Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI KASUS TIDAK WAJIB

TUMOR INTRAKRANIAL

Pembimbing:
dr. Ika Yulieta Margaretha, Sp.S

Disusun oleh:
Chaterine Grace T
03009052

KEPANITERAAN KLINIK NEUROLOGI


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-nya kami dapat
menyelesaikan makalah Presentasi Kasus Tidak Wajib ini yang berjudul Tumor
Intrakranial.
Makalah Presentasi Kasus Tidak Wajib ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
dalam kepaniteraan klinik di stase Neurologi Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang
telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini, terutama kepada :
1. dr. Ika, Sp.S selaku pembimbing Presentasi Kasus Tidak Wajib ini.
2. Semua dokter dan staf pengajar di SMF Neurologi Rumah Sakit Umum Pusat
Fatmawati Jakarta.
3. Rekan-rekan Kepaniteraan Klinik Neurologi Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati
Jakarta.
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan,
oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan makalah ini
sangat kami harapkan.
Demikian, semoga makalah presentasi kasus ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan
bisa membuka wawasan serta ilmu pengetahuan kita, terutama dalam bidang neurologi.

Jakarta, 5 September 2014

Penyusun

BAB I
STATUS PASIEN
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. T

Jenis Kelamin

: Laki-laki

TTL

: Jakarta, 03 September 1943

Umur

: 71 tahun

Pekerjaan

: Wiraswasta

Agama

: Islam

Status Pernikahan

: Kawin

Suku bangsa

: Betawi

No RM

: 01279432

Tanggal Pemeriksaan : 3 September 2014


II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dengan keluarga pasien pada tanggal 3-92014
a. Keluhan Utama
Pasien datang ke RSUP Fatmawati dengan keluhan badan lemas sejak 1 hari
SMRS

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUP Fatmawati dengan keluhan lemas sejak 1 hari
SMRS. Lemas muncul karena sejak 7 hari SMRS pasien tidak mau makan dan
minum. Pasien merasa mual, namun tidak muntah. Karena mual itu, pasien menolak
untuk makan. Lemas dirasakan diseluruh badan, dan ketika dibawa ke RS, menurut
keluarga, pasien tampak sering mengantuk namun bangun jika dipanggil. Riwayat
sakit kepala, pingsan, kejang, gangguan penglihatan, muntah menyemprot disangkal
keluarga.
Saat diperiksa (3 hari setelah masuk HCU), pasien mengalami penurunan
kesadaran dan sudah sulit diajak berkomunikasi.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien post rawat 1 bulan yang lalu dari RSUP Fatmawati dengan diagnosa
stroke infark dan SOL intracranial e.c metastase dari ca colon (primer). Riwayat
operasi Ca colon bulan juli 2014, namun biopsi tidak dilakukan. 1 bulan yang lalu,
pasien dirawat karena stroke infark dengan keluhan kelemahan di bagian tubuh
sebelah kiri. Saat itu pasien juga mengeluh sakit kepala yang terus menerus, makin
lama makin sakit, namun sakit kepala berkurang dengan minum obat. Pasien dirawat
di RS selama 2 minggu, dan pulang dengan sekuele pada sisi kiri tubuh, namun
bagian kanan masih dapat digerakan biasa. Pasien memiliki riwayat tekanan darah
tinggi. Riwayat kencing manis, penyakit jantung, disangkal keluarga pasien.

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami hal serupa. Tidak ada
anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit stroke, hipertensi, penyakit jantung,
kencing manis, dan kolesterol, dan keganasan.

e. Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak merokok dan tidak pernah minum alkohol

III. PEMERIKSAAN FISIK


I.

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum

: Tampak sakit berat

Kesadaran

: somnolen

Tanda Vital
Tekanan darah

: 142/71 mmHg

Nadi

: 116x/menit, regular, kuat angkat, isi cukup

Napas

: 20x/menit, reguler

Suhu

: 37 oC

Mata

Inspeksi : alis mata cukup, warna hitam, enoftalmus (-)/(-),


eksoftalmus (-)/(-), nistagmus (-)/(-), ptosis (-)/(-), lagoftalmus ()/(-), edema palpebra (-)/(-), bulu mata lentik, Konjungtiva Anemis
(-)/(-), Sklera Ikterik (-)/(-), sekret (-)/(-), tampak berair, pterigium
(-)/(-), ulkus kornea (-)/(-), pupil isokor dengan diameter 3 ml,
RCL (+)/(+), RCTL (+)/(+), kekeruhan lensa (-),

Palpasi : tekanan bola mata secara manual normal

Telinga, Hidung,Tenggorokan
Hidung :
- Inspeksi : Deformitas (-), kavum nasi lapang, sekret (-)/(-), deviasi
septum (-)/(-), konka nasal hiperemis (-)/(-), edema (-)/(-), NCH (-)/(-),
terpasang kanul oksigen
- Palpasi : nyeri tekan pada sinus maksilaris (-)/(-), etmoidalis(-)/(-),
frontalis(-)/(-)

Telinga :
-

Inspeksi :
-

Preaurikuler : hiperemis (-)/(-), abses (-)/(-), massa (-)/(-),


skar (-)/(-),

Aurikuler : normotia, hiperemis (-)/(-), cauli flower (-)/(-),


pseudokista (-)/(-),

Postaurikuler : hiperemis (-)/(-), abses (-)/(-), massa (-)/(-),


skar (-)/(-),

Liang telinga : lapang, serumen (-)/(-), Ottorhea (-)/(-),


membran timpani intak

Tenggorokan dan Rongga mulut :


-

Inspeksi :
-

Bucal : warna normal, ulkus (-),

Palatum : mole dan uvula simetris pada keadaan diam dan


bergerak, arkus faring simetris, penonjolan (-)

Tonsil : T1/T1, kripta (-)/(-), detritus(-)/(-), membran (-)/(-)

Dinding anterio faring licin, hiperemis (-),

Dinding posterior faring licin, hiperemis (-), Post nasal drip (-)

Pursed lips breathing (-), karies gigi (+), Kandidisasis oral (-)

Leher
-

Inspeksi : bentuk simetris, warna normal, penonjolan vena jugularis


(-), tumor (-), retraksi suprasternal (-), tidak tampak perbesaran
KGB

Palpasi : pulsasi arteri carotis normal, perbesaran thyroid (-), posisi


trakea ditengah, KGB tidak teraba membesar

Auskultasi : bruit (-),

Tekanan vena jugularis tidak meningkat, 5+2

Thoraks Depan
-

Inspeksi : Penggunaan otot bantuan nafas (-)/(-), Retraksi sela iga


(-/-), bentuk dada normal, barrel chest (-), pectus carinatum (-)/(-),
pectus ekskavatum (-)/(-), pelebaran sela iga (-)/(-), tumor (-)/(-),
skar (-), emfisema subkutis (-)/(-), spider naevi (-)/(-), pergerakan
kedua paru simetris statis dan dinamis, pola pernapasan normal

Palpasi : massa (-)/(-), emfisema subkutis (-)/(-), ekspansi dada


simetris, vocal fremitus sama di kedua lapang paru, pelebaran sela
iga (-)/(-)

Perkusi :
-

Sonor di kedua lapang paru

Batas paru hati : pada garis midklavikula kanan sela iga 6,


peranjakan hati sebesar 2 jari

Batas paru lambung : pada garis aksilaris anterior kiri sela iga
8

Auskultasi : Suara nafas vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronki (-/-)

Thoraks Belakang
-

Inspeksi : Penggunaan otot bantuan nafas (-)/(-), Retraksi sela iga


(-/-), pelebaran sela iga (-)/(-), tumor (-)/(-), emfisema subkutis ()/(-), Pergerakan kedua paru simetris statis dan

dinamis, pola

pernapas normal, scar (-), luka operasi (-), massa (-), gibus (-),
kelainan tulang belakang (-)
-

Palpasi : massa (-)/(-), emfisema subkutis(-)/(-), ekspansi dada


simetris, vocal fremitus sama di kedua lapang paru

Perkusi : Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi : Suara nafas vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronki (-/-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus Cordis terlihat di ICS V 1 cm medial

midklavikula sinistra
Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS V, 1 cm medial linea

midcalivicula sinistra
Perkusi

Batas atas jantung

:ICS III parasternalis kiri

Batas kanan jantung : ICS IV parasternalis kanan


Batas kiri jantung

: ICS V 1cm medial midklavikularis kiri

Auskultasi : BJ 1 BJ 2 murni, murmur (-), gallop (-)Abdomen


Abdomen
-

Inspeksi : simetris, datar, striae (-), skar (-), penonjolan (-), bekas
operasi (-), kaput medusa (-)

Auskultasi : BU (+) normal, metalic sound (-), borborigmi (-), bruit


(-)

Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium (-), massa (-)


-

Hepar dan lien tidak teraba

Ginjal : Ballotemen (-)/(-),

Perkusi : timpani, shifting dullnes (-), undulasi (-), fenomena papan


catur (-), nyeri ketok CVA (-)/(-),

Ekstremitas
Akral teraba hangat, sianosis (-), CRT < 3 detik, edema (-)/(-), jari
tabuh (-), koilonikia (-), hiperemis (-), deformitas (-)

Status Neurologis
GCS

: E3M4Vafasia

Rangsang Selaput Otak


Kaku kuduk

: -

Laseque

: >700 />700

Kernig

: > 1350 / > 1350

Brudzinsky I

:-

Saraf-saraf Kranialis:
N.I (olfaktorius)

: TVD

N.II (optikus)

Acies visus

: TVD

Visus campus

: TVD

Lihat warna

: TVD

Funduskopi

: tidak dilakukan

N.III, IV, VI (Occulomotorius, Trochlearis, Abducen)

Kedudukkan bola mata

: ortoposisi + / +

Pergerakkan bola mata

: TVD

Exopthalmus

:-/-

Nystagmus

:-/-

Pupil:
o Bentuk

: bulat, isokor, 3mm/3mm

o Refleks cahaya langsung

: +/+

o Refleks cahaya tidak langsung

: +/+

N.V (Trigeminus)

Cabang Motorik

: TVD

Cabang sensorik

o Ophtalmikus : TVD
o Maksilaris

: TVD

o Mandibularis : TVD

N.VII (Fasialis)

Motorik orbitofrontalis

: baik / baik

Motorik orbikularis orbita

: baik / baik

Motorik orbikulari oris

: kesan lebih datar /baik

Pengecapan lidah

: TVD

Kesan paresis N. VII dextra sentral

N.VIII (Vestibulocochlearis)

Vestibular : Vertigo

:TVD

Nistagmus

Koklearis : Tuli Konduktif

: TVD
TVD

Tuli Perseptif

: TVD

Test berbisik

TVD

N.IX, X (Glossopharyngeus, Vagus)

Uvula

: ditengah

N.XI (Accesorius)

Mengangkat bahu

: TVD

Menoleh

: TVD

N.XII (Hypoglossus)

Pergerakkan lidah

: saat statis deviasi ke kiri

Atrofi

:-

Fasikulasi

:-

Tremor

:-

Kesan paresis N. XII dextra sentral


Sistem Motorik

Kesan hemiparesis dextra (dengan tes jatuh lateralisasi ke kanan, dan


ekstremitas atas kekuatan motorik :3)

Gerakkan Involunter

Tremor: - / -

Chorea

:-/-

Miokloni

: -/ -

Tonus

: baik

Sistem Sensorik :

Propioseptif

Eksteroseptif : TVD

: TVD

Fungsi Serebelar

Ataxia

: TVD
Hasil

Tes disdiadokinesis

TVD

Tes tunjuk hidung dan jari

TVD

Tes tunjuk jari kanan dan kiri

TVD

Tes romberg

TVD

Tes tandem gait

TVD

Fungsi Luhur

Astereognosia

: TVD

Apraxia

: TVD

Afasia

:+

Fungsi Otonom

Miksi

: On DC

Defekasi

Sekresi keringat

: baik

Refleks Fisiologis

Biceps

: +2/+2

Triceps

: +2/+2

Radius

: +2/+2

Lutut

: +2/+2

Tumit

: +3/+2

Refleks Patologis

Hoffman Tromer

:-/-

Babinsky

:-/-

Chaddok

:-/-

Gordon

:-/-

Schaefer

:-/-

Klonus lutut

:-/-

Klonus tumit

:+/-

Keadaan Psikis

Intelegensia

: TVD

Tanda regresi

: TVD

Demensia

: TVD

II.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

98.0

0.00-10.00

Protein Total

6.00-8.00

Albumin

3.40

3.40-4.80

Globulin

2.60

2.50-3.00

Bilirubin Total

0.50

0.10-1.00

Bilirubin Direk

0.20

<0.2

Bilirubin Indirek

0.30

<0.6

Alkali Fosfatase

74

30-140

HEMATOLOGI
LED
FUNGSI HATI

FUNGSI GINJAL
Asam urat darah

10

<7

123

80-100

Trigliserida

79

<150

Kolestrol total

136

<200

Kolestrol HDL

38

37-92

Kolestrol LDL

82

<130

pH

7.459

7.370-7.440

PCO2

26.2

35.0-45.0

PO2

144.4

83.0-108.0

BP

750.0

HCO3

18.2

21.0-28.0

02 Saturasi

99.0

95.0-99.0

BE (Base Excess)

-3.9

-2.5-2.5

Total CO2

19.0

19.0-24.0

DIABETES
Gula Darah Puasa
LEMAK

KIMIA KLINIK
AGD

Pemeriksaan Radiologi
Rontgen Thorax : (18-07-2014)
Kesan :

Jantung dalam batas normal

Infiltrat minimal di paracardial kanan

Fraktur pada costae 8 posterior kanan dengan retraksi costae

CT-scan (18-07-2014)
Kesan :

Massa parietotemporal sinistra, brain shift (-)

Edema perifokal (+)

V. Resume
Tn. T usia 71 tahun, datang dengan keluhan lemas sejak 1 hari SMRS. Lemas
muncul karena sejak 7 hari SMRS pasien tidak mau makan dan minum. Pasien merasa
mual, namun tidak muntah. Karena mual itu, pasien menolak untuk makan. Lemas
dirasakan diseluruh badan, dan ketika dibawa ke RS, menurut keluarga, pasien
tampak sering mengantuk namun bangun jika dipanggil. Riwayat pingsan, kejang,
gangguan penglihatan, disangkal keluarga.
Saat diperiksa (3 hari setelah masuk HCU), pasien mengalami penurunan
kesadaran dan sudah sulit diajak berkomunikasi. Pasien post rawat 1 bulan yang lalu
dari RSUP Fatmawati dengan diagnosa stroke infark dan SOL intracranial e.c
metastase dari ca colon (primer).

Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran

Somnolen (GCS E3M4Vafasia), TD 142/71 mmHg, FN 20 x/m, N 116 X/M, suhu :


37 C. Status generalis dalam batas normal. Status neurologis TRM(-), pupil bulat
isokor diameter 3 mm/3mm, RCL (+/+), RCTL (+/+), kesan paresis n.VII dan XII
dextra sentral, kesan hemiparesis dextra, sensorik TVD, otonom on DC, refleks
patologis -/-

VI. DIAGNOSIS

Diagnosis klinis

: Penurunan kesadaran dengan Paresis N. VII dextra sentral,

paresis n.XII dextra sentral, hemiparesis dextra, metastase tumor intracerebral dari Ca
colon (primer), hiperurisemia

Diagnosis etiologi

: SOL

Diagnosis topis

: parenkim cerebri di lobus parietotemporal sinistra

VII. Rencana Tata Laksana


Non-medikamentosa
Konsul bedah saraf, paru, dan interna
Medikamentosa
IVFD NaCl 0,9 % 500cc
Dexametason 3 x 4 mg (i.v)
Ranitidin 2 x 1 ampul (i.v)

VII. Rencana Pemeriksaan


CT-Scan ulang
MRI

VIII.Prognosis
Ad vitam

: dubia ad malam

Ad fungsionam

: dubia ad malam

Ad sanationam

: dubia ad malam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pendahuluan

Tumor intrakranial adalah suatu massa abnormal yang ada di dalam tengkorak yang
disebabkan oleh multiplikasi sel-sel yang berlebihan dan menyebabkan adanya proses desak
ruang. Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas
(maligna), membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intracranial) atau di sumsum
tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya dapat berupa
tumor primer maupun metastase. Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri,
disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti ; kanker
paru, payudara, prostate, ginjal dan lain-lain, disebut tumor otak sekunder.

Epidemiologi

Tumor Intrakranial menduduki peringkat ke-6 sebagai tumor terbanyak pada orang
dewasa, dan merupakan tumor solid terbanyak yang diderita oleh anak-anak. Insiden
terjadinya tumor otak primer adalah 14-21/100.000/tahun.

Insidensi terbanyak dari tumor intrakranial primer pada pasien di bawah usia 20 tahun
adalah medulloblastoma, astrocytoma pilocytic, ependymoma, dan astrocytoma (WHO grade
II); dari usia 20 sampai usia 45 tahun, astrocytoma (WHO grade II), oligodendroglioma,
neuroma akustik (schwannoma), dan ependymoma; di atas usia 45, glioblastoma,
meningioma, neuroma akustik, dan oligodendroglioma. Sedangkan untuk insiden terendah
dimiliki oleh tumor hipofisis (termasuk metastasis hipofisis), craniopharyngioma, limfoma
intrakranial dan sarkoma intrakranial.

Klasifikasi
1. Klasifikasi tumor berdasarkan asal sel
a. Neuroepitelial (Glioma)

Astrositoma
o Astrositoma pilositik, grade I
o Astrositoma difusa, grade II
o Astrositoma anaplastik, grade III
o Glioblastoma, grade IV

Oligodendroglioma

Ependimoma

Choroid plexus papilloma atau karsinoma

Tumor neuronal dan neuronal-glial

Tumor parenkim pineal

Tumor embrional

b. Tumor intrakranial lainnya

Meningioma : tumor meningen

Tumor vaskular : hemangioblastoma

Primary CNS limfoma

Tumor germ cell : germinoma, teratoma

Tumor pituitari

Tumor syaraf perifer : neurilemmoma, schwannoma, neurofibroma

Developmental tumor : DNET, kraniofaringioma, kista koloid, kista


epidermoid dan dermoid

Tumor metastatik : tumor payudara dan tumor bronkus merupakan tumor


terbanyak yang bermetastasis di otak.

2. Klasifikasi berdasarkan keganasan


a. Tumor jinak

Astrositoma : Astrositoma pilositik (WHO grade I), Low-grade


astrositoma (WHO grade II), Oligodendroglioma (WHO grade II),
Pleomorfik xanthoastrositoma (WHO grade II).

Meningioma (WHO grade I)

Papilloma plexus koroidalis (WHO grade I)

Hemangioblastoma (WHO grade I)

Ependimoma (WHO grade I-II)

b. Tumor ganas

Astrositoma anaplastik (WHO grade III) dan Glioblastoma (WHO grade


IV)

Limfoma serebral primer (WHO grade IV)

Oligodendroglioma anaplastik (WHO grade III)

Ependimoma anaplastik (WHO grade III)

Tumor neuroektodermal primitif (PNET) (WHO grade IV)

Sarkoma serebral primer (WHO grade IV)

3. Klasifikasi tumor berdasarkan lokasi.


a. Regio supratentorial

Kista koloid di ventrikel ketiga

Kraniofaringioma (WHO grade I)

Adenoma pituitari (WHO grade I)

Tumor pineal : germinoma (WHO grade III), pineositoma (WHO grade I),
dan pineoblastoma (WHO grade IV)

b. Regio infratentorial

Neuroma akustik (WHO grade I)

Kordoma

Paraganglioma : pheochromositoma, simpatetik paraganglioma


(kemodetektoma)

Etiologi
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun telah
banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :

Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada

meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga.


Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi
pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma

tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas
yang kuat pada neoplasma.

Sisa-sisa sel embrional (Embryonic Cell Rest)

Bangunan-bangunan

embrional

berkembang

menjadi

bangunan-bangunan

yang

mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian
dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di
sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma
intrakranial dan kordoma.

Radiasi

Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan
degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah
dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.

Virus

Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan
dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma,
tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan
tumor pada sistem saraf pusat.

Substansi-substansi Karsinogenik

Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah
diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethylurea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.

Gejala Klinis
Neoplasma sistem saraf pusat umumnya menyebabkan disfungsi neurologis yang
progresif. Pada neoplasma benigna dengan pertumbuhannya lambat, gejala klinis muncul

perlahan-lahan, apalagi bila lokasi neoplasma di daerah otak yang tidak terlalu vital atau tidak
memberikan gangguan organ yang nyata, misalnya pada lobus frontalis. Sehingga
kebanyakan ditemukan sudah dalam ukuran yang cukup besar. Neoplasma intrakranial yang
terletak di daerah otak vital atau dekat dengan struktur yang penting, maka akan memberikan
gejala klinis yang cepat meskipun ukurannya masih kecil. Gejala klinis yang bersifat akut
progresif umumnya disebabkan adanya komplikasi perdarahan intraserebral atau sumbatan
aliran CSS.
Gambaran klinis neoplasma intrakranial secara umum dibagi dalam tiga kelompok
yaitu gambaran klinis umum, terlokalisir, dan terlokalisir palsu.

a. Gambaran klinis umum


Gejala dan tanda umum biasanya disebabkan oleh meningkatnya TIK, infiltrasi difus
dari massa neoplasma, edem serebri, atau hidrosefalus. Gambaran klinis umum yang lebih
sering terlihat adalah nyeri kepala, muntah, kejang, perubahan status mental. Tanda klinisnya
berupa edem pada papil nervus optikus (N.II).

Nyeri kepala
Nyeri kepala merupakan gejala umum yang dirasakan pada neoplasma intrakranial.

Nyerinya paling hebat terjadi di pagi hari, karena selama tidur malam, tekanan
karbondioksida

(PCO2)

arteri

serebral

meningkat

sehingga

mengakibatkan

peningkatan cerebral blood flow (CBF) dan dengan demikian akan meningkatkan
TIK.
Muntah
Muntah terdapat pada 30% kasus, sering dijumpai pada neoplasma intrakranial di
fossa posterior. Muntah sering timbul pada pagi hari setelah bangun tidur disebabkan
oleh tekanan intrakranial yang meninggi selama tidur malam, di mana tekanan

karbondioksida (PCO2) serebral meningkat. Sifat muntah pada penderita dengan TIK
meningkat adalah proyektil tanpa didahului oleh mual.
Kejang fokal
Kejang fokal timbul sebagai manifestasi dari TIK yang melonjak secara cepat.
Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor intrakranial bila :
a. Bangkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun
b. Mengalami post iktal paralisis
c. Mengalami status epileptikus
d. Persisten terhadap obat-obat epilepsi
e. Bangkitan disertai dengan gejala peningkatan TIK yang lain.
Perubahan status mental
Tumor intrakranial dapat mengakibatkan gangguan mental berupa mudah
tersinggung, emosi labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan sosial, kehilangan
inisiatif dan spontanitas, anxietas, da ndepresi. Gejala ini berjalan progresif dan dapat
dijumpai pada 2/3 kasus. Gangguan emosi juga akan terjadi terutama jika neoplasma
intrakranial tersebut mendesak sistem limbik (khususnya amigdala dan girus singuli)
karena sistem limbik merupakan pusat pengatur emosi.
Papil edema
Papil edema menunjukkan adanya edem atau pembengkakan diskus optikus yang
disebabkan oleh peningkatan TIK yang menetap selama lebih dari beberapa hari atau
minggu. Edema itu berhubungan dengan obstruksi CSS, dimana peningkatan TIK
pada selubung nervus optikus menghalangi drainase vena dan aliran aksoplasmik pada
neuron optikus dan menyebabkan pembengkakan pada diskus optikus dan retina serta
perdarahan disukus. Papil edema tahap lanjut dapat terjadi atrofi sekunder pada
nervus optikus.

b. Gejala spesifik tumor otak terlokalisir.


1. Lobus frontal

Menimbulkan gejala perubahan kepribadian

Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral, kejang
fokal

Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia

Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy

Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia

2. Lobus parietal

Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym

Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus angularis
menimbulkan gejala sindrom gerstmanns

3. Lobus temporal

Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor, yang didahului


dengan aura atau halusinasi

Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese

Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala
choreoathetosis, parkinsonism.

4. Lobus oksipital

Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan penglihatan

Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang menjadi


hemianopsia, objeckagnosia

5. Tumor di ventrikel ke III

Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan


obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian tekanan intrakranial

mendadak, pasen tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur, dan penurunan


kesadaran
6. Tumor di cerebello pontin angie

Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma

Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa gangguan
fungsi pendengaran

Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin angel

7. Tumor Hipotalamus

Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen Monroe

Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala: gangguan perkembangan


seksuil pada anak-anak, amenorrhoe,dwarfism, gangguan cairan dan elektrolit,
bangkitan

8. Tumor di cerebelum

Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat erjadi disertai
dengan papil udem

Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme dari otototot servikal

9. Tumor fosa posterior

Ditemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai dengan nystacmus,
biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma

c.

Gambaran gejala tumor intrakranial terlokalisir palsu


Suatu tumor intrakranial dapat menimbulkan gejala klinis yang tidak sesuai dengan
fungsi bagian otak yang didududkinya. Adapun manifestasi tersebut adalah :
1. Kelumpuhan saraf otak

Saraf otak dapat tertarik atau tertekan karena proses desakan tumor. Desakan tidak
harus langsung terhadap saraf otak. Suatu tumor di insulae kanan dapat mendesak
batang otak ke kiri dan menyebabkan salah satu saraf otak sisi kiri dapat mengalami
gangguan. Saraf otak yang sering terkena pengaruh secara tak langsung dari
neoplasma adalah saraf otak ke III, IV, dan VI.
2. Refleks patologis yang positif pada kedua sisi
Hal ini dapat ditemukan pada pasien neoplasma intrakranial pada salah satu
hemisfer. Oleh karena pergeserah mesensefalon ke sisi kontralateral, pedunkulus
serebri pada sisi kontralateral mengalami kompresi dan refleks patologis pada sisi
neoplasma menjadi positif. Refleks patologis pada sisi kontralateral terhadap
neoplasma menjadi positif karena kerusakan jaras kortikospinalis di tempat yang
diduduki neoplasma itu sendiri.
3. Gangguan mental
Gangguan mental dapat timbul pada semua pasien neoplasma intrakranial pada letak
manapun.
4. Gangguan endokrin
Gangguan endokrin dapat muncul karena proses desak ruang di daerah hipofise, tapi
juga dapat terjadi akibat desakan tidak langsung dari neoplasma di ruang
supratentorial.

Pemeriksaan Penunjang
1. CT Scan
CT Scan adalah pemeriksaan yang menggunakan sinar-X dan dengan penggunaan
komputer yang akan menghasilkan gambar organ-organ tubuh manusia. CT Scan dapat
digunakan apabila MRI tidak tersedia. Namun, low-grade tumor pada posterior fossa dapat
terlewatkan oleh CT Scan.

CT Scan merupakan alat diagnostik yang penting dalam evaluasi pasen yang diduga
menderita tumor otak. Sensitifitas CT Scan untuk mendeteksi tumor yang berpenampang
kurang dari 1 cm dan terletak pada basis kranil. Gambaran CT Scan pada tumor otak,
umumnya tampak sebagai lesi abnormal berupa massa yang mendorong struktur otak
disekitarnya. Biasanya tumor otak dikelilingi jaringan udem yang terlihat jelas karena
densitasnya lebih rendah. Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah dibedakan
dengan jaringan sekitarnya karena sifatnya yang hiperdens. Beberapa jenis tumor akan
terlihat lebih nyata bila pada waktu pemeriksaan CT Scan disertai dengan pemberian zat
kontras.
Penilaian CT Scan pada tumor otak:
a. Tanda proses desak ruang:

Pendorongan struktur garis tengah itak

Penekanan dan perubahan bentuk ventrikel

b. Kelainan densitas pada lesi:

hipodens

hiperdens atau kombinasi

c. kalsifikasi, perdarahan

Udem perifokal

2. MRI
Diagnosis terbaik pada brain tumor adalah dengan penggunaan cranial MRI. MRI harus
menjadi pemeriksaan pertama pada pasien dengan tanda dan gejala kelainan pada
intracranial. MRI menggunakan magnetic field bertenaga untuk menentukan nuclear
magnetic spin dan resonansi yang tepat pada sebuah jaringan bervolume kecil. Jaringan yang
berbeda memiliki nuclear magnetic spin dan resonansi yang berbeda pula.

Diagnosis
Bagi seorang ahli bedah saraf dalam menegakkan diagnosis tumor otak adalah dengan
mengetahui informasi jenis tumor, karakteristiknya, lokasinya, batasnya, hubungannya
dengan system ventrikel, dan hubungannya dengan struktur vital otak misalnya sirrkulus
willisi dan hipotalamus. Selain itu juga diperlukan periksaan radiologis canggih yang
invasive maupun non invasive. Pemeriksaan non invasive mencakup CT Scan dan MRI bila
perlu diberikan kontras agar dapat mengetahui batas-batas tumor.Pemeriksaan invasive
seperti angiografi serebral yang dapat memberikan gambaran system pendarahan tumor, dan
hungannya dengan system pembuluh darah sirkulus willisy selain itu dapat mengetahui
hubungan massa tumor dengan vena otak dan sinus duramatrisnya yang vital itu.
Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yang dicurigai menderita tumor otak
yaitu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologik yang teliti, adapun pemeriksaan
penunjang yang dapat membantu yaitu CT-Scan dan MRI. () Dari anamnesis kita dapat
mengetahui gejala-gejala yang dirasakan oleh penderita yang mungkin sesuai dengan gejalagejala yang telah diuraikan di atas. Misalnya ada tidaknya nyeri kepala, muntah dan kejang.
Sedangkan melalui pemeriksaan fisik neurologik mungkin ditemukan adanya gejala seperti
edema papil dan defisit lapangan pandang.

Diagnosa Banding
Gejala yang paling sering dari tumor otak adalah peningkatan tekanan intrakranial,
kejang dan tanda deficit neurologik fokal yang progresif. Setiap proses desak ruang di otak
dapat menimbulkan gejala di atas, sehingga agak sukar membedakan tumor otak dengan
beberapa hal berikut :

Abses intraserebral

Epidural hematom

Hipertensi intrakranial benigna

Meningitis kronik.

Penatalaksanaan
Pemilihan jenis terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor, antara lain :

kondisi umum penderita

tersedianya alat yang lengkap

pengertian penderita dan keluarganya

luasnya metastasis.

Pengobatan pada brain tumor dapat berupa terapi suportif dan terapi definitif.

1.

Terapi Suportif
Terapi suportif berfokus pada meringankan gejala dan meningkatkan fungsi

neurologik pasien. Terapi yang utama digunakan adalah antikonvulsan dan kortikosteroid.
a. Antikonvulsan
Anticonvulsants diberikan pada pasien yang menunjukan tanda-tanda seizure.
Phenytoin (300-400mg/d) adalah yang paling umum digunakan, tapi carbamazepine (6001000mg/h), Phenobarbital (90-150mg/h), dan valproic acid (750-1500mg/h) juga dapat
digunakan.
b. Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi edema peritumoral dan mengurangi tekanan intrakranial.
Efeknya mengurangi sakit kepala dengan cepat. Dexamethasone adalah corticosteroid yang
dipilih karena aktivitas mineralocorticoid yang minimal. Dosisinya dapat diberikan mulai dari
16 mg/h, tetapi dosis ini dapat ditambahkan maupun dikurangi untuk mencapai dosis yang
dibutuhkan untuk mengontrol gejala neurologik.

2. Terapi Definitif
Tatalaksana definitif tumor intrakranial meliputi pembedahan, radiotherapy, kemoterapi
dan yang sedang dikembangkan yaitu immunotherapy.
a. Pembedahan
Berbagai pilihan pembedahan telah tersedia, dan pendekatan pembedahan yang dipilih
harus berhati-hati untuk meminimalisir resiko deficit neurologic setelah operasi. Tujuan
pembedahan : (1) menghasilkan diagnosis histologic yang akurat, (2) mengurangi tumor
pokok, (3) memberikan jalan untuk CSF mengalir, (4) mencapai potensial penyembuhan.
b. Terapi Radiasi
Terapi radiasi memainkan peran penting dalam pengobatan brain tumor pada orang
dewasa. Terapi radiasi adalah terapi nonpembedahan yang paling efektif untuk pasien dengan
malignant glioma dan juga sangat penting bagi pengobatan pasien dengan low-grade glioma.
c. Kemoterapi
Kemoterapi hanya sedikit bermanfaat dalam treatment pasien dengan malignant glioma.
Kemoterapi tidak memperpanjang rata-rata pertahanan semua pasien, tetapi sebuah subgroup
tertentu nampaknya bertahan lebih lama dengan penambahan kemoterapi dan radioterapi.
Kemoterapi juga tidak berperan banyak dalam pengobatan pasien dengan lowgrade
astrocytoma. Sebaliknya, kemoterapi disarankan untuk pengobatan pasien dengan
oligodendroglioma.
d. Imunoterapi
Imunoterapi merupakan pengobatan baru yang masih perlu diteliti lebih lanjut. Dasar
pemikiran bahwa sistem imun dapat menolak tumor, khususnya allograft, telah
didemonstrasikan lebih dari 50 tahun yang lalu. Hal itu hanya sebuah contoh bagaimana
sistem imun dapat mengendalikan pertumbuhan tumor. Tumor umumnya menghasilkan level
protein yang berbeda (dibandingkan protein normal) disekitar jaringan, dan beberapa protein

mengandung asam amino substitusi atau deletions, atau mengubah phosphorylation atau
glycosylation. Beberapa perubahan protein oleh tumor sudah mencukupi bagi sistem imun
untuk mengenal protein yang dihasilkan tumor sebagai antigenik, dan memunculkan imun
respon untuk melawan protein-protein tersebut.

Prognosis
Prognosisnya tergantung jenis tumor spesifik. Berdasarkan data di Negara-negara maju,
dengan diagnosis dini dan juga penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan
dengan radioterapi, angka ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival) berkisar 50-60% dan
angka ketahanan hidup 10 tahaun (10 years survival) berkisar 30-40%. Terapi tumor otak di
Indonesia secara umum prognosisnya masih buruk, berdasarkan tindakan operatif yang
dilakukan pada beberapa rumah sakit di Jakarta.
Prognosis juga tergantung pada tipe tumor. Untuk glioblastoma multiforme yang cepat
membesar rata-rata survival time tanpa pengobatan adalah 12 minggu; dengan terapi
pembedahan yang optimal dan radiasi, 32 minggu. Beberapa astrositoma yang tumbuh
mungkin menyebabkan gejala-gejala minimal atau hanya serangan kejang-kejang selama 20
tahun atau lebih.

DAFTAR PUSTAKA
1. Harsono. 2008. Buku Ajar Neurologi Klinis, ed 4. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
2. Harsono. 2000. Kapita Selekta Neurologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
3. Manji H., Connolly S., Doward N., Kitchen N., Mehta A., Wills A., 2008. Oxford
Handbook of Neurology. Oxford University Press: London.
4. Mardjono M, Sidharta P. 2009. Neurologi Klinis Dasar, ed 14. PT. Dian Rakyat. Jakarta.
5. Prabawani AT, 2011. Hubungan Topis dan Volume Neoplasma Intrakranial dengan
Lokasi dan Intensitas Nyeri Kepala Relations Between Topis and Volume of Intracranial
Neoplasm with Headache Location and Intensity. Universitas Diponegoro : Semarang.
6. Rohkamm R., 2004. Color Atlas of Neurology. Thieme : New York.
7. Sari DK., 2007. Brain Cancer. Universitas Islam Indonesia : Jakarta.