Anda di halaman 1dari 3

Mengejar Beasiswa Ke Negeri Kaya Teknologi

14 november 2014 pukul 20.00 SchoTalk kedua dilaksanakan dengan pematerinya adalah
Mas Ikono yang sangat berpengalaman dalam hal beasiswa, beliau merupakan penerima
beasiswa beasiswa ternama antara lain, beasiswa pemerintahan Singapura di NTU, NIMS
di Jepang, Lpdp, lpb, Daad di Jerman, dan Sea Conference di Thailand.
Sekilas mengenai Mas Ikon, beliau merupakan salah satu dari founder komunitas yang
membantu orang indonesia untuk mendapatkan beasiswa, baik dalam negeri maupun luar
negeri yaitu komunitas Sahabat Beasiswa. Mas Ikon juga telah bergelut menjadi scholarship
consultant selama 5 tahun. Hampir setiap hari Mas Ikon mendapatkan email masuk
mengenai berbagai masalah beasiswa baik itu pemeriksaan essay, motivation letter. Jadi
buat yang ingin konsultasi bisa langsung contact personal ke beliau. Di Jepang sendiri Mas
Ikon tinggal selama 7 tahun, 5 tahun ketika masih kecil dan 2 tahunnya saat beliau
menempuh gelar Master di University of Tsukuba dengan jurusan material science pada
tahun 2010 2012.
Lanjut ke fokus perbincangan beasiswa di negeri sakura tadi malam, yang lebih terfokus
ke beasiswa S2 dan S3. Beliau menceritakan pengalamannya selama di Jepang, salah
satunya beasiswa yang didapatkan beliau untuk menempuh pendidiknnya yaitu dari
National Institute for Material Science (NIMS) yang bekerja sama dengan University of
Tsukuba, salah satu institusi terbaik dibidang material, nomor 3 didunia setelah Max Planck
di Jerman dan Chinese Academy of Science di China.
Dari NIMS sendiri beliau mendapatkan uang saku sebesar 160.000 per bulan selama 2
tahun masa perkuliahan. Dan jika di Jepang dalam pengambaran beliau tepatnya di Tokyo
per bulan itu kita hanya mengeluarkan 70.000 80.000 ribu, dan jika di kota kecil malah
bisa 40.000 50.000 ribu per bulan. Jadi kita bisa nabung hingga 100.000 per bulan.
Perincian penjelasannya jika kita single, uang sewa rumah 30.000 40.000, uang makan
30.000 40.000, transportasi 20.000 dan lain lain misalnya hiburan 20.000. dan
saat dibandingkan dengan mahasiswa beasiswa diluar Jepang tentu lebih beruntung kita
yang kuliah di Jepang. Selain itu beberapa keunggulan lainnya studi master di Jepang itu
pada dasarnya master by research bukan master by coursework. Sehingga kita akan full

melakukan riset untuk menulis tesis, dan untuk dikelas kita mungkin hanya mengambil 20an
sks.
Kuliah di Jepang berarti kita akan tergabung dalam 1 lab atau grup riset yang dipimpin
oleh seorang profesor, dan didamping seorang associate profesor dibawahnya lagi secara
terstruktur ada post doctoral fellow, mahasiswa S3, mahasiswa S2, dan mahasiswa S1.
Nuansa risetnya sangat kental, jadi saat lulus dari Jepang kita akan mengerti cara riset yang
baik dan benar serta cara menulis paper. Dan seminggu sekali kita diwajibkan mengikuti
Zemi alias seminar internal grup riset yang gunanya untuk share progress report riset kita
nantinya. Dan disana juga tempat pembantaian mahasiswa oleh profesornya.
Jadi secara singkat keuntungan kuliah di Jepang itu selain kental akan nuansa riset, kita
akan dituntut kerja keras serta output riset seperti paper atau conference pasti akan banyak
publikasinya dibanding mahasiswa master di Eropa dan Australia, karena disana masternya
by coursework.
Kalau untuk kejelekannya secara singkat, dalam hal kerja keras di Jepang memang oke
namun tidak untuk kerja cerdas, karena disana kita disuruh kerja sampai jam 12 malam dan
datan jam 8 pagi. Dan juga kreativitas kita kuang dihargai di Jepang karena nantinya
proposal riset bakalan harus sesuia dengan topik penelitian profesornya karena itu sebelum
kita mengajukan beasiswa ada baiknya kita mencari profesor yang akan menjadi
pembimbing kita disana.
Mengenai beasiswa beasiwa untuk ke Jepang ada sangat banyak, diantaranya yang
paling tenar adalah beasiswa dari LPDP karena setiap bulannya kita akan mendapatkan
160.000 yen. Selain beasiswa dari LPDP ada juga beasiswa Monbukagakusho yang dibagi
menjadi dua yaitu lewat kedutaaan dan lewat universitas. Yang melalui kedutaaan biasanya
dibuka setiap bulan Mei dan informasinya bia dicek di website kedutaan Jepang di
Indonesia. Sedangkan Monbukagakusho untuk universitas dibukannya dari sekarang dan
biasanya ditutup akhir Desember atau awal Januari.
Monbukagakusho yang universitas itu metodenya dengan cara mendaftarkan diri ke
universitas yang dituju setelah itu universitas akan merekomendasikan kita ke kementerian
pendidikan Jepang. Contohnya itu IGT Titech, MEM U-Tokyo, dan e3 Hokkaido University.

Selain itu ada juga beasiswa Panasonic atau beasiswa Ajinomoto untuk kuliah di
University of Tokyo atau beasiswa Hitachi yang semuannya beasiswa full membiayai uang
kuliah serta memberikan uang saku 160.000 perbulan. Dan terakhir Mas Ikon beri trigger
bahwa kuliah di Jepang itu syurganya anak Sains namun agak kurang jika mempelajari ilmu
sosial karena kendala bahasa.