Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM OSEANOGRAFI

Oleh
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Tri Suntari
Dinda Adinapradja
Andika Asdiatama
Muhammad Faqih Zuhri
Sri Amini
Alma Surya Nainggolan
Adi Cahya Nugraha
Nindita Arum Wardani
Mesiani Elfride Silaban
Muhammad Zain Al Afgoni

(B0A013002)
(B0A013013)
(B0A013014)
(B0A013016)
(B0A013017)
(B0A013024)
(B0A013028)
(B0A013030)
(B0A013045)
(B0A013047)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Plankton adalah makhluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya,
mengambang, atau melayang didalam air yang kemampuan renangnya terbatas
sehingga mudah terbawa arus.Plankton berbeda dengan nekton yang berupa hewan
yang memiliki kemampuan aktif berenang bebas, tidak bergantung pada arus air,
contohnya : ikan, cumi-cumi, paus, dll. Bentos adalah biota yang hidupnya melekat pada,
menancap, merayap, atau membuat liang didasar laut, contohnya: kerang, teripang,
bintang laut, karang, dll (Odum, 1971).
Lingkungan yang dinamis, analisis biologi khususnya analisis struktur
komunitas hewan bentos, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas
perairan. Kondisi alam sebenarnya dalam keseimbangan yang beraturan, membentuk
mata rantai yang berhubungan satu sama lainnya, sehingga apabila salah satu
komponennya terganggu maka akan berpengaruh pada komponen yang lainnya. Untuk
memeriksa kondisi suatu perairan apakah tercemar atau tidak dapat digunakan
bioindikator (Odum, 1971).
Bioindikator

merupakan

seluruh

organisme

atau

populasi

yang

keberadaannya, mempunyai kemampuan bergerak dan kemampuan dalam merespon


kondisi perubahan lingkungan dapat memberikan respon spesifik. Beberapa spesies
dapat dikategorikan sebagai bioindikator apabila mempunyai karakteristik antara lain
bersifat taksonimis (mudahdiidentifikasi) dan dikenali dengan baik oleh awam,
merupakan spesies yang bersifat kosmopolit, kelimpahannya dapat terhitung, memiliki
variasi genetic danekologi yang rendah sehingga memudahkan dalam identifikasi,
berukuran tubuh besar, memiliki mobilitas yang terbatas dan siklus hidup yang relative
lama, karakteristik ekologinya dikenal dengan baik, dan sesuai untuk studi laboratorium.
Berdasarkan kriteria tersebut maka dilakukan biomonitoring dengan menggunakan
makrofauna bentik sebagai bioindikator (Odum, 1971).
Plankton merupakan indicator biologis dalam mempelajari ekosistem
sungai dan danau maupun kolam. Hal ini disebabkan adanya respon yang berbeda
terhadap suatu bahan pencemar yang masuk dalam perairan sungai dan bersifat
immobile .Beberapa keuntungan penggunaan makrofauna bentik untuk penelitian
adalah mobilitas yang rendah, diversitas yang relative tinggi, dan kisaran toleransi

terhadap stressor yang bervariatif, dan relative mudah diidentifikasi hingga level family
atau spesies (Effendi, 2003).
B.

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui kerapatan plankton pada


waktu pengambilan sampel yang berbeda.
C.

Tinjauan Pustaka

Penggolongan plankton berdasarkan ukuran (Barnes and Hughes, 1999):


a.

Megaplankton (> 20 mm)

Ada juga yang menyebutnya megaloplankton. Banyak uburubur termasuk dalam golongan
ini. Ubur-ubur Schyphomedusa, misalnya bisa mempunyai ukuran diameter payungnya
sampai lebih dari satu meter, sedangkan umbai-umbai tentakelnya bisa sampai beberapa
meter pajangnya. Plankton raksasa yang berukuran terbesar di dunia adalah ubur-ubur
Cyanea arctica yang payungnya bisa berdiameter lebih dua meter dan dengan panjang
tentake130 m lebih
b.

Makroplankton (2 20 mm)

Contohnya adalah eufausid, sergestid, pteropod. Larva ikan banyak pula termasuk dalam
golongan ini.
c.

Mesoplankton (200 m 2 mm)

Sebagian besar zooplankton berada dalam kelompok ini, seperti kopepod, amfipod,
ostrakod, kaetognat. Ada juga beberapa fitoplankton yang berukuran besar masuk dalam
golongan ini seperti Noctiluca.
d.

Nanoplankton

Plankton yang ukurannya lebih besar dari 2,um. Atau berukuran 2- 20 m;


e.

Ultrananoplankton

Plankton yang berukuran lebih kecil dari 2 m.


KlasifikasiFitoplankton:
a.

Phylum Chlorophyta

Menurut Kovacs (1992), ciri-ciri klasifikasi dari chlorophyta yaitu:


Kingdom

: Plantae

Divisi

: Chlorophyta

Class

: Chlorophyceae

Ordo

: Halimedales

Genus

: Caulepra

Spesies

: Caulepra racesmosa

Menurut Herawati (1989), ciri-ciri phytoplankton antara lain:

Berwarnahijau, karenaproporsipigmenpadachloroplasjauhlebihbanyak.

Kebanyakanbersifat

epiphytic

sebagianbesarhidup di

sessik,

comensalisme,

atausimbiotik,

danauataukolam. Bersifatsebagai plankton di laut,

tidakadayagbersifat pelagic.

Dindingselbagindalamterdiridari 2 lapisanutama.

Seringmenyebabkan blooming perairan.

Hidupmelayangpadaataudekatpermukaan air.

Hidusecaraberkoloni.

Jikamatimenghasilkanbaubusuk.

b.

Phylum Chyanophyta

MenurutHerawati (1989), klasifikasi adari chyanophyta adalah:


Kingdom

: Plantae

Divisi

: Chlorophyta

Class

: Chlorophyceae

Ordo

: Chroococcales

Spesies

: Chroococcus turgidus

Blooming blue green algae biasanya terjadi di danau atau kolam yang sadah, spesies ini
muncul pada musim panas sampai awal penghujan. Spesies tertentu ditentukan juga
pada kolam atau danau dengan kesadahan rendah. Tetapi pada kondisi tersebut,
mereka jarang sekali membentuk blooming. Adapun ciri-cirinya yaitu:
1. Gangganghijauberselsatu.
2. Gangganghijauberkoloni.
3. Gangganghijauberfilamen.
c.

Phylum Chrysophyta

MenurutKovacs (1992), klasifikasi fitoplankton dari phylum chrysophyta adalah sebagai


berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Chlorophyta

Class

: Chlorophyceae

Genus

: Mallomonas

Spesies

: Dictyocha speculum

Chrysophyta atau ganggang keemasan memiliki pigmen dominan hasoter berupa korofil
yang berwarna emas. Pigmen lainnya adalah yang uniseluler, ada juga yang berkoloni
dan juga ada yang multiseluler (Herawati, 1989).
d.

Phylum Rhodophyta

Menurut Kovacs (1992), klasifikasi dari alga merah, yaitu:


Kingdom

: Plantae

Divisi

: Rhodophyta

Class

: Rhodophyceae

Ordo

: Gigantinales

Familia

: Gracilariaceae

Genus

: Gracilaria

Spesies

: Gracilaria. Sp

Menurut Herawati (1989), ciri-ciri Rhodophyta antara lain:

Hidup di laut.

Tubuhberselbanyak.

Mengandungpigmenpikalisilin.

Bentuktubuhsepertirumputlaut.

e.

Phylum Dynoflagellata

Menurut Kovacs (1992),klasifikasi dari dinoflagellata antara lain:


Kingdom

: Plantae

Divisi

: Dyophyta

Class

: Dynophyceae

Genus

: Dynophysis

Spesies

: Exuriella marina

Menurut Kovacs (1992),Phyrrophyta atau ganggang api disebut juga dinoflagellata,


karena memiliki alat gerak berup flagella. Ganggang ini termasuk dalam kingdom
alveolata dalam sistem klasifikasi tiga dominan, yang bersifat autotrof.
Klasifikasi Zooplankton
a.

Phylum Rotifera
Jumlah anggota filum ini sedikit, merupakan hewan yang berukuran

mikroskopis. Rotifera adalah hewan bersel banyak (setiap spesies memiliki jumlah sel

tertentu). Hewan ini sering kali menempel di objek yang ada dalam air dengan
mempergunakan jari kaki. Makanan rotifer berupa mikro organisme yang ada dalam air,
disekitar mulut terdapat silia yang tersusun secara melingkar (Hutabarat, 1896)
Menurut Hutabarat (1896), menyatakan bahwa rotifer termasuk metazoa
yang paling kecil, berukuran antara 40-2500 m dan rata rata berukuran 200 m.
Umumnya hidup bebas, soliter, koloni / sessile. Beberapa jenis merupakan endoparasit
pada insang crustacea, telur siput, cacing tanah dan dalam ganggang jenis vaucheria dan
volvox. Biasanya transparan, beberapa berwarna cerah seperti warna merah atau coklat
yang disebabkan dari warna saluran pencernaan.
b.

Phylum Arthropoda
Arthropoda (dalam bahasa latin artinya: ruas, buku, segmen dan podos

atinya kaki), merupakan hewan yag memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen.
Segmen tersebut juga berada pada tubuhnya. Tubuh arthropoda merupakan simetri
bilateral dan tergolong tripoblastik selomata (Hutabarat, 1896).
Ciriumunya adalah kaki tampak seperti bersendi-sendi atau bersegmensegmen. Segmen biasanya bersatu menjadi 2/3 daerah yang jelas. Sebagia hewan itu
tubuhnya dilindungi oleh kulit yang keras (zat kitin) yang berfungsi sebagai rangka luar
anggota tubuh yang bersegmen dan berpasangan (asal penamaan arthropoda)
(Hutabarat, 1896).
c.

Phylum Copepoda
Menurut, menyatakan bahwa copepod adalah grup crustacea kecil yang

dapat ditemui di laut dan hampir semua habitat di air tawar, mereka membentuk
sumber tersebar protein di samudra. Copepod termasuk zooplankton, dewasanya
berukuran antara 1 dan 5 mm dan biasanya dimanfaatkan sebagai pakan larva ikan
(Hutabarat, 1896).
1.

Holoplankton
Kelompok ini termasuk plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani

sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Kebanyakan zooplankton
termasuk dalam golongan ini. Contohnya : kokepod, amfipod, salpa, kaetognat.
Fitoplankton termasuk juga umumnya adalah holoplankton (Singgih, 2010).
2.

Meroplankton
Plankton dari golongan ini menjadi kehidupannya sebagai plankton hanya

pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai telur dan larva

saja. Beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton, yakni hewan yang dapat aktif
berenang bebas, atau sebagai bentos yang hidup menetap atau melekat didasar laut.
Oleh sebab itu, meroplankton sering pula disebut sebagai plankton sementara.Pada
umumnya ikan menjalai hidupnya sebagai plankton ketika masih dalam tahap telur dan
larva kemudian menjadi nekton sstelah dapat berenang bebas. Kerang dan karang
adalah contoh hewan yang pada awalnya hidup sebagai plankton pada tahap telur
hingga larva, yang selanjutnya akan menjalani hidupnya sebagai bentos yang hidup
melekat atau manancap didasar laut.Meroplankton ini sangat banyak ragamnya dan
umumnya mempunyai bentuk yang sangat berbeda dari bentuk dewasanya. Larva
crustacea seperti udang dan kepiting mempunyai perkembangan larva yang bertingkat
tingkat dengan bentuk yang sedikitpun tidak menunjukkan persamaan dengan bentuk
yang dewasa. Pengetahuan mengenai meroplankton ini menjadi sangat penting dalam
kaitannya dengan upaya budidaya udang, crustacea, mollusca, dan ikan (Singgih, 2010).
Total suspended solid atau total padatan tersuspensi (TSS) adalah residu
dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2m
atau lebih besar dari ukuran partikel koloid. Metode ini digunakan untuk menentukan
residu tersuspensi yang terdapat dalam contoh uji air dan air limbah secara gafimetri.
Metode ini tidak termasuk penentuan bahan yang mengapung, padatan yang mudah
menguap dan dekomposisi garam mineral (Sastrawidjaya, 1991)

II.

MATERI DAN METODE

A.

Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, plankton


net, botol, objek gelas, cover gelas.
Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah formalin dan
sample fitiplankton.
B. Metode
1.

Diambil sampel plankton menggunakan plankton net secara horisontal selama 2


menit

2.

Dituangkan air yang didalam botol plankton net ke dalam botol 150 ml

3.

Diberi formalin dengan perbandingan formalin dan air 1:9

4.

Dituangkan pada objek gelas 2 tetes, dan ditutup menggunakan cover gelas

5.

Diamati dibawah mikroskop

6.

Dihitung kerapatannya menggunakan rumus:


N=
Vm = r2s

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.
n = 90

Hasil
V = 5 km/jam =

= 1,39 m/s

m=2
s = 150 ml
a =0,66

t = 2 menit = 120 s

Vm = r2s

Vm =11, 8744

Vm = 3,14 x (0,15)2x 166,8

N=

Vm = 527, 752 x 0,0225

N=

Vm= 11,8744

N = 861,60

= 166,8 m

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum nilai kerapatan plankton yang didapatkan
adalah 861,60.Keberadaan organisme perairan dapat

digunakan sebagai indikator

terhadap pencemaran air selain indikator kimia dan fisika. Menurut Nybakken (1992)
dan Nontji (1993) organisme perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran
karena habitat, mobilitas dan umurnya yang relatif lama mendiami suatu wilayah
perairan tertentu. Dampak adanya pencemaran akan mengakibatkan keanekaragaman
spesies menurun (Sastrawijaya, 1991). Pencemaran terhadap

organisme perairan

mengakibatkan menurunnya keanekaragaman dan kemelimpahan hayati pada lokasi


yang terkena dampak pembuangan limbah. Plankton mempunyai sifat selalu bergerak
dapat juga dijadikan indikator pencemaran perairan. Plankton akan bergerak mencari
tempat yang sesuai dengan hidupnya apabila terjadi pencemaran yang mengubah
kondisi tempat hidupnya. Dengan demikian terjadi perubahan susunan komunitas
organisme di suatu perairan dimana hal ini dapat dijadikan petunjuk terjadinya
pencemaran di perairan. Dalam hal ini terdapat jenis-jenis plankton yang

dapat

digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui hal tersebut sesuai dengan kondisi
biologi perairan tersebut (Sastrawijaya, 1991).
Plankton

dan

Bentos

merupakan

organisme

perairan

yang

keberadaannya dapat dijadikan indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai.


Plankton memegang peran penting dalam mempengaruhi produktifitas primer perairan
sungai. Beberapa organisme plankton bersifat toleran dan mempunyai respon yang
berbeda terhadap perubahan kualitas perairan (Brower, 1998).
Penggunaan plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan
dapat dipakai dengan mengetahui keragaman dan keseragaman jenisnya. Penggunaan
organisme indikator dalam penentuan kualitas air sangat bermanfaat karena organisme
tersebut akan memberikan reaksi terhadap kualitas perairan. Dengan demikian, dapat
melengkapi atau memperkuat peneilaian kualitas perairan berdasarkan parameter fisika
dan kimia (Brower, 1998).
Fitoplankton merupakan kelompok yang memegang peranan penting dalam
ekosistem air. Karena kelompok ini dengan adanya kandungan klorofil mampu
melakukan fotosintetis. Proses fotosintetis pada ekosistem air yang dilakukan oleh
fitoplankton (produsen) merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompok organisme ari
lainnya yang berperan sebagai konsumen dimulai dengan zooplankton dan diikuti

ekosistem air hasil dari fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton bersama dengan
tumbuhan air lainnya disebut sebagai produktifitas primer. Fitoplankton hidup pada
permukaan perairan yang mendapat cahaya matahari yang dibutuhkan untuk
melakukan proses fotosintesis (Wibisono, 2005).
Unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) merupakan unsur hara (nutrisi) yang
diperlukan oleh flora (tumbuhan laut) untuk pertumbuhan dan perkembangan
hidupnya. Unsur-unsur tersebut ada dalam bentuk nitrat (NO3) dan fosfat (PO4). Unsurunsur kimia ini bersama-sama dengan unsur-unsur lainnya seperti belerang (S), kalium
(K) dan karbon (C) (Wardhana, 1995).
Nitrogen merupakan salah satu unsur penting bagi pertumbuhan organisme
dan proses pembentukan protoplasma, serta merupakan salah satu unsur utama
pembentukan protein. Diperairan nitrogen biasanya ditemukan dalam bentuk amonia,
amonium, nitrit dan nitrat serta beberapa senyawa nitrogen organic lainnya. Pada
umumnya nitrogen diabsorbsi oleh fitoplankton dalam bentuk nitrat (NO3 N) dan
ammonia (NH3 N). Fitoplankton lebih banyak menyerap NH3 N dibandingkan dengan
NO3 N. karena lebih banyak dijumpai diperairan baik dalam kondisi aerobic maupun
anaerobik. Senyawa-senyawa nitrogen ini sangat dipengaruhi oleh kandungan oksigen
dalam air, pada saat kandungan oksigen rendah nitrogen berubah menjadi amoniak
(NH3) dan saat kandungan oksigen tinggi nitrogen berubah menjadi nitrat (NO3-)
(Wardhana, 1995).
METODA PENGAMBILAN SAMPLING
a. Sampling secara Horizontal
Metoda pengambilan plankton secara horizontal ini dimaksudkan untuk mengetahui
sebaran plankton horizontal. Plankton net pada suatu titik di laut, ditarik kapal menuju
ke titik lain. Jumlah air tersaring diperoleh dari angka pada flowmeter atau dengan
mengalikan jarak diantara dua titik tersebut dengan diameter plankton net. Flowmeter
untuk peningkatan ketelitian. Pada praktikum kali ini menggunakan metode sampling
secara horisontal (Wibisono, 2005).
b. Sampling secara vertikal
Meletakkan plankton net sampai ke dasar perairan, kemudian menariknya keatas.
Kedalaman perairan sama dengan panjang tali yang terendam dalam air sebelum
digunakan untuk menarik plankton net ke atas. Volume air tersaring adalah kedalaman
air dikalikan dengan diameter mulut plankton net (Wibisono, 2005).

Kekeruhan erat sekali hubungannya dengan kadar zat tersuspensi karena


kekeruhan pada air memang disebabkan adanya zat-zat tersuspensi yang ada dalam air
tersebut. Zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat, misalnya
pasir halus, liat dan lumpur alami yang merupakan bahan-bahan anorganik atau dapat
pula berupa bahan-bahan organik yang melayang-layang dalam air.Bahan-bahan organik
yang merupakan zat tersuspensi terdiri dari berbagai jenis senyawa seperti selulosa,
lemak, protein yang melayang-layang dalam air atau dapat juga berupa mikroorganisme
seperti bakteri, algae, dan sebagainya. Adanya kekeruhan akan manghambat proses
masuknya sinar matahari ke dalam perairan.

Sehingga hal tersebut dapat

mengakibatkan proses fotosintesis tanaman (fitoplankton) menjadi terhambat. Padahal


seperti diketahui bersama, fotosintesis oleh tanaman akan menghasilkan gas O2 yang
banyak dibutuhkan oleh organisme di lingkungan perairan (Odum,1971).

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada praktikum


planktonologi, dapat diperoleh kesimpulan yaitu kerapatan plankton pada waktu
pengambilan sampel adalah 861,60.
B.

Saran

Saran untuk praktikum oseanografi tentang planktonologi yaitu seharusnya


disediakan buku panduan praktikum atau yang biasa disebut diktat, agar dapat
mempermudah praktikan dalam mengerjakan laporan.

DAFTAR REFERENSI

Barnes, R. S. K. and R. N. Hughes. 1999. An Introduction to Marine Ecology 3rd


Edition. Blackwell Science Ltd : London.
Brower, J.E. 1998. Field and Laboratory Methods for General Ecology. United
States of America : McGraw-Hill Companies.
Effendi. 2003. Pengantar Planktonologi Bagi Hal Pembudidaya. Kanslus :
Yogyakarta.
Herawati. 1989. Pengantar Diklat Planktonologi. UI Press : Jakarta
Hutabarat, S., Evans, S. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. UI Press : Jakarta
Kovacs, M. 1992. Biological Indicators of Environment Protection. Ellis
Horwoad : New York.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. CetakanKedua. Djambatan : Jakarta.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia :
Jakarta
Odum, E. P. 1971. Dasar-Dasar Ekologi. Edisiketiga. Gajah Mada University
press : Yogyakarta.
Sastrawijaya, A. T. 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta : Jakarta.
Singgih. 2010. Produktivitas Perairan. Universitas Brawijaya : Malang.
Wardhana, A. W. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offest :
Yogyakarta.
Wibisono, M. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Grasindo : Jakarta.