Anda di halaman 1dari 11

Universitas Indonesia

UJIAN AKHIR SEMESTER


PEMBANGUNAN SOSIAL

Disusun oleh :

HERY SYAMSIUS NAHAMPUN (1406592576)


ROLAN PARULIAN SIHOMBING (1406592632)

Program Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial


Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia
Tahun 2014

Realitas Sosial dalam Novel Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma

Sinopsis
Novel ini bercerita tentang Aku, seorang pengusaha yang tersangkut kasus pembobolan bank
lewat usaha fiktif. Aku ini pula yang di dalam tahanan berusaha menelusuri kenangan masa
kecilnya sembari mereka-reka ulang konstruksi pemahaman dan perenungannya terhadap kliping
koran seputar pelbagai peristiwa di tahun 1965 milik kakak perempuannya yang menghilang,
atau mungkin dihilangkan sejak aksi massa menumpas PKI dan antek-anteknya marak terjadi.
Kakak perempuannya ini dalam ingatannya adalah anggota organisasi sayap PKI yaitu Gerwani.
Kenangan masa kecilnya secara spesifik adalah kisah mengenai pencidukan orang-orang di
desanya yang diduga kuat adalah anggota-anggota PKI dan organisasi-organisasi sayap partai
berlambang palu dan arit itu. Gadis kecilku yang ia cintai pada masa kecilnya, adalah salah
satu korban kebiadaban massa yang begitu marah membara terhadap orang-orang yang diduga
kuat berafiliasi dengan PKI. Gadis kecilku ini tewas terbakar bersama ayah, dan ibunya.
Sedangkan saudara kembarnya berhasil selamat dari kejadian itu, tetapi jiwanya terganggu dan
menjadi pasien rumah sakit jiwa. Dalam bagian-bagian mendekati halaman akhir novel ini,
saudara kembarnya yang gila itu dirasuki arwah Gadis kecilku dan membalas dendam kepada
semua orang yang terlibat dalam pembantaian keluarganya.
Tokoh utama dalam novel Seno Gumira Ajidarma ini juga mencantumkan cerita pada masa
gelombang pemulangan eks tahanan politik di Pulau Buru. Si Aku sengaja datang ke stasiun
dan menawarkan tempat tinggalnya di Jakarta kepada empat orang eks tahanan politik yang tidak
dijemput oleh seorang pun dari keluarga ataupun sanak saudara mereka. Dua orang dari tapol itu
bercerita kepada Aku bahwa tidak satupun dari mereka yang benar-benar bisa dikaitkan
dengan peristiwa Gestapu. Salah seorang dari eks tapol tersebut bahkan adalah ketua Himpunan
Sarjana Indonesia yang ditugaskan ke luar negeri, dan segera diciduk ketika ia mendaratkan
kakinya di tanah air. Yang lebih tragis adalah istrinya meninggalkan dirinya sejak sang sarjana
ini ditangkap. Tidak hanya itu, istrinya pulang ke kampungnya di Kalimantan, membawa
anaknya yang masih kecil, dan kemudian menikah lagi dengan orang lain. Anaknya kemudian
tidak tahu sama sekali mengenai tentang keberadaannya.

Selain uraian-uraian di atas, si Aku juga membayangkan sebuah skenario perandai-andaian


mengenai putri bungsu Bapak dan Ibu Trubus Sudarsono.1 Dalam perandaiannya tersebut, ia
membayangkan putri bungsu Trubus diputuskan pacarnya karena tidak mau berhubungan dengan
orang PKI. Rasa kecewa dan sakit hati yang dialami putri bungsu Trubus, barangkali merupakan
tafsiran si Akudan Seno Gumira Ajidarma tentunyatentang pelanggengan stigma PKI
yang masih berlangsung bahkan hingga sekarang.

Masalah Sosial
Tema yang diangkat oleh Seno Gumira Ajidarma dalam novel ini sepertinya bukanlah suatu
yang baru bagi orang yang sering membaca novel atau buku-buku tentang kejamnya penindasan
terhadap para anggota yang diduga terkait dengan PKI, yang juga bisa dikatakan proses
peradilannya sangat inkonstitusional. Pada masa itu, setiap orang boleh menangkapi, menyiksa,
dan membunuh siapa pun yang diduga anggota-anggota PKI dan organisasi-organisasi sayap
PKI. Tidak hanya itu, perampasan harta, tanah, dan juga istri anggota-anggota PKI, juga
diperbolehkan. Mantan Menko Polhukam dalam kabinet SBY, Djoko Suyanto, bahkan
menyatakan bahwa pengadilan massa terhadap antek-antek PKI kala itu harus dianggap
sebagai suatu sejarah masa lalu yang jika tidak terjadi maka Negara Indonesia tidak akan
menjadi seperti sekarang.2
Sikap Pemerintah yang cenderung menafikan pelanggaran berat HAM masa lalu, khususnya
tahun 1965, bisa diistilahkan sebagai sebuah bentuk impunitas yaitu sebuah pemberian
kebebasan atau pengecualian dari tuntutan atau hukuman atau kerugian kepada seseorang yang

Trubus Soedarsono adalah pelukis dan pematung yang belajar secara otodidak. Berasal dari keluarga petani di
Kabupaten Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Trubus tidak pernah tamat sekolah dasar, namun berkat
bakat melukisnya yang luar biasa Trubus di kemudian hari diangkat menjadi dosen ASRI yang sekarang disebut
Institut Seni Indonesia. Beberapa karya Trubus juga menjadi koleksi Presiden Sukarno, yaitu lukisan "Potret
Wanita," "Putri Indonesia," dan patung batu berjudul "Gadis dan Kodok." Trubus sempat juga menjadi anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah - DIY, mewakili fraksi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasca kudeta Gerakan 30
September 1965, para anggota Lekra diburu lawan politiknya. Trubus, yang juga salah satu anggota Lekra,
dikabarkan hilang pada tahun 1966, atau diduga mati terbunuh di Yogyakarta.
2
http://jaringnews.com/keadilan/umum/24668/menkopolhukam-tak-bermaksud-mendangkalkan-peristiwa-g-spki

3
telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Impunitas terjadi dari penolakan atau

kegagalan sebuah pemerintah untuk mengambil atau melaksanakan tindakan hukum kepada
pelaku. Seiring dengan kemajuan sistem hukum dan tata negara, definisi impunitas dalam
kerangka hukum internasional di berkembang menjadi ketidakmungkinan, baik secara de jure
ataupun

de

facto,

untuk

membawa

pelaku

pelanggaran

hak

asasi

manusia

mempertanggungjawabkan perbuatannya baik dalam proses peradilan kriminal, sipil,


administratif atau disipliner karena mereka tidak dapat dijadikan objek pemeriksaan yang dapat
memungkinkan terciptanya penuntutan, penahanan, pengadilan, danapabila dianggap
bersalahpenghukuman dengan hukuman yang sesuai, dan untuk melakukan reparasi kepada
korban-korban mereka (KontraS, 2005:i).
Akibat pembiaran yang dilakukan Negara pada orang-orang yang terbukti nyata-nyata
melakukan pelanggaran HAM, bisa dikatakan sebagai salah satu faktor pemicu makin maraknya
praktek-praktek pengadilan jalanan yang terjadi sekarang. Sebut saja Front Pembela Islam, atau
ormas-ormas radikalisme lainnya, yang bisa seenaknya menutup tempat ibadah agama lain 4, atau
bahkan melakukan penganiayaan kepada kelompok lansia yang sedang berkumpul dalam
kegiatan pelatihan pemberdayaan ekonomi.5
Selain impunitas, masalah sosial krusial lain yang coba diangkat Seno Gumira Ajidarma adalah
pelanggengan stigma yang berimplikasi pada praktek diskriminasi terhadap kelompok marjinal,
yang mana korban 65 adalah salah satu kelompok yang dipinggirkan. Dalam laporan evaluasi
PNPM Mandiri (Lontar Foundation, 2010: 96), terdapat fakta bahwa ada beberapa kelompok
masyarakat yang tidak diikutsertakan dalam pembangunan lewat PNPM Mandiri. Kelompokkelompok marjinal itu antara lain: (a) masyarakat adat; (b) kelompok agama minoritas; (c)
korban DOM Aceh dan pelanggaran berat HAM masa lalu; (d) kelompok waria; (e) kelompok
anak jalanan dan anak yang berhadapan dengan hukum; (f) kelompok difabel.
Para korban 65 dan keluarganya saat ini merupakan kelompok yang mengalami stigma dan
diskriminasi dalam penerimaan sosial di tengah masyarakat. Sebut saja Agus Wijoyo yang harus
mengubur mimpinya menjadi tentara karena dilahirkan dari keluarga berlatar belakang PKI.
3

http://referensi.elsam.or.id/2014/09/impunitas/
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/01/058581590/Warga-Sleman-Bubarkan-Ibadah-Umat-Kristen
5
http://www.tempo.co/read/news/2013/10/27/058525068/Pertemuan-Keluarga-Eks-Tapol-Dibubarkan-Massa
4

Padahal ia sudah berada di kamp militer selama lima hari pada tahun 1985. Karena alasan yang
tidak jelas ia dikeluarkan dari pelatihan. Lalu ia pun pulang ke kampung halamannya dan
mencoba mencari tahu sejarah keluarganya. Dan akhirnya ia mendapati fakta bahwa ia lahir di
keluarga dengan tradisi partai berlambang palu dan arit itu.6
Tidak hanya itu, para korban 65 dan keluarganya juga menemui kesulitan untuk mengakses
layanan publik yang menjadi kewajiban Negara. Pada umumnya korban 65 dan keluarga
dipersulit untuk membuat KTP, menduduki jabatan publik di tingkat desa, dicekal untuk
melanjutkan sekolah, tidak mendapatkan Jamkesmas/BPJS, atau juga tidak mendapatkan bantuan
Raskin. Dalam kegiatan RPJM Desa, korban 65 dan keluarganya mustahil rasanya dilibatkan
dalam pembangunan desa, karena mendapatkan undangan menghadiri pertemuan rapat desa saja
tidak pernah.
Dalam kebijakan sosial pun korban 65 dan keluarganya masih belum merasakan manisnya era
reformasi. Memang pencantuman ET di KTP sudah dihapuskan pada tahun 1995, tetapi
nyatanya Instruksi-intruksi Menteri Dalam Negeri No. 32/1981 yang mendasari pelanggengan
praktek stigma dan diskriminasi masih belum dibatalkan oleh Negara. Berdasarkan Instruksiinstruksi Menteri Dalam Negeri: (a) No. 32/1981 tanggal 22-08-1981 tentang Pembinaan dan
Pengawasan terhadap Bekas Tahanan dan Bekas Narapidana G30S/PKI dan juga (b) No.
730.351/4211 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan, seorang eks Tapol G30S/PKI :
1. Dilarang melakukan pekerjaan sebagai Guru/Dosen, Pendeta, Dalang, Lembaga Bantuan
Hukum, Wartawan, dan sebagainya;
2. Diharuskan Izin Khusus bila bepergian lebih dari 7 hari;
3. Diharuskan adanya jaminan tertulis dari instansi bilamana akan melakukan ibadah haji;
4. Diharuskan mencantumkan kode "ET" pada KTP-nya.
Dalam sebuah surat tertulis eks Tapol, Bakri Ilyas, kepada Komnas Ham pada tahun 1998
menyatakan stigma eks Tapol sebagai praktek diskriminatif dan tidak manusiawi ini membawa
malapetaka kemiskinan bagi 1.871.606 eks Tapol G30S/PKI. Bakri Ilyas menambahkan lebih
lanjut, lebih dari 1 juta tenaga-tenaga muda yang terampil dan terpelajar kala itu, sebagian

http://www.beritasatu.com/politik/46969-korban-stigma-pki-1965-menolak-lupa.html

jebolan dari universitas terbaik dari beberapa negara maju, kehilangan kesempatan
mempergunakan usia ekonomisnya yang paling produktif.
Setiap eks Tapol G30S/PKI kehilangan usia ekonomisnya selama masa 32 tahun: 10 tahun
sebagai Tapol penuh dan mendiami rumah-rumah tahanan; 22 tahun sebagai eks Tapol (Tapol
yang berada di luar rumah-rumah tahanan) tanpa hak ekonomi dan pekerjaan yang layak yang
menyebabkan sebagian dari mereka yang masih hidup, terkungkung dalam belenggu kemiskinan
hingga kini.

Analisa strategi pembangunan sosial dalam novel Kalatidha dalam kaitannya


untuk mengatasi permasalahan sosial

Ada 2 hal yang menjadi permasalahan pokok di dalam novel Kalatidha. Yang pertama adalah
IMPUNITAS, yaitu pembiaran negara Indonesia terhadap pelanggar HAM dan pelaku
kekerasan). Yang kedua adalah STIGMA yang berkembang dalam masyarakat Indonesia sampai
saat ini, yang kemudian berimplikasi terhadap praktek diskriminasi terhadap orang-orang yang
terkait dengan peristiwa tahun 1965 tersebut.
Fakta bahwa sampai saat ini negara belum menindak tegas, para pelaku dan pelanggar HAM
menjadi contoh nyata bahwa praktek pembangunan sosial yang diawali dengan penyusunan
pondasi pembangunan sosial belum sepenuhnya dibangun dengan baik. Sikap pembiaran negara
merupakan bukti bahwa kekejian-kekejian yang terjadi dianggap sebagai sesuatu yang tidak
berdampak terhadap pembangunan sosial. Dari novel, kita bisa melihat bahwa praktek
diskriminasi sampai saat ini terus terjadi, bahkan di era modern seperti ini kita masih sering
melihat praktek-praktek diskriminasi terjadi.
Hal seperti ini semestinya mendapatkan perhatian lebih dari aktor-aktor pembangunan negara,
khususnya pemerintah sebagai salah satu elemen utama di dalam pembangunan negara yang
memiliki tanggung jawab dan peran yang sangat besar untuk bisa membangun sebuah pondasi
pembangunan negara yang kuat sehingga pada akhirnya pembangunan negara dapat tercapai.

Di dalam proses pembangunan suatu negara, maka aktor-aktor pembangunan negara tersebut
harus

menggunakan

berbagai

pendekatan

atau

strategi

yang

tepat

didalam

mengimplementasikannya. Dunia pembangunan sosial mengenal beberapa strategi didalam


pembangunan sosial, yaitu (Midgley, 1995: 103-138):

Pembangunan sosial melalui individu dengan pendekatan individualis.

Strategi ini lebih menekankan pada pengembangan dan fungsi individu serta hubungan antar
individu. Individu-individu yang ada dalam masyarakat berswadaya memberdayakan masyarakat
itu sendiri dengan membentuk usaha pelayanan. Dengan adanya usaha membentuk pelayanan
yang bersifat swadaya tadi maka strategi ini sering juga disebut juga sebagai pendekatan
perusahaan (enterprise approach)
Pengembangan sosial individu seharusnya melihat bentuk partisipasi sebagai salah satu cara
yang tepat di dalam pembangunan sosial. Partisipasi atau usaha-usaha yang dilakukan oleh
masyarakat perlu didorong agar masyarakat tersebut mempunyai kemandirian, dan mempunyai
inisiatif lebih dalam pembangunan suatu wilayah. Beberapa pola pendekatan dalam
pemberdayaan masyarakat yang dapat digunakan, adalah seperti yang dikemukakan Ross (1987:
77-78) yang menggunakan pendekatan the inner resources approach. Pola ini menekankan
pentingnya member stimulus pada masyarakat untuk mampu mengidentifikasi keinginankeinginan dan kebutuhan-kebutuhannya dan bekerja secara kooperatif dengan lembaga-lembaga
pembangunan masyarakat untuk mencapai kepuasan bagi mereka. Pola pendekatan ini mendidik
masyarakat menjadi concern akan pemenuhan dan pemecahan masalah yang dihadapi dengan
menggunakan potensi yang mereka miliki.
Merujuk kepada kasus stigma yang mengakibatkan diskriminasi yang terjadi, strategi
pengembangan sosial individu ini bisa saja dipergunakan, agar orang-orang yang sudah terlanjur
dicap tidak baik karena tersangkut dengan kasus 65, bisa memiliki kemandirian didalam
menyuarakan aspirasi mereka. Dalam hal ini dimana kaum diskriminasi kasus 65 tidak bisa
mengakses layanan publik seperti KTP, menduduki suatu jabatan, dan lain-lain, bisa memulai
untuk memberanikan diri menyuarakan apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Ketika strategi
pengembangan individu ini diterapkan, maka itu akan memotivasi mereka untuk juga bisa
menggunakan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka, untuk tetap bisa berkarya dan

memberikan kontribusi dalam proses pembangunan, meskipun berada di tengah kondisi yang
diskriminatif seperti yang mereka alami saat ini.
Strategi pengembangan sosial melalui individu, akan mengarahkan kaum-kaum marginal
tersebut menjadi lebih berkualitas dan lebih tangguh dibanding sebelumnya. Fungsi-fungsi
individu akan semakin tergali dan dapat difungsikan dengan baik. Kekuatan dari strategi ini
adalah memberikan kesempatan untuk individu berkembang dengan potensi yang dimiliki.
Namun memang ada kelemahan yang perlu untuk diantisipasi, karena pendekatan ini juga perlu
melihat aspek penerimaan dari individu tersebut. Berkembang atau tidaknya suatu individu, akan
sangat bergantung dari bagaimana penerimaan individu tersebut terhadap hal-hal yang ia terima.

Pembangunan sosial melalui komunitas.

Pengembangan sosial oleh masyarakat atau yang lebih dikenal dengan pengembangan
masyarakat, merupakan pengembangan yang memberikan ruang lebih kepada masyarakat untuk
bisa berpartisipasi baik untuk kepentingan dalam kelompok tersebut ataupun juga kepentingan di
skala yang lebih besar lagi. Pengembangan masyarakat menekankan kepada aksi dan partisipasi
masyarakat untuk bisa berkontribusi dalam pembangunan sosial. Dalam kasus pelanggaran HAM
dan pelaku kekerasan, di tingkat masyarakat sudah mulai bisa digagas aksi-aksi untuk bersamasama memerangi pelanggaran HAM dan kekerasan. Inisiasi sudah mulai dapat dilakukan untuk
menggalang kebersamaan dan kekompakan di dalam memberikan dukungan satu sama lain di
dalam hidup bermasyarakat.
Orientasi pembangunan sosial juga sudah harus mulai diterapkan agar orientasi setiap individu
adalah bagaimana bisa berkontribusi terhadap kemajuan pembangunan. Jangan lupakan juga
peran dari perempuan dan anak-anak di dalam pembangunan, karena mereka adalah pihak-pihak
yang mempunyai potensi yang besar untuk turut berkontribusi didalam pembangunan.
Dikaitkan dengan kasus diskriminasi terhadap kaum yang terlibat dalam peristiwa 65, maka
pendekatan pengembangan sosial terhadap komunitas juga akan menggagas upaya-upaya
pemberantasan segala macam bentuk diskriminasi yang terjadi. Bahwa setiap individu
mempunyai derajat dan kesempatan yang sama. Kelompok-kelompok yang ada dalam
masyarakat sudah mulai dapat saling memberikan motivasi dan memberikan kesempatan orang

lain untuk bisa mengakses segala yang menjadi hak dalam kehidupan, maka akan meningkatkan
fungsi-fungsi atau potensi dalam diri orang tersebut sehingga bisa berkualitas. Penguatan
kelembagaan juga sudah harus mulai digalakkan, karena kelembagaan yang ada merupakan salah
satu potensi yang dapat dipergunakan untuk mendukung kegiatan pengembangan yang sudah
ada. Selain itu lembaga-lembaga lokal juga dapat berperan di dalam menginisiasi kampanye anti
diskriminasi sehingga masyarakat mengetahui dan mempunyai kesadaran untuk tidak lagi
melakukan diskriminasi.
Kekuatan dalam pendekatan tersebut adalah partisipasi dari masyarakat yang merupakan modal
utama dalam pembangunan, namun ada beberapa resiko yang perlu dipertimbangkan dalam
mempergunakan pendekatan ini. Karena semakin banyak pihak yang terlibat maka akan butuh
upaya lebih untuk menyingkirkan motif-motif dan kepentingan-kepentingan pihak tertentu.
Masyarakat harus benar-benar mengidentifikasi apa sebetulnya yang menjadi masalah dan apa
yang harus dilakukan.

Pembangunan sosial melalui pemerintah, yang sering dikenal dengan pendekatan statis.

Pembangunan sosial dilakukan dengan menggunakan lembaga-lembaga yang ada di dalam


organisasi pemerintah. Pada strategi ini pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk membuat
kebijakan dan mengimplementasikan kebijakan sosial yang telah dibuat. Jadi dengan demikian
partisipasi dalam pembangunan sosial tidak hanya dilakukan oleh individu dan masyarakat,
tetapi juga oleh pemerintah. Dalam kasus pelanggaran HAM, kekerasan dan diskriminasi ada
beberapa langkah konkrit yang seharusnya dilakukan seperti :
A. Menginisiasi kegiatan pemenuhan hak atas kebenaran.

Mengusut dan menindak tegas pelaku kekerasan, pelanggaran HAM.

Mendorong inisiasi untuk menghentikan segala bentuk diskriminasi yang terjadi.

Memperluas akses bagi para korban untuk bisa menyuarakan aspirasi mereka dan
menyatakan kebenaran sejarah.

Membantu korban-korban 65 di dalam melakukan rekonsiliasi lokal.

B. Memperkuat akuntabilitas pemerintah.

Pemerintah yang merupakan bagian utama di dalam pembangunan masyarakat, memiliki


perananan penting untuk dapat berkontribusi di dalam prosesnya. Pemerintah memiliki
kekuatan untuk dapat membuat dan mengembangkan kebijkan-kebijakan secara tegas
menentang dan menghukum berat pelaku kekerasan dan HAM, agar menimbulkan efek
jera bagi pelaku-pelakunya.
Pemerintah perlu secara lebih spesifik memikirkan dan membuat suatu kebijakan yang
menentang bentuk-bentuk diskriminasi, dan membuat suatu mekanisme pengawasan
terhadap implementasi dari kebijakan-kebijakan tersebut. Kebijakan-kebijakan yang ada
hendaknya mempunyai fleksibilitas didalam proses implementasinya. Proses perencanaan
kebijakan perlu dipersiapkan secara matang agar mempertimbangkan segala aspek-aspek
pemenuhan kebutuhan masyarakat menuju negara yang sejahtera.
Di dalam menjalankan pendekatan sosial melalui pengembangan pemerintah, perlu
diperhatikan beberapa aspek seperti aspek keberlanjutan dan kesetaraan dalam membuat
perencanaan. Kekuatan dari pendekatan ini adalah memberdayakan seluruh elemen yang
berpotensi untuk bisa menjalankan fungsinya di dalam membangun pondasi
pembangunan sosial, sedangkan kelemahan dari pendekatan ini adalah akomodasi
kepentingan pihak-pihak tertentu yang harus dikendalikan agar tidak membiaskan
kebijakan-kebijakan yang diberlakukan.

KESIMPULAN UMUM
Praktek-praktek diskriminasi masih terjadi sampai saat ini terhadap korban-korban 65, mereka
masih belum bisa mengakses pelayanan-pelayanan publik dan lainnya, stigma sebagai PKI
dengan konotasi yang dibangun masih melekat dalam diri mereka. Belum ada upaya konkrit
yang bisa dilakukan pemerintah untuk menentang atau menindaklanjuti praktek-praktek tersebut
sehingga mereka semakin termarginalkan.
Keseluruhannya korban 65 menyisakan pengalaman traumatis dan penderitaan panjang. Mereka
masih berjuang untuk bisa menyuarakan kebenaran sejarah dan masih berada dalam kondisi
kehidupan yang kurang layak. Reformasi belum memberikan ruang yang cukup bagi korban 65
untuk merubah stigma dan mengembalikan nama baik, mendapatkan ruang serta tindakan

affirmative bagi pemenuhan hak-hak mereka. Kebijakan dan Perangkat Hukum yang tersedia
tidak dapat diandalkan secara optimal untuk menghapuskan stigma.
Di dalam mengatasi masalah-masalah tersebut diperlukan berbagai upaya pembangunan sosial
yang menggunakan pendekatan individu, komunitas dan pemerintah agar bisa bersinergi dan
membangun kerangka pondasi pembangunan sosial demi terwujudnya negara kesejahteraan,
dimana semua masyarakat mendapatkan kesejahteraan dan ketentraman.

DAFTAR PUSTAKA
Ajidarma, Seno Gumira. 1988. Kalatidha. Gramedia Pustaka. Jakarta.
BeritaSatu. 2012. Korban Stigma PKI 1965 Menolak Lupa.
http://www.beritasatu.com/politik/46969-korban-stigma-pki-1965-menolak-lupa.html. 15
Desember 2014 (17:36).
Elsam. 2014. Terminologi Impunitas. http://referensi.elsam.or.id/2014/09/impunitas/. 15
Desember 2014 (17:21).
KontraS. 2005. Menolak Impunitas: Serangkaian Prinsip Perlindungan Dan Pemajuan HAM
Melalui Upaya Memerangi Impunitas Prinsip-prinsip Hak Korban. KontraS. Jakarta.
Korten, David. 2002. Menuju ke Abad 21, tindakan sukarela dan agenda global. Obor. Jakarta.
Sairin, Sjafri. 2002. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Sembiring, Garda dan Harsono Sutedjo (ed). 2004. Gerakan 30 September 1965: Kesaksian
Letkol (Pnb) Heru Atmodjo. Peoples Empowerment Consortium. Jakarta.
Suyanto, Djoko. 2012. Menkopolhukam Tak Bermaksud Mendangkalkan Peristiwa G30S/PKI.
http://jaringnews.com/keadilan/umum/24668/menkopolhukam-tak-bermaksudmendangkalkan-peristiwa-g-s-pki. 15 Desember 2014 (16:08).
Tempo. 2014. Warga Sleman Bubarkan Ibadah Umat Kristen.
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/01/058581590/Warga-Sleman-Bubarkan-IbadahUmat-Kristen. 15 Desember 2014 (17:15).
______. 2013. Pertemuan Keluarga Eks Tapol Dibubarkan Massa.
http://www.tempo.co/read/news/2013/10/27/058525068/Pertemuan-Keluarga-Eks-TapolDibubarkan-Massa. 15 Desember 2014 (17:17).