Anda di halaman 1dari 32

Stabilisasi & Transportasi

Rivanti Asmara Wijaya


Pembimbing : Dr. Desiana, Sp.A
FKK UMJ RSIJ Cempaka Putih
2014

Stabilisasi adalah mengidentifikasi faktor-faktor


yang apabila tidak dikoreksi akan memperburuk
keadaan dari neonatus pasca resusitasi.

Faktor tersebut diantaranya :


Pemeliharaan ventilasi dan oksigenasi
Koreksi gangguan asam basa
Menangani kebocoran udara di paru
Pemantauan kardiovaskuler
Pemantauan suhu
Pemantauan metabolik

Stabilisasi

Bila faktor yang mempengaruhi stabilsasi diatas dapat


dilakukan dengan baik
akan mengurangi masalah yang lebih serius selama proses
transportasi. Acuan dalam melakukan pemeriksaan dan
stabilsasi yaitu S.T.A.B.L.E.

Merupakan langkah untuk menstabilkan kadar gula


darah neonatus.
Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa
darah tidak dapat mencukupi kebutuhan tubuh.
Pada neonatus kadar glukosa darah harus
dipertahankan pada kadar 50-110 mg/dl.
Tanda bayi mengalami hipoglikemia diantaranya :
jitteriness, tremor, hipotermia, letargis, lemas,
hipotonia, apnea atau takipnea, sianosis, malas
menyusui, muntah, menangis lemah atau high
pitched, kejang bahkan henti jantung

S-Sugar

Bayi yang berisiko tinggi mengalami hipoglikemia


diantaranya adalah:
- Bayi prematur (usia kehamilan<37 mingu)
- Bayi kecil untuk masa kehamilan, berat badan lahi
rendah, dan IUGR
- Bayi besar untuk masa kehamilan
- Bayi dar ibu dengan diabetes melitus
- Bayi yang sakit

S-Sugar

Ada 3 faktor yang mempengaruhi kadar gula darah:


Cadangan glikogen terbatas
Hiperinsulinemia
Peningkatan penggunaan glukosa
Skrining hipoglikemi :
Menggunakan darah kapiler, dekstrostix
Dilakukan saat :
Sebelum transpor
Diulang lagi saat akan ditranspor
Proses transpor
Bila hasil pemeriksaan I normal : tidak perlu diulang
Bila terjadi hipoglikemia, mulai terapi dengan :
Infus mengandung Dekstrosa (Dex 10%), 80
ml/kg/hari
Target setidaknya : GIR = 4-6 mg/kg/menit

S-Sugar

Suhu tubuh bayi baru lahir 36,5 37,5C


Pada hipotermia yang berat, yaitu < 320C,
bayi dalam batas yang uncompensated.
Pada kondisi tersebut sel otak berisiko tinggi
mengalami kematian sel dan ireversibel.
Hipotermia merupakan kondisi yang dapat
dicegah dan sangat mempengaruhi
morbiditas dan mortalitas, khususnya pada
bayi prematur.

Pemeliharaan suhu badan normal harus diprioritaskan baik


pada bayi sakit maupun sehat.
Skin to skin contact, menggunakan pakaian, topi, dan
selimut, pada bayi sehat
radiant warmer untuk bayi sakit
Bayi yang berisiko tinggi mengalami hipotermia adalah:
1. Bayi prematur, berat badan rendah (khususnya
berat badan kurang
dari 1500 gram).
2. Bayi yang mengalami resusitasi yang lama
3. Bayi yang sakit berat dengan masalah
infeksi,jantung, neurologis, endokrin dan bedah.
5. Bayi yang hipotonik akibat sedatif, analgesik,atau
anestesi.

T-Temperature

Mencegah hipotermia sangat penting. Lebih mudah


mencegah daripada mengatasi hipotermia dengan
komplikasi.
Bayi kecil < 35 minggu: bungkus badan dengan kantong
plastik, tutup kepala
Saat resusitasi bayi: meja dan kain hangat
Mengeringkan bayi
Bila sudah hipotermia segera hangatkan kembali
Tersedia inkubator atau alat penghangat
Alternatif: lampu sorot, perawatan metode kanguru
Saat menghangatkan kembali: jangan lupa pemberian
oksigen, kenaikan suhu bertahap (amati takikardi atau
hipotensi) dan monitor suhu rektal.

T-Temperature

Misalnya
kontak
denganadalah
aliran benda
udara.
Untuk
mengurangi
kehilangan
Radiasi
prosespadat.
kehilangan
panas
antara dua panas
benda
antara
tubuh
bayi yang
dengan
alas
atau timbangan.
Untuksuhu
secara
konveksi
dapat
dilakukan
dengan
cara menaikan
padat
tidak
bersentuhan.
mengurangi
risiko
kehilangan
ruangan
menjadi
25-28C
Proses kehilangan
panas
melalui
radiasipanas
dapat dikurangi
secara
konduksi
dapat dilakukan
dengan
cara menghangatkan
(rekomendasi
WHO),melapisi
tubuh
bayi prematur
(berat <150
dengan
cara mempertahankan
alat-alat
akan
gram)
dengan
plastik
kehangatan suhu ruangan
danyang
menjauhkan
bayi dari jendela
bersentuhan
bayi,kaki,
misalnya
alas, stetoskop,
polietilen
dari dengan
dagu hinga
serta
mentransfer
bayihanduk,
dengan
terbuka,
atau
dengan
tangan
pemeriksa
mengunakan
inkubator
meletakan
bayi di
dalam
inkubator.
tertutup yang telah dihangatkan terlebih dahulu.

A- Airway

1. Laju Napas
Normal 40 60 kali/menit
2. Usaha Napas
Retraksi, dapat dilihat didaerah suprasternal, substernal,
interkostal, subkostal.
Grunting,pernafasan cuping hidung
Apnea, nafas megap-megap, atau periodic breathing.
3. Kebutuhan oksigen
Apabila bayi mengalami distres pernafasan ringan atau
sedang, oksigen diberikan melalui hidung. Pada keadan bayi
mengalami distres pernafasan berat, dapat diberikan
tindakan yang lebih agresif seperti Continous Positve Airway
Presure (CPAP), atau intubasi endotrakeal.
4. Saturasi Oksigen.
Saturasi oksigen harus dipertahankan agar di atas 90 %.
5. Analisis Gas Darah
Evaluasi dan interpretasi gas darah penting untuk menilai

a)

Ringan:

nafas

cepat

tanpa

membutuhkan

oksigen tambahan, tanpa atau terdapat tanda


distres minimal.
b)

Sedang: sianotik pada suhu kamar, terdapat


tanda distres pernafasan dan analisis gas darah
yang abnormal.

c)

Berat: sianosis sentral, berusaha kuat untuk


bernafas, dan analisis gas darah yang abnormal.

A- Airway

Segera berikan bantuan ventilasi. Pilih bantuan


ventilasi yang dapat memberikan PEEP (untuk
membuka alveoli paru). Misalnya: CPAP, high
flow nasal canula
Bila ada tanda akan terjadi kegagalan
pernapasan: segera intubasi dan beri napas
buatan (penggunaan sungkup laring bisa
merupakan alternatif, bila tidak memungkinkan
intubasi).
Pasang saturasi O2, target saturasi (post duktal;
awal lahir : 90-94% , setelah usia 3 hari : 8890/92%)
A-Airway

B-Blood Pressure

Pada bayi sakit berat harus dipantau tanda-tanda


syok.
Syok adalah keadaan dimana terjadi perfusi
dan pengiriman oksigen ke organ vital yang inadekuat
atau suatu keadaan yang kompleks dari disfungsi
sirkulasi yang berakibat terganggunya suplai oksigen
dan nutrien untuk memenuhi kebutuhan jaringan.
3 jenis Syok :
Hipovolemi (tersering pada neonatus)
Kardiogenik
Septik

Gejala gangguan sirkulasi pada neonatus :


1. Usaha nafas: Takipnea, retraksi, pernafasan
cuping hidung.
2. Nadi: Pada keadan syok denyut nadi dapat
melemah atau tidak teraba.
3. Perfusi perifer: Perfusi yang buruk akibat
vasokonstriksi dan menurunya curah jantung
memanjangnya waktu pengisian kapiler (>3 detik),
motling dan kulit teraba dingin, pucat, denyut nadi
yang kuat.

B-Blood Pressure
4. Warna: Kulit bayi tampak sianosis atau pucat.

5. Frekuensi jantung normal adalah 120160


kali/menit, namun dapat bervariasi sekitar 8020
kali/menit tergantung dari aktivitas bayi. Pada
keadan syok, denyut jantung dapat berupa
bradikardia (<10 kali/menit) yang disertai dengan
adanya tanda perfusi yang buruk, atau takikardia
(>180 kali/menit).

Prinsip penanganan
Identifikasi syok
Beri bantuan ventilasi
Beri cairan fisiologis(NaCl 0,9% 10 cc/kg BB
selama 30- 60 menit)
Cari penyebab
Hindari terapi Biknat secara agresif
Bila perlu berikan Dopamine 5-10
mcg/kg/menit

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan:


1. Sebelum transportasi
Pemeriksaan berikut (4-B) harus dilakukan
sebelum dilakukan transportasi:
Blood count (pemeriksaan darah rutin ; hitung
jenis, jumlah leukosit, trombosit, i/t ratio)
Blood culture (kultur darah)
Blood glucose (kadar glukosa darah)
Blood gas (analisis gas darah)

Lab Work

2. Setelah transportasi
Pemeriksaan laboratorium setelah transportasi
tergantung dari riwayat, faktor risiko, dan
gejala klinis dari bayi. Pemeriksaan yang dapat
dilakukan diantaranya:
C- reactive protein (CRP), elektrolit (natrium,
kalium, kalsium), fungsi ginjal (ureum,
kreatinin), fungsi hati (SGOT, SGPT, bilirubin,
pT, aPTT, fibrinogen, D-dimer).

Lab Work

Emotional Support

Keluarga dari bayi yang mengalami krisis


biasanya akan mengalami rasa bersalah, marah,
tidak percaya, merasa gagal, tidak berdaya, takut
dan depresi.
Orangtua akan mengalami tahapan emosional :
Terkejut
Menyangkal
Berkabung
Marah dan merasa bersalah
Tahap ekuilibrium dan teroganisir

Emotional Support

Keluarga sedapat mungkin memperoleh informasi


secara kontinu mengenai perkembangan keadaan
anaknya.
Kontak sedini mungkin antara orang tua dengan
anaknya sangatlah penting
Dukungan emosi yang diberikan kepada keluarga
dapat diberikan sebelum pada saat bahkan
sesudah bayi ditransfer ke tempat yang lebih
intensif.
Setelah bayi ditransfer ke ruang intensif, orang tua
tetap harus mendapatkan dukungan. Salah
satunya adalah dengan cara membiarkan orang
tua menengok bayinya serta membiarkan mereka
mengetahui dan memantau terus kondisi bayinya.

Pemindahan bayi baru lahir ke fasilitas kesehatan


yang lebih lengkap dan memadai.
Bayi harus dirujuk dalam keadaan stabil dan
kondisi tersebut dapat dicapai dengan
menerapkan program STABLE.
Hal lain yang perlu dipersiapkan untuk
disampaikan kepada tim transpor adalah:
Informed consent
Catatan medis ibu
Catatan medis bayi
Hasil laboratorium atau radiologi
Pemberian terapi yang sudah diberikan dan
yang akan diberikan

Pemilihan metode pengiriman :


Jika waktu yang dibutuhkan ke rumah sakit
tujuan, membutuhkan waktu 1 jam atau kurang,
transport
dapat
dilakukan
menggunakan
ambulans (jika memungkinkan jalan darat). Jika
jarak rumah sakit tujuan lebih dari 1 jam jika
menggunakan
jalan
darat,
digunakan
transportasi udara.

http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2014/07/Transportasipada-Neonatus.pdf
http://idai.or.id/professionalresources/rekomendasi/resusitasi-danstabilisasi-neonatus.html