Anda di halaman 1dari 46

Kriteria Perencanaan

Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

KRITERIA PERENCANAAN
Daftar isi
2.1.

2.2.

2.3.

Saluran .....................................................................................................II
2.1.1. Kapasitas Rencana .......................................................................II
2.1.2. Kriteria Hidrolis ...........................................................................II
Bangunan Pelengkap ...............................................................................II
2.2.1. Bangunan Bagi dan Sadap ...........................................................II
2.2.2. Bangunan Pengatur Tinggi Muka Air ...........................................II
2.2.3. Bangunan Pengukur Debit ..........................................................II
2.2.4. Gorong-gorong .............................................................................II
2.2.5. Talang ..........................................................................................II
2.2.6. Terjun ...........................................................................................II
2.2.7. Jembatan ......................................................................................II
2.2.8. Siphon ..........................................................................................II
Bangunan Utama (Bendung tetap) ..........................................................II
2.3.1. Umum ..........................................................................................II
2.3.2. Lebar Bendung ............................................................................II
2.3.3. Perhitungan Hirolis Debit Limpasan Bendung ...........................II

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 1

1
1
3
18
18
21
26
32
36
38
41
43
15
15
15
17

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
2.1.

KRITERIA PERENCANAAN SALURAN

2.1.1. Kapasitas Rencana


a. Debit Rencana
C x NFR x A
Q=

Ax a

di mana :
Q

= debit rencana (l/det atau m3/dt)

= luas area yang akan disuplai air (ha).

NFR = kebutuhan bersih air per satuan luas (l/dt.ha)


C

= koefisien rotasi pemberian air (tidak ada sistem golongan)

= efisiensi

= kebutuhan air rencana (l/dt/ha}

b. Kebutuhan air
Kebutuhan air ditentukan berdasarkan jenis peruntukannya, untuk kawasan
sawah dihitung dengan memperkirakan besarnya air yang dibutuhkan tanaman
misalkan 1 sampai 2 lt/dt/ha. Untuk kawasan industri dihitung berdasarkan
satuan luas kebutuhan misalkan sekitar 2 5lt/dt/ha. Untuk suplai air tanah
dapat diperkirakan berdasarkan kepadatan penduduk sekitar 1-2 l/d/ha.
c. Efesiensi
Untuk

tujuan-tujuan perencanaan,

dianggap

bahwa

seperempat

sampai

sepertiga dari jumlah air yang diambil akan hilang sebelum air itu sampai di
lokasi areal. Kehilangan akibat evaporasi dan perembesan umumnya kecil saja
jika dibandingkan dengan jumlah kehilangan akibat kegiatan eksploitasi.
Pada umumnya kehilangan air di jalan dapat dibagi - bagi sebagai berikut :
Kehilangan air di jaringan tersier

: 10.26 %

Kehilangan air di jaringan sekunder

: 3.55 %

Kehilangan air di jaringan primer

: 12.93 %

Angka ini tidak mengikat, tergantung dari hasil penelitian masing-masing


jaringan irigasi, bila sudah ada.
Perhitungan Debit Rencana
Debit Rencana Saluran Suplesi
Besarnya debit rencana dalam penentuan kapasitas saluran suplesi digunakan
dasar sebagai berikut :
Saluran Suplesi Q = 1,33 x 1,20 x A x q (l/dt/ha)
di mana :
Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 2

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Q = Debit rencana (l/dt)
q

= Satuan kebutuhan air areal terhitung pada pintu bangunan bagi (l/dt/ha)

= luas areal yang diairi (ha)

Sedang untuk menentukan besarnya debit di tiap-tiap ruas saluran suplesinya


ditetapkan sebagai berikut :
Jumlah debit pada pintu-pintu sadap/corongan dikalikan dengan faktor efisiensi
( = 1,15, angka ini tergantung dari hasil penelitian).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut ini :

Keterangan :
A,B,C,D,E

Nama Areal

a,b,c,d,e

Luas Areal

Qa, Qb, Qc, Qd, Qe

Debit rencana di pintu sadap


1,2~ x Q x luas petak tersier

Q1, Q2, Q3

Debit rencana di masing-masing ruas saluran

Efisiensi secara keseluruhan (total) dihitung sebagai berikut :


Efisiensi jaringan pembagi (et) x efisiensi jaringan suplesi (es).

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 3

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Tabel 2.1. Sistem Kebutuhan Air
Tingkat

Kebutuhan Air

Areal

Req

(kebutuhan bersih air di areal)

Petak tersier

TOR

(kebutuhan air di bangunan sadap)

Satuan
(l/dt/ha)

Neq x luas daerah x 1/es

Petak
Sekunder

SOR

(kebutuhan

air

(l/dt)
di

bangunan

sadap (l/dt)atau

sekunder)
Bendung

TOR x 1/es

(m3/dt)

DR (kebutuhan diversi)

(m3/dt)

NOR sisi kiri dan NOR sisi kanan

2.1.2. Kriteria Hidrolis


a. Rumus Aliran
Untuk perencanaan ruas, aliran saluran dianggap sebagai aliran tetap, dan untuk
itu dipergunakan rumus Strickler.
V

= k . R2/3 .I1/2
A

=
P

= (b+mh)h

= b + 2h m3 + 1

Q = V.A
di mana :
Q = debit saluran, m3/dt
V

= kecepatan aliran, m/dt

= potongan melintang aliran, m2

= jari-jari hidrolis, m

= keliling basah, m

= lebar dasar, m

= tinggi air, m

= kemiringan energi (kemiringan saluran)

= koefisien kekasaran Strickler, m1/3/dt = 1/n ( n = nilai manning)

m = kemiringan talud (1 vertikal : m horisontal)

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 4

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Gambar 2.1. Parameter Potongan Melintang

b. Koefisien Kekasaran Strickler


Koefisien kekasaran tergantung kepada faktor-faktor berikut :
-

Kekasaran permukaan.

ketidak teraturan saluran.

trace.

vegetasi (tetumbuhan).

sedimen.
Tabel 2.2. Harga K (Koefisien Kekasaran) Untuk Berbagai Saluran
Saluran

Keterangan

Tanah

Q > 10

45

5 < Q < 10

42,50

1<Q<5

40

1 > Q dan saluran tersier


Pasangan pada satu sisi

35
42

Pasangan pada dua sisi

45

Pasangan pada semua sisi


Seluruh permukaan

50
45

Pada dua sisi

42

Pada satu sisi


Seluruh permukaan

40
70

Pada dua sisi

50

Pada satu sisi

45

Pasangan batu kali

Pasangan batu kosong

Beton

c. Kecepatan Rencana
Kecepatan aliran rencana disesuaikan dengan jenis tanah di mana saluran
dibangun. Kecepatan rencana sangat erat hubungannya dengan kemiringan.
Dengan kemiringan yang makin besar kecepatannya juga makin besar.
Perencana cenderung membuat kecepatan rencana yang lebih kecil, tetapi kita
harus melihat apakah dengan kecepatan yang makin besar tuntutan elevasi air
rencana masih dapat dipenuhi, jika masih harus dilihat apakah tidak terjadi
Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 5

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
gerusan dan apabila terjadi gerusan apakah kita perlu membuat saluran dengan
perkuatan.
Demikian juga apabila elevasi air rencana tidak terpenuhi apakah. dengan
memperkecil kecepatan rencana tidak mengakibatkan sedimentasi di saluran.
Tabel. 2.3. Kecepatan Aliran Untuk Berbagai Bahan Konstruksi
Bahan Konstruksi

V maks, m/dt

Tanah

0,60

Pasangan batu

2,00

Beton

3,00

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 6

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Gambar 2.2a. Kecepatan-kecepatan Dasar Untuk Tanah Koheran (SCS)

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 7

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Gambar 2.2b. Faktor-faktor Koreksi Terhadap Kecepatan Dasar (SCS)

Vmaks = Vb x A x B x C
Di mana :
Vmaks

: Kecepatan maksimum yang diizinkan, m/dt

Vb

: Kecepatan dasar, m/dt

: faktor koreksi untuk angka pori permukaan saluran

: faktor koreksi untuk kedalaman air

: faktor koreksi untuk lengkung

Dan kecepatan dasar yang diizinkan Vba = Vh x A

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 8

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 9

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
d. Kemiringan Saluran

Kemiringan Memanjang Saluran.


Kemiringan memanjang ditentukan terutama oleh keadaan topografi,
kemiringan saluran akan sebanyak mungkin mengikuti garis muka tanah pada
trase yang dipilih. Agar diperhatikan dalam menentukan kemiringan, tidak
mengakibatkan erosi maupun sedimentasi.
Kemiringan memanjang saluran cenderung diambil yang lebih besar sehingga
diperoleh Dimensi saluran sekecil mungkin.

Kemiringan Talud Saluran.


Untuk menekan biaya pembebasan tanah dan penggalian/penimbunan, talud
saluran direncanakan securam mungkin. Bahan tanah, kedalaman saluran
dan terjadinya rembesan akan menentukan kemiringan maksimum untuk
talud yang stabil.
Tabel 2.5a. Kemiringan Minimum Talud Untuk Berbagai Bahan Tanah
Bahan Tanah
Batu

Pt

Gambut kenyal
Lempung kenyal, geluh"; tanah lus
Lempung pasiran, tanah pasiran kohesif
Pasir lanauan

Kisaran Kemiringan
< 0,25
1-2

CL, CH, MH
SC, SM
SM

1-2
1,5 - 2,5
2-3

Pt

Gambut lunak
*) Geluh :

Simbol

3-4

(loam) adalah campuran pasir. lempung dan lumpur yang kira-kira sama
banyaknya.

Tabel 2.5b. Kemiringan Talud Minimum Untuk Saluran Yang Dipadatkan


dengan Baik.
Kedalaman air + tinggi jagaan D (m)
D < 1,0
1,0 < D < 2,0
D > 2,0

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 10

Kemiringan Minimum Talud


1 : 1,0
1 : 1,5
1 : 2,0

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Tabel 2.5c. Harga-harga Kemiringan Talud Untuk Saluran Pasangan.


Jenis Tanah

h < 0,75 m

0,75 < h 1,5 m

tanah pasiran kohesif

Tanah pasiran lepas

1,25

Geluh pasiran, lempung berpori

1,5

1,25

1,5

Lempung pasiran,

Tanah gambut lunak

Khusus saluran-saluran yang lebih besar, stabilitas talud yang diberi


pasangan harus diperiksa agar tidak terjadi gelincir dan sebagainya.
Tekanan air dari belakang pasangan merupakan faktor penting dalam
keseimbangan ini.
e. Muka Air Rencana
Tinggi muka air rencana dalam jaringan utama didasarkan pada tinggi muka air
yang diperlukan disawah-sawah yang diairi.
Untuk menghitungnya adalah pertama-tama menghitung tinggi muka air yang
diperlukan di bangunan sadap tersier, yaitu seluruh kehilangan di saluran
kwarter dan tersier serta di bangunan-bangunan dan tinggi penggenangan untuk
sawah tertinggi yang akan diberi air dalam petak tersier.
Ketinggian ini ditambah lagi dengan kehilangan tinggi energi dibangunan sadap
tersier dan longgaran (persediaan) untuk variasi muka air akibat eksploitasi
jaringan utama pada tinggi muka air parsial (sebagian).

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 11

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Gambar 2.3. Tinggi Bangunan Sadap Tersier yang Diperlukan
P

= A+ a + b + d + e + f + g + h + Z

di mana :
P

= muka air di saluran sekunder

= elevasi tertinggi di Areal

= ketebalan lapisan air di areal

= kehilangan tinggi energi di saluran kuarter ke areal


= 5 cm

= kehilangan tinggi air di boks bagi kuarter


= 5 cm/boks

= kehilangan tinggi energi selama pengaliran di saluran irigasi, I x L

= kehilangan tinggi energi di boks bagi tersier,


= 10 cm

= kehilangan tinggi energi di gorong-gorong


= 5 cm

= kehilangan tinggi energi dibangunan sadap tersier

= variasi tinggi muka air, 1,18 h100 (h100 = kedalaman air pada muka air
normal l00 % )

= kehilangan tinggi energi di bangunan - bangunan tersier yang lain.

Apabila dengan prosedur ini menyebabkan muka air jaringan utama naik terlalu
tinggi, maka pengurangan tinggi muka air tersier dapat dipertimbangkan.
Ekploitasi muka air parsial sangat umum terjadi di jaringan di Indonesia.
Kebutuhan air pada debit rencana berlangsung sebentar saja di musim kemarau.
Disamping itu, tersedianya air di sungai tidak akan selamanya cukup untuk
mengeksploitasi jaringan sesuai debit rencana.
Longgaran untuk variasi muka air h ditetapkan 0,18 h100.
0,82 h100 adalah kedalaman air perkiraan pada 70 persen dari Q rencana.
f. Tinggi Jagaan
Tinggi jagaan berguna untuk :
- Menaikkan muka air di atas tinggi muka air maksimum.
- Mencegah kerusakan tanggul saluran.
Meningginya muka air sampai di atas tinggi yang telah direncanakan bisa
disebabkan oleh penutupan pintu secara tiba-tiba disebelah hilir, variasi ini akan
bertambah dengan membesarnya debit.
Meningginya muka air dapat pula diakibatkan pengaliran air buangan kedalam. ,
saluran.

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 12

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Tabel 2.6. Tinggi Jagaan Untuk Saluran


Debit (m3/dt)

Tanggul F (m)

Pasangan F1 (m)

< 0,5

0,40

0,20

0,5 1,5

0,50

0,20

1,5 5,0

0,60

0,25

0,5 10,0

0,75

0,30

10,0 15,0

0,85

0,40

> 15,0

1,00

0,50

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 13

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Gambar 2.4. Tipe-Tipe Pasangan Saluran

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 14

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
g. Lengkung Saluran
Lengkung yang diizinkan untuk saluran tanah bergantung kepada :
-

Ukuran dan kapasitas saluran

Jenis tanah

Kecepatan aliran

Jari-jari minimum lengkung seperti yang diukur pada as harus diambil sekurangkurangnya

8 kali lebar atas pada lebar permukaan air rencana.

Jika lengkung saluran diberi pasangan, maka jari-jari minimumnya dapat


dikurangi. Pasangan semacam ini sebaiknya dipertimbangkan apabila jari-jari
lengkung saluran tanpa pasangan terlalu besar untuk keadaan topografi
setempat.
Panjang pasanaan harus dibuat paling sedikit 4 kali kedalaman air pada tikungan
saluran.
Tabel 2.7. Jari-jari Minimum Lengkung Saluran.
Debit Saluran
Q = rencana

Jari-jari Minimum
8 x lebar atas

Keterangan
Saluran tanah

Q < 0.60 m =/dt

3 x lebar atas

Saluran pasangan

Q > 10 m /dt

7 x lebar atas

Saluran pasangan

h. Lebar Tanggul
Untuk tujuan-tujuan eksploitasi, pemeliharaan dan inspeksi akan diperlukan
tanggul di sepanjang saluran. Peletakan jalan inspeksi diusahakan disisi yang
diairi agar bangunan sadap dapat dicapai secara Iangsung dan usaha penyadapan
liar makin sulit.
Lebar jalan inspeksi dengan perkerasan adalah > 5,0 meter, dengan lebar
perkerasan > 3,0 meter.
Tabel 2.8. Lebar Minimum Tanggul
Tanpa

Dengan

Jalan Inspeksi (m)

Jalan Inspeksi (m)

Q<1

1,00

3,00

1<Q<5

1,50

5,00

5 < Q < 10

2,00

5,00

10 < Q < 15

3,50

5,00

Q < 15

3,50

5,00

Debit Rencana (m3/dt)

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 15

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Gambar 2.5. Tipe-tipe Potongan Melintang Saluran Irigasi

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 16

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
i. Pengempangan Saluran
Kurve pengempangan digunakan untuk menghitung panjang serta elevasi muka
air dan tanggul rencana disepanjang saluran yang terkena pengaruh adanya
pengempangan. Perhitungan yang tepat untuk kurve pengempangan dapat
dikerjakan dengan metode langkah standar (standar step method) bila potongan
melintang kemiringan dan faktor kekerasan saluran ke arah hulu lokasi
bangunan yang terempang cukup jauh.
Perkiraan kurve pengempangan yang cukup akurat dan aman dapat dilihat pada
Gambar 2.6.
z = H . (1 - (x/L))2
Untuk H/a > 1, L = 2 . H/i
Untuk H/a < l, L = (a + H)/i
di mana,
a

= kedalaman air tanpa pengempangan (m)

H = tinggi air berhubung adanya pengempangan (m)


L

= panjang total di mana kurve pengempangan terlihat (m)

= kedalaman air pada jarak x dari bangunan pengempang (m)

= Jarak dari bendung (m)

= Kemiringan saluran (i-Manning)


Gambar 2.6. Kurve Pengempangan

j. Saluran Fungsi Ganda


Desain saluran untuk rehabilitasi, kadang-kadang meliputi saluran-saluran yang
dikenal sebagai saluran fungsi ganda.
Pada saat hujan turun air buangan dari areal tertentu, dari kampung-kampung
terkumpul dan kemungkinan akan masuk ke saluran yang direncanakan. Besar
debit buangan ini mungkin beberapa kali besarnya dari debit rencana saluran
semula yang menyebabkan banjir pendek.
Masalah pokok dalam mempersiapkan desain, adalah membuat identifikasi dan
perhitungan aliran buangan ini.
Untuk saluran yang membawa air buangan, kapasitas saluran harus dicek dengan
debit totalnya yaitu :
Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 17

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Qt = 0,70 . Qi + Qd
di mana :
Qt = Debit Total (banjir), m3/dt
Qi = Debit Rencana untuk suatu kebutuhan, m3/dt
Qd = Debit Kumulatif air buangan yang masuk, m3/dt
Tinggi jagaan minimum yang diberikan untuk aliran Qt adalah :
Tabel 2.9. Tinggi Jagaan Saluran Minimum Untuk Qt

2.2.

Qt (m3/dt)

Tanggul W (m)

Tinggi Jagaan Pasangan A (m)

< 0,50

0,20

0,50 - 1,50

0,30

1,50 - 5,00

0,40

0,05

5,00 - 10,00

0,55

0,10

10,00 - I5,00

0,65

0,20

> 15,00

0,80

0,30

KRITERIA PERENCANAAN BANGUNAN

2.2.1. Bangunan Bagi dan Sadap


a. Bangunan Bagi
Apabila air yang dibawa dibagi dari saluran primer ke saluran sekunder, maka
akan dibuat suatu bangunan yang dapat membagi air secara adil dan merata,
yang dinamakan bangunan bagi.
Untuk itu bangunan bagi perlu dilengkapi dengan pintu-pintu yang dapat
mengatur dan mengukur. Pintu-pintu pengatur dipasang pada saluran yang lebih
besar, sedangkan pintu pengukur dipasang ke arah saluran cabang.

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 18

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Gambar 2.7.Saluran primer dengan bangunan Pengatur dan Sadap ke Saluran


Sekunder

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 19

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
b. Bangunan Sadap

Bangunan Sadap Sekunder


Bangunan sadap sekunder ialah untuk memberi air ke arah saluran sekunder
dan melayani lebih dari satu petak tersier.
Kapasitas bangunan sadap sekunder lebih besar dari 0,250 m3/det.
Ada beberapa tipe bangunan ukur yang dapat dipakai untuk bangunan sadap
sekunder yaitu :
-

Alat ukur Romijn

Pintu sorong dengan bangunan ukur di hilirnya.

Untuk bangunan ukur ada beberapa tipe :

Alat ukur ambang lebar

Alat ukur Tenggorok Panjang

Bangunan Sadap Tersier


Bangunan sadap tersier adalah untuk memberi air ke arah saluran tersier
dan melayani satu areal.
Kapasitas bangunan sadap tersier biasanya kurang dari 0,250 m 3/det. Untuk
bangunan ukur pada bangunan sadap tersier dapat disamakan dengan
bangunan sadap sekunder. Untuk petak tersier yang terlalu kecil dapat
dipakai pipa dan dilengkapi alat penutup.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat Gambar 2.8. Saluran Sekunder dengan
Bangunan Pengatur dan Sadap ke berbagai Arah.

c. Bangunan Bagi / Sadap Proporsional Frontal


Bangunan bagi / sadap proporsional frontal untuk mengatur pemberian air ke
arah saluran sekunder dan tersier secara proporsional tanpa memerlukan pintu
pengatur.
Untuk mengukur pemberian air secara proporsional, dipakai konstruksi ambang
tetap (drempel).

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 20

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Gambar 2.8. Saluran Sekunder dengan Bangunan Pengatur dan Sadap ke
Berbagai Arah

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 21

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
2.2.2. Bangunan Pengatur Tinggi Muka Air
Banyak jaringan saluran irigasi dieksploitasi sedemikian rupa sehingga muka air
di saluran primer dan saluran cabang dapat diatur pada batas-batas tertentu
oleh bangunan-bangunan pengatur. Dalam keadaan eksploitasi demikian, muka
air dalam hubungannya dengan bangunan sadap tetap konstan.
Untuk saluran yang lebarnya lebih besar dari 2 m disarankan memakai kombinasi
beberapa type bangunan pengatur muka air, misalnya :
a. Skot balk dengan pintu bawah
b. Mercu tetap dengan pintu bawah
c. Mercu tetap dengan skot balk
1. Pintu Skot Balk
Dilihat dari segi konstruksi, pintu skot balk merupakan peralatan yang sederhana.
Balok-balok profil segi empat ditempatkan tegak lurus arah aliran, untuk
mengikatnya dibuat sponingan.
Untuk aliran air di atas balok terlalu tinggi (H1/l > 1,5) maka pancaran air yang
melimpah bisa sama sekali terpisah dari mercu skot balk dan pola alirannya akan
menjadi tidak mantap serta sangat sensitif terhadap ketajaman tepi balok bagian
hulu. Juga besarnya air dalam kantong udara di bawah pancaran dan
tenggelamnya pancaran sangat mempengaruhi debit pada skot balk.
Dengan menambah atau mengurangi balok-balok tersebut, maka tinggi muka air
di sebelah hulu dapat diatur. Ketinggian balok yang paling cocok adalah 20 cm.

Tabel 2.13 Standar Balok Sekat


Bentang
b (m)

Ketebalan Balok Sekat


t (m)

Lebar Alur Balok


Sekat
(m)

1,00 - 2,00
2,00 - 3,00

0,10
0,20

0,20
0,25

Rumus :
Q = .b.h
.2.g.z
dimana :
Q = debit yang harus lewat (m3/det)
= koefisien pengaliran (0,80 - 0,90)
b = lebar skot balk (m)
h = tinggi air di atas skot balk (m)
g = percepatan gravitasi (9,80 m/det2)
z = kehilangan tinggi (m)

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 22

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Gambar 2.11. Skot Balk

a. Pintu Sorong
Pintu sorong digunakan karena alasan-alasan tertentu yaitu :
-

Mudah pengoperasiannya

Debit yang dilewatkan bebas (besar kecil)

Ketelitian bukaan tidak terbatas

Dapat melewatkan sedimen dengan baik

Lebih awet dan tidak mudah hilang


Tabel 2.10. Jenis Jenis Standar Pintu Baja
Tipe Pintu

Guna

Jenis
Stang

Jenis
Roda
Gigi

Batasan Dimensi Standar


Lebar
Tinggi
Tinggi
Pintu

Pintu

Rangka

H mm
650

H2 mm
110

Angkat

Boks tersier &

S mm
Maks 500

Sorong 1A

kwarter
Saluran, rangka

Tunggal

300 600 300 800 Maks 280

Sorong 2A

pendek

Tunggal

600 800 300 1000 Maks 3000

Sorong 3A

Saluran, rangka

Tunggal

800 1000 400 1500 Maks 3400

Sorong 4A

pendek

Tunggal

1000 1200 500 2000 Maks 4300

Sorong 5A

Saluran rangka

Ganda B D 1200 1500 600 900 Maks 2620

Sorong 6A

pendek

Ganda C D 1600 2000 800 1300 Maks 3020

Sorong 7A

Saluran rangka

Ganda C D 2100 2500

pendek
Sorong 1B

Gorong 2 , rangka

1000 -

Maks 3820

1700
Tunggal

300 600 300 600 Maks 3500

Tunggal

600 800 600 800 Maks 3700

Tunggal

800 1000 800 1000 Maks 3800

pendek
Sorong 2B
Sorong 3B

Gorong , rangka
pendek
Gorong 2, rangka

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 23

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Tipe Pintu

Guna

Jenis
Stang

Jenis
Roda
Gigi

Batasan Dimensi Standar


Lebar
Tinggi
Tinggi
Pintu

Pintu

Rangka

S mm

H mm

H2 mm

1000 1200

1000

Maks 4000

pendek
Gorong 2 , rangka
Sorong 4B

pendek

Tunggal

1200
Sorong 2C Saluran/dinding

Tunggal

600 800 300 1000 Maks 5500

Tunggal

800 1000 400 1200 Maks 5700

Tunggal

1000 1200 500 - 1500 Maks 6000

penahan, rangka
panjang
Sorong 3C Saluran/dinding
penahan, rangka
panjang
Sorong 4C Saluran/dinding
penahan, rangka
panjang
Keterangan : Tahapan lebar "S" dan tinggi "h" harus kelipatan 100 mm.

Rumus :
Q = .b.h.(2.g.z)
di mana :
Q = debit yang harus lewat (m3/det)
= koefisien pengaliran (0,80-0,90)
b = lebar balok sekat (m)
h = tinggi air di atas balok sekat (m)
g

= percepatan gravitasi (9,80 m/det2)

= kehilangan tinggi (m)

Gambar 2.9. Pintu Sorong

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 24

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Gambar 2.10. Bangunan Pengatur : Pintu Aliran Bawah dengan Mercu Tetap

Tabel 2.11. Perbandingan antara Bangunan-bangunan Pengatur Muka Air

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 25

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

3. Mercu Tetap
Mercu tetap dengan bentuk bulat atau ambang lebar adalah sering dipakai. Pada
mercu dengan ambang lebar jika masih memenuhi H1/L < 1,0 maka dapat
dihitung seperti ketentuan pada bangunan ukur dengan ambang lebar.

Gambar 2.13. Potongan Melintang Mercu Bulat

V12/2g
V1

h1

H1

p1

y
rr

h2

1
1

2-3 H1 maks

V2
p2

Rumus Hidrolis :
Q =
dimana :
Q
=
Cd
=

g
b
H1

=
=
=

Cd 2/3 2/3 . g b . H11,5

debit, m3/det
koefisien debit ambang lebar
- alat ukur ambang lebar Cd : 1,03
- mercu bulat
Cd : 1,48
2
percepatan gravitasi, m/det ( 9,8)
lebar mercu, m
tinggi air di atas mercu, m

Dengan rumus ini diandaikan, bahwa koefisien datang adalah 1,0.

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 26

H2

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Gambar 2.14.
Bentuk-bentuk Mercu Bangunan Pengatur Ambang Tetap yang Lazim
Dipakai
r
r

r
1

P1

L
r

P1

Tabel 2.15. Nilai Banding Bangunan Pengatur

Bangunan Pengatur
Mercu Bulat
Nilai

H1 / r
Cd

=
=

5,0
1,48

Bangunan Pengatur
Ambang Lebar
Nilai banding

Kelebihan bangunan pengatur mercu tetap :


a.
Dapat melewatkan benda-benda terapung
b.
Kuat dan tidak perlu perawatan
c.
Harga relatif murah
d.
Pembuatannya mudah

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 27

H1 / L =

1,0

Cd

1,03

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
2.2.3. Bangunan Pengukur Debit
Agar pengelolaan air irigasi menjadi efektif, maka debit harus diukur dan diatur
pada hulu saluran primer, pada cabang saluran dan pada bangunan sadap tersier.
Ada banyak tipe bangunan ukur tetapi hanya beberapa tipe yang disarankan untuk
dipakai.
Hal ini berhubungan dengan faktor di bawah ini :
-

Kecocokan bangunan untuk keperluan pengukuran debit.

Ketelitian pengukuran di lapangan

Bangunan yang kokoh, sederhana dan ekonomis

Rumus debit sederhana dan teliti

Eksploitasi dan pembacaan papan duga mudah dilakukan

Pemeliharaan sederhana dan mudah

Cocok dengan kondisi setempat dan dapat diterima oleh para petani.

Tabel 2.12. Perbandingan antara bangunan-bangunan pengatur debit yang


umum dipakai.

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 28

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

1. Alat Ukur Ambang Lebar


Bangunan ukur ambang lebar dianjurkan karena bangunan itu kokoh dan mudah
dibuat, serta mempunyai bentuk mercu yang bermacam-macam, bangunan ini
juga punya kelebihan karena mudah disesuaikan dengan bentuk saluran apa
saja.
Karena hubungan tunggal antara tinggi air hulu dan debit, maka besarnya debit
dapat dibaca langsung pada papan duga.
Alat ukur ambang lebar adalah bangunan aliran atas (overflow), untuk ini tinggi
energi hulu lebih kecil dari panjang mercu. Karena pola aliran di atas, alat ukur
ambang lebar dapat ditangani dengan teori hidrolika yang sudah ada sekarang,
maka bangunan ini bisa mempunyai bentuk yang berbeda-beda. sementara
debitnya tetap serupa. Kehilangan tinggi tekan harus diperhitungkan di atas
batas operasi sehingga Z min = 0,50 h.
Gambar 2.11. Alat ukur ambang lebar dengan mulut pemasukan yang
dibulatkan

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 29

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Rumus :
Q = Cd .Cv 2/3 2/3 . g . b . h11,5
Dengan batasan : Z 1/3 H
di mana :
Q

debit yang harus lewat (m3/det)

Cd

koefisien debit

[ 1 2 x (L r) / b ] [ 1 x (L r) / h1 ]

koefisien cepat datang

[ H / H1 ]u atau dapat dicari secara grafis

lebar mercu (m)

percepatan gravitasi (9,81 m/det2)

h1

tinggi air hulu terhadap mercu (m)

tinggi energi hulu terhadap mercu (= h1 + v2 /2g)

panjang mercu (m)

radius konstruksi

koefisien mercu (= 0,005)

kehilangan tinggi energi

koefisien bentuk pelimpah (= 1,5)

kecepatan air datang

Cv

3/2

2. Alat Ukur Romijn


Pintu romijn adalah alat ukur ambang lebar yang bisa digerakkan untuk
mengatur dan mengukur debit di dalam jaringan saluran irigasi. Agar dapat
bergerak, mercunya dibuat dari plat baja dan dipasang di atas pintu sorong.
Pintu ini dihubungkan dengan alat pengangkat.
Kelebihan-kelebihan alat ukur Romijn :
-

Bangunan itu bisa mengukur dan mengatur sekaligus.

Dapat membilas endapan sedimen halus.

Kehilangan tinggi energi relatif kecil.

Ketelitian baik.

Kekurangan-kekurangan alat ukur Romijn :


-

Pembuatan rumit dan cukup mahal.

Bangunan ini membutuhkan muka air yang tinggi di saluran.

Biaya pemeliharaan bangunan itu relatif mahal.

Bangunan ini dapat disalahgunakan dengan jalan membuka pintu bawah.

Bangunan ini peka terhadap fluktuasi muka air di saluran pengarah.

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 30

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Rumus Hidrolis :
Q = Cd .Cv 2/3 2/3 . g . b . h11,5
di mana :
Q = debit yang harus lewat (m3/det)
b = lebar meja Romijn
h = tinggi air di atas meja Romijn
Tabel 2.13. Standar Pintu Ukur Romijn
Tipe

H maks

Lebar meja

Qmax

(m)

Romijn (m)

(l/det)

0,30

0,40

112

100

II

0,30

0,80

224

250

III

0,45

1,20

623

780

Areal yang dapat


diairi

(ha)

3. Alat Ukur Tenggorok Panjang


Prinsipnya mempunyai fungsi yang sama dengan alat ukur ambang lebar, dimana
terdapat aliran yang kritis di bagian kontrol. Aliran ini dipersempit hanya pada
kedua sisinya, sehingga segala sedimen melewatinya.
Bangunan alat ukur ini tepat untuk daerah-daerah datar, dimana kehilangan
tinggi energi harus diambil serendah mungkin. Konstruksinya tanpa ambang
untuk menghindari alasan non teknis, dimana para petani menganggap bahwa
debit akan berkurang dengan adanya ambang.
Kehilangan tinggi energi diambil antara 0,05 m sampai dengan 0,10 m.
Rumus hidrolis :

Q = m x b3 x y 2g x (h-y)
dimana :
m

faktor koefisien pengaliran (0,85)

b3

lebar tenggorok dalam (m)

tinggi muka air di dalam tenggorok (m)

tinggi muka air di hulu tenggorok (m)

1/10 h atau 0,05 sd 0,10 m

jarak penempatan mistar ukur (2 - 3)h

Sedangkan untuk alat ukur tenggorok panjang ukuran kecil (lebar leher antara
0,15 0,45 m), terutama untuk sadap tersier dapat diperiksa Tabel berikut ini
Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 31

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Tabel 2.14. Dimensi Standar untuk Bangunan Alat Ukur Tenggorok Panjang
No.

B2

B3

L2

L3

L4

T2

T3

0,35

0,15

0,10

1,50

0,50

0,50

0,45

0,50

0,50

0,20

0,15

2,00

0,60

0,60

0,50

0,55

0,60

0,25

0,18

2,50

0,70

0,70

0,55

0,60

0,70

0,30

0,20

3,00

0,80

0,80

0,60

0,65

0,85

0,35

0,25

3,50

0,90

0,90

0,65

0,70

0,95

0,40

0,28

4,00

1,00

1,00

0,70

0,80

1,10

0,45

0,30

4,50

1,10

1,10

0,75

0,85

Gambar standar bangunan ukur tenggorok panjang untuk sadap tersier ini dapat
diperiksa pada Gambar 2.12. Alat Ukur Tenggorok Panjang

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 32

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
2.2.4. Gorong-gorong
Ditinjau dari segi hidraulis dapat dibedakan 2 macam gorong - gorong, yaitu :
a. Gorong-gorong yang terisi penuh (tenggelam).
b. Gorong-gorong yang tidak terisi penuh.
Sedang untuk

penampang

gorong-gorong

yang sering digunakan ada 2 macam

yaitu, gorong-gorong bulat dan gorong-gorong persegi.

Gorong-gorong yang Terisi Penuh


Untuk gorong-gorong pendek (L < 20 m).
Kehilangan tinggi energi dihitung dengan rumus :
Q = .A.2.g.z
di mana :
Q = debit (m3/det)
= koefisien debit (lihat tabel di bawah}
A = luas pipa (m2)
G = percepatan gravitasi (m/det2), = 9,8
Z = kehilangan tinggi energi pada gorong-gorong (m)
Tabel 2.15. Harga-harga u dalam gorong-gorong pendek (L < 20 m)
Tinggi dasar di bangunan

Tinggi dasar di bangunan lebih tinggi

sama dengan di saluran

Sisi

dari pada di saluran

Segi empat

0,80

Bulat

0,90

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 33

Ambang

Sisi

Segi empat

Segi empat

0,72

Bulat

Seai empat

0,76

Bulat

Bulat

0, 85

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Gambar 2.13. Perlintasan dengan jalan kecil (Gorong-gorong)

Untuk gorong-gorong panjang (L > 20 m).


Kehilangan tinggi energi dihitung dengan rumus-rumus :
Kehilangan masuk :

Hmasuk =

masuk

. (Va V)2
2.g

Kehilangan keluar :

Hkeluar =

keluar

. (Va V)2
2.g

Kehilangan akibat gesekan :


Hf = i . L
V2

i =

K2 . R4/3
di mana :
V

kecepatan aliran dalam pipa (m/det)

Va

kecepatan aliran dalam saluran m/det)

percepatan gravitasi (m/det2) = 9,8

panjang pipa (m)

kemiringan hidrolis gorong-gorong

koefisien kekasaran strickler

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 34

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
R

jari jari hidrolis (m)


untuk pipa dengan diameter D, maka R = 1/4 D
Harga-harga

masuk

dan

keluar

Gambar.2.14a

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 35

lihat Gambar 2.14a. dan Gambar 2.14b

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Gambar 2.14b.

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 36

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Gorong-gorong yang tidak terisi penuh
Kehilangan tinggi energi dihitung dengan rumus :
-

untuk h1 > 2/3 h


Q = .b.h1. (2.g.z)

untuk h1 < 2/3 h


Q = 0,385.b.h (2.g.z)
di mana :
Q =

~ debit (m3/det)

0,85 - 0,90

lebar gorong-gorong (m)

dalam air depan gorong-gorong (m)

hl =

dalam air di dalam gorong-gorong (m)

kehilangan tinggi energi (m)

2.2.5. Talang
Pengaliran pada talang adalah pengaliran dengan permukaan bebas. Konstruksi
talang yang umum terbuat dari konstruksi beton bertulang, besi atau dari kayu,
bentuknya persegi empat.
Jika dibuat dari besi dapat berbentuk persegi empat, setengah lingkaran ataupun
lingkaran penuh (pipa).
Batasan kecepatan dalam talang :
- kayu atau beton :

V = (1,50 - 2,00) m/det.

- besi

V = (2,50 - 3,00) m/det

Dasar talang harus cukup tinggi dari muka air maksimum sungai atau saluran
pembuang benda-benda kasar yang hanyut di sungai atau saluran pembuang.
Misalnya batang-batang kayu.
Perencanaan hidrolis dipakai rumus :
Kehilangan tinggi energi dihitung dengan rumus-rumus :
Kehilangan masuk :

Hmasuk =

masuk

. (Va V)2
2.g

Kehilangan keluar :

Hkeluar =

keluar

. (Va V)2
2.g

Kehilangan akibat gesekan :


Hf = i . L
i =

V2
K2 . R4/3

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 37

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
di mana :
V

kecepatan aliran dalam pipa (m/det)

Va

kecepatan aliran dalam saluran m/det)

percepatan gravitasi (m/det2) = 9,81

panjang pipa (m)

kemiringan hidrolis gorong-gorong

koefisien kekasaran strickler

jari jari hidrolis (m)


untuk pipa dengan diameter D, maka R = 1/4 D

Harga-harga

masuk

dan

keluar

lihat Gambar 2.17a. dan Gambar 2.17b.

Untuk kayu K = 60
K = 70
K = 80
Potongan melintang bangunan talang ditentukan oleh nilai b/h. Nilai banding antara
1 sampai 3 yang menghasilkan potongan melintang hidrolis yang lebih ekonomis.
Kecepatan aliran direncana agar tidak akan terjadi kecepatan super kritis atau
mendekati kritis, karena aliran cenderung sangat tidak stabil.
Untuk itu dibatasi kemiringan maksimum i = 0,02
Gambar 2.15. Contoh Talang

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 38

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
2.2.6. Terjun
Bangunan terjun yang sering dipakai adalah :
a. Bangunan terjun tegak untuk tinggi kurang dari 1,50 m.
b. Bangunan terjun miring untuk tinggi terjun lebih dari 1,50 m.
Pada DI Colo Barat bangunan terjun yang dipakai adalah :
a. Bangunan Terjun Tegak
Rumus-rumus yang digunakan untuk perencanaan hidrolis adalah sebagai berikut :
-

Lebar bukaan efektif


B

Q
1,71 . m . H13/2

H1 =

h1 + V12
2.g

di mana :
B

= Lebar bukaan efektif (m)

= Debit (m3/det)

m = Koefisien (m = 1,03)
H1 = Tinggi garis energi di hulu (m)
H1 = Tinggi muka air di hulu (m)
V1 = Kecepatan air di saiuran hulu (m/det)
-

Tinggi Ambang hilir


a

= 1/2 . dc

dc =

Q2
g . B2

di mana :
a

= Tinggi ambang di hilir (m)

dc = Kedalaman air kritis (m)


Q

= Debit (m3/det)

= Lebar bukaan (m)

= Percepatan gravitasi (= 9,8 m/det2)

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 39

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Panjang Olakan.
L

= C1 . (z . dc) + 0,25

C1 = 2,5 + 1,10 . dc + 0,7 .


z

dc
z

di mana :
L

= Panjang kolam olak (m)

= Tinggi terjun (m)

Gambar 2.16. Terjun Tegak

h1

hc

h2
a

2.2.7. Jembatan
1. Jembatan Kendaraan
-

Untuk jembatan dengan bentang lebih besar dari 6,50 m dihitung dengan
memakai standart pembebanan seperti pada Gambar 2.17.

Untuk jembatan dengan bentang kurang dari 6,50 m dihitung dengan


memakai beban merata 0,4 ton/m3 dan beban garis 4 ton/m.

Pembagian pembebanan seperti pada Gambar 2.17.


2. Jembatan Orang
Jembatan orang dihitung dengan beban merata 0,50 ton/m seperti Gambar
2.217. Pembebanan ini sebanding dengan lewatnya sepeda motor dan sapi.
Sebagai dasar perhitungan konstruksi beton bertulang adalah PBI.71.
Jenis beton dan jenis besi tulangan dipakai sebagai berikut :

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 40

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
a. Beton K.125
Tegangan yang diijinkan adalah sebagai berikut :
-

Pada pembebanan tetap


Tegangan tekan

: b =

40

kg/cm2

Tegangan tarik

: b =

5,5

kg/cm2

Tegangan geser lentur atau puntir

: b =

kg/cm2

Tegangan geser lentur dg puntir

: b =

kg/cm2

Tegangan tekan

: b =

70

kg/cm2

Tegangan tarik

: b =

7,5

kg/cm2

Tegangan geser

: b =

7,5

kg/cm2

Tegangan tekan / tarik

: b = 1250

kg/cm2

Angka ekivalensi

: n

Pada pembebanan sementara

b. Baja U.22
Tegangan yang diijinkan :
-

Pada pembebanan tetap


= 30

c. Untuk perhitungan penulangan dipakai cara Lentur N (Ir. Wiratman


Wangsadinata).

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 41

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

Gambar 2.17. Pembebanan Jembatan Jalan Kelas 2 (dua)

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 42

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

2.2.8. Siphon
Perencanaan hidrolis pada bangunan siphon air dalam keadaan tertekan harus
memperhitungkan kecepatan aliran, kehilangan pada peralihan masuk, kehilangan
akibat gesekan, kehilangan pada bagian siku siphon serta kehilangan pada peralihan
keluar.
Syarat-syarat umum pada perencanaan adalah :
-

Diameter minimum 0,60 untuk memudahkan pembersihan dan inspeksi.

Kecepatan aliran V = 1,5 - 3 m/detik

Bagian hulu dipasang kisi-kisi penyaring (trashrack)

Jika memungkinkan, pada bagian hulu dibuat bangunan pelimpah (spillway) dan,
atau bangunan pembuang (wasteway).

Siphon yang lebih panjang dari 100 m, harus dipasang lubang periksa (man
hole).

Di saluran-saluran yang besar, siphon dibuat dengan pipa rangkap (double


barrels), guna menghindari kehilangan energi. yang lebih besar saat bangunan
tidak mengalirkan air pada debit rencana, juga menguntungkan dari segi
pemeliharaan dan mengurangi biaya pelaksanaan bangunan.

Perencanaan hidrolis untuk menghitung kehilangan tinggi energi pada siphon terdiri
dari :
a. Kehilangan masuk
b. Kehilangan keluar
c. Kehilangan pada sisi-kisi penyaring
d. Kehilangan akibat gesekan
e. Kehilangan pada bagian transisi
Rumus-rumus perhitungan hidrolis yang dipakai adalah sebagai berikut :
a. Kehilangan masuk
Hmasuk =

masuk

. (Va V1)2
2.g

b. Kehilangan keluar
Hkeluar = keluar . (Va V2)2
2.g
di mana :
masuk =

keluar

faktor kehilangan energi yang bergantung kepada bentuk


hidrolis bagian peralihan masuk atau keluar.

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 43

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Va =

kecepatan rata-rata pada siphon.

V1 =

kecepatan rata-rata di saluran hulu.

V2 =

kecepatan rata-rata di saluran hilir.

c. Kehilangan pada kisi-kisi penyaring ( Hpenyaring)


Hpenyaring = c . V2
2.g
c = . (s/b)

4/3

. Sin

di mana :
V

Kecepatan melalui kisi-kisi (m/det)

percepatan gravitasi (m/det2) ~ 9.81

koefisien berdasarkan :

= faktor bentuk (segi empat : = 2,4 ; bulat = 1,80)

= tebal jeruji (m)

= jarak bersih antara jeruji (m)

= sudut kemiringan dari horizontal

d. Kehilangan akibat gesekan (Hgesekan)


(Hgesekan) = f . L . V2
D

2.g

Harga : f
-

pipa bulat

: f = 124,5 . n2

D4/3
= 1,5 (0,01989 + 0.0005078 / D)
-

pipa persegi : f = 29 . n2

D4/3
= 1,5 (0,01989 + 0.0005078 / 4R)
di mana :
f

= faktor kehilangan energi akibat gesekan

= panjang siphon

= kecepatan pada siphon (m/det)

= jari-jari hidrolis (m)

= koefisien kekasaran manning (n = I K, di mana

= koefisien kekasaran Strickler)

= percepatan gravitasi (m/det2) = 9,8

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 44

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan

e. Kehilangan pada siku (H

siku)

H siku = Kb . V2
2.g
di mana :
Kb = koefisien kehilangan energi pada bagian siku/belokan (lihat Tabel 2.18.).
Va = kecepatan aliran dalam siphon (m/det).
g

= percepatan gravitasi (m/det2) ~ 9,81


Tabel 2.16. Harga-Harga Kb. untuk bagian siku
Sudut S

Potongan

f.

10

15

22,5

30

45

60

75

90

Bulat

0,02

0,03

0,04

0,05

0,11

0,24

0,47

0,80

1,10

Segi empat

0,02

0,04

0,05

0,06

0,14

0,30

0,60

1,00

1,40

Kehilangan pada bagian transisi (H


-

transisi

Saluran ke siphon :
hc = fc . (Va2 V12) ; fc= 0,15 0,20
2.g

Siphon ke saluran :
hd = fd . (Va2 V12) ; fd = 0,25 0,30
2.g

Total : H

transisi

= hc + hd

Di mana :
Va = kecepatan rata-rata pada siphon (m/det)
V1 = kecepatan pada saluran hulu (m/det)
V2 = kecepatan pada saluran hilir (m/det)
g

= percepatan gravitasi (m/det2) ~ 9,8

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 45

Kriteria Perencanaan
Bahan
Bahan Ajar Bangunan Air/Perencanaan Infrastructur Keairan
Total kehilangan tinggi energi (H) harus lebih kecil ( 10 %) dari perbedaan
tinggi permukaan dan pengeluaran (H) yang tersedia.
Sehingga harus dipenuhi :
H = (Hmasuk + Hkeluar + Hpenyaring + Hgesekan + Hsiku + Htransisi)
H < 90% H
di mana :
H = total kehilangan tinggi energi (m)
H = beda tinggi muka air pada pemasukan dan pengeluaran (m)
Gambar 2.18a. Kisi kisi Penyaring

Gambar 2.18b. Contoh Siphon

Agushariwahyudi/Yusuf Muttaqin
II - 46