Anda di halaman 1dari 7

Epilepsi dengan Psikosis

Pendahuluan
Psikosis merupakan komplikasi berat dari epilepsi meskipun jarang ditemukan. Keadaan
ini disebut dengan psychoses of epilepsy (POE) (Israr, 2009). Psikosis pada pasien epilepsi
digolongkan berdasarkan hubungan temporal gejala itu dengan kejang. Beberapa penelitian lain
memperlihatkan bahwa gejala psikosis pada pasien epilepsi umum cenderung singkat dan pasien
cenderung bingung. Tidak ada kesepakatan yang ada diterima secara internasional dalam hal
pengklasifikasian sindrom psikosis pada epilepsi.
Penelitian memperlihatkan bahwa terdapat peningkatan prevalensi problem psikiatrik
diantara pasien-pasien epilepsi dibandingkan pasien tanpa epilepsi. Diperkirakan terdapat 2030% penderita epilepsi mengalami psikopatologi dalam satu waktu, terutama ansietas dan
depresi. Prevalensi psikotik episode psikotik berkisar 4-10 % dan meningkat pada 1020 % pada
temporal lobe epilepsy, terutama pada lokus sisi kiri atau bilateral (Kusumawardhani, 2010).

Definisi
Psikosis merupakan komplikasi berat dari epilepsi meskipun jarang ditemukan. Keadaan
ini disebut dengan psychoses of epilepsy (POE). Gambaran psikosis yang sering ditemukan pada
pasien epilepsi adalah gambaran paranoid dan schizophrenia-like. Pada forced normalization
yaitu penderita mengalami gejala psikotik pada saat kejang terkontrol dan justru gejala psikotik
menghilang bila terjadi kejang (Kusumawardhani, 2010).

Epidemiologi
Proporsi seumur hidup terkena berbagai gangguan psikotik pada pasien epilepsi adalah
7%-12%. Menurut studi di komunitas, klinik-klinik epilepsi, dan rumah sakit jiwa menunjukkan
peningkatan proporsi masalah psikiatri pada orang-orang dengan epilepsi bila dibandingkan
dengan orang yang tidak menderita epilepsi berkisar pada 4,7% dari seluruh pasien epilepsi di

Inggris dan 9,7% dari seluruh pasien epilepsi di Amerika. Kira-kira 30% pasien epilepsi yang
mengunjungi klinik rawat jalan di Amerika mempunyai riwayat dirawat inap minimal satu kali
karena masalah psikiatri. Dan 18% pasien epilepsi sedang menggunakan paling tidak satu jenis
obat psikotropika. Kira-kira 60% pasien kejang parsial mengalami fenomena aura, 15% pasien
mengalami disforia. Rasa takut yang meningkat menjadi panik juga sering terjadi, kira-kira 20%
dari pasien epilepsi fokal mengalami gangguan afek iktal berupa rasa takut, cemas, dan depresi.
Gejala psikosis paling sering dihubungkan dengan epilepsi lobus temporal kanan.
Pada penelitian temporal lobektomi dimana dilakukan operasi pengangkatan fokus
epileptikum, psikosis terjadi pada 7%-8% pasien bahkan jauh setelah gejala kejangnya sendiri
berhenti. Hal ini mengindikasikan proporsi 2-3 kali lipat munculnya gangguan psikotik pada
pasien epilepsi dibandingkan dengan populasi umum, khususnya pada pasien epilepsi dengan
fokus temporomediobasal. (Hari, 2006)

Klasifikasi
Gangguan perilaku pada pasien epilepsi :
1. Iktal
a. Iktal dengan gejala psikis
b. Status non konvulsif kehang parsial simpleks (tipe sensorik, psikis, motorik, dan
autonomi). Kejang parsial kompleks, dan serangan epileptiform lateralisasi
periodik.
2. Preiktal (termasuk prodormal pasca iktal dan iktal campuran)
a. Gejala prodormal : iritabilitas, depresi, dan sakit kepala.
b. Delirium pasca ictal
c. Gejala psikosis preictal
Gejala-gejala psikotik preiktal sering kali memburuk dengan peningkatan aktivitas
kejang.
3. Interiktal
a. Psikosis skizofreniform
b. Gangguan kepribadian
c. Sindrom Gestaut - Geschwind
Psikotik interiktal sangat mirip dengan gangguan skizofrenia yang dengan mudah dapat
dikenal yaitu adanya gejala waham dan halusinasi.
a. Hiperreligiosity

b.
c.
d.
e.

Hiper/hiposeksual
Hipergrafia
Iritabilitas
Viscocity / bradyphrenia

4. Berhubungan dengan iktal bervariasi


a. Gangguan mood (depresi dan mania)
b. Keadaan dissosiatif
c. Agresi
d. Hiposeksualitas
e. Bunuh diri
f. Gejala psikosis
g. Gangguan tingkah laku lainnya
(Kusumawardhani, 2010).

Patofisiologi

(Hari, 2006)

Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya psikosis pada pasien epilepsi (Kusumawardhani, 2010) :
1. Awitan usia muda (pubertas)

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kejang berlanjut menahun


Perempuan
Tipe kejang parsial kompleks, automatisme
Frekuensi kejang
Lokus fokus epilepsi (temporal)
Abnormalitas neurologik
Gangliogliomas, hamartomas

Beberapa faktor predisposisi lain adalah lingkungan tempat pasien tumbuh besar mungkin
mengjalangi perkembangan sosial dan fungsi intelektualnya. Penyebab atau elemen dari
lingkungan ini dapat berupa proteksi berlebihan dari orangtua, regimen pengobatan yang ketat
sehingga menghalangi pasien untuk beraktivitas (bergaul dan berolahraga).
Kejadian kejang berulang yang dapat memunculkan stigma sosial, pembatasan, dan
pandangan bias dapat secara bermakna menekan rasa percaya diri dan membatasi pasien dalam
bidang akademik, pekerjaan, dan kegiatan sosial. Gangguan emosional seperti keadaan frustasi,
tegang, cemas, takut, eksitasi yang hebat dapat mencetuskan serangan epilepsi dan
memperbanyak jumlah serangan epilepsi. Keadaan ini sering dijumpai pada pasien epilepsi
remaja atau dewasa muda. (Hari, 2006)

Gambaran klinis
1. Psikosis iktal
Terjadi selama bangkitan epileptik atau status epileptikus, dan pemeriksaan EEG
merupakan pilihan untuk diagnosis. Gejala yang nampak :
Iritabilitas
Keagresifan
Otomatisme
Mutisme
Kecuali pada kasus status parsial sederhana, keadaan perasaan umum menjadi buruk.
Kebanyakan dari psikosis iktal mempunyai fokus epileptiknya pada lobus temporal,
hanya 30% focus epileptiknya berada selain di lobus temporal (korteks frontalis).
Adakalanya psikosis menetap meskipun masa iktal telah selesai. (Israr, 2009).
2. Psikosis inter iktal

Merupakan keadaan psikosis yang persisten, dikarakteristikkan oleh paranoid, tidak


berhubungan dengan kejadian masa iktal dan tidak dengan penurunan kesadaran.
Kejadiannya diperkirakan 9% dari semua populasi penderita epilepsi dan mulai dari usia
30 tahun. Gejala yang timbul :
Waham kejar dan keagamaan (onset yang tersembunyi)
Halusinasi audiotorik
Gangguan moral dan etika
Kurang inisiatif
Pemikiran yang tidak terorganisasi dengan baik
Perilaku agresif
Ide bunuh diri
Durasinya selama beberapa minggu dan dapat berakhir setelah lebih dari 3 bulan (kronik
psikosis intraiktal). Dibandingkan dengan skizofrenia, pada psikosis intraiktal
menunjukkan :

Perburukan intelektual yang lebih sedikit


Fungsi premorbid yang lebih baik
Kemunculan gejala negatif lebih sedikit
Fungsi perawatan diri lebih baik.

(Israr, 2009).
3. Psikosis post iktal
Hampir 25% dari kasus psikosis pada penderita epilepsi post-iktal, keadaan ini muncul
setelah terjadinya bangkitan epilepsi. Biasanya terdapat interval keadaan tenang selama
12-72 jam antara berakhirnya bangkitan dengan awal dari psikosis (durasi rata-rata adalah
70 jam). Gejala yang nampak :
Halusinasi (auditorik, visual, taktil)
Perubahan perilaku seksual
Waham (keagamaan, kebesaran, kejar)
Psikosis post iktal berhubungan dengan :

Fokus epilepsi pada sistem limbik regio temporal


IQ verbal yang rendah
Hilang konvulso febril
Hilangnya sklerosis mesial-temporal

(Israr, 2009).
Tatalaksana
Dalam pengobatan epilepsi dengan gangguan psikiatri, yang harus diperhatikan adalah
1. Atasi epilepsinya dengan antikonvulsan (karbamazepin, asam valproat, gabapentin, dan
lamotigine).
2. Berikan obat antipsikosis
3. Potensi terjadinya interaksi obat
Terapi lainnya :
1. Operasi
Tidak disarankan, dikarenakan tidak bermanfaat bagi pasien.
(Kusumawardhani, 2010).

Prognosis
Prognosis baik bila kejang dapat dikontrol dengan antikonulsan (Kusumawardhani, 2010).

Daftar Pustaka
Israr, Yayan Akhyar. (2009). Psikosis pada Penderita Epilepsi, hal 8-9. FKUNRI.
Kusumawardhani, AAA. (2010). Gangguan Mental Organik Lain. Buku Ajar Psikiatri hal 106111. FKUI.