Anda di halaman 1dari 5

Pilihan 1

I. Kewajiban Pemerintah Pada Penanganan Kekerasan Dalam Rumah tangga


Kewajiban pemerintah pada penanganan kekerasan dalam rumah tangga adalah
sebagai berikut :
1. Merumuskan kebijakan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.
2. Menyelenggarakan komnikasi, informasi, dan edukasi tentang kekerasa
dalam rumah tangga.
3. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitif gender dan isu
kekerasan dalam rumah tangga serta menetapkan standar dan akreditasi
pelayanan yang sensitif gender.
J. Peran Perawat Pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Berdasarkan berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia , patut diakuai
seorang perawat baik dalam praktik perorangan yang dilaksanakan maupun sebagai
perawat yang bekerja di pusat kesehatan masyarakat mempunyai kesempatan dan
dituntut untuk memberikan pelayanan yang berkualitas bagi kliennya. Seorang
perawat diharapkan mampu menerapkan pendekatan keperawatan dengan melakukan
tindakan pencegahan dan kesehatan masyarakat pada praktik yang dilakukannya
terhadap klien dan keluarganya. Untuk itu perilaku perawat sebagai perawat yang
bertanggung jawab dengan mendampingi keluarga agar menjadi keluarga yang sehat
merupakan salah satu upaya yang dapat dipandang ikut memberikan kontribusi pada
upaya kesehatan bagi keluarga dan masyarakat.
Perawat puskesmas yang jumlahnya cukup besar di daerah perkotaan dapat
memberikan bantuan yang bermakna bagi kesehatan keluarga dan masyarakat yang
6

dilayaninya dan lebih jauh lagi dapat diharapkan ikut mengatasi masalah kesehatan
perkotaan di tingkat keluarga dan perorangan. Selain itu bagi perawat puskesmas
prinsip pencegahan dan upaya perumusan masalah, identifikasi faktor resiko dan
protektif, serta melakukan intervensi dan perluasan intervensi merupakan siklus
kegiatan yang mencakup dan mengisi program kesehatan masyarakat yang
dikelolanya. Secara umum peran perawat dalam kasus KDRT di antaranya adalah
sebagai berikut :
1. Memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesi
2. Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi
korban
3. Memberikan informasi

mengenai

hak-hak

korban untuk

mendapatkan

perlindungan dari kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari


pengadilan.
4. Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif (ruang
pelayanan khusus).
5. Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban
dengan pihak kepolisian, dinas sosial, serta lembaga sosial yang dibutuhkan
korban.
6. Sosialisasi Undang-Undang KDRT kepada keluarga dan masyarakat.

Pilihan ke 2
A. PERAN PERAWAT
1.

Perawat sebagai Educator

Disini perawat berperan memberikan pendidikan kepada klien tentang apa


yang dimaksud dengan KDRT dan mensosialisasikan undang-undang
KDRT baik kepada klien ataupun masyarakat disekitar.
2.

Perawat sebagai Collaborator


Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada
korban dengan pihak kepolisian, dinas sosial, relawan pendamping, dan
pembimbing rohani (UU No 23 tahun 2004 Pasal 17).

3.

Perawat sebagai Care Giver


Perawat sebagai tenaga kesehatan wajib memeriksa korban sesuai dengan
standar profesinya. Selain itu, perawat memberikan perawatan kepada
korban, mengadakan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa
aman bagi korban, serta memulihkan dan merehabilitasi kesehatan korban
(UU No 23 tahun 2004 Pasal 40).

4.

Perawat sebagai advocator


Bagi klien perawat juga bisa memberikan informasi mengenai hak-hak
korban untuk mendapatkan perlindungan dari kepolisian dan penetapan
perintah perlindungan dari pengadilan.

Seorang perawat diharapkan mampu menerapkan pendekatan keperawatan


dengan melakukan tindakan pencegahan dan kesehatan masyarakat pada praktik
yang dilakukan terhadap klien dan keluarganya. Perawat puskesmas yang
jumlahnya cukup besar di daerah perkotaan dapat memberikan bantuan yang
bermakna bagi kesehatan keluarga dan masyarakat yang dilayaninya yang lebih
jauh lagi dapat diharapkan ikut mengatasi masalah kesehatan perkotaan di
tingkat keluarga dan perorangan. Secara umum, peran perawat dalam kasus
KDRT di antaranya sebagai berikut:

Memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesi (anjurkan segera


lakukan pemeriksaan visum).

Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi


korban.

Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan


perlindungan dari kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari
pengadilan.

Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif (ruang


Pelayanan Khusus).

Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada


korban dengan pihak kepolisian, dinas sosial, serta lembaga sosial yang
dibutuhkan korban.

Sosialisasi Undang-Undang KDRT kepada keluarga dan masyarakat.


KEWAJIBAN PEMERINTAH DAN MASYARAKAT
Pasal 11

Pemerintah bertanggung jawab dalam upaya pencegahan kekerasan dalam rumah


tangga.
Pasal 12
(1) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Pemerintah
:
a. merumuskan kebijakan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga;
b. menyelenggarakan komunikasi, informasi, dan edukasi tentang kekerasan
dalam rumah tangga;
c. menyelenggarakan sosialisasi dan advokasi tentang kekerasan dalam rumah
tangga; dan
d. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitif gender dan isu kekerasan
dalam rumah tangga serta menetapkan standar dan akreditasi pelayanan yang
sensitif gender.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Menteri.
(3) Menteri dapat melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Pasal 13
Untuk penyelenggaraan pelayanan terhadap korban, pemerintah dan pemerintah daerah
sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing dapat melakukan upaya :
a. penyediaan ruang pelayanan khusus di kantor kepolisian;
b. penyediaan aparat, tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan pembimbing rohani;
9

c. pembuatan dan pengembangan sistem dan mekanisme kerja sama program


pelayanan yang melibatkan pihak yang mudah diakses oleh korban; dan
d. memberikan perlindungan bagi pendamping, saksi, keluarga, dan teman korban.
Pasal 14
Untuk menyelenggarakan upaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, pemerintah
dan pemerintah daerah sesuai dengan fungsi dan tugas masingmasing, dapat melakukan
kerja sama dengan masyarakat atau lembaga sosial lainnya.
Pasal 15
Setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam
rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk
:
a. mencegah berlangsungnya tindak pidana;
b. memberikan perlindungan kepada korban;
c. memberikan pertolongan darurat; dan
d. membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan.

10