh badai magnet (Veenadhari, 2012).
Penambahan nilai medan magnet ini disebabkan oleh perubahan tekanan angin
matahari secara tiba-tiba yang melawan batas antara matahari dan magnetosfer (pada
jarak sekitar 10 kali radius bumi) (Jankowski, 1996). Perubahan tekanan angin
matahari ini yang terukur sebagai penambahan nilai intensitas medan magnet di bumi
secara tiba-tiba juga dapat menyebabkan SI (sudden impulse). SI dan SC dapat
menghasilkan variasi nilai medan magnet sekitar beberapa puluh nano tesla (nT). SC
merupakan fase awal dari badai magnet (meskipun tidak semua badai magnet diawali
dengan SC) sementara SI merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyatakan
perubahan nilai medan magnet bumi secara tiba-tiba akibat CME yang menghasilkan
perubahan tekanan angin matahari, sekalipun tidak diikuti oleh badai magnet atau
dengan kata lain, SI dapat berdiri sendiri tanpa ada badai magnet yang mengikutinya
(Veenadhari, 2012). Gambar 2.6 dan 2.7 berturut-turut menunjukan SI dan SSC yang
tercatat pada magnetogram, variasi SI tidak sebesar variasi badai magnet.

Gambar 2.6 SI yang terkam pada 28 mei 2010 jam 03.00 UTC di observatorium Reeve,
Anchorage, Alaska USA. SI ini diidentifikasi sebagai peringatan yang dikeluarkan oleh SWPC
(Space Weather Prediction Center). SI ini disebabkan oleh CME yang terjadi pada 5 hari
sebelumnya (23 mei 2010). (Sumber: Reeve, 2010)

12

Gambar 2.7 rekaman magnetometer saat badai magnet yang diawali oleh SSC di
observatorium Nurmijarvi. (Sumber: M Husni, 2010)

2.3 ANALISIS TIME SERIES

Dalam membuat prediksi, biasanya orang akan mendasarkan diri pada pola atau
tingkah laku data pada masa-masa lampau. Data yang dikumpulkan dari waktu ke
waktu disebut rangkaian waktu atau time series.
Analisis rangkaian waktu mencoba menentukan pola hubungan antara waktu
sebagai variabel bebas (independent variable) dengan suatu data sebagai variabel
tergantung (dependent variable). Artinya besar-kecilnya data tersebut dipengaruhi oleh
waktu. Data tersebut memiliki variasi (gerakan) yang berbeda. Secara umum variasi
(gerakan) dari data rangkaian waktu tersebut terdiri dari:
1. Gerak jangka panjang (longterm movements atau Trend, disingkat Tt), yaitu
suatu gerak yang menunjukkan ke arah mana tujuan dari time series itu pada
13

umumnya, di dalam jangka waktu yang lama (variasi yang berubah secara
perlahan terhadap waktu).

2. Gerak bermusim (seasonal variations, disingkat St), yaitu suatu gerak yang
teratur dan serupa (atau hampir serupa) berupa gerak naik-turun di dalam
jangka waktu yang singkat (bagian-bagian dari tahun atau musim), yang lebih
dikenal dengan Gerak Periodik.

3. Gerak siklis (cyclic variations, disingkat Ct), yaitu gerak naik atau turun secara
periodik dalam jangka panjang. Gerak ini bersifat periodik seperti gerak
bermusim (St) namun periodenya lebih panjang.
4. Gerak tak teratur (irregular variations, disingkat It), yaitu gerak yang hanya
terjadi sekali-kali dan tidak mengikuti aturan tertentu dan karenanya tidak
dapat diramalkan terlebih dahulu.

14

Data diurnal medan magnet (Xt) yang digunakan dalam analisis time series
dapat di-dekomposisi (diuraikan) menjadi beberapa komponen yaitu:
Komponen trend (Tt): menyatakan bagaimana pola (trend) data secara umum,
dapat berupa pola linier, eksponensial, polinomial orde dua, tiga, dan lain
sebagainya (dalam penelitian ini selama beberapa hari).
Komponen musiman (St): menyatakan bagaimana pola data berulang selama
periode musiman (dalam penelitian ini selama 24 jam).
Komponen acak (It) : namun karena pengolahan data dibatasi untuk variasi
diurnal pada saat aktivitas matahari tidak signifikan (saat variasi diurnal
magnet bernilai teratur) maka komponen acak (It) tidak diperhitungkan dalam
penelitian ini.
Sehingga prediksi data merupakan perkalian antara komponen musiman dan
komponen trend, yang dapat ditulis sebagai berikut:

= Tt x St

....................................................................(2.7)

Keterangan:
: prediksi
Tt

: komponen trend

St

: komponen musiman

(sumber: Modul Introduction to Statistical Analysis of Time Series, Richard A. Davis,


Department of Statistics)

Pada penelitian ini, data nilai medan magnet selama beberapa hari di smoothing
(penghalusan pola data) dengan menggunakan rata-rata bergerak atau moving average
15

(MA). Nilai MA ini dijadikan sebagai baseline untuk menentukan seberapa


menyimpang komponen data dari rata-rata setiap harinya. Penyimpangan ini
menyatakan variasi komponen musiman (St) dan komponen acak (It). Lalu komponen
musiman (St) dipisahkan dari komponen acak (It) dengan cara rata-rata sederhana
dalam setiap jam (jam 0 sampai jam 23). Lalu dicari penyimpangan komponen
musiman (St) terhadap data sebenarnya dengan cara membagi nilai data sebenarnya
(Xi) terhadap nilai komponen musiman (St), teknik ini disebut deseasonalizing. Hasil
dari teknik deseasonilizing di cari komponen trend-nya (Tt) dengan menggunakan
regresi linier. Kemudian nilai prediksi dapat ditentukan dengan mengalikan komponen
musiman (St) dan trend-nya (Tt).

2.4 UKURAN AKURASI PREDIKSI

Untuk menentukan seberapa baik hasil prediksi terhadap data yang sebenarnya,
maka perlu diperhitungkan nilai kesalahannya, beberapa di antaranya adalah sebagai
berikut:
1. Standar deviasi (Sd), nilai Sd yang semakin kecil (mendekati nol) maka
semakin baik atau akurat nilai prediksinya (Zhou, 1998).

Sd

.......................................(2.8)

Keterangan:
n

: jumlah data
: hasil prediksi

Xi

: data yang sebenarnya

2. Efisiensi prediksi (PE), semakin baik hasil prediksi terhadap data pengamatan
maka PE akan semakin mendekati 100% (Zhou, 1998).

PE

(1 ARV) x 100%
16

.....................................................(2.9)

Dimana ARV bernilai,

..........................................(2.10)

Keterangan:
PE

: efisiensi prediksi (prediction efficiency)

ARV : variasi relatif rata-rata (average relative variation)


: hasil prediksi
Xi

: data yang sebenarnya


: rata-rata dari data yang sebenarnya

17

BAB III
DATA DAN METODE

3.1 LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan data magnet yang berasal dari stasiun geofisika
Tuntungan, yang terletak pada:
Koordinat geografis:
Lintang geografis

3 30 1,4 lintang utara (LU)

Bujur geografis

98 33 51,6 bujur timur (BT)

Ketinggian diatas Mean Sea Level (MSL)

86 meter

Waktu lokal

GMT + 7 jam

Keadaaan di sekitar stasiun Geofisika Tuntungan didominasi oleh tumbuh-tumbuhan,


ada beberapa pemukiman penduduk dan sebuah pabrik opak yang diduga sedikit
banyak memberi pengaruh noise pada data magnet yang terekam di stasiun Geofisika
Tuntungan.

3.2 DATA
Data yang digunakan adalah nilai variasi medan magnet komponen horisontal
(H) yang berasal dari komponen X dan Y bulan Maret dan April 2013 yang direkam
oleh Digital Fluxgate Magnetometer (FGM) LEMI-018, dengan periode sampling satu
detik dan resolusi minimum alat 0,01 nano tesla (nT).

18

3.3 METODE PENELITIAN


Berikut ini adalah alur pengolahan data yang diangkat dalam penelitian ini:
1. Dari data komponen X dan Y dari setiap detik yang terekam pada FGM
LEMI-018, komponen medan magnet horisontal (H) dihitung dengan
persamaan (2.1). Kemudian data H per detik ini dirata-rata agar diperoleh
nilai H per jam.
2. Data H per jam di smoothing dengan teknik moving average, dimana data
ke-1 (data jam 00) sampai data ke-24 (data jam 23) dirata-rata, lalu data ke2 sampai data ke-25 dirata-rata, dan seterusnya sampai data terakhir.
3. Hasil moving average di rata-rata kembali sehingga diperoleh nilai centered
moving average (CMA).
4. Cari komponen St dan It dengan cara membagi nilai Xt (data H) dengan
nilai CMA yang telah diperoleh.
5. Cari nilai variasi musim (St) dengan memisahkan nilai yang diperoleh pada
poin 4 (komponen St dan It), yaitu dengan cara merata-ratakan nilai pada
poin 4 untuk setiap jam (data St & It pada jam 00 pada hari ke 1, 2, dan
seterusnya di rata-ratakan, kemudian pada jam 01 pada hari ke 1,2, dan
seterusnya dirata-ratakan, ulangi langkah ini untuk jam jam lainnya hingga
jam 23).
6. Cari komponen trend (Tt) dengan cara men-deseasonilizing data yaitu nilai
Xt dibagi dengan nilai St (yang telah diperoleh sebelumnya pada poin 5).
Kemudian lakukan regresi linear dari hasil deseasonilizing tersebut
sehingga diperoleh nilai slope (s) dan intercept (i). Hasil slope dan intercept
ini dijadikan persamaan linier dengan input nilai waktu (t). Persamaan
liniernya ditulis sebagai berikut:
Tt = s*t + i

....................................................................................(3.1)

7. Hasil yang diharapkan adalah nilai prediksi variasi harian komponen H


sebagaimana persamaan (2.7) dan akurasi hasil prediksi tehadap data
sebenarnya untuk mengukur seberapa baik nilai prediksi yang diperoleh
sebagaimana dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (2.8) dan
(2.9).
19

3.4 DIAGRAM ALIR


Secara ringkas dapat dilihat pada diagram alir berikut ini:

input:
data variasi medan magnet komponen H
per jam

data smoothing moving average (MA)

data smoothing centered moving average


(CMA)

komponen St, It

komponen St

komponen Tt

output:
nilai prediksi variasi harian komponen H
dan akurasinya

20