Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Perbandingan madzhab-madzhab ialah memperbandingkan satu madzhab


dengan madzhab yang lainnya. Hal itu berarti, bahwa diantara madzhab-madzhab
termaksud terdapat perbedaan. Sebab, tidak akan dipergunakan kata perbandingan,
kecuali terhadap hal-hal yang satu sama lain berbeda. Dan justru untuk mengetahui
perbedaan-perbedaan itulah, perlu diadakan suatu perbandingan.
Melakukan suatu perbandingan dengan maksud hanya untuk mengetahui
perbedaannya semata-mata tidaklah ada gunanya dan faedahnya. Sebaliknya, bila
setelah diketahui adanya perbedaan-perbedaan itu dan apa sebabnya, kemudian
dilakukan perbandingan dan diikuti dengan memilih mana yang lebih tepat dan kuat
antara beberapa hal yang berbeda-beda itu, barulah ada manfaatnya.
Perbedaan sesuatu dengan yang lainnya, terutama dalam hal pendapat dan
faham, tidak selamanya menunjukkan adanya pertentangan serta mengakibatkan
timbulnya pertikaian dan permusuhan. Sebab, tidak sedikit perbedaan yang
disebabkan perbedaan zaman dan keadaan, menyebabkan berbedanya tindak dan
pendapat atau berbedanya tanggapan.
Selain dari itu, terdapat pula perbedaan pendapat disebabkan perbedaan dalam
ushul atau perbedaan qaidah yang dipakai masing-masing pendapat. Banyak hal-hal
yang memunculkan pendapat-pendapat yang berbeda, salah satunya yang akan kami
bahas adalah hukum membaca basmalah dan Al-Fatihah dalam shalat.1
Ulama madzhab berbeda pendapat, apakah membaca Al-Fatihah itu
diwajibkan pada setiap rakaat, atau pada setiap dua rakaat atau pada setiap dua rakaat
pertama saja, atau diwajibkan secara aini pada semua rakaat. Apakah basmalah itu
merupakan bagian yang harus dibaca atau boleh ditinggalkan. Apakah semua bacaan
yang dibaca dengan nyaring atau lemah pada tempatnya adalah wajib atau sunnah,
dan seterusnya.2

1
2

K.H.E.Abdurrahman, Perbandingan Madzhab-Madzhab,


B

PEMBAHASAN
A. Membaca basmalah dalam shalat
Beberapa perbedaan pendapat tentang hukum membaca basmalah dan AlFatihah antara lain :
Menurut Hanafi ;
Membaca Al-Fatihah dalam shalat fardhu tidak diharuskan, dan membaca
bacaan apa saja dari Al-Quran itu boleh, berdasarkan Al-Quran surat Muzammil
ayat 20 :






bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Quran
Membaca Al-Fatihah itu hanya diwajibkan pada dua rakaat pertama,
sedangkan pada rakaat ketiga pada shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir pada shalat
Isya dan Ashar kalau mau bacalah, bila tidak, bacalah tasybih atau diam.
Boleh meninggalkan basmalah, karena ia tidak termasuk bagian dari surat.
Dan tidak disunnahkan membacanya dengan keras atau pelan. Orang yang shalat
sendiri ia boleh memilih, apakah mau didengar sendiri (membaca dengan perlahan)
atau mau didengar oleh orang lain (membaca dengan keras), dan bila suka membaca
dengan sembunyi-sembunyi, bacalah dengannya.
Menurut Syafii ;
Membaca Al-Fatihah itu adalah wajib pada setiap rakaat tidak ada bedanya,
baik pada dua rakaat pertama maupun pada dua rakaat terakhir, baik pada shalat
fardhu maupun pada shalat sunnah. Basmalah itu merupakan bagian dari surat, yang
tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun. Dan harus dibaca dengn suara keras

pada shalat Shubuh dan dua rakaat yang pertama pada shalat Maghrib dan Isya,
selain rakaat tersebut harus dibaca dengan pelan.
Menurut Maliki ;
Membaca Al-Fatihah itu harus pada setiap rakaat, tidak ada bedanya, baik
pada rakaat-rakaat pertama maupun pada rakaat-rakaat terakhir, baik pada shalat
fardhu maupun shalat sunnah, sebagaimana pendapat Syafii. dan disunnahkan
membaca surat Al-Quran setelah Al-Fatihah pada dua rakaat yang pertama. Basmalah
bukan termasuk bagian dari surat, bahkan disunnahkan untuk ditinggalkan.
Menurut Hambali ;
Wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, dan sesudahnya disunnahkan
membaca surat Al-Quran pada dua rakaat pertama. Dan pada shalat Shubuh dan dua
rakaat pertama pada shalat Maghrib dan Isya disunnahkan membacanya dengan
nyaring. Basmalah merupakan bagian dari surat tetapi cara membacanya harus dengan
pelan-pelan dan tidak boleh dengan keras.
Menurut Imamiyah ;
Membaca Al-Fatihah hanya diwajibkan pada dua rakaat pertama pada setiap
shalat, dan tidak cukup (boleh) pada rakaat yang lain. Dan tidak wajib pada rakaat
ketiga pada shalat Maghrib, dan dua rakaat terakhir pada shalat yang empat rakaat,
bhkan boleh memilih antara membacanya atau menggantinya dengan tasybih, dan
orang yang shalat itu cukup dengan mengucapkan :
sebanyak tiga kali, tapi memadai dengan satu kali saja. Dan wajib membaca satu
surah secara lengkap pada dua rakaat pertama. Basmalah merupakan bagian dari surat
yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun. Pada shalat Shubuh wajib
membacanya dengan nyaring, juga dua rakaat pertama pada shalat Maghrib dan Isya
wajib dinyaringkan. Sedangkan pada dua shalat Dzuhur dan Ashar harus dipelankan
selain basmalah. Membaca basmalah dengan nyaring adalah disunnahkan pada rakaat
pertama dan kedua shalat Dzuhur dan Ashar, juga pada rakaat ketiga shalat Maghrib
dan dua rakaat terakhir dari shalat Isya.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka dapat


Membaca surat Al-Fatihah dalam shalat pada tiap-tiap rakaat itu hukumnya
wajib, bahkan ada yang mengistilahkan rukun, tidak shah shalat tanpa membacanya.
Kesimpulan ini kita istimbath dari hadits-hadits berikut :

:


.
{ }
Dari Ubadah bin Ash-Shamit bahwa Rasulullah saw. bersabda : Tidak (shah) shalat
bagi siapa saja yang tidak membaca fatihatul kitab (Al-Fatihah). (HR. Jamaah ahli
hadits)
Dan hadits yang menunjukkan bahwa Al-Fatihah itu dibaca pada tiap-tiap
rakaat, ialah :





{ } .
. :
Dari Abu Qatadah bahwa Nabi saw. membaca pada dua rakaat pertama dalam shalat
zhuhur dengan Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat (al-Quran), dan pada dua
rakaat yang akhir dengan Ummul Kitab, dan beliau memperdengarkan (bacaan) ayat,
dan beliau memanjangkan pada rakaat pertama, tidak memanjangkan pada rakaat
kedua. Dan demikian juga pada shalat ashar dan shalat shubuh. (HR. Bukhari)
Dan dalam lafadz lain baginya : Dan beliau kadang-kadang memperdengarkan ayat
(jahar).

Hadits-hadits di atas dan lainnya yang semakna dengannya menunjukkan


bahwa ketentuan membaca Al-Fatihah dalam shalat berlaku secara umum, baik shalat
munfarid atau shalat berjamaah bagi imam dan mamum.