Anda di halaman 1dari 43

16

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Desa
1. Karakteristik Wilayah
Sebagian besar bentuk wilayah Desa Wates adalah datar, dengan
jumlah bulan hujan sebanyak 6 bulan. Desa Wates berada di Kecamatan
Simo, Kabupaten Boyolali. Batas-batas wilayah Desa Wates adalah
sebagai berikut:
Batas Utara

: Desa Sendangrejo

Batas Selatan

: Desa Blagung

Batas Barat

: Desa Sumber

Batas Timur

: Desa Kedunglengkong

Adapun jarak dan lama tempuh kantor desa/kelurahan dengan pusat


administrasi lainnya antara lain :
Jalan Desa

: 21 km

Jalan Kecamatan

: 4 km

Jalan Kabupaten

: 12 km

Topografi Desa Wates secara geografis, terletak pada ketinggian 300


meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 28C serta kelembaban
sebesar 52%. Berdasarkan rata-rata curah hujan 5 tahun terakhir yaitu
sebesar 300 mm/tahun, Desa Wates mempunyai 8-10 bulan basah dan 2-4
bulan kering. Yang dimaksud dengan bulan basah adalah apabila rata-rata
hujan pada saat itu dapat mencapai lebih dari 100 mm. sedangkan bulan
kering adalah jika rata-rata hujan dalam sebulan kurang dari 60 mm.
Tipe iklim desa Wates adalah C2 dengan rata-rata curah hujan 2.482
mm/tahun dengan hujan selama 144 hari. Jenis tanah wilayah binaan Desa
Wates yang dominan adalah tanah bengkok dengan warna hitam jenis
alluvial, dimana sebagian kecilnya dengan struktur pasir dengan
kemiringan sebesar 50 derajat. Topografinya relative miring dengan
ketinggian rata-rata 300 m di atas permukaan laut, serta kedalaman air
tanah sekitar U-6 dari permukaan tanah.
2. Penduduk

16

17

Penghitungan keadaan penduduk sangat penting dilakukan. Jumlah


penduduk secara keseluruhan dapat dilihat dari akumulasi jumlah
penduduk laki-laki dan perempuan. Jumlah penduduk secara keseluruhan
dapat dilihat pada tabel berikut:
a. Jumlah Penduduk dan Jumlah Rumah tangga
Tabel 4.1.2.1 Jumlah Penduduk dan Jumlah Rumah Tangga Desa
Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun
2013
Jumlah Penduduk
4073

Jumlah KK
1141

Sumber : Data Sekunder

Dari data tersebut dapat diketahui jumlah penduduk Desa Wates


pada tahun 2013 sebanyak 4073 jiwa dengan jumlah kepala rumah
tangganya sebanyak 1141 KK, sesuai dengan angka yang tercantum
didalam data monografi Kalurahan Desa Wates. Rata-rata penduduk
desa tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan satu sama lain.
Dan kesejahteraan pduduk baik terlihat dari kondisi ekonomi
keseluruhan penduduk. Kami tidak mendapatkan data monografi
penduduk untuk lima tahun ke belakang.
b. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, penduduk dibedakan menjadi lakilaki dan perempuan. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat
menunjukkan beberapa hal antara lain. Sex Ratio yaitu nilai
perbandingan antar jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah
penduduk perempuan.

Tabel 4.1.2.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa


Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun
2013
Jenis Kelamin
Pria
Wanita

Jumlah
1577
2496

%
39
61

18

Jumlah

4073

100

Sumber : Data Sekunder

Berdasarkan tabel 4.1.2.2 jumlah Penduduk Menurut Jenis


Kelamin di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun
2013 dapat diketahui jumlah penduduk pria di Desa Wates sebanyak
1577 orang dengan persentase 39%,

sedangkan penduduk wanita

jumlahnya lebih banyak daripada penduduk pria, yaitu 2496 orang


dengan persentase 61%. Dimana kesejahteraan penduduknya terjamin
dengan baik. Dan para masing-masing anggota keluarga saling
membantu dalam menjalankan kegiatan usaha pertanian.
Perhitungan per tahun (sex ratio)
Sex ratio =

penduduk laki laki x 100


penduduk perempuan

1577
x 100
2496

= 63,18%
Dari hasil perhitungan pada tahun 2013 angka sex rationya 100
lebih yang artinya setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat
sekitar

63

orang

penduduk

laki-laki.

Perhitungan

tersebut

menunjukkan bahwa perbandingan antara penduduk laki-laki lebih


sedikit daripada wanita. Perbandingan antara wanita dan pria tidak
sama, maka pembagian kerja antara pria dan wanita juga tidak sama.
Dengan adanya sex ratio, kesetaraan gender atau hak yang sama
antara pria dan wanita dalam memperoleh atau mencari pekerjaan
dapat lebih diperhatikan. Selain itu, dengan adanya perbedaaan
jumlah tersebut dapat menjadikan posisi pria sangat penting terutama
dalam hal pengolahan sawah dan pekerjaan lainnya yang menuntut
tenaga yang besar.
c. Jumlah Penduduk Menurut Umur

19

Jumlah penduduk produktif dan tidak produktif selalu berubah


dikarenakan adanya kematian, merantau atau meninggalkan kampung
halaman dan menetap di desa lain, serta migrasi ke daerah lain. Tidak
semua umur merupakan usia produktif, usia produktif adalah
penduduk yang berusia 16-50 tahun. Sedangkan, penduduk yang
merupakan usia tidak produktif adalah berusia sekitar 0-15 tahun dan
lebih besar dari 60 tahun.
Tabel 4.1.2.3 Jumlah Penduduk Menurut Umur di Desa Wates,
Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No.

Umur

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

05
6 10
11-15
16 20
21 25
26 30
31 35
36 40
41 45
46 50
>50
Jumlah

Jumlah

322
284
287
273
267
259
206
276
220
235
355
4073

7,90
6,97
7,05
6,70
6,56
6,36
5,06
6,78
5,40
5,77
8,71
100

Sumber : Data sekunder


Berdasarkan tabel 4.1.2.3 jumlah Penduduk Menurut Umur di
Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013 di
atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Wates yang berada
pada usia tidak produktif 0-15 tahun 2013 sebanyak 893 jiwa dan usia
>60 tahun sebanyak 355 jiwa. Jumlah penduduk usia produktif yaitu
usia 16-60 tahun sebanyak 1736 jiwa. Dengan mengetahui jumlah
penduduk berdasarkan usia tidak produktif dan usia produktif maka
dapat dihitung ABT (Angka Beban Tanggungan). Angka beban
tanggungan adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang tidak
produktif dengan jumlah penduduk yang produktif dikalikan 100. Ini

20

berarti bahwa setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung


sejumlah penduduk usia tidak produktif.
Perhitungan per tahun (ABT)
Angka Beban Tanggungan :

Angka Beban Tanggungan

Penduduk _ usia _ nonproduktif


penduduk _ usia _ produktif

x 100

1248
x 100
1736

= 71,89%
Besar angka beban tanggungan tahun 2013 adalah sebesar
71,89%, artinya setiap 100 penduduk usia produktif terdapat sekitar
72 penduduk usia non produktif yang harus ditanggung. ABT dapat
dijadikan sebagai indikator perekonomian bagi suatu daerah. Bila
ABT rendah maka kesejahteraan penduduk lebih baik dan sebaliknya.
d. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan
Pendidikan merupakan variabel input yang memiliki determinasi
kuat terhadap kualitas manusia dan penduduk. Tingkat pendidikan di
daerah pedesaan yang umumnya masih rendah. Begitu juga di Desa
Wates hanya sedikit yang melanjutkan pendidikan sampai perguruan
tinggi. Berikut ini disajikan secara rinci tentang keadaan penduduk
menurut tingkat pendidikan di Desa Wates:

Tabel 4.1.2.4 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan di Desa Wates,


Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No.
1
2
3
4

Pendidikan
Belum sekolah
SD
SMP
SMA/SMK

Jumlah

405
783
590

21,99
42,51
32,03

21

5
6
7

D III
SI
S II

4
60
1842

Jumlah

0,22
3,26
-

100

Sumber : Data Sekunder


Berdasarkan tabel 4.1.2.4 masyarakat Desa Wates kebanyakan
hanya lulusan SD, SMP dan SMA. Mayoritas masyarakat di Desa
Wates berpendidikan SMP dengan presentase 42,51% dan yang paling
sedikit adalah lulusan DIII dengan presentase 0,22%. Hal ini
disebabkan karena tingkat ekonomi dan pola pikir masyarakat yang
masih rendah bahwa bekerja sejak dini lebih baik daripada menduduki
bangku sekolah. Pola pikir ini justru menjadi kendala pembangunan
Desa Wates serta kemajuan sektor pertaniannya.
e. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Manusia dalam memenuhi kebutuhannya memiliki mata
pencaharian yang beragam. Rata-rata penduduk di Desa Wates bermata
pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Berikut ini disajikan secara
rinci tentang jumlah penduduk menurut mata pencaharian di Desa
Wates:

Tabel 4.1.2.5 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa


Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun
2013
No Mata Pencaharian
1
2
3
4
5

Petani Sendiri
Buruh Tani
Buruh Bangunan
Pedagang
PNS

Jumlah

1236
1279
10
18

46,94
48,58
0,38
0,68

22

6
7
8
9

Peternak
Montir
PRT
Karyawan Swasta
Jumlah

36
2
16
36
2633

1,37
0,076
0,608
1,37
100

Sumber : Data Sekunder


Menurut data di atas, penduduk Desa Wates yang bekerja
sebagai petani sebanyak 1236 orang dengan persentase 46,94%, 1279
orang buruh tani dengan persentase 48,58%,

10 orang pedagang

dengan persentase 0,38%, 18 orang PNS dengan presentase 0,68, 36


orang peternak dengan persentase 1,37%, 2 orang montir dengan
persentase 0,076%, 16 orang Pembantu rumah tangga dengan
persentase 0,608%, 36 orang karyawan swasta dengan presentase
1,37%. Mata pencaharian yang mendominasi di Desa Wates ini adalah
bekerja sebagai buruh tani sejumlah 1279 dengan persentase 48,58%.
Selain menjadi buruh mereka juga memiliki sawah sendiri dimana
buruh tani hanya menjadi sampingan pada mayoritas masyarakat di
Desa Wates.
Hampir semua penduduk di desa ini bermata pencaharian
sebagai petani, karena hanya dengan bertanilah mereka dapat
melangsungkan hidupnya. Dalam usahataninya mereka biasanya
menggarap lahan sawah baik miliknya sendiri maupun milik orang
lain. Hanya sebagian penduduk saja yang bekerja sebagai pegawai
negri maupun dibidang lain, dan mayoritas mereka bekerja di bidang
pertanian.
3. Tata Guna Lahan Pertanian
a. Luas Panen dan Produksi Lahan Pertanian Umum
Luas panen berhubungan dengan Tata Guna Lahan (land use)
adalah suatu upaya dalam merencanakan penggunaan lahan dalam
suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan
fungsi-fungsi tertentu, misalnya fungsi pertanian. Berikut ini disajikan
secara rinci tentang jumlah penduduk menurut Luas panen di Desa
Wates:

23

Tabel 4.1.3.1 Tata Guna Lahan Desa Wates, Kecamatan Simo,


Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No.
1
2
3
4

Penggunaan Lahan
Sawah seluruhnya
Tegal
Tanah kas desa
Lapangan

Luas Lahan (Ha)


1304
107,4
3,4
0

%
92,1
7,6
0,24
0

1414,8

100

Luas Seluruhnya
Sumber : Data Sekunder

Luas panen lahan pertanian yang ditunjukkan pada tabel 4.1.3.1


Luas panen lahan pertanian di Desa Wates memperlihatkan bahwa
sebagian besar lahan di Desa Wates digunakan untuk lahan sawah
yaitu sebesar 1304 hektar di desa tersebut. Luas tegal yang ada di desa
Wates adalah 107,4 hektar. Luas tanah khas desa ada 3,4 hektar. Masa
tanam sendiri setiap tahunnya terdiri dari dua sampai tiga masa tanam.
Lahan sawah, masa tanam satu dan dua biasanya ditanami padi.
Usahatani pekarangan di Desa Wates biasanya ditanami tanaman ubi
dan mangga.
Produksi lahan pertanian umum dapt menjadi ciri seperti apakah
sistem pertanian yang digunakan di sebuah desa. Produksi lahan
pertanian umum diperlukan untuk mengetahui berapa jenis tanaman
yang akan ditanam dalam suatu lahan. Dengan begitu, penggunaan
lahan akan menjadi lebih efisien dan hasil yang didapat menjadi lebih
baik. Berikut ini disajikan secara rinci tentang Produksi lahan
pertanian umum di Desa Wates:
Tabel 4.1.3.2 Produksi lahan pertanian umum Desa Wates,
Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No.

Jenis tanaman

1
2
3
4
5
6

Padi sawah
Padi gogo
Jagung
Kacang tanah
Kedelai
Kacang hijau

Luas
Panen (ha)
148
21
30
54
54
15

Produksi (ku)
0
0
5
0
0
0

Rata-rata/ha
(ha/ku)
0
0
0,45
0
0
0

24

Luas Seluruhnya

322

0,45

Sumber : Data Sekunder


Dari data Tabel 4.1.3.2 Produksi Lahan pertanian umum Desa
Wates atas menunjukkan bahwa pola tanam yang dilakukan oleh warga
Desa Wates pada masing-masing lahan adalah pada lahan sawah yaitu
padi-padi-bero dengan persentase 100%. Hal ini dikarenakan sebagian
besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.
b. Tanaman Keras
Tabel 4.1.3.3 Jumlah Tanaman Keras di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No
Jenis Tanaman
1
Mangga
2
Jati
3
Kelapa
Jumlah

Sudah Menghasilkan
0
0
0
0

Jumlah Pohon
0
0
0
0

Sumber : Data Sekunder


Tanaman keras yang terdapat di Desa Wates merupakan tanaman
yang biasa di tanam warga di pekarangan rumah masing-masing.
Tanaman keras yang mereka tanam sebagian besar di konsumsi sendiri
dan sebagian kecil di jual. Tanaman keras yang dapat kami jumpai di
Desa Wates dan biasa di tanam warga adalah mangga, jati dan kelapa.
Namun dalam monografi tidak disebutkan secara rinci bagaimana
produksi tanaman keras di Desa Wates, sehingga kami tidak dapat
menyebutkan data secara rinci.
c. Peternakan
Peternakan merupakan salah satu unsur dari pertanian yang
tertuju pada pemeliharaan hewan yang diorientasikan sebagai
konsumsi manusia. Peternakan juga kerap kali diusahakan oleh
manusia untuk menunjang tingkat pendapatan dengan cara dijual.
Berikut ini disajikan tabel jenis peternakan yang ada di Desa Wates:
Tabel 4.1.3.4 Jumlah Ternak di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No

Macam Ternak

Jumlah (ekor)

25

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Ayam Kampung
Kambing
Sapi
Bebek
Kucing
Anjing
Angsa
Burung Puyuh
Ayam Broiler
Domba
Jumlah

4.000
512
857
104
130
25
24
26.000
144.000
424
176.076

2,2
0,29
0,48
0,059
0,073
0,014
0,013
14,76
81,78
0,24
100

Sumber : Data Sekunder


Berdasarkan tabel 4.1.3.4 peternakan Desa Wates pada tahun
2013 menunjukkan bahwa di Desa Wates memiliki aset kepemilikan
ternak yang banyak antara lain ayam broiler sebanyak 144.000 ekor,
karena di Desa Wates banyak yang menternakkan ayam broiler,
sedangkan burung puyuh 26.000 ekor, dan ayam kampung 4000 ekor.
Jumlah total hewan ternak di desa ini adalah 176.076 ekor ternak.
Pada umumnya, hasil ternak ini berorientasi untuk dijual ke pasar dan
menggunakan kotorannya sebagai pupuk. Tetapi ada juga yang
digunakan sbagai konsumsi yaitu ayam kampong dan telurnya. Hasil
produksi

peternakan

juga

sangat

membantu

perekonomian

masyarakatnya dimana mereka akan mendapatkan hasil dari penjualan


ternak.
4. Kegiatan Sosial Ekonomi Pedesaan
a. Sarana Perekonomian
Institusi ekonomi berperan dalam melaksanakan produksi dan
distribusi barang dan jasa di dalam masyarakat. Berbagai macam
bentuk organisasi perekonomian dapat dijumpai dalam masyarakat
kita. Berikut ini disajikan secara rinci tentang kegiatan sosial ekonomi
di Desa Wates:
Tabel 4.1.4.1. Jenis dan Jumlah Pasar, Kios/warung dan kios
SAPROTAN Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No. Jenis

26

1.
2.
3.

Koperasi Simpan Pinjam


PU AP
Pasar Desa/Kios
Jumlah

14
1
15

93
7
0
100

Sumber : Data Sekunder


Berdasarkan

pengamatan

yang

kami

lakukan,

sarana

perekonomiannya adalah koperasi simpan pinjam sebanyak 14 dan


kios/warung sebanyak 3 buah. Sarana perekonomian Desa Wates di
atas menunjukkan ketersediaan sarana perekonomian di Desa Wates
belum cukup memadai karena jumlah sarana perekonomian masih
sedikit, terbukti dengan jarangnya warung kelontong atau toko yang
dapat mendukung kegiatan perekonomian. Sedikitnya jumlah toko dan
warung

di

Desa

Wates

ini

menunjukkan

bahwa

kegiatan

kewirausahaan di bidang perdagangan cenderung sedikit. Meskipun


sebenarnya kegiatan mereka berdagang lebih banyak dilakukan di
pasar. Dan koperasi di desa Wates juga sangat membantu
perekonomian warganya sehingga dapat meningkatkan kualitas
ekonomi di Desa Wates.

b. Sarana Pendidikan
Pendidikan merupakan variabel input yang memiliki determinasi
kuat terhadap kualitas manusia dan penduduk. Kualitas pendidikan
menentukan derajat kehidupan seseorang. Berikut ini disajikan secara
rinci tentang sarana pendidikan di Desa Wates.
Tabel 4.1.4.2.
No.
1.
2.
3.

Jenis dan Jumlah Prasarana Pendidikan Desa Wates,


Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013

Jenis Prasarana Pendidikan


TK
SD
Lembaga Pend. Agama
Jumlah

Sumber Data : Data Primer

5
5
1
11

%
45
45
10
100

27

Berdasarkan data yang diperoleh dari monografi Desa Wates


maka dapat diketahui bahwa terdapat 5 unit Taman Kanak-Kanak, 5
unit Sekolah Dasar dan 1 unit Lembaga Pend Agama. Tingkat
pendidikan di Desa Wates tidak tergolong rendah. Meskipun fasilitas
pendidikan yang berada di Desa Wates cukup memadai, yaitu ada 5
Sekolah Dasar, 5 Taman Kanak-Kanak dan 1 unit Lembaga Pendidikan
Agama, hal ini menunjukkan partisipasi penduduk terhadap pendidikan
cukup tinggi. Dapat dilihat dari aktifitas warga Desa Wates yang
menempuh pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, dengan cara keluar
dari daerahnya.
c. Sarana Kesehatan
Kesehatan masyarakat akan berpengaruh terhadap produktivitas
dan kualitas masyarakat. Karena kesehatan masyarakat yang semakin
menurun akan meningkatkan tingkat kematian. Masyarakat akan
mencapai produktivitas maksimal jika dalam keadaan sehat.

Tabel 4.1.4.3. Jenis dan Jumlah Prasarana Kesehatan Desa Wates,


Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis Prasarana Kesehatan


Bidan
Polindes
Dukun Bayi
Perawat
Posyandu
Jumlah

1
1
1
1
11
15

%
6,67
6,67
6,67
6,67
73,3
100

Sumber : Data Sekunder


Berdasarkan data Monografi Desa Wates dapat diketahui bahwa
hanya terdapat 1 Bidan, 1 Polindes, 1 Dukun Bayi, 1 Perawat dan 11
Posyandu di daerah Desa Wates. Data tersebut menunjukkan bahwa
fasilitas kesehatan di Desa Wates kurang memadai. Kurangnya sarana
kesehatan karena jumlah staff ahli hanya berjumlah 3 orang.jika ada

28

yang sakit para warga yang memiliki kartu sehat lebih memilih pergi
ke puskesmas walaupun jaraknya jauh. Bidan pun sekarang
berdomisili di dekat pusat pemerintahan di Desa Wates, jauh dari para
warga yang rumahnya terletak di perbatasan maupun di pinggir desa.
d. Sarana Peribadatan dan Sosial Kemasyarakatan
Kegiatan beribadah di Desa Wates sangat rukun dan hangat. Hal
ini dapat dibuktikan dengan adanya sarana beribadah di Desa Wates
yang ada. Pembangunan sarana beribadah di Desa Wates cukup
memadai, hal tersebut terlihat dari tabel berikut:
Tabel 4.1.4.4. Jenis dan Jumlah Sarana Peribadatan dan Sosial
Kemasyarakatan Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No. Uraian
1. Masjid
2. Mushola
Jumlah

Jumlah
10
28
38

%
26
74
100

Sumber : Data Sekunder


Berdasarkan tabel 4.1.4.4 tentang Sarana Peribadatan di Desa
Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali

terdapat 10 buah

masjid dan 28 buah mushola di wilayah desa. Keseluruhan fasilitas


peribadatan di Desa Wates cukup memadai disertai rasa Ketaatan
beribadah yang sangat tinggi. Pembangunan tempat peribadatan
berjalan dengan baik dengan dana dari para warga dan sumbangan.
Sarana kemasyarakatan cukup dibutuhkan di suatu desa. Sarana
kemasyarakatan merupakan sarana yang dapat digunakan untuk
sarana politik. Sarana politik yang ada dapat membantu masyarakat
desa belajar berpolitik. Berikut disajikan tabel sarana kemasyarakatan
di Desa Wates.
Tabel 4.1.4.5 Sarana Kemasyarakatan di Desa Wates, Kecamatan
Simo, Kabupaten Boyolali tahun 2013
No
1
2

Sarana Kemasyarakatan
Organisasi masyarakat
Tokoh politik

5
23

%
18
82

29

Jumlah

28

100

Sumber: Data Sekunder


Jumlah organisasi masyarakat yaitu 5, meliputi organisasi PKK,
Karang Taruna, Organisasi Profesi, Organisasi Bapak-bapak dan
LKMD dan jumlah tokoh politik yang ada berjumlah 23 orang. Hal ini
menunjukkan bahwa tingkat partisipasi politik warga masyarakat desa
Wates cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah
organisasi politik dan tokoh politik yang ada di desa Wates.
e. Penyediaan Sarana Produksi Pertanian
Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali memiliki
penyedia sarana dan produksi pertanian. Umumnya para petani di Desa
Wates memperoleh sarana produksi pertanian seperti benih dan pupuk
dengan cara membeli di balai benih yang ada di kecamatan tetapi ada
beberapa petani yang lebih memilih untuk memproduksinya sendiri.
Sedangkan sarana untuk pengolahan lahan seperti cangkul, sabit, dan
penyemprot hama, kebanyakan para petani sudah memiliki sendiri.
B. Karakteristik Rumah Tangga Petani di Desa
1. Identitas responden
a. Status Rumah Tangga dan Jumlah Anggota Rumah Tangga
Tabel 4.2.1.1. Status Rumah Tangga dan Jumlah Anggota Rumah
Tangga Petani di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Pemilik Penggarap
Suami
Istri
Anak

Jumlah
Penyewa
Suami
Istri
Anak
Jumlah
Penyakap
Suami
Istri
Anak
Jumlah

Jumlah

27
27
38
92

29,34
29,34
41,30
100

3
2
4
9

33,33
22,22
44,44
100

30

Sumber : Data Primer


Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa pada keluarga petani
di Desa Wates rata-rata memiliki 2 sampai 3 orang anak. Dilihat dari
jumlah anak keseluruhan 42 anak dari 30 kepala keluarga yang ada.
Perkembangan penduduk di desa Wates setiap tahun nya meningkat.
Penduduk desa Wates mayoritas status petani nya yaitu pemilik
penggarap dan sebagian kecilnya adalah penyakap. Perkembangan
pertanian di desa Wates pun juga semakin maju dengan adanya
persatuan kelompok tani di desa tersebut yang masih aktif hingga
sekarang, sehingga pertanian di desa Wates menjadi lebih modern.

b. Umur Suami (KK) dan Umur Istri


Tabel 4.2.1.2 Umur Suami (KK) dan Umur Istri Responden di Desa
Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun
2013
Interval Umur (tahun)
Pemilik Penggarap
< 30
31 40
41 50
51 60
> 60
Jumlah
Penyewa/penyakap
< 30
31 40
41 50
51 60
> 60
Jumlah

Sumber : Data Primer

Suami
Jumlah
%

Istri
Jumlah

1
3
9
6
8
27

3,70
11,11
33,33
22,22
29,62
100

0
8
8
7
4
27

0
29,62
29,62
25,92
14,81
100

0
0
1
1
1
3

0
0
33,33
33,33
33,33
100

0
0
1
1
0
2

0
0
50
50
0
100

31

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa umur suami pada


responden paling banyak berada pada interval umur 41-50 dan 51-60
sedangkan pada istri terdapat jumlah usia yang sama pada interval
umur 31-40 dan 51-60. Pada status petani pemilik penggarap jumlah
yang paling tinggi yaitu terdapat pada umur 41-50. Hal ini
dikarenakan pada umur tersebut lah penduduk Desa Wates yang
bermata pencaharian sebagai petani. Sedangkan jumlah yang paling
sedikit yaitu pada umur <30, hal ini karena banyak pemuda di desa
Wates yang lebih memilih merantau ke luar kota, daripada menetap di
desa sebagai petani. Pada petani penyakap prosentase nya sama yaitu
33,33 %. Hal ini karena di desa Wates mayoritas memiliki lahan
pertanian dan mereka kerjakan sendiri, sehingga penyakap atau yang
menerapkan bagi hasil di desa tersebut sangat sedikit jumlahnya.
Berdasarkan sudut pandang pertaniannya perekonomian penduduk di
desa

tersebut

cukup

besar

namun

kurangnya

manajemen

perekonomian mereka, sehingga penduduk desa tersebut kebanyakan


subsisten.
c. Pendidikan Suami (KK) dan Istri
Tabel 4.2.1.3. Pendidikan Suami (KK) dan Istri Responden Desa
Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun
2013
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tingkat Pendidikan
Pemilik Penggarap
SD
SMP
SMA/STM/SMEA
D-3
S1
Tidak Sekolah
Jumlah
Penyewa/Penyakap

Suami
Jumlah
%
15
7
4
0
0
1
27

55,55
25,92
14,81
0
0
3,70
100

Istri
Jumlah

19
6
2
0
0
1
27

70,37
22,22
7,40
0
0
3,70
100

32

1.
2.
3.
4.
5.
6.

SD
SMP
SMA/STM/SMEA
D-3
S1
Tidak Sekolah
Jumlah

3
0
0
0
0
0
3

100
0
0
0
0
0
100

1
0
0
0
0
1
2

50
50
0
0
0
0
100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan

tabel

dapat

dilihat

bahwa

pada

responden,

pendidikan suami pada petani pemilik dan penyakap paling banyak


adalah SD sebanyak 18 orang, sedangkan pada istri kebanyakan
mengenyam bangku pendidikan sampai SMP. Pendidikan suami di
desa Wates kebanyakan SD karena mayoritas petani nya berumur
sekitar 41-50,51-60 dan >60 sehingga dahulu pendidikan terakhir
pada umumnya adalah SD. Hal ini berdampak petani tersebut kurang
nya pengetahuan mengenai pertanian, cara bertanai yang baik dan
benar, melainkan mereka hanya menggunakan ilmu turun-temurun
nenek moyang yang tidak adanya perubahan.

d. Jenis Pekerjaan yang Menghasilkan


Tabel 4.2.1.4 Jenis Pekerjaan Responden yang Menghasilkan di Desa
Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun
2013
No.
1.
2.

Jenis Pekerjaan
Pemilik Penggarap
Di lahan usahatani utama
Di luar usahatani
a. Bakul warungan
b. Ternak sendiri
c. Bakul di Pasar
d. Bakul keliling
e. Buruh bangunan
f. Buruh lain
g. Pegawai negeri
Jumlah
Penyewa

Suami

Istri

Anak

26

19

7
1
2
1
2
29

2
3
2
1
27

1
3
7
13

33

1.
2.

1.
2.

Di lahan usahatani utama


Di luar usahatani
a. Bakul warungan
b. Ternak sendiri
c. Bakul di Pasar
d. Bakul keliling
e. Buruh bangunan
f. Buruh pabrik
g. Pegawai negeri
Jumlah
Penyakap
Usahatani Lahan Menyewa
Di luar usahatani
a. Bakul warungan
b. Ternak sendiri
c. Bakul di Pasar
d. Bakul keliling
e. Buruh bangunan
f. Buruh pabrik
e. Pegawai negeri
Jumlah

1
-

1
2

Sumber : Data Primer


Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar
responden bekerja di lahan usahatani utama atau sebagai pemilik
penggarap dan ada juga yang menyewa lahan untuk mendapatkan
penghasilan seperti pada penyakap. Selain mencari nafkah di sektor
pertanian, mereka juga mencoba untuk mencari nafkah di luar
usahatani sebagai buruh bangunan, buruh pabrik, pegawai negeri,
serta perangkat desa. Istri dari petani juga ada yang bekerja sebagai
pedagang atau bakul di pasar. Anak-anak mereka juga ada yang ikut
bekerja antara lain sebagai buruh pabrik maupun ikut bekerja di sawah
dengan orang tua untuk menambah penghasilan keluarga. Penduduk
bekerja di luar pertanian karena untuk mencukupi kebutuhan hidup
mereka dimana sebagai petani mereka hanya cukup untuk makan dan
sangat sedikit sisanya yang tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan
rumah tangga yang lainnya.
2. Penguasaan Aset Rumah Tangga

34

a. Luas Sawah, Tegal, Pekarangan, dan Luas Tanah serta Luas Bangunan
Tabel 4.2.2.1. Luas Sawah, Luas Tanah serta Luas Bangunan
Responden di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No.
1.
2.

Aset Rumah
Tangga

Jumlah (m2)

Luas Rata-rata

Sawah
Bangunan

13.040.000
3.800.000

11.428,57
3.330,41

77,44
22,56

16.840.000

14.758,98

100

Jumlah
Sumber : Data Primer

Tabel di atas menunjukkan jumlah luas sawah, luas tanah, serta


luas bangunan yang dimiliki oleh para responden yang ada di Desa
Wates. Jumlah luas sawah mereka adalah 13.040.000 m2 dengan ratarata 11.428,57 m2, jumlah luas tanah yang mereka miliki sebesar
16.840.000 m2, dan jumlah luas bangunan mereka adalah 3.800.000
m2 dengan rata-rata 3.330,41 m2. Rata-rata perekonomian penduduk di
desa Wates yaitu cukup baik karena luas lahan yang mereka miliki
sebenarnya sudah cukup namun kurang nya pengetahuan dan inovasi
mereka selain itu kebiasaan mereka yang hanya menanam tanaman
pangan,dimana

sebenarnya

ada

tanaman

lain

yang

lebih

menguntungkan,sehingga perekonomian nya kurang berkembang dan


cenderung stagnan.
b. Keadaan Bangunan Rumah
Kuat atau tidaknya suatu rumah sangat dipengaruhi oleh
kerangka rumah itu sendiri. Sebuah rumah biasanya terdiri dari lantai,
dinding, kerangka dan atap rumah. Berikut ini disajikan secara rinci
data keadaan bangunan rumah responden di Desa Wates, Kecamatan
Simo, Kabupaten Boyolali :
Tabel 4.2.2.2. Keadaan Bangunan Rumah Responden di Desa Wates,
Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No. Jenis

Kerangka

Dinding

Atap

Lantai

35

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kayu Jati
Kayu Tahunan
bambu
Tembok
Genting
Plester
Ubin
Keramik
Tanah
Jumlah

13
17
30

4
7
2
17
30

30
30

21
2
7
30

Sumber : Data Primer

Menurut data di atas, dapat diketahui bahwa keadaan bangunan


rumah sebagian besar keluarga miskin. Hal ini dikarenakan
pendapatan yang mereka dapat dari hasil produksi pertanian habis
untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, sehingga mereka tidak bisa
untuk memperbaiki rumahnya lebih baik lagi. Rumah para responden
tersusun atas kerangka yang terbuat dari kayu jati dengan dinding dari
tembok, atap rumah berupa genting, dan lantainya berupa ubin.
Berdasarkan tabel di atas, tentang keadaan bangunan rumah di
Desa Wates dapat disimpulkan bahwa 17 rumah menggunakan
kerangka dari kayu tahunan dan 13 rumah menggunakan kerangka
rumah dari kayu jati . Untuk dinding rumah para petani di Desa Wates
ini terbuat dari kayu jati sebanyak 4 rumah, kayu tahunan ada 7
rumah, yang terbuat dari tembok 17 rumah serta 2 rumah yang masih
berdinding bambo. Semua atap rumah petani di Desa Wates sudah
memakai genteng sebanyak 30 rumah.
Berdasarkan keadaan bangunan responden, untuk lantai
rumahnya 21 rumah memakai ubin dan masih terdapat 7 rumah yang
masih berlantaikan tanah, serta ada 2 rumah yang menggunakan
keramik. Kondisi rumah dapat menunjukkan pendapatan responden,
semakin bagus rumah responden maka dapat dianggap bahwa
pendapatannya juga cukup baik. Kondisi keadaan bangunan rumah
seperti yang pada tabel sudah cukup baik, meskipun masih ada rumah

36

yang sederhana tapi bagi petani asal bisa untuk tempat berteduh dan
tidak bocor sudah cukup.
c. Pemilikan Radio, TV, Kamar Utama, dan Kursi Tamu
Elektronik, kamar, dan mebel merupakan kebutuhan sekunder
setiap orang. Elektronik berfungsi untuk memperoleh berbagai
informasi dan juga sebagai hiburan. Berikut ini disajikan data
pemilikan elektronik, kamar dan mebel di Desa Wates, kecamatan
Simo, Kabupaten Boyolali :
Tabel 4.2.2.3. Pemilikan Radio, TV, Kamar Utama, dan Kursi Tamu
Rumah Tangga Petani di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
VCD
Kulkas
HP
Radio
Televisi
Kamar Utama
Kursi Tamu

Punya

%
17
56,6
6
20
33
100
25
83
27
90
30
100
138
100

Tidak Punya

%
13
43,3
24
80
0
5
16
3
10
100
100

Jumlah

30
30
33
30
30
30
138

%
100
100
100
100
100
100
100

Sumber : Data Primer

Menurut data yang diperoleh dapat diketahui bahwa pada rumah


tangga responden sebagian besar sudah memiliki televisi serta
beberapa radio dan VCD. Radio, televisi, dan VCD tersebut mereka
gunakan sebagai sarana hiburan ketika mereka berkumpul dengan
keluarga atau ketika mereka istirahat setelah melakukan berbagai
aktivitasnya, dan juga berguna sebagai sarana informasi. Namun untuk
kulkas, hanya ada 6 keluarga yang mempunyai. Sebagian besar
responden sudah mempunyai handphone (HP), bahkan ada yang satu
keluarga memiliki lebih dari 1 HP. Handphone ini digunakan sebagai
sarana komunikasi. Kemudian, kepemilikan kamar tidur, ruang tamu,
kursi tamu, lemari dan yang lainnya, rata-rata semua responden petani
pemilik penggarap sudah memiliki walaupun masih sederhana. Hal ini
menunjukkan bahwa masyarakat Desa Wates sudah bisa menggunakan
sarana yang benar-benar dibutuhkan.

37

d. Bahan Bakar Masak dan Penerangan Rumah


Bahan bakar masak dan penerangan rumah merupakan salah
satu kebutuhan dalam rumah tangga yang selalu harus dipenuhi. Dalam
rumah tangga sekarang ini bahan bakar yang sering digunakan adalah
gas dan penerangan yang ada biasanya dari listrik PLN. Berikut ini
disajikan secara rinci bahan bakar masak dan penerangan rumah
responden di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali :
Tabel 4.2.2.4. Bahan Bakar dan Penerangan Rumah Tangga Petani di
Desa Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Gas
Kayu
Minyak tanah
Listrik

Penerangan
Jumlah
%
30
100

Bahan Bakar
Jumlah
%
21
70
21
70
1
3,33
-

Sumber : Data Primer

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa kepemilikan


listrik yang yang dimiliki oleh semua responden

telah dapat

memanfaatkan aliran listrik yang telah masuk ke Desa Wates. Menurut


data yang diperoleh dapat diketahui bahwa pada seluruh keluarga
sangat tergantung pada listrik sebagai alat penerangan sehingga
penggunaan listrik yaitu 100%. Sedangkan sebagian besar dari mereka
pada kelompok KK sangat tergantung pada kayu bakar sebagai bahan
bakar dalam rumah tangganya, yaitu 70% menggunakan kayu bakar
sebagai bahan bakar untuk memasak dalam rumah tangganya, hal ini
disebabkan oleh mereka memiliki kayu yang tinggal mencari di kebun
belakang rumah atau pekarangan mereka, sehingga tidak perlu
membeli. Penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar rumah
tangga sangat sedikit bahkan hamper tidak ada di desa ini. Penggunaan
gas sebagai bahan bakar rumah tangga sudah mencapai 21 responden
dengan persentase 70 %. Bila dibandingkan dengan gas, minyak tanah
sulit di dapat, bila dapat harganya sulit dijangkau bahkan sekarang
sudah benar-benar mulai langka.

38

e. Pemilikan Sumur, Kamar Mandi, WC, dan Kondisinya


Kamar mandi dan WC merupakan salah satu bagian dari sebuah
rumah. Kebanyakan orang kerap kali menilai tingkat kesehatan sebuah
rumah dengan melihat kamar mandi dan WC rumah tersebut. Berikut
ini telah disajikan data Kepemilikan Kamar Mandi dan Kamar mandi
dan WC di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali:
Tabel 4.2.2.5.1 Kepemilikan Sumur, Kamar mandi, WC, dan
Kondisinya pada Rumah Tangga Petani Pemilik
Penggarap di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Sumur
Kamar mandi
WC
Jumlah

Ada
Permanen Sederhana
27
23
50

Tidak
4
4

Sumber : Data Primer

Tabel 4.2.2.5.2 Kepemilikan Sumur, Kamar mandi, WC, dan


Kondisinya pada Rumah Tangga Petani Penyakap
di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Sumur
Kamar mandi
WC
Jumlah

Ada
Permanen Sederhana
3
2
5
-

Tidak
1
1

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hampir semua


keluarga mempunyai kamar mandi dan WC sendiri meskipun masih
ada beberapa yang tidak mempunyai. Semua keluarga tidak
mempunyai sumur permanen karena memang di Desa Wates ini
sarana air bersih mudah didapatkan. Menurut data yang diperoleh,
kamar mandi dan WC yang dimiliki sudah baik, layak pakai, dan
cukup bersih. Hal ini menunjukkan mereka sudah peduli terhadap
kehidupan sehari-hari mereka. Kamar mandi merupakan tempat vital

39

bagi rumah tangga, karena akan sangat menyusahkan apabila suatu


rumah rumah tidak memiliki fasilitas WC atau Kamar Mandi sendiri.
Dahulu orang-orang masih bergotong royong membangun WC untuk
dipergunakan secara umum. Tapi pada jaman modern seperti ini hal
itu sedikit menyusahkan karena kurang safety bila mandi atau
kegiatan lainnya dilakukan diluar rumah.
Kepemilikan kamar mandi dan WC pada responden petani
kebanyakan sudah layak pakai dan bersih. Namun ada juga satu
keluarga petani yang tidak mempunyai WC. Hal ini disebabkan
karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh responden untuk
membangun

kamar

mandi.

Mereka

lebih

memilih

untuk

menggunakan uang mereka untuk kebutuhan lain yang mereka


anggap lebih penting dan mendesak.

f. Pemilikan Alat Transportasi/Kendaraan


Alat transportasi sangat dibutuhkan setiap orang dalam
memperlancar akses pengangkutan. Dengan adanya alat tranportasi
kita dapat pergi ke setiap tempat yang kita inginkan dengan mudah.
Berikut ini disajikan data kepemilikan alat transportasi/ kendaraan
responden di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali.
Tabel 4.2.2.6.1 Kepemilikan Alat Transportasi/Kendaraan Petani
Pemilik Penggarap di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No.
1.
2.
3.

Alat Transportasi
Sepeda
Sepeda Motor
Mobil

Jumlah
25
27
-

Sumber : Data Primer


Tabel 4.2.2.6.2. Kepemilikan Alat Transportasi/Kendaraan Petani
Penyakap di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
No.

Alat Transportasi

Jumlah

40

1.
2.
3.

Sepeda
Sepeda Motor
Mobil

4
1
-

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden
tidak mampu mencukupi kepemilikan alat transportasi, hanya mampu
membeli sepeda. Namun ada juga yang mempunyai sepeda motor. Hal
ini terjadi karena masyarakat Desa Wates dalam kehidupan sehariharinya tidak pernah mengadakan mobilitas ke luar desa sehingga
mereka menganggap tidak terlalu membutuhkan sarana transportasi
sendiri.
Alat transportasi yang digunakan oleh petani yang ada di Desa
Wates adalah sepeda dan sepeda motor. Perbandingan dari kedua alat
transportasi tersebut sangat mencolok. Petani di Desa Wates ini
memang sudah banyak yang menggunakan sepeda motor. Hal ini
dikarenakan untuk memudahkan akses ke kota. Sehingga dapat
mempermudah distribusi penjualan hasil pertanian.
3. Akses Terhadap Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan
Pendidikan dan kesehatan merupakan hal yang harus diperhatikan
oleh setiap orang. Kesehatan sangat mempengaruhi kegiatan yang dapat
kita lakukan, selain itu kesehatan dapat mempengaruhi kondisi ekonomi
keluarga. Semakin sering sakit maka semakin besar biaya yang
dikeluarkan. Berikut ini akan di sajikan secararinci tentang tempat
pelayanan kesehatan di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali.
Tabel 4.3.3.1.1 Akses terhadap Pendidikan Rumah Tangga Petani Pemilik
Penggarap di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali Tahun 2013
Tingkat Pendidikan
SD
SLTP
SMU
Jumlah
Sumber : Data Primer

15
7
4
26

%
57,69
26,92
15,38
100

41

Tabel 4.3.3.1.2

Akses terhadap Pendidikan Rumah Tangga Petani


Penyakap di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali Tahun 2013

Tingkat Pendidikan
SD
SLTP
SMU
Jumlah

3
3

%
100
100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa sebanyak 1 orang


orang dari 30 responden belum mempunyai akses terhadap pendidikan
karena umur yang belum mencukupi, 18 orang mempunyai akses terhadap
pendidikan di tingkat SD, 7 orang mempunyai akses terhadap pendidikan
di tingkat SMP, 4 orang mempunyai akses terhadap pendidikan di tingkat
SMA. Menurut data di atas dapat dilihat bahwa akses terhadap pendidikan
dengan tingkat persentase yang paling besar adalah sekolah dasar, yaitu
sebesar 62,02%. Namun ada juga yang menyekolahkan anaknya sampai
jenjang SMU, dengan persentase yang jauh lebih kecil, yaitu 15,38%.
Tabel 4.3.3.2. Akses terhadap Pelayanan Kesehatan Rumah Tangga Petani
di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali
Tahun 2013
Pelayanan Kesehatan
Bidan
Puskesmas
Dokter
Jumlah

9
20
1
30

%
30
67
3
100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa mayoritas warga desa


Wates lebih memilih pelayanan kesehatan di Puskesmas dibanding yang
lainnya yaitu sejumlah 20 orang. Hal ini dikarenakan sebagian warga
memiliki kartu sehat yang dapat digunakan untuk berobat ke Puskesmas.
Kemudian sebanyak 9 responden di Desa Wates kecamatan Simo
kabupaten Boyolali memilih untuk memeriksakan kesehatannya di Bidan
desa dengan alasan efisiensi waktu dan akses yang mudah karena dekat.
Sedangkan hanya ada 1 responden yang memanfaatkan jasa Dokter

42

sebagai layanan kesahatan, karena biaya untuk berobat ke Dokter dinilai


terlalu mahal sedangkan pendapatan warga desa tidak terlalu tinggi.
4. Pola Pangan Pokok dan Frekuensi Makan Keluarga
Tabel 4.3.4.1 Pola Pangan Pokok dan Frekuensi Makan Keluarga di Desa
Wates Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali
Pola Pangan Pokok
Jumlah Makan Sehari

Nasi Sepanjang Tahun


Berganti dengan yang lain
3x
2x
1x

Jumlah
30
0
30
0
0

Sumber: Data tabulasi


Masyarakat Desa Wates kecamatan Simo kabupaten Boyolali
seluruhnya mengkonsumsi beras sebagai makanan pokoknya. Frekuensi
makan keluarga seluruhnya 3 kali dalam satu harinya. Hal ini dapat
diperoleh dari hasil wawancara dengan 30 responden di Desa Wates.
C. Pendapatan dan Konsumsi Rumah Tangga
1. Biaya, Penerimaan, dan Pendapatan dari Usahatani Sendiri
a.Biaya Bahan untuk Usahatani Sendiri
Tabel 4.4.1.1.1 Biaya Bahan untuk Usahatani Sendiri Rumah Tangga
Petani di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Biaya Usahatani MT 1
Biaya Usahatani MT 2
Biaya Usahatani MT 3
Jumlah

Sawah (Rp)
16.657.500
15.263.000
14.588.500
46.509.000

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel di atas dapat kita ketahui bahwa biaya yang
digunakan dalam usahatani sendiri untuk tiga kali masa tanam adalah
sebesar Rp 46.509.000,00 dengan rincian biaya pada MT I sebesar Rp
16.657.500,00 , MT II sebesar Rp 15.263.000,00 , dan pada MT III
sebesar Rp 14.588.500,00. Adanya perbedaan biaya input bahan untuk
usahatani pada setiap masa tanam ini dikarenakan oleh beberapa
faktor, seperti penggantian benih. Pada masa tanam I dan masa tanam

43

II petani menanam padi dan pada masa tanam III petani menanam
jagung. Harga padi per satuan beratnya lebih mahal dari pada harga
jagung per satuan berat. Sehingga terjadi perbedaan pembiayaan untuk
benih. Selain benih, pupuk juga memiliki peran dalam menentukan
naik-turunnya biaya input. Karena kebutuhan akan pupuk juga harus
disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan tanaman itu sendiri.
b.Tenaga Kerja Luar dan Keluarga
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan ketiga
puluh responde, diketahui bahwa sebagian besar responden tidak
menggunakan tenaga kerja luar untuk mengerjakan sawahnya
melainkan dengan menggunakan tenaga kerja keluarga. Hal ini
bertujuan untuk menekan biaya yang harus mereka keluarkan, karena
lahan yang relatif sempit dan hasil panen tanaman pangan tersebut
hanya akan dikonsumsi sendiri, tidak untuk dijual. Namun beberapa
responden juga menyatakan bahwa dalam menggarap sawahnya,
mereka menggunakan buruh tani dan biasanya berasal dari
tetangganya sendiri.
c.Penerimaan dan Usahatani
Tabel 4.4.1.3.1 Penerimaan dari Usahatani Rumah Tangga Petani
Penggarap di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Penerimaan dari Usahatani
Sawah MT 1
Sawah MT 2
Sawah MT 3

Jumlah

Jumlah (Rp)
91.781.000
87.766.000
91.781.000
271.328.000

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.1.3.2 Penerimaan dari Usahatani Rumah Tangga Petani
Penyakap di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Penerimaan dari Usahatani
Sawah MT 1
Sawah MT 2
Sawah MT 3

Jumlah

Jumlah (Rp)
7.980.000
6.240.000
3.500.000
17.720.000

44

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel dapat dilihat dari 27 responden yang
berstatus sebagai petani pemilik penggarap lahan sawah sendiri
memperoleh penerimaan dari tiga kali masa tanam sebesar Rp
271.328.000,00 dengan rata-rata penerimaan tiap individunya yaitu

sebesar Rp 10.853.120,00. Sedangkan dari 3 responden yang berstatus


sebagai petani penyakap menerima Rp 17.720.000,- dari tiga kali
masa tanam usahanya dengan rata-rata penerimaan per individu
sebesar Rp 2.215.000,00. Rata-rata lahan sawah mereka ditanami
tanaman padi dengan varietas IR 64, dan Ciherang. Dari 30
responden, rata-rata hasil dari panen sawahnya dikonsumsi sendiri
yang kemudian sisanya baru dijual.

d.Pendapatan dari Usahatani Sendiri


Tabel 4.4.4.1.1 Pendapatan dari Usahatani Sendiri Rumah Tangga
Petani Penggarap di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Penerimaan
Biaya

Pendapatan

Sawah (Rp)
264.128.000
40.345.500
223.782.500

Tegal (Rp)
51.285.000
6.014.600
45.279.400

Pekarangan (Rp)
0
0
0

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.4.1.2 Pendapatan dari Usahatani Sendiri Rumah Tangga
Petani Penyakap di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Penerimaan
Biaya

Pendapatan

Sawah (Rp)
17.720.000
5.121.500
12.616.500

Tegal (Rp)
0
0
0

Pekarangan (Rp)
600.000
36.000
564.000

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel di atas, pendapatan selama tiga kali masa
tanam yang diterima oleh 27 responden yang bermata pencaharian
sebagai petani penggarap sejumlah Rp 223.782.500,00 dan apabila di
rata-rata maka masing-masing individu memperoleh pendapatan

45

sebesar Rp 8.288.240,00 untuk usahatani sawah. Kemudian dari ke-27


responden yang memiliki sawah, hanya ada 10 responden yang juga
memiliki tegal. Pendapatan yang diperoleh ke-10 responden tersebut
adalah sebesar Rp 45.279.400,00 dengan rata-rata pendapatan per
individu sebesar Rp 4.527.940,00.
Sedangkan untuk petani penyakap yang berasal dari 3
responden memiliki pendapatan sebesar Rp 12.616.500,00 dengan
rata-rata pendapatan sebesar Rp 4.205.500 untuk usahatani sawah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga responden yang berstatus
penyakap tersebut tidak ada yang memiliki tegal, dan hanya ada 1
orang yang memiliki pekarangan. Pendapatan yang diperoleh dari
hasil pekarangan

tersebut adalah sebesar Rp 564.000,00. Hasil

usahatani sawah yang diperoleh petani penyakap lebih kecil dibanding


pendapatan petani pemiliki penggarap, karena pendapatan yang
diperoleh harus dibagi dengan pemilik lahan dengan ketentuan atau
rasio yang telah disepakati bersama.
2. Pendapatan dari Bekerja pada Usaha Tani Lain
Tabel 4.4.4.2.1 Penerimaan, Biaya, dan Pendapatan dari Usahatani Lain
Rumah Tangga Petani Penggarap di Desa Wates,
Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Ternak
Perikanan
Kayu-kayuan
Buruh Tani
Jumlah
Rata-rata

Penerimaan
132.0466.000
0
0
6.195.000
138.191.000
5.118.185

Biaya
10.974.500
0
0
0
10.974.500
406.463

Pendapatan
121.239.500
0
0
6.195.000
127.434.500
4.719.796

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.4.2.2 Penerimaan, Biaya, dan Pendapatan dari Usahatani Lain
Rumah Tangga Petani Penyakap di Desa Wates,
Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Ternak
Perikanan
Kayu-kayuan

Penerimaan
37.200.000
0
0

Biaya
1.738.000
0
0

Pendapatan
35.462.000
0
0

46

Buruh Tani
Pekarangan
Jumlah
Rata-rata

0
600.000
37.800.000
12.600.000

0
36.000
1.774.000
591.333

0
564.000
36.026.000
12.008.667

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.4.2.3 Penerimaan, Biaya, dan Pendapatan dari Usahatani Lain
Rumah Tangga Petani Penyewa di Desa Wates, Kecamatan
Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Ternak
Perikanan
Kayu-kayuan
Buruh Tani
Jumlah
Rata-rata

Penerimaan
0
0
0
0
0
0

Biaya
0
0
0
0
0
0

Pendapatan
0
0
0
0
0
0

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa responden yang
bermata pencaharian sebagai petani penggarap memiliki ternak dengan
penerimaan sebanyak Rp 132.0466.000,- serta biaya yang dikeluarkan Rp
10.974.500,- sehingga petani memperoleh pendapatan sebesar Rp
121.239.500,-. Sedangkan responden yang bermata pencaharian sebagai
petani penyakap memiliki ternak dengan penerimaan sebanyak Rp
37.200.000,- serta biaya yang dikeluarkan Rp 1.738.000,- sehingga petani
memperoleh pendapatan sebesar Rp 35.462.000,-. Ternak

yang

diusahakan adalah sapi, kambing, dan unggas. Sedangkan petani penyewa


tidak memiliki ternak.
Pendapatan petani dari usahatani lain adalah pendapatan yang mampu
menambah banyaknya penghasilan petani di bidang yang lain selain
bercocok tanam misalnya adalah ternak. Petani memilih untuk mencari
usaha lain yang menguntungkan dan dapat menambah penghasilan.
Berternak cukup mudah dilakukan karena pakan yang murah dengan
mudah bisa didapatkan di sana. Hasilnya pun cukup lumayan untuk
menambah penghasilan dan menutup kekurangan dari hasil usaha tani.
Selain itu biasanya para petani di sana juga bekerja sebagai buruh tani

47

apabila sawah mereka sudah selesai ditanami. Hal ini dilakukan juga untuk
menambah penghasilan.
3. Pendapatan dari Luar Pertanian
Tabel 4.4.4.3.1 Pendapatan dari Luar Pertanian Rumah Tangga Petani
Penggarap di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali Tahun 2013
Suami (Rp)
Istri (Rp)
Anak (Rp)
Lan-lain
Jumlah
Rata-rata

Pendapatan
177.725.000
31.480.000
25.170.000
0
234.900.000
8.700.000

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.4.3.2 Pendapatan dari Luar Pertanian Rumah Tangga Petani
Penyakap di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali Tahun 2013
Suami (Rp)
Istri (Rp)
Anak (Rp)
Lain-lain
Jumlah
Rata-rata

Pendapatan
2.100.000
1.800.000
0
0
3.900.000
1.300.000

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.4.3.3 Pendapatan dari Luar Pertanian Rumah Tangga Petani
Penyewa di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten
Boyolali Tahun 2013
Suami (Rp)
Istri (Rp)
Anak (Rp)
Lain-lain (Rp)
Jumlah
Rata-rata

Pendapatan
0
0
0
0
0
0

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan suami pada
petani penggarap dari luar pertanian terbesar dari responden di Desa Wates

48

sebesar Rp 177.725.000,-. Pendapatan istri yang berasal dari luar pertanian


sebesar Rp 31.480.000,- dan pendapatan anak yang berasal dari luar
pertanian yaitu Rp 25.170.000,-. Sedangkan pendapatan suami pada petani
penyakap sebesar Rp 2.100.000,-. Pendapatan istri yang berasal dari luar
pertanian sebesar Rp 1.800.000,- dan tidak ada anak yang bekerja di luar
pertanian. Rata-rata pendapatan suami diluar pertanian petani lebih besar
daripada pendapatan istri. Hal ini disebabkan karena banyak suami yang
bekarja menjadi buruh tani, buruh pabrik serta pensiunan PNS.

4. Total Pendapatan Rumah Tangga Responden


Tabel 4.4.4.4.1 Total Pendapatan Rumah Tangga Petani Penggarap di Desa
Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Usahatani sawah
Usahatani Lain
Dari Luar Usahatani
Jumlah
Rata-rata

Jumlah
228.471.500
132.853.900
234.900.000
597.932.400
22.145.644

%
38,21
22,21
39,28
100

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.4.4.2 Total Pendapatan Rumah Tangga Petani Penyakap di Desa
Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Usahatani Sawah
Usahatani lain
Dari Luar Usahatani
Jumlah
Rata-rata

Jumlah
12.616.500
36.026.000
3.900.000
52.530.500
17.510.167

%
24,01
68,58
7,42
100

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.4.4.3 Total Pendapatan Rumah Tangga Petani Penyewa di Desa
Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
Usahatani Sawah
Usahatani lain
Dari Luar Usahatani

Jumlah
0
0
0

%
0
0
0

49

Jumlah
Rata-rata

0
0

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel pendapatan responden rumah tangga petani
penggarap di atas, diketahui bahwa pendapatan diperoleh dari luar
usahatani yaitu sebesar Rp 234.900.000,- dari keseluruhan pendapatan
yang berjumlah Rp 597.932.400,- atau sekitar 39,28%. Sedangkan untuk
pendapatan responden rumah tangga petani penyakap dari luar usahatani
hanya sebesar Rp 3.900.000,- atau sekitar 7,42% dengan jumlah
seluruhnya Rp 52.530.500,-. Para petani memilih untuk bekerja sampingan
diluar usahatani untuk menambah penghasilan karena pendapatan dari
usahatani yang mereka miliki tidak selalu berhasil, adakalanya mereka
harus menanggung kerugian besar karena kondisi lingkungan yang tidak
mendukung.
Total pendapatan responden merupakan penjumlahan dari semua
sumber pendapatan yaitu dari usahatani (sawah) dan luar usahatani.
Setelah dilihat dari analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa
pendapatan terbesar diterima dari usahatani terutama untuk petani pemilik
penggarap. Hal ini disebabkan oleh luasnya lahan yang digarap oleh petani
dari pada bekerja diluar usaha tani yang hanya sebagai buruh.
5. Konsumsi Rumah Tangga Responden
Tabel 4.4.4.5.1 Konsumsi Rumah Tangga Petani Pemilik Penggarap di
Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun
2013
Konsumsi
Bahan Makanan
Bukan Makanan
Papan, pakaian, dll
Jumlah

Jumlah (Rp)
119.927.600
85.918.400
75.604.000
281.440.000

%
42,61
30,53
26,86
100

Sumber : Data Primer


Tabel 4.4.4.5.2 Konsumsi Rumah Tangga Petani Penyakap di Desa Wates,
Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Konsumsi

Jumlah (Rp)

50

Bahan Makanan
Bukan Makanan
Papan, pakaian, dll
Jumlah

10.113.000
6.504.000
6.146.000
22.763.000

44,43
28,57
27
100

Sumber : Data Primer


Berdasarkan kedua tabel di atas, dapat diketahui bahwa pengeluaran
konsumsi terbesar adalah konsumsi bahan makanan oleh petani pengarap
yaitu sebesar Rp 119.927.000,- dengan persentase sebesar 42,61%.
Kebutuhan lain pengeluarannya lebih kecil dibanding untuk kebutuhan
konsumsi bukan makanan yaitu Rp 85.918.000,- . Selain itu untuk
konsumsi papan, pakaian dan lain-lain adalah sebesar Rp 75.604.000,-.
Konsumsi

rumah tangga pada petani meliputi konsumsi bahan

makanan, konsumsi bukan makanan, dan konsumsi pakaian dan lain-lain.


Responden mengalokasikan pendapatan mereka untuk konsumsi makanan.
Hal ini wajar karena makanan adalah hal pokok bagi manusia. Konsumsi
paling sedikit adalah pada konsumsi pakaian dan lain-lain. Bagi petani bisa
makan saja sudah cukup, untuk keperluan-keperluan yang lain seperti
pakaian biasanya hanya dalam setahun sekali pada saat lebaran maupun
hari-hari besar. Pengeluaran-pengeluaran seperti itu dianggap tidak begitu
penting dan tidak mendesak.
6. Pendapatan, Konsumsi, Tabungan dan Investasi
Tabel 4.4.4.6.1 Pendapatan, Konsumsi dan Tabungan Rumah Tangga
Petani Pemilik Penggarap di Desa Wates, Kecamatan
Simo, Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
1. Total Pendapatan
2. Konsumsi
a. Bahan Makanan
b. Bukan Makanan
c. Pakaian, papan,dll
3. Tabungan
4. Investasi
Sumber : Data Primer

Jumlah
597.932.400

%
100

119.927.600
85.918.400
75.604.000

20,05
14,37
12,64
26,06
24,09

156.447.200
144.100.000

51

Tabel 4.4.4.6.2 Pendapatan, Konsumsi dan Tabungan Rumah Tangga


Petani Penyakap di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Keterangan
1.Total Pendapatan
2. Konsumsi
a. Bahan Makanan
b. Bukan Makanan
c. Pakaian, papan,dll
3. Tabungan
4. Investasi
Jumlah

Jumlah
52.530.500

%
100

10.113.000
6.504.000
6.146.000

19,5
12,387
11,69
30,06
26,65
100

15,767.500
14.000.000
52.530.500

Sumber : Data Primer


Menurut data pendapatan, konsumsi, dan tabungan responden di atas
dapat disimpulkan bahwa kehidupan perekonomian masyarakat di Desa
Wates sudah relatif baik. Mereka dapat menabung dan investasi karena
dari total penghasilan mereka yang sebesar Rp 650.462.900,-. Selain itu
mereka juga mengeluarkan biaya untuk konsumsi yang berjumlah Rp
304.213.000,-.
Konsumsi rata-rata terbesar per tahun yaitu petani pemilik penggarap
kemudian petani penyewa, sedangkan konsumsi rata-rata terkecil adalah
petani penyakap dan buruh. Selain digunakan untuk konsumsi para petani
juga memanfaatkan pendapatan mereka untuk tabungan dan investasi.
Tabungan dan investasi ini digunakan oleh petani untuk cadangan
keuangan apabila ada keperluan yang mendesak.
7.Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga
Tabel 4.4.4.7.1 Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Petani Penggarap
di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali
Tahun 2013
No.

Konsumsi

Jumlah

52

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Aktif Bekerja di Luar Pertanian


Memanfaatkan Bantuan Pemerintah
Memanfaatkan Bantuan Pihak Lain
Menyesuaikan Pengeluaran dengan
pendapatan saat itu
Mengoptimalkan penggunaan lahan
Meminjam ke bank
Berhutang pada saudara
Tidak Menyekolahkan anak ke jenjang lebih
tinggi
Menunggu Kiriman Keluarga yang dirantau
Memanfaatkan Lingkungan
Jumlah

17
12
8
23
24
1
1
4
4
18
112

Sumber : Data Primer

Tabel 4.4.4.7.2 Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Petani Penyakap


di di Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali
Tahun 2013
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Konsumsi
Aktif Bekerja di Luar Pertanian
Memanfaatkan Bantuan Pemerintah
Memanfaatkan Bantuan Pihak Lain
Menyesuaikan Pengeluaran dengan Pendapatan saat
itu
Mengoptimalkan penggunaan lahan
Meminjam ke bank
Berhutang pada saudara
Tidak Menyekolahkan anak ke jenjang lebih tinggi
Menunggu Kiriman Keluarga yang dirantau
Memanfaatkan Lingkungan
Jumlah

Jumlah
1
2
2
2
1
2
10

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa dalam bertahan
hidup, penduduk Desa Wates menerapkan cara yang berbeda-beda. Ada

53

yang bertahan hidup dengan cara merantau, bakul, buruh, bantuan


pemerintah, bantuan pihak lain, penyesuaian pendapatan konsumsi, hemat
barang, memanfaatkan pekarangan, hutang, batasi pendidikan, dan tunggu
kiriman. Cara yang paling banyak digunakan adalah mengoptimalkan
penggunaan lahan sedangkan cara yang paling sedikit digunakan adalah
berhutang dan minjam kepada saudara. Penyesuaian pendapatan konsumen
dan hemat barang merupakan cara yang paling banyak digunakan karena
merupakan cara yang mereka anggap paling mudah daripada harus
merantau ke kota lain atau ke luar pulau.

V.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum Ekonomi Pertanian yang telah dilaksanakan
di Desa Wates , Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Karakteristik Wilayah
a.

Desa Wates memiliki luas lahan pertanian sebesar 1304 ha.

b.

Luas bangunan yang ada di Desa Wates sebesar 380 ha

c.

Jumlah penduduk Desa Wates tahun 2013 adalah 4073 jiwa, dengan
jumlah kepala keluarga sebanyak 1141 KK.

d.

Tingkat pendidikan rata-rata orang tua penduduk Desa Wates hanya


tingkat SMP, sedangkan untuk anak mayoritas adalah SMA atau
SMK.

54

e.

Sebesar 46,94 % penduduk Desa Wates bermata pencaharian sebagai


petani. Adapun mata pencaharian lain yaitu peternak, pedagang,
montir dan perangkat desa atau PNS.

2. Karakteristik Petani
a.

Keadaan bangunan rumah penduduk hampir seluruhnya adalah


berdinding tembok, beratap genteng, sebagian berlantai ubin dan
keramik.

b.

Seluruh penduduk di Desa Wates sudah menggunakan penerangan


listrik. Sebagian besal telah menggunakan air PDAM. Sedangkan
untuk penggunaan bahan bakar, sebagian besar penduduk masih
banyak yang menggunakan kayu bakar, dan kayu bakar tersebut
dicari sendiri. Adanya konversi gas, sebagian besar penduduk telah
menggunakan gas untuk keperluan memasak.

c.

Bahan pangan pokok penduduk Desa Wates adalah beras yang


umumnya diperoleh dari usahatani sawah sendiri dan beberapa juga
ada yang membeli.

d.

Hewan ternak yang dipelihara berupa sapi, itik, dan ayam kampung.

e.

Sebagian besar penduduk masih menggunakan sepeda dan sepeda


motor untuk alat transportasinya.

f.

Sebagian besar penduduk memilih untuk berobat ke puskesmas


karena lebih dekat dengan rumah dan lebih murah dalam hal
biayanya.

g.

Pola pangan pokok penduduk tetap sepanjang tahun, yaitu nasi, tidak
ditemukan penduduk yang menderita lumpuh layu, gizi buruk, dan
penyakit menahun.

h.

Strategi bertahan hidup rumah tangga responden diantaranya dengan


aktif bekerja di luar pertanian, memanfaatkan bantuan pemerintah,
merantau ke kota atau ke daerah lain yang biasanya dilakukan oleh
anak yang sudah dewasa, menyesuaikan antara pengeluaran dan
penghasilan, dan mengoptimalkan penggunaan lahan

3. Pendapatan Petani

55

a.

Total biaya usahatani yang dikeluarkan untuk tiga kali masa tanama
adalah sebesar Rp 46.509.000,00

b.

Rata-rata penerimaan yang diperoleh seorang petani penggarap


adaalah sebesar Rp 10.853.120,00 sedangkan penerimaan petani
penyakap adalah sebesar Rp 2.215.000,00

c.

Pendapatan yang di terima dari usahatani sawah dari seorang petani


pemilik penggarap rata-rata sebesar Rp 8.288.240,00 sedangkan
untuk petani penyakap adalah sebesar Rp 4.205.500

d.

Biaya konsumsi rumah tangga petani, meliputi konsumsi bahan


makanan, konsumsi bukan makanan, dan konsumsi pakaian,
perumahan, dan lain-lain. Konsumsi bahan makanan memiliki ratarata sebesar Rp 4.441.762,00, konsumsi bukan bahan makanan
memiliki rata-rata sebesar Rp 3.080.746,00, sedangkan konsumsi
untuk pakaian, perumahan, dan lain-lain memiliki rata-rata sebesar
Rp 2.725.000,00.

e.

Rata-rata tabungan rumah tangga responden adalah Rp 5.740.490.


Rata-rata penduduk memiliki tabungan karena dapat menyisakan
pendapatan dan membedakan antara kepentingan berbelanja dan
menabung.

B. Saran
Setelah melakukan praktikum di Desa Wates, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut.
1.

Perlu dibangunnya sarana dan prasarana yang memadai, seperti jalan


desa yang lebih bagus, dan fasilitas-fasilitas pendidikan seperti gedung
sekolah lanjutan seperti SMP dan SMA, karena letak sekolah lanjutan
yang ada cukup jauh dari Desa Wates.

2.

Perlunya penyuluhan-penyuluhan pertanian, yang memberikan informasi


kepada petani sehingga petani dapat memaksimalkan hasil dari lahan
pertaniannya, untuk memenuhi kebutuhan.

56

3.

Jaringan

komunikasi

perlu

ditambah

untuk

memperlancar

arus

komunikasi sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan bagi petani


pada khususnya.
4.

Perlunya diversifikasi dalam penanaman komoditas pertanian untuk


meningkatkan pendapatan perorangan maupun pendapatan daerah
setempat.

5.

Pengembangan teknologi pertanian perlu ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA
Boediono. 2005. Karakteristik Desa.
Jakarta

Jurnal Kependudukan XI (4). PP PH.

Fakhri. 2005. Karakterisik rumah tangga tani di Lima agroekosistem wilayah


pengembangan SUT di Jawa Timur. Jurnal Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian, V (II) : 83-96
Faturohman.
2004.
Analisis
Pendapatan
Petani
di
Desa
http://ilmiahpertanian.blogspot.com/2008/04/analisis-perbedaanpendapatan-petani
Fauzi. 2003Strategi Alokasi Tenaga Kerja Pada Rumah Tangga Pedesaan, Studi
Kasus Desa Slendro, Kabupaten Sregen, Prisma No. 3, LP3ES, Jakarta
Hendayana, R. 2007. Dampak Penerapan Teknologi Terhadap Perubahan
Struktur
Biaya
Dan
Pendapatan
Usahatani
Padi.
http//www.binadesa.or.id. Diakses pada tanggal 10 Desember 2013.

57

Hendra.2007.Sejarah Pertanian. http://id.wikipedia.org/. Diakses pada tanggal 10


Desember 2013.
Hermanto, D dan Yuwono, P. 2003. Krisis Ekonomi, Dampaknya pada Hasrat
Menabung Rumah Tangga Kota dan Desa. Jurnal Studi Pembangunan
InterdisiplinXIII (5). Penerbit Program Pasca Sarjana UKSW. Salatiga
Ibrahim, Jabal T . 2003. Sosiologi Pedesaan. UMM Press. Malang.
Ilham . 2009. Proses Perubahan Sosial di Desa Jawa, Teknologi, Surplus Produksi
dan Pergeseran Okupasi. Jakarta: CV Rajawali
Indra. 2008. Membangun Desa. Jakarta : Penebar Swadaya
Jones. 2004. Petani Pedesaan. Aksara Offset. Yogyakarta.
Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan Problematika dan Pendekatam. Salemba.
Jakarta
Makemah. 2003. Analisis Usaha tani dan Keragaan Marjin Pemasaran Jeruk Di
Kabupaten Karo. Jurnal Ekonomi Pertanian, XXXVI (1) 72-94
Mubyarto.2005. Masalah Pertanahan di Indonesia dan Implikasinya Terhadap
Tindak Lanjut Pembaruan Agraria.Paper. Puslitbang Sosek Pertanian,
Badan Litbang Pertanian
Nurasa. 2003. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Ekonomi Rumah
Tangga Pertanian di Kelurahan Setugede Kota Bogor. Jurnal Agro
Ekonomi, Vol.23, No.2, Hal. 133-158
Nurmanaf. 2009. Struktur dan Stabilitas Pendapatan di Wilayah Berbasis Lahan
Sawah Tadah Hujan. Mutiara. Jakarta
Pratiwi. 2007.Kehidupan Petani Desa.http://www.balipost.co.id. Diakses pada
tanggal 10 Desember 2013.
Ramdhan.2007. Perjuangan Warga Desa untuk Memenuhi KebutuhanPangan.
http//www.ekonomirakyat.org. Diakses pada tanggal 11 Desember 2013.
Soekanto, S. 2009. Pengantar Politik Pertanian. Jurnal Pembangunan Pedesaan
III (2) Penerbit Lembaga Penelitian UNSOED. Purwokerto.
Soekartawi, Gatoet Sroe. 2009. Simulasi Dampak Perubahan Faktor-faktor
Ekonomi terhadap Ketahanan Pangan Rumah Tangga pertanian. Jurnal
Agro Ekonomi, Vol.21, No.1:1-25.
Syahza. 2003. Sosiologi Pedesaan I. Yogyakarta. UGM Press.

58