Anda di halaman 1dari 8

Benahi LPTK,

Baru

PENA KAMPUs

SURAT KABAR MAHASISWA

FKIP UNIVERSITAS MATARAM

FKIP UNIVERSITAS MATARAM

Wadah Gali Nurani Mahasiswa

Edisi 93/Minggu II/Desember/2014 siswa

SURAT KABAR MAHASISWA

Newsletter

Pena

BEM VAKUM,

 

IOMA Sempat Tersendat, Kegiatan Ormawa Terkendala Dana

PK Andi

Penyambung Lidah Mahasiswa Digemboskan

Mataram-Pena Kampus- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM ) memiliki peran vital dalam menyuarakan kepentingan mahasiswa, karena organisasi ini memiliki kekuatan secara struktural untuk mempengaruhi kebijakan birokrasi kampus yang tidak mengakomodir kepentingan mahasiswa. Akan tetapi, pihak birokrasi diduga berupaya untuk melumpuhkan BEM dengan menunda pemilihan yang sudah setengah jalan dilaksanakan oleh Komisi Pemilu Raya Mahasiswa (KPRM). Hal itu dilakukan karena selama ini BEM dinilai tidak menyumbangkan prestasi akademik apapun.

Hal ini dibenarkan oleh M. Yamin, selaku Pembantu Dekan III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pena/wwk Negoisasi pencairan IOMA Kisman (Kanan) selaku Ketua Komite dengan perwakilan UKMF berlangsung cair

Pena/wwk Negoisasi pencairan IOMA Kisman (Kanan) selaku Ketua Komite dengan perwakilan UKMF berlangsung cair

Unram, selaku penanggung jawab dari mahasiswa. Saat diwawancarai diruangannya, ia mangatakan “ Alasan penundaan pemilihan BEM tersebut karena belum turunnya Surat Keputusan (SK) dari rektorat dan selama ini BEM sering bertindak tanpa sepengetahuan PD III. “sahutnya lagi, BEM akan dibentuk setelah ada pembenahan semua organisasi terlebih dahulu, dan pembentukannya ini akan disesuaikan dengan tahun anggaran baru yakni pada desember tahun ini”. Semua organisasi kemahasiswaan di FKIP ini tidak bisa dilantik dulu, termasuk pemilihan ketua BEM,.” terangnya. Inilah yang menjadi kekhawatiran banyak pihak terkait banyaknya masalah yang muncul di ligkungan Kampus Putih ini. Termasuk Mantan Ketua BEM FKIP Periode 2013-2014, M. Syakroni sampai mengatakan “Bunuh Dekan dulu baru BEM bisa di bentuk dan Dana IOMA bisa dicairkan” terangnya dengan jelas. Menurutnya, peran ini sangat penting terkait persoalan mahasiswa dan kebijakan birokrasi yang tidak birokrasi.

 

Mataram - Pena Kampus - 03/11 - Keresahan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) atas dana IOMA yang sampai saat ini belum juga cair menimbulkan tanda tanya besar dari Ormawa.

“Akibat dari dana IOMA yang sampai saat ini belum dicairkan, program kerja Olahraga tidak dapat berjalan dengan lancar” tugas HariArfandi mantan ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga saat ditanya mengenai pengaruh dana IOMA yang belum cair .”Kalau ada kegiatan yang besar seperti Kompetisi Futsal, kita bisa memperoleh dana dari sponsor. Tapi kalau Penerimaan Anggota Baru (PAB) seperti yang kemarin, tidak bisa kita pungkiri kita mengandalkan dana pendaftaran dari anggota baru,” tambahnya. Diakuinya bahwa Unit Kegiatan mahasiswa Fakultas (UKMF) sangat bergantung dari dana IOMA. Dalam upaya mendapatkan jatah IOMA, keenam UKMF yang telah ada di FKIP telah berdiplomasi dengan pihak dekanat. Namun belum juga mendapat kepastian terkait dengan pengelolaan dana IOMA.

(Bersambung ke halaman 4)

 

(Bersambung ke halaman 4)

Menunggu SK Rektor, KPRM Menghentikan Tahapan PEMIRA

Mataram, (Pena Kampus) - Pesta demokrasi tahunan mahasiswa, Pemilihan Raya (PEMIRA) untuk memilih Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram (FKIP Unram) yang akan diselenggarakan Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) ditunda pelaksanaanya. Hal itu dikarenakan keputusan sepihak dari Dekanat yang

Tanpa alasan yang jelas, molornya pemilihan ketua BEM dan DPM berimplikasi pada nasib Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang juga belum memiliki kejalasan untuk dilantik. Padahal pergantian kepengurusan ditingkat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa ditiap Program Setudi (HMPS) sudah berjalan. Bahkan kepengurusan baru sudah (Bersambung ke halaman 5)

Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

1

Tajuk

FKIP Unram dan Masa Depan Pendidik(an)

SURAT KABAR MAHASISWA

P ENA K AMPUs

Wadah Gali Nurani Mahasiswa

Pelindung :

Dekan FKIP Universitas Mataram Pembina :

Ahmad Sirulhaq, S.Pd, M.A. Penasihat :

PD III FKIP Universitas Mataram & Alumni LPM Pena Kampus Pimpinan Umum :

Baiq Ilda Karwayu Sekertaris Umum :

Ahmad Hiswandi Bendahara Umum :

Qoimatun Nisa’ Keredaksian Pimpinan Redaksi :

I Nyoman Indhi Wiradika Sekretaris Redaksi :

Sri Martin Redaktur Pelaksana :

Abdul Farid Koordinator Liputan :

Adi Susanto Layouter :

M. Fauzy Jaringan Komunikasi :

Amira Amalia & Nanda Dwi Paramita Hadi Mading :

Lia Listiana & Khusnul Khotimah Litbang Koordinator :

Januar Wahyu Priyanto Anggota :

Sahibul Kahfi & Ahmad Viki Wahyu Rizki Humas Internal :

Ahmad Zuhri Ramdhoni Eksternal :

M. Sulthon Hasanudin Rumah Tangga Koordinator :

Nopita Anggraini Anggota :

Furkan, Singgih Wiryono, & Arilda Satya Ningrum Perusahaan Koordinator :

St. nurwahidah Anggota :

Nurfarhati, Ulfatun Ni’mah, & Hendriana Reporter Magang :

Septya, Sakinah, Reli, Ariana, Mia, Rugaya, Alif, Atisah, Emi, Hartina, Haula, Wazi, Amni, Himatul, Dika, Rahmi, Rosdiana

Permasalah pendidikan kita tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dengan permasalahan bangsa kita lainnya. Guru dianggap sebagai profesi yang memiliki peran penting bagi perjalanan pendidikan. Menjadi seorang guru tidak hanya memiliki tugas transfer ilmu, namun perlu memperhatikan berbagai kompetensi yaitu; kompetensi pedagogik, kompetensi keperibadian, kompetensi professional dan kompetensi sosial bicara masalah guru, tentu tidak lepas dari peran serta Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai salah satu lembaga pencetak guru. FKIP Unram sebagai salah satu LPTK di NTB memiliki andil dominan bagi perkembangan pendidikan di masa depan. kita dapat menerawang masa depan pendidikan dengan melihat kondisi LPTK saat ini. lalu, Bagaimanakah kondisi LPTK, khususnya Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan Universitas Mataram (FKIP Unram) saat ini? Selama ini FKIP rupanya sedang mengalami tidur panjang. Hasrat untuk melakukan perubahan tampak redam. Mulai dari kondisi ruang kelas yang belum memadai, proses adminstrasi akademik yang jauh dari harapan, hingga sang birokrat yang minim transparansi. Juga tak jarang dalam ruang kelas kita temui tukang dikte dan penyuruh menghafal. Hal ini tentu tidak dapat dijadikan role model bagi sang calon guru. Begitu pula sikap ‘pengekangan’ terhadap Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dengan cara tidak segera melantiknya. Cara tersebut cenderung bertentangan dari gagasan pendidikan yang memanusiakan manusia. Sang calon pendidik yang memiliki tugas untuk mengembangkan potensi manusia, justru ‘dihadang’ untuk mengembangkan potensi diri mereka. Sungguh miris jika praktik dehumanisasi pendidikan tumbuh subur di lembaga pencetak guru. Maka dari itu, perlu kesadaran dan komitmen tinggi dari seluruh civitas akademika FKIP Unram untuk bertanggung jawab dan mulai berbenah atas nama pendidikan yang berkeadilan dan memanusiakan manusia. Sebab pada dasarnya, masa depan pendidikan berada di tangan mahasiswa LPTK itu sendiri, mari berjuang.

Salam Redaksi

Salam Persma! Segala puji syukur dilimpahkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmatnya, News Letter Edisi 93 yang ada di tangan pembaca saat ini bisa terselesaikan sehingga dapat memberikan informasi kepada pembaca. Dalam edisi kali ini Pena Kampus terbit untuk memberian informasi seputar civitas akademika FKIP Unram. Pada edisi kali ini Pena Kampus terbit menyajikan berita-berita karya anggota baru yang sebelumnya mengikuti Latihan Jurnalistik Terpadu (LANJUT) XV, dimulai dari teori-teori jurnalistik yang mereka dapatkan, kemudian diaplikasikan menjadi berita yang ada di tangan pembaca saat ini. Berita utama yang kami angkat berupa Iuran Orangtua Mahasiswa (IOMA) yang minim akan transparansi, dan diikuti oleh beberapa isu terkait BEM, Ormawa dan Fotocopy-an. Kami ucapkan selamat datang untuk anggota baru LPM Pena Kampus yang telah mengikuti prosesi LANJUT XV. Semoga kalian terus bertahan dan tetap pada koridor perjuangan. Semoga tidak pernah letih untuk menggali nurani dan melakukan perlawanan atas penindasan

yang terjadi di sekeliling kita, khususnya di kampus putih tercinta ini. Kami berharap semoga berita yang kami sajikan dapat memberikan manfaat bagi seluruh civitas akademika FKIP Unram. Sehingga melalui news letter ini dapat menjadi bahan refleksi ke arah perubahan yang lebih baik Hidup Mahasiswa!

menjadi bahan refleksi ke arah perubahan yang lebih baik Hidup Mahasiswa! Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

2

Suara Pembaca

Apakah FKIP Tidak Memiliki BEM?

Semoga surat ini tidak ditanggapi negatif. Saya sebagai mahasiswa baru hanya ingin bertanya, apakah FKIP tidak memiliki BEM? Karena semua kawan-kawan saya di fakultas lain memiliki BEM dan merasakan manfaat akan kehadiran organisasi ini. Kenapa saat Ospek mereka tidak memperkenalkan diri? Kami selaku mahasiswa baru hanya ingin tahu dan juga ikut merasakan manfaat adanya BEM untuk mahasiswa.

NN (Prodi Matematika Sore/2014)

Saya Tidak Butuh Mahasiswa

Dekan mengatakan “saya tak butuh mahasiswa” adalah suatu hal yang paling lucu

selama saya menjadi mahasiswa di FKIP.

Singgih Wiriono (Mahasiswa PBSID/2011)

Kelas ‘Neraka

Keberadaan kelas tambahan PGSD di kampus II rupanya tidak dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Suasana kelas yang panas -kata banyak orang seperti ‘neraka’- membuat pembelajaran tidak kondusif. Belum lagi pencahayaan yang minim sehingga penglihatan kami menjadi rabun dan susah untuk fokus pada perkuliahan. Perlu kiranya dipertimbangkan sebelum memilih kelas yang layak untuk perkuliahan dan sediakan fasilitas yang memadai untuk menunjang kenyamanan selama perkuliahan berlangsung.

Indhi (Mahasiswa PGSD/2012)

Pentingkah Gedung Baru UKMF dan HMPS FKIP Unram?

Komplek gedung pusat Unit Kegiatan Mahasisiwa Fakultas (UKMF) FKIP Unram akan digusur dan akan dibangun sebuah gedung UKMF yang baru dengan dua lantai yang dimana UKMF akan bergabung dengan HPMS (Himpunan Mahasisiwa Jurusan) disetiap prodi. Untuk pembangunan gedung baru ini tentu menelan dana yang cukup besar, Padahal pembangunan gedung yang direncanakan itu tidak terlalu mendesak karena UKMF dan HPMS dengan gedung yang ada sekarang masih bisa digunakan dan tidak ada kendala untuk menjalankan program kerja atau kegiatan lainnya. Maka dari ini saya sebagai salah satu mahasiswa sekaligus bergelut diorganisasi mahasiswa FKIP Unram Melihat hal ini seharusnya tidak perlu ada bagunan gedung seperti itu, karena mengingat masih banyak failitas yang seharusnya lebih utama diperhatikan Seperti LCD, setiap hari kami harus berlomba-loma untuk mendapatkan LCD disetiap mau mulai peroses perkuliahan dan kalau telat pasti tidak akan dapat sehingga untuk penggunaan LCD ini, kami harus menjalankan jargon “siapa cepat dia dapat.” Itu hanyalah salah satu permasalahan yang kita alami dan masih banyak permasalahan yang lainnya, namun sepertinya pihak birokrasi kampus terkesan menutup mata atas permaalahan ini. Maka dari itu, dari pada menghamburkan uang untuk pembangun gedung UKMF yang tidak terlalu mendesak alangkah baiknya dana yang dianggarkan dialihka untuk fasilitas kampus yang masih sangat kurang sehingga proses perkuliahan berjalan normal. Trimaksi

Furkan (Jurusan PPKn/2012)

+ BEM FKIP divakumkan - PD III ingin merangkap jadi ketua BEM kali ya +
+ BEM FKIP divakumkan
- PD III ingin merangkap jadi ketua BEM kali ya
+ Lahan FKIP dibangunkan gedung serba guna dan jalan baru
- FKIP makin terhimpit dan rawan maling
+ FKIP Hanya dapat proyek renovasi saja
- Karena Dekan FKIP tidak pandai “merayu” Rektor

Salam Persma !! Redaksi LPM Pena Kampus FKIP Unram Menerima Tulisan Berupa Opini, Artikel, Surat Pembaca, Cerpen dan Puisi. Tulisan Tidak Mengandung SARA dan Belum Diterbitkan di Media Mana pun. Kirim Tulisan ke Redaksi di Gedung UKMF, Jln. Majapahit 62 Mataram. Email : @Penakampusfkipunram@gmail.com Facebook : LPM Pena Kampus FKIP Unram Twitter : @LPMPenaKampus

Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

3

Berita

IOMA Sempat Tersendat, Kegiatan Ormawa Terkendala Dana

(Sambungan dari halaman 1)

Awalnya saat ditemui Pena Kampus pada Rabu, (29/10) di ruanganya, Yamin selaku PD III mengatakan bahwa dana IOMA untuk UKMF tidak ada, yang ada hanya untuk HMPS karena mereka dengan biaya sedikit namun memiliki prestasi mereka dan kegiatannya pun menunjang akademik. Atas keterangan yang beliau berikan tersebut, mendapatkan reaksi yang cukup keras dari Ormawa karena dirasa tidak adil untuk UKMF yang notabenenya memiliki posisi yang sama dengan HMPS. Untuk mengonfirmasi terkait dengan pernyataan tersebut, beberapa Ormawa telah mencoba untuk mendatangi Yamin lansung namun pernyataan yang beliau berikan tetap mengatakan bahwa IOMA hanya untuk HMPS. Setelah tidak mendapatkan kejelasan dari Yamin, Ormawa memutuskan untuk lansung menemui komite IOMA yang

merupakan PD I Fakultas Pertanian pada (1/11) lalu di ruangan beliau. pertemuan ini dilakukan untuk mencari kejelasan tentang dana ioma yang sampai saat ini belum cair, dan terkait dengan pernyataan Yamin yang mengatakan bahwa dana ioma tidak diberikan untuk UKMF. pertemuan yang dilakukan oleh perwakilan dari beberapa ormawa FKIP di ruangan pd 1 fakultas pertanian berlansung cukup lancar, dengan bertemunya ormawa dengan PD 1 fakultas pertanian secara lansung dan berlansungnya Tanya jawab di ruangan beliau terkait permasalahan uang dana ioma yang hanya akan diberikan kepada HMPS saja. “saya berpikir bahwa posisi HMPS dan UKMF itu berbeda, oleh karena itu, saya mengiyakan perkataan beliau yang mengatakan bahwa dana ioma hanya diberikan ke hmps” jawab beliau ketika diminta keterangan mengenai permasalahan tersebut.

Setelah pertemuan antara Yamin, Kasmin selaku Ketua Komite IOMA dan perwakilan ormawa di ruang PD III (1/ 11) lalu, keputusan PD III yang awalnya dana IOMA hanya untuk HMPS telah berubah “saya sangat senang mendengar perubahan pernyataan PD III bahwa dana ioma tidak hanya untuk HMPS namun UKMF juga mendapatkannya” ujar Yudi Nirwanto selaku Ketua UKMF Musik. Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah bagaimana pembagian dana ioma, apakah besar dana ioma yang didapatkan oleh HMPS dan UKMF sama atau HMPS lebih mendapat jatah yang lebih, karena seperti pernyataan PD III sebelumnya bahwa beliau sangat mendukung kegiatan HMPS karena sangat mendukung kegiatan akademik. “harapan saya bahwa apabila bagian yang didapatkan oleh UKMF lebih banyak karena Proker kami yang lebih banyak, namun apabila memang tidak bisa seperti itu maka saya harap bisa di sama ratakan saja” tambahnya lagi.(Npta/Mia)

BEM VAKUM, Penyambung Lidah Mahasiswa Digemboskan

(Sambungan dari halaman 1)

Adapula Oknum-oknum tertentu dari birokrasi yang ingin memblacklist bem sendiri.” Dengan berbagai macam dalih dari pihak fakultas sampai sekarang belum ada peraturan yang jelas untuk membentuk BEM, padahal berdasarkan informasi dari Wira mahasiswa Fakultas Pertanian, Fakultas lain sudah ada pembentukan BEM misalnya Fakultas Pertanian dan Fakultas Hukum. Hal ini tidak relevan karena FKIP sendiri dengan fakultas lain berada dalam satu naungan yakni Universitas. Terkait hai ini M. Yamin mengatakan” Untuk BEM kami rapat dengan Rektor bagi yang belum dibentuk ditunda dulu sedangkan yang sudah dibentuk di bubarkan sampai bulan Desember tahun ini. Tidak ada yang di izinkan membentuk BEM semuanya di fakumkan dulu di tingkat nasional, karena Terlalu kebablasan demokrasinya terutama kita mahasiswa FKIP yang paling jelek dan prontal.” terangnya. Kevakuman BEM kali ini berdampak pada kepanitiaan ospek fakultas yang biasanya di selenggarakan oleh BEM setiap tahunnya, namun sekarang telah di pegang oleh pihak fakultas. Setelah ajaran akademik berlangsung dari sejak Juli kemarin. Belum dibentuknya bem di fkip sampai saat ini, berimplikasi pula pada nasib Organisasi Mahasiswa (ormawa) yang juga belum memiliki kejalasan untuk dilantik. Padahal

pergantian kepengurusan ditingkat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa ditiap Program Setudi (HMPS) sudah berjalan. dibatalkannnya pemilihan ketua BEM di FKIP disebabkan karena belum turunnya Surat Keputusan (SK) dari Rektor UNRAM mengenai pedoman organisasi mahasiswa.

orang tua wali dengan pihak birokrasi mungkin belum tentu adik saya bisa mendapatkan grade satu, karena melihat tidak ada verifikasi efektif untuk melihat kondisi ekonomi keluarga kami yang sebenarnya”. Selain itu Sofia salah satu mahasiswa jurusan bahasa inggris semester lima yang aktif di berbagai organisasi terutama di HMPS bahasa inggris mengatakan bahwa difakumkannya BEM ini membuat kita yang berada dilingkup ORMAWA akan kesulitan mendapatkan dana saat mengadakan kegiatan karena yang dulunya kita tinggal mengajukan surat permohonan dana ke BEM langsung ada uang, tapi kalau sekarang sulit karena harus berurusan langsung dengan Muhammad Yamin selaku PD III yang bertanggungjawab penuh atas BEM. Dan kasian juga mahasiswa yang lain, akan kesulitan menyalurkan aspirasinya berhubung sekarang banyak permasalahan yang sedang dihadapinya terutama masalah fasilitas kelas yang kurang terjaga, jadi harapan saya semoga kedepannya BEM masih tetap ada dan mampu menampung segala keluhan dari mahasiswa (Nis/aya/Rel/ Wzi/Tna)

BEM menurut saya sangat membantu kami sebagai mahasiswa ini terbukti dengan permasalahan UKT kemarain, kalau tidak bem yang ikut turun tangan dalam pertemuan orang tua wali dengan pihak birokrasi mungkin belum tentu adik saya bisa mendapatkan grade satu, karena melihat tidak ada verifikasi efektif untuk melihat kondisi ekonomi keluarga kami yang sebenarnya” - Siti Zahra

Dari kalangan mahasiswa sehubungan dengan fungsi dari bem, Siti Zahra prodi Bahasa dan Sastra Indonesia mengatakan “ BEM menurut saya sangat membantu kami sebagai mahasiswa ini terbukti dengan permasalahan UKT kemarain, kalau tidak bem yang ikut turun tangan dalam pertemuan

Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

4

Berita

FKIP UNRAM :

Perkuliahan Kekurangan Ruang Kelas dan Minim Fasilitas

Mataram, Pena kampus - Penerimaan mahasiswa di FKIP setiap tahunnya semakin besar seiring dengan penambahan kelas reguler sore dan pembukaan program studi baru, namun hal itu tidak diikuti dengan penambahan fasilitas penunjang. Dengan ruang kelas yang terbatas, perkuliahan terpaksa terlaksanakan dengan jumlah mahasiswa yang sangat gemuk per kelasnya. Begitupun dengan fasilitas- fasilitas lainnya seperti kursi, LCD dan ATK yang masih kurang.

Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Mataram mempunyai 37 ruang kelas yang digunakan dalam proses perkuliahan, fasilitas ini dirasakan masih kurang oleh mahasiswa, Mengingat jumlah mahasiswa FKIP yang diterima tiap tahunnya terus bertambah. Selain ruang kelas yang kurang, fasilitas- fasilitas lain seperti kursi, LCD dan ATK masih kurang. Menurut Hendra , mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) Reguler Pagi mengkritik fasilitas perkuliahan di FKIP “fasilitas yang ada di FKIP sangat kurang, terutama masalah ruang kelas dan LCD. ruang kelas yang terbatas namun mahasiswanya sangat banyak sehingga perkuliahan seperti pasar. Begitupun dengan fasilitas lainnya seperti kelas yang tidak mempunyai gorden, menjadikan penggunaan LCD menjadi percuma, karena silau terkena sinar matahari” ujarnya. Hal yang sama dirasakan oleh mahasiswa prodi PBSID Reguler sore yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa ‘ruang kelas yang ada sangat sempit, kelas dan kursi yang ada hanya bisa menampung 25-30 orang mahasiswa. Sementara dalam satu kelas diisi dengan 55 orang, hal ini berimplikasi pada perkuliahan menjadi tidak kondusif dan tidak efektif’terangnya. Terkait keluhan mahasiswa, Sumardin, selaku Kepala Tata Usaha (KTU) ketika dimintai keterangan mengenai hal tersebut menjelasan bahwa pembangunan gedung E diadakan untuk mahasiswa regular sore. Dan menurutnya, akhir tahun 2014 direncanakan akan diadakan renovasi gedung yakni gedung B dan C, renovasi pun dilakukan dengan bertahap, yakni dimulai dari lantai

dasar gedung B dan C, dan selanjutnya akan terus dilakukan perbaikan. Terangnya. Sumardin juga menjelaskan bahwa, sumber dana yang dipakai untuk pembangunan gedung E berasal dari APBNP (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ). Serupa dengan FKIP Unram, Kampus II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang berlokasi di Seganteng juga minim fasilitas. Hal itu diutarakan oleh Willy saat ditemui reporter Pena Kampus “Disini masih banyak kekurangan, mulai dari

perpustakaan yang belum maksimal hingga wifi yang belum ada”. Saat dimintai konfirmasi, Nurul Kemala Dewi selaku Kajur (Kepala Jurusan) mengatakan hal tersebut terjadi karena banyak unsur mulai dari admitrasi yang tidak gampang untuk langsung diterima dan dalam pengadaan barang pun sangat rentan dengan korupsi maka dari itu dalam pengadaan barang pihak Unram sangat berhati – hati, dan pihak birokrasi pun sedang berusaha me- lloby ke pusat dalam pengadaan barang untuk kelengkapan kampus II.

(Bersambung ke halaman 8)

Menunggu SK Rektor, KPRM Menghentikan Tahapan PEMIRA

(Sambungan dari halaman 1) menjalankan program kerja hampir empat bulan.

rektor akan menerbitkan SK untuk memebekukan dan meleburkan UKM ditingkat Fakultas, “ tidak ada alasan untuk rektor unram mengurangi hak mahasiswa untuk berorganisasi, karena organisasi mahasiswa telah diatur dengan aturan tersendir, dan ini merupakan hak mahasiswa untuk mengembangkan minat dan bakatnya, jika benar rektor akan menerbitkann SK yang subtansinya seperti itu, maka rektor sudah melanggar hak asasi mahasiswa untuk berkumpul, berserikat dan mengembangkan dirinya” tegas mahasiswa program studi fisika, semester tujuh ini.

Dari penelusuran Pena Kampus, dibatalkannnya pemilihan ketua BEM dan DPM di FKIP disebabkan karena belum turunnya Surat Keputusan (SK) dari Rektor unram mengenai pedoman organisasi mahasiswa. Berdasarkan informasi yang dapat dihimpun oleh tim ini (reporter), dalam SK rektor itu akan mengatur mengenai pembekuan beberapa organisasi yang tidak “disetujui” dan peleburan UKM dilingkungan Fakultas ke UKM tingkat Universitas.

Saat dikonfirmasi kebenaran wacana SK rektor tersebut, M. Yamin, selaku PD III FKIP, membenarkan terkait penundaan pemilihan ketua BEM dan DPM. “ Semua organisasi kemahasiswaan di FKIP ini tidak bisa dilantik dulu, termasuk pemilihan ketua BEM dan DPM, karna menunggu SK rektor yang akan melakukan pembenahan terhadap ormawa.” Terangnya. “ Insyalah subtansi SK rektor tersbut termasuk untuk menyatukan beberapa organisasi mahasiswa di tingkat fakultas ke universitas, termasuk membekukan setiap UKM yang tidak patuh” lanjutnya.

Mantan ketua BEM FKIP periode 2013-2014, M. Syakroni, juga menyesalkan tindakan pihak dekanat yang menunda pemilihan ketua BEM dan DPM, padahal menurut syakroni, keberadaan BEM dan DPM ini sangat diperlukan keberadaannya. “saya sangat menyesalkan tindakan pihak birokrasi yang menghentikan kegiatan KPRM yang sudah dibentuk untuk menyelenggarakan pesta demokrasi mahasiswa. Ini pelanggaran serius, untuk itu saya dengan teman-teman dibelakang (UKM) sedang mengupayakan agar KPRM ini tetap menjalankan pemilihan ketua BEM, terangnya, yang juga mahasiswa program studi PPKN ini.

Belum adanya kejelasan pemilihan ketua BEM dan DPM juga menjadi alasan belum cairnya dana oprasional kegiatan ormawa yang bersumber dari dana IOMA. Seingga memaksa ormawa tidak optimal menjalankan program tahunan yang sudah dirancang. (And/Sult)

Mendengar wacana peleburan dan pembekuan organisasi mahasiswa yang akan segera dilakukan setelah SK rektor tersebut turun, Para aktivis kampus putih dan semua ketua ormawa yang ada dilingkungan FKIP dengan kompak langsung breaksi dengan melanyangkan protes keras, dan menuntut agar segera menyelenggarakan pemilihan ketua BEM dan DPM. Serta melantik pengurus ormawa yang sudah terpilih.

Hary alfan, salah satu aktivis kampus putih dengan tegas tidak menerima jika

 

Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

5

Rupa - Rupa

Sewa Mahal, Photocopy-an Ditutup

Mataram - Pena Kampus – mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram (FKIP Unram) kesulitan memenuhi kebutuhan alat tulis karena fotocopyan yang biasanya memenuhi tunjangan perkuliahan seperti Photocopy- an, perlengkapan ATK mahasiswa telah tutup dikarenakan dari pihak fakultas telah menaikkan

harga sewa tempat.

Saat dikonfirmasi, pemilik Photocopy-an membenarkan bahwa penutupan usaha Photocopy-an karena sudah tidak sanggup membayar sewa yang terlalu tinggi. “Pihak fakultas menaikkan harga sewa tempat

untuk tahun ini sebesar 27 juta per tahun, kami tidak mampu membayar sewa yang terlalu tinggi itu, karena keuntungan dari usaha Photocopy-an ini tidak seberapa.” jelas Bing pemilik usaha Photocopy-an. Bing terpaksa angkat kaki dari FKIP dan kini beralih ke Fakultas Ekonomi, Ia menjelaskan “Saya tidak mau usaha saya gulung tikar akibat kemahalan sewa tempat, akhirnya kami terpaksa pindah ke Fakultas Ekonomi yang sewanya lebih murah sebesar 10 juta rupiah” “Photocopy-an lama berhenti di Kampus Putih karena habis masa kontrak bulan agustus kemarin,” ujar Hariyanto selaku kabbag perlengkapan FKIP Unram. “Pihak photocopy-an tidak memperpanjang kontrak, Karena tidak sanggup

membayar sewa yang sekarang.” lanjutnya. Sewa lokalnya naik dan system kontrak sewanya berbeda dengan dulu. Dimana dulu sistem kontraknya ialah 3 lokal dengan biaya 25 juta pertahun dan sekarang biaya sewa dibandrol 25 juta untuk satu lokal. Kejadian ini tentu membuat para Mahasiswa merasa sedikit terganggu, “mahasiswa merasa kesulitan memperoleh kebutuhan Alat Tulis Kantor (ATK) dan fasilitas fotocopy. Dengan terpaksa mahasiswa mebeli perlengkapan tersebut di luar kampus dan itu cukup menyita waktu kuliah”, ujar Roby, salah satu mahasiswa FKIP UNRAM Prodi Bahasa Inggris. (mia/Dka/aya/Rhm)

MOHONMOHONMOHONMOHONMOHON PAMITPAMITPAMITPAMITPAMIT

kepada segenap mahasiwa, karyawan, dosen, dan pimpinan civitas akademika FKIP UNIVERSITAS MATARAM yang saya hormati dan cintai., pada kesempatan ini ijinkanlah saya :

Nama : Bing Gianto

Pekerjaan : Mantan Penyewa Ruang Fotocopy Dan Penjilidan FKIP UNRAM

Dengan menyampaikan ucapan terima kasih atas kerjasama yang baik sejak Tahun 2011,. Apabila ada hala- hal yang kami ucapkan/lakukan tidak berkenan dihati Bapak/Ibu dan Saudara/Rekan-rekan Mahasiswa, kami mohon maaf., demikian juga kami dengan ikhlas memaafkan apabila ada kesalahan bapak/ibu dan saudara/rekan-rekan mahasiswa karena kami menyadari sebagai manusia kita tidak luput dari kesalahan.

Kami sebenarnya masih amat senang bekerjasama dengan seluruh civitas akademika ditempat ini akan tetapi karena kami tidak sanggup memenuhi permintaan kampus untuk membayar sewa sebesar Rp. 27.000.000,- (Dua puluh Tujuh Juta Rupiah)/pertahun, maka “Apa Mau Dikata” pada kesempatan ini kami terpaksa “ MOHON PAMIT” ; semoga FKIP tetap jaya.

Sekian dan teria kasih.

Hormat Kami

ttd

Bing Gianto

tetap jaya. Sekian dan teria kasih. Hormat Kami ttd Bing Gianto Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

6

Opini

Sekali Lagi Tentang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” Itu

Oleh :Ahmad Hiswandi*

“Jadi guru tidak usah panik dengan diberlakukannya kurikulum 2013 ini, justru kita patut bersukur karena silabus sudah dibuatkan dari pusat, buku guru sangat membantu kita untuk menjalankan proses pembelajaran dikelas karena didalam buku guru, rambu-rambu yang akan kita lakukan ketika proses pembelajran berlangsung sudah ada tinggal dimodifikasi sesui dengan kreatifitas guru, keadaan/ciri khas siswanya serta kondisi sekolahnya. Sekarang yang harus dilakukan guru

kurang sehingga sekolah meminta siswa membeli sndiri buku ditoko buku. Begitupun dengan materi buku yang terlalu berat untuk ukuran siswa, belum meratanya pendistrian buku dan masih banyak guru yang belum mendapatkan pelatihan. Sementara disatu sisi, sekolah, guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dipakasa harus menggunakan kurikulum 2013. Kompleksitas permasalahan dalam penerapan kurikulum 2013, menjadi suatu ironi dibalik keinginan pemerintah untuk memperbaiki kualitas

Kembali pada guru

bukan mengeluh’’ : (Zohriah, suara NTB 12/9) Membaca kutipan diatas dari artikel yang ditulis oleh salah satu guru disalah satu sekolah menengah di mataram. Menjadi cerminan kita akan, jika bukan kepasrahan tapi ketegaran dengan memotivasi diri dan rekan gurunya yang lain, bahwa meskipun banyak kekacauan dalam implementasi kurikulum 2013, tidak membuat para guru berhenti untuk berkreativitas dalam mencerdaskan anak bangsa. Jauh-jauh hari sebelum kurikulum

pendidikan nasional. Mengharapkan hasil yang lebih baik, tak akan pernah kita dapatkan sepanjang proses untuk mendapatkannya tidak maksimal. Penerapannya yang terkesan tergesa- gesa, dipaksakan. Bukannya manfaat yang kita rasakan tapi justru mudaratnya. Seharusnya pemerintah tidak memaksakannya pada sekolah- sekolah yang belum siap menggunakan kurikulum baru khusnya disekolah didaerah terpencil dan swasta. Kurikulum 2013 yang beorintasi untuk menghasilakan out put manusia

2013

mulai diterapkan, banyak kalangan

yang berkarekter, sulit untuk kita

terutama para aktivis pendidikan memprediksikan palaksanaanya tidak akan berjalan lancar. Keraguan para aktivis ini berangkat dari kurangnya persiapan oleh pemerintah dalam menerapkan kurikulum 2013. Dan benar saja sampai saat kurikulum itu mulai dilaksanakan, kita menyaksikan banyak persoalan, kendala dan keluhan terutama dari para guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaa kurikulum. Penerapan kurikulum 2013 sedikitnya menelan biaya Rp. 6 Triliun (kompas/10/9). Namun dengan biaya yang cukup besar, tidak diikuti dengan mulusnya pelaksanaan kurikulum baru

maksimalnya dan merata pelatihan yang

dapatkan sepanjang proses pembelajaran terlampau berorientasikan hasil. Seharusnya yang perlu diperhatikan adalah suasana dalam proses pembelajaran. Ingin menghasilkan manusia yang berkarekter, misalkan toleransi, tanggung jawab, jujur dan kerja keras , hanya dapat dibentuk bukan dengan mengajarjan definisi-definisi tanggung jawab, jujur dan kerja eras. Melainkan lewat pembelajaran yang menuntun peserta didik untuk bertanggung jawa, jujur dan bekerja keras.

itu dilapangan. Dibeberapa daerah khusunya di NTB, kita menyaksikan para guru tidak mampu berbuat apa-apa dalam melaksanakan kurikulum. Karna minimnya pemahaman para guru tentang kurikulum 2013 akibat tidak

diberikan. Permasalahanyapun tidak hanya sampai disitu, Fedrasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), dari hasil kajian yang dilakukan sejak Juli hingga September

Berbicra tentang kurikulum, tentang mutu pendidikan, tentang hasil ujian nasioanl sebagai instrument evaluasi nasinal dalam penedididkan, selalu akan kembali pada guru. Guru memegang peran kunci dalam proses pendidikan. Keberhasilan dan kegagalam dalam mencapai target/standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah akan ditentukan oleh guru. Begitu juga dalam implementasi kurikulum 2013. Sebaik,

2014

di 142 Sekolah di 21 provinsi dan

sehebat dan secanggih apapun

46

Kabupaten/Kota, sedikitnya

kurikulum yang digunakan tidak akan

menemukan lima persoalan utama dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Persoalannya mulai dari pendistrian buku, penggunaan dana bantuan oprasional sekolah (BOS), isi buku, percetakan dan pelatihan guru. Dari persoalan-persoalan dalam penerapan kurikulum 2013 diatas, pada akhirnya bermuara pada kerugian peserta didik. Bagaimana tidak, masih dalam temuan FSGI, dana BOS hampir 80% dialokasikan untuk pembayaran buku, lebih-lebih di sekolah swasta, dana bantuan oprasional sekolah masih

berarti apa-apa jika pemerintah masih memandang kualitas guru bukan menjadi persoalan yang paling mendesak untuk diperbaiki. Sebagian besar guru yang mengeluh karena kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, akibat tidak matangnya persiapan. Sebenarnya ini menjadi sinyal yang menandakan bahwa kurikulum baru ini tidak akan berhasil diterapkan terutama dalam waktu dekat. Lebih-lebih ditambah dengan persoalan-persoalan lain dalam pelaksanan kurikulum ini.

Pembenahan kualitas guru adalah jawaban yang sesungguhnya dalam perbaikan kualitas pendidikan nasional. Pembinaan untuk meningkatkan kualitas guru harus dilakukan secara berkepanjangan, terus menurus. Tidak bisa hanya dengan memberikan pelatihan profesi guru yang dibuktikan dengan selembar sertifikat pendidika lalu kita mengkelaim bahwa guru tersebut sudah profesional. Padahal dilapangan, dari sekian ratus ribu guru yang mendapatkan tunjang sertifikasi tersebut tidak memiliki korelasi dengan peningkatan kualitas guru. Begitupun dalam kasus implementasi kurikulum 2013. Hanya dengan memberikan bekal satu kali pelatihan pada guru, dan buku pedoman guru, lalu dikelaim bahwa guru sudah memahami dan bisa melaksanakan apa yang diinginkan dalam kurikulum 2013. Tidak ! kita harus pahami, guru juga hanya manusia biasa yang membutuhkan proses, pengulangan, belajar terus menurus, dan pembinaan secara berkesinambuangan. Sampai disini, guru selalu menjadi korban dalam setiap kebijakan pemerintah akibat pergantian kekuasaan, baik ditingkat pusat maupun daerah selalu berimbas pada nasib guru. Adigium yang mengatakan bahwa berganti Mentri maka berganti juga kurikulum. Berganti Kepala Daerah berganti Kepala Sekolah, merupakan contoh nyata bagaimana kita memperlakukan guru. Padahal, kata Anies Baswedan, Cara kita memperlakukan guru saat ini, merupakan cerminan bgaimana kita memperlakukan masa depan bangsa ini. Guru sampai saat ini belum dipandang sebaga profesi dengan tugas dan tanggungjawab mulia. Meskipun diakui sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, namun kita memperlakukan guru layaknya buruh yang menerima dan manut apa saja yang dinginkan oleh sang majikann (pejabat) tanpa memperdulikan apa keluhan mereka. Padahal masa depan generasi bangsa ini ada ditangan mereka. Memarjinalkan profesi guru sama artinya kita telah menggadaikann masa depan bangsa ini. Sejarah mengajarkan pada kita, bagaimana bangsa ini melepaskan diri dari belenggu penjajahan kolonialisme dan imprialisme. Maka jawabanya adalah pendidikan. Dan jepang bangkit dari puing kehancuran setelah kalah dalam perang dunia dua, yang pertama ditanyakan oleh kaisar hirohoto adalah, berapa banyak guru yang masih hidup? Dan sekarang bangsa ini memiliki banyak guru tantanganya hanya tinggal memperbaiki kualitasnya jika ingin meningkatkan mutu pendidikan nasional bahkan dalam menjawab permasalah bangsa. Amin ! (Sekretaris Umum LPM Pena KampusFKIPUnram)

Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

7

Sastra

(Sambungan dari halaman 6)

Kebersihan Kampus Putih FKIP dikenal juga dengan nama Kampus Putih. Kata putih, biasanya identik dengan kata suci, murni dan bersih. Namun faktanya, kampus putih ini tidak sesuai dengan jargonya, bagaimana tidak, sampah sudah menjadi pemandangan sehari-hari di kampus putih ini. Seperti yang diungkapkan oleh Dian Suhendra mahasiswa PBSID

Regular Pagi “ kebersihan di FIKP ini masih sangat kurang kurang, baik itu

di kelas maupun tempat lain seperti

kamar mandi apalagi halamanya”. Tidak hanya hanya dari kalangan mahasiwa, seorang dosen yang kami minta tanggapanyapun mengatakna hal yang

sama, Khairul Paridi dosen Prodi PBSID

itu mengatakan “Kebersihan di kampus

kita ini memang masih kurang. Oleh sebab itu, dibutuhkan kerjasama antara pihak kampus dan mahasiwa untuk menjaga kebersihan kampus bersama- sama”. Berbeda dari itu, Kharudin selaku PD II yang kami temui di ruangnya, beranggapan bahwa “yaaa, kampus kita sudah bersih, kan setiap hari dibersihin”. Sementara itu saat reporter Pena Kampus meminta konfirmasi kebidang Kabag Perlengkapan Ia mengakui bahwa masih ada hal-hal yang harus dibenahi. Terkait dengan kebersihan kamar mandi, ia mengatakan bahwa “Dalam waktu dekat, semoga dananya cepat cair dan kamar mandi gedung C itu secepatnya kita bisa renovasi. Mengenai kebersihan kelas dan halaman di FKIP itu diserahkan kepada sembilan orang pekerja yang hanya melakukan pembersihan di waktu pagi saja. Sementara itu menurut Wira salah satu mahasiswa Prodi Bahasa Inggris “Ini kurang efektif karna, waktu pembersihan kampus hanya dilakukan pagi hari saja. Sedangkan aktifitas yang berlangsung di FKIP dari pagi hingga malam”. Namun, seperti yang di ungkapkan oleh Arianto selaku Kabag Perlengkapan kita tidak bisa meminta mereka untuk berkerja seharian, dengan upah yang minim yang mereka dapatkan.

(Skh/Hkm/Tsa/Ari/Alf/Frd)

yang minim yang mereka dapatkan. (Skh/Hkm/Tsa/Ari/Alf/Frd) lpmpenakampus.blogspot.com PuisiRelliFitriani PANAH RAHASIA

lpmpenakampus.blogspot.com

PuisiRelliFitriani PANAH RAHASIA Berlayar meniti panah dambaan para insan Menjemput kasih rahasia Ilahi Biarkan tangan
PuisiRelliFitriani
PANAH RAHASIA
Berlayar meniti panah dambaan para insan
Menjemput kasih rahasia Ilahi
Biarkan tangan mendayung pada titian
Meski embargo silih berganti
Terkadang tangan memilih kaku
Mata memilih buta
Bibir memilih bisu
Kaki memilih murka
Dan hati memilih dusta
Namun itu hanya embargo gapai panah impian
Bangga jika semua terbalik
Setelah lama melewati gubuk kematian
Akhirnya aku rangkul embargomu
Dalam skeptis yang menggunung
Mata berembun seketika
Lalu aku rajut mahkota idaman
Dan tetap pada rajutan dasar
Tak hitung meski bajak laut mengupas rasa
Karena hati sehalus pualam yang tak mengenal samar
Dengungpun tidak
Terus bergelut pada panah titian
Meski linangan jemari menanti untuk menyapa
Namun bisikkan batin torehkan skeptis
Untuk bersama dalam rajutannya
Atau justru menyamarkan rajutan panah idaman?
Tinggal pilihan
DALAM KEBISUAN
Terkagum memburuku merangkai kata mutiara
Menorehkan sejuta prinsip menggapai mimpi
Mimpi yang selalu ku rangkul ke mana kaki akan melangkah
Namun langkah itu terjebak bisu yang merayap daerah batin
seakan dunia ramahku tertelan badai melintang di ujung lautan
Kucoba mendayung menemukannya
Namun waktu berbelok
Aku bimbang, semakin dalam hasrat untuk membumikan dunia
Dunia yang tak seperti biasanya
Aku merasa asing
Mencoba melangkah jauh untuk menemukan jejak duniaku
Yang kini tersuap bisu
bisu yang meninggalkan perih dalam hasrat
bisu yang memuntahkan dahaga mimpi
mimpi yang lama tepintil
meski dalam pintilan terkemas duri
menyusur putih dalam hitam
merapuhkan bisu dalam dekap
bisu kaulah penghasut
kaulah pemanja
kaulah pengecut
kaulah pernikan kumal
hapus kau dengan prestasi
walau dalam bisu tumpahkan juang ganda
LembagaLembagaLembagaLembagaLembaga PersPersPersPersPers MahasiswaMahasiswaMahasiswaMahasiswaMahasiswa PPPPPENAENAENAENAENA KKKKKAMPUAMPUAMPUAMPUAMPUsssss
mengucapkanmengucapkanmengucapkanmengucapkanmengucapkan selamatselamatselamatselamatselamat atasatasatasatasatas diwisudanyadiwisudanyadiwisudanyadiwisudanyadiwisudanya SaudaraSaudaraSaudaraSaudaraSaudara kami:kami:kami:kami:kami:
1. Januari Rizki Pratama R, S. Pd.
(Koordinator Litbang Pena Kampus 2013-2014)
2. Nur Rahmi Juwita, S. Pd.
(Bendahara Umum Pena Kampus 2013-2014)
3. Husnul Khotimah, S.Pd
(Pengurus Mading Pena Kampus 2011-2012)

Pena Kampus/Edisi 93 /Minggu II/Desember/2014

8