Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perang Dunia I, Perang Dunia II dan perang dingin yang telah mengorbankan
hampir lebih dari setengah dunia ini ternyata tidak sepenuhnya memberikan kerugian di
dunia ini, layaknya ungkapan Habis Gelap Tebitlah Terang kemudian seakan
membuka mata para petinggi dunia, setelah kegagalan Liga Bangsa-bangsa dalam
menciptakan perdamaian, Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian muncul dengan
semangat baru sebagai suatu eksperimen besar dalam kerjasama untuk mencapai
perdamaian dan keamanan dunia. Berbeda dengan Liga Bangsa-Bangsa, PBB menjadi
organisasi universal yang dari waktu ke waktu anggotanya semakin bertambah dan
mewadahi hampir seluruh negara di dunia ini. Lahirnya PBB menjadi sebuah pengakuan
bahwa sebuah institusi internasional dapat membantu negara-negara bekerja sama untuk
meniadakan sumber perang. Pada pasal pertama Piagam PBB bahkan disebutkan bahwa
tujuan organisasi ini adalah untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional, dan
untuk mencapai hal itu mengambil langkah kolektif yang efektif untuk mencegah dan
meniadakan ancaman-ancaman bagi perdamaian, dan untuk menekan tindakan agresi
atau pelanggaran perdamaian lainnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa terdiri dari badan-badan utama yakni Majelis
Umum, Dewan Keamanan, Sekretariat Jendral, Mahkamah Internasional, dan Dewan

Ekonomi dan Sosial.1 Misi-misi PBB disetujui oleh Dewan Keaman kemudian
direncanakan oleh Departemen Operasi Penjaga Peradamaian. Antara tahun 1948 dan
2005. Ada 60 misi, sebagian besar sejak tahun 1988. Yang pertama-Komite Khusus
untuk Balkan (Special Comittee on the Balkans) (1947-1952) terdiri dari 36 pengamat
yang dikirim untuk memastikan bahwa Yunani, Albania, Bulgaria dan Yugoslavia
mematuhi rekomendasi dalam perang saudara di Yunani yang dipimpin oleh komunis.
Misi terbesar yang perlu dicatat adalah Pasukan Perlindungan PBB di Bosnia (United
Nation Protection Force/UNPROFOR) (1992-1995) di Bosnia dengan jumlah pasukan
terbesar yaitu hampir 40.000 personil militer dan 5.000 personil sipil. Yang terkecil
terdiri dari dua perwakilan sekretaris jendral yang dikirim untuk mengamati kejadian di
Republik Dominika setelah intervensi Amerika di negara itu tahun 1965. Saat ini,103
negara menyumbangka personel untuk menjaga perdamaian dalam 17 misi diseluruh
dunia yang meliputi lebih dari 67.000 penjaga perdamaian sipil dan militer, jumlah ini
terus bertambah sampai pada tahun 2006 untuk kasus kekerasan antara Israel dan
Hizbullah di Lebanon.2 Sampai tanggal 31Mei 2014, jumlah personel militer yang
terlibat dalam United Nation Peace Keeping Operation adalah 85.514 orang, belum
temasuk pengamat militer, staf, dan relawan.3
Semangat yang diusung atas berdirinya United Nations Departement of Peace
Keeping Operations (UN DPKO) pada mulanya hanya terbatas pada pemeliharaan
gencatan senjata dan stabilisasi situasi di lapangan sampai usaha-usaha politik untuk
menyelesaikan konflik. Misi yang dijalankan pun hanya sebatas memantau, melaporkan

Richard W. Mansbach & Kiersten L. Rafferty. Pengantar Politik Global. Nusamedia. 2012. Bandung. Hal.
489
2
Ibid, hal 500
3
http://www.un.org/en/peacekeeping/about/, diakses pada 15 Juni 2014

dan membangun kepercayaan. Misi ini pada awalnya hanya dilakukan oleh militer tak
bersenjata dan bersenjata ringan. Dua operasi awal yang dilakukan oleh militer tak
bersenjata kemudian dinamai United Nations Truce Supervision Organization (UNTSO)
dan United Nations Military Observer Group in India and Pakistan (UNMOGIP) pada
tahun 1948, kemudian dilanjutkan oleh United Nations Emergency Force (UNEF I)
yang menjadi awal mula dari digunakannya militer bersenjata dalam pemeliharaan
perdamaian pada tahun 1956.4
Komitmen Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial sesuai dengan alinea IV
Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 senantiasa
diwujudkan malalui partisipasi dan kontribusi aktif Indonesia di dalam Misi
Pemeliharaan Perdamaian PBB (United Nations Peace Keeping Operations/UN PKO).5
Dalam konteks internasional, partisipasi tersebut merupakan indikator penting dan
konkrit dari peran suatu negara dalam memberikan kontribusi dalam menjaga
perdamaian dan keamanan internasional. Sedangkan dalam konteks nasional,
keterlibatan tersebut merupakan sarana peningkatan profesionalisme individu dan
organisasi yang terlibat secara langsung dalam penggelaran operasi internasional.
Keterlibatan Indonesia sejak tahun 1957 telah mendapatkan penghargaan dan pengakuan
dari berbagai pihak. Kredibilitas, profesionalisme serta peran dan partisipasi aktif
Indonesia dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB menjadi salah satu pertimbangan
semakin intensnya permintaan PBB kepada pemerintah Indonesia untuk meningkatkan

http://www.un.org/en/peacekeeping/operations/early.shtml, diakses pada 15 juni 2014


Indriana Kartini. Peran Indonesia Dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB. Jurnal Pertahanan Mei
2012. Volume 2. Nomor 2. Hal 127
5

kontribusinya dan menempatkan personel Indonesia untuk mengisi jabatan-jabatan


strategis baik di misi pemeliharaan perdamaian PBB maupun pada markas besar PBB.6
Indonesia bergabung dengan UN PKO dan mulai mengoperasikan tentaranya
pada misi keempat sejak berdirinya UN PKO yakni pada United Nations Operations in
the Congo (UNOC) yang merupakan operasi skala besar pertama dengan jumlah
gabungan total tentara 20.000 personil. Hingga saat ini Indonesia berada pada urutan ke19 dari 120 negara yang menugaskan tentaranya pada UN PKO (sesuai data United
Nations Department of Peacekeeping Operations per 30 November 2013) dengan
jumlah 1.712 personil. Indonesia terus mengusahakan peningkatan jumlah personil
dalam pemaksimalan pelaksanaan amanat Undang-undang Dasar 1945. Tentunya
dengan usaha pemaksimalan yang dilakukan, Indonesia akan mendapatkan umpan balik
yang sama baiknya dari lembaga ini.7
Berpijak pada amanat Pembukaan UUD 1945 serta sesuai dengan prinsip politik
luar negeri Indonesia yang ditegaskan dalam UU Nomor 37 tahun 1999, maka Indonesia
berperan aktif dalam upaya mewujudkan ketertiban dan perdamaian dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial melalui keikutsertaan
dalam

misi

pemeliharaan

perdamaian

PBB

(United

Nations

Peacekeeping

Operations/UNPKO). Indonesia bergabung dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB


sejak UNEF (United Nations Emergency Forces) di Sinai tahun 1957 dan telah berperan
aktif dalam 24 operasi pemeliharaan perdamaian PBB. Sejak Indonesia mengirimkan
6

Kementrian Luar Negeri, Partisipasi Indonesia dalam Pasukan Misi Perdamaian PBB,Isu-isu Khusus, 2
April 2012,
http://www.kemlu.go.id/Lists/InternationalIssues/AllItems.aspx (Akses 11 Juni 2014)
7

Kementrian Luar Negeri, Partisipasi Indonesia dalam Pasukan Misi Perdamaian PBB,Isu-isu Khusus, 2
April 2012,
http://www.kemlu.go.id/Lists/InternationalIssues/AllItems.aspx (Akses 11 Juni 2014)

Kontingen Garuda XXIII-A/UNIFIL ke Lebanon tahun 2006, Indonesia masuk dalam


peringkat ke-16 negara kontributor pasukan/polisi (Troops/Police Contributing
Country), dengan jumlah personil sebanyak 1.795. Ranking Indonesia melonjak drastis
dimana sebelumnya hanya menduduki ranking ke-47 dengan 199 personil di tahun 2005
(175 pasukan di Kongo dan 24 pengamat militer) dari 108 negara kontributor. Saat ini
Indonesia berpartisipasi aktif di 6 misi perdamaian PBB yang tersebar di 5 negara8
Misi pemeliharaan perdamaian PBB yang telah berlangsung selama enam dekade
berperan penting dalam penyelesaian konflik di berbagai belahan dunia dan
mengembalikan situasi keamanan di negara yang berkonflik. Peran serta Indonesia
dalam misi perdamaian PBB ini merujuk pada landasan konstitusional yakni amanat
Pembukaan UUD 1945 dan arah politik luar negeri Indonesia yang menganut prinsip
bebas aktif yang tercantum dalam UU Nomor 37 tahun 1999. Dari peran serta inilah
dianggap perlu untuk dilakukan evaluasi terhadap peran Indonesia sebagai salah satu
negara yang memberi banyak sumbangsih, diharapkan bahwa peran serta Indonesia tidak
hanya memberikan manfaat bagi negara yang berkonflik, tetapi juga bagi Indonesia
sendiri khususnya TNI.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai institusi paling berwenang dalam
partisipasi Indonesia di UN PKO tentunya menjadi elemen yang paling merasakan
dampak dari bergabungnya Indonesia dalam pasukan pemelihara perdamaian. Baik
dampak positif ataupun dampak negatifnya. Pengembangan profesionalisme personilnya
perlu ditelisik dan dianalisis lebih jauh lagi sejak bergabungnya Indonesia dalam
Institusi Internasional ini.
8

Indriana Kartini. Peran Indonesia Dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB. Jurnal Pertahanan Mei
2012. Volume 2. Nomor 2. Hal 141

Profesionalisme militer Indonesia selalu menarik untuk dijadikan bahan diskusi.


Pertama, karena dilihat dari berbagai kriteria obyektif, militer Indonesia belum pernah
dianggap betul-betul profesional. Kedua, ada warisan sejarah pahit masa lalu di mana
militer terlibat mendalam dalam politik dan kegiatan bisnis, khususnya di era Orde Baru.
Hal ini membuat militer tidak fokus pada tugas utamanya, sehingga tidak mendorong
mereka ke arah profesionalisme.
Keterlibatan Indonesia sejak tahun 1957 sudah terbilang cukup lama
dibandingkan dengan negara-negara lain, 1.712 personil tentara yang telah bertugas
dalam United Nation Peace Keeping Organizations (UN-PKO) sampai saat ini juga
telah banyak memberikan kontribusi dalam memelihara perdamaian diberbagai wilayah
konflik diseluruh dunia. Pelaksanaan amanat konstitusi oleh pemerintah Republik
Indonesia dapat dikatakan berjalan dengan baik, namun disisi lain, seharusnya tidak
hanya pelaksanaan amanat konstitusi saja yang ingin dipenuhi oleh Indonesia dalam
keterlibatannya di United Nation Peace Keeping Organizations (UN-PKO), keuntungan
diberbagai bidang juga perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam partisipasinya,
peningkatan kemampuan individu terhadap personil, utamanya profesionalisme personil
juga perlu dimaksimalkan dalam kerjasama ini.

B. Batasan dan Rumusan Masalah


Eksistensi Indonesia sejak masa awal berdirinya (United Nations Peace Keeping
Operations/UN PKO) terus berusaha ditingkatkan, berbagai usaha pun dilakukan oleh
pemerintah Republik Indonesia mulai dari menempatkan personil-personil terbaik pada
pasukan pemeliharaan perdamaian tersebut, mendirikan Training Centre untuk melatih

personil yang akan dikirim, sampai pada pembuatan aturan-aturan yang mendukung
pengoptimalan perannya pada lembaga yang memiliki tujuan yang sangat mulia ini.
Usaha-usaha

yang

dilakukan

pemerintah

Republik

Indonesia

terhadap

partisipasinya dalam United Nations Peace Keeping Operations/UN PKO) tentunya


diharapkan dapat memberi pengaruh terhadap pengembangan profesionalisme Tentara
nasional Indonesia (TNI)
Berdasarkan Latar Belakang diatas, maka diambillah rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Apakah dampak bergabungnya indonesia dalam United Nation Peace
Keeping Operation (UN-PKO) terhadap profesionalisme Tentara Nasional
Indonesia (TNI)?
2. Bagaimana analisis pengembangan profesionalisme Tentara Nasional
Indonesia (TNI) dengan berparstisipasinya Indonesia dalam United Nation
Peace Keeping Operation (UN-PKO)?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
a. Mengetahui dan menjelaskan mengetahui dampak positif dan negatif
bergabungnya indonesia dalam United Nation Peace Keeping Operation
(UN-PKO) terhadap profesionalisme Tentara Nasional Indonesia (TNI)

b. Menganalisa pengembangan profesionalisme Tentara Nasional Indonesia


(TNI) dengan berparstisipasinya Indonesia dalam United Nation Peace
Keeping Operation (UN-PKO)

2. Kegunaan Penelitian
Terselesaikannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat yang besar, adapun keguanaan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Sumbangan informasi kepada pemerintah maupun akademisi mengenai
dampak dari partisipasi Indonesia dalm United nation Peace Keeping
Operation (UN PKO) terhadap pengembangan profesionalisme Tentara
Nasional Indonesia (TNI)
b. Sebagai acuan untuk penelitian lanjutan yang sejenis bagi pengkaji
perdamaian dan keamanan internasional mengenai Nation Peace Keeping
Operation

(UN-PKO)

serta

peran

negara-negara

yang

terlibat

didalamnya.

D. Kerangka Konseptual
Menurut Machiavelli dalam buku Pengantar Politik Global :
Penguasa selalu terobsesi oleh kekuasaan, termasuk di masa
damai; mereka yang mengabaikan masalah militer dari
kekuasaan dan keamanan akan kehilangan kekuasaan (Dalam
Richard dan Kirsten, 2012: 25).
Dan menurut Hobbes dalam buku yang sama :
Saya percaya pada kecenderungan umum semua umat
manusia, yakni adanya hasrat abadi yang tak pernah surut dari
8

satu kekuasaan ke kekuasaan lain yang hanya berhenti ketika


mati (Dalam Richard dan Kirsten, 2012: 25).9
Dalam menjaga eksistensinya dimata dunia, suatu negara dituntut untuk terus
dapat dipandang kuat oleh negara lain. Pentingnya eksistensi suatu negara didasari atas
prasyarat agar negara tersebut tidak diperlakukan semena-mena oleh negara disekitarnya
atau negara yang merasa lebih perkasa, sebab untuk menjadi negara yang berdaulat suatu
negara tidak boleh didominasi apalagi dijajah oleh negara lain. Kondisi ini kemudian
menjadi tantangan bagi setiap negara untuk terus berjuang ditengah kondisi anarki
internasional yang dimana segala sesuatu dapat terjadi kapan saja dan dengan cara apa
saja. Mungkin saja hari ini negara lain yang terlihat ramah-ramah saja terhadap suatu
negara atau negara lain tiba-tiba menyerang dengan kekuatan penuh dengan dalih
memperluas wilayah, sumber daya alam ataupun alasan-alasan lainnya.
Oleh karenanya saling waspada, memamerkan kekuatan ataupun menjalin aliansi
menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh suatu negara demi menjaga pertahanan
keamanan nasionalnya dari ancaman negara lain. Pandangan realis memfokuskan pada
kekuasaan dan khususnya nafsu pemimpin untuk memperoleh dan melindungi
kekuasaan atas pemimpin lain, untuk membela kepentingan nasional negara mereka.
Mengikuti Hobbes, banyak realis kontemporer berpendapat bahwa dorongan
untuk berkuasa tumbuh dari fakta anarkis. Bagi para realis belakangan, atau neorealis,
Seperti ilmuwan Kenneth N. Waltz, semua aktivitas dalam politik global mengalir dari
fakta bahwa kondisi-kondisi struktural, khususnya anarki, menghambat para aktor untuk
mengambil tindakan tertentu dan memungkinkan mereka untuk mengambil tindakan

Richard W. Mansbach & Kiersten L. Rafferty. Pengantar Politik Global. Nusamedia. 2012. Bandung. Hal.
25

lainnya. Dengan kata lain tidak seperti realis tradisional seperti Carr dan Morgenthau,
neorealis memusatkan perhatian pada tingkat sistem global. Seperti Hobbes, Waltz
berfikir deduktif dari asumsi awalnya bahwa politik global bersifat anarkis. Struktur
hanya mengacu pada hambatan-hambatan yang relatif tetap.10
Dalam buku International Relations Theory for the Twenty-First Century,
Kenneth N. Waltz yang juga merupakan salah satu ilmuwan neorealist kemudian
berpendapat tentang sistem internasional sebagai berikut :
Systems are composed of a structure and their interacting units. Political structures
have three elements: an ordering principle (anarchic or hierarchical), the character
of the units (functionally alike or differentiated), and the distribution of capabilities.
Waltz argues that two elements of the structure of the international system are
constants: the lack of an overarching authority means that its ordering principle is
anarchy, and the principle of self-help means that all of the units remain functionally
alike. Accordingly, the only structural variable is the distribution of capabilities,
with the main distinction falling between multipolar and bipolar systems (Martin
Griffiths,2007: 13).11

Bagi neorealisme, negara-negara adalah para pencari kekuasaan dan sadar


keamanan, bukan karena sifat dasar manusia tetapi lebih disebabkan karena struktur
sistem internasional mendorong mereka melakukan demikian, para aktor tidak dapat dan
tidak mau percaya satu sama lain. Maka, sebagaimana dalam realisme lama, para aktor
mencari kekuasaan tetapi terutama demi kelangsungan hidup dan bukan karena nafsu.
Mereka hanya dapat bergantung pada diri mereka sendiri (membantu diri sendiri) untuk
memperoleh keamanan, dan dengan mempersenjatai diri untuk perlindungan mereka
membuat takut para aktor lain, yang kemudian menyiapkan diri untuk menghadapi
kemungkinan terburuk karena takut akan menjadi korban agresi. Situasi ini disebut
dilema keamanan. Karena adanya dilemma keamanan, para aktor berusaha keras untuk
10

Richard W. Mansbach & Kiersten L. Rafferty. Pengantar Politik Global. Nusamedia. 2012. Bandung.
Hal. 28
11
Martin Griffiths. International Relations Theory for the Twenty-First Century. Routledge Taylor and
Francis Group. New York. 2007. Halaman 13.

10

memperoleh lebih banyak dibanding orang lain dalam setiap transaksi sehingga mereka
tidak dapat dieksploitasi oleh orang lain dalam suatu titik dalam perjalanan mereka. Ini
dikenal sebagai mencari keuntungan relatif.12 Hal ini yang kemudian mendorong suatu
negara untuk melakukan segala cara untuk memeperkuat pertahanannya, mulai dari
menjadi negara yang barsahabat dengan negara lain, sampai melakukan segala upaya
untuk memperkuat pertahanannya dalam hal ini memperkuat militernya dan membangun
imej kuat untuk dilihat oleh negara luar.
Dalam mengatasi dilema keamanan tesebut tentunya setiap negara membutuhkan
power, oleh karena itu kedudukan negara dalam hal ini adalah harus terus
mengembangkan kekuatannya (power positioning). Pengembangan kekuatan tersebut
tentunya berada pada bagian militer dari suatu negara, dimana ketika militer suatu
negara kuat, maka negara lain akan segan untuk menggangu kepentingan nasional dan
kedaulatan negara tersebut.
Frederick L. Schumann melihat konsep power itu sebagaimana dimiliki oleh
militer. Hal ini dimanfaatkan dengan menjustifikasikannya kedalam kebijaksanaan
politik nasional (domestik) yang bertujuan untuk membendung arus ancaman, tantangan
yang dating dari luar yang akan mengganggu eksistensi sistem politik nasional tersebut.
Dalam kaitannya dengan peranannya dalam hubungan dengan negara lain sebagaimana
akan tercermin dalam sistem internasional maka diperlukan suatu model yakni
model/pola hubungan yang bersifat perimbangan kekuatan untuk mengatur mekanisme
kerja sistem tersebut. Penggunaan kekauatan militer disini, sebagai alat untuk

12

Richard W. Mansbach & Kiersten L. Rafferty. Pengantar Politik Global. Nusamedia. 2012. Bandung.
Hal. 29

11

menjelaskan operasionalisasi kekuatan (power) dilihat dari persepsi politik nasional


(pemerintahan nasional).13
Dalam usaha mengembangkan kekuatan militernya, suatu negara tentunya harus
mau membuka pikiran dalam mencapai hal ini, pembangunan aliansi, dan bentuk-bentuk
kerjasama militer lainnya sangat dibutuhkan dalam hal penguatan militer dari suatu
negara. Kuat tidaknya militer suatu negara tentunya juga dipengaruhi oleh faktor internal
dari negara tersebut, pembangunan dan pengembangan struktur dan infrastruktur yang
mendukung menjadi sangat penting, disamping itu faktor eksternal juga sangat
berpengaruh, kerjasama militer, pembangunan pangkalan militer dan kerjasama militer
lainnya yang bersifat membangun maupun memicu peningkatan kekuatan militer juga
tak kalah pentingnya.
Faktor eksternal ini sangat penting dalam pembangunan dan pengembangan
kekuatan militer suatu negara, sebab aktifitas militer dunia internasional berpengaruh
besar dalam pembangunan persepsi terhadap makna militer yang kuat itu sendiri, atau
dengan kata lain, adanya faktor eksternal ini akan menstimulus pengembangan militer
atau pembangunan kekuatan militer dari dalam negeri itu sendiri. Dalam artian
pengembangan dan pembangunan kekuatan dalam suatu negara tidak terlepas dari
konstruksi kekuatan yang terbangun di dunia internasional ataupun diluar negara
tersebut.
Konstruktivis mengklaim bahwa orang bertindak didunia sesuai dengan persepsi
mereka tentang dunia itu. Persepsi ini muncul dari identitas orang yang, menurut kaum
konstruktivis, dibentuk oleh pengalaman maupun norma sosial yang berubah. Sebagai
contoh, mereka yang menganggap dirinya miskin atau tak berdaya mempersepsi
13

P. Antonius Sitepu. Studi Hubungan Internasional. Graha Ilmu. Yogyakarta. 2011. Halaman 57

12

dunia dengan cara yang sangat berbeda dengan mereka yang mengidentifikasi diri
sebagai kaya atau berkuasa. Begitu mereka tahu siapa mereka, mereka dapat
memahami kepentingan mereka dan membuat kebijakan yang melayani kepentingan
mereka. Bagi kaum konstruktivis, kepentingan tidak inheren atau ditentukan
sebelumnya, melainkan dipelajari melalui pengalaman maupun sosialisasi.
Kaum konstruktivis percaya bahwa cara orang mendefinisikan dirinya
membentuk cara mereka bertindak, sikap mereka berkanan dengan apa yang teoritisi
hari ini disebut masalah agen struktur, lebih cocok dengan keyakinan liberal bahwa para
aktor (pemimpin dan negara, misalnya) atau agen membentuk politik global daripada
dengan keyakinan neoralis bahwa factor-faktor structural seperti anarki, distribusi
kemampuan militer pada seluruh system global, pasar ekonomi gobal, atau budaya
memaksa individu-individu untuk bertindak seperti yang mereka lakukan. Bagi
konstruktivis, agen punya kemampuan untuk bertindak dengan bebasdidalam batasan
struktur, dan persepsi mereka tentang lingkungan mereka, termasuk struktur, dan
interaksinya dengan satu sama lain mempengaruhi perilaku mereka yang selanjutnya
membentuk struktur.14
Menurut Andrew Bradley Phillips dalam buku International Relations theiry for
the Twenty-First Century :
Constructivists are defined by their emphasis on the socially constructed character
of actors interests and identities, and by their concomitant faith in the susceptibility
to change of even the most seemingly immutable practices and institutions in world
politics (Martin Griffiths,2007: 60).15

14

Richard W. Mansbach & Kiersten L. Rafferty. Pengantar Politik Global. Nusamedia. 2012. Bandung.
Hal. Halaman 41-42
15
Martin Griffiths. International Relations Theory for the Twenty-First Century. Routledge Taylor and
Francis Group. New York. 2007. Halaman 60.

13

Konstruktivisme lebih mengacu pada persepsi atau konstruksi realitas oleh aktor,
yang dipengaruhi oleh kondisi sosialnya atau kondisi eksternalnya. Dalam konteks ini,
Tentara Nasional Indonesia (TNI) mempersepsikan profesionalisme mereka atas
pengaruh dari bergabungnya Indonesia dalam UN PKO, hal ini kemudian yang akan
mempengaruhi pengembangan profesionalisme TNI sebagai lembaga negara yang
menjadi cerminan kekuatan militer Republik Indonesia.

E. Metode Penelitian
1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan oleh penulis adalah tipe penelitian
deskriptif analitik. Yakni dengan menggambarkan dampak keterlibatan
Indonesia dalam United Nations Peace Keeping Operations (UN PKO) terhadap
pengembangan profesionalisme Tentara nasional Indonesia (TNI), kemudian
memaparkan hasil analisis dari kasus tesebut.
2. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer berupa hasil
wawancara dengan pihak yang bersangkutan seperti pihak Pusat Misi
Pemeliharaan Perdamaian, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian
Pertahanan, Lembaga Ketahanan Nasional, Pusat Penerangan markas besar TNI,
dan United Nations Information Centre Republik Indonesia dan data langsung
yang diperoleh dari instansi tersebut. Adapun data sekunder, yaitu berupa datadata yang diperoleh dari buku-buku, jurnal, surat kabar,internet dan literatur
lainnya yang terkait dengan isu ini. Adapun data sekunder yang dibutuhkan
dalam menyelesaikan penelitian ini adalah press release dan data-data mengenai
14

peran Indonesia dalam UN PKO, mengenai perspektif terhdap profesionalisme


TNI, dan mengenai dampak keterlibatan Indonesia dalam United Nations Peace
Keeping Operations (UN PKO) terhadap pengembangan profesionalisme
Tentara nasional Indonesia (TNI).
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah berupa
melakukan wawancara dengan responden yang telah ditentukan dan telaah
pustaka (library research) dan studi dokumen yaitu dengan mengumpulkan
literatur yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang akan dibahas,
literature yang dimaksud berupa buku, dokumen, jurnal, artikel, majalah atau
surat kabar.
4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah
analisis data kualitatif, dengan menganalisa kemudian disimpulkan sedangkan
data kualitatif digunakan sebagai datapelengkap untuk menjelaskan data
kualitatif.

15

Daftar Pustaka

BUKU
Sitepu, P. Anthonius. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Graha Ilmu.
Yogyakarta. 2011.
Carlsnaes, Walter. Handbook Hubungan Internasional. Nusamedia. Yogyakarta. 2013.
Mansbach, Richard W dan Kirsten L. Rafferty. Pengantar Politik Global. Nusamedia.
Yogyakarta. 2012.
Salmon. Trevor C. and Mark F. Imber. Issues in International Relation : Second Edition.
Routledge. New York. 2008.

JURNAL
Indriana Kartini. Peran Indonesia Dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB. Jurnal
Pertahanan Mei 2012. Volume 2. Nomor 2

INTERNET
Partisipasi Indonesia dalam Pasukan Misi Perdamaian PBB
http://www.kemlu.go.id/Lists/InternationalIssues/AllItems.aspx (Akses 11 Juni
2014)
Kepentingan Nasional dalan Hubungan Internasional
http://muhammad-ahalla-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-70107-umumPeranan%20Kepentingan%20Nasional%20dalam%20Hubungan%20Internasion
al.html (Diakses 20 Mei 2014)
http://www.un.org/en/peacekeeping/about/, diakses pada 15 Juni 2014

16