Anda di halaman 1dari 10

A.

LATAR BELAKANG
Makanan yang aman merupakan faktor yang penting untuk meningkatkan
derajat kesehatan. Dalam Undang-undang RI No.7 Tahun 1996 tentang pangan,
keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan
untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, bendabenda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan manusia.
Akhir-akhir
meresahkan

ini

boraks

menjadi

salah

satu

topik

utama

yang

di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena begitu

banyaknya makanan yang beredar di masyarakat yang ditemukan mengandung


bahan tambahan pangan yang berbahaya

bagi

tubuh

yaitu

boraks.

Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang dilakukan


Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Jakarta, penyalahgunaan
boraks di Indonesia sebesar 8,8% dan ditemukannya sejumlah produk
pangan seperti bakso, mie basah, tahu dan siomay yang memakai boraks.
Produk pangan yang mengandung boraks itu dijual di sejumlah pasar dan
supermarket secara bebas (Adinugroho, 2013).
Pada

tahun

2011

dilaporkan

ada

(KLB)/kasus berasal dari 25 propinsi.


penyebab

KLB

disumbangkan

128 Kejadian

Luar

Biasa

Jenis pangan sebagai media

oleh pangan olahan dan pangan jajanan

masing-masing sebesar 12,50 persen. Berdasarkan tempat kejadian KLB


Keracunan Pangan, terlihat bahwa rumah tinggal (46%), di SD (19%), dan
di tempat terbuka (6%) (BPOM, 2011). Hasil

pengujian

sampel produk pangan jajan anak sekolah (PJAS) nasional

terhadap 3206
yang terdiri dari

mie basah, bakso, kudapan dan makanan ringan, diketahui 94 sampel


(2,93%) mengandung boraks dan 43 sampel (1,34%) mengandung formalin
(Damayanthi, 2013).
Banyaknya penggunaan bahan tambahan pangan seperti boraks tersebut
menjadi landasan dalam melakukan pemeriksaan terhadap cimol yang dijual di
daerah Jalan Kampus, Grendeng, Purwokerto. Hal tersebut dilakukan untuk
mengetahui keamanan pangan dan kelayakan konsumsi dari sampel yang
diteliti.

B. TUJUAN
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya kandungan boraks
dalam makanan.

C. TINJAUAN PUSTAKA
Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama
kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk
padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat
(H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat
deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Bahan berbahaya
ini haram digunakan untuk makanan (Cahyadi, 2008).
Menurut Rahmawati (2010), Natrium Tetraborat (Na2B4O7.10H2O)
adalah campuran garam mineral dengan konsentrasi yang cukup tinggi, yang
merupakan bentuk tidak murni dari boraks. Boraks berasal dari bahasa Arab
yaitu Bouraq, merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron dan
mudah larut dalam air. Boraks berbentuk serbuk kristal putih, tidak berbau,
tidak larut dalam alkohol dan memiliki PH : 9,5.
Senyawa asam borat ini mempunyai sifat sifat kimia sebagai berikut :
1. Jarak lebur sekitar 171oC.
2. Larut dalam 18 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 bagian
gliserol 85%, dan tak larut dalam eter.
3. Kelarutan dalam air bertambah dengan penambahan asam klorida, asam
sitrat, atau asam tartrat.
4. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya
pada suhu 100oC yang secara perlahan berubah menjadi asam
metaborat (HBO3).
Asam borat merupakan asam lemah dan garam alkalinya bersifat basa.
Satu gram asam borat larut sempurna dalam 30 bagian air, menghasilkan
larutan yang jernih dan tak berwarna. Asam borat tidak bercampur dengan
alkali karbonat dan hidroksida (Cahyadi, 2008).
Boraks atau yang sering disebut asam borat, natrium tetraborat atau
sodium borat, sebenarnya merupakan pembersih, fungisida, herbisida dan

insektisida yang bersifat toksik atau beracun untuk manusia . Boraks dipakai
sebagai pengawet kayu, anti septik kayu dan pengontrol kecoa (Yuliarti, 2007).
Pemerintah telah melarang penggunaan boraks sebagai bahan makanan dari
Juli 1979, dan dimantapkan melalui SK Menteri Kesehatan RI No
722/Menkes/Per/IX/1988, bahwa bahan makanan tambahan yang dilarang,
yaitu :
1. Asam borat dan senyawanya
2. Asam salisilat dan garamnya
3. Dietilpirokarbonat
4. Dulsin
5. Kalium klorat
6. Kloramfenikol
7. Minyak nabati yang dibromisasi
8. Nitrofurazon
9. Formalin
Boraks dalam makanan mempunyai efek negatif terhadap kesehatan.
Dalam jangka waktu lama walau hanya sedikit akan terjadi akumulasi
(penumpukan) pada otak, hati, lemak, dan ginjal. Pemakaian dalam jumlah
banyak dapat menyebabkan demam, depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan
berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan, kebingungan, radang kulit,
anemia, kejang, pingsan, koma bahkan kematian (Padmaningrum, 2013).
Alat yang dapat menguji boraks dalam makanan secara sederhana, cepat
dan praktis yaitu tester kit. Tester sudah banyak dijual bebas di pasar, namun
relatif mahal harganya. Selain itu, konsumen tidak mengetahui bahan kimia
(pereaksi) yang digunakan untuk menguji ada tidaknya boraks tersebut. Hal ini
menyebabkan tester kit tidak bias diisi ulang sehingga semakin mahal bila akan
dilakukan untuk tes rutin. Tester kit dapat dikembangkan berdasarkan reaksi
kimi yang spesifik antara boraks dengan pereaksi tertentu, yaitu pereaksi perak
nitrat, pereaksi barium klorida, pereaksi (alcohol dan asam sulfat) dan pereaksi
tumerik (Padmaningrum, 2013).

D. METODE
1. ALAT
a. Cawan porselin
b. Timbangan analitik
c. Mortar dan penggerus
d. Tabung reaksi dan rak tabung
e. Sendok
f. Pipet ukur dan filler

2. BAHAN
a. Sampel (cimol mentah)
b. Pereaksi I boraks
c. Pereaksi II boraks (kertas curcuma)
d. aquades

3. CARA KERJA
Ambil sampel yang telah dihaluskan
sebanyak 1 gram
Tambahkan 2 ml aquades lalu masukkan ke dalam tabung
reaksi
Tambahkan 10 tetes pereaksi I

Kocok dengan hati-hati 1 menit

Celupkan ujung kertas curcuma (pereaksi II)

Biaskan selama 10 menit

Lihat/amati perubahan warna merah/kemerahan

E. HASIL
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan terhadap pemeriksaan
kandungan boraks dalam makanan, dapat dlihat pada tabel.
Bahan Makanan

Sebelum
perlakuan

Cimol

Kertas
berwarna
kunyit

diberi Setelah

diberi

perlakuan
curcuma Kertas
kuning mengalami
warna

curcuma
perubahan
menajdi

kemerahan.

F. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap sampel
cimol yang diambil dari daerah Jalan Kampus, Grendeng, Purwokerto Utara
didapatkan hasil positif (+) mengandung boraks. Hal tersebut diketahui dengan
menggunakan metode testkit boraks bahwa terjadi perubahan warna pada
kertas curcuma menjadi kemerahan. Menurut hasil penelitian Padmanigrum
(2013) tester kit boraks digunakan untuk mengetahui ada tidaknya boraks
dalam sampel padat atau cair. Bila sampel positif mengandung boraks akan
diperoleh larutan berwarna merah muda.
Selain dengan metode testkit boraks, sampel dapat diketahui mengandung
boraks yaitu dengan tekstur dari cimol itu sendiri, antara lain yaitu kenyal,
tidak mudah berjamur, awet dan tidak mudah hancur. Hal tersebut dibuktikan
dengan penelitian Amir (2014) yang dapat diketahui pada uji kandungan
boraks pada bakso yaitu bakso yang mengandung boraks teksturnya lebih
kenyal, bila digigit akan kembali ke bentuk semula dan warnanya akan tampak
lebih putih. Ini berbeda dengan bakso yang baik, yang biasanya berwarna abuabu segar merata pada semua bagian baik dipinggir maupun ditengah. Bakso
dengan warna abu-abu tua menandakan bakso tersebut dibuat dengan tambahan
obat bakso yang berlebihan.
Penggunaan boraks sebagai bahan tambahan pangan selain bertujuan
untuk mengawetkan makanan juga bertujuan agar makanan menjadi lebih
kompak (kenyal) teksturnya dan memperbaiki penampakan. Dengan jumlah

sedikit saja telah dapat memberikan pengaruh kekenyalan pada makanan


sehingga menjadi lebih legit, tahan lama, dan terasa enak di mulut (Sulta,
2013).
Pemakaian boraks dan zat-zat warna tertentu dalam pembuatan makanan
jajanan tradisional dapat dikatakan telah membudaya. Dalam Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor: 722/MenKes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan
makanan dan Nomor: 239/MenKes/Per/ V/85 tentang zat-zat warna tertentu
yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya, boraks dan zat-zat warna tertentu
seperti halnya Methanil Yellow dan Rhodamin B dinyatakan sebagai bahan
yang berbahaya bagi kesehatan. Karena itu bahan-bahan tersebut dilarang
untuk digunakan dalam pembuatan makanan. Boraks dinyatakan sebagai bahan
berbahaya bagi kesehatan karena dari hasil percobaan dengan menggunakan
tikus menunjukkan sifat karsinogenik. Dalam makanan boraks akan terserap
oleh darah dan disimpan di dalam hati. Karena tidak mudah terlarut dalam air
boraks bersifat kumulatif. Boraks di dalam tubuh dapat menimbulkan
bermacam-macam gangguan. Gangguan-gangguan umum yang ditimbulkan
boraks adalah sebagai berikut :
1. Dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan bayi, terutama mata
2. Menyebabkan gangguan proses reproduksi.
3. Dapat menimbulkan iritasi pada lambung, kulit merah dan mengelupas.
4. Menyebabkan gangguan pada ginjal, hati, dan testes.
(Tubagus, 2013)
Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya kandungan boraks pada sampel
cimol yaitu sebagai berikut:
1. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan factor yang berasal dari luar makanan atau
bahan makanan itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dengan
kuisioner pada data pendidikannya menunjukkan bahwa penjual cimol
menempuh pendidikan pada tingkat pendidikan rendah, sehingga
berpengaruh pada pola pikir dan sikap dari narasumber. Hal tersebut
sejalan dengan peneltian yang dilakukan Sugiyatmi (2006) yang
menyatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat

pengetahuan pembuat makanan jajanan mengenai bahaya boraks dengan


sikapnya terhadap pengetahuan boraks dalam pembuatan makanan
jajanan tradisional.
2. Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari bahan makanan itu
sendiri. Faktor internal yang mempengaruhi adanya kandungan boraks
pada sampel cimol yaitu adanya kemungkinan pada bahan bakunya yang
telah mengandung boraks. Kemungkinan lain adalah pada saaat
penyimpanan bahan yang kurang sesuai, sehingga tercemar oleh boraks.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan terhadap sampel cimol
adalah positif (+) mengandung boraks, yang ditandai dengan terjadinya
perubahan warna menjadi kemerahan pada kertas curcuma yang digunakan.

H. DAFTAR PUSTAKA
Adinugroho, Nurjaya. 2013. Pengaruh Pemberian Boraks Dosis Bertingkat
Terhadap Perubahan Gambaran Makroskopis Dan Mikroskopis Hepar
Selama 28 Hari (Studi pada tikus wistar). Jurnal Media Medika Muda.
Hlm 1-10
Amir, Sakinah dan Saifuddin Sirajuddin Zakaria. 2014. Analisis Kandungan
Boraks Pada Pangan Jajanan Anak Di SDN Kompleks Lariangbangi Kota
Makassar. http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/10498 diakses
pada hari Senin, 15 Desember 2014, pukul 13.01 WIB
BPOM RI. 2011. Laporan tahunan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
tahun 2011. Jakarta: Badan POM RI
Cahyadi, Wisnu. 2008. Analisis Dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan
Pangan. Jakarta: Bumi Aksara
Damayanthi, Evy, dkk. 2013. Pendidikan Gizi Informal Kepada Penjaja
Makanan Untuk Peningkatan Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah
Dasar. Penelitian Gizi dan Makanan. Vol.36 (1): 20-30

Padmaningrum, Regina Tutik dan Siti Marwati. 2013. Tester Kit untuk Uji
Boraks dalam Makanan. Jurnal Penelitian Saintek. Vol. 18 (1) : 24-33
Sugiyatmi, S. 2006. Analisis Faktor-faktor Risiko Pencemaran Bahan Toksik
dan Pewarna pada Jajanan Tradisional yang dijual di Pasar-pasar Kota
Semarang tahun 2006. Tesis (dipulikasikan)
Sulta, P. 2013. Analisis Kandungan Zat Pengawet Boraks pada Jajanan Bakso
di SDN Kompleks Mangkura Kota Makasar. Makasar : Universitas
Hasanuddin
Tubagus, I, Gayatri, C. Fatimah. 2013. Identifikasi dan Penetapan Kadar
Boraks dalam Bakso Jajanan di Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi.
Vol. 2 (4) : 142-148
Yuliarti, Nurheti., 2007. Awas Bahaya di Balik Lezatnya Makanan.
Yogyakarta: Penerbit Andi.

LAMPIRAN

Foto 1. Sampel Cimol

Foto 3. Sampel diambil 1 gr

Foto 5. Sampel dicampur dengan


aquades

Foto 2. Cimol dihaluskan

Foto 4. Aquades 2mL

Foto 6. Sampel dimasukkan


ke dalam tabung reaksi

Foto 7. Sampel cimol dalam


tabung reaksi

Foto 9. Sampel yang dikocok

Foto 8. Sampel ditambahkan


pereaksi I

Foto 10. Kertas curcuma dicelupkan


salam sampel

Gambar 11. Hasil pemeriksaan yang dibandingkan dengan pembanding