Anda di halaman 1dari 22

Tuberkulosis

Penyebab Penyakit Tuberkulosis, Ciriciri Penyakit Tuberkulosis, Gejala


Penyakit Tuberkulosis, Tanda-tanda
Penyakit Tuberkulosis, dan Cara
Pencegahan Penyakit Tuberkulosis

>>> Obat TBC - Minyak Sari Buah Merah Mengobati Penyakit TBC, Gejala TBC dan Membantu Memperkuat Sistem Imun Tubuh Dari Serangan Penyakit, Klik Detail Disini!

Tuberkulosis
Posted by tuberkulosis

Ada yang menganggap remeh, ada juga yang takut. Tuberkulosis dahulu hanya dianggap sebagai penyakit yang
hanya dapat menyerang kalangan bawah, padahal anak-anak atau dewasa dengan gizi baik pun dapat terkena.
Menurut D. Erlina Burhan, SpP (K), ahli Paru RS. Persahabatan , Jakarta. Tuberkulosis merupakan
penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium tuberculosis ini, menyebabkan
kerusakan terutama pada paru, menimbulkan ganggun berupa batuk, sesak napas, bahkan
dapat menyebar ke tulang, otak, dan organ lainnya. Bila dibiarkan, kuman ini dapat
menggerogoti tubuh dan menyebabkan kematian. Saat ini tuberkulosis merupakan penyakit
menular penyebab kematian utama di Indonesia.
Berdasarkan hasil survei pada tahun 2010, jumlah penderita
tuberkulosis di Indonesia mencapai 289 per 100.000
penduduk. Bandingkan saja dengan jumlah penduduk di
Indonesia yang sebesar 239 juta pada saat itu. Saat ini,
Indonesia menduduki peringkat ke-5 negara dengan penderita
tuberkulosisi terbesar di dunia.
Tuberkulosis bukan penyakit baru buat Indonesia. Sudah ada
sederet upaya memberantas penyakit ini dari pemerintah, tapi
tidak juga berhasil membuat tuberkulosis dan penyebabnya
Tuberkulosis

lengkap. Indonesia hingga kini masih saja dirundung ancaman


kematian akibat tuberkulosis.

Penyakit Tuberkulosis
Menurut Dr. Erlina, kematian akibat tuberkulosis umumnya karena kegagalan pengobatan. Ini terutama
dipengaruhi oleh kurangnya oengertian mengenai tuberkulosis, faktor ekonomi, pengobatan yang tidak teratur,
adanya penyakit penyerta, serta kebiasaan merokok dan gizi penderitannya.
Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, karena dahulu, penderita tuberkulosis jarus meminum4 jenis obat

setiap hari selama 6 bulan. Biaya pengobatan tuberkulosis yang cukup besar, menyebabkan penderita nekat
berhenti minum obat setelah 2-3 bulan. Biasanya selama masa ini, gejala tuberkulosis memang berkurang,
badan tidak lagi kurus, meski sebenarnya kuman tuberkulosis hanya tertidur sementara waktu.

Pengobatan TBC
Putus pengobatan bukan tanpa risiko. Kuman yang luar biasa penyebab tuberkulosis ini akan bangun lagi dan
menjadi lebih ganas. Sering kali penderita tuberkulosis yang putus obat, datang kembali dengan gejala yang
lebih berat beberapa bulan kemudian. Bahkan sampai tidak lagi dapat diatasi dengan pengobatan standar
karena kuman menjadi kebal.
Penderita tuberkulosis tentunya tidak bisa berhenti dalam pengobatan ini. Pengobatan tuberkulosis akan
dihentikan bila gejala dan penyebab mulai menghilang dan tidak menunjukkan kemunculan kembali, tentunya
atas ijin dan tetap dalam pengawasan dokter. Namun semua itu tergantung dari pola hidup penderita dan
menjauhi penderita TBC lainnya.
Bila seperti ini, pengobatan akan menjadi sangat sulit. Pasien harus disuntik setiap hari selama
2 bulan. Itupun tidak menjamin kesembuhan, karena paru-paru atau organ lain sudah terlanjur
rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi. Pengobatan yang seharusnya hanya 6 bulan, dapat
menjadi jauh lebih panjang sampai 1-2 tahun.
Dengan demikian, keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada kepatuhan penderita dalam minum obat
tbc. Kehadiran pengawas dalam minum obat (PMO), apalagi orang yang dekat atau dihormati oleh penderita,
selain mengingatkan untuk minum obat juga memberi semangat untuk sembuh. Selain rutin meminum obat,
pasien juga hendaknya memperhatikan asupan makanan yang disantapnya, agar bergizi baik dan tinggi protein.
Ini akan turut mendukung proses penyembuhan agar lebih sempurna.

Penularan Tuberkulosis
Penularan tuberkulosis terjadi lewat dari seorang penderita positif TBC dan kemudian ditentukan juga
berdasarkan dari jumlahnya kuman yang ada di dalam paru-paru si penderita, biasanya penyebaran kuman
yang terjadi di udara lewat dari dahak bisa berbentuk droplet. Penderita penyakit TBC paru yang
mengandung banyak jumlah kuman akan bisa terlihat dari mikroskop dalam suatu pemeriksaan dahak yang
dilakukan adalah hal yang sangat menular. Pada penderita penyakit TBC paru-paru, dengan hasil BTA yang
positif biasanya akan mengeluarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet yang biasanya bentuknya sangat
kecil disaat sedang batuk atau juga saat sedang bersin. Droplet yang jumlahnya sangat kecil ini kemudian akan
mengering dengan lebih cepat dan bisa berubah menjadi droplet yang mengandung kandungan kuman
tuberkulosis. Biasanya hal ini bisa dbertahan di udara paling tidak selama beberapa jam.
Droplet yang banyak mengandung kuman kemudian akan masuk terhirup oleh orang lain. Dan jika kuman ini
sudah masuk dan menetap tinggal di dalam paru orang yang menghirupnya, maka kuman akan mulai
membelah dirinya dan akan terjadi suatu infeksi dari satu orang ke orang yang lainnya.
Diagnosis penyakit tuberkulosis ini ditegakkan berdasarkan jika adanya suatu gejala tbc atau keluhan,
pemeriksaan pada biakan, pemeriksaan secara mikroskopis, radiologik, dan juga pemeriksaan tuberkulin tes.
Dan melakukan pemeriksaan biakan biasanya hasil yang akan didapatkan menjadi lebih baik, namun waktu
dari pemeriksaan ini biasanya akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Sehingga untuk saat ini pemeriksaan
dahak dengan menggunakan mikroskopis lebih banyak dilakukan karena melihat dari sensitivitas dan juga

spesivitasnya yang tinggi dan disamping itu juga sangat tinggi dan disamping itu juga jumlah biayanya yang
sanga rendah. Untuk seorang penderita yang dinyatakan menderita penyakit tbc biasanya akan mengalami sakit
paru menulaar seperti gejala batuk berdahak selama 3 kali. Dan kuman ini baru akan terlihat menggunakan
mikroskopis jika jumlah dari kuman paling sedikit adalah paling tidak sekitar 5000 batang dalam waktu 1 ml
dahak. Dan dalam pemeriksaan ini maka dahak yang sangat baik adalah dahak yang mukopurulen yang
warnanya hijau agak kekuningan dan jumlahya juga harus sekitar 3-5 ml dalam tiap pengambilannya.
Tuberkulosis
Posted in Tuberkulosis | Tagged askep tuberkulosis, patofisiologi tuberculosis, penyakit tuberculosis, spondilitis tuberculosis, Tuberculosis, tuberkulosis adalah, tuberkulosis
pada anak, tuberkulosis paru | Comments O

Tuberkulosis Pada Anak


Posted by tuberkulosis

Tuberkulosis Pada Anak Penyakit tuberkulosis dapat menyerang manusia mulai dari usia anak sampai
dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Penyakit tuberkulosis
biasanya banyak ditemukan pada pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi
sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam rumah sangat minim. Tuberkulosis pada anak dapat
terjadi di usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun.

Tuberkulosis Pada Anak

Tuberkulosis pada Anak


Anak-anak lebih sering mengalami tuberkulosis luar paru-paru (extapulmonary) dibanding tuberkulosis paruparu dengan perbandingan 3:1. Tuberkulosis luar paru-paru adalah tuberkulosis berat yang terutama
ditemukan pada usia < 3tahun. Angka kejadian (prevalensi) tuberkulosis paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup
rendah, kemudian meningkat setelah usia remaja di mana tuberkulosis paru-paru menyerupai kasus pada
pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).

Keluhan tuberkulosis pada anak yang sering muncul, antara lain :


Demam : subfebris, febris (40-41C) hilang timbul.
Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkhus. Batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan
produksi radang yang dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum).
Sesak nafas : bila sudah lanjut di mata infiltrasi radang sampai setengah paru-paru.
Nyeri dada : jarang ditemukan, nyeri akan timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga
menimbulkan pleuritis.

Malaise : ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri
otot dan keringat malam.
Sianosis, sesak napas dan kolaps merupakan gejala atelektasis,. Bagian dada pasien tidak bergerak pada saat
bernpasa dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. Pada foto toraks, pada sisi yang sakit tampak bayangan
hitam dan diafragma menonjol ke atas.
Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal, karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai
penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular.

Pemeriksaan Tuberkulosis Anak


Pemeriksaan fisik Tuberkulosis Pada Anak :
1. Pada tahap dini sulit diketahui
2. Ronchi basah, kasar dan nyaring
3. Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskulatasi memberikan suaru umforik
4. Pada keadaan lanjut terjadi atropi, retraksi interkostal dan fibrosis
5. Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak).
Kasus tuberkulosis pada anak adalah salah satu jenis masalah yang khusus yang berbeda dengan kasus
penyakit tbc pada orang dewasa. Perkembangan dari penyakit TBC pada anak saat ini berkembang dengan
pesat. Dan paling tidak sekurang-kurangnya ada sekitar 500.000 anak didunia ini yang menderita tuberkulosis
dalam hitungan setiap tahunnya. Di negara Kita, proporsi dari kasus tuberkulosis anak pada semua kasus yang
sudah ternotifikasi di dalam program TB ada dalam batas yang normal yakni adalah sekitar 8-11% namun jika
dilihat berdasarkan tingkatan provinsi sampai juga fasilitas dari pelayanan kesehatan, variasi proporsi
menunjukkan hal yang cukup lebar yakni adalah 1,8-15,9%. Untuk membantu mengobati masalah permasalah
tuberkulosis anak, maka saat ini sudah diterbitkan suatu panduan tingkat global. Tuberkulosis pada anak saat
inia dalah salah satu bentuk komponen yang sangat penting untuk bisa mengendalikan penyakit TBC, dengan
cara pendekatan pada kelompok orang-orang yang mempunyai resiko tinggi dalam hal menderita penyakit tbc
dan salah satunya adalah anak-anak, mengingat tuberkulosis merupakan salah satu penyebab dari kematian
yang tinggi pada anak dan bayi di negara endemis tuberkulosis.

Pemeriksaan penemuan pasien tuberkulosis pada anak bisa dilakukan dengan cara pemeriksaan
seperti :
1. Anak yang melakukan kontak erat dengan mereka yang menderita TB menular. Kontak erat misalnya adalah
tinggal 1 rumah atau juga sering bertemu dengan penderita TB. Pasien TB yang menular adalah salah
seorang pasien Tb dari hasil suatu pemeriksaan sputumnya BTA yang dinyatakan positif dan umumnya
lebih banyak terjadi pada usia dewasa.
2. Anak dengan tanda dan gejala klinis yang sesuai dengan Tuberkulosis pada anak. TBC adalah salah satu
jenis penyakit dari infeksi sistemik dan juga lebih sering menyerang bagian orang paru-paru. Gejala TBC
yang klinis dari penyakit ini adalah bisa berupa gejala umum atau juga tergantung dari organ yang terkait.
Penakanan pada gejala klinis TB harus diperlukan, karena gejala yang tidak khas juga akan bisa disebabkan
karena berbagai jenis penyakit yang lainnya selain penyakit tuberkulosis.

Diagnosis Tuberkulosis pada Anak


Tuberkulosis adalah salah satu jenis penyakit yang menular dan angka kejadian kaus TB di
Indonesia sangat tinggi. Diagnosis yang ditegakan pada kasus TB seperti umumnya jenis penyakit menular

yang lain adalah dengan menemukan terlebih dahulu penebab dari penyakit TB yakni adalah kuman atau
bakteri Mycibacterium tuberculosis. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan sputum, membilas
lambung, penggunaan cairan serebrospinal, dan cairan pleura atau menggunakan biopsi jaringan. Diagnosis
yang ditegakkan berdasarkan dari suatu pemeriksaan mikrobiologi yang biasanya terdiri dari
beberapa tahapan, yakni adalah :
1. Pemeriksaan mikroskopis apusan langsung atua jaringan untuk menemukan BTA
2. Dan pemeriksaan pada perkembabiakan kuman TB
Untuk anak yang mengalami penyakit tuberkulosis, maka sangat dianjurkan untuk melakukan suatu
emeriksaan mikrobiologi. Pemeriksaan serologi yang dilakukan biasanya tidak direkomendasikan oleh Who
dalam hal sarana diagnosti TB. Pemeriksaan mikrobiologik ini sulit dilakukan pada anak karena susahnya
dalam mendapatkan spesimen. Spesimen misalnya adalah dalam bentuk sputum, induksi sputum atau juga
melakukan pemeriksaan seperti bilas lambung selama 3 hari berturut-turut.

Tuberkulosis Pada Anak


Posted in Tuberkulosis | Tagged askep tuberkulosis, askep tuberkulosis paru, epidemiologi tuberkulosis, etiologi tuberkulosis, gejala tuberkulosis, jurnal tuberkulosis,
limfadenitis tuberkulosis, makalah tuberkulosis, meningitis tuberkulosis, patofisiologi tuberkulosis, patogenesis tuberkulosis, pencegahan tuberkulosis, pengertian tuberkulosis,
penyakit tuberkulosis, penyebab tuberkulosis, spondilitis tuberkulosis, tuberkulosis, tuberkulosis adalah, tuberkulosis anak, tuberkulosis di indonesia, tuberkulosis pada anak,
tuberkulosis paru, tuberkulosis paru pdf, tuberkulosis pdf, tuberkulosis ppt, tuberkulosis tbc, tuberkulosis tulang | Leave a comment

Tuberkulosis Paru
Posted by tuberkulosis

Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena ineksi kuman Mycobacterium
tuberculosis. Tuberkulosis paur termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup 80% dari keseluruhan kejadian
penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar.
Diperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia pernah terinfeksi kuman Mycobacterium
tuberculosis.

Tuberkulosis Paru

Epidemiologi Tuberkulosis Paru


Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang sejarahnya dapat dilacak sampai ribuah tahun sebelum
masehi. Sejak zaman purba penyakit ini dikenal sebagai penyebab kematian yang menakutkan. Sampai pada
saat Robert Koch menemukan penyebab tuberkulosis, penyakit ini masih termasuk penyaki yang mematikan.
Istilah saat itu untuk penyakit yang mematikan ini adalah consumption. Tuberkulosis di Amerika
Serikat pada tahun 1915. Saat itu, masih dianut paham bahwa penularan tuberkulosis adalah
melalui kebiasaan meludah di sembarang tempat dan ditularkan melalui debu dan lalat. Hingga
tahun 1960, paham ini masih dianut di Indonesia.
Di negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Utara, angka kesakitan maupun angka kematian tuberkulosis
paru pernah menurun secara tajam. Di Amerika Utara, saat awal orang Eropa berbondong-bondong bermigrasi
ke sana, kematian akibat tuberkulosis pada tahun 1.800 sebesar 650 per 100.000 penduduk, tahun 1860 turun
menjadi 400 per 100.000 penduduk, di tahun 1900 menjadi 210 per 100.000 penduduk, pada tahun 1920
turun lagi menjadi 100 per 100.000 penduduk dan pada tahun 1969 turun secara drastis menjadi 4 per 100.000
penduduk per tahun. Angka kematian karena tuberkulosis di Amerika serikat pada tahun 1976 telah turun
menjadi 1,4 per 100.000 penduduk. Penurunan angka kesakitan maupun angka kematian ini diyakini
disebabkan oleh :
Membaiknya keadaan sosioekonomik
Infeksi pertama yang terjadinya pada usia muda
Tuberkulosis masih meningkat saat ini meskipun banyak yang masih menyakini bahwa ini
merupakan masalah pada waktu lampau. Meskipun paling sering terlihat sebagai penyakit
paru. Tuberkulosis dapat mengenai selain paru (16%) dan mempengaruhi organ dan jaringan lain. Insiden
lebih tinggi pada laki-laki, bukan kulit putih dan lahir di negara asing.
Selain itu, orang pada risiko paling tinggi termasuk yang dapat terpajan pada basilus pada waktu lalu dan yang
tidak mampu atau mempunyai kekebalan rendah karena kondisi kronis, seperti AIDS, kanker, usia lanjut,
malnutrisi dsb. Kebanyakan pasien diobati sebagai pasien rawat jalan, tetapi dapat dirawat di rumah sakit
selama evaluasi, diagnostik/ awal pengobatan, reaksi merugikan dari obat atau penyakit atau ketidakmampuan
berat.

Diagnosis Penyakit Tuberkulosis


Diagnosis dari penyakit tuberkulosis paru-paru dilakukan jika penyakit TBC biasanya akan menimbulkan
suatu gejala atau tanda klinis yang terbagi menjadi dua yakni adalah gejala respiratorik dan gejala
sistematik. Gejala respiratorik misalnya adalah gejala seperti batuk, batuk darah, sesak nafas, nyeri pada dada.
Sedangkan gejala sistemik adalah demam, keringat dimalam hari, anoreksia, dan berat badan menurun atau
mengalami malaise.
Gejala respiratorik terjadi dengan sangat bervariasi misalnya adalah tidak adanya suatu gejala sampai gejala
yang muncul mulai cukup berat. Namun semua ini tergantung dari luasnya lesi. Terkadang pasien yang sudah
terdiagnosis pada saat melakukan pemeriksaan. Jika bronkus masih belum terlibat dalam proses penyakit TB
ini, maka kemungkinan pasien tidak akan mengalami gejala batuk. Gejala batuk yang pertama kali muncul
diakibatkan karena adanya suatu iritasi pada bronkus, dan selanjutnya batuk ini dibutuhkan dalam hal
pembuangan dahak untuk keluar.

Pada perkembangan awal penyakit tbc, biasanya sangat susah sekali dalam menemukan adanya suatu kelainan
yang terjadi dalam pemeriksaan fisik. Kelainan yang biasanya banyak dijumpai semuanya tergantung dari jenis
organ yang mengalami infeksi. Kelainan yang terjadi pada paru biasanya terletak pada daerah lobus superior
yang paling utama terjadi pada daerah apeks dan juga di segmen posterior. Dan dalam suatu pemeriksaan fisik
yang dilakukan, maka akan dijumpai beberapa gejala seperti suara napas bronkial, amforik, suara napas yang
mulai melemah, ronki yang basah, serta adanya suatu tanda-tanda pada penarikan paru, diafragma dan juga
mediastinum.
Untuk pemeriksaan yang dilakukan pada mereka yang diduga menderita penyakit Tuberkulosis
paru, maka akan dilakukan 3 pemeriksaan spesimen dahak dalam jangka waktu selama 2 hari
dilakukan di pagi hari sewaktu (SPS). Dan berdasarkan dari suatu panduan pada program TB nasional,
diagnosis yang ditegakkan pada penyak tuberkulosis paru orang dewasa dengan dilihatnya adanya suatu kuman
TB atau BTA. Sedangkan dalam pemeriksaan lain misalnya seperti foto thorax, biasanya biakan dan juga uji
dari kepekaan yang bisa digunakan sebagai salah satu penunjang dari diagnosis yang sesuai dan juga cocok
dengan indikasi dan tidak dibenarkan dalam hal mendiagnosis tuberkulosis jika diagnosis yang dibuat hanya
berdasarkan dari pemeriksaan foto thorax saja.
Pemeriksaan penunjang dari penyakit tbc paru adalah dengan pemeriksana bakteriologis. Pemeriksaan
bakteriologis ini dilakukan untuk membantu menemukan kuman penyebab tbc yang mempunyai suatu arti
yang sangat penting untuk bisa mendiagnosis penyakit. Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan
bakteriologis adalah dari dahak, cairan pleura, bilasan pada bronkus, liquor cerebrospinal, bilasan pada
lambung, kurasan dari bronkoalveolar, urin, feeces, dan juga melakukan jaringan pada biopsi.

Tuberkulosis Paru
Posted in Tuberkulosis | Tagged askep tuberkulosis, patofisiologi tuberculosis, penyakit tuberculosis, spondilitis tuberculosis, Tuberculosis, tuberkulosis adalah, tuberkulosis
pada anak, tuberkulosis paru | Leave a comment

Pemeriksaan Tuberkulosis
Posted by tuberkulosis

Pemeriksaan Tuberkulosis Indonesia menempati urutan ketiga didunia, setelah India dan China pada
penyakit Tuberkulosis. Untuk mengatasi dan mengurangi jumlah penderita tuberkulosis,
Indonesia menerapakan DPS (Dokter Praktik Swasta) dan menerapkan strategi DOTS (Directly
Obseved Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO dan menerapkannya pada
Puskesmas secara bertahap dan digunakan sebagai satu-satunya strategi pemberantasan
tuberkulosis di Indonesia.

Pemeriksaan Tuberkulosis

Pengobatan Tuberkulosis
Penting sekali DPS untuk memiliki paradigma bahwa pengobatan pasien tuberkulosis harus mengupayakan
kesembuhan, tidak sekedar menemukan, mendiagnosis dan mengobati saja. Strategi DOTS memudahlan
mencapai tujuan pengobatan tuberkulosis yaitu kesembuhan.

Adapun DOTS meliputi lima komponen kunci, yaitu :


1. Komitmen politis. Ini bisa harus ada pada setiap dokter yang akan mengobati paisen tuberkulosis. Poin yang
pertama ini berarti bahwa dokter bersedia dengan penuh tanggung jawab untuk menangani pasien tersebut
hingga sembuh. Jika dokter tidak bersedia menangani, ia boleh merujuk pasien ke unit pelayanan kesehatan
lainnya seperti puskesmas atau rumah sakit.
2. Pemeriksaan dahak mikroskopik yang terjamin mutunya, yaitu pemeriksaan 3 kali dahak SPS (sewaktu pagi
sewaktu).
3. Pengobatan jangka pendek, termasuk pengawasan langsung pengobatan. Pengobatan minimal dilakukan 6
bulan baik pasien tuberkulosis anak maupun dewasa dan diawasi oleh PMO (pengawas minum obat).
4. Jaminan ketersediaan obat anti tuberkulosis (OAT) yang bermutu. Pemerintah memberikan OAT gratis bagi
pasien tuberkulosis.
Hingga saat ini Pemeriksaan Tuberkulosis lewat dahak menjadi Pemeriksaan Tuberkulosis yang wajib
dilakukan untuk pasien tuberkulosis dewasa dan anak yang sudah bisa mengeluarkan dahak. Pemeriksaan
dahak sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah pasien benar-benar menderita penyakit tbc atau
tidak. Selain itu pasien dengan pemeriksaan dahak yang menunjukkan BTA (+) harus ditangani khusus karena
ia menjadi sumber penularan bagi orang lain.

Pemeriksaan Tuberkulosis
Untuk mendiagnosis tuberkulosis, Pemeriksaan Tuberkulosis dengan dahak dilakukan minimal
3 kali yaitu saat datang ke laboratorium hari pertama, saat pagi hari ketika bangun tidur hari
kedua, dan saat datang lagi ke laboratorium hari kedua. Rangkaian pemeriksaan ini disebut
dengan SPS (sewaktu pagi sewaktu). Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, pasien harus
mengerti bahwa yang diperiksa adalah dahak, riak/sputum, bukan air liur/ludah. Oleh karena
itu, sebelum pasien datang ke laboratorium, dokter harus menjelaskan hal tersebut kepada
pasien, termasuk cara mengeluarkan dahak apabila pasien kesulitan mengeluarkan dahak.
Selain dengan melakukan pemeriksaan dahak, pemeriksaan tuberkulosis yang dilakukan adalah dengan
pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan ini merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang rutin dilakukan yakni
dengan foto thorax. Pemeriksaan ini atas indikasi dari pemeriksaan foto apikolordotik, oblik, dan CT scan.
Tuberkulosis biasanya akan memberikan suatu gambaran dengan bervariasi pada foto thorax. Gambaran dari
radiologis yang biasanya ditemukan bisa berupa :
1. Bayangan yang muncul pada lesi lapangan yang letaknya diatas paru atau juga segmen dari apikal lobus
bawah.
2. Bayangan berawan dan juga adanya bercak
3. Adanya suatu kavitas tunggal dan ganda

4. Bayangan berbentuk bercak militer


5. Bayangan pada efusi pleura, dan umumnya adalah unilateral
6. Destroyed lobe sampai destroyed lung
7. Klasifikasi
8. Shcwate

Selain dengan melakukan pemeriksaan dahak dan pemeriksaan radiologis,


pemeriksaan khsuus yang lain yang bisa dilakukan dalam hal pemeriksaan
tuberkulosis adalah :
1. BACTEC dengan cara metode radiometrik, dimana letak dari CO2 yang dihasilkan dari sistem metabolisme
asam lemak M. Tuberculosis yang dideteksi dari growth indeksnya.
2. Polymerase chain reaction (PCR) dengan cara melakukan suatu deteksi DNA dari M. Tuberculosis, namun
hanya saja masalah teknik yang terjadi dari pemeriksaan ini adalah suatu kemungkinan dari kontaminasi.
3. Pemeriksaan dari serologi : misalnya seperti ELISA, ICT,dan Mycodot.

Pemeriksaan tuberkulosis penunjang lainnya adalah misalnya dengan :


1. Pemeriksaan analisan cairan pleura dan juga hispatologi jaringan
2. Pemeriksaan darah dimana letak LED masih bisa mengalami peningkatan namun tidak bisa digunakan
sebagai salah satu indaktor yang lebih spesifik lagi dari penyakit TB.
Di Idonesia dengan kasus TB yang tinggi, melakukan uji tuberkulin sebagai salah satu alat bantu untuk
melakukan dan menegakkan diagnosis pada penyakit biasanya kurang berguna untuk orang dewasa. Hal ini
mempunyais suatu manfaat jika sudah didapatkan suatu konversi, bila dan kepositifan dari yang bisa didapat
dan jumlahnya besar sekali.
Jika sudah melakukan pemeriksaan, maka penderita akan melakukan pengobatan dengan cara minum obat.
Penentuan dari dosis pada terapi kombinasi pemberian obat tetap misalnya 4 obat semua berdasarkan dari
rentang dosis yang sudah ditentukan oleh WHO dan merupakan dosis yang sangat efektif atau juga masih
termasuk ke dalam salah satu batas dosis terapi dan non toksik. Untuk kasus yang bis amendapatkan obat dari
kombinasi dosis tetap tadi, jika Anda mengalami suatu efek samping yang terjadi lebih serius lagi, maka Anda
harus melakukan pemeriksaan kerumah sakit atau pada dokter spesialis paru atau juga utnuk fasiliti yang bisa
menangani masalah ini.

Seseorang yang sudah melakukan pengobatan dengan minum obat tbc dinyatakan
sembuh jika mempunyai beberapa kriteria seperti :
1. BTA mikroskopis yang menunjukkan negatif sebanyak 2 kali.
2. Foto thorax atau gambaran dari radiolohi serial yang tetap sama atau mengalami suatu perbaikan.
3. Adanya suatu perbaikan yang klinis dalam bentuk batuk yang menghilang, dan naiknya berat badan.
4. Jika ada suatu fasiliti biakan, maka kriteria ini bisa ditambahkan biakan negatifnya

Pemeriksaan Tuberkulosis
Posted in Tuberkulosis | Tagged askep tuberkulosis, patofisiologi tuberculosis, penyakit tuberculosis, spondilitis tuberculosis, Tuberculosis, tuberkulosis adalah, tuberkulosis
pada anak, tuberkulosis paru | Leave a comment

Penyakit Tuberkulosis TBC

Posted by tuberkulosis

Penyakit Tuberkulosis TBC adalah salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini dapat menyerang semia bagian tubuh manusia namun
yang paling sering terkena (90%) adalah organ paru. Gejala TBC pari tdak sama dengan pneumonia, karena
kuman yang menyerang TBC spesifik sedangkan kuman yang menyerang pneumonia dapat beracam-macam.
Organ yang diserang pada TBC dapat bervariasi, namun 90% menyerang paru-paru, sedangkan pada
pneumonia yang diserang selalu organ paru-paru. Tetapi TBC dan pneumonia prosesnya sama yakni berupa
infeksi paru-paru.

Penyakit Tuberkulosis TBC

Penyakit Tuberkulosis
Gejala penyakit tuberkulosis TBC paru umum adalah batuk berdahak terus menerus selama 3 minggu atau
lebih. Pada tahap lanjut, dapat dijumpai dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas dan rasa nyeri dada,
badan lemak, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat
malam walaupun tanoa kegiatan, demam meriang >1bulan. Saat batuk atau bersin, penderita TBC menebarkan
kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman tersebut dapat
bertahan di udara pada suhu selama beberapa jam.
Penularan gejala penyakit tuberkulosis TBC paru dapat terjadi jika droplet tersebut terhidup saluran
pernapasan orang lain. Setelah masuk ke dalam tubuh melalalui pernapasan, kuman TB menyebar dari paru ke
organ dalam tubuh lainnya, melalui system peredaran darah, system saluran limfe, saluran napas, dan lainlain. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari paru.
Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil
pemeriksaan dahak negative (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Selain
itu, kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya
menghirup udara.
Bakteri TBC memiliki daya tahan yang kuat dan tetap hidup walau sudah diberi antibiotic, sehingga
membutuhkan pengobatan berbulan-bulan. Saat segala sudah reda, harus tetap menjalani pengiobatan karena
kuman TBC tersebut tetap aktif dan siap membentuk kekebalan terhadap obat yang masuk ke dalam tubuh.
Jika pengobatan berhenti sebelum waktunya, maka dikhawatirkan timbul resistensi (kekebalan) bakteri TBC

terhadap antibiotika sehingga pengibatan akan semakin sulit dan semakin mahal.
Penderita yang mengalami TBC tidak selalu mengalami batuk berdarah. Karena batuk berdarah dapat
disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena penyakit paru-paru lainnya atau adanya pendarahan didaerah
hidung bagian belakang yang tertelan dan pada saat batu keluar dari mulut. Bisa juga karena batuk terlalu
keras sehingga menyebabkan lukanya saluran nafas dan mengeluarkan darah.

Penularan Penyakit TBC


Umumnya media penularan TBC melalui percikan dahak penderita saat batuk dan meludah. Bisa juga
melalui debum alat makan atau minum yang mengandung kuman TBC. Kuman yang masuk ke dalam tubuh
akan berkembang biak, lama terkumpulnya kuman sampai timbulnya gejala penyakit dapat berbulan-bulan
sampai bertahun-tahun.
Penyakit tuberkulosis TBC adalah salah satu jenis penyakit infeksi menular yang umumnya lebih sering
menyerang paru-paru. Jika seseorang sudah mengalami infeksi dari serangan bakteri penyebab tbc maka akan
mengalami suatu hal yang buruk seperti daya kerja dan produktivitas kerja yang mengalami penurunan, selain
itu juga akan menularkannya kepada orang lain dan paling besar resikonya adalah keluarga yang tinggal
serumah dan pada akhirnya akan menyebabkan komplikasi fatal seperti kematian jika tidak ditangani dengan
baik.
Sekitar 95,9% penyakit tuberkulosis lebih sering menyerang paru-paru. Dan cara penularannya adalah lewat
ludah atau juga dahak yang mengandung banyak basil atau kuman TBC paru. Pada waktu seseorang penderita
TBC batuk, maka butir-butir dari air ludah yang beterbangan di udara akan dihisap oleh orang yang sehat dan
kemudian akan masuk ke dalam paru. Setelah itu akan menyebabkan penyakit TBC paru.

Gejala Tuberkulosis
Gejala penyakit Tuberkulosis TBC adalah :
1. Batuk berdahak lebih dari 2 minggu
2. Batuk berdarah atau juga mengeluarkan bercak darah
3. Nyeri di sekitar dada
4. Sesak nafas disaat sedang bernapas
Masa inkubasi dari penyakit TBC paru adalah sekitar dari mulai terinfeksi sampai juga pada lesi primer yang
muncul, sedangkan waktunya berkisar diantara 4-12 minggu untuk mengalami tuberkulosis paru. Pada
pulmonair progresif dan juga extrapulmonair, tuberkulosis ini biasanya akan membutuhkan waktu lebih
panjang lagi sampai beberapa tahun. Da dari periode potensi dari penularan, maka selama basil tuberkel yang
ada pada sputum atau dahak. Untuk beberapa kasus tanpa melakukan suatu pengobatan atau juga dengan
melakukan pengobatan yang tidak adekuat mungkin akan menyebabkan kambuhan dengan sputum yang
nilainya positif dalam waktu beberapa tahun. Tingkatan atau derajat dari suatu penularan semuanya
bergantung dari kepada banyaknya jumlah basil dari tuberkulosis yang ada di dalam sputum, virulensi dari atas
basil dan juga adanya suatu peluang terjadinya pencemaran udara yang berasal dari batuk, bersin dan juga
berbicara keras secara umum.
Kepekaan untuk bisa mengalami infeksi penyakit ini adalah semua pendidik, tidak adanya suatu perbedaan
antara jenis kelamin laki-laki dan wanita, tua muda, dan juga bayi serta balita. Kepekaan yang paling tinggi

terjadi pada anak yang berusia kurang dari 3 tahun yang paling renndah untuk anak yang lahir akhir pada usia
12-13 tahun, dan bisa menjadi semakin tinggi lagi di usia remaja dan usia lanjut.
Penyakit Tuberkulosis TBC
Posted in Tuberkulosis | Tagged anti tuberkulosis, askep tuberkulosis, askep tuberkulosis paru, asuhan keperawatan tuberkulosis, definisi tuberkulosis, epidemiologi
tuberkulosis, etiologi tuberkulosis, gejala tuberkulosis, jurnal tuberkulosis, komplikasi tuberkulosis, limfadenitis tuberkulosis, makalah tuberkulosis, meningitis tuberkulosis,
mycobacterium tuberculosis, patofisiologi tuberkulosis, penyakit tuberkulosis, tuberkulosis adalah | Leave a comment

Tuberkulosis Paru Pada Anak


Posted by tuberkulosis

Tuberkulosis Paru Pada Anak Tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi akibat mycobacterium
tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru, dengan gejala yang
sangat bervariasi. Penting untuk diperhatikan bahwa janis bisa tertular tuberkulosis dari ibunya selama
masih berada dalam kandunga, sebelum atau selama persalinan berlangsung (karena menghirup atau menelan
cairan ketuban yang terinfeksi). atau setelah lahir (karena menghirup udara yang terkontaminasi oleh percikan
ludah yang terinfeksi. Jika tidak diobati dengan antibiotik atau tidak divaksinasi, maka sekitar 50% bayi yang
ibunya merupakan penderita tuberkulosis aktif akan menderita penyakit ini pada tahun pertamanya.

Tuberkulosis Paru Pada Anak

Gejala Tuberkulosis pada Anak


Gejala Tuberkulosis Paru Pada Anak yang timbul pada bayi dan anak berupa:
Demam
Tampak mengantuk
Tidak kuat mengisap
Gangguan pernapasan
Gagal berkembang (tidak terjadi penambahan berat badan)
Pembesaran hati dan limpa karena organ ini menyaring bakteru tuberkulosis sehingga menyebabkan
aktivasi sel-sel darah putih.
Sementara itu, gejala tuberkulosis yang timbul pada orang dewasa berupa :
Batuk lebih dari 4 minggu, dengan atau tanpa dahak (sputum)
Lemas
Timbul gejala flu
Berkeringat pada malam hari
Berat badan turun
Demam ringan

Nyeri di bagian dada


Batuk berdarah

Diagnosis Penyakit TBC


Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik
Gambaran gejala TB paru berupa :
Tahap asimptomatis
Timbul gejala TB yang khas, kemudian stagnasi dan regresi
Kekambuhan/feksaserbasi yang memburuk
Gejala berulang dan menjadi kronis

Pemeriksaan Tuberkulosis
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :
Terdapat sekret di saluran napas dan ronki
Tanda-tanda infiltrasi suara napas yang redup, ronki basah
Tanda-tanda ada penarikan paru, difragma dan mediastinum dada
Pada pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan darah rutin memperlihatkan bahwa laju endap darah (LED) normal atau meningkat, serta terjadi
limfositosis (limfosit tinggi).
Pada foto thoraks :
Terdapat gambaran lesi di bagian atas paru atau segmen apikal lobus bawah
Gambaran berawan (patchy) atau bercak (nodular)
Adanya kavitas tunggal atau ganda
Adanya pengapuran atau klasifikasi paru
Gambaran menetap pada pemeriksaan beberapa minggu kemudian
Gambaran milier
Pemeriksaan dahak (sputum)
Pemeriksaan sputum terhadap basil tahan asam (BTA) yang positif memastikan diagnosis TB paru. Namun
pemeriksaan ini kurang sensitif karena hanya mendeteksi sekitar 30 hingga 70%.
Tes PAP (Perosidase Anti Peroksidase)
Tes ini merupakan uji serologi imunoperoksidase menggunakan alat histogen imunoperoksidase staining untuk
menentukan adanya imunoglobulin G (IgG) spesifik terhadap basil TB
Tes Tuberkulin/Mantoux
Pilihan lain adalah melakukan tes tuberkulin/mantoux.
Cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah untuk bisa menemukan kuman penyebab tuberkulosis
paru pada anak Anda bisa menegakkan diagsnosis penyakit TB anak misalnya adalah dengan cara
memadukan suatu gejala yang klinis dan juga melakukan suatu pemeriksaan dalam hal penunjang yang lain

yang sesuai. Adanya suatu riwayat dari kontak yang sangat erat hubungannya dengan pasien penyakit TBC
yang menular adalah salah satu jenis informasi yang sangat penting dalam hal mengetahui adanya suatu
sumber dari penularan. Dan kemudian selanjutnya, perlu adanya suatu pembuktian apakah anak sudah
mengalami penularan dari kuman TBC dengan cara melakukan uji tuberkulin. Uji tuberkulin yang dilakukan
pada tuberkulosis paru pada anak akan menandakan adanya suatu reaksi dari hipersensitifitas pada antigen
yang diberikan.
Hal ini dengan tidak langsung maka akan menandakan bahwa pernah ada kuman yang masuk ke dalam tubuh
paisen atau anak yang sudah mengalami penularan. Anak yang mengalami penularan belum tentu juga
menderita penyakit TBC hanya karena tubuh pasien mempunyai daya tahan tubuh atau juga karena sistem
imunitas yang cukup dalam melawan kuman penyakit TBC. Jika sistem daya tahan tubuh anak sudah cukup
baik, maka pasien tersebut secara klinis biasanya akan terlihat sehat dan juga keadaan ini biasanya disebut
dengan suatu infeksi TB Laten. Namun jika sistem daya tahan tubuh anak mengalami penurunan dan tidak bisa
mengendalikan kuman maka biasanya anaka akan menderita penyakit TB serta akan menunjukkan suatu gejala
klinis dan juga gejala radiologis. Gejala tbc yang klinis serta radiologis pada TB anak akan menjadi tidak
spesifik, karena gambaran yang lebih mirip gejala akibat dari penyakit yang lainnya. Oleh sebab itulah, sangat
dibutuhkan suatu ketelitian yang sangat tinggi untuk bisa menilai suatu gejala yang klinis pada pasien atau juga
pada suatu hasil foto thorax.
Pemeriksaan tuberkulosis paru pada anak penunjang lainnya yang paling utama adalah membantu untuk
menegakkan diagnosis penyakit TB pada anak dengan membuktikan bahwa adanya suatu infeksi seperti
melakukan uji tuuberkulin atau mantoux test. Tuberkulin yang ada di Indonesia saat ini adalah dengan
melakukan PPD RT-23 2 Tu dan Staten Serum Institute Denmark, produksi dari Biofarma. Namun, uji
tuberkulin ini belum terseida dalam semua fasilitas pelayanana kesehatan. Cara yang bisa dilakukan untuk
melaksanakan terdapat suatu lampiran.
Dalam pemeriksaan penunjang yang lain dan sangat cukup penting adalah suatu pemeriksaan foto thorax.
Namun, gambaran dari foto thorax yang terdapat di tuberkulosis paru pada anak sifatnya tidak khas karena
biasanya juga akan dijumpai pada penyakit yang lainnya. Dan dengan demikian, pemeriksaan dari foto thorax
saja tidak bisa digunakan dalam hal melakukan dan menegakkan diagnosis Tb kecuali jika gambaran dari TB
milier.
Tuberkulosis Paru Pada Anak
Posted in Tuberkulosis | Tagged anti tuberkulosis, askep tuberkulosis, askep tuberkulosis paru, asuhan keperawatan tuberkulosis, definisi tuberkulosis, epidemiologi
tuberkulosis, limfadenitis tuberkulosis, patogenesis tuberkulosis, tuberkulosis, tuberkulosis adalah, tuberkulosis pada anak, tuberkulosis paru, tuberkulosis ppt, tuberkulosis
tbc, tuberkulosis tulang | Leave a comment

Gejala Tuberkulosis
Posted by tuberkulosis

Gejala Tuberkulosis TBC merupakan infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis. Infeksi biasanya terjadi di bagian atas paru-paru. Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh manusia
dapat menghambat perkembangbiakan bakteri penyebab TBC. Akan tetapi, pada saat kondisi tubuh seseorang
melemah, bakteri tersebut dapat berkembang biak.

Gejala Tuberkulosis

Gejala Tuberkulosis
Gejala Tuberkulosis antara lain :
Kelelahan
Kehilangan berat badan
Berkeringat pada malam hari
Jika infeksi lebih buruk, Gejala Tuberkulosis yang akan timbul yaitu :
Dada sakit
Batuk dengan mengeluarkan dahak atau darah
Napas pendek atau sesak nafas
Penderita TBC dapat diobati dengan pemberian antibiotik oleh dokter. Pengobatan secara teratur selama 6-12
bulan dapat mencegah TBC kambuh lagi. Penyakit TBC merupakan penyakit menular. Oleh karena itu,
pencegahan Gejala Tuberkulosis dilakukan dengan menghindari kontak langsung dengan penderita TBC. TBC
dapat menular misalnya melalui dahak penderita TBC yang secara tidak langsung terhirup manusia yang sehat.
Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guedrin)
Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menghindarkan balita dari penyakit tuberkulosis atau TBC. Di
negara berkembang, termasuk Indonesia, TBC masih menjadi penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di
negara maju, penyakit TBC sudah sangat jarang ditemukan karena keberhasilan imunisasi BCG yang
dilaksanakannya secara luas.
Balita dapat terkena penyakit TBC karena menghirup udara yang mengandung kuman TBC yang berasal dari
orang dewasa penderita TBC. Atau dapat pula terjadi balita terkena penyakit TBC sejak lahir karena ia
dilahirkan oleh ibu penderita TBC. Penyakit TBC paling sering menyerang paru-paru, tetapi kuman ini juga
dapat menyerang kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati dan selaput otak. Penyakit TBC selaput otak
merupakan jenis TBC yang paling berat.

Imunisasi BCG sebaiknya diberikan kepada bayi yang baru lahir hingga berusia 2 bulan. Setiap 5 tahun,
revaksinasi harus dilakukan. Sebab vaksin BCG tidak memberikan kekebalan 100% terhadap serangan penyakit
TBC. Artinya vaksin ini hanya menjamin balita terbebas dari serangan penyakit TBC berat, misalnya TBC paruparu kronis, TBC otak, atau TBC tulang yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian pada
balita.

Faktor Resiko Penyakit Tuberkulosis


Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi seseorang mengalami penyakit
tuberkulosis adalah :
1. Faktor sosial ekonomi
Hubungan antara kondisi lingkungan rumah dan sekittar sangat menentukan penularan tbc terjadi.
Kepadatan keluarga juga sangat berhubungan erat dalam hal penularan penyakit TBC.
2. Status gizi
Status gizi seseorang yang mengalami kekurangan kandungan makanan yang mengandung gizi serta nutrisi
tinggi akan sangat memperanguhi sistem kekebalan tubuh seseorang sehingga akan menjadi lebih rentan
dalam penyakit lainnya termasuk salah satunya adalah penyakit TBC paru-paru. Keadaan yang seperti ini
sangat menentukan seseorang bisa mengalami infeksi penyakit TB.
3. Usia
Untuk penyakit TBC lebih sering ditemukan pada usia muda atau usia produktif. Saat ini sudah mengalami
suatu transisi demografi yang bisa mengakibatkan usia harapan hidup seorang lansia menjadi lebih tinggi.
Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun dalam hal sistem imunologis seseorang akan mengalami penurunan,
sehingga akan menjadi sangat rentan untuk mengalami serangan penyakit dan salah satunya adalah
termasuk penyakit Tb-paru.
4. Jenis kelamin
Pria lebih tinggi mengalami resiko penyakit TBC. Pada pria, jenis penyakit ini biasanya lebih tinggi terjadi
menyebabkan kematian akibat dari merokok tembakau dan mengonsumsi minuman yang mengandung
alkohol sehingga akan membuat sistem pertahanan tubuh seseorang menurun dan akan lebih mudah
mengalami paparan pada agent yang menjadi penyebab dari tbc.

Cara Mencegah Penyakit TBC


Cara mencegah penyakit TBC adalah dengan melakukan beberaoa hal dibawah ini :
1. Memelihara kesehatan tubuh.
2. Perlunya sarana kesehatan, pemeriksaan pada penderita, kontak atau juga suatu suspect gambas, dan sering
dilaporkan, pemeriksaan serta pengobatan dini pada penderita, melakukan perawatan.
3. Pengobatan yang peventif biasanya hal ini diartikan sebagai salah satu tinakan keperawatan pada penderita
dengan cara memberikan obat INH sebagai bentuk pencegahan.
4. Pemberian BCG, atau vaksinasi, dan hal ini diberikan pada bayi dengan cara perlindungan untuk ibu dan
kelurganya. Kemudian pemberian ini dilakukan 5 tahun kemudian dan pada waktu 12 tahun di tingkat
tersebut dalam bentuk suatu pencegahan.
5. Memberantas penyakit TBC dalam hal memerah susu.
Strategi pengobatan dari gejala tuberkulosis adalah adalah dengan melakukan DOTS atau Directly Observed
Treatment Shortcourse atau DOTS yang merupakan salah satu bentuk dari strategi pengobatan pada

penyakit tuberkulosis paru dengan menggunakan OAT yang lebih mengutamakan kepada pengawasan
minum obat selama proses masa pengobatan sedang berlangsung, selain itu juga mencegah pasien putus
berobat serta melakukan pencarian dan juga penemuan untuk kasus yang baru di kalangan masyarakat.
Dalam melakukan program ini akan ada suatu pengawas minum obat yang mempunyai tugas dalam hal PMO
untuk bisa mengawasi pasien TB bisa menelan obat tbc dengan teratur sampai pengobatan selesai, dengan
memberikan doronhgan atau motivasi pada pasien, dan kembali mengingatkan pasien untuk melakukan
pemeriksaan ulang pada dahak dalam waktu yang sudah ditentukan serta juga memberikan suatu penyuluhan
pada pasien.
Kunci dari keberhasilan pengobatan ini adalah dengan menerapkan DOTS yang biasanya juga sudah dianut
oleh negara kita. Oleh sebab itulah pemahaman mengenai DOTS adalah salah satu hal yang sangat penting agar
penyakit tuberkulosis bisa ditangani dengan baik.

Gejala Tuberkulosis
Posted in Tuberkulosis | Tagged anti tuberkulosis, askep tuberkulosis, askep tuberkulosis paru, asuhan keperawatan tuberkulosis, definisi tuberkulosis, epidemiologi
tuberkulosis, etiologi tuberkulosis, gejala tuberkulosis, patofisiologi tuberkulosis, patogenesis tuberkulosis, penyebab tuberkulosis, spondilitis tuberkulosis, tuberkulosis,
tuberkulosis adalah, tuberkulosis anak, tuberkulosis di indonesia, tuberkulosis kelenjar, tuberkulosis kutis, tuberkulosis milier, tuberkulosis pada anak, tuberkulosis paru,
tuberkulosis paru pdf, tuberkulosis pdf, tuberkulosis ppt, tuberkulosis tbc, tuberkulosis tulang | Leave a comment

Cara Penularan TBC


Posted by tuberkulosis

Cara Penularan TBC Penyakit TBC ditularkan dari orang ke orang, terutama melalui saluran
napas dengan menghisap atau menelan tetes-tetes ludah/dahak (droplet infection) yang
mengandung basil dan dibatukkan oleh penderita TBC terbuka. Atau juga karena adanya kontak
antara tetes ludah/dahak tersebut dan luka di kulit. Dalam tetes-tetes ini kuman dapat hidup beberapa jam
dalam udara panas lembab, dalam nanah bahkan beberapa hari. Untuk membatasi penyebaran perlu sekali di screen semua anggota keluarga dekat yang erat hubungannya dengan penderita. Dengan demikian penderita
baru dapat dideteksi pada waktu yang dini.

Cara Penularan TBC

Penyakit TBC
Ada banyak kesalahfahaman mengenai daya Cara Penularan TBC. Umumnya ada anggapan bahwa tuberkulosis

bersifat sangat menular, tetapi pada hakikatnya bahaya infeksi relatif tidak begitu besar dan dapat disamakan
dengan penularan pada penyakit infeksi saluran pernapasan lainnya, seperti selesma dan influenza. Akan tetapi
bahaya semakin meningkat, karena sering kali seseorang tidak diketahui sudah menderita TBC (terbuka) dan
telah menularkannya pada orang-orang di sekitarnya sebelum penyakitnya terdeteksi.

Pencegahan Cara Penularan TBC


Cara Penularan TBC perlu diwaspadai dengan mengambil tindakan-tindakan pencegahan selayaknya untuk
menghindarkan infeksi tetes dari penderita ke orang lain. Salah satu cara adalah batuk dan bersin sambil
menutup mulut/hidung dengan sapu tangan atau kertas tissue untuk kemudian didesinfeksi dengan lysol
atau dibakar. Bila penderita berbicara, jangan terlampau dekat dengan lawan bicaranya. Ventilasi yang baik
dari ruangan juga memperkecil bahaya penularan.
Anak-anak dibawah usia satu tahun dari keluarga yang menderita TBC perlu divaksinasi BCG sebagai
pencegahan, bersamaan dengan pemberian isoniazid 5-10 mg/kg selama 6 bulan (kemoprofilaksis).
1. Reaksi Mantoux (Reaksi Tuberkulin)
Dilakukan untuk menentukan belum atau sudahnya seseorang terinfeksi basil TBC. Reaksi ini dilakukan
dengan penyuntikan intradermal dari tuberkulin, suatu filtrat dari pembiakan basil yang mengandung produk
pemisahannya (protein) yang khas.
a. Reaksi Positif
Tampak sebagai kemerah-merahan setempat dan menunjukkan terdapatnya antibodies terhadap basil
Tuberkulosis di dalam darah. Hal ini berarti bahwa yang bersangkutan pernah mengalami infeksi primer atau
telah divaksinasi dengan BCG. Antibodi tersebut telah menjadikannya kebal terhadap infeksi baru. Orang
dengan reaksi tuberkulin positif harus diperiksa lebih lanjut sputum dan paru-parunya dengan sinar Rontgen.
b. Reaksi Negatif
Berarti bahwa orang yang bersangkutan belum pernah mengalami infeksi primer. Ia lebih mudah terserang
TBC daripada orang dengan reaksi positif.
2. Vaksin BCG
Daya tangkis orang dengan reaksi tuberkulin negatif dapat diperkuat melalui vaksinasi dengan vaksin BCG.
Vaksin ini mengandung basil TBC sapi yang telah dihilangkan keganasannya (virulensi) setelah dibiakkan di
laboratorium selama bertahun-tahun. Vaksinasi meninggalkan tanda bekas luka yang nyata, biasanya dilengan
bawah dan memberikan kekebalan selama 3-6 tahun terhadap infeksi primer dan efektif untuk rata-rata 70%.
Vaksin BCG terutama efektif untuk menghindari TBC miliar dan TBC meningitis. Bayi di daerah dengan
insidensi TBC besar seringkali diimunisasi dengan BCG secara rutin.
Efektivitas vaksin BCG adalah kontroversial, walaupun sudah digunakan lebih dari 50 tahun di seluruh dunia.
Hasilnya sangat bervariasi, beberapa penelitian baru telah memperlihatkan perlindungan terhadap lepra, tetapi
sama sekali tidak terhadap tuberkulosis. Vaksin BCG diberikan intradermal 0,1 ml bagi anak-anak dan orang
dewasa, 0,05 untuk bayi.
3. Kemoprofilaksis

Terutama dilakukan dengan isoniazida. Anak-anak di bawah usia 4 tahun dari keluarga penderita tuberkulosis
dan orang-orang dengan resiko besar untuk dihinggapi infeksi dapat diberikan secara kontinu selama 6 bulan
isoniazida sebagai profilaksis. Bila terdapat intoleransi dapat diganti dengan rifampisin, maksimal 6 bulan. Di
samping itu, dilakukan pula imunisasi dengan BCG. Untuk profilaksis terhadap infeksi M. avium dianjurkan
monoterapi dengan antibiotikum makrolida azitromisin (1 kali seminggu 1.200 mg).

Pengobatan Tuberkulosis
Pengobatan yang dilakukan petugas kesehatan pada penderita penyakit
Tuberkulosis adalah :
1. Penderita dengan dahak yang masih banyak dan mengandung kuman maka sebaiknya melakukan
pengobatan dirumah sakit atau puskesmas terdekat.
2. Selain itu petugas bisa memberikan suatu pengobatan dalam jangka pendek dirumah untuk penderita
dengan darurat atau disebabkan karena jarak tempat tinggal dari penderita dengan puskesmas kumayan
jauh jadi tidak bisa melakukan pengobatan dengan minum obat tbc secara teratur.
3. Laporan mengenai adanya suatu gejala tbc yang samping yang terjadi, jika perlu penderita sebaiknya bisa
dibawa ke puskesmas.
Salah satu bentuk pencegahan penyakit tubrkulosis adalah dengan melakukan penyuluhan
mengenai penyakit tuberkulosis.
1. Petugaas baik di masa persiapan atau juga dalam waktu yang selanjutnya secara berkala harus memberikan
suatu penyulihan pada masyarakat secara luas lewat tatap muka, lewat ceramah dan juga media massa yang
tersedia pada wilayahnya, dan juga memberikan suatu penyuluhan mengenai pencegahan pada penyakit Tb
paru.
2. Memberikan penyuluhan pada penderita dan keluarga disaat kunjungan rumah dan juga memberikan saran
untuk bisa mendapatkan suasana rumah sehat.
3. Memberikan penyuluhan secara perorangan dengan khusus untuk penderita agar melakukan pengobatan
secara teratur dan mencegah penyebaran penyakit pada orang lain.
4. Melakukan perubahan pola hidup masyarakat dan juga perbaikan tentang lingkingan demi untuk mencapai
masyarakat yang sehat.
5. Sebaiknya menganjurkan masyarakat untuk melapor jika pada beberapa warganya mengalami gejala
penyakit tbc.
6. Menghilangkan rasa malu pada penderita TBC, karena penyakit TBC bukanlah suatu penyakit yang
memalukan.

Cara Penularan TBC


Posted in Tuberkulosis | Tagged anti tuberkulosis, askep tuberkulosis, askep tuberkulosis paru, asuhan keperawatan tuberkulosis, definisi tuberkulosis, epidemiologi
tuberkulosis, etiologi tuberkulosis, gejala tuberkulosis, jurnal tuberkulosis, komplikasi tuberkulosis, limfadenitis tuberkulosis, makalah tuberkulosis, meningitis tuberkulosis,
mikobakterium tuberkulosis, mycobacterium tuberculosis, patofisiologi tuberkulosis, patogenesis tuberkulosis, penatalaksanaan tuberkulosis, pencegahan tuberkulosis,
pencegahan tuberkulosis paru, penelitian tuberkulosis, pengertian tuberkulosis, penyakit tuberkulosis, penyebab tuberkulosis, spondilitis tuberkulosis, tuberkulosis,
tuberkulosis adalah, tuberkulosis anak, tuberkulosis di indonesia, tuberkulosis kelenjar, tuberkulosis kutis, tuberkulosis milier, tuberkulosis pada anak, tuberkulosis paru,
tuberkulosis paru pdf, tuberkulosis pdf, tuberkulosis ppt, tuberkulosis tbc, tuberkulosis tulang | Leave a comment

Penyakit Tuberkulosis
Posted by tuberkulosis

Penyakit Tuberkulosis, singkatnya TBC adalah suatu penyakit menular yang paling sering

terjadi di paru-paru. Penyebabnya adalah suatu basil Gram-positif tahan-asam dengan pertumbuhan sangat
lamban, yakni Mycobacterium tuberculosis.

Penyakit Tuberkulosis

Gejala Penyakit Tuberkulosis


Gejala Penyakit Tuberkulosis diantaranya adalah :
Batuk kronis
Demam
Berkeringat waktu malam
Keluhan pernapasan
Perasaan letih
Malaise
Hilang nafsu makan
Turunnya berat badan
Rasa nyeri di bagian dada
Dahak berupa lendir atau mengandung darah
Sesak nafas
Infeksi Primer Penyakit Tuberkulosis
Setelah terjadi infeksi melalui saluran napas, di dalam gelembung paru (alveoli) berlangsung reaksi peradangan
setempat dengan timbulnya benjolan-benjolan kecil (tuberkel). Sering kali sistem-tangkas tubuh yang sehat
dapat memberantas basil dengan cara menyelubunginya dengan jaringan pengikat. Infeksi primer ini lazimnya
menjadi abses terselubung (incapsulated) dan berlangsung tanpa gejala hanya jarang disertai batuk dan napas
berbunyi.

Infeksi Penyakit TBC


Pada orang-orang dengan sistem-imun lemah (anak-anak, manula, penderita AIDS) dapat timbul radang paru
hebat. Basil TBC memperbanyak diri di dalam makrofag dan benjolan-benjolan bergabung menjadi infiltrat
yang akhirnya menimbulkan rongga (caverna) di paru-paru. Bila kemudian terjadi hubungan antara paru-paru
dan cabang bronchi, maka terjadilah TBC terbuka (tuberculosis cavernosus) dengan adanya basil di dahak
(sputum). TBC terbuka ini berbahaya sekali. Walaupun hanya bercirikan batuk kronis, tetapi bersifat sangat
menular. Penderita dengan kondisi seperti itu merupakan sumber merajalelanya TBC dengan mendadak di
sekelompok masyarakat. Hal ini terjadi hanya pada lebih kurang 10% dari semua infeksi.

Infeksi Penyakit Tuberkulosis dapat pula menyebar melalui darah dan limfe ke
organ lain dari tubuh adalah ke :
Saluran Pencernaan (Intestinal tuberculosis). Tuberculous peritonitis yang menimbulkan ascites merupakan
TBC lambung kedua yang paling umum
Ginjal dan juga bagian-bagian dari sistem urogenital (penyebab kemandulan pada wanita)
Susunan saraf pusat, yang menyebabkan radang selaput otak (tuberculous meningitis) pada anak-anak
Kerangka tubuh, mengakibatkan osteomyelitis
Disamping ini juga organ lain dapat terkena infeksi, yaitu kulit (lupus vulgaris), mata, pericardium jantung
(pericarditis), kelenjar adrenal (menyebabkan Addisons disease) dan simpul-simpul limfe.
Di organ terinfeksi itu timbul abses bernanah atau pertumbuhan liar dari jaringan pengikat yang selalu disertai
dengan pembesaran simpul limfe. Tanpa pengobatan akhirnya dapat terjadi kerusakan hebat yang berakhir
fatal.

Reaktivasi Penyakit Tuberkulosis


Kadang-kadang dalam waktu setahun atau lebih infeksi primer akibat proses reaktivasi penyakit lama
(post-primary tuberculosis) atau kadangkala karena reinfeksi dengan kuman tuberkel yang menyebar
melalui saluran darah berkembang menjadi TBC-miliar yang pada umumnya berakibat fatal. Reaktivasi
demikian terutama dapat timbul bila daya tangkis tubuh menurun, misalnya manula, pengidap HIV dan pasien
yang menjalankan terapi imunosupresiva (kortikosteroida atau stostatika).
Mycobacteria Lain
Pengidap AIDS kini semakin sering dihinggapi infeksi dengan berbagai jenis Mycobacteria lain (atipis,
tidak khas) seperti Mycobacterium avium intracellulare (MAI) yang terdapat di air dan tanah.
Mikroorganisme ini pada umumnya bersifat resisten terhadap obat-obat TBC biasa sehingga menjadi masalah
besar pada terapi AIDS. Infeksi MAI tidak dapat ditulari dari manusia ke manusia.
Penularan Mycobacterium bovis (sapi) melalui susu dari sapi yang menderita TBC kelenjar susu jarang sekali
terjadi. Infeksi demikian dapat dihindari dengan mempasteurisasikan atau memasak susu.

Pengobatan Tuberkulosis
Pengobatan penyakit tuberkulosis dilakukan dengan cara :
1. Pemberian pengobatan OAT maka proses penularan dari penyakit tuberkulosis akan dengan mudah bisa
dicegah dengan lebih total, misalnya adalah suatu keadaan yang bisa memisahkan sumber dari penularan
dan juga lingkungan keluarganya.
2. Pengobatan rawat jalan, dilakukan dengan seadanya misalnya adalah asupan makanan yang mengandung
nutrisi atau gizi yang baik, lingkungan keluarga yang selalu mendukung dan penderita melakukan
aktivitasnya seperti biasa. Hal dari pengobatan penyakit tuberkulosisis ini dengan pembrian OAT yang
diberikan secara teratur.
Selain dengan melakukan pengobatan penyakit tuberkulosis, hal yang dilakukan adalah pencegahan penyakit
tuberkulosis. Cara mencegah penyakit tbc adalah :

1. Mengobati pasien kasus BTA positif karena hal ini merupakan salah satu sumber penularan. Pengobatan
dilakukan sampai sembuh untuk membantu memutuskan rantai dari penularan.
2. Menganjurkan pada penderita penyakit tuberkulosis untuk menutup hidung dan juga menutup mulut jika
sedang batuk dan sedang bersin.
3. Jika mengalami batuk berdahak, sebaiknya dahaknya ditampung ke dalam pot yang isinya lisol 5% atau juga
dahaknya ditimbun dengan tanah.
4. Sebaiknya jangan membuang dahak di lantai atau sembarangan tempat
5. Meningkatkan kondisi kesehatan dan kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
6. Untuk penderita penyakit tbc sebaiknya jangan tidur atau sekamar dengan anggota keluarga yang lain
selama 2 bulan melakukan pengobatan.
7. Tingkatkanlah gizi
8. Memberikan imunisasi BCG pada bayi
9. Memberikan pengobatan serta pencegahan pada anak balita yang tidak mempunyai suatu gejala Tb namun
mempunyai anggota keluarga yang mengalami penyakit TB paru atau penyak BTA positif.
Penanggulangan dari TB tingkat keberhasilannya diukur dengan cara ksembuhan penderita. Kesembuhan ini
juga selain mampu mengurangi jumlah dari penderita penyakit tuberkulosis, juga mampu mencegah terjadinya
penularan yang terjadi. Oleh sebab itulah untuk menjamin suatu kesembuhan pada penderita penyakit
tuberkulosis. Oleh sebab itulah, untuk menjamin suatu kesembuhan, maka obat harus diminum dan juga
penderita harus diawasi dengan lebih ketat dari keluarga atau teman-teman disekitarnya.

Penyakit Tuberkulosis
Posted in Tuberkulosis | Tagged anti tuberkulosis, askep tuberkulosis, askep tuberkulosis paru, asuhan keperawatan tuberkulosis, definisi tuberkulosis, epidemiologi
tuberkulosis, etiologi tuberkulosis, gejala tuberkulosis, jurnal tuberkulosis, komplikasi tuberkulosis, limfadenitis tuberkulosis, makalah tuberkulosis, meningitis tuberkulosis,
mikobakterium tuberkulosis, mycobacterium tuberculosis, patofisiologi tuberkulosis, patogenesis tuberkulosis, penatalaksanaan tuberkulosis, pencegahan tuberkulosis,
pencegahan tuberkulosis paru, penelitian tuberkulosis, pengertian tuberkulosis, penyakit tuberkulosis, penyebab tuberkulosis, spondilitis tuberkulosis, tuberkulosis,
tuberkulosis adalah, tuberkulosis anak, tuberkulosis di indonesia, tuberkulosis kelenjar, tuberkulosis kutis, tuberkulosis milier, tuberkulosis pada anak, tuberkulosis paru,
tuberkulosis paru pdf, tuberkulosis pdf, tuberkulosis ppt, tuberkulosis tbc, tuberkulosis tulang | Leave a comment

Tuberkulosis - Penyebab Penyakit Tuberkulosis, Ciri-ciri Penyakit Tuberkulosis, Gejala Penyakit Tuberkulosis, Tanda-tanda Penyakit
Tuberkulosis, dan Cara Pencegahan Penyakit Tuberkulosis