Anda di halaman 1dari 3

Manajemen Penerbitan Media Berkala

Kemahasiswaan
by @cak_lum
*) Kertas kerja disampaikan pada acara Pembekalan Asisten Baru
Laboratorium Akuntansi Program Studi Akuntansi FE-UMM.
Sabtu, 11 Desember 2009.

Jurnalisme adalah habitat yang berbahaya. Lihat saya istilah-istilahnya. Misalnya, pers
adalah watchdog, anjing penjaga, kata orang Amerika. Kita terlanjur memakai kata
anjing sebagai makian. Entah kalau mengejanya jadi anjink atau anjeeng atau
lainnya lagi, sebab ejaan itu penting.
(Omi Intan Naomi, 1996)
Pendahuluan
Kalimat di atas sengaja saya kutip untuk mengawali diskusi ini karena menurut saya
sangat pas untuk membangkitkan gairah kita dalam mengelola sebuah media. Kalimat di atas
saya kutip dari buku Anjing Penjaga Pers di Era Orde Baru yang ditulis Omi Intan Naomi
pada awal 1996. Hampir keseluruhan buku setebal lebih kurang 300 halaman itu berbicara
tentang intimidasi dan tekanan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap pers. Mulai dari
pencekalan, penculikan, hingga pembredelan yang populer pada saat Menteri Penerangan
dijabat oleh Harmoko (Menteri Atas Petunjuk Presiden!).
Pada saat itu, pengelolaan media massa begitu dipersulit. Jangankan untuk membangun
penerbitan baru, untuk menjaga keberlangsungan sebuah media yang telah ada saja luar biasa
repot. Kita tentu masih ingat ketika majalah TEMPO dibredel karena tulisan-tulisannya yang
mengkritik pemerintah (Soeharto!). Kebebasan pers yang saat ini dinikmati oleh dunia
jurnalistik hanyalah mimpi pada saat itu. Padahal, pers adalah salah satu pilar dalam sebuah
negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi. Tiga pilar lainnya adalah Trias Politika
(Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif). Ibarat sebuah meja, jika salah satu dari empat kakinya
dipotong, maka meja itu tidak akan dapat berdiri dengan sempurna. Demikian pula demokrasi
tanpa pers, ia akan merangkak dengan tertatih-tatih.
Saat ini, kita menikmati sebuah kondisi di mana melahirkan media massa begitu mudahnya.
Pemerintah memberikan fasilitas berupa kemudahan perijinan untuk peneribitan yang
kemudian mendorong munculnya berbagai bentuk penerbitan yang mengarah kepada
pornografi. Kalau kita amati dalam 5 tahun terakhir, jenis penerbitan yang paling banyak
tumbuh dan bertahan adalah media-media yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Sebut saja
misalnya sederet nama tabloid dan majalah seperti X-file, Bibir, Gincu, dsb yang mengikuti
jejak majalah Popular, Matra, dsb.
Terlepas dari semua itu, ada sisi positif yang patut kita syukuri bahwa untuk mendapatkan
ijin penerbitan sebuah media tidak membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Dalam dunia
akademik misalnya, biaya pengurusan ISSN untuk menerbitkan jurnal, bulletin, dsb. hanya
Rp 200.000,00 dan bisa selesai dalam waktu satu hari!.

Merancang Sebuah Media Berkala


Untuk memulai sebuah penerbitan media berkala, ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh:
1. Tentukan siapa yang akan menjadi calon pembaca media tersebut. Penetapan segmen
pasar ini penting untuk menjamin keberlangsungan hidup media. Sering kali sebuah
media terbit hanya untuk satu dua kali terbitan, setelah itu tamat karena tidak adanya
pasar yang pasti.
2. Tentukan jenis keberkalaan. Apakah dalam bentuk koran harian, majalah bulanan,
jurnal tri wulan, tabloid mingguan, ataukah bulletin tahunan.
3. Tentukan core issue. Hal ini penting untuk memberikan kekhasan media. Misalnya
jika sudah dipilih bahwa core issue-nya adalah Akuntansi, maka untuk seterusnya
hanya akan berbicara tentang Akuntansi. Tidak sekali penerbitan-pun akan mengupas
perceraian Alya Rohali misalnya. Juga tidak akan latah membuat edisi khusus
menyoroti penghasilan Inul Daratista yang konon mencapai Rp 700 M perbulan!
4. Pilih nama yang disesuaikan dengan core issue. Pemilihan nama harus mencerminkan
isi dari media. Jurnal Media Ekonomi miliki FE-UMM misalnya, mencerminkan
isinya yang berbicara tentang ilmu ekonomi dengan segala pernak-perniknya. Jurnal
Akuntansi dan Keuangan Balance milik Program Studi Akuntansi FE-UMM
misalnya, memuat perkembangan ilmu Akuntansi dan Keuangan. Koran Kompas jelas
berbeda dengan Republika. Jurnal Ulumul Quran juga sudah pasti berbeda dengan
Economic Review. Bila perlu, nama media memiliki jargon khas yang semakin
mempertajam core issue media tersebut. Majalah mahasiswa DIMEK misalnya
memiliki jargon Media Pengemban Wawasan. Jurnal Balance berjargon Menjaga
Keseimbangan Wacana
5. Menentukan rubrikasi. Untuk media jenis koran harian, majalah, dan bulletin perlu
dibuat rubrikasi yang bersifat tetap dan tidak diubah-ubah. Konsistensi rubrikasi
merupakan salah satu point positif sebuah media. Sedangkan jurnal biasanya tidak
membutuhkan rubrikasi karena merupakan kumpulan tulisan hasil penelitian yang
agak sulit untuk dirumpunkan.
6. Pembagian tugas dan tanggung jawab (menyusun dewan redaksi). Susunan redaksi
mutlak diperlukan untuk setiap penerbitan. Bahkan, untuk media-media tertentu, kita
dapat mengetahui keberpihakan sebuah media dari susunan redaksinya (jika kita
mengenal nama-nama yang tercantum dalam susunan redaksi tersebut). Ketika kita
membaca susunan redaksi tabloid Nyata, misalnya, kita akan mengetahui bahwa itu
milik Jawa Pos Group. Atau sebaliknya, ketika kita membawa susunan redaksinya
Jawa Pos, kita mengetahui bahwa ia satu kelompok dengan Nyata sehingga wajar jika
berita-berita di Jawa Pos lebih didominasi berita entertainment daripada in-depth
analysis
7. Mengurus ISSN ke LIPI. ISSN yang dikeluarkan oleh LIPI ini sangat penting artinya,
karena tanpa ISSN media yang kita terbitkan setengah illegal dan tidak mendapatkan
pengakuan dari pihak luar. Proses pengurusan ISSN tidak sulit, hanya dengan
mengajukan permohonan ISSN kepada LIPI disertai contoh Cover, susunan redaksi,
dan rencana penerbitan perdana.
Manajemen Penerbitan Media
Setelah persiapan awal penerbitan siap, ISSN juga telah turun dari LIPI, maka kita dapat
memulai proses penerbitannya. Dalam konteks ini yang akan kita diskusikan adalah

penerbitan bulletin (karena untuk sementara yang dimiliki oleh Lab. Akuntansi adalah
Bulletin Citra). Berikut adalah tahapan dalam mempersiapkan penerbitan bulletin:
1. Melalui sidang redaksi, tentukan tema sentral edisi. Misalnya, diputuskan bahwa tema
sentralnya adalah menyoal Standar Akuntansi Pemerintahan. Tema ini diilhami oleh
ditetapkan PP. No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Maka
semua rubrikasi dalam bulletin akan berbicara tentang masalah ini dari aspek spesifik
masing-masing rubrik. Atau misalnya tema sentralnya tentang Audit Laporan
Keuangan Partai Politik, maka semua tulisan dalam semua rubrik harus berbicara
tentang Audit Laporan Keuangan Partai Politik. Kecuali jika dibuat ada rubrik khusus
yang memang berbicara di luar konteks utama.
2. Setelah ditentukan tema sentralnya, tentukan penanggung jawab masing-masing
rubrik. Penanggung jawab rubrik tidak harus yang bertugas untuk menulis pada rubrik
tersebut, tetapi dia bertanggung jawab atas tersedianya tulisan untuk rubrik tersebut.
3. Tentukan dead line penyerahan naskah. Pada tanggal tertentu, penanggung jawab
rubrik harus menyerahkan naskah untuk masing-masing rubriknya kepada redaktur
pelaksana. Jika sampai pada batas dead line tersebut ada yang belum bisa
menyerahkan naskah, maka penanggung jawab rubrik bertugas menulis untuk
rubriknya. Dengan demikian, maka tanggal dead line ditentukan dengan
mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan oleh penanggung jawab rubrik untuk
menulis jika ia belum memiliki naskah dari orang lain.
4. Setelah semua naskah untuk masing-masing rubrik terkumpul, maka dilakukan proses
editing awal oleh redaktur pelaksana. Editing awal ini hanya untuk memastikan
kebenaran pengetikan dan ejaan.
5. Proses editing berikutnya dilakukan untuk menilai substansi naskah. Proses ini
dilakukan oleh dewan editor sekaligus untuk menentukan sebuah naskah layak muat
atau tidak.
6. Setelah semua naskah yang layak cetak selesai diedit, maka dilakukan proses lay out.
7. Sebelum dicetak, dalam format setelah lay out, naskah-naskah tersebut diedit ulang
untuk memastikan tidak ada salah ketik dan sebagainya.
8. JADILAH SEBUAH BULLETIN YANG SIAP EDAR DAN SIAP BACA.
Terima Kasih.
Semanding, 10 Desember 2009. 20.55 WIB