Anda di halaman 1dari 26

1

IBADAH
1.

HAJI

Pengertian Ibadah Haji.


( Hal : 1 dalil : 1, 2, 3, 4, 5, 6 ).
2.
Miqat Zamani (waktu ibadah Haji).
( Hal : 6 dalil : 16, 17, 18 ).
3.
Cara atau Shifat Ibadah Haji :
a.
Haji Ifrad (Haji + Umrah). Syaratnya
membawa hadyu (binatang qurban)
sejak dari luar haram Makkah.
b.
Haji Qiran (Haji, Umrahnya masuk di
dalamnya). Syaratnya membawa hadyu
sejak dari luar haram Makkah.
c.
Haji Tamattu (Umrah + Haji).
Hadyunya boleh dibeli di Makkah, bila
tidak dapat hadyu diganti puasa 3 hari
waktu haji dan 7 hari setelah pulang di
tempat masing-masing.
( Hal : 4-5 dalil : 10, 11, 12, 13, 14,
35, 52, 122).

HAJI
1.
a.

TAMATTU

U M RAH
I H R AM
1.
Miqat Makani (tempat memulai)
ihram :
a.
Dzulhulaifah (Bir Ali), bagi
calhaj gelombang pertama yang
langsung ke Madinah.
b.
Yalamlam, bagi calhaj yang
langsung ke Makkah lewat Jeddah.
( Hal : 6-8 dalil : 19, 20 )
2.
Pakaian Ihram
a.
Bagi pria dua lembar kain,
sehelai untuk sarung dan lainnya untuk
baju/selendang.
b.
Bagi wanita menutup aurat
(seluruh badannya) kecuali muka dan
dua telapak tangan.
( Hal : 2-3 dalil : 21, 22 ).
3.
Memulai Ihram Umrah
Setelah tiba di Miqat Makani,
hendaklah melakukan hal-hal berikut :
a.
Sunnat mandi dan memakai
wangi-wangian di rambut atau badan,

tidak boleh di pakaian.


( Hal : 12 dalil; 40, 41, 23, 24, 42 ).
b.
Bagi pria mengganti
pakaiannya dengan kain ihram, dan
bagi wanita menutup auratnya kecuali
muka dan dua telapak tangan. Pakaian
ihram boleh dipakai sejak sebelum
Miqat Makani, seperti Madinah atau
Sukolilo bagi gelombang kedua.
( Hal : 12-13 dalil; 21, 22, 43 ).
c.
Berniat dalam hati dengan
ikhlas untuk mengerjakan Umrah, berihlal dengan bersuara, membaca :

Sebaiknya dilakukan setelah shalat,


shalat wajib atau shalat sunnat yang
disyariatkan, tetapi bukan shalat sunnat
ihram.
( Hal : 13 dalil; 45, 46, 47, 48, 49, 50,
51 ).
d.
Bagi yang khawatir tidak
dapat menyempurnakan Umrahnya atau
Hajinya, boleh beriqrar syarat sesudah
ber-ihlal dengan membaca :

e.

Berangkat menuju Makkah,


sambil terus menerus membaca
Talbiyah, yaitu :

( Hal : 13-14 dalil; 53 ).

b.

T H AWAF
Thawaf, yaitu mengelilingi Baitullah
(Kabah) sebanyak 7 (tujuh) putaran, kecuali
wanita yang sedang haidh atau nifas.
( Hal : 14 dalil; 127, 128 ).
Setelah tiba di Makkah, melakukan halhal berikut :

1.

Masuk Masjidil Haram


Usahakan masuk melalui Bab Bani

Syaibah / Babus Salam.


( Hal : 14 dalil; 54 )
2.
Berwudhu
( Hal : 14 dalil; 55, 56 ).
3.
Idhthiba
Bagi pria meletakkan pakaian yang
sebelah kanan di bawah ketiak dan yang
sebelah kiri di atas bahu kiri. Ini hanya
berlaku pada Thawaf yang pertama ini saja,
apabila sudah selesai 7 (tujuh) putaran
kembali diletakkan di atas bahu, yang
kanan maupun yang kiri.
4.
Datang ke Hajarul Aswad
Ketika datang ke Hajar Aswad, boleh
melakukan salah satu dari cara berikut ini :
a.
Taqbil (mencium) Hajar
Aswad, atau
b.
Istilam (menyentuh) Hajar
Aswad dengan tangan kanan, lalu
mengecup tangannya, atau
c.
Isyarat dengan tangan kanan
dari jauh, tanpa mengecup tangannya.

Masing-masing cara tersebut dengan

membaca Takbir :
Kemudian memutar badan dengan
menjadikan Kabah berada di sebelah kiri,
lalu mengelilinginya dengan melewati
Rukun Iraqi, Hijir Ismail dan Rukun
Syami.
( Hal : 14-15 dalil; 57, 58, 59, 60, 61, 62,
63, 67 ).
5.
Mengusap Rukun Yamani
Bila tiba di Rukun Yamani hendaklah
mengusapnya, tetapi tidak boleh mencium
dan mengecup tangan dan tidak boleh
bertakbir seperti di Hajar Aswad. Bila tidak
mungkin mengusapnya, karena berdesakan,
hendaknya dilewati saja.
( Hal : 15 dalil; 64, 65 )
6.
Bacaan diantara Rukun Yamani dan
Hajar Aswad

Setelah sampai kembali ke Hajar Aswad,


tempat memulai Thawaf, maka dihitung
satu kali putaran. Kemudian memulai lagi
untuk putaran kedua, dan demikian terus
hingga 7 (tujuh) putaran dengan tata cara
seperti putaran pertama.
( Hal 15-16 dalil; 66 )
7.
Tiga putaran dari tujuh putaran
dilakukan dengan ramal (lari-lari kecil atau
berjalan cepat). Adapun empat putaran
berikutnya dengan berjalan biasa. Ramal
ini hanya dilakukan pada Thawaf yang
pertama ini saja.
( Hal : 16 dalil;
57, 68 )
8.
Tidak ada dzikir dan doa khusus
pada setiap putaran Thawaf. Boleh dzikir
dan doa apa saja, selama dzikir dan doa
itu baik dan pantas.
9.
Shalat Sunnat Thawaf
Selesai Thawaf hendaklah melakukan
hal berikut :

a.

Menuju Maqam Ibrahim dan


membaca :







Dan jadikanlah sebagian Maqam
Ibrahim tempat shalat.
( Al-Baqarah : 125 )
( Dalil; 70 )
b.

Mengerjakan Shalat Sunnat


Thawaf :
1.
Tempatnya; di
belakang Maqam Ibrahim atau agak
jauh ke belakang.
2.
Rakaatnya : 2
(dua) rakaat.
3.
Caranya :
a.
Membaca
surat Al-Kafirun pada rakaat
pertama setelah membaca surat
Al-Fatihah.
b.
Membaca
surat Al-Ikhlash pada rakaat

kedua setelah membaca surat


Al-Fatihah.
c.
Bacaan AlFatihah dan surat Al-Kafirun
dan surat Al-Ikhlash dengan
jahar (keras), baik siang maupun
malam.
4.
Shalat Sunnat
Thawaf dikerjakan sedirisendiri, tidak boleh berjamaah.
( Hal : 16-17 dalil; 69, 70 )
5.
Selesai shalat
kembali lagi ke Hajar Aswad,
lalu taqbil, atau istilam, atau
isyarat dengan tangan kanan
dengan ber-takbir. Kemudian
menuu Shafa.
( Hal : 17 dalil; 70 )
c.
S A I AN TAR A S H AF A
D AN M AR WAH
Sai, yaitu berjalan antara bukit Shafa
menuju bukit Marwah, dimulai dari bukit Shafa
sebanyak 7 (tujuh) kali. Berjalan antara Shafa
dan Marwah dihitung satu kali.
Adapun tata-cara Sai sebagai berikut :

10

1.

Ketika sudah mendekati bukit Shafa


membaca :

Lalu Rasulullah saw. menegaskan dengan


sabdanya :

2.

( Hal : 17-18 dalil; 71 )


Naik ke bukit Shafa, lalu
menghadap Kabah sambil mengangkat dua
tangan dan membaca :

11

.
Dzikir ini dibaca sebanyak 3 (tiga) kali,
lalu berdoa apa saja yang dikehendaki.
3.
Setelah selesai dzikir dan doa di
Shafa, lalu turun menuju Marwah. Ketika
sampai tanda lampu hijau, hendaklah
berlari-lari kecil hingga tanda lampu hijau
berikutnya, kemudian berjalan biasa lagi.
Setelah tiba di Marwah, hendaklah berbuat
sebagaimana di bukit Shafa. Kemudian
kembali ke Shafa lagi. Ini diulang hingga 7
(tujuh) kali dan akan berakhir di Marwah.
4.
Tidak ada dzikir atau doa khusus
ketika berjalan antara Shafa dan Marwah

12

dan sebaliknya. Boleh berdzikir atau


berdoa apa saja yang baik dan pantas.
( Hal : 18-20 dalil; 72, 73, 74 )
d.
TAH AL L U L
Tahallul, ialah membebaskan diri dari
Ihram dengan tata-cara sebagai berikut :
1.
Bagi pria mencukur seluruh rambut
kepala atau menggunting sebagiannya,
sebaiknya menggunting rambut saja.
2.
Bagi wanita cukup menggunting
sebagian rambutnya.
Setelah Tahallul, sudah selesai pula
ibadah Umrahnya, maka kembali lagi seperti
sebelum Ihram.
( Hal : 20-21 dalil; 75, 76, 77, 78 )
2.

H AJ I
a.
I H R AM
1. Tempatnya : Tempat tinggal / Pemondokan
di Makkah.
2. Waktunya : Tanggal 8 Dzulhijjah (hari
Tarwiyah)
3. Caranya
: Sama seperti waktu akan
berihram untuk Umrah, bedanya

13

lafazh ihlalnya membaca :

Sesudah itu berangkat menuju Mina


dengan membaca Talbiyah seperti waktu
Umrah. ( Hal : 21-22 dalil; 79, 80, 82 ).
b.
M AB I T D I M I N
A
Mabit (bermalam) di Mina pada tanggal 9
Dzulhijjah, dengan penjelasan sebagai berikut :
1.
Selama tinggal di
Mina, Rasulullah saw. mengerjakan shalat
pada waktu-waktunya masing-masing,
tanpa menjama, dan mengqashar shalat
yang boleh diqashar.
2.
Pada tanggal 9
Dzulhijjah, pagi harinya berangkat menuju
Arafah.
( Hal : 22 dalil; 82, 83 )
c.
W U Q U F D I AR A
F AH
Wuquf artinya berhenti, berdiri,
maksudnya tinggal di Arafah.
1.
Waktu Wuquf :
Tanggal 9 Dzulhijjah setelah masuk waktu
shalat Dhuhur hingga tanggal 10 Dzulhijjah

14

sebelum terbit fajar, tanda masuk waktu


shalat Shubuh.
2.
Khutbah Arafah.
3.
Shalat Dhuhur
dan Ashar dengan jama taqdim qashar.
4.
Wuquf
Setelah shalat berdoa dengan sungguhsungguh, menghadap qiblat sambil mengangkat
kedua tangan.
Tidak ada doa atau dzikir khusus
waktu wuquf, tetapi boleh berdoa dan
berdzikir sesuai keinginan dalam batas-batas
yang dibenarkan syara.
( Hal : 22-24 dalil; 18, 81, 82, 84, 85, 86, 121 ).
d.
W U Q U F ATAU
MAB I T D I
M U Z DALI FAH
Wuquf (tinggal) atau Mabit (bermalam)
di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah.
Adapun caranya sebagai berikut :
1.
Setelah terbenam
matahari, boleh meninggalkan Arafah
sesudah Wuquf atau Mabit.
2.
Tiba di
Muzdalifah mengerjakan shalat Maghrib
dan Isya dengan jama takhir qashar.
Setelah adzan, lalu qamat terus shalat

15

Maghrib 3 rakaat. Kemudian qamat, lalu


shalat Isya 2 rakaat.
3.
Bagi wanita dan
orang yang lemah, boleh meninggalkan
Muzdalifah setelah tengah malam menuju
Mina. Bagi yang kuat tinggal di Muzdalifah
hingga mengerjakan shalat Shubuh disana,
kemudian kembali ke Mina. Bila
memungkinkan datang ke Masyaril Haram
dan berdoa sesuai dengan hajat masingmasing.
( Hal : 24-25 dalil; 18, 86, 87, 88, 89,
90, 95, 96, 102 ).
e.
YAU M U N NAHA
R
Yaumun Nahar, tanggal 10 Dzulhijjah
ada 4 amalan yang harus dilaksanakan :
1.
Melempar
Jamrah Aqabah
a.
Melempar Jamrah Aqabah
dengan 7 kerikil, dilempar satu persatu,
tidak boleh sekaligus.
b.
Setiap melempar satu
kerikil hendaklah bertakbir, yaitu
membaca :

16

c.

Kerikil boleh diambil dari


Muzdalifah dan boleh juga dari tempat
lain.
d.
Bacaan Talbiyah
dihentikan.
( Hal 25-26 dalil; 87, 92, 93, 94, 95,
96, 98, 126 ).
2.
Menyembelih
Hadyu
a.
Tanggal 10 Dzulhijjah
setelah melempar Jamrah Aqabah,
menyembelih hadyu, dan sering disebut
Dam Tamattu. Boleh juga
dilaksanakan pada tanggal 11 atau 12,
atau 13 Dzulhijjah (hari-hari Tasyriq).
b.
Bagi yang tidak
mendapatkan hadyu (kambing atau
onta) atau tidak mampu membelinya,
maka boleh diganti dengan :
1.
Puasa 3 hari waktu
haji, bahkan boleh pada hari-hari
Tasyriq; yaitu 11, 12 dan 13
Dzulhijjah.

17

2.

Puasa 7 hari
setelah kembali ke tempat
masing-masing, jadi jumlahnya 10
hari.
( Hal : 26-27 dalil; 14, 35,
100 ).
3.
Tahallul
Adapun tata-caranya sebagai berikut :
a.
Bagi pria menggunting
sebagian rambut kepala atau mencukur
seluruhnya dan ini afdhal.
b.
Bagi wanita cukup
menggunting sebagian rambut kepala
dan tidak boleh mencukur seluruhnya.
Peristiwa ini disebut Tahallul Sughra.
Bagi pria melepas pakaian ihramnya dan
mengganti dengan pakaian biasa seharihari. Bagi wanita tetap harus menutup
auratnya. Setelah Tahallul Sughra ini,
terbebas dari larangan ihram kecuali masih
tidak boleh melakukan hubungan suamiistri.
( Hal : 27 dalil; 103, 104, 105, 106 ).
4.
Thawaf Ifadhah
dan Sai antara Shafa dan Marwah

18

a.

Thawaf Ifadhah adalah


Thawaf Ibadah Haji. Adapun caranya
seperti Thawaf Umrah, kecuali tidak
perlu lari-lari kecil pada 3 putaran
pertama.
b.
Sai antara Shafa dan
Marwah ini untuk Ibadah Haji, dan
caranya sama dengan Sai waktu
Umrah.
Peristiwa ini disebut Tahallul Kubra,
maksudnya sudah terbebas dari seluruh
larangan Ihram termasuk hubungan suamiistri.
Keempat amalan pada tanggal 10
Dzulhijjah (Yaumun Nahar) boleh
dilakukan tidak tertib seperti urutan di atas.
( Hal : 27-28 dalil; 107, 108, 109,
110, 111 ).
f.

M E L E M PAR T I
JAM RAH
Pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah atau
hari-hari Tasyriq, hendaklah melempar tiga
Jamrah.
Adapun caranya sebagai berikut :
GA

19

1.

Pada tanggal 11
Dzulhijjah setelah matahari tergelincir,
mulai melempar tiga Jamrah secara tertib
bergiliran :
a).
Jamrah Sughra
1.
Setiap lemparan
hendaklah membaca Takbir
(ALLAHU AKBAR) hingga tujuh
lemparan.
2.
Setelah selesai
melempar 7 kerikil secara
berurutan, kemudian menuju
tempat yang lapang, lalu berdiri
menghadap qiblat dan berdoa
sambil mengangkat dua tangan.
b).
Jamrah Wustha
Caranya seperti waktu melempar
Jamrah Sughra.
c).
Jamrah Kubra atau Aqabah
Sama seperti melempar Jamrah
Sughra dan Wustha, tetapi tanpa
berdoa sesudahnya, lalu terus
kembali ke tempat tinggalnya selama
di Mina.
2.
Pada tanggal 12
Dzulhijjah melempar tiga Jamrah lagi dan

20

caranya sama dengan melempar 3 Jamrah


sehari sebelumnya.
3.
Pada tanggal 13
Dzulhijjah melempar tiga Jamrah lagi
seperti hari-hari sebelumnya.
( Hal : 28-30 dalil; 94, 113, 114, 115 ).
Bagi yang akan mengambil NAFAR
AWWAL, pergi meninggalkan Mina pada
kesempatan pertama, cukup melempar 3
Jamrah sampai tanggal 12 Dzulhijjah, terus
kembali ke Makkah.
Bagi yang akan mengambil NAFAR
TSANI, meninggalkan Mina pada kesempatan
kedua atau terakhir, harus melempar 3 Jamrah
sampai tanggal 13 Dzulhijjah, terus kembali ke
Makkah.
( Hal : 30 dalil; 18, 112 ).
g.
T H AWAF WAD A

Thawaf Wada adalah Thawaf perpisahan,


selamat tinggal. Adapun Jamaah Haji yang
sudah siap berangkat pulang meninggalkan
Makkah, hendaklah melakukan Thawaf Wada
di Baitullah (Kabah) tanpa pakai kain Ihram.
Wanita yang datang bulan (haidh), diberi
kelonggaran tidak melakukannya dan dapat

21

langsung meninggalkan Makkah. Caranya


sama dengan Thawaf Ifadhah.
( Hal : 30 dalil; 118, 119, 120, 125 )

LARANGAN LARANGAN WAKTU


IHRAM
Bagi orang yang dalam keadaan Ihram, disebut
MUHRIM. Adapun larangan-larangan bagi muhrim,
adalah sebagi berikut :
a.
Bagi pria tidak boleh memakai pakaian
yang berpotongan, seperti baju, kemeja, kaos,
celana panjang/pendek, cawat, tutup
kepala/songkok/sorban/peci, sepatu yang menutup
mata kaki.
b.
Bagi wanita tidak boleh menutup muka
dan dua telapak tangan, pakaian harus menutup
seluruh badan.
c.
Bagi pria/wanita tidak boleh pakai
pakaian yang dicelup zafaran atau lainnya yang
wangi.
d.
Bagi pria/wanita tidak boleh pakai
minyak wangi atau wangi-wangian.

22

e.
f.
g.
h.
i.

j.

Bagi pria/wanita tidak boleh mencukur


rambut atau menggunting rambut sebelum
waktunya/tahallul.
Bagi pria/wanita tidak berburu binatang
buruan dan makan daging hasil buruannya atau
buruan orang lain.
Bagi pria/wanita tidak boleh meminang,
menikah atau dinikahkan.
Tidak boleh jima atau mengadakan
hubungan suami istri.
Bagi pria/wanita tidak boleh
mengucapkan kata-kata kotor, kata-kata yang akan
menimbulkan birahi, keji, berbantah-bantahan atau
bertengkar.
Bagi pria/wanita tidak boleh
mengganggu atau merusak pohon-pohonan yang
tumbuh di Makkah dan Madinah, baik pada waktu
ihram atau tidak, dengan mengambil durinya,
kulitnya, dahan-rantingnya terutama apabila
memotongnya.
( Hal : 3-4 dalil; 16, 21, 22, 26, 27, 28, 29, 30, 31,
32 )

23

FIDYAH, KAFFARAH DAN DAM


Fidyah (tebusan), kaffarah (penutup) dan dam
(darah), maksudnya denda. Denda dikenakan kepada
mereka yang :
1.
Mencukur rambut sebelum waktu tahallul,
dendanya berupa :
a.
Menyembelih seekor kambing, atau
b.
Memberi makan 6 orang miskin, atau
c.
Puasa 3 hari.
2.
Muhrim (orang yang sedang ihram) berburu
binatang darat, dendanya berupa :
a.
Menyembelih binatang ternak yang
sebanding, atau
b.
Memberi makan beberapa orang
miskin, atau
c.
Puasa
Yang memutuskan binatang yang sebanding,
banyaknya orang miskin dan berapa hari puasanya
diserahkan kepada dua orang hakim yang adil.
3.
Muhshir, yaitu orang yang terhalang
menyempurnakan ibadah haji atau umrah setelah
berihram di miqat makani, karena musuh atau
peperangan atau sakit dan tidak bersyarat ketika

24

ihram. Wajib baginya menyembelih hadyu berupa


seekor kambing, dan setelah menyembelihnya
boleh tahallul dengan menggunting atau mencukur
rambutnya.
4.
Mutamatti, yaitu orang yang mengerjakan
ibadah haji Tamattu. Bagi mutamatti wajib
menyembelih hadyu atau dam karena tidak
membawa hadyu dari luar tanah haram Makkah,
berupa :
1. Menyembelih seekor kambing yang dibeli
di Makkah pada yaumun-nahr. Apabila
tidak mampu membelinya atau tidak ada
yang akan dibeli, maka kaffarahnya
berupa :
2. Puasa 3 (tiga) hari pada bulan-bulan haji,
bahkan pada hari-hari tasyriq dan 7 (tujuh)
hari setelah kembali ke tempat atau negara
masing-masing sehingga jumlahnya 10
(sepuluh) hari.
( Hal : 9-11 dalil; 26, 37, 40, 41, 42, 43,
44, 45, 46, 47 )

25

CATATAN
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________

26

____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________
____________________________________________