Anda di halaman 1dari 2

detikcom Jakarta, Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal yang menyerang

organ dengan cepat sehingga fungsinya hancur dan menyebabkan kematian. Kanker bisa
disebabkan faktor genetik dan lingkungan.
Di Indonesia dan dunia tiap tahun kasus kanker terus meningkat. Mulai dari yang tertinggi
kanker payudara, kanker leher rahim (serviks), kanker paru, Kanker usus besar (kolorektal),
kanker prostat, kanker darah, kanker tulang, kanker hati, kanker kulit. Setidaknya di dunia
ada lebih dari 100 jenis kanker.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian
Kesehatan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama dalam seminar di Jakarta, Senin (26/4/2010)
mengatakan kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah
kesehatan masyarakat, baik di dunia maupun di Indonesia.
Di dunia, 12 persen seluruh kematian disebabkan oleh kanker dan pembunuh nomor 2
setelah penyakit kardiovaskular. WHO dan Bank Dunia memperkirakan setiap tahun, 12 juta
orang di seluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia.
Jika tidak dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta
meninggal karena kanker pada tahun 2030. Ironisnya, kejadian ini akan terjadi lebih cepat di
negara miskin dan berkembang.
dr. Tjandra mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kanker di
Indonesia yaitu:
Merokok 23,7 persen
Obesitas pada penduduk usia di atas 15 tahun yakni pria 13,9 persen dan pada perempuan
23,8 persen.
Kurang konsumsi buah dan sayur 93,6 persen
Konsumsi makanan diawetkan 6,3 persen
Makanan berlemak 12,8 persen
Makanan dengan penyedap 77,8 persen
Kurang aktivitas fisik sebesar 48,2 persen.
Agar jumlah penderita kanker tidak terus bertambah perlu dilakukan pencegahan seperti:
Tidak merokok dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
Menghindari paparan sinar ultraviolet berlebih
Mencegah obesitas dengan diet sehat (mengkonsumsi buah dan sayur 5 porsi sehari)
Melakukan ktivitas fisik (gerak badan) 30 menit sehari.
Melakukan deteksi dini secara berkala di fasilitas-fasilitas kesehatan.
Upaya-upaya ini perlu dipromosikan secara terus menerus untuk menekan angka
penderita kanker, kata Prof. Tjandra.
Berdasarkan data Riskesdas, 2007, menurut Prof. Tjandra Yoga, di Indonesia rasio tumor
atau kanker adalah 4,3 per 1000 penduduk. Kanker merupakan penyebab kematian nomor 7
(5,7%) setelah stroke, TB, hipertensi, cedera, perinatal dan Diabetes Melitus.
Sedangkan berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2007, kanker
payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di seluruh RS di Indonesia
(16,85%), disusul kanker leher rahim (11,78%).
Kanker tertinggi yang diderita wanita Indonesia adalah kanker payudara dengan angka
kejadian 26 per 100.000 perempuan, disusul kanker leher rahim dengan 16 per 100.000
perempuan.

Para ahli memperkirakan 40% kanker dapat dicegah dengan mengurangi dan menghindari
faktor risiko kanker, ujar Prof. Tjandra Yoga.
Sejak tahun 2007, proyek percontohan pengendalian kanker leher rahim dan payudara
melaui deteksi dini telah dikembangkan. Pada tahun 2010, program pengendalian kanker
paru menjadi salah satu program yang akan dikembangkan.
Pengendalian kanker paru dilaksanakan melalui pencegahan primer (promosi dan edukasi),
sekunder (penemuan dini dan pengobatan segera), dan tersier (perawatan paliatif).
Pengendalian yang paling efektif dan efisien adalah dengan pencegahan primer, yaitu
menerapkan gaya hidup sehat, jelas Prof. Tjandra.