Anda di halaman 1dari 5

Yogyakarta kata ini menyimpan sejarah yang panjang tentang budaya , disinilah sampai kini masih kita lihat

bagaimana budaya jawa masih di peagang teguh oleh warganya, yoyakarta adalah kota yang unik yang
sampai sekarang masih dipimpin oleh seorang raja yang begitu dihormati dan dicintai warga yogyakarta,
keraton yogyakarta menjadi simbol kota ini, yang dipimpin oleh seorang sultan yaitu sultan
hamengkubuwono ke X, di kota inilah sebenarnya budaya jawa berkembang dan menyebar keseluruh pulau
jawa, disinalh tumbuh berbagai macam kebudayaan jawa yang sampai sekarang masih exsis antara lain
batik, wayang kulit, tari tarian, ketoprak, dll
pada dasarnya hampir sama dengan budaya yang ada di jawa tengah karena yogyakarta dan jawa tengah
mempunyai hubungan yang erat yang mungkin tidak bisa dipisahkan, namun budaya yogyakarta
mempunyai cirikas tersendiri jika dibandingkan dengan jawa tengah yang nota bene sama sama jawanya.
keraton yogyakarta sebagai simbol budaya mempunyai peranan sangat penting akan berkembangya
budaya jawa di yogyakarta, serta warganya yang ramah menyimpan sejuta makna dan pesona .
berikut foto foto budaya yogyakarta ( maaf untuk keluarga sultan karena telah mengambil fotonya )

Pengantar
Batik adalah suatu hasil karya yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Di berbagai
wilayah Indonesia banyak ditemui daerah-daerah perajin batik. Setiap daerah pembatikan
mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri, baik dalam ragam hias maupun tata warnanya.
Dan, salah satu daerah itu adalah Yogyakarta. Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri sentra
produksi batik-tulis bertebaran di berbagai wilayah yang masing-masing hanya mengembangkan
motif-motif tertentu, sehingga mudah untuk dikenali dari wilayah mana asal batik tersebut. Di
Kota Yogyakarta industri batik terdapat di wilayah: Tirtodipuran, Panembahan dan Prawirotaman.
Di Kabupaten Kulonprogo berada di Desa: Hargomulyo, Kulur dan Sidorejo. Di Kabupaten
Gunungkidul berada di Desa: Nitikan, Ngalang dan Mengger. Di Kabupaten Sleman industri batik
berada di Desa Nogotirto dan Mororejo. Di Kabupaten Bantul industri batik berada di Desa:
Wijireja, Murtigading dan Wukirsari. Ini artinya, di setiap daerah TK.II (kota dan kabupaten) yang
tergabung dalam Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat sentra-sentra pembatikan. Artikel ini
hanya akan membahas salah satu sentra pembatikan yang ada di daerah Bantul, tepatnya di
Desa Wukirsari yang produk batiknya kemudian dikenal sebagai Batik-Tulis Giriloyo.
Asal-usul
Konon, desa yang sekarang dikenal sebagai Wukirsari adalah gabungan dari desa-desa kecil,
yaitu Giriloyo, Pucung, Singosaren dan Kedungbuweng. Penduduknya masing-masing
mempunyai aktivitas tersendiri, terutama Giriloyo, Pucung, dan Singosaren, sehingga desa-desa
tersebut menjadi terkenal karena keahlian yang dimiliki oleh penduduknya. Dalam hal ini Giriloyo
terkenal dengan batiknya, Pucung terkenal dengan kerajinan kulit dan anyaman bambunya, dan
Singosaren terkenal dengan gentengnya.
Asal usul batik tulis Giriloyo konon berawal bersamaan dengan berdirinya makam raja-raja di
Imogiri yang terletak di bukit Merak pada tahun 1654. Pada waktu itu, ketika Sultan Agung (cucu
Panembahan Senopati) berniat membangun makam, beliau menemukan bukit yang tanahnya
berbau harum dan dirasa cocok untuk dibuat makam. Namun, ketika pemakaman sedang
dibangun, pamannya yang bernama Panembahan Juminah menyatakan keinginannya untuk turut
dimakamkan di tempat itu. Ternyata yang meninggal duluan adalah pamannya. Oleh karena itu,
yang pertama kali menempati makam tersebut adalah pamannya dan bukan Sultan Agung.

Sultan Agung pun kecewa karena sebagai penguasa atau raja seharusnya yang pertama kali
dimakamkan di situ adalah dirinya. Untuk menetralisir kekecewaan, Sultan Agung mengalihkan
pembangunan calon makam untuk dirinya di bukit lain yang oleh penduduk setempat dinamakan
Bukit Merak yang berada di Dusun Pajimatan wilayah Girirejo11.
Sejalan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri ini maka perlu tenaga yang bertanggung
jawab untuk memelihara dan menjaganya. Untuk itu, keraton menugaskan abdi dalem yang
dikepalai oleh seorang yang berpangkat bupati. Oleh karena banyak abdi dalem yang bertugas
memeliharanya, sehingga sering berhubungan dengan keraton, maka kepandaian membatik
dengan motif batik halus keraton berkembang di wilayah ini. Kemudian, keterampilan membatik
itu diwariskan kepada anak atau cucu perempuannya.
Seiring dengan pesanan keraton yang semakin banyak, sementara jumlah perajian batik yang
ada di Pajimatan terbatas (tidak memadai), mereka mendatangkan tenaga-tenaga dari Giriloyo.
Dan, bagi penduduk Giriloyo itu merupakan suatu keberuntungan karena mereka bisa ngangsu
kaweruh tentang batik di Pajimatan sebelum mereka berusaha sendiri. Apalagi, pengerjaannya
dilakukan di rumah masing-masing. Artinya, kain yang akan dibatik dibawa pulang ke Giriloyo,
kemudian (setelah jadi) disetorkan ke Pajimatan. Inilah yang kemudian membuat nama Giriloyo
lebih mencuat ketimbang Pajimatan.
Satu hal yang perlu diacungi jempol adalah bahwa para perajin batik Giriloyo tetap
mempertahankan batik-tulisnya. Mereka bukannya tidak mengenal batik-cap sebagaimana
sentra-sentra lainnya di wilayah bantul, seperti Desa Wijireja, Murtigading2, tetapi mereka tidak
tergoda; mereka tetap mempertahankan tradisi leluhurnya, yaitu memproduksi batik-tulis dan
bukannya batik-cap. Adapun jenis-jenis batik yang diproduksi antara lain: jarit, sarung, dan
kemben (selendang).
Peralatan dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk membuat batik-tulis diantaranya adalah: (1) wajan kecil yang
digunakan sebagai tempat untuk memanaskan malam (lilin) supaya cair; (2) anglo, untuk
memanaskan malam dengan bara api dari arang; (3) tepas (kipas), untuk memperoleh angin agar
bara api tetap menyala; (4) gawangan, untuk menempatkan mori yang akan dibatik; (5) bandhul,
untuk menahan kain agar tidak bergerak-gerak ketika dilukis; (6) uthik, untuk mengais arang; (7)
canting dengan berbagai macam ukuran sebagai alat untuk mencurahkan malam cair ke dalam
mori yang digambari; (8) kenceng, untuk mendidihkan air ketika nglorot atau mbabar; (9) cawuk,
untuk mengerok; dan (10) alu, untuk memukuli kain mori yang akan dibatik agar lemas dan
memudahkan pembatik dalam proses pembuatannya. Bahan dasar untuk membuat batik tulis
adalah kain mori. Selain itu, ada pula bahan-bahan yang digunakan sebagai pewarnanya yang
dapat berupa zat kimia maupun pewarna alami seperti: kulit kayu tingi, soga, tegeran, dan lain
sebagainya.
Proses Pembuatan Batik Tulis Giriloyo
Tahap-tahap pembuatan batik-tulis di Giriloyo adalah sebagai berikut. Sebelum kain mori dibatik,
biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan digemplong, yaitu kain mori digulung kemudian
diletakkan di tempat yang datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu. Setelah kain

menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah mola, yaitu membuat pola pada mori dengan
menggunakan malam. Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah nglowong, yakni
menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola. Kegiatan ini disebut nembusi. Setelah itu,
nembok yang prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi menggunakan malam yang lebih
kuat. Maksudnya adalah unutk menahan rembesan zat warna biru atau coklat. Tahap selanjutnya
adalah medel atau nyelup untuk memberi warna biru supaya hasilnya sesuai dengan yang
diinginkan. Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna biru menjadi lebih pekat.
Selanjutnya, ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna
coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang
ditajamkan sisinya. Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini
bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan
canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat. Setelah itu, dilanjutkan dengan
nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain.
Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan
soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu
sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup
dilakukan sehari saja. Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah mbabar atau
nglorot, yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air
mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali. Setelah malam
luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering.
Sebagai catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani oleh satu
orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.
Motif Ragam Hias Batik Tulis Giriloyo
Kekayaan alam Yogyakarta sangat mempengaruhi terciptanya ragam hias dengan pola-pola
yang mengagumkan. Sekalipun ragam hiasnya tercipta dari alat yang sederhana dan proses
kerja yang terbatas, namun hasilnya merupakan karya seni yang amat tinggi nilainya. Jadi, kain
batik-tulis bukanlah hanya sekedar kain, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni yang
diangkat dari hasil cipta, rasa dan karsa pembuatnya. Motif-motif ragam hias biasanya
dipengaruhi dan erat kaitannya dengan faktor-faktor: (1) letak geografis; (2) kepercayaan dan
adat istiadat; (3) keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna; dan (4) adanya kontak atau
hubungan antardaerah penghasil batik; dan (5) sifat dan tata penghidupan daerah yang
bersangkutan.
Dalam Katalog Batik Khas Yogyakarta terbitan Proyek Pengembangan Industri Kecil dan
Menengah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1996), menyebutkan bahwa di Daerah
Istimewa Yogyakarta paling tidak memiliki lebih dari 400 motif batik, baik motif klasik maupun
modern. Beberapa nama ragam hias atau motif batik Yogyakarta antara lain: Parang, Banji,
tumbuh-tumbuhan menjalar, tumbuh-tumbuhan air, bunga, satwa, Sido Asih, Keong Renteng,
Sido Mukti, Sido Luhur, Semen Mentul, Sapit Urang, Harjuna Manah, Semen Kuncoro, Sekar
Asem, Lung Kangkung, Sekar Keben, Sekar Polo, Grageh Waluh, Wahyu Tumurun, Naga Gini,
Sekar Manggis, Truntum, Tambal, Grompol, Ratu Ratih, Semen Roma, Mdau Broto, Semen
Gedhang, Jalu Mampang dan lain sebagainya.
Masing-masing motif tersebut memiliki nilai filosofis dan makna sendiri. Adapun makna filosofis

dari batik-batik yang dibuat di Giriloyo antara lain: (1) Sido Asih mengandung makna si pemakai
apabila hidup berumah tangga selalu penuh dengan kasih sayang; (2) Sido Mukti mengandung
makna apabila dipakai pengantin, hidupnya akan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan; (3)
Sido Mulyo mengandung makna si pemakai hidupnya akan selalu mulia; (4) Sido Luhur
mengandung makna si pemakai akan menjadi orang berpangkat yang berbudi pekerti baik dan
luhur; (5) Truntum3 mengandung makna cinta yang bersemi; (6) Grompol artinya kumpul atau
bersatu, mengandung makna agar segala sesuatu yang baik bisa terkumpul seperti rejeki,
kebahagiaan, keturunan, hidup kekeluargaan yang rukun; (7) Tambal mengandung makna
menambah segala sesuatu yang kurang. Apabila kain dengan motif tambal ini digunakan untuk
menyelimuti orang yang sakit akan sebuh atau sehat kembali sebab menurut anggapan pada
orang sakit itu pasti ada sesuatu yang kurang; (8) Ratu Ratih dan Semen Roma melambangkan
kesetiaan seorang isteri; (9) Mdau Bronto melambangkan asmara yang manis bagaikan madu;
(10) Semen Gendhang mengandung makna harapan agar pengantin yang mengenakan kain
tersebut lekas mendapat momongan.
Motif-motif tersebut dari dahulu hingga sekarang diwariskan secara turun-temurun, sehingga
polanya tidak berubah, karena cara memola motif itu sendiri hanya dilakukan oleh orang-orang
tertentu, dan tidak setiap pembatik dapat membuat motif sendiri. Orang yang membatik tinggal
melaksanakan pola yang telah ditentukan. Jadi, kerajinan batik tulis merupakan suatu pekerjaan
yang sifatnya kolektif. Sebagai catatan, para pembatik di Giriloyo khususnya dan Yogyakarta
umumnya, seluruhnya dilakukan oleh kaum perempuan baik tua maupun muda. Keahlian
membatik tersebut pada umumnya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi
lainnya.
Nilai Budaya
Batik-tulis yang diproduksi oleh para perajin di Giriloyo jika dicermati, di dalamnya mengandung
nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi
masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: kesakralan, keindahan (seni), ketekunan,
ketelitian, dan kesabaran.
Nilai kesakralan tercermin dalam motif-motif tertentu yang hanya boleh digunakan oleh sultan
dan keluarganya. Nilai keindahan tercermin dari motif ragam hiasnya yang dibuat sedemikian
rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran
tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran
karena tanpa itu tidak mungkin untuk menghasilkan sebuah batik tulis yang bagus.
Foto:
http://mycityblogging.com
Sumber:
Sudijono, Suhartinah. 2006. Pasang Surut Batik Tulis Tradisional Bantul, Studi Kasus Batik Tulis
Imogiri Tahun 1970-1998, dalam Patra-Widya Vol. 7 No. 3. September 2006. Yogyakarta: Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
Achmad Yusuf, dkk. 1984. Pameran Batik Tradisional Koleksi Museum Sonobudoyo di Museum
Sonobudoyo Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek P3M

DIY Tahun 1984-1985.


Oni. 2005. Batik Yogya Terancam Batik Solo dan Pekalongan, Kompas Edisi Yogya Jumat, 6
Mei.
---. 1996 Katalog Batik Khas Yogyakarta, Proyek Pengembangan Industri Kecil dan Menengah
(P.I.K.M) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Kantor Wilayah Departemen Perindustrian
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Nian S. Djoemeno. 1990. Ungkapan Sehelai Batik Its Mystery and Meaning. Jakarta: Djambatan.
1Dusun Pajimatan terbagi menjadi dua yakni sebelah utara masuk wilayah Desa Wukirsari, sedang sebelah
selatan masuk wilayah Desa Girirejo.
2 Para perajin batik di kedua desa ini tidak hanya memproduksi batik-tulis, tetapi juga batik-cap.
3 Motif truntum berasal dari suatu legenda yang mengisahkan tentang seorang permaisuri yang hidupnya merana
dan kesepian karena raja berpaling cintanya kepada wanita lain. Untuk menghilangkan rasa sedih dan kecewa,
dirinya menyibukkan diri dengan membatik. Motif batiknya belum diberi nama. Sewaktu raja melihat ketekunan
permaisuri membatik timbul rasa kasihan dan sering memperhatikan hasil batikan tersebut. Lama kelamaan timbul
rasa kasihnya kembali pada sang permaisuri maka motif tersebut diberi nama truntum