Anda di halaman 1dari 6

Nama : Muhamad Fadly Robby

NIM

: 1112111000054

Ringkasan Kasus
Pelanggaran Penggunaan Merek
Dalam kasus ini dengan nomor: 1438/Pid.Sus/PN.JKT.PST, terdakwa atau pelaku
dalam tindak pidana yang bernama Edison melakukan pelanggaran terhadap penggunaan
merek V-Gen yang diduga palsu dengan sengaja memperdagangkan barang tersebut tanpa
diketahui oleh pemilik atau pemegang asli dari merek tersebut. Edison adalah pemilik dari
toko Duta ACC (Duta Spare Part) yang bertempat di ITC Roxy Mas Lantai 3 Blok B No. 72
yang mana usaha Edison ini bergerak dibidang penjualan barang dan/atau jasa yaitu aksesoris
Handphone antara lain sarung handphone, spiker aktif Handphone dan Memory Card yaitu
merek HC dan merek V-Gen.
Sebelum melakukan tindak pidana tersebut, Edison sebenarnya telah terhitung 2 (dua)
kali membeli memory card merek V-Gen dari CV. Inter Digitel Solution yang mana
merupakan perusahaan milik dari saksi sekaligus pemilik sah merek V-Gen yaitu Benny
Pontian Muslim. Merek V-Gen yang dipegang oleh Benny Pontian Muslim telah terdaftar di
Direktorat dalam Daftar Umum Merek Direktorat Merek Ditjen Hak Kekayaan Intelektual
Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih, Edison tanpa sepengetahuan pemilik sah
dari merek V-Gen yaitu Benny Pontian Muslim, menjual memory card V-Gen yang terlihat
mirip dengan memory card yang diproduksi oleh CV. Inter Digitel Solution yang dibelinya
dari seorang sales yang mengaku bernama Anton (DPO) yang menawarkan barang tersebut
dengan alasan barang tersebut merupakan stock lama sehingga harga yang ditawarkan juga
lebih murah dibanding dengan memory card yang dibeli di toko CV. Inter Digitel Solution.
Karena merasa akan lebih menguntungkan dengan membeli barang yang ditawarkan Anton
tersebut, Edison akhirnya memperdagangkan barang tersebut dengan mendapat keuntungan
berkisar Rp. 6000 s/d Rp. 8000.
Dengan adanya penjualan memory card di toko Duta ACC tersebut, sehingga pada
akhir tahun 2012 penjualan CV. Inter Digitel Solution untuk memory card merek V-Gen
mengalami penurunan yang cukup drastis berkisar 30 %. Benny Pontian Muslim
mendapatkan informasi bahwa hal tersebut dikarenakan toko Duta ACC menjual memory

card yang bukan berasal dari CV. Inter Digitel Solution yang harganya lebih murah dan
kualitasnya kurang bagus. Benny Pontian Muslim mendapatkan banyak komplain dari
pelanggannya yang menyebutkan bahwa memory card dengan merek V-Gen hanya dapat
menyimpan data 10% saja dari total kapasitas yang tertera pada memory card tersebut. Untuk
itu Benny Pontian Muslim mengirimkan saksi yang merupakan karyawannya yaitu Joki
Sutoyo Halim dan Linca Harjono Gurning untuk membuktikan kebenaran informasi yang
didapat dengan membeli memory card merek V-Gen di toko Duta ACC tersebut.
Dan setelah dicari kebenaran mengenai hal tersebut, Edison selaku terdakwa
dinyatakan bersalah dengan

bukti-bukti yang cukup kuat dan juga dengan pengakuan

tersendiri dari Edison yang menyatakan mengakui bersalah atas tindakannya dan menyesal
atas apa yang telah terjadi dan mengatakan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Edison
didakwa oleh Penuntut Umum bahwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur
dalam pasal 94 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 15 Tahun 2001 Tentang Merek
yang berbunyi: Barang siapa memperdagangkan barang dan/jasa yang diketahui atau patut
diketahui bahwa barang dan/jasa tersebut merupakan hasil pelanggaran sebagaimana
dimaksud dalam pasal 90, pasal 91, pasal 92 dan pasal 93.
Dengan bukti-bukti yang didapat dan pengakuan dari para saksi yang ada, maka
hakim memutuskan bahwa Edison selaku terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti
bersalah dengan melakukan tindak pidana seperti yang telah dijelaskan diatas. Edison dijatuhi
pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan. Hukuman yang dijatuhkan kepada Edison ini
terbilang ringan daripada hukuman yang seharusnya diterima berdasarkan pasal tersebut yang
menyatakan paling lama dipenjara selama 5 (lima) tahun penjara dan/jasa denda paling
banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Hal ini didasarkan pada pertimbangan
hakim karena terdakwa dengan secara tegas menyatakan bersalah dan menyesali
perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali, dan hakim pun memberikan
hukuman dengan alasan untuk memberikan pelajaran kepada terdakwa agar selama menjalani
pidananya tersebut terdakwa dapat merenungkan perbuatannya dan dengan harapan setelah
selesai menjalani pidananya tersebut, terdakwa tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.

Nama : Muhamad Fadly Robby


NIM

: 1112111000054
Analisis Kasus

Pendahuluan
Tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok yang mengarah pada
pelanggaran hukum sangatlah tidak dibenarkan walaupun dengan alasan apapun. Hukum
dibuat untuk mengatur tindakan masyarakat agar dapat menjaga keteraturan dalam kehidupan
masyarakat itu sendiri. Hukum bersifat menekan, dan hukum bersifat tegas untuk
menegakkan keadilan dari sebuah pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja ataupun yang
tidak disengaja. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang diharuskan untuk saling
menghargai dan menghormati orang lain, terutama jangan sampai melakukan tindakan yang
merugikan orang lain bahkan merugikan masyarakat banyak. Untuk itu disni akan dijelaskan
mengenai kasus tentang pelanggaran yang menggunakan hak orang lain tanpa sepengetahuan
orang tersebut yang akan dilihat dari segi sosiologisnya.
Pembahasan
Dalam kasus dengan nomor: 1438/Pid.Sus/PN.JKT.PST, didalamnya membahas
mengenai bagaimana Edison selaku terdakwa harus diadili karena tindakan pelanggarannya
terhadap penggunaan merek yang diduga palsu dan tanpa sepengetahuan pemilik sah dari
merek tersebut. Edison dijerat dalam pasal 94 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor :
15 Tahun 2001 Tentang Merek yang berbunyi: Barang siapa memperdagangkan barang
dan/jasa yang diketahui atau patut diketahui bahwa barang dan/jasa tersebut merupakan hasil
pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 90, pasal 91, pasal 92 dan pasal 93.
Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa siapapun yang memperdagangkan barang atau
jasa yang mana barang tersebut merupakan hasil dari pelanggaran, maka orang tersebut akan
haruslah diadili dengan menerima hukuman yang sesuai dengan pasal dalam undang-undang
yang berlaku atas apa yang telah diperbuatnya. Dalam pasal 90 berbunyi: Barang siapa
dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan
merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi atau
diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

Berdasarkan pasal yang disebutkan diatas jelas bahwa Edison telah melakukan
pelanggaran hukum dengan melakukan tindak pidana yang memperdagangkan barang dengan
menggunakan merek yang sama dengan merek pihak lain, disini Edison memperdagangkan
memory card merek V-Gen yang mana merupakan merek yang dipegang secara sah oleh
Benny Pontian Muslim. Dan yang dijual oleh Edison tersebut merupakan barang palsu yang
hanya sekilas dari tampilannya hampir menyerupai memory card yang diproduksi oleh toko
CV. Inter Digitel Solution yang juga dipegang oleh Benny Pontian Muslim. Kemudian hakim
pun menjatuhkan hukuman terhadap Edison dengan memberikan hukuman penjara selama 10
(sepuluh) bulan.
Berdasarkan kasus tersebut, saya berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh Edison
selaku tersangka awalnya ia hanya memikirkan untuk bagaimana mendapatkan keuntungan
yang lebih dengan menjual memory card yang saat itu ditawarkan oleh orang yang bernama
Anton dengan harga yang lebih murah dibandingkan membelinya di toko CV. Inter Digitel
Solution. Karena tergiur oleh keuntungan yang akan didapatkannya, maka Edison terus
membeli persediaan memory card tersebut dari Anton dengan merek yang sama dengan yang
dimiliki oleh Benny Pontian Muslim. Seiring berjalannya waktu ia tidak menyadari bahwa
apa yang telah ia lakukan merupakan suatu tindakan yang melanggar hukum, dan juga ia
telah merugikan usaha orang lain yang dalam kasus ini adalah Benny Pontian Muslim yang
usahanya menurun drastis seiring penjualan yang dilakukan oleh Edison yang membuat para
pelanggannya memberikan komplain kepadanya karena kualitas barang yang diproduksinya
sangat kurang bagus.
Namun saat akan diadili, Edison dengan tegas menyatakan bahwa ia mengakui
perbuatannya dan menyesalinya dan berjanji untuk tidak akan melakukan hal yang sama lagi
suatu saat nanti. Karena pengakuannya tersebut akhirnya hakimpun manjatuhkan hukuman
yang dirasa lebih ringan daripada hukuman yang tertera dalam undang-undang yang telah
dijelaskan diatas dengan tujuan untuk memberi sedikit pelajaran kepada Edison agar
menyesalinya dan diharapkan tidak melakukan tindakan yang sama lagi. Jadi disini hakim
memberikan hukuman tidak hanya berdasarkan apa yang telah tertulis jelas diperundangundangan, melainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya yang berada diluar
undang-undang tersebut sehingga ia tidak menjatuhkan hukuman yang berat seperti yang
tertera dalam pasal-pasal tersebut, dan yang memberikan dakwaan pun yaitu Benny Pontian
Muslim selaku pemegang hak merek tersebut tidak merasa keberatan dengan hukuman yang
dijatuhkan kepada Edison karena Edsion telah mengakui kesalahannya.

Kemudian dari kasus ini dapat dilihat dari beberapa perspektif sosiologi yang
mungkin saja berkaitan, diantaranya saya mengambil teori fungsional struktural, teori
konflik, teori kontrol sosial dan juga konsep yang dijelaskan oleh Durkheim mengenai hukum
restitutif.
Dimulai dengan melihatnya dari teori fungsional, teori ini melihat segala sesuatunya
berjalan berdasarkan fungsinya dan selalu berpikiran baik dengan mengabaikan konflik atau
pertentangan. Pada kasus ini, perspektif fungsional dapat dilihat dari berjalannya hukum
sesuai dengan apa yang seharusnya dijalannya dengan mengadili individu yang terjerat dalam
kasus tindak pidana. Namun, pada kasus ini hukum yang diterapkan tidak sepenuhnya atau
seutuhnya menggunakan apa yang tertulis dalam perundang-undangan walaupun memang
telah menggunakan undang-undang yang tepat dalam menangani kasus tersebut. Dengan
tidak seutuhnya mengambil keputusan berdasarkan undang-undang tersebut, disinilah
perspektif konflik dapat digunakan karena keputusan yang diambil tidak hanya mengikuti
dari apa yang seharusnya tertera dalam undang-undang. Hakim memberikan hukuman
berdasarkan alasan yang posisinya berada diluar undang-undang. Teori konflik juga bisa
dilihat dari adanya pelaporan yang dilakukan oleh Benny Pontian Muslim karena merasa
dirugikan oleh Edison dengan menjual barang palsu yang mereknya sama dengan yang
dimiliki oleh Benny Pontian Muslim. Dengan rasa ketidakterimaan tersebut membuat adanya
perlawanan terhadap tindak kejahatan yakni pelanggaran yang dirasa merugikan pihak lain.
Kemudian dilihat dari teori kontrol sosial. Pengendalian sosial (sosial control)
merupakan suatu sistem yang mendidik, mengajak bahkan memaksa warga masyarakat untuk
berperilaku sesuai dengan nilai dan norma - norma sosial agar kehidupan masyarakat dapat
berjalan dengan tertib dan teratur (Anonim). Jika kontrol sosial dalam hal ini adalah hukum
yang berlaku dimasyarakat tidak dijalankan dengan semestinya, maka seseorang akan
diberikan hukuman berupa konsekuensi yang harus diterima. Kontrol sosial dibuat secara
tidak langsung dengan membentuk masyarakat agar menjalankan pola-pola kehidupan atau
mematuhi norma-norma yang berlaku dimasyarakat, dan hal ini merupakan bentuk yang juga
secara tidak langsung telah disepakati bersama oleh masyarakat (Anonim).
Namun kontrol sosial tidak selalu mengacu pada hukum yang sudah jelas tertera
dalam perundang-undangan sebuah negara, melainkan lebih dapat diidentikan dengan hukum
masyarakat atau hukum tradisi yang didasarkan pada nilai dan norma yang berlaku atau
dihormati oleh masyarakat tertentu. Dan yang terakhir kasus ini dapat dilihat dari hukum

restitutif yang dijelaskan oleh Durkheim, dimana seseorang yang telah melanggar mesti
melakukan restitusi untuk kejahatan mereka. Dan pelanggaran dilihat sebagai serangan
terhadap individu tertentu atau segmen tertentu dari masyarakat dan bukannya terhadap
sistem moral itu sendiri (Ritzer 2009: 93-94). Sangat jelas bahwa disini pelanggaran yang
terjadi ditujukan kepada seseorang atau kelompok lain yang secara tidak langsung telah
merugikan pihak lain tersebut. Dan hukuman ini bersifat untuk memulihkan, maksudnya
adalah membuat sang pelaku pelanggar dapat menjadi orang yang lebih baik lagi setelah
menerima dan menjalani hukumannya.
Kesimpulan
Dari analisis berdasarkan kasus tersebut dapat saya simpulkan bahwa tindakan
pelanggaran memang harus segera ditegakkan karena nantinya tidak hanya merugikan salah
satu pihak saja, namun juga merugikan pihak lain seperti masyarakat yang seperti
dibohongi karena tidak tahu akan barang yang mereka beli. Dan hukum memang harus
ditegakkan atas kesalahan apa yang ia lakukan dan sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku. Namun disamping itu, hal penting lainnya yaitu dengan mempertimbangkan
hukuman yang akan diberikan mengingat beberapa hal yang mungkin dapat menjadi
pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan. Hal ini juga bisa lebih dipandang kearah
manusiawi karena mengambil keputusan tidak hanya berdasar apa yang tertulis namun ada
hal lain diluar itu yang bisa menjadi pertimbangan-pertimbangan dengan melihat keadaan
seseorang yang akan dijatuhi hukuman. Dan disinilah fungsi atau peran kontrol sosial dalam
bentuk hukum dapat berjalan dengan semestinya untuk mengatasi berbagai konflik yang
terjadi dimasyarakat.

Pustaka
Anonim.

Bab

II

Tinjauan

Pustaka

Kontrol

Sosial.

[Online]

Tersedia:

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41329/4/Chapter%20II.pdf [2 November
2014].
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2009. Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik
Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi
Wacana.