Anda di halaman 1dari 7

Konsep Pertanian Organik

Pertanian Organik adalah sistem produksi pertanian yang menghindari


atau sangat membatasi penggunaan pupuk kimia (pabrik), pestisida, herbisida, zat
pengatur tumbuh dan aditif pakan. Budidaya tanaman berwawasan lingkungan
adalah suatu budidaya pertanian yang direncanakan dan dilaksanakan dengan
memperhatikan sifat-sifat, kondisi dan kelestarian lingkungan hidup, dengan
demikian sumber daya alam dalam lingkungan hidup dapat dimanfaatkan sebaik
mungkin sehingga kerusakan dan kemunduran lingkungan dapat dihindarkan dan
melestarikan daya guna sumber daya alam dan lingkungan hidup. Pertanian
organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari
penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan
pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, pertanian organik meningkatkan
kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Penggunaan
masukan di luar pertanian yang menyebabkan degradasi sumber daya alam tidak
dapat dikategorikan sebagai pertanian organik. Sebailknya, sistem pertanian yang
tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik
dapat masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya
tidak mendapat sertifikasi organik.
Alam ciptaan Allah Taala mengajari kebajikan bagi umat manusia.
Alam merupakan suatu kesatuan, terdiri dari banyak bagian, seperti organisme
dengan organ-organnya. Semua bagian berjalan dalam harmoni, saling melayani
dan berbagi. Tiap organ memiliki peran masing-masing, saling melengkapi dan
memberikan sinergi untuk menghasilkan keseimbangan secara optimal, dan
berkelanjutan. Pertanian organik (PO) juga tunduk pada prinsip diatas, pada
hukum alam. Segala yang ada di alam adalah berguna dan memiliki fungsi, saling
melengkapi, melayani dan menghidupi untuk semua. Dalam alam ada keragaman
hayati dan keseimbangan ekologi. Maka, PO pun menghargai keragaman hayati
dan keseimbangan ekologi. Berjuta tahun alam membuktikan prinsipnya, tak ada
eksploitasi selain optimalisasi pemanfaatan. Demikian halnya PO, tidak untuk

memaksimalkan hasil, tidak berlebih; tetapi cukup untuk semua makhluk dan
berkesinambungan. Inilah filosofi mendasar PO.
Praktek pertanian yang menggunakan bibit unggul yang dihasilkan oleh
perusahaan benih, bahan-bahan kimia buatan pabrik (agrokimia) baik untuk
pemupukan lahan dan pengendalian hama awalnya dirasakan dapat meningkatkan
hasil produksi pertanian. Namun, setelah beberapa dekade, praktek tersebut
menimbulkan permasalahan khususnya terhadap kerusakan ekosistem lahan
pertanian dan kesehatan petani itu sendiri. Penurunan hasil pertanian yang
dibarengi dengan meningkatnya daya tahan hama dan penyakit tanaman,
disebabkan karena fauna tanah yang bermanfaat bagi tanaman semakin berkurang
dan mikroorganisme yang berguna bagi kesuburan tanah pun nyaris hilang akibat
pemakaian input agrokimia yang berlebihan. Bahkan, hama dan penyakit tanaman
bukannya menurun, tapi justru semakin kebal terhadap bahan-bahan kimia
tersebut. Sehingga, petani memerlukan dosis yang lebih tinggi lagi untuk
membasminya. Ini artinya, petani tidak saja menebar racun untuk membasmi
hama dan penyakit, tetapi juga meracuni dirinya sendiri.
Perhatian masyarakat dunia terhadap persoalan pertanian, kesehatan dan
lingkungan global dalam dasawarsa terakhir ini semakin meningkat. Kepedulian
tersebut dilanjutkan dengan usaha-usaha yang konkrit untuk menghasilkan pangan
tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumber daya tanah, air, dan udara serta
aman bagi kesehatan manusia. Salah satu usaha yang dirintis adalah dengan
pengembangan PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat,
bebas dari residu obat-obatan dan zat-zat kimia yang mematikan. Sebenarnya, PO
ini sudah menjadi kearifan/pengetahuan tradisional yang membudaya di kalangan
petani di Indonesia. Namun, teknologi pertanian organik ini mulai ditinggalkan
oleh petani ketika teknologi intensifikasi yang mengandalkan bahan agrokimia
diterapkan di bidang pertanian. Sejak saat itu, petani menjadi target asupan
agrokimia dan tergantung dari pihak luar. Setelah muncul persoalan dampak
lingkungan akibat penggunaan bahan kimia di bidang pertanian, teknologi PO
yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat mulai diperhatikan
lagi. (Sutanto, 2002).

Apa dan Bagaimana Budidaya PO ? PO merupakan pertanian yang selaras


dengan alam, menghayati dan menghargai prinsip-prinsip yang bekerja di alam
yang telah menghidupi segala mahluk hidup berjuta-juta tahun lamanya. PO
merupakan proses budidaya pertanian yang menyelaraskan pada keseimbangan
ekologi, keanekaragaman varietas, serta keharmonian dengan iklim dan
lingkungan sekitar. Dalam prakteknya, budidaya PO menggunakan semaksimal
mungkin bahan-bahan alami yang terdapat di alam sekitarnya, dan tidak
menggunakan asupan agrokimia (bahan kimia sintetis untuk pertanian). Lebih
jauh, karena PO berusaha meniru alam, maka pemakaian benih atau asupan yang
mengandung bahan-bahan hasil rekayasa genetika (GMO/Genetically Modified
Organism) juga dihindari.
Kerapkali PO hanya dipahami secara teknis bertani yang menolak asupan
kimiawi atau sebagai budidaya pertanian yang anti modernisasi atau disamakan
dengan pertanian tradisional. Pemahaman ini sungguh kurang tepat. PO bukan
sekedar teknik atau metode bertani, melainkan juga cara pandang, sistem nilai,
sikap dan keyakinan hidup. PO memandang alam secara menyeluruh,
komponennya saling tergantung dan menghidupi, dimana manusia juga adalah
bagian di dalamnya. Sistem nilai PO mendasarkan pada prinsip-prinsip hukum
alam. PO juga mengajak petani dan manusia umumnya untuk arif dan kreatif
dalam mengelola alam yang tercermin dalam sikap dan keyakinannya. PO juga
tidak menolak penggunaan teknologi modern di dalam praktek budidayanya,
sejauh teknologi modern tersebut selaras dengan prinsip PO, yaitu keberlanjutan,
penghargaan pada alam, keseimbangan ekosistem, keanekaragaman varietas,
kemandirian dan kekhasan lokal. Maka, baik kearifan tradisional dan teknologi
modern yang tunduk pada prinsip alam, keduanya mendapat tempat dalam PO.
Gerakan PO mencoba menghimpun seluruh usaha petani dan pelaku lain,
yang secara serius dan bertanggungjawab menghindarkan asupan dari luar yang
meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang
sehat. Mereka juga berusaha menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan
dengan cara memperbaiki kesuburan tanah dan menggunakan sumberdaya alami
seperti mendaur ulang limbah pertanian.Budidaya PO, juga mendorong

kemandirian dan solidaritas di antara petani sebagai produsen. Mandiri untuk


tidak tergantung pada perusahaan-perusahaan besar penyedia pupuk dan bahan
agrokimia serta perusahaan bibit. Solidaritas untuk berdaulat dan berorganisasi
demi mencapai kesejahteraan, pemenuhan hak dan keadilan sosial bagi petani.
Prospek Di Masa Depan. Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai
sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam
pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi
kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan Back to Nature
telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan
kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh
dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi
dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian organik
adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa
menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah
menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi
kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya
hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan
jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety
attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan
(eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan
permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.
Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik,
kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang
menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk
pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan
budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis
tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Peluang Pertanian
Organik di Indonesia Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di
Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha
pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan
(BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau

belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik.
Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang
belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan
demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara
intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan
lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.
Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk
pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay
oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar
produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh
seperti Jepang, Taiwan dan Korea. Potensi pasar produk pertanian organik di
dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas.
Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang
memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada
awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari
bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan
memproduksi komoditas tersebut. Areal tanam pertanian organik, Australia dan
Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin
dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar.
Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah
yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh
mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk
peternakan.
Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar
internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan
komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka
untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung
pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa
olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain. Pengembangan selanjutnya pertanian
organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global.
Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan

seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera
dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar
kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki
merek dagang.
Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur
kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian
intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi,
asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga
tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani. Pertanian Organik
Modern. Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem
pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern
berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem
produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik
modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan
sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan
makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup,
mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik
terus berkembang.
Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini
diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu
produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke
Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan
kimia lainnya. Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk
pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen.
Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu.
Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih
mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau
Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat
membatasi

penggunaan

pestisida

sintetis.

Pengendalian

OPT

dengan

menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk


merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian

dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait. Sertifikasi
Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti
misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat
penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan
hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.
Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem
pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi
era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik
Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.