Anda di halaman 1dari 44

Berdasarkan laporan Direktorat IV Narkoba dan KT BARESKRIM POLRI .

pada tahun 2007 diketahui


kasus narkotika, psikotropika, dan bahan berbahaya
sebanyak 22.630 kasus yaitu proporsi kasus narkotika 50,28%, proporsi kasus psikotropika 43,43% dan
proporsi kasus bahan berbahaya 6,29%. Sumatera Utara merupakan peringkat ketiga kasus terbanyak
setelah Jawa Timur dan Metro Jaya (BNN, 2008). Berdasarkan data BNN jumlah pengguna NAPZA di
Provinsi Sumatera Utara tahun 2010 sebanyak 2.065 kasus dan tahun 2011 sebanyak 2.068 kasus (BNN,
2011). Meningkatnya jumlah pemakai NAPZA, terutama yang menggunakan jarum suntik, telah
menambah jumlah penderita penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS. HIV/AIDS adalah penyakit
yang mematikan, mudah menular, dan belum ada obatnya. Penyakit itu awalnya menular diantara sesama
pemakai NAPZA, namun akhirnya dapat menular kepada keluarganya dan masyarakat luas (Partodiharjo,
2008). Berdasarkan Surveilans Terpadu-Biologis Perilaku (STBP) pada kelompok berisiko tinggi di
Indonesia tahun 2011, pengguna NAPZA suntik memiliki jumlah kasus HIV tertinggi di antara kelompok
paling berisiko di Indonesia dengan prevalensi Jakarta 56,4%, Surabaya 48,8%, Medan 39,2%, dan
Bandung 25,2% (Depkes, 2011).
Masalah penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks, baik latar belakang maupun cara memperoleh serta
tujuan penggunaannya. Pada umumnya NAPZA disalah gunakan oleh mereka yang kurang mengerti efek
samping yang ditimbulkan oleh pemakaiannya, hal tersebut disebabkan antara lain oleh tata budaya,
tingkat pendidikan dan karakteristik yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia, yaitu sangat menjunjung
tinggi nilai-nilai luhur, namun kurang tanggap dan kurang bisa membicarakan hal-hal yang dianggap
negatif antara lain mengenai NAPZA. Sehingga NAPZA dengan segala permasalahannya tetap menjadi
sesuatu yang misterius bagi kebanyakan masyarakat kita (Prasetyaningsih, 2003).
Salah satu resolusi dari Single Convention On Narcotic Drug yang diadopsi oleh Konferensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa, menyatakan bahwa salah satu metode terapi yang paling efektif bagi pecandu zat adalah
pengobatan di unit pelayanan kesehatan yang bersuasana bebas obat. Metode yang dimaksud adalah
dengan rehabilitasi sosial untuk memulihkan perilaku dan interaksi sosial bekas pecandu ke tengah
masyarakat, dapat ditempuh beberapa cara : keterampilan dan latihan kerja, pembinaan agama, narkotik
anonymous, konseling, seminar-seminar kepribadian, dan kehidupan dalam komunitas bersama (BNN,
2003).
Secara teoritis, diduga faktor-faktor yang menyebabkan kekambuhan kembali
pada penyalahguna NAPZA adalah sebagai berikut (Martono, 2008) : Gagal memahami dan menerima
bahwa adiksi adalah penyakit, Menyangkal telah kehilangan kendali, Ketidakjujuran, Keluarga yang tidak
berfungsi normal, Kurangnya program yang bersifat rohani, Stres, Mengisolasi diri, Kembali pada teman
pecandu dan kebiasaan lama, Merasa bersalah tentang masa lalu.

NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif)


I. PENDAHULUAN :

Narkoba atau NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi
seseorang ( pikiran, perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.
NARKOTIKA :

Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :
1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan
dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan
ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.
2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau
tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan. Contoh : Codein.
PSIKOTROPIKA :

Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
1. Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Ekstasi.
2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan terapi dan / atau
untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : Amphetamine.
3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau
untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.

4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan /
atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam ( BK, DUM ).
ZAT ADIKTIF LAINNYA :
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan
Psikotropika, meliputi :
1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat,
dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari hari dalam kebudayaan tertentu. Jika
digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat itu
dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol :
a. Golongan A : kadar etanol 1 5 % ( Bir ).
b. Golongan B : kadar etanol 5 20 % ( Berbagai minuman anggur )
c. Golongan C : kadar etanol 20 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ).
2. Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa senyawa organik, yang
terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang
sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada
remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu
masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3
golongan :
1. Golongan Depresan ( Downer ). Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional
tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak
sadarkan diri. Contohnya: Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ), Hipnotik (obat tidur)
dan Tranquilizer (anti cemas ).
2. Golongan Stimulan ( Upper ). Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan
kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh:
Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.
3. Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat
merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh
persaan dapat terganggu. Contoh: Kanabis ( ganja ).
II. PENYALAHGUNAAN NAPZA :

Di dalam masyarakat NAPZA / NARKOBA yang sering disalahgunakan adalah :


1. Opiada, terdapat 3 golonagan besar :
a. Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik : Heroin / putauw, Hidromorfin.
c. Opioda sintetik : Metadon.
Nama jalanan dari Putauw : ptw, black heroin, brown sugar.
Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang tidak murni berwarna putih keabuan.
Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw,
yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai kekuatan 400 kali lebih
kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon adalah zat yang digunakan oleh dokter sebagai penghilang
sakit yang sangat kuat, misalnya pada opreasi, penderita cancer.
Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan ingin menyendiri untuk
menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak
mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya sendiri, mereka merasa
bahwa lingkungannya menjadi musuh.
2. KOKAIN :

Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih mudah larut
Nama jalanan : koka, coke, happy dust, chalie, srepet, snow / salju.
Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas
permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot
seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup
akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.
Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri,
dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
3. KANABIS :

Nama jalanan : cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, grass, bhang.


Berasal dari tanaman kanabis sativa atau kanabis indica.
Cara penggunaan : dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan pipa
rokok.

Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebihan
( euphoria ), sering berfantasi / menghayal, aktif berkomunikasi, selera makan tinggi, sensitive, kering
pada mulut dan tenggorokan.
4. AMPHETAMINE :

Nama jalanan : seed, meth, crystal, whiz.


Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet.
Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air.
Ada 2 jenis Amphetamine :
a. MDMA ( methylene dioxy methamphetamine )
Nama jalanan : Inex, xtc.
Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul.
b. Metamphetamine ice
Nama jalanan : SHABU, SS, ice.
Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan alumunium foil dan asapnya dihisap atau dibakar dengan
menggunakan botol kaca yang dirancang khusus ( boong ).
5. LSD ( Lysergic Acid ).

Termasuk dalam golongan halusinogen.


Nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas.
Bentuk : biasa didapatkan dalam bentuk kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko
dalam banyak warna dan gambar. Ada juga yang berbentuk pil dan kapsul.
Cara penggunaan : meletakan LSD pada permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30 60 menit kemudian,
menghilang setelah 8 12 jam.
Efek rasa : terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu sehingga timbul obsesi yang sangat indah dan
bahkan menyeramkan dan lama lama menjadikan penggunaanya paranoid.
6. SEDATIF HIPNOTIK ( BENZODIAZEPIN ) :

Termasuk golongan zat sedative ( obat penenang ) dan hipnotika ( obat tidur ).
Nama jalanan : Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp.
Cara pemakaian : dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus.
Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan, kejang, stress,
serta sebagai obat tidur.

7. SOLVENT / INHALASI :

Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya : Aerosol, Lem, Isi korek api gas, Tiner,
Cairan untuk dry cleaning, Uap bensin.
Biasanya digunakan dengan cara coba coba oleh anak di bawah umur, pada golongan yang kurang
mampu.
Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala berputar, halusinasi ringan, mual, muntah gangguan fungsi paru,
jantung dan hati.
8. ALKOHOL :

Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia


Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi umbian yang mengahasilkan kadar
alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan proses penyulingan sehingga dihasilkan kadar alkohol
yang lebih tinggi, bahkan 100 %.
Nama jalanan : booze, drink.
Efek yang ditimbulkan : euphoria, bahkan penurunan kesadaran
III. PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN

Penyalahguanaan adalah : penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau
teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan
fungsi sosial.
Ketergatungan adalah : keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh
memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah ( toleransi ), apabila pemakaiannya dikurangi atau
diberhentikan akan timbul gejala putus obat ( withdrawal symptom ).
# PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NAPZA

Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor :


1. Faktor individual :

Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi,
psikologi maupun sosial yang pesat. Ciri ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan
NAPZA :
a. Cenderung memberontak

b. Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.


c. Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada
d. Kurang percaya diri
e. Mudah kecewa, agresif dan destruktif
f. Murung, pemalu, pendiam
g. Merasa bosan dan jenuh
h. Keinginan untuk bersenang senang yang berlebihan
i. Keinginan untuk mencaoba yang sedang mode
j. Identitas diri kabur
k. Kemampuan komunikasi yang rendah
l. Putus sekolah
m. Kurang menghayati iman dan kepercayaan.
2. Faktor Lingkungan :

Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman
sebaya, maupun masyarakat.
Lingkungan Keluarga :
a. Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
b. Hubungan kurang harmonis
c. Orang tua yang bercerai, kawin lagi
d. Orang tua terlampau sibuk, acuh
e. Orang tua otoriter
f. Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
g. Kurangnya kehidupan beragama.
Lingkungan Sekolah :
a. Sekolah yang kurang disiplin

b. Sekolah terletak dekat tempat hiburan


c. Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan
positif
d. Adanya murid pengguna NAPZA.
Lingkungan Teman Sebaya :

a. Berteman dengan penyalahguna


b. Tekanan atau ancaman dari teman.
Lingkungan Masyrakat / Sosial :
a. Lemahnya penegak hukum
b. Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.
Faktor faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna
NAPZA. Akan tetapi makin banyak faktor faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi
penyalahguna NAPZA.
# GEJALA KLINIS PENYALAHGUNAAN NAPZA :
1. Perubahan Fisik :

- Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo ( cadel ), apatis ( acuh tak acuh ),
mengantuk, agresif.
Bila terjadi kelebihan dosis ( Overdosis ) : nafas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba
dingin, bahkan meninggal.
Saat sedang ketagihan ( Sakau ) : mata merah, hidung berair, menguap terus, diare, rasa sakit seluruh
tubuh, malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap kesehatan dan kebersihan,
gigi keropos, bekas suntikan pada lengan.
2. Perubahan sikap dan perilaku :

- Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos, pemalas, kurang
bertanggung jawab.
Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di kelas atau tempat kerja.

Sering berpergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin.
Sering mengurung diri, berlama lama di kamar mandi, menghidar bertemu dengan anggota keluarga
yang lain.
Sering mendapat telpon dan didatangi orang yang tidak dikenal oleh anggota keluarga yang lain.
Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya,
mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga, mencuri, terlibat kekerasan dan
sering berurusan dengan polisi.
Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan pencurigaan, tertutup
dan penuh rahasia.
# PENGARUH PENYALAHGUNAAN NAPZA
NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya :
1. Komplikasi Medik : biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama. Pengaruhnya
pada :
a. Otak dan susunan saraf pusat :
- gangguan daya ingat
gangguan perhatian / konsentrasi
gangguan bertindak rasional
gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik / buruk.
b. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru ( Bronchopnemonia ). pembengkakan paru ( Oedema
Paru )
c. Jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung.
d. Hati : terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual.
e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV / AIDS.
Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan
seksual demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi
adalah : kencing nanah ( GO ), raja singa ( Siphilis ) dll. Dan juga pengguna NAPZA yang mengunakan
jarum suntik secara bersama sama membuat angka penularan HIV / AIDS semakin meningkat. Penyakit
HIV / AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan
penularan dari ibu ke janin.
f. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.

g. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka
sering menggunakan baju lengan panjang.
h. Komplikasi pada kehamilan :
- Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS.
Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati
Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
2. Dampak Sosial :
a. Di Lingkungan Keluarga :
Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah
tersinggung.
Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib
keluarga.
Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak
kehidupan keluarga, kesulitan keuangan.
Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan
rehabilitasi.
b. Di Lingkungan Sekolah :
Merusak disiplin dan motivasi belajar.
Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman sebaya.
c. Di Lingkungan Masyarakat :
Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna / mangsanya.
Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan.
Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat
menjadi resah.
Meningkatnya kecelakaan.
# UPAYA PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NAPZA :
Upaya pencegahan meliputi 3 hal :

1. Pencegahan primer : mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan melakukan
intervensi.
Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk
menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan
NAPZA.
Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses
tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.
2. Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.
3. Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.
Yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA :
1. Mengasuh anak dengan baik.
- penuh kasih sayang
penanaman disiplin yang baik
ajarkan membedakan yang baik dan buruk
mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat
Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
3. Meluangkan waktu untuk kebersamaan.
4. Orang tua menjadi contoh yang baik.
Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
5. Kembangkan komunikasi yang baik
Komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
6. Memperkuat kehidupan beragama.
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung
dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari hari.
7. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak
Yang dilakukan di lingkungan sekolah untuk pencegahan penyalahgunaan NAPZA :
1. Upaya terhadap siswa :
Memberikan pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA.
Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di
sekolah.

Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan ketrampilan yang positif untuk tetap
menghidari dari pemakaian NAPZA dan merokok.
Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa ( ekstrakurikuler ).
Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling.Membantu siswa yang telah menyalahgunakan NAPZA
untuk bisa menghentikannya.
Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari hari.
2. Upaya untuk mencegah peredaran NAPZA di sekolah :
Razia dengan cara sidak
Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah
Melarang siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran tanpa ijin guru
Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah.
3. Upaya untuk membina lingkungan sekolah :
Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis
antara pendidik dan anak didik.
Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah
Sikap keteladanan guru amat penting
Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.
Yang dilakukan di lingkungan masyarakat untuk mencegah penyalahguanaan NAPZA:
1. Menumbuhkan perasaan kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah yang terjadi di
lingkungan dapat diselesaikan secara bersama- sama.
2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahguanaan NAPZA sehingga masyarakat
dapat menyadarinya.
3. Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan NAPZA.
4. Melibatkan semua unsur dalam masyarakat dalam melaksanakan pencegahan dan penanggulangan
penyalahguanaan NAPZA.
IV. KESIMPULAN

Masalah penyalahguanaan NARKOBA / NAPZA khususnya pada remaja adalah ancaman yang sangat
mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu bangsa pada umumnya. Pengaruh NAPZA sangatlah
buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya, maupun dampak sosial yang ditimbulkannya.
Masalah pencegahan penyalahgunaan NAPZA bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja,
melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA yang dilakukan sejak
dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup tentang penanggulangan tersebut.
Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di sekolah sangatlah besar bagi pencegahan
penaggulangan terhadap NAPZA.
V. SUMBER
Sumber kami dalam menyusun makalah ini adalah :

Survey di Internet. (www.anti.or.id).


Survey kepada beberapa Narasumber, antara lain :
a. 5 Anggota Polri.
b. 3 Orang Pemakai.
c. 10 Orang bukan Pemakai.
Tempat survey tidak kami tulis dalam makalah ini, karena permintaan dari narasumber.
Narkotika, Alkohol, Psikotropika Dan Zat Adiktif Lainnya, atau biasa dikenal dengan singkatan NAPZA
pada mulanya ditemukan dan dikembangkan untuk pengobatan dan penelitian. Namun berbagai jenis
obat tersebut kemudian disalahgunakan untuk mencari kenikmatan sementara dan untuk menghindar
dari masalah yang akhirnya menyebabkan ketagihan dan kecanduan atau ketergantungan. Bermula dari
rasa ingin tahu, bersenang-senang pemakai sering kali pada awalnya berpikir bahwa kalau hanya cobacoba saja tidak mungkin kecandua atau ketagihan, namun tanpa disadari akan meningkat dan pada
akhirnya menjadi ketergantungan
Remaja merupakan golongan yang rentan terhadap penyalahgunaan NAPZA karena selain memilki sifat
dinamis, energik selalu ingin mencoba, mereka juga mudah tergoda dan mudah putus asa sehingga
mudah jatuh kepada perilaku menyimpang, salah satunya penyalahgunaan NAPZA yang bepotensi
menimbulkan ketergantungan yang akan merugikan remaja, keluarga dan masyarakat. Masalah NAPZA
ini bukan saja diatur secara nasional tetapi juga diatur secara internasional. Berbagai peraturan
perundan-undangan yang berkaitan dengan NAPZA tersebut untuk keperluan pengobatan dan penelitian
dan tetap menjaga agar NAPZA tidak disalahgunakan. Namun pada kenyataannya masih terjadi
peredaran, kultipasi, produksi maupun konsumsi secara gelap. Penelitian yang dilakukan Hawari (1990),
diperoleh data dan kesimpulan yaitu, pada umumnya kasus (penyalahgunaan narkoba) mulai memakai
pada usia remaja 13-17 tahun sebanyak 97% dan usia termuda 9 tahun. Pada awalnya kasus
penyalahgunaan NAPZA sebagian besar (80%) diperoleh dari teman dengan alasan untuk
menghilangkan kecemasan , kemurungan, ketakutan dan sukar tidur. Sebanyak 36% digunakan untuk
memperoleh kenikmatan/kesenangan semata. Selain itu penyalahgunaan NAPZA ini juga menimbulkan
dampak negatif antara lain dapat merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan minat belajar dan bisa
menimbulkan tindak kekerasan yang merugikan banyak orang.

Penderita penyalahgunaan NAPZA dapat dikenali dengan mudah seperti adanya perubahan sikap dan
tingkah laku, pandangan mata menjadi sayu, takut dan jarang mandi, bersifat pemalas, berjalan
sempoyongan, terlihat seperti bego atau dungu. Secara psikologis ketergantungan pada NAPZA
menyebabkab orang tidak dapat berpikir dan berperilaku normal. Perasaan, pikiran dan perilaku sudah
dipengaruhi oleh zat yang dipakai. Berbagai gangguan psikis yang dialami oleh meraka yang
menyalahgunakan NAPZA antara lain : depresi, paranoid, percobaan bunuh diri dan melakukan tidak
kekerasan.
Banyak faktor yang menyebabkan penyalahgunaan NAPZA dikalangan remaja, antara lain :
1. Faktor internal
- Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa berpikir panjang mengenai akibatnya
- Keinginan untuk mencoba-coba dan mengikuti tren atau gaya
- Keinginan untuk bersenang-senang
- Tidak memiliki rasa percaya diri
- Kepribadian yang tidak teguh
- Penghayatan keagamaan hanya sebatas memenuhi kewajiban semata, tanpa diikuti pendalaman
yang benar
- Gangguan kepribadian
- Lari dari kebisanan atau kegetiran hidup
2. Faktor eksternal
- Kondisi keluarga yang tidak baik, seperti kedua orang tua bercerai atau berpisah, hubungan kedua
orang tua yang tidak harmonis, hubungan/komunikasi antara orang tua dan anak tidak baik, suasana
rumah tangga yang tegang tanpa kehangatan serta orang tua yang jarang di rumah sehingga kurang
mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
- Lingkungan sekitar yang tidak mampu mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan NAPZA
bahkan membuka kesempatan remaja untuk menggunakannya.
- Pergaulan remaja yang bebas dengan lingkungan yang kurang tepat
- Sudah terlalu banyak narkoba yang beredar di masyarakat
- Dorongan luar juga bisa disebabkan pengaruh media massa yang memperlihatkan gaya hidup dan
berbagai ransangan lain yang secara lansung maupun tidak lansung mendorong pemakaian NAPZA.
Hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir remaja dalam penyalahgunaan NAPZA sebagai berikut :
1. Membangkitkan kesadaran beragama, mencari informasi dan hal-hal yang positif dan bermanfaat
2. Selektif dalam memilih teman
3. Menghindarkan diri dari lingkungan yang tidak tepat
4. Menanamkan pendidikan agama sejak dini
5. Mencari tahu fakta-fakta tentang narkoba termasuk akibat-akibat yang akan ditimbulkan apabila
mengkonsumsi barang haran tersebut.
6. Menciptakan kehidupan beragama di dalam berumah tangga dan menciptakan suasana kasih
sayang antara kedua orang tua dan anak.
7. Bekerjasama dalam menghadapi sindikat pengedar NAPZA, serta berni melaporkan ke aparat
apabila melihat sinyalemen adanya pengedar pengedar atau pengguna di sekitar kita.
Solusi ini tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan dan diterapkan, namun setidaknya kita dapat
meminimalisir penyalahgunaan NAPZA dikalangan remaja, karena remaja adalah asset kemajuan
bangsa di masa akan datang. SAY NO TO DRUGS

Penulis: sri Raihan, S.Pd (Widyaiswara Perwakilan BkkbN Prov. Aceh)

NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) zat-zat kimiawi yang
dimasukkan ke dalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui
hidung). Kata lain yang sering dipakai adalah Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan
Bahanbahan berbahaya lainnya).

Ada banyak istilah yang dipakai untuk menunjukkan penyalahgunaan zat-zat berbahaya.
Dalam buku ini selanjutnya akan digunakan istilah NAPZA dengan catatan tidak semua jenis
NAPZA tersebut akan dibahas secara khusus dan terperinci, misalnya alkohol dan
tembakau.
Penggunaan NAPZA yang terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan secara fisik
dan atau psikologis serta kerusakan pada sistem syaraf dan organ-organ tubuh. NAPZA
terdiri atas bahan-bahan yang bersifat alamiah (natural) maupun yang sintetik (buatan).
Bahan alamiah berasal dari tumbuh-tumbuhan/tanaman, sedangkan yang buatan berasal
dari bahan-bahan kimiawi.

2. Narkotika
a. Pengertian umum

Narkotika adalah zat yang terbuat dari bahan alamiah maupun buatan (sintetik) yaitu
candu/kokain atau turunannya dan padanannya yang mempunyai efek psikoaktif.
Narkotika digunakan untuk keperluan medis, namun banyak yang menyalahgunakan
untuk memperoleh efek psikoaktif yang dihasilkannya.
b. Pengertian menurut Undang-Undang

Menurut Undang-undang RI No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika, bahwa narkotika dalah
zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi
sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa
nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkotika dibedakan dalam 3 golongan sebagai berikut:

Narkotika golongan I:
o

Hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan dalam terapi.

Mempunyai potensi sangat tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan.

Contoh: heroin, kokain dan ganja.


Narkotika golongan II:

Digunakan untuk terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan.

Mempunyai potensi tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan.

Contoh: morfin, petidin, turunan/garam dalam golongan tersebut.


Narkotika golongan III:

Digunakan untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan

Mempunyai potensi ringan untuk mengakibatkan ketergantungan

Contoh: kodein, garam-garam narkotika dalam golongan tersebut.


3. Alkohol

Alkohol adalah zat aktif dalam berbagai minuman keras, mengandung etanol yang berfungsi
menekan syaraf pusat
4. Psikotropika
a. Pengertian umum

Adalah zat (biasanya dalam bentuk tablet) yang mempengaruhi kesadaran karena

sasaran obat tersebut adalah pusat-pusat tertentu di dalam sistem syaraf pusat (otak dan
sumsum tulang belakang).

Menurut UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika, bahwa psikotropik meliputi: Extacy,
shabu-shabu, LSD, obat penenang/tidur, obat anti depresi dan anti psikosis.

Psikoaktiva adalah semua zat yang mempunyai komposisi kimiawi dan berpengaruh pada
otak

hingga

dapat

menimbulkan

perubahan

perilaku,

perasaan,

pikiran,

persepsi,

kesadaran.
b. Pengertian menurut uu
o

Menurut Undang-undang RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, bahwa psikotropika


adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Psikotropika dibedakan dalam 4 golongan sebagai berikut :


Psikotropika golongan I:

Hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi.

Mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.

Contoh: MDMA, extacy, LSD, dan ST.


Psikotropika golongan II:

Berkhasiat untuk pengobatan, karenanya sering digunakan dalam terapi dan atau untuk
tujuan ilmu pengetahuan.

Mempunyai potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.

Contoh: amfetamin, fensiklidin, sekobarbital, metakualon, metilfenidat (ritalin).


Psikotropika golongan III :

Berkhasiat untuk pengobatan, sehingga banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk
tujuan ilmu pengetahuan.

Mempunyai potensi sedang untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.

Contoh: fenobarbital, flunitrazepam.


Psikotropika golongan IV :

Berkhasiat untuk pengobatan serta sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk
tujuan ilmu pengetahuan.

Mempunyai potensi ringan untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.

Contoh: diazepam, klobazam, bromazepam, klonazepam, khlordiazepoxide, nitrazepam


(BK,DUM, MG).
5. Zat Adiktif

ZAT ADIKTIF lainnya yaitu zat-zat yang mengakibatkan ketergantungan.

Contohnya zat-zat solvent, termasuk inhalansia (aseton, thinner cat, lem).

Zat-zat ini sangat berbahaya karena bisa mematikan sel-sel otak.

Nikotin (tembakau) dan kafein (kopi) juga termasuk zat adiktif.

B. Kategori

NAPZA

1. Berdasarkan Bahan

Natural
Diambil dari tanaman, seperti: ganja, candu, kokaina, jamur, kaktus, tembakau, kopi,
pinang, dan sirih

Sintetis
Dibuat

dari

bahan

kimia

farmasi

atau

dicampur

dengan

bahan

alamiah,

seperti:

amphetamin, kodein, dan lem.

2. Berdasarkan Efek Kerja

Merangsang Sistem Syaraf Pusat


Yaitu jenis NAPZA yang mampu memacu kerja jantung, memompa paru-paru dengan lebih
giat dan mengaktifkan berbagai hormone transmitter di dalam otak sehingga menyebabkan
rasa segar dan bersemangat.

Menekan Sistem Syaraf Pusat


Yaitu jenis NAPZA yang mampu memperlambat jantung dan denyut nadi, memperlambat
kerja paru-paru dan mengurangi transmitter pada otak sehingga menyebabkan rasa
mengantuk atau rasa tenang

Mengacaukan Sistem Syaraf Pusat (Halusinasi)


Yaitu jenis NAPZA yang mampu mempengaruhi kerja susunan saraf pusat, otak dan tulang
belakang, sehingga mampu menyebabkan halusinasi, melihat dan merasakan realitas palsu.

3. Berdasarkan Cara Penggunaan


o

Dimasukan dalam mulut/diminum (Oral)

Disuntikan ke dalam tubuh (Injeksi)

Diletakan di dalam luka (biasanya luka sayatan yang sengaja dibuat)

Dihisap (sniffed)/dihirup (inhaled)

Dimasukan melalui anus (Insersi anal)


4. Berdasarkan Bentuk

Cairan

Pasta

Pil/kapsul

Kristal/blok

Bubuk

Gas

Lapisan kertas (impregnated paper)

Mengenal Beberapa Jenis Napza:

1. Ganja / Mariyuana

Ganja atau Cannabis sativa, adalah tanaman sejenis rumput yang antara lain mengandung
zat kimia 9 tetrahidrocannabinol (delta - 9 - THC) atau lebih sering dikenal sebagai THC
yaitu zat psikoaktif yang mempengaruhi perasaan dan penglihatan serta pendengaran. Saat
pertama kali orang mengisap ganja, reaksi juga akan berbeda-beda tergantung kekuatan
THC serta dosis yang dipakai. Ada yang tidak merasakan reaksi apa-apa, tetapi ada pula
yang mendapatkan perasaan aneh atau takut. Ganja menimbulkan ketergantungan mental
yang diikuti oleh kecanduan fisik dalam jangka waktu yang lama. Bila seseorang terusmenerus mengisap ganja, maka lama-kelamaan timbul kerusakan seperti bronchitis,
sinusitis, emphysema, dan pharingitis. Efek-efek yang ditimbulkan adalah antara lain
hilangnya

konsentrasi,

peningkatan

denyut

jantung,

kehilangan

keseimbangan

dan

koordinasi tubuh, rasa gelisah dan panik, depresi, kebingungan atau halusinasi . Gejala
psikologis: hilang semangat, menurunnya prestasi sekolah dan prestasi olahraga, cepat
berubahnya suasana hati, sulit berkonsentrasi, hilang ingatan jangka pendek. Ganja atau
cannabis juga dikenal dengan istilah : Marijuana, gele, cimeng, hash, kangkung, oyen, ikat,
bang, labang, rumput atau grass, dan lain-lain.
2. Heroin / Putaw
Heroin diambil dari morfin melalui suatu proses kimiawi. Heroin tidak dipakai di dunia
kedokteran karena menimbulkan efek ketergantungan yang sangat berat, dan kekuatannya
jauh lebih besar daripada morfin. Jumlah yang sedikit saja sudah menimbulkan efek. Heroin
biasa berbentuk bubuk berwarna agak kecoklatan. Turunan heroin yang sekarang banyak
dipakai adalah Putaw yang mengakibatkan ketergantungan sangat berat bagi pemakainya.
Heroin biasanya digunakan dengan cara menyuntik melalui pembuluh darah (berbeda
dengan morfin) karena efeknya jauh lebih cepat terasa dan lebih lama tertahan. Ada pula
yang menggunakannya dengan cara menghirup lewat hidung. Seperti morfin, heroin dapat
mengurangi rasa sakit, mengurangi kecemasan , menenangkan dan memberikan rasa
aman. Seperti opiat lainnya, heroin menimbulkan toleransi, ketergantungan fisik dan

ketergantungan psikologis. Heroin / Putauw adalah obat yang sangat keras dengan zat adiktif
yang tinggi berbentuk serbuk, tepung, atau cairan. Heroin menjerat pemakainya dengan
cepat, baik secara fisik maupun mental, sehingga usaha mengurangi pemakaiannya
menimbulkan rasa sakit dan kejang-kejang luar biasa Gejala-gejala yang muncul dalam
usaha berhenti memakai heroin berupa rasa sakit disertai kejang-kejang, kram di perut
disertai rasa seperti akan pingsan, menggigil dan muntahmuntah, keluar ingus, mata berair,
tidak ada nafsu makan, dan kehilangan cairan tubuh Salah satu jenis heroin yang popular
adalah putauw yaitu heroin dengan kadar lebih rendah (heroin kelas lima atau enam)
yang berwarna putih. Jenis heroin ini dikenal dengan berbagai nama : putauw, putih,
bedak, PT, white, etep, dan lain-lain
3. Kokain / Crack
Kokain adalah zat perangsang berupa bubuk kristal putih yang disuling dari daun coca
(Erythroxylon coca) yang tumbuh di pegunungan Amerika Tengah dan Selatan. Seperti juga
amphetamin, kokaina merupakan stimulan/merangsang sistem saraf pusat sehingga
pengguna merasa enak dan bergelora.
Karena efek yang timbul relatif singkat, dan setelah perasaan bergelora hilang, orang akan
menggunakannya lagi untuk menghilangkan rasa tidak enak. Penggunaan secara kronis
dapat menimbulkan gangguan pencernaan, mual, hilangnya nafsu makan, berkurangnya
berat badan, sulit tidur, dan waham atau halusinasi ringan. Bila kokain disedot lewat
hidung, juga timbul kerusakan pada tulang hidung. Kokain adalah obat yang sangat
berbahaya dan menimbulkan ketergantungan psikologis yang besar.
4. MDMA / Ecstasy
MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) yang terkenal dengan sebutan Ecstasy sangat
popular di kalangan anak muda. Sayangnya, mitos sudah berkembang bahwa obat ini

aman, padahal tidaklah demikian kenyataannya. Penelitian di Amerika menemukan bahwa


obat ini sangat berbahaya karena merusak sistem kerja otak dan jantung. MDMA, adalah
zat turunan amphetamine yang memiliki sifat merangsang SSP (stimulant) maupun
mengupah persepsi (hallucinogen). Obat ini berbentuk tablet dan digunakan melalui cara
ditelan. Berbagai tablet yang disebut Ecstasy seringkali tidak hanya mengandung zat MDMA,
tetapi

campuran

dari

berbagai

zat

lain

seperti

methamphetamine,

caffeine,

dextromethorphan, ephedrine, and cocaine. Dampak penyalahgunaan MDMA sangat berat.


MDMA bekerja di otak. Serupa dengan amphetamines lainnya, MDMA meningkatkan
aktifitas di otak yang justru menghambat fungsifungsi otak yang seharusnya. Penelitian
membuktikan bahwa MDMA juga berdampak sangat buruk terhadap system kerja jantung
(cardiovascular sistim) dan kemampuan tubuh untuk mengatur suhu. Karena penggunaan
MDMA seringkali dihubungkan dengan kegiatan fisik yang tinggi dan lama (dansa misalnya),
maka dampaknya paling besar terhadap system kerja jantung. Akibat jangka panjang
penyalahgunaan MDMA adalah kerusakan otak, gangguan jiwa (psychiatric) seperti :
gelisah, paranoid, tidak bisa tidur, dan gangguan daya ingat.
5. Methamphetamin / Shabu-Shabu
Methamphetamine adalah stimulan yang sangat kuat mempengaruhi sistem syaraf pusat.
Obat ini dikelompokkan sebagai psycho-stimulan seperti amphetamin dan kokain yang
sering disalahgunakan. Obat ini dibuat dari berbagai zat sint etis dalam bentuk serbuk
putih, bening dan tak berbau yang dihirup dan disuntikan. Karena bentuknya yang bening
maka ia disebut Ice atau kristal. Methamphetamin merupakan turunan amphetamin dan
karenanya dalam hal kandungan zat dan efek terhadap pengguna hampir sama yaitu
menyebabkan aktivitas tinggi dan mengurangi nafsu makan.
Penyalahgunaannya dilakukan karena obat ini merangsang kegairahan dan kegembiraan

(euphoria). Penyalahgunaan methamphetamin dapat mengakibatkan ketergantungan yang


selanjutnya menyebabkan berbagai gangguan pada jantung, stroke, tingginya suhu badan,
dan juga kematian pada kasus over-dosis.
Shabu-shabu (salah satu jenis Methamphetamine) berbentuk kristal, tidak berbau dan tidak
berwarna. Karena itu diberi nama ce. Ice adalah julukan untuk methamphetamine. Ice
memiliki efek yang sangat kuat pada jaringan syaraf. Pengguna ice akan menjadi
tergantung secara mental pada obat ini. Pemakaian yang lama dapat menyebabkan
peradangan pada otot hati, bahkan kematian.
Efek yang ditimbulkan pada pengguna Ice : penurunan berat badan, impotensi, sawan yang
parah, halusinasi, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan jantung, stroke, bahkan kematian.
Ice dikenal dengan istilah : shabu-shabu, kristal, ubas, ss. Mecin, dan lain-lain.
6. Amphetamin
Amphetamin, adalah zat sintetik yang menyerupai kokain, berbentuk pil, kapsul atau
tepung. Amphetamin adalah zat perangsang yang digunakan untuk mengubah suasana hati,
meningkatkan semangat, mengurangi kelelahan dan rasa ngantuk, meningkatkan rasa
percaya diri, dan mengurangi berat badan. Tetapi karena dosis pemakaian akan terus
bertambah, maka obat ini tidak dipakai lagi dalam program diet.
Bagi orang yang menyalahgunakan obat ini, efeknya adalah memperoleh energi serta
semangat tinggi serta pada saat sedang intoksikasi. Jenis-jenis amphetamin antara lain:
Dexedrine, Laroxyl, Reactivan. Amphetamin meningkatkan detak jantung, tekanan darah,
dan pernafasan, serta mengurangi nafsu makan. Si pemakai dapat berkeringat, mulutnya
kering, mengantuk, dan cemas. Dosis tinggi menyebabkan seseorang merinding, pucat,
gemetar, kehilangan koordinasi, dan pingsan. Suntikan amphetamin dapat menyebabkan
naiknya tekanan darah secara mendadak sehingga mengakibatkan stroke, demam tinggi,

atau jantung lemah. Banyak orang merasa tergantung kepada amphetamin secara
psikologis, sedangkan ketergantungan fisik tidak terlampau hebat.

7. LSD
LSD (Lysergie Diethylamide Acid) yaitu obat yang sifatnya tidak berwarna, tidak berbau,
dan tidak berasa. LSD dijual dalam bentuk pil, kapsul, atau cairan, dan digunakan dengan
cara dimakan/diminum maupun disuntikkan. Gejala intoksikasi yang timbul antara lain:
perubahan panca indera, pupil melebar, denyut jantung cepat, berkeringat, berdebar,
pandangan kabur, gemetar, gangguan koordinasi motorik, kecemasan, serta gangguan
daya

penilaian

realita.

LSD

seperti

juga

halusinogen

lainnya

tidak

menimbulkan

ketergantungan fisik, tetapi psikologis.


8. Sedativa
Sedativa atau sedatif-hipnotik merupakan zat yang dapat mengurangi fungsi sistem syaraf
pusat. Sedativa dapat menimbulkan rasa santai dan menyebabkan ngantuk (sering disebut
obat tidur). Biasanya sedativa digunakan untuk mengurangi stress atau sulit tidur. Karena
toleransi dan ketergantungan fisik, maka gejala putus obat bias jauh lebih hebat daripada
putus obat dengan opiat. Zatzat ini juga mudah membuat ketergantungan psikologis.
Secara farmokologi sedativa dapat dibedakan antara barbiturat dan bukan barbiturat.
Barbiturat adalah jenis obat sintetik yang digunakan untuk membuat orang tidur,
mengurangi rasa cemas, dan mengontrol kekejangan, mengurangi tekanan darah tinggi.
Beberapa jenis barbiturate yang sering disalahgunakan adalah: Dumolid, Rohypnol,
Magadon,

Sedatin,

Veronal,

Luminal.

Nonnarbiturat,

contohnya

Methaqualone

yang

berbentuk pil putih (misalnya Mandrax/MX). Sedativa bias mengakibatkan koma bahkan
kematian bila dipakai melebihi takaran.

ik, ye) e?an pesan ke dalam sistem guna meemeriksa kesalahpahaman. Umpan balik ini
merupakan pengecekan mengenai berapa suksesnya kita dalam mentransfer pesan kita seperti yang
dimaksudkan semula.

Penghalang Komunikasi Efektif


1. Penyaringan
Penyaringan adalah manipulasi informasi yang dilakukan seorang pengirim dengan maksud agar
informasi itu akan tampak lebih menguntungkan di mata penerima. Penentu utama dari penyaringan
adalah banyaknya tingkat dalam suatu struktur organisasi.
2. Persepsi Selektif
Persepsi selektifr muncul karena penerima dalam proses komunikasi secara selektif melihat dan
mendengar berdasarkan kebutuhan, motivasi, pengalaman, latar belakang, dan karakteristik pribadi
mereka yang lain.
3. Emosi

Bagaimana perasaan si penerima ketika menerima suatu pesan komunikasi akan mempengaruhi
bagaimana ia menafsirkan pesan itu. Pesan yang sama yang diterima saat kita marah atau bingung
kemungkinan besar akan ditafsirkan secara lain dibanding bila kita dalam suasana netral.
4. Bahasa
Katakata tidak sama artinya pada orang yang berlainan. Bahasa yang digunakan seseorang
dipengaruhi oleh tiga variabel, yaitu: usia, pendidikan, dan latar belakang budaya.

Komunikasi Di Dalam Organisasi


Desain organisasi harus memungkinkan terjadinya komunikasi ke empat yang berbeda: ke bawah, ke
atas, horizontal dan diagonal. Karena keempat arah komunikasi ini merupakan kerangka komunikasi
dalam tubuh organisasi, marilah kita kaji secara singkat satu demi satu. Hal ini akan memungkinkan kita
untuk memahami lebih baik berbagai hambatan komunikasi yang efektif dalam organisasi, serta cara
untumk mengatasi hambatan tersebut.
Komunikasi ke Bawah (Downward Communication)
Komunikasi ke bawah mengalir dari individu di tingkat atas hirarki kepada orang orang di tingkat bawah.
Bentuk komunikasi ke bawah yang paling umum adalah instruksi kerja, memo resmi, pernyataan
kebijaksanaan, prosedur, buku pedoman, dan publikasi perusahaan. Di dalam kebanyakan organisasi,
komunikasi ke bawah, sering tidak lengkap dan tidak akurat. Hal ini terbukti dari seringnya terdengar
pernyataan di kalangan anggota organisasi bahwa `kita sama sekali mengetahui apa yang terjadi`.
Keluhan tesebut menunjukkan tidak cukupnya komunikasi ke bawah dan perlunya pegawai mendapatkan
informasi yang sesuai dengan pekerjaan dapat menimbulkan tekanan batin yang tidak perlu di antara
anggota organisasi.
Komunikasi ke Atas (Upward Communication)

Organisasi yang efektif memerlukan komunikasi ke atas sama banyak dengan komunikasi ke bawah
yang diperlukannya. Komunikasi ke atas yang berhasil sering digunakan untuk mengambil keputusan
yang sehat. Beberapa arus komunikasi ke atas yang paling umum adalah: kotak saran, pertemuan
kelompok, dan prosedur naik banding atau pengaduan.
Komunikasi Horizontal
Komunikasi horizontalmisalnya komunikasi antara departemen produksi dengan departemen penjaual
dalam organisasi bisnis da di antara jurusan atau fakultas dalam sebuah universitas diperlukan untuk
mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai fungsi organisasi.

Komunikasi Diagonal
Komunikasi diagonal bersilang melintasi fungsi dan tingkatan dalam organisasi, serta penting dalam
situasi dimana anggota tidak dapat berkomunikasi lewat satu saluran ke atas, ke bawah, ataupun
horizontal.
Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi mengalir dar4I orang ke orang secara langsung atau dalam suasana kelompok. Arus
semacam itu disebut komunikasi antar pribadi dan dapat bervariasi dari perintah langsung sampai
dengan percakapan sepintas lalu. Perilaku antarpribadi tidak akan ada tanpa komunikasi antarpribadi.
Komunikasi antarpribadi menghubungkan antar orang orang.
Masalah yang timbul ketika manajer berusaha untuk berkomunikasi dengan orang lain dapat disebabkan
oleh perbedaan persepsi dabn perbedaan gaya antarpribadi. Setiap manajer memandang dunia sesuai
dengan latar belakang, pengalaman, kepribadian, kerangka acuan, dan sikapnya. Cara manajer untuk
berhubunan dan belajar dari lingkungan (termasuk masyarakat di lingkungan itu) adalah melalui informasi
yang diterima dan dikirimkan. Dan cara manajer menerima dan mengirimkan informasi sebagian
tergantung pada bagaimana hubungan mereka dengan dua pengirim informasi yang sangat penting,
yaitu diri mereka sendiri dan orang lain.
Label: ARTIKEL

o
o
o

inShare5 52

0 komentar:
Post a Comment
Newer PostOlder PostHome

Share

SHARE WITH

Search
Search

Labels

AGAMA (65)
RECENT BLOG

UMUM (52)

ARTIKEL(46)

Popular Posts

IMAN, ISLAM, IHSAN


Iman, islam, ihsan adalah tiga kata yang maknanya saling berkaitan, sebagaimana yang
diterangkan dalam hadits Rasulullah S...

ALGAE DAN PROTOZOA


PENDAHULUAN Kingdom prosita mencakup semua spesies uniseluler cukariotik. Sebagian diantara
organisme ini serupa dengan hewan (protozoa)...

ASBABUN NUZUL
Mata Kuliah Ke Al Quranan PENDAHULUAN 1.1
turunkan juga memerlukan sebab-seb...

Latar Belakang Ayat-ayat Al Quran yang Allah

PLURALISME DALAM BUDAYA INDONESIA


Mata Kuliah Kewarganegaraan PENDAHULUAN Sejak lama, seluruh bangsa Indonesia selalu diangkat
agar selalu hidup bedampingan dengan ...

Blog Archive
2013 (123)
o January (40)
VARIABEL PERBEDAAN INDIVIDUAL
HUKUM BUNUH DIRI MENURUT PANDANGAN AJARAN ISLAM
PERAN MEDIA DALAM DAKWAH ISLAM
SUMBANGAN PERADABAN ISLAM TERHADAP PERKEMBANGAN FI...
PSIKOLOGI AGAMA DAN KECENDERUNGAN PRAGMATISME
SISTEM EKONOMI ISLAM
UKHUWAH ISLAMIAH
PERAN TASAWUF DALAM MENGEMBANGKAN MASYARAKAT YANG ...
ALIRAN POSTMODERNISME
AL-QURAN DAN REPRODUKSI
AMENORE HIPOTALOMUS
EPISTIMOLOGI
TOKOH-TOKOH FILSAFAT ISLAM
LIMBAH
EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM
TALAK
BATIK
BIMBINGAN KONSELING SEBAGAI PROFESI
SEMAKIN BERAT TANTANGAN PENDIDIKAN NON FORMAL
BERBAHASA SECARA SANTUN
GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA
HUKUM GADAI DALAM ISLAM
RIBA DALAM PANDANGAN UMMAT MANUSIA
HUKUM BUNUH DIRI MENURUT PANDANGAN AJARAN ISLAM
KEWIRAUSAHAAN
ULUMUL QUR'AN
MUJARAAH ATAU MUKHABARAH DAN MUSYAQAH
SEMANGAT NASIONALISME INDONESIA
MASLAHAH MURSALAH, URF ISTISHHAB DAN ISTINBATH
HUKUM NIKAH SIRI DALAM ISLAM
MULTIKULTURALISME PENDIDIKAN ISLAM

REALISASI IMAN DALAM KEHIDUPAN SOSIAL


PERCAYA PADA MALAIKAT DALAM KAJIAN PSIKOLOGI
AHLUSSUNAH WAL JAMAAH (ASWAJA)
Ke-ORGANISASI-aN
LEADERSHIP
PERS MAHASISWA
NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat A...
SAINS DALAM PRESPEKTIF LINTAS AGAMA
INGKARUSUNAJAH; Para Pengingkar Sunnah
o February (50)
o March (21)
o April (4)
o May (3)
o June (2)
o September (1)
o October (1)
o November (1)
2014 (5)

Members
Subscribe Now
Subscribe in a reader

Google+ Followers
Follow this blog
Search...

berbagiILMU. Powered by Blogger.

Academics directory

Academics directory

Headline news of BERBAGI ILMU

[x]

BLOGGER INDONESIA

Share

SHARE WITH

BERBAGI ILMU 2011 | Design by Blogger Hack Supported by PBT

Petidin-Madu atau Racun??


Posted on April 11, 2011 | Leave a comment

RerE 06-167 VIvI 07-060 NanA 07-070


OlivE 07-109 DinAr 07-129
Saat ini banyak terdapat berbagai jenis obat penghilang rasa nyeri. Obat anti nyeri yang sering digunakan dan
dijual bebas tanpa resep dokter adalah golongan obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS), misalnya: ibuprofen,
natrium diklofenak atau jenis lainnya. Pada kondisi tertentu, dimana rasa nyeri sedemikian hebat, obat

golongan AINS tidak lagi cukup untuk dapat menghentikan rasa nyeri tersebut. Dalam kondisi tersebut, dokter
dapat menggunakan narkotik, salah satu golongan obat penghilang rasa nyeri yang sangat potensial namun
rawan penyalahgunaan.

Salah satu dampak penyalahgunaan obat penghilang rasa nyeri, yaitu pada kasus tewasnya Michael Jackson.
Kematian Michael Jackson diduga akibat penggunaan obat-obat secara berlebihan tanpa pengawasan dokter
yang berwenang. Di antara obat-obat yang ditenggarai tersebut, termasuk didalamnya adalah obat penghilang
rasa nyeri golongan narkotik, meperidin HCl.

Apa itu meperidin HCl?


Meperidin HCl yang biasa dikenal dengan nama petidin, merupakan salah satu obat penghilang rasa sakit
golongan narkotik. Obat ini ditemukan pada tahun 1939, oleh dua orang ilmuwan Jerman, yaitu Eisleb and
Schaumann. Pada awal kemunculannya, obat ini juga digunakan untuk mengatasi otot yang kaku (spasme).
Meperidin HCl termasuk golongan obat sintetik. Secara umum, rumus kimia meperidin hampir sama dengan
metadon dan fentanil, yang merupakan dua jenis penghilang nyeri yang sudah cukup dikenal.

Rumus kimia petidin

Cara kerja dari meperidin HCL atau petidin?


Petidin merupakan narkotika sintetik derivat fenilpiperidinan dan terutama berefek terhadap susunan saraf
pusat. Mekanisme kerja petidin menghambat kerja asetilkolin (senyawa yang berperan dalam munculnya rasa
nyeri) yaitu pada sistem saraf serta dapat mengaktifkan reseptor, terutama pada reseptor , dan sebagian kecil
pada reseptor kappa. Penghambatan asetilkolin dilakukan pada saraf pusat dan saraf tepi sehingga rasa nyeri
yang terjadi tidak dirasakan oleh pasien

Efeknya terhadap SSP adalah menimbulkan analgesia, sedasi, euphoria, dapresi pernafasan serta efek sentral
lain. Efek analgesik petidin timbul aga lebih cepat daripada efek analgetik morfin, yaitu kira-kira 10 menit,
setelah suntikan subkutan atau intramuskular, tetapi masa kerjanya lebih pendek, yaitu 24 jam. Absorbsi
petidin melalui pemberian oral maupun secara suntikan berlangsung dengan baik. Obat ini mengalami
metabolism di hati dan diekskresikan melalui urin

Kegunaan Petidin Dalam Dunia Medis??


Petidin digunakan sebagai analgesia untuk semua tipe nyeri yang sedang sampai berat. Misalnya sebagai
suplemen sedasi sebelum pembedahan, nyeri pada infark miokardium walaupun tidak seefektif morfin sulfat,
mengatasi nyeri setelah operasi, atau nyeri lainnya yang tidak dapat diatasi dengan obat biasa, untuk
menghilangkan ansietas (kecemasan) pada pasien dengan dispnea (sesak nafas) karena acute pulmonary
edema & acute left ventricular failure.

Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100
mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Akan tetapi sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg.
Dosis untuk bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.
Petidin memiliki waktu paruh selama 5 jam. Dan durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam.

Adapun perbedaan petidin dan morfin:

1. Petidin memiliki kelarutan dalam lemak lebih besar dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air.

2. Metabolisme petidin oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam
normeperidinat. Normeperidin merupakan metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat
petidin, tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%.

3. Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia.

4. Seperti morfin ia menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan.

5. Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan
hipiotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa, sedangkan morfin tidak memiliki aksi tersebut.

6. Durasi kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

Efek Samping Petidin


Petidin sebagai salah satu obat analgesik golongan narkotik tentu memiliki efek samping berupa ketagihan
terhadap penggunaan obat. Selain ketagihan, petidin juga memiliki efek samping menekan sistem pernapasan.

Efek samping yang ditimbulkan oleh petidin antara lain sakit kepala ringan, kepala terasa berputar, mual,
muntah, gangguan aliran darah, gangguan koordinasi otot serta gangguan jantung. Efek samping yang tidak
terlalu parah dapat berupa kesulitan buang air besar (konstipasi), kehilangan nafsu makan, mual, muntah, sakit
kepala dan mulut terasa kering serta keringat berlebihan.

Obat ini juga dapat menimbulkan efek alergi berupa kemerahan, gatal danbengkak pada daerah sekitar tempat
penyuntikan. Gejala alergi ini dapat bermanifestasi parah, seperti kesulitan bernafas, bengkak pada wajah, bibir
dan lidah, serta tenggorokan.

Efek samping yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian adalah menekan sistem pernafasan.
Efek samping ini akan semakin berbahaya apabila petidin digunakan secara berlebihan atau dikonsumsi
bersamaan dengan obat lain yang juga menekan sistem pernafasan, seperti obat pelemas otot atau obat
penenang. Kematian dapat disebabkan laju nafas yang semakin menurun kemudian berhenti. Selain itu,
penurunan tekanan darah serta gangguan pada sistem saraf pusat yang ditimbulkan juga dapat mengakibatkan
kematian.

Efek samping berupa ketagihan dapat menimbulkan terjadinya overdosis. Gejala overdosis yang timbul berupa
perubahan warna pada kulit, kulit menjadi dingin, dan kelemahan otot. Seseorang yang telah menggunakan
obat ini dalam jangka waktu yang cukup lama, penghentiannya harus dilakukan secara bertahap dengan cara
menurunkan dosis obat secara perlahan-lahan. Hal ini disebabkan adanya efek withdrawal atau gejala putus
obat yang dapat terjadi. Apabila penggunaan obat ini dihentikan secara tiba-tiba, maka akan muncul gejala
berupa jantung berdebar, denyut nadi meningkat, serta pernafasan tertekan. Selain itu, penderita akan merasa
tidak nyaman, merasa nyeri pada seluruh tubuh yang disertai muntah.

Sumber:
Windiasari, D., 2010, Golongan Obat Yang Bekerja Mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, http://dinnawindiasari.blogspot.com/2010/09/golongan-obat-yang-bekerja-mempengaruhi.html, diakses tanggal 1 April
2011
Anonim, 2009, Pethidine, http://en.wikipedia.org/wiki/Pethidine, diakses tanggal 2 april 2011
Anonim, 2010, Penghilang Nyeri, Pembawa
Maut,http://www.idijembrana.or.id/index.php?module=artikel&kode=8, diakses tanggal 1 April 2011
Anonim, 2010, Penghilang Rasa Sakit Bersalin Paling
Aman,https://babyorchestra.wordpress.com/tag/penghilang-rasa-sakit-bersalin-paling-aman/, diakses tanggal 1
April 2011
Biworo, A., 2011, Analgetika, http://www.infogigi.com/dr.-Agung-Biworo,-M.Kes.html, diakses tanggal 2
April 2011
PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NAPZA

Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor :


1. Faktor individual :

Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun
sosial yang pesat. Ciri ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan NAPZA :
a. Cenderung memberontak
b. Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.

c. Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada


d. Kurang percaya diri
e. Mudah kecewa, agresif dan destruktif
f. Murung, pemalu, pendiam
g. Merasa bosan dan jenuh
h. Keinginan untuk bersenang senang yang berlebihan
i. Keinginan untuk mencaoba yang sedang mode
j. Identitas diri kabur
k. Kemampuan komunikasi yang rendah
l. Putus sekolah
m. Kurang menghayati iman dan kepercayaan.
2. Faktor Lingkungan :

Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya,
maupun masyarakat.
Lingkungan Keluarga :
a. Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
b. Hubungan kurang harmonis
c. Orang tua yang bercerai, kawin lagi
d. Orang tua terlampau sibuk, acuh
e. Orang tua otoriter

f. Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya


g. Kurangnya kehidupan beragama.
Lingkungan Sekolah :
a. Sekolah yang kurang disiplin
b. Sekolah terletak dekat tempat hiburan
c. Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan
positif
d. Adanya murid pengguna NAPZA.
Lingkungan Teman Sebaya :

a. Berteman dengan penyalahguna


b. Tekanan atau ancaman dari teman.
Lingkungan Masyrakat / Sosial :
a. Lemahnya penegak hukum
b. Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.
Faktor faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA. Akan
tetapi makin banyak faktor faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna NAPZA.
# GEJALA KLINIS PENYALAHGUNAAN NAPZA :
1. Perubahan Fisik :

- Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo ( cadel ), apatis ( acuh tak acuh ), mengantuk,
agresif.

Bila terjadi kelebihan dosis ( Overdosis ) : nafas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin,
bahkan meninggal.
Saat sedang ketagihan ( Sakau ) : mata merah, hidung berair, menguap terus, diare, rasa sakit seluruh tubuh,
malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi
keropos, bekas suntikan pada lengan.
2. Perubahan sikap dan perilaku :

- Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos, pemalas, kurang bertanggung
jawab.
Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di kelas atau tempat kerja.
Sering berpergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin.
Sering mengurung diri, berlama lama di kamar mandi, menghidar bertemu dengan anggota keluarga yang lain.
Sering mendapat telpon dan didatangi orang yang tidak dikenal oleh anggota keluarga yang lain.
Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya, mengambil dan
menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga, mencuri, terlibat kekerasan dan sering berurusan dengan
polisi.
Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan pencurigaan, tertutup dan penuh
rahasia.
# PENGARUH PENYALAHGUNAAN NAPZA
NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya :
1. Komplikasi Medik : biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama. Pengaruhnya pada :
a. Otak dan susunan saraf pusat :
- gangguan daya ingat
gangguan perhatian / konsentrasi

gangguan bertindak rasional


gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik / buruk.
b. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru ( Bronchopnemonia ). pembengkakan paru ( Oedema Paru )
c. Jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung.
d. Hati : terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual.
e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV / AIDS.
Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seksual demi
mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi adalah : kencing nanah ( GO
), raja singa ( Siphilis ) dll. Dan juga pengguna NAPZA yang mengunakan jarum suntik secara bersama sama
membuat angka penularan HIV / AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV / AIDS menular melalui jarum suntik dan
hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin.
f. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.
g. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka sering
menggunakan baju lengan panjang.
h. Komplikasi pada kehamilan :
- Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS.
Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati
Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
2. Dampak Sosial :
a. Di Lingkungan Keluarga :
Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung.
Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib keluarga.

Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan
keluarga, kesulitan keuangan.
Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi.
b. Di Lingkungan Sekolah :
Merusak disiplin dan motivasi belajar.
Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman sebaya.
c. Di Lingkungan Masyarakat :
Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna / mangsanya.
Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan.
Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat menjadi
resah.
Meningkatnya kecelakaan.
# UPAYA PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NAPZA :
Upaya pencegahan meliputi 3 hal :
1. Pencegahan primer : mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan melakukan intervensi.
Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk
menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan
NAPZA.
Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh
kembang anak dapat diatasi dengan baik.
2. Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.

3. Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.


Yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA :
1. Mengasuh anak dengan baik.
- penuh kasih sayang
penanaman disiplin yang baik
ajarkan membedakan yang baik dan buruk
mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat
Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
3. Meluangkan waktu untuk kebersamaan.
4. Orang tua menjadi contoh yang baik.
Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
5. Kembangkan komunikasi yang baik
Komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
6. Memperkuat kehidupan beragama.
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam
agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari hari.
7. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak
Yang dilakukan di lingkungan sekolah untuk pencegahan penyalahgunaan NAPZA :
1. Upaya terhadap siswa :
Memberikan pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA.
Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di sekolah.
Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan ketrampilan yang positif untuk tetap menghidari dari
pemakaian NAPZA dan merokok.
Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa ( ekstrakurikuler ).

Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling.Membantu siswa yang telah menyalahgunakan NAPZA untuk bisa
menghentikannya.
Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari hari.
2. Upaya untuk mencegah peredaran NAPZA di sekolah :
Razia dengan cara sidak
Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah
Melarang siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran tanpa ijin guru
Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah.
3. Upaya untuk membina lingkungan sekolah :
Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis antara
pendidik dan anak didik.
Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah
Sikap keteladanan guru amat penting
Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.
Yang dilakukan di lingkungan masyarakat untuk mencegah penyalahguanaan NAPZA:
1. Menumbuhkan perasaan kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah yang terjadi di
lingkungan dapat diselesaikan secara bersama- sama.
2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahguanaan NAPZA sehingga masyarakat
dapat menyadarinya.
3. Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan NAPZA.

4. Melibatkan semua unsur dalam masyarakat dalam melaksanakan pencegahan dan penanggulangan
penyalahguanaan NAPZA.