Anda di halaman 1dari 11

BIG PAPER

MANAGEMENT CONTROL SYSTEM

PENILAIAN KINERJA PADA PT. ADHI KARYA TAHUN 2012-2013


DENGAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD

Dosen: Zuni Barokah, M.Soc.Sc., Ph.D.

oleh:
Okkytania Etikaningrum Parsetiorini
13/358200/PEK/18489

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

PENILAIAN KINERJA PADA PT. ADHI KARYA TAHUN 2012-2013


DENGAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD
Oleh: Okkytania Etikaningrum Parsetiorini
13/358200/PEK/18489

Intisari

Pegukuran kinerja sangat penting dalam implementasi strategi perusahaan, dan dengan
suatu pengukuran tertentu, kinerja harus diukur secara formal. Dengan balanced scorecard,
kinerja diukur dengan empat perspektif, keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta
pembelajaran dan pertumbuhan. Secara keseluruhan, dari tahun 2012 hingga tahun 2013 terjadi
peningkatan kinerja perusahaan PT Adhi Karya Tbk. terhadap keempat perspektif tersebut,
bahkan perusahaan telah memiliki pengukuran kinerja serupa dengan pendekatan balanced
scorecard yang dinamakan ADHI Score Card.
Kata Kunci: balanced scorecard, pengukuran kinerja, Adhi Karya

PENDAHULUAN

Latar Belakang
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) adalah salah satu BUMN yang bergerak di bidang
konstruksi dan merupakan pelopor di bidang ini serta berhasil mempertahankan posisi yang kuat
dalam persaingan. ADHI memiliki visi Menjadi Perusahaan Konstruksi Terkemuka di Asia
Tenggara. Sebagai bagian dari upaya memastikan pertumbuhan jangka panjang yang
berkesinambungan, ADHI terus menggulirkan transformasi bisnis melalui kebijakan lima lini
bisnis, yaitu Konstruksi, EPC, Properti, Realti, dan Investasi (di bidang infrastruktur).
Kelima kebijakan ini merupakan program ekspansi strategis yang mengarah pada
pengembangan usahanya dari sebuah bisnis konstruksi. Transformasi yang telah bergulir selama
beberapa tahun ini turut menunjang pencapaian hasil-hasil usaha ADHI yang terus meningkat
dari tahun ke tahun, dan merupakan platform utama ADHI dalam pengembangan usahanya.
Perseroan bahkan mendasari rencana pengembangan usaha jangka panjangnya pada ke-lima pilar
usaha tersebut di atas. Tujuan ekspansi tersebut adalah agar dapat lebih memanfaatkan sumber
daya dan pengetahuan Perseroan di bidang jasa konstruksi yang telah terbentuk selama lebih dari

lima dasa warsa. Selain membuka pintu terhadap peluang pertumbuhan jangka panjang dan
berkesinambungan, dengan program ekspansi, akan didapatkan manfaat lain yaitu pendapatan
yang lebih tinggi dan lebih beragam, dengan tingkat profitabilitas yang lebih baik.
Untuk mencapai strategi tersebut, diperlukan sistim pengukuran kinerja, karena
pengukuran

kinerja

menyediakan

mekanisme

untuk

menghubungkan

strategi

untuk

dilaksanakan. Balance Scorecard merupakan salah satu model pengukuran kinerja gabungan
antara ukuran kinerja keuangan dan non-keuangan dan merupakan contoh sistem ukuran kinerja
yang memelihara keseimbangan antara ukuran-ukuran strategis yang berbeda dalam usaha
mencapai tujuan. Dalam makalah akan dibahas bagaimana kinerja PT Adhi Karya (Persero) Tbk
jika dinilai dengan pendekatan balanced scorecard.

PEMBAHASAN

Tinjauan Perusahaan
Adalah Architecten-Ingenicure-en Annemersbedrijf Associatie Selle en de Bruyn,
Reyerse en de Vries N.V. (Assosiate N.V.) yang merupakan perusahaan Belanda dan kemudian
menjadi cikal bakal pendirian PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI). hingga akhirnya pada
tanggal 11 Maret 1960 dinasionalisasikan dan kemudian ditetapkan sebagai PN Adhi Karya dan
berdasarkan pengesahan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, pada tanggal 1 Juni 1974,
ADHI berubah status menjadi Perseroan Terbatas. Tahun 2004, ADHI telah menjadi perusahaan
konstruksi pertama yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Status Perseroan Terbatas mendorong ADHI untuk terus memberikan yang terbaik bagi
setiap pemangku kepentingan pada masa perkembangan ADHI maupun industri konstruksi di
Indonesia yang semakin melaju. Adanya intensitas persaingan dan perang harga antar industri
konstruksi menjadikan ADHI melakukan redefinisi visi dan misi: Menjadi Perusahaan
Konstruksi terkemuka di Asia Tenggara. Visi tersebut menggambarkan motivasi Perseroan untuk
bergerak ke bisnis lain yang terkait dengan inti bisnis Perseroan melalui sebuah tagline yang
menjadi

penguat

yaitu

Beyond

Construction.

Pertumbuhan

yang

bernilai

dan

berkesinambungan dalam Perseroan menjadi salah satu aspek penting yang senantiasa dikelola
ADHI untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat luas. Saat ini, ADHI memiliki ruang
lingkup bidang usaha yang mencakup:

Kontraktor Sipil dan Gedung


Terdiri dari proyek pembangunan fasilitas umum seperti bandar udara, jembatan, jalan
yang menjadi fasilitas publik luas.

Kontraktor Sipil mengerjakan bangunan-bangunan sipil milik Pemerintah maupun


swasta.

Kontraktor Gedung mengerjakan bangunangedung yang dimiliki Pemerintah


maupun swasta.

EPC (Engineering Procurement Construction)


Adalah kegiatan usaha yang meliputi perencanaan, pengadaan, dan sekaligus
mengerjakan konstruksinya yang dalam hal ini lebih menekankan pada jenis pekerjaan oil
& gas dan power plant.

Bisnis Properti
Merupakan sebuah kegiatan investasi di bidang pembangunan fasilitas gedung berupa
perkantoran, apartemen, dan hotel.

Bisnis Real Estate


Sebuah kegiatan investasi penyediaan fasilitas perumahan (landed house) dengan pola
cluster di tiap wilayah strategis. Terdiri dari pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan
dengan kawasan hunian yang berkualitas mewah, landed house dan rumah toko (ruko)
maksimal empat lantai baik itu dalam pengembangan lahan maupun dalam
pengembangan desain pemukiman.

Investasi
Terdiri dari proyek-proyek investasi infrastruktur dalam hal pembangkit tenaga listrik dan
jalan tol.

Infrastruktur: Mengutamakan pembangunan jalan tol dan monorail.

Perhotelan: Memanfaatkan aset Perseroan untuk dikembangkan menjadi hotel.

Power Producer (Independent Power Product/IPP & Public Private Partnership):


Investasi penyediaan power listrik.

Nilai Perseroan untuk mendukung Visi yang baru dalam rangka menciptakan tata kelola
Perusahaan yang sederhana, cepat, dan efisien, ADHI menetapkan untuk fokus pada tiga nilai
yang sesuai dengan visi dan misi ke depan. Fokus ini diperoleh dari nilai/budaya Perseroan yang
telah lama dibangun dan diformulasikan kembali agar mampu mendukung perencanaan bisnis

Perseroan yang telah ditetapkan. ADHI menetapkan tiga nilai yaitu: Bekerja Cerdas,
Berintegritas, dan Bersahaja

Landasan Teori
Balanced Scorecard merupakan salah satu model pengukuran kinerja gabungan antara
ukuran kinerja keuangan dan non keuangan dan merupakan contoh sistem ukuran kinerja yang
memelihara keseimbangan antara ukuran-ukuran strategis yang berbeda dalam usaha mencapai
tujuan. Balanced Scorecard bertujuan untuk memelihara keseimbangan antara ukuran-ukuran
strategis yang berbeda dengan pencapaian cita-cita untuk mendorong karyawan agar bertindak
sesuai kepentingan terbaik organisasi. Balanced scorecard untuk pertama kali dicetuskan oleh
Kaplan dan Norton pada tahun 1997 sebagai salah satu alat pengukuran kinerja pengganti
pengukuran kinerja secara tradisional. Balanced scorecard cocok diimplementasikan pada semua
jenis entitas bisnis karena semua entitas memerlukan sebuah sistem pengukuran yang mampu
menghitung ukuran-ukuran keuangan dan juga non-keuangan.
Perspektif-perspektif yang dijabarkan dalam balanced scorecard dapat merefleksikan
kebutuhan tiap-tiap pemangku kepentingan dan jika balanced scorecard diterapkan pada
perusahaan, maka perusahaan bisa mengawasi atau memantau hasil yang didapatkan perusahaan
dalam short term maupun long term. Dengan kata lain, balanced scorecard bisa
diimplementasikan pada semua organisasi bisnis yang menghasilkan produk maupun yang
menghasilkan jasa. Menurut para pendukung pendekatan ini, unit bisnis harus diberikan cita-cita
dan diukur dari 4 (empat) perspektif berikut ini:
1. Kinerja perspektif keuangan. Perspektif ini menggambarkan kondisi keuangan
perusahaan pada periode tertentu dalam kaitannya dengan penampilan perusahaan di
mata pemegang saham.
Pengukuran umum : return of capital, Economic Value Added, pertumbuhan penjualan
dan cash flow
2. Kinerja perspektif konsumen. Dengan perspektif ini digambarkan fokus terhadap
pemenuhan kebutuhan dan kepuasan konsumen serta menggambarkan pandangan
konsumen terhadap perusahaan.
Pengukuran umum : pangsa pasar, indeks kepuasan konsumen (CSI), retensi, akuisisi,
profitabilitas.

3. Kinerja perspektif proses bisnis internal. Perspektif ini memfokuskan pada apa yang
harus dilakukan oleh manajemen perusahaan di perusahaan. Proses internal yang harus
dilakukan adalah proses yang berkaitan dengan penciptaan barang atau jasa, yang dapat
menarik dan mempertahankan konsumen dan pada akhirnya bisa memuaskan keinginan
pemegang saham.
Pengukuran umum : identifikasi kebutuhan konsumen di masa yang akan datang, kualitas
biaya, pengurangan waktu siklus produksi.
4. Kinerja perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Dengan perspektif ini diidentifikasi
sarana yang seharusnya dibuat atau dibangun oleh perusahaan dengan tujuan
pertumbuhan dan perkembangan perusahaan dalam jangka panjang (long term). Hal ini
berkaitan dengan perbaikan dan kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai secara
berkesinambungan
Pengukuran umum : persentase penjualan produk baru, training, retensi dan keterampilan
karyawan.

Implementasi pada Perusahaan


Berikut adalah hasil pengukuran kinerja PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berdasarkan
keempat perspektif dalam pendekatan Balanced Scorecard:
1) Perspektif keuangan

Untuk mengukur kinerja keuangan PT Adhi Karya Tbk dapat digunakan beberapa alat
keuangan, seperti rasio keuangan, pertumbuhan pendapatan maupun cash flow. Dari laporan
keuangan ADHI, didapatkan informasi cash flow beserta pertumbuhannya yang tertera pada
Tabel 1.

Tabel 1. Pertumbuhan Keuangan PT Adhi Karya Tbk.


2012 (juta Rupiah)
Pendapatan Usaha

2013 (juta Rupiah)

Pertumbuhan (%)

7.627.703

9.799.589

28,5

Laba Usaha

792.396

918.751

15,9

Laba Bersih

211.590

405.977

91,9

Jumlah Aset

9.720.962

7.872.074

23,5

Jumlah Liabilitas

8.172.499

6.691.155

22,1

Jumlah Ekuitas

1.548.463

1.180.919

31,1

Sementara itu dari sisi pengembalian modal, didapatkan bahwa Return of Equity (ROE)
ADHI pada tahun 2013 adalah 36,7%, meningkat dari tahun 2012 dengan ROE 22,6%.
Begitu pula dengan Return of Investment (ROI) yang meningkat pada tahun 2013 dari 6,6%
menjadi 8,3%. Hal ini menunjukkan peningkatan kinerja keuangan oleh ADHI. ROI dan
ROE juga dapat digunakan oleh investor sebagai tolak ukur kepuasan penanaman modal,
dan peningkatan kinerja perusahaan merupakan sinyal atau pertanda baik yang akan
ditangkap investor.
2) Kinerja Perspektif Pelanggan
Pada perspektif pelanggan, ukuran kinerja yang digunakan adalah dari banyaknya
penghargaan yang diterima oleh perusahaan pada setiap tahunnya. Penghargaan adalah salah
satu bentuk apresiasi pihak luar atas kinerja yang telah dilakukan oleh perusahaan yang
menunjukkan kepercayaan oleh para pemangku kepentingan sebagai perusahaan professional
sekaligus mampu menjaga kualitas dan memenuhi kepuasan pelanggannya. Bertambahnya
penghargaan yang diterima ADHI menggambarkan kepuasan pelanggan yang semakin baik
dan dapat menjaga kepercayaan oleh para pemangku kepentingan.
Beberapa penghargaan diperoleh ADHI setiap tahunnya. Di tahun 2012, terdapat 9
penghargaan dan 4 sertifikasi yang diterima oleh ADHI, salah satunya adalah Corporate
Image Award 2012, didapatkan penghargaan Corporate Image Award 2012 Excellence in

Building and Managing Corporate Image dan sertifikasi System Manajemen Mutu ISO
9001:2008.

Sertifikasi melambangkan komitmen ADHI untuk menjamin kualitas yang

diberikan kepada pelanggan. Tahun 2013, ADHI juga mendapatkan beberapa penghargaan,
diantara 13 penghargaan tersebut terdapat penghargaan Superbrand 2014, nominasi website
BUMN terbaik oleh Berita Satu Media Holdings, Penetrasi Pasar Global oleh Kementrian
BUMN, dan perusahaan Terbaik dalam Pembentukan dan Pengelolaan Citra Perusahaan oleh
Frontier Consulting Group. Penghargaan-penghargaan ini menandakan kinerja ADHI yang
diakui oleh stakeholders-nya, dan salah satunya adalah pelanggan. Dari tahun 2012 ke tahun
2013, penghargaan yang diterima oleh ADHI semakin bertambah, termasuk penghargaan
dalam kinerjanya mengelola hubungan dengan pelanggan dan menjaga citra perusahaan.
Bertambahnya penghargaan ini menandakan adanya peningkatan kinerja persepsi pelanggan.
3) Kinerja Perspektif Proses Bisnis Internal
Dalam pengukuran kinerja perspektif proses bisnis internal, dilakukan pengukuran
terhadap proses yang berkaitan dengan penciptaan barang atau jasa, yang dapat menarik dan
mempertahankan pelanggan. Ukuran dari perspektif ini adalah banyaknya terobosanterobosan yang dilakukan untuk meningkatkan nilai perusahaan dam produk barang maupun
jasa. Semakin banyak terobosan baru yang dilakukan oleh perusahaan, maka akan baik
kinerja perusahaan tersebut
Dalam proses bisnis internalnya di tahun 2013, ADHI mendirikan dua pabrik precast
concrete yakni wilayah barat di Sadang dan wilayah timur di Mojokerto, yang pada mulanya
dikelola secara divisional. Hal ini tidak lain merupakan langkah ADHI dalam lini bisnis
Investasi di Infrastruktur, sekaligus mendukung program bisnis transportasi moda monorel.
Selain mendirikan dua pabrik, ADHI secara bertahap dan menyeluruh terus
membangun Teknoligi Informasi yang dimilikinya. Penerapan Teknologi Informasi yang
canggih sangat diperlukan untuk memenangkan persaingan di pasar. ADHI secara
berkesinambungan meningkatkan kapasitas backbone networking yang merupakan teknik
atau infrastruktur dalam jaringan komputer yang menghubungkan beberapa jaringan lokal
dan bagian-bagian jaringan lainnya dengan menyediakan path untuk dapat mengubah paket
informasi antara LAN dan subnetwork yang berbeda. Peningkatan kapasitas pada sistem ini
mampu memperlancar dan mempermudah proses pengiriman data. Sejak tahun 2012, ADHI

telah meningkatkan kapasitas backbone networking hingga empat kali lipat dari tahun
sebelumnya.
Selain itu pada periode 2013, Perseroan terus mengembangkan integrated
management system yang dapat menghubungkan sistem data dan laporan manajemen Kantor
Pusat dengan daerah atau proyek, sehingga memudahkan akses pengiriman data yang
terkomputerisasi dan cepat. Perusahaan juga telah memetik manfaat dari dibentuknya unit
kerja baru yaitu System Management & IT Departement yang menjadi satu kesatuan dengan
Human Resources Department pada tahun 2012. Pengelolaan System Management & IT
dengan cepat memenuhi kebutuhan sumber daya manusia sesuai permintaan proyek yang
sedang berjalan.
Dengan dibangunnya dua pabrik precast concrete yakni wilayah barat di Sadang dan
wilayah timur di Mojokerto, meningkatkan kapasitas backbone networking secara
berkesinambungan dan mengembangkan integrated management syste, di tahun 2013, ADHI
telah melakukan peningkatankinerja proses bisnis internal dan menngkatkan nilai produk
yang dihasilkan sehingga meningkatkan profit perusahaan dan kepuasan pelanggan. Hal ini
diperkuat dengan diberikannya peghargaan Penerapan Inovasi teknologi terbaik pada Sektor
Instruktur oleh Kementrian BUMN.
4) Kinerja Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Dalam menilai kinerja perusahaan pada perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan,
pengukuran yang dapat digunakan adalah banyaknya pendidikan, pelatihan dan sertifikasi
yang diberikan perusahaan kepada karyawan. Jika jumlah pendidikan, pelatihan dan
sertifikasi yang dilakukan bertambah, maka terjadi peningkatan kinerja, begitupula
sebaliknya, kinerja akan menurun jika pembelajaran yang diberikan kepada karyawan
menurun.
ADHI menyadari pentingnya pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik,
konsisten, dan berkesinambungan, yang dikelola dan dilaksanakan dengan efisien dan efektif
agar dapat mencapai masa depan yang cemerlang. Untuk itu, ADHI menyelengarakan
pelatihan-pelatihan menambah keterampilan dan pengetahuan sumber daya manusia yang
dimiliki. Tahun 2012, ADHI menyelenggarakan pelatihan dan pengembangan SDM pada
setiap bidang produksi, umum, keuangan, serta project management yang bertujuan untuk
meningkatkan kompetensi, keahlian, dan keterampilan setiap karyawan dan mengeluarkan

biaya

pelatihan

sebesar

Rp

2.757.395.166.

Selama

periode

2013,

ADHI

juga

menyelenggarakan pelatihan dan pengembangan SDM pada setiap bidang produksi, yaitu
proyek umum, manajemen proyek, EPC, teknik perlistrikan, project engineering, project
production, keuangan proyek, perencanaan, implementasi, quantity surveying, scheduler,
pengendalian biaya, QHSE, peraturan perpajakan, team building dan kepemimpinan. Dengan
pelatihan tersebut, ADHI mengeluarkan pelatihan sebesar Rp 1,4 miliar, mencakup 1.493
personil dengan rata-rata biaya pelatihan sebesar Rp952.000 per orang.
Terjadi

penurunan pengeluaran untuk pelatihan karyawan yang selaras dengan

jumlah pelatihan atau pekerja yang dilatih, mengindikasikan adanya penurunan kinerja dari
perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dari tahun 2012 ke tahun 2013. Hal ini
diperkirakan karena adanya pengajuan sertifikasi system manajemen K3 ISO 14001:2004,
system manajemen Mutu ISO 9001:2008 dan system manajemen K3 ISO 18001:2007 dalam
satu tahun, yaitu di tahun 2012. Meskipun demikian, hal ini tidak menunjukkan penurunan
kualitas dari jasa konstruksi yang dilakukan oleh ADHI secara keseluruhan.

Key Performance Indicator (KPI)


Setiap tahunnya, ADHI telah merancang Key Performance Indicator atau KPI yang
merupakan sasaran Perusahaan dan telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP) yaitu berupa ADHI Score Card yang terdiri dari parameter-parameter
sebagai berikut: 1) Pemasaran, 2) Keuangan, 3) Produksi, dan 4) SDM. Pencapaian KPI ini
akan mempengaruhi remunerasi Direksi dan Dewan Komisaris tahun anggaran mendatang.
ADHI scorecard memiliki prinsip dan parameter yang serupa dengan Balance Scorecard
yang ada, dan dimungkinkan merupakan Balance Scorecard yang telah disesuakan dengan
kebutuhan perusahaan. Dengan adanya kesesuaian ini, dapat disimpulkan bahwa prinsip
Balance Scorecard dapat digunakan oleh ADHI untuk mengukur kinerja perusahaan.

PENUTUP

Simpulan

Balanced Scorecard merupakan pengukuran kinerja gabungan antara ukuran kinerja


keuangan dan non keuangan dan pemelihara keseimbangan antara ukuran-ukuran strategis yang
berbeda dalam usaha mencapai tujuan. Dari keempat persperktif kinerja, yaitu keuangan,
pelanggan, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan, maka dapat disimpulkan
bahwa secara keseluruhan kinerja PT Adhi Karya (Persero) Tbk dari tahun 2012 hingga tahun
2013 mengalami peningkatan, tercermin pula dari penghargaan-penghargaan yang didapatkan
oleh perusahaan terhadap fungsi keuangan, pemasaran, pemeliharaan sumber daya manusia dan
produksi jasa. Perusahaan memiliki pengukuran kinerja serupa dengan balanced scorecard yang
dinamakan ADHI Score card mencakup penilaian terhadap parameter pemasaran, keuangan,
produksi dan pengembangan sumber daya manusia. Dapat disimpulkan bahwa perusahaan
memiliki pengukuran kinerja yang baik dalam implementasi strategi dan terus berusaha
mencapai goal congruence.

DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Robert N and Vijay Govindarajan. 2007. Management Control System 12th Edition.
New York: Mc Graw-Hill Companies
Christina, Ni Putu Yessy dan I Putu Sudana. 2013. Penilaian Kinerja pada PT. Adhi Karya
dengan Pendekatan Balanced Scorecard. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 5.3
(2013):516-529
PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Annual Report Tahun 2012. Jakarta, Indonesia
PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Annual Report Tahun 2013. Jakarta, Indonesia

Anda mungkin juga menyukai