Anda di halaman 1dari 7

Ditulis:al-Bamalanjy

Penyusun dan disunting:Ummu Jauharah at-Taqqiyah


Sumber Rujukan,
Oleh: Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih hafizhohulloh -.

Sesungguhnya amalan teragung yang hendaknya sangat diperhatikan oleh seorang mus
lim, lebih khusus seorang penuntut ilmu, adalah amalan-amalan hati. Kerana hati
adalah penentunya amalan badan. Oleh karena itulah Nabi - shollallohu alaihi wa s
allam - bersabda,

Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niat-niat, dan seseorang hanyalah mendapatk


an yang dia niatkan.
Dan para ulama pun telah memberikan perhatian terhadap amalan-amalan hati. Merek
a telah menulis berbagai karya tulis tentangnya. Maka sudah selayaknya bagi seor
ang penuntut ilmu untuk melihat dan memperhatikan hatinya, kerana sebagaimana sa
bda Nabi shollallohu alaihi wa sallam -

Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh
tubuh, dan jika rosak maka rosaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, dia adalah hati.
Maka wajib bagi seorang penuntut ilmu selalu dan selamanya untuk memperhatikan h
atinya, selalu menggantungkannya kepada Alloh azza wa jalla -, dengan ikhlas, taw
akal, rasa takut, harap, rohbah, roghbah, meminta pertolongan, dan selainnya. Da
n hendaknya dia memenuhi hatinya dengan rasa khosy-yah (rasa takut terhadap dzat
yang diagungkan -pent). Hendaknya ilmunya mendorong dia untuk khosy-yah kepada
Alloh azza wa jalla, bertakwa kepada-Nya, berkeinginan kuat terhadap kebaikan, me
njauh dari keburukan, bersegera mengamalkan kebaikan-kebaikan. Dan hendaknya dia
benar-benar waspada dari sifat kibir (sombong, menolak kebenaran dan meremehkan
manusia -pent), ujub (membanggakan diri), hasad, permusuhan, riya , sumah, dan be
rbagai amalan hati lain yang kerosakan dan bahayanya sangat besar terhadap seora
ng penuntut ilmu dalam perjalanan ilmiyahnya.
Dan hendaknya seorang penuntut ilmu memakmurkan hatinya dengan mengingat Alloh,
senantiasa membiasakan lisannya untuk berdzikir kepada Alloh dalam seluruh waktu
dan keadaannya. Alloh taala berfirman,

Ketahuilah, dengan mengingat Alloh, hati-hati menjadi tenang.


Adapun berpaling dari dzikir, adalah sebab matinya hati, berdasarkan sabda Nabi
shollallohu alaihi wa sallam,

Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Robbnya dengan orang yang tidak berdzikir
kepada Robbnya, seperti orang yang hidup dan yang mati.
Dan di antara hal yang hendaknya diperhatikan seorang penuntut ilmu untuk kebaik
an hatinya adalah hendaknya hatinya selamat dari perasaan dengki, hasad, permusu
han, kebencian terhadap seseorang dari kaum muslimin. Kebersihan hati dari penya
kit-penyakit ini adalah jalan untuk kebersihan hati.

Akhirnya,saya nasihatkan kepada saudara saya para penuntut ilmu, untuk berusaha
sungguh-sungguh memperbaiki hati mereka dengan segala hal yang boleh mendekatkan
mereka kepada Alloh dan menjauhkan dari apa yang Alloh subhanahu wa taala - hara
mkan.
Semoga Alloh memberi taufiq kepada semuanya, kepada apa yang dicintai dan diridh
oi-Nya.
Dan aku memohon kepada Alloh agar Dia memperbaiki hati-hati kita, amalan-amalan
kita, dengan anugerah dan kemurahan-Nya.
Sebab Kurangnya Rasa Bersyukur...
Alloh menyebutkan dalam kitab-Nya, bahawa makhluk tidak akan mampu menghitung ni
kmat-nikmatNya kepada mereka. Alloh Azza min Qo il berkata,

Dan seandainya kalian menghitung nikmat Alloh, kalian tidak akan (mampu) menghitu
ngnya. (an-Nahl: 18)
Maknanya, mereka tidak akan mampu bersyukur atas nikmat-nikmat Alloh dengan cara
yang dituntut. Karena orang yang tidak mampu menghitung nikmat Alloh, bagaimana
mungkin dia akan mensyukurinya?
Barangkali seorang hamba tidak dikatakan lalai jika dia mengerahkan segenap usah
anya untuk bersyukur, dengan mewujudkan ubudiyah (penghambaan) kepada Alloh, Rob
b semesta alam, sesuai dengan firmanNya,

Maka bertakwalah kalian kepada Alloh, menurut kemampuan kalian. (at-Taghobun: 16)
Sikap meremehkan yang kami maksudkan adalah, jika seorang manusia senantiasa ber
ada dalam nikmat Alloh siang dan malam, ketika safar maupun mukim, ketika tidur
maupun terjaga, kemudian muncul dari perkataan, perbuatan dan keyakinannya sesua
tu yang tidak sesuai dengan sikap syukur sama sekali. Sikap peremehan inilah yan
g kita ingin mengetahui sebagian sebab-sebabnya. Kemudian kita sampaikan obatnya
dengan apa yang telah Alloh bukakan. Dan taufiq hanyalah di tangan Alloh.
Di antara sebab-sebab ini:
Sebab pertama: Lalai dari nikmat Alloh.
Sesungguhnya banyak manusia yang hidup dalam kenikmatan yang besar, baik nikmat
yang umum mahupun khusus. Akan tetapi dia lalai darinya. Dia tidak mengetahui ba
hawa dia hidup dalam kenikmatan. Itu kerana dia telah terbiasa dengannya dan tum
buh berkembang padanya. Dan dalam hidupnya, dia tidak pernah mendapatkan selain
kenikmatan. Sehingga dia menyangka bahawa perkara (hidup) ini memang seperti itu
sahaja.
Seorang manusia jika tidak mengenal dan merasakan kenikmatan, bagaimana mungkin
dia mensyukurinya? Kerana syukur, dibangun di atas pengetahuan terhadap nikmat,
mengingatnya dan memahami bahawa itu adalah nikmat pemberian Alloh kepadanya.
Sebagian salaf berkata, Nikmat dari Alloh untuk hambaNya adalah sesuatu yang majh
ulah (tidak diketahui). Jika nikmat itu hilang barulah dia diketahui. [Robiiul Abr
or 4/325]
Sesungguhnya banyak manusia di zaman kita ini senantiasa berada dalam kenikmatan
Alloh, mereka memenuhi perut mereka dengan berbagai makanan dan minuman, memaka

i pakaian yang paling indah, bertutupkan selimut yang paling baik, menunggangi k
enderaan yang paling bagus, kemudian mereka berlalu untuk urusan mereka tanpa me
ngingat-ingat nikmat dan tidak mengetahui hak bagi Alloh. Maka mereka seperti bi
natang, mulutnya menyela-nyela tempat makanan, lalu jika telah kenyang dia pun b
erlalu darinya. Dan semacam ini pantas bagi binatang.
Jika kenikmatan telah menjadi banyak dengan mengalirnya kebaikan secara terus-me
nerus dan bermacam-macam, manusia akan lalai dari orang-orang yang tidak mendapa
tkan nikmat itu. Dia menyangka bahwa orang lain seperti dia, sehingga tidak munc
ul rasa syukur kepada Pemberi nikmat. Oleh karena itu, Alloh memerintahkan hamba
Nya untuk mengingat-ingat nikmatNya atas mereka sebagaimana telah dijelaskan. Ka
rena mengingat-ingat nikmat akan mendorong seseorang untuk mensyukurinya. Alloh
berfirman,

Dan ingatlah nikmat Alloh padamu, dan apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu, y
aitu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Alloh memberi pengajaran kepadamu denga
n apa yang diturunkanNya itu. (al-Baqarah: 231)
Sebab kedua: Kebodohan terhadap hakikat nikmat
Sebahagian orang tidak mengetahui nikmat, tidak mengenal dan tidak memahami haki
kat nikmat. Dia tidak tahu bahawa dirinya berada dalam kenikmatan, kerana dia ti
dak mengetahui hakikat nikmat. Bahkan mungkin dia memandang pemberian nikmat All
oh kepadanya sangat sedikit sehingga tidak pantas untuk dikatakan sebagai kenikm
atan. Maka orang yang tidak mengetahui nikmat, bahkan bodoh terhadapnya, tidak a
kan boleh mensyukurinya.
Sesungguhnya ada sebahagian manusia yang jika melihat suatu kenikmatan diberikan
kepadanya dan juga kepada orang lain, bukan kekhususan untuknya, maka dia tidak
bersyukur kepada Alloh. Karena dia memandang dirinya tidak berada dalam suatu k
enikmatan selama orang lain juga berada pada kenikmatan tersebut. Sehingga banya
k orang yang berpaling dari mensyukuri nikmat Alloh yang sangat besar pada dirin
ya yang berupa anggota badan dan indera, dan juga nikmat Alloh yang sangat besar
pada alam semesta ini.
Ambilah sebagai contoh, nikmatnya penglihatan. Ini merupakan nikmat Alloh yang s
angat agung yang banyak dilalaikan oleh manusia. Siapakah yang mengetahui kenikm
atan ini, memperhatikan haknya dan menyukurinya? Alangkah sedikitnya mereka itu.
Seandainya seseorang mengalami kebutaan, lalu Alloh mengembalikan penglihatannya
dengan suatu sebab yang Alloh takdirkan, apakah dia akan memandang penglihatann
ya pada keadaan yang kedua ini sebagaimana kelalaiannya terhadap yang pertama? T
entu tidak, karena dia telah mengetahui nilai kenikmatan ini setelah dia kehilan
gan nikmat tersebut. Maka orang ini mungkin akan bersyukur kepada Alloh atas nik
mat penglihatan ini, akan tetapi dengan cepat dia akan melupakannya. Dan ini ada
lah puncak kebodohan, karena rasa syukurnya bergantung kepada hilang dan kembali
nya nikmat tersebut. Padahal sesuatu (kenikmatan) yang langgeng lebih berhak dis
yukuri daripada (kenikmatan) yang kadang-kadang terputus. [Lihat Mukhtashor Minh
ajil Qoshidin, hlm 288]
Sebab ketiga: Pandangan sebagian manusia kepada orang yang berada di atasnya.
Jika seorang manusia melihat kepada orang yang diatasnya, yaitu orang-orang yang
diberi kelebihan atasnya, dia akan meremehkan karunia yang Alloh berikan kepada
nya. Sehingga dia pun kurang dalam melaksanakan kewajiban syukur. Kerana dia mel
ihat bahawa apa yang diberikan kepadanya adalah sedikit, sehingga dia meminta ta
mbahan untuk boleh menyusul atau mendekati orang yang berada diatasnya. Dan ini
ada pada kebanyakan manusia. Hatinya sibuk dan badannya letih dalam berusaha unt

uk menyusul orang-orang yang telah diberi kelebihan atasnya berupa harta dunia.
Sehingga keinginannya hanyalah untuk mengumpulkan dunia. Dia lalai dari bersyuku
r dan melaksanakan kewajiban ibadah, yang sebenarnya dia diciptakan untuk hal te
rsebut (ibadah).
Telah datang suatu hadits dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu, bahwa Rosululloh s
hollallohu alaihi wa sallam bersabda,

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang diberi kelebihan atasnya d
alam masalah harta dan penciptaan, hendaknya dia melihat kepada orang yang lebih
rendah darinya, yang dia telah diberi kelebihan atasnya. [Riwayat Muslim (2963)
dan lihat Jamiul Ushul (10/142)]
Sebab keempat: Melupakan masa lalu.
Di antara manusia ada yang pernah melewati kehidupan yang menyusahkan dan sempit
. Dia hidup pada masa-masa yang menegangkan dan penuh rasa takut, baik dalam mas
alah harta, penghidupan atau tempat tinggal. Dan tatkala Alloh memberikan kenikm
atan dan karunia kepadanya, dia enggan untuk membandingkan antara masa lalunya d
engan kehidupannya sekarang agar menjadi jelas baginya karunia Robb atasnya. Bar
angkali hal itu akan membantunya untuk mensyukuri nikmat-nikmat itu. Akan tetapi
dia telah tenggelam dalam nikmat-nikmat Alloh yang sekarang dan telah melupakan
keadaannya terdahulu. Oleh karena itu engkau lihat banyak orang yang telah hidu
p dalam kemiskinan pada masa-masanya yang telah lalu, namun mereka kurang bersyu
kur dengan keadaan mereka yang engkau lihat sekarang ini.
Setiap manusia wajib untuk mengambil pelajaran dari kisah yang ada dalam hadits
shohih [Hadits panjang dari Abu Huroiroh,
Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Bani Isroil, orang yang punya penyakit
kusta, orang yang botak dan orang yang buta... diriwayatkan oleh al-Bukhori (3277
) dan Muslim (2946)] (yang maknanya),
Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Bani Isroil yang ingin Alloh uji. Mere
ka adalah orang yang punya penyakit kusta, orang yang botak dan orang yang buta.
Maka ujian itu menampakkan hakikat mereka yang telah Alloh ketahui sebelum menc
iptakan mereka. Adapun orang yang buta, maka dia mengakui pemberian nikmat Alloh
kepadanya, mengakui bahawa dahulu dia adalah seorang yang buta lagi miskin, lal
u Alloh memberikan penglihatan dan kekayaan kepadanya. Dia pun memberikan apa ya
ng diminta oleh pengemis, sebagai bentuk syukur kepada Alloh. Adapun orang yang
botak dan orang yang berpenyakit kusta, mereka mengingkari kemiskinan dan burukn
ya keadaan mereka sebelum itu. Keduanya berkata tentang kekayaan itu, Sesungguhny
a aku mendapatkannya dari keturunan.
Inilah keadaan kebanyakan manusia. Tidak mengakui keadaannya terdahulu berupa ke
kurangan, kebodohan, kemiskinan dan dosa-dosa, (tidak mengakui) bahwasanya Alloh
lah yang memindahkan dia dari keadaannya semula kepada kebalikannya, dan member
ikan kenikmatan tersebut.
Diterjemahkan dari makalah Syaikh Abdulloh bin Sholih al-Fauzan hafizhohulloh, d
engan judul

Amalan Hati
Amalan Hati
09/06/2002
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam kesempatan ini kita akan mencoba membahas tentang "Amalan Hati", tentunya

sudah banyak pembahasan-pembahasan yang berkisar tentang hati dan pembahasan dal
am berbagai jenis hati. Kalau kita bicara masalah amalan hati, kita akan mengeta
hui bahwa amalan pada diri manusia ada dua unsur: amalan dhahir (raga) dan amala
n bathin (hati).
Kita sering membahas amalan dhahir dalam segala seginya, misalnya gerakan dan ba
caan salat, haji, puasa dll. Dalam kesempatan yang baik ini kita akan mencoba me
ngarungi dan menjajaki sejauh mana amalan hati dan juga sejauh mana hati kita da
lam aktifitasnya. Kita sering menyatakan kata sibuk. Jika seorang bertanya pada
kita apakah pada jam sekian atau hari sekian kamu ada waktu, maka kita sering me
ngaatakan kalau kita sedang ada kegiatan atau acara: hal itu kita katakan sibuk.
Sibuk dalam kegiatan di sini yang sering kita gambarkan adalah aktifitas raga k
ita, padahal kalau kita amati dan resapi serta renungkan hati kita lebih sibuk d
ari apa yang ada pada raga kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Bagi kita yang ingin memperdalam tentang masalah ini ada baiknya membaca kitab I
ghatsatullahfan Ibnu Qoyyim atau ringkasanya Mawaridulamaan al-Muntaqo min Ighat
satulahfaan oleh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Halliby. Dalam kitab r
ingkasannya kita akan mendapatkan apa yang dibahasa oleh Ibnu Qoyyim dengan lebi
h sederhana dan mengena untuk mereka yang ingin mengenal hatinya, dengan harapan
Allah menghidupkan hati kita, karena hati yang hidup adalah kekayaan yang sanga
t berharga, dan sebaliknya hati yang mati adalah kerugian yang tiada taranya dan
akan menyusahkan si empunya hati di dunia dan di akhirat.
Seorang syaikh menyatakan dalam suatu ceramahnya, "Sesungguhnya Allah menurunkan
wahyu kepada Muhammad saw untuk menghidupkan hati manusia, sebagaimana menurunk
an hujan untuk menghidupkan dan menyirami bumi. Allah menurunkan hujan atau geri
mis atau hujan lebat dan lain-lain agar bumi ini tidak kering, tetapi hidup dan
subur serta bermanfaat. Demikian juga Allah menurunkan Alquran di dalamnya ada a
yat-ayat muhkamat, ayat-ayat mutasyabihat, kisah tauladan, pengajaran, dan lainlain untuk menyuburkan hati manusia di muka bumi ini. Alquran sebagai petunjuk j
alan hidup, sebagai obat, sebagai rahmat, sebagai penyembuh, sebagai pengingat,
sebagai senjata, untuk manusia ini.
Alquran untuk menghidupkan hati manusia dan juga sebagai petunjuk untuk mereka y
ang mau bertaqwa kepada Allah, "Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya;
petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (2: 2). Alquran sebagai pengobat hati manus
ia (10: 57). "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuh
anmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." Alquran sebagai obat dan rahmat bag
i manusia yang mau beriman dan mengamalkannya (17: 82): artinya, "Dan Kami turun
kan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang ber
iman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain keru
gian. "Bagaimana kita menempatkan hati kita dalam segala kondisi dan keadaan dan
selalu dalam bimbingan quran, baik dalam kedaan senang dan bahagia, susah dan s
engsara, bahaya, atau dalam keadaan apa saja yang mungkin ada pada kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam berbagai kitab yang ada, kita akan menjumpai tulisan-tulisan para ulama ya
ng begitu dalam membahas tentang hati, kitab yang telah disebutkan di atas, juga
kitab Minhajul Qoasidiin Ibnu Qudamah, mengungkapkan bahwa hati ibarat benteng
kekuatan suatu pasukan yang sedang bertempur. Dalam benteng tersimpan kekuatan p
ersenjataan dan ada pintu-pintunya. Panca indra adalah pintu yang selalu menjadi
sasaran musuh, dan zikrullah merupakan tentara yang akan menjaga dan melawan it
u semua.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Sesungguhnya kesibukan hati tidak kalah sibuknya dengan raga kita. Setiap amal y
ang kita lakukan pasti telah didahului oleh suatu niat-nitat: apakah niatnya itu
baik atau tidak baik, ikhlas atau tidak ikhlas dan seterusnya.
Rasulullah saw telah bersabda yang artinya, "Ingatlah, sesungguhnya di dalam tub
uh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhny
a dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya, tidak lain dan tidak bukan
itulah yang dikatakan hati.." (HR Bukhari Muslim).
Dalam Riyadush-Shalihin,kalau kita perhatiakan, pada bab-bab awal terdapat kajia

n keutamaan-keutamaan amalan-amalan manusia: bab Ikhlash, Taubat, Shabr, ash-Shi


dqu, al-Muraqabah, at-Taqwa, al-Yaqin wa Tawakkal, al-Istiqomah, dll, itu semua
tidak lepas dari amalan hati. Seperti ikhlash dalam arti luas.
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan k
etaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka men
dirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."
(Al-Bayyinah: 5).
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dari sini kita mendapat gambaran bahwasanya hati kita lebih sibuk daripada raga
kita. Meskipun seseorang sedang diam, namun hatinya dapat berbuat apa saja yang
dikehendakinya; jasadnya mungkin sedang duduk termenung, namun hatinya bisa jadi
sedang dendam membara, atau hasad dengan seseorang atau bergelora dengan cinta
atau apa saja. Maka, seandainya amalan hati yang berkaitan dengan raga ini Allah
nilai sebagai amalan, maka hampir tidak ada manusia yang selamat. Kekawatiran i
ni sebagai mana digambarkan dalam tafsir ibnu katsir dalam turunya ayat:
"Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan
jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, n
iscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka
Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 284).
Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana, niat jahat jika tak dikerjakan maka hal itu t
idak dianggap kejahatan.
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi keampunan dan tidak menghit
ung segala pembicaraan hati umatku selagi mereka tidak memperkatakannya atau mel
akukannya."
Dari sini jelas bahwa apa yang disibukkan hati kadang tidak dinilai atau tidak d
ihitung apabila hal itu suatu kejahatan yang tidak dilaksanakan. Allah Maha Agun
g, Maha Adil, dan Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya. Dan sebaliknya, apa yang di
niatkan hati suatu kebaikan akan dinilai Allah.
Betapa indah dan agungnya ajaran Islam, kalau kita mau perhatikan dan mau mendal
aminya serta merenungkannnya, sebagaimana gambaran dalam suatu hadis Nabi saw di
iriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda, "Allah SWT be
rfirman kepada Malaikat pencatat amalan: Apabila hamba-Ku berniat ingin melakuka
n kejahatan, maka jangan lagi kamu menulisnya sebagai amalan kejahatan. Apabila
dia melakukannya barulah kamu menulisnya sebagai satu amalan kejahatan. Jika ham
ba-Ku berniat ingin melakukan kebaikan, tetapi dia tidak lagi melakukannya, maka
catatkanlah sebagai satu amalan kebaikan. Jika dia melakukannya maka catatkanla
h kebaikan itu sepuluh kali lipat."
Demikianlah dakwah Jumat yang singkat ini, semoga bermanfaat untuk kita semua, a
miin.

Amalan hati dalam shalat


Posted on August 22, 2008 by dkmfahutan| 2 Comments
Rasulullah saw. bersabda, Berapa banyak orang yang mendirikan shalat, tetapi hasi
lnya hanya payah dan lelah.
Ketahuiah bahwa shalat itu adalah dzikir, bacaan, berharap, bermunajat dan berdi
alog. Semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan menghadirkan hati dimana hal i
tu dapat menghasilkan pemahaman, pengagungan, penghormatan, harapan dan rasa mal
u. Ringkasnya, semakin bertambahpengetahuan seseorang akan Allah SWT., maka akan
bertambah pula rasa takutnya dan pada akhirnya dan pada akhirnya dapat menghadi
rkan hati.
Saat mendengar seruan adzan, hadirkan dalam hatimu seruan mengerikan pada hari k
iamat, sehingga baik lahir maupun batinmu akan secara cepat meresponnya. Sesungg
uhnya, mereka yang segera menjawab seruan adzan adalah mereka yang pada hari pen
entuan terbesar dipanggil dengan lemah lembut.

Jika engkau mendapati hatimu dipenuhi dipenuhi dengan kegembiraan dan keceriaan
untuk segera memenuhi panggilan adzan, maka kondisimu pada hari penentuan terbes
ar tersebut juga akan sama seperti itu. Rasulullah saw. bersabda, Gembirakanlah k
ami dengan suara adzan, ya Bilal sebab adzan adalah permata hati beliau dalam sha
lat.
Makna bersuci yang sebenarnya adalah suci hati dari selain Allah. Dengan kesucia
n hati, maka shalat akan sempurna. Jika engkau dapat menutup auratmu yang nampak
dengan pakaian, maka apa yang dapat menutupi aurat batinmu dari Allah SWT.?
Beretikalah saat berada di hadapan Allah. Ketahuilah bahwa Ia mengetahui segala
rahasiamu. Berendah dirilah engkau dengan batin maupun zahirmu. Bandingkan peril
akumu saat berada di hadapan Allah SWT. dengan perilakumu saat berada di hadapan
raja. Sungguh kemuliaan raja tidak ada apa-apanya dibanding kemuliaan Allah, ka
rena mereka semua adalah makhluk-Nya. Jika engkau telah dapat melakukan ini, mak
a engkau tidak akan menjadi pendusta saat mengatakan, Wajjahtu wajhiya (aku hadap
kan wajahku) dan saat mengucapkan, Hanifan musliman wa ma ana minal musyrikin (dal
am kondisi hati yang lurus dan sebagai seorang muslim. Dan aku tidak termasuk go
longan orang-orang musyrik). Juga saat mengucapkan, Inna shalati wanusuki wamahyay
a wamamati lillah (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah un
tuk Allah). Perhatikanlah, jangan sampai bacaanmu ini engkau dustakan karena dapa
t menjadi penyebab kehancuranmu.
Ingatlah selalu kebesaran dan keagungan Allah SWT. saat engkau ruku dan sujud. Pa
hamilah itu dan ketahuilah betapa kecilnya dirimu dihadapan-Nya. Dengan rahmat-N
ya, Ia menjadikanmu sebagai manusia yang layak untuk bermunajat kepada-Nya. Maka
, jagalah etika dan kehadiran hatimu saat berada dihadapan-Nya.
Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya Allah akan terus memperhatikan (menyambut)
orang yang shalat selama ia tidak berpaling. Di lain hadits beliau bersabda, Seor
ang hamba yang mendirikan shalat, pahalanya tidak dicatat baginya; baik setengah
, sepertiga, seperempat, seperlima, seperenam, maupun sepersepuluh. Pahala yang
dicatat baginya adalah sebatas apa yang dipahaminya. Oleh karena itu, jaga diri d
an hatimu agar tidak berpaling.

<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>336</PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>