Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar berakidah
Islam dan bersumber kepada Al-Qur an dan Sunnah. Persyarikatan ini berazazkan Islam dan
bertujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya. Secara historis, organisasi ini termasuk yang tertua sesudah Syarikat
Islam (1908), didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan
dengan tanggal 18 November 1912 M di Yogyakarta.
Muhammadiyah sebagai organisasi dan gerakan sosial keagamaan didirikan oleh KH.
Ahmad Dahlan (1868-1923) pada awal abad kedua puluh, tepatnya pada 8 Dzulhijjah 1330 H,
bersesuaian dengan tanggal 18 Nopember 1912. Pendirian organisasi ini, antara lain, dipengaruhi
oleh gerakan tajdd (reformasi, pembaruan pemikiran Islam) yang digelorakan oleh Muhammad
ibn Abd al-Wahhab (1703-1792) di Arab Saudi, Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad
Rasyd Ridh (1865-1935) di Mesir, dan lain-lain. Masing-masing tokoh tersebut memiliki corak
pemikiran yang khas, berbeda satu dengan yang lain. Jika Muhammad ibn Abd al-Wahhb
menekankan pemurnian akidah, sehingga gerakannya lebih bersifat puritan (purifikasi), maka
Muhammad Abduh lebih menekankan pemanfaatan budaya modern dan menempuh jalur
pendidikan, dan karena itu, gerakannya lebih bersifat modernis dan populis. Sementara itu,
Rasyd Ridh menekankan pentingnya keterikatan pada teks-teks al-Qurn dalam kerangka
pemahaman Islam, yang dikenal dengan al-Ruj il al-Qurn wa al-Sunnah (kembali kepada
al-Quran dan al-Sunnah). Oleh karena itu, gerakannya lebih bersifat skriptualis (tekstual), yang
kelak menjadi akar fundamentalisme (al-ushliyyah) di Timur Tengah (Syafiq A. Mughni,

1998). Dari telaah biografi KH. Ahmad Dahlan, terlihat bahwa betapa pendiri Muhammadiyah
itu sangat terkesan dan sedikit banyak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran tokoh di atas yang
kemudian dipadukan dan dikontekstualisasikan dengan setting sosial dan budaya Jawa, dan
masyarakat Indonesia pada umumnya. Ketika itu, masyarakat Indonesia berada dalam kondisi
terjajah, terbelakang, mundur, miskin, dan keberagamaan sebagian mereka cenderung mengidap
penyakit TBC (Tahayul, Bidah, dan Churafat).
Gerakan Muhammadiyah juga sejak awal dikenal luas sebagai gerakan sosial keagamaan
yang didirikan untuk mengadaptasikan Islam dengan situasi modern Indonesia, karena gerakan
ini menegaskan diri sebagai gerakan pembaruan yang peduli dan konsen (care and concern)
terhadap kemajuan Islam dan umat Islam, dan menyebabkan kebangkitan kembali kaum
Muslimin di Indonesia.
1.2

Rumusan Masalah
Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang, maka penulis mengambil rumusan

masalah sebagai berikut :

1.3

Tujuan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah ;


1. Untuk mengetahui Proses Perkembangan di Indonesia
2. Untuk memahami Teori Masuknya Islam Di Indonesia
3. Untuk mengetahui Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia
4. Untuk merngetahui Tokoh-Tokoh Dalam Perkembangan Islam Di Indonesia
5. Untuk memahami Imperialisme Bangsa Barat Terhadap Dunia Islam
2

6. Untuk mempelajari Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah

1.4

Manfaat Makalah

Penulisan makalah ini juga dapat di jadikan sebagai modul pembelajaran yang mungkin
akan berguna bagi kegiatan belajar mengajar atau KBM di masa masa mendatang. Makalah ini
juga dapat dijadikan referensi yang mungkin berguna dalam mempelajari materi AI

BAB II
PEMBAHASAN

2.4

Teologi al maun
Teologi al-Maun merupakan suatu konsep yang diambil dari Surat al-Maun. Dalam

surat ini, terdapat pembelajaran yang sangat berharga, sebagai upaya membangun etos moralitasspritualitas disatu sisi dengan berkaca terhadap fakta realitas keagamaan dan sosial-budaya
dengan melihat fakta ketidakadilan sosial dalam kerangka makro dengan harapan dan tujuan
memberdayakan

kembali

prinsip-prinsip

utama

umat

Islam

umumnya

dan

warga

Muhammadiyah dalam menciptakan tatanan yang seimbang dalam persoalan-persoalan politik,


ekonomi, budaya dan lain sebagainya.
Surat al-Maun berbunyi:
} 1

} 3 } 2

}
}7
} 4
6 } 5

Surat al-Maun merupakan surat ke 17 yang terdiri atas 7 ayat dan termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah. Surat al-Maun diturunkan sesudah surat al-Taakatsur (bermegah-megahan), yakni
surat ke 16 dan sebelum al-Kafirun (surat ke 18). Nama al Ma'un diambil dari kata al Ma'un
yang terdapat pada akhir ayat. Secara etimologi, al-Maun berarti banyak harta, berguna dan
bermanfaat, kebaikan dan ketaatan, dan zakat. Menurut Muhammad Asad kata "al-Ma'un"
berdasarkan berbagai tafsir klasik dapat dipahami sebagai "comprises the small items needed for
one's daily use, as well as the occasional acts of kindnessconsisting in helping out one's fellowmen with such item. In its wider sense, it denotes "aid" or "assistance" in any difficulty" (...kata

"al-Ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari, juga
perbuatan kebaikan berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil.
Dalam maknanya yang lebih luas, kata al-Maun berarti "bantuan" atau "pertolongan"dalam
setiap kesulitan
Surat ini berdasarkan Asbabun Nuzulnya sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mudzir
adalah berkenaan degan orang-orang munafik yang memamerkan shalat kepada orang yang
beriman. Mereka melakukan shalat dengan riya, dan meninggalkan apabila tidak ada yang
melihatnya, serta menolak memberikan bantuan kepada orang miskin dan anak yatim. Surat alMaun paling tidak berisi empat hal pokok, yakni: Pertama, perintah berbuat kebaikan kepada
sesama manusia, terutama kepada anak-anak yatim dan fakir miskin yang merupakan kelompok
orang-orang yang tertindas (mustadhafin). Kedua, jangan lupa atau lalai mendirikan shalat.
Ketiga, jangan riya (pamer) dalam beribadah. Keempat, jangan kikir (pelit) untuk beramal dan
berbagi dengan sesama. Keempat hal pokok ini merupakan sifat orang-orang kafir Quraisy dan
orang-orang munafik. Dimana mereka cenderung bermegah-megah dan berfoya-foya dengan
harta benda (al-Takatsur), lupa dengan ibadah karena sibuk mencari harta semata, suka
memamerkan kebaikan kepada orang lain atau tidak ikhlas dalam beribadah, dan tidak mau
member atau berbagi dengan fakir miskin dan orang-orang tertindas lainnya. Itulah kenapa kaum
muslimin diperintahkan secara tegas menjauhi keempat perbuatan tidak baik tersebut.
Pelanggaran terhadap keempat larangan tersebut disebut sebagai pendusta agama, suatu
pelanggaran yang sangat berat sebab mengingkari dan menutup hati kita atas kebenaran dan
ketundukan semata karena Allah padahal sebelumnya telah menyatakan iman dan berserah diri
sepenuhnya kepada Allah. Kelompok pedusta agama ini disebut juga sebagai orang-orang yang

telah ingkar dan menutup hatinya dari perintah dan ketaatan hanya kepada Allah atau disebut alKafirun
Dalam konteks Muhammadiyah, surat al-Maun memiliki arti yang sangat penting sebab
menjadi landasan dasar dan spirit bagi lahirnya gerakan dakwah Muhammadiyah dengan
berbagai amal sosialnya berupa rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, rumah miskin, lembaga
pendidikan, dan lainnya. Berdasarkan sejarah awal Muhammadiyah tercatat kisah mengenai
pengajian surat al-Maun dan tafsir pengamalannya. H. Mohammad Soedja, salah seorang murid
Kyai menceritakan bahwa Kyai Dahlan dalam pengajian rutin subuh mengajarkan surat alMaun secara berulang-ulang selama beberapa waktu lamanya tanpa diganti atau ditambah
dengan surat atau materi lainnya. Sehingga melahirkan pertanyaan dari muridnya, mengapa
materi pengajian tidak ditambah-tambah dan hanya mengulang-ulang surat al-Maun.
Mendengar pertanyaan itu, Kyai balik bertanya kepada murid-muridnya, apakah mereka sudah
benar-benar mengerti akan maksud surat al-Maun. Para murid serentak menjawab: mereka
bukan hanya sudah mengerti, tetapi sudah hafal. Kyai kemudian kembali bertanya, apakah arti
ayat-ayat yang sudah dihafal tersebut sudah diamalkan. Para murid menjawab sambil bertanya,
apanya yang diamalkan, bukankah surat al-Maun sudah sering dibaca saat menjalankan shalat.
Kyai menjawab, bukan itu maksudnya diamalkan. Tetapi apakah yang dipahami itu sudah
dipraktikkan dan dikerjakan. Maka setelah itu, Kyai memerintahkan para murid untuk mencari
anak yatim, orang-orang miskin, pengemis dan gelandangan yang banyak terdapat di pasar, di
stasiun kereta api dan di jalanan untuk dibawa pulang, dimandikan dengan sabun dan sikat gigi
yang baik, diberi pakaian seperti yang biasa mereka pakai, diberi makan dan minum, serta
tempat tidur yang layak.Untuk itu pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya
perintahkan kepada kalian. Inilah tafsir al-Maun yang secara teologis menjadi identitas dan

spirit gerakan amal Muhammadiyah yang melahirkan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) -sekarang berubah menjadi PKU (Pembina Kesejahteraan Umat)-- dalam bentuk balai
pengobatan, rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, dan rumah miskin bagi fakir miskin, kaum
dhuafa dan mustadhafin,
Model pembelajaran al-Quran di atas sesungguhnya merupakan metode pengajaran yang
biasa diberikan oleh Kyai Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya. Di dalam pokok pikiran dan
ajaran Kyai Ahmad Dahlan disebutkan tentang lima jalan dalam memahami al-Quran, yaitu:
1. Yang pertama mengerti artinya;
2. Kedua memahami tafsir dan maksudnya;
3. Ketiga jika mendapat larangan dalam al-Quran bertanyalah kepada diri sendiri apakah
larangan semacam itu sudah ditinggalkan;
4. Keempat jika mendapat amar atau perintah perbuatan dalam al-Quran tersebut,
bertanyalah kepada diri sendiri apakah amar atau perintah berbuat tersebut sudah
diamalkan; dan
5. Jika yang keempat belum diamalkan jangan membaca ayat yang lain.
Kyai Ahmad Dahlan menafsirkan surat al-Maun ataupun surat-surat al-Quran lainnya
tidak berdasarkan pemahaman normatif tekstual semata, melainkan Kyai berani keluar dari
mainstream pemikiran demi pencapaian tujuan dakwah Islam yang beliau cita-citakan dalam
bentuk tafsir aksi atau praksis sosial. Kyai Ahmad Dahlan memiliki pemahaman teologis yang
dalam bukan hanya dalam akal pikirnya, melainkan paham teologi itu harus dipraksiskan dalam
amal nyata (aksi sosial) sesuai kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat (umat). Kondisi ini bisa
dimengerti jika melihat bahwa Kyai sebagai seorang priyayi Jawa memiliki sifat dan sikap (etos)
welas asih sebagai kultur dari etika Jawa. Dr. Soetomo seorang dokter priyayi Jawa tertarik dan

terlibat aktif dalam Muhammadiyah, tidak bisa dipungkiri karena melihat kewelas-asihan Kyai.
Dalam sambutan pembukaan rumah sakit PKU Muhammadiyah Surabaya di tahun 1924, Dokter
Soetomo menyakini bahwa etika welas asih itu sebagai antitesis etika Darwinisme (struggle for
the fightest) yang menjadi kekuatan gerakan Muhammadiyah. Kenyataannya Kyai mendirikan
rumah sakit, bekerjasama dengan dokter-dokter berkebangsaan Belanda dan beragama Nasrani
yang bekerja secara sukarela. Kesediaan dokter-dokter Belanda bekerja di rumah sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta dan Surabaya tanpa dibayar, bukan bagian dari politik kolonial,
melainkan didasari komitmen kemanusiaan dokter Belanda ketika melihat kegiatan kesehatan
yang dilakukan Kyai Ahmad Dahlan itu diperuntukkan bagi kaum dhuafa dan fakir miskin
secara cuma-cuma. Nilai profetik kemanusiaan dalam etika welas asih lah yang menjadi titik
temu pandangan tersebut
Pemahaman tafsir al-Maun tersebut mengkristal dalam bentuk teologi sosial
Muhammadiyah dan tauhid sosial. Dari tafsir ke teologi kemudian kepada fikih al-Maun. Amanat
Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang tahun 2005 yang meminta Majelis Tarjih menyusun
konsep Teologi al-Maun diterima dan disahkan menjadi keputusan Munas Tarjih ke 27 di
Malang pada tanggal 3 April 2010 dengan perubahan nama menjadi Fikih al-Maun. Mungkin
debatable penamaan tersebut mengingat istilah fikih yang terkesan kaku dan formil. Tetapi yang
terpenting substansi utama konsepsi Fikih al-Maun tidak bergeser dari pemikiran Kyai Ahmad
Dahlan ataupun amanat Muktamar, yakni dengan melihat kenyataan bahwa umat Islam sampai
sekarang masih mengalami ketertinggalan peradaban dan banyak di antara warganya yang
menjadi penyandang masalah sosial. Penyelesaian masalah ini secara mendasar harus diawali
dari perumusan sistem ajaran yang memadai sebagai basis teologi (tauhid sosial dan teologi alMaun). Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar maruf nahi munkar bertanggung jawab

ambil bagian dalam penyelesaian masalah tersebut dengan menjabarkan tafsir surat al-Maun ke
dalam keyakinan teologis dan amal (praksis) sosial. Secara umum Munas Tarjih ke-27
menyepakati bahwa sistematika Fikih al Maun ada dalam Kerangka Amal al-Maun yang
berupa penguatan dan pemberdayaan kekayaan fisik, moral, spiritual, ekonomi, sosial dan
lingkungan. Kemudian Pilar Amal al-Maun terdiri dari rangkaian berkhidmat kepada yang
yatim, berkhitmat kepada yang miskin, mewujudkan nilai-nilai shalat, memurnikan niat,
menjauhi riya, dan membangun kemitraan yang berdayaguna. Sementara Bangunan Amal alMaun yang disepakati adalah untuk kesejahteraan individu yang bermartabat, kesejahteraan
keluarga (Keluarga Sakinah), kesejahteraan masyarakat yang berjiwa besar, kesejahteraan
bangsa dan negara.
Dengan demikian, pemahaman tentang Tafsir al-Maun, Teologi al-Maun ataupun Fikih
al-Maun di atas tidak boleh berhenti hanya pada konsepsi pemikiran belaka, melainkan harus
dapat dijabarkan dalam realisasi amal sosial yang terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
umat dan perkembangan zamannya. Dengan begitu, baik penafsiran ayat al-Quran,
penghayatannya dalam hati sebagai keyakinan hidup (teologi) maupun pengamalannya dalam
kehidupan sehari-hari (fikih) sesuai dengan pemikiran Kiai Ahmad Dahlan yang menekankan
siapa menanam akan mengetam, dan pemimpin itu sedikit bicara banyak bekerja.
Penafsiran yang bermuara pada hasil amal sosial berarti pula terus menumbuhkan gerak dakwah
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan gerakan sosial kemasyarakatan yang bercita-cita
untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yaitu masyarakat utama adil
makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wataala (Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur).
2.2 Gerakan Sosial Keagamaan Muhammadiyah

Sebagai organisasi sosial keagamaan, Muhammadiyah didukung oleh usaha ekonomi


sebagai penguat organisasi. Hubungan antara kiai dengan kegiatan perdagangan lebih tampak
lagi di lingkungan Muhammadiya dibanding organisasi sosial keagamaan lainnya. Pendiri
organisasi itu sendiri, selain menjadi khatib di mesjid kesultanan Yogya, juga berdagang batik
sebagai sumber utama nafkahnya. KH. Ahmad Dahlan membuat semboyan sebagai penyemangat
untuk warga Muhammadiyah Hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dari
Muhammadiyah. Prestasi positif yang dimiliki oleh KH. Ahmad Dahlan tampil sebagai
pembaharu gerakan Islam pada awal abad ke-20, berasal dari kalangan penghulu. Hubungan
yang sangat erat antara Muhammadiyah dan Budi Utomo menunjukkan juga kaitan erat antara
golongan kiai dan golongan priyai yang merupakan pelopor kebangkitan nasional dan kesadaran
Nasional.
Muhammadiyah yang lahir pada 18 November 1912 telah memberikan sumbangan positif
terhadap perkembangan dunia Islam. Secara kultural, warga Muhammadiyah memiliki pedoman
hidup yang bernuansa Islami, mulai dari pribadi (warga Muhammadiyah) yang dituntun khusus
pada al-Islam kemuhammadiyahan, yaitu urusan aqidah, akhlak, ibadah serta muamalah
duniawiyah.
Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah telah menetapkan aturan tersendiri tentang
hukum islam untuk kalangan mereka, sekaligus sebagai hukum yang didakwahkah kepada
masyarakat Islam secara umum. Aturan tersebut berdasarkan petunjuk dari Al-Quran dan alHadist yang telah diputuskan melalui lembaga resmi Muhammadiyah yaitu Majelis Tarjih.
Himpunan Putusan Tarjih edisi ke III meliputi Kitab Iman, Kitab Thaharah, Kitab Sholat, Kitab
Shalat jamaah dan Jumah, Kitab Zakat, Kitab Shiam, Kitab Haji, Kitab Jenazah, Kitab Wakaf,

10

Kitab Masalah Lima, Kitab Beberapa Masalah, Keputusan Tarjih Sidoarjo, Kitab Shalat-shalat
Tathawwu dan Kitab Keputusan Tarjid Wiradesa.
Urusan sosial keagamaan lingkup Muhammadiyah juga telah menetapkan beberapa pola
gerakan. Mulai dari tuntunan hidup bermasyarakat, berorganisasi, mengelolah amal usaha,
berbisnis, mengembangkan profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan lingkungan,
mengembangkan ilmu pengatahuan dan teknologi, serta tuntunan hidup bermasyarakat dalam
ruang seni dan budaya.
Gerakan sosial keagamaan Muhammadiyah telah menetapkan prinsip bahwa setiap Islam
harus menjalin persaudaraan dan kebaikan sesama, seperti tetangga maupun anggota masyarakat
lainnya masing-masing dengan memelihara hak dan kehormatan, baik dengan sesama Muslim
maupun dengan non Muslim, dalam hubungan ketetanggaan. Islam memberikan perhatian
sampai ke area 40 rumah yang dikategirkan sebagai tetangga yang harus dipelihara hak-haknya.
Dalam hubungan-hubungan sosial yang lebih luas, setiap anggota dan jamiyah muhammadiyah
haruslah menunjukkan sikap-sikap sosial yang didasarkan pada prinsip menjunjung tinggi nilai
kehormatan manusia, memupuk rasa persaudaraan dan kesatuan kemanusiaan, mewujudkan
kerjasama umat manusia menuju masyarakat sejahtera lahir dan batin, memupuk jiwa toleransi,
menghormati kebebasan orang lain, menegakkan budi baik, menegakkan amanat dan keadilan,
menegakkan kasih sayang dan mencegah kerusakan, bertanggungjawab atas baik dan buruknya
masyarakat dengan melakukan amar maruf dan nahi munkar, berlomba dalam kebaikan serta
hubungan-hubungan sosial lainnya yang bersifat Islah menuju terwujudnya masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya.
Sebagai organisasi Islam di Indonesia, Mumahhadiyah menuntun warganya untuk
memelihara alam dengan sebaik-baiknya, yaitu mengelolah dan memanfaatkan alam secara

11

wajar dan tetap mempertimbangkan kelestarian alam. Hal tersebut dipraktekkan oleh kalangan
Muhammadiyah yang juga untuk didakwahkan sebagai suatu amalan sosial yang mulia.
Muhammadiyah juga memiliki gerakan sosial yang sangat potensial untuk mengembangkan misi
dakwahnya. Melalui lembaga pelayanan sosial hingga lembaga pendidikan yang dimilikinya,
antara lain : terdapat 24 universitas di Seluruh Indonesia, 5 Institut, 52 Sekolah Tinggi , 34
Akademi dan 3 politeknik Disamping itu, juga didukung oleh beberapa lembaga semi otonom
dibawa koordinasi Pimpinan Muhammadiyah Pusat dan Daerah, antara lain adalah :
1. Aisyiyah,
2. Nasyiatul 'Aisyiyah (NA),
3. Pemuda Muhammadiyah,
4. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) /Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM),
5. Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah (IMM),
6. Tapak Suci Putra Muhamadiyah.
7. Gerakan Kepanduan Hizbul-Wathan (HW)
Dalam hal Politik, Di era modern seperti sekarang ini, Muhammadiyah memiliki 2
paradigma mendasar, kedua corak tersebut adalah sebagai berikut:
1. Yang pertama corak modernisme,

yakni pemikiran politik yang menginginkan

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang non politik tetapi tidak anti politik. Akar
pemikiran ini terfokus pada cita-cita Muhammadiyah, dan realisasinya ada pada 2 titik
gerakan, yaitu pembaruan ajaran Islam dan kemenangan dunia Islam.
2. Yang kedua, adalah corak sekulerisme sebagai pemikiran politik yang menginginkan
berubahnya identitas Muhammadiyah, dari gerakan Islam menjadi partai politik.

12

Potensi tersebut sebagaimana telah disebutkan di atas, secara tidak langsung, sangat
mempengaruhi

kekuatan

Muhammadiyah

untuk

melakukan

politik

dualisme

dengan

menggabungkan dua pemikiran tersebut. akhirnya, banyak tokoh Muhammadiyah yang


memelopori gerakan politik Indonesia. Seperti Amien Rais yang menjadi batu loncatan bagi
bangsa Indonesia dalam mengakhiri rezim Orde Baru, dan melangkah kedalam Orde Reformasi.
Secara Kapasitas, penguatan kader warga Muhammadiyah terbilang kuat. Hal tersebut
didukung oleh lembaga-lembaga pembinaan mental dan pendidikan yang memadai, penguatan
ekonomi, keterlibatan dalam politik dan lain-lain turut memberikan kontribusi terhadap
perkembangan Muhammadiyah.

2.2

Perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah Bidang Sosial Keagamaan


Dilihat dari segi perkembangan, memang Muhammadiyah telah berkembang dengan pesat

sampai tahun 1967, walaupun semula hanya bergerak di sekitar Yogyakarta. Perkembangan
Muhammadiyah sejak tahun 1912 sampai masa kemerdekaan (Orde Lama/1967) sesuai dengan
semangat dan cita-cita pembaharuan Muhammadiyah telah mengembangkan sayapnya ke
seluruh Nusantara dengan amal-amal usahanya di bidang sosial kemasyarakatan dan pendidikan.
Perkembangan Muhammadiyah tersebut tidak terlepas dari pengaruh tokoh-tokoh seperti
Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh pembaharuan Islam pada sebelum abad
ke-20. Perkembangan tersebut didukung semakin membaiknya sarana komunikasi dan
tranportasi pada masa itu. Hal ini sesuai dengan pendapat Azyumardi Azra, bahwa sangat sulit
membayangkan pertumbuhan Syarikat Islam-sebagai suatu bentuk gerakan pembaharuan Islam
di bidang politik-atau Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan keagamaan yang begitu
cepat dalam dasawarsa-dasawarsa awal abad ini, tanpa ditunjang dengan semakin membaiknya
13

sarana teknologi komunikasi dan transportasi sejak perempatan terakhir abad ke-19. Sebaliknya,
adalah sangat sulit bagi pembaharu semacam Abd al-Rauf atau gerakan pembaharuan yang
lebih massal seperti gerakan padri untuk menyebarkan ide-ide pembaharuan, apalagi lengkap
sofistifikasi organisasi dan birokrasi moderen sebagaimana ditampilkan oleh Muhammadiyah.
Secara garis besar dan berurutan perkembangan Muhammadiyah sejak awal berdiri sampai akhir
masa Orde Lama (1966) adalah sebagai berikut :
Dari tahun 1912 sampai tahun 1917 gerak Muhammadiyah hanya terbatas pada daerah
kauman Yogyakarta saja. Kegiatan Ahmad Dahlan hanya sebatas bertabligh, mengajar di sekolah
Muhammadiyah, aktif dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat untuk melakukan
kegiatan seperti shalat, dan memberikan bantuan kepada fakir miskin dengan megumpulkan dana
dan pakaian untuk mereka serta kebersihan lingkungan..Kemudian, pembaharuan yang mulamula dilakukan yaitu membetulkan arah kiblat. Meskipun pekerjaan ini mendapat tantangan
yang cukup besar di kalangan masyarakat, namun Ahmad Dahlan tetap melaksanakannya di
samping

juga

memberikan

pengertian-pengertian

kepada

masyarakat.

Selanjutnya, menurut Zuhairini dkk, sampai tahun 1925 Muhammadiyah telah mempunyai 29
Cabang dengan 4.000 orang anggota. Amal usaha bidang sosial yaitu membangun dua buah
klinik dengan 12.000 pasien. Pada Kongres tahun 1929 tercatat 19.000 oanggota
Muhammadiyah. Pada Kongres 1930 yang bertempat di Bukittinggi tercatat 112 Cabang dengan
jumlah anggota 24.000 orang. Pada tahun 1935 meningkat menjadi 43.000 dengan 710 Cabang,
dan pada tahun 1938 jumlah Cabang menjadi 852 dengan 250.000 anggota. Jumlah mesjid dan
langgar 834, perpustakaan Jumlah muballigh atau propagandis 5.516 laki-laki dan 2.114 wanita.
Dari data di atas dapat dipahami bahwa, meskipun Muhammadiyah dan bangsa Indonesia
berada pada masa penjajahan dengan segala tekanan-tekanan pihak penjajah dan kaum
14

tradisional , namun karena missi Muhammadiyah merupakan kebutuhan masyarakat dan


ditambah

lagi

Muhammadiyah,

dengan

kegesitan

Muhammadiyah

para
tetap

pemimpin
juga

eksis

dan
dan

anggotanya
berperan

mengembangkan
pada

masa

ini.

Selanjutnya, sampai tahun 1967 yaitu akhir masa Orde Lama amal usaha Muhammadiyah bidang
sosial kemasyarakatan, melalui Majelis Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) telah mendirikan
rumah sakit, poliklinik, Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak, Rumah Sakit 9 buah, BKIA dan
Poliklinik 50 buah, Panti Asuhan dan rumah miskin 200 buah, jumlah 259 buah.
Dari data di atas, dapat disimpulkan, walaupun Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berada
dalam penjajahan Belanda, Jepang dan awal kemerdekaan dengan segala tantangannya, namun
Muhamadiyah tetap berperan dan berkiprah membangun bangsa dan umat Islam. Pada masa
penjajahan kolonial Belanda, gerakan Muhammadiyah tidak senantiasa berjalan mulus,
Muhammadiyah dicurigai, muballigh-muballigh Muhammadiyah ada yang dilarang memberikan
pengajian. Di zaman Jepang, pimpinan Muhammadiyah dan warganya bergumul dengan
kebijakan Jepang yang mengerahkan bangsa Indonesia untuk membela kepentingan Jepang dan
turut bersama Jepang melawan sekutu. Pada awal masa kemerdekaan sampai tahun 1955,
Muhammadiyah beserta bangsa Indonesia terkosentrasi dengan perbaikan sosial dan ekonomi
yang sudah morat marit. Demikian pula pada masa demokrasi terpimpin dengan segala tekanan
pemerintah orde lama agaknya amat sulit menggambarkan kenapa Muhamadiyah masih tetap
hidup dan berjuang menyampaikan misi Islam, dan masih tetapj bertambah jumlah amal
usahanya.
Pada masa Orde Baru dan Reformasi, Muhammadiyah menjalani kehidupan yang amat
sulit, karena Muhammadiyah terombang ambing oleh suasana politik yang direkayasa oleh
pemerintah seperti kebebasan berpolitik dibatasi, penyatuan Parmusi yang didirikan oleh
15

Muhammadiyah menjadi Partai Persatuan Pembangunan (P3), kemudeian harus menerima


Pancasila sebagai satu-satunya azas, maka pimpinan Muhammadiyah pada seluruh jajaran
Muhammadiyah terfokus pemikirannya kepada masalah politik. Namun, pada tingkat Nasional,
Wilayah, Daerah, Cabang dan Ranting Muhammadiyah tetap bergerak, berperan dan berkiprah
melaksanakan misinya yaitu membangun kehidupan beragama berbangsa dan bernegara dengan
mengembangkan amal usaha di bidang sosial kemasyarakatan dan pendidikan. Perkembangan
Muhammadiyah pada masa ini terlihat sebagai berikut :
1. Jaringan Kepemimpinan/Struktural Muhammadiyah.
Jaringan kepemimpinan/Struktural Muhammadiyah pada era Orde Baru dapat dilihat data
laporan Muktamar tahun 2000, Pimpinan Wilayah 26 Propinsi, Pimpinan Daerah 295, Pimpinan
Cabang 2461, dan Pimpinan Ranting 6098. Dan pada tahun 2005 Pimpinan Wilayah, 30 propinsi
, Pimpinan Daerah 375 kabupaten dan Kota, Pimpinan Cabang 2648 dan Pimpinan Ranting
6721.
Struktur Kepemimpinan Muhammadiyah untuk Pusat pada era Orde Baru terdiri, Ketua,
dan beberapa Wakil Ketua, Sekretaris dan beberapa Wakil Sekretaris, Bendahara dan Wakil
Bendahara. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang jabatan Ketua berganti nama
dengan Ketua Umum. Struktur Pimpinan ini dilengkapi dengan Badan Pembantu Pimpinan yang
disebut dengan Majelis, Badan dan Lembaga yaitu; Majelis Tarjih, Majelis Tabligh, Mejelis
Pendidikan dan Kebudayaan, Majelis Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) sekarang Majelis
Pembina Kesejahteraan sosial (MPKS), Majelis Ekonomi, Majelis Wakaf dan Kehartabendaan,
Majelis Pustaka, Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembang (Diktilitbang).
Dalam perkembangan selanjutnya, pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta 1993,

16

Majelis-Majelis tersebut dikembangkan menjadi, Majelis Pemdidikan dan Kebudayaan dibagi


menjadi dua; Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Majelis Kebudayaan. Majelis
Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) dibagi menjadi dua, Majelis Pembina kesejahteraan Sosial
dan Majelis Pembina Kesehatan, Majelis Diktilitbang dibagi menjadi Majelis Pendidikan Tinggi
dan

Lembaga

Pengkajian

dan

Pengembangan

(LPP).

Lembaga yang bersifat penyempurnaan, baik dengan nama Lembaga ataupun dengan nama
Badan antara lain; Badan Pembina Kader (BPK), Badan Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri,
Badan Perencanaan dan Evaluasi (BPE), Lembaga Dakwah Khusus (LDK), Lembaga Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (LIPTEK), Lembaga Pengembangan Masyarakat dan Sumber Daya
Manusia (LPMSM) dan Lembaga Hikmah dan Studi Kemasyarakatan. Tugas Majelis, Badan dan
Lembaga adalah sebagai pembantu Pimpinan dalam mengatur dan mengkoordinasikan kegiatan
sesuai dengan bidang kewenangannya. Adapun struktur organisasi pada tingkat Wilayah,
Daerah, Cabang dan Ranting, mengikuti pola struktur Pimpinan Pusat tetapi disesuaikan dengan
kondisi

dan

kebutuhan

wilayah

dan

daerah

setempat.

Di samping Majelis, Badan dan Lembaga, terdapat organisasi Otonom, yaitu organisasi yang
bernaung di bawah organisasi induk yang diberi kewenangan untuk mengatur rumah tangganya
sendiri. Organisasi Otonom tersebut adalah, Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiah, Pemuda
Muhammadiyah, Ikatan Remaja Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Tapat
Suci Putra Muhammadiyah. Keempat organisasi otonom Muhammadiyah yaitu NA, Pemuda
Muhammadiyah, IRM dan IMM termasuk kelompok Angkatan Muda Muhammdiyah (AMM).
Amal usaha Muhammadiyah bidang sosial dan ekonomi terlihat melalui data berikut :
Rumah Sakit, Balai Kesehatan, Poliklinik 312 buah
Panti Asuhan dan Santunan 240 buah
17

Bank Perkreditan Rakyat 19 buah


Baitut Tamwil Muhammadiyah (BMT) 190 buah
Koperasi Warga Muhammadiyah 808.buah
BUMM berupa PT 19 buah
Dari data di atas agak sulit juga membayangkan, begitu hebatnya tantangan yang
dihadapi oleh Muhammadiyah, namun dia masih tetap melaksanakan missinya. Hal ini
sebagaimana ditunjukkan oleh data kuantitatif, berupa amal usaha Muhammadiyah seperti
mendirikan panti asuhan, rumah sakit, balai kesehatan dan poliklinik, bank perkreditan rakyat,
Baituttamwil Muhammadiyah, koperasi dan dan perusahan-perusahan terbatas (PT) yang
bernaung

di

bawah

Badan

Usaha

18

Milik

Muhammadiyah

(BUMM).

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan

sebenarnya merupakan hasil telaah dan pemahaman beliau terhadap ajaran Islam setelah belajar
agama Islam di Mekkah, dan mendapat pencerahan dan inspirasi dari kitab-kitab ulama modernis
seperti
Ibnu Qoyyim, Ibnu Taimiyah, Rasyid Ridho, Syekh Jamaluddin Al-Afghani.. Disamping
itu, juga sebagai reaksi terhadap kondisi kehidupan sosial bangsa dan sosial keagamaan kaum
muslimin di Indonesia yang pada waktu itu meringkuk di bawah penjajahan kolonial Belanda
dan penjajahan pemikiran yang ditandai dengan meraja lelanya perbuatan syirik, takhyul, bidah
dan

khurafat

dan

dhidup

dalam

kemiskinan,

kemelaratan

dan

kebodohan.

Berdasarkan kondsisi sosial tersebut, Ahmad Dahlan melihat faktor penyebab kemunduran
bangsa Indonesia, khususnya umat Islam adalah kebodohan dan keterbelakangan dalam
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi moderen dan pemahaman ajaran Islam yang sempit
yang hanya memperhatikan urusan ibadah saja dan kadangkala tidak sejalan pula dengan ajaran
Al-Qur an dan Sunnah. Untuk membebaskan dan menyelamatkan bangsa Indonesia dan umat
Islam dari berbagai belenggu penjajajahan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan
Muhammadiyah dan memusatkan kegiatannya pada bidang sosial dan pendidikan. Langkah ini di
ambil, karena menurut Ahmad Dahlan bangsa Indonesia tidak akan bisa dibebaskan dari
berbagai belenggu penjajajahan tanpa ditingkatkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan, baik

19

bidang agama maupun pendidikan di samping meningkatkan kesadaran berbangsa dan


bernegara.
Perkembangan amal usaha Muhammadiyah bidang sosial antara lain, mendirikan panti
asuhan dan asuhan keluarga, mendirikan poliklinik, balai kesehatan dan rumah sakit. Bidang
ekonomi, Muhammadiyah mendirikan Baituttamwil, koperasi, perusahan-perusahan terbatas
(PT)

dan

di

bidang

ibadah,

Muhammdiyah

mendirikan

mesjid

dan

mushalla.

Guna meningkatkan ilmu pengetahuan, kesadaran berbangsa dan bernegara dan beragama
Ahmad Dahlan mendirikan madrasah Ibtidaiyah yang dikelolanya secara moderen yaitu dengan
mengintegrasikan pendidikan agama dan umum yang pada waktu itu, dunia pendidikan ditandai
dengan sistem dikotomis, yaitu memisahkan pendidikan agama dengan pendidikan umum.
Demikian pula pengelolaannya yang dilaksanakan secara profesional dan moderen dengan
mencontoh sistem pengelolaan sekolah Belanda.
Menurut Ahmad Dahlan, landasan pendidikan Islam adalah Al-Qur an dan Sunnah dan
tujuannya harus sesuai menurut penciptaan manusia yang tertera dalam Al-Qur an dan sunnah
yaitu membentuk manusia sebagai hamba Allah dan Khalifah Allah di muka bumi. Untuk itu,
segala potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia harus dikembangkan melalui sarana
pendidikan.
Untuk tercapainya tujuan tersebut, maka materi pendidikan harus mengacu kepada tujuan
pendidikan yaitu menjadi hamba dan Khalifah Allah di muka bumi. Untuk itu, diperlukan materi
pendidikan agama dan pendidikan umum sekaligus. Kemudian, materi yang berkaitan dengan
kepribadian seperti keimanan dan pembentukan akhlak yang mulia. Karena menurut Ahmad
Dahlan tugas sebagai kahalifah Allah yaitu memakmurkan alam semesta diperlukan pengetahuan

20

umum

dan

agama,

juga

dengan

kepribadian

yang tinggi

yaitu

berakhlak

mulia.

Mengenai pengelolaan pendidikan, Ahmad Dahlan menginginkan pengelolaan pendidikan Islam


secara modern dan profesional, sehingga pendidikan yang dilaksanakan mampu memenuhi
kebutuhan peserta didik menghadapi dinamika zamannya. Untuk itu, pendidikan Islam perlu
membuka diri, inovatif, dan progresif.
Adapun pembaharuan bidang teknik penyelenggaraan, yang dilakukan meliputi metode,
alat dan sarana pengajaran, organisasi sekolah serta sistem evaluasi. Bentuk pembaharuan teknis
ini diambil dari sestem pendidikan moderen yaitu mengelola pendidikan dengan berdasarkan
ukuran-ukuran ilmiah dan rasional serta menjauhkan diri dari pengaruh tradisi yang tidak
menguntungkan. Pembaharuan tersebut seperti memadukan pendidikan agama dan pendidikan
umum..
Amal usaha Muhammadiyah bidang pendidikan antara lain, mendirikan sekolah Taman
Kanak-Kanak, Sekolah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Pondok Pesantren,
SMP, SMA, politeknik Perguruan Tinggi. Dan amal usaha Muhammadiyah sosial, dan ekonomi,
Muhammadiyah mendirikan

21

DAFTAR PUSTAKA

Din Syamsuddin (Ed), Muhammadiyah, Kini & Esok, (Jakarta : Panjimas, 1990
Edi Riyanto, dkk (Ed) Partai Politik Era Reformasi, Jakarta : Abadi, 1998
Mushtafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, Muhammadiyah Sebagai Gera- kan Islam,
Dalam Perspektif Historis dan Idilogis, Yogyakarta, 2000.
M. Yunan Yusuf, dkk. Ensiklopedi Muhammadiyah, Jakarta : PP. Muhammadiyah & Grafindo
Persada, 2005
Mulkham, Abdul Munir, Pemikiran, K.H. Ahmad Dahlan, dan Muhammadiyah Da- lam
Perspektif Perubahan Sosial, Jakarta : Bumi Aksara, 1990.
Noer, Deliar,Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta : LP3ES, 1985.
Nata, Abuddin, Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Grafindo
Persada, 2003
Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, Mengenal Tokoh
Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia, Jakarta: Quantum Teaching, 2005
Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, Potret Timur Tengah Era
Awal dan Indonesia, Jakarta : Quantum Teaching, 2005
Sahlan Rosidi, Kemuhammadiyaan Untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Jilid I, Solo :
Mutiara, 1982

22