Anda di halaman 1dari 8

Manajemen Berbasis Sekolah

Bagaimanakah Manajemen Peserta Didik Terkait Pendekatan Manajemen Berbasis


Sekolah (MBS) Dalam Membina Karakter Siswa SMPN 198 Jakarta?
Oleh:
Ruth May
Pascasarjana Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta

Penulis hendak mengungkapkan tentang MBS yang dapat mendukung pendidikan


karakter siswa di SMPN 198 Jakarta melalui manajemen peserta didik. Berdasarkan fakta di
lapangan, tahun ini sudah ada 7 siswa yang drop out dikarenakan siswa yang memiliki
pelanggaran-pelanggaran tata tertib sekolah. Tentunya sikap-sikap yang ada pada siswa-siswa
tersebut merupakan karakter yang tidak baik. Oleh karena itu perlu ditangani manajemen
peserta didik dalam pembinaan karakter siswa melalui berbagai kegiatan kesiswaan di SMPN
198 Jakarta.
Sekolah merupakan bagian integral dari masyarakat, sekolah adalah lembaga social
yang berfungsi untuk melayani masyarakat dalam bidang pendidikan, sedangkan masyarakat
adalah pemilik sekolah sebab sekolah ada karena masyarakat memerlukannya, hak hidup dan
kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. Oleh karena itu, MBS menjadi
salah satu upaya untuk mewujudnyatakan tujuan nasional, dimana Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar bagi kepala
sekolah, guru, murid, dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah dengan
memberdayakannya dan mendorong mereka untuk mengambil keputusan-keputusan secara
partisipasif. Selain meningkatan mutu pendidikan nasional, tujuan MBS adalah untuk
mengembangkan prosedur kebijakan sekolah, memecahkan masalah-masalah umum yang
terjadi di sekolah, memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut,
sehingga sekolah dapat mencetak manusia yang cerdas, emosional, dan mempersiapkan
tenaga-tenaga pembangunan bangsa.
Problema manajemen sekolah yang diangkat dalam opini ini adalah manajemen peserta
didik. Manajemen peserta didik adalah upaya mengelola peserta didik mulai dari peserta didik
tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. Tujuannya yaitu untuk
mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan dan untuk menciptakan kondisi
lingkungan sekolah agar kegiatan pembelajaran di sekolah lancar, tertib dan teratur sehingga

tercapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. Salah satu tanggung jawab kepala
sekolah dalam manajemen peserta didik adalah memberi pembinaan siswa. Pembinaan siswa
dilakukan pada saat jam pelajaran di kelas atau di luar jam pelajaran.
Bagi siswa baru atau peserta didik baru, setelah menempuh proses Penerimaan Peserta
Didik Baru (PPDB) yang berjalan sesuai aturan pemerintah, maka siswa yang berhasil lolos
seleksi dan diterima di SMPN 198 Jakarta akan mengikuti kegiatan Masa Orientasi Peserta
Didik Baru (MOPDB). Orientasi peserta didik adalah kegiatan penerimaan siswa baru dengan
mengenalkan situasi dan kondisi sekolah tempat peserta didik itu menempuh pendidikan.
Situasi dan kondisi ini menyangkut lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah.
Tujuan diadakan kegiatan orientasi bagi peserta didik yaitu agar peserta didik dapat mengerti
dan mentaati segala peraturan yang berlaku di SMPN 198 Jakarta, agar peserta didik dapat
berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sekolah, agar peserta didik
siap menghadapi lingkungannya yang baru baik secar fisik, mental dan emosional sehingga ia
merasa betah dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah serta dapat menyesuaikan
dengan

kehidupan

sekolah.

Dengan

demikian,

mulailah

siswa

ditanamkan

nilai

kedisiplinannya dalam mematuhi tata tertib, kesantunan, kepedulian lingkungan sekolah,


kebersihan, dan percaya diri saat bertanya, menjawab, maupun menyampaikan pendapat.
Pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB), sekolah memiliki otonomi yang
luas dalam mengelola setiap kegiatan yang ada di dalamnya. Seperti pada tahun ajaran 20142015 yang lalu, sekolah membuat sendiri panitia dan mengatur kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan selama 3 hari. Pelaksanaannya diawali dengan upacara pembukaan dan diakhiri
dengan upacara penutupan dan pelepasan balon dilaksanakan selama 3 hari. Karena pada saat
itu berlangsung pada bulan Ramadhan, maka kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan lebih
banyak pesantren dan tidak banyak kegiatan baris-berbaris. Bagi siswa yang non-muslim,
pada saat siswa muslim pesantren, mereka ada kegiatan rohani pula di kelas lainnya. Hal ini
menanamkan nilai religious, toleransi antar umat beragama, dan menghargai keberagaman. Di
sekolah ini, belum pernah terjadi perloncohan dari berbagai tingkat pada masa MOPDB
karena semua dimonitor langsung oleh kepala sekolah dan guru, karena panitia teknis itu
adalah anggota OSIS sehingga masih perlu pengawasan ekstra terhadap anggota OSIS. Dalam
hal ini anggota OSIS ditanamkan nilai kepemimpinan dan tanggung jawab dalam
mengerjakan tugas mereka.
Sebelum peserta didik yang telah diterima pada sebuah lembaga pendidikan (sekolah)
mengikuti proses pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditempatkan dan dikelompokkan dalam
kelompok belajarnya. Pengelompokan siswa menggunakan prinsip memperhatikan

kemampuan intelegence siswa dimana siswa-siswa yang memiliki nilai pretest yang tinggi
saat MOPD maka dimasukkan ke dalam 1 kelas unggulan. Sedangkan, kelas lainnya dirandom tanpa kriteria apapun. Hanya tahun ini, kelas unggulan hanya ada di kelas 7 dan kelas
9. Kelas unggulan terdiri dari 30 siswa, namun kelas lainnya terdiri dari 35 siswa. Di sekolah
ini tidak ada kelas akselerasi, karena sekolah ini sekolah reguler. Pengelolaan yang demikian
membuat siswa yang memiliki kemampuan intelligence yang tinggi semakin termotivasi
untuk belajar dengan baik dan menghasilka prestasi-prestasi. Sedangkan siswa yang kurang
intelegence-nya tidak merasa di-marjinalkan karena ada teman-teman yang memiliki
kemampuan lebih darinya sehingga bisa membaur dan menolong. Biasanya siswa yang
kurang ini adalah siswa yang dikatakan bandel.
Pembinaan kedisiplinan siswa dikembangkan oleh sekolah melalui kegiatan
mensosialisasikan

peraturan

tata

tertib

siswa

secara

langsung

melalui

upacara,

mempublikasikan tata tertib di lingkungan sekolah melalui papan pengumuman di setiap


kelas, membiasakan perilaku disiplin di sekolah,

Kepala Sekolah, guru, dan tenaga

kependidikan juga turut memberikan contoh sikap disiplin, serta memberikan reward pada
siswa yang disiplin dengan pujian dan punishment bagi pelanggar disiplin misalnya diberi
hukuman membersihkan kaca kelas, dan lain sebagainya yang dapat mendidik mereka. Di
sekolah ini tidak menggunakan sistem poin, karena banyak kelemahan dalam sistem tersebut.
Selain itu, karena kurikulum 2013 ini sudah ada penilaian spiritual dan sosial, maka sudah
mendukung dengan ketertiban siswa. Jadi, jikalau ada siswa yang sudah melanggar peraturan
sekolah seperti membawa senjata tajam atau tawuran, maka ditangani langsung oleh guru
bimbingan konseling, dengan memanggil orang tua siswa ke sekolah. Apabila tiga kali
berturut-turut tidak ada jawaban dari orang tua, maka pihak sekolah mengunjungi rumah
siswa tersebut dan menyelesaikan masalah siswa. Tentunya, pihak sekolah mendorong agar
siswa tersebut berubah dan mau bersekolah kembali. Tetapi itu semua kembali kepada
keputusan siswa dan orang tua siswa.
Selain itu, dalam pembentukan karakter siswa, sekolah ini memiliki kebiasaan/budaya
seperti berdoa bersama sebelum memasuki kelas dan memulai pembelajaran, setiap jumat
pagi ada kegiatan olahraga bersama warga sekolah dan yasinan (berselang-seling), dan setiap
hari kamis ada kegiatan english day, jadi anak berani bicara dan berani mengeluarkan
pendapat.
Masyarakat di sekitar sekolah banyak preman, pencopet, bahkan ada juga orangtua yang
ditembak dan jasadnya dibuang gitu saja, hal ini menjadi tantangan sekolah karena banyak
warga yang tidak berpendidikan, pendidikannya buruk, sikapnya kurang baik.

Siswa pun kerap melakukan tawuran dengan siswa dari sekolah lain. Guru biasanya
memantau jika terdapat kaki tangan dari anggota OSIS, atau desas desus. Rawan terjadi
pulang sekolah.
OSIS kelas 9 banyak yang belum berani untuk berkomunikasi dan berorganisasi.
Adapula siswa yang serius, malas, tapi banyak yang senang dan bangga menjadi OSIS, dan
saat kegiatan semangat.
Kriteria harus sesuai KKM punya prestasi akademik di kelas, nepotisme tidak
dilakukan. Selama 1 bulan guru melihat calon kandidat OSIS. Program biasanya dibuat
bersama-sama.
Ekstakurikuler disini sudah banyak, tapi kurang tempatnya. Taekwondo dan Pencak
silat latihan dilakukan malam hari., karena tidak ada tempatnya. Pelatihnya oke, ada lomba
olimpiade, maka dilaksanakan untuk turut berpartisipasi dan berprestasi di bidang Pencak
Silat. Paskibra, bola, menggunakan lapangan. PMR biasanya di kelas. Undangan lomba dari
PMI, Dinas, Sekolah-sekolah. Pembinanya adalah guru-gruru yang memiliki tupoksi: hanya
bertanggung jawab, membina, dan melaporkan. bukan untuk melatih. Pelatih dari alumni yang
aktif, biaya transport.
Tata tertib dibuat sesuai dengan dewan guru dan norma-norma masyarakat. Ekonomi
yang kurang beruntung, bukan bermaksud untuk melanggar HAM, baju ga bersih petak kecil,
anak mau berubah sudah bagus, 6.20 masuk sekolah, yang kurang rapih dirapihkan, jadi selalu
dilihat di gerbang. Sekarang aturan dari dinas, siswa terlambat diberi hukuman yang mendidik
dan tidak boleh disuruh pulang. Jika telat berkali-kali, guru akan memberitahu orang tua
siswa. Menanyakan kondisi siswa mengapa sering telat. Ada saja komplen dari orang tua,
terkait hal ini, padahal beliau sudah menandatangani persetujuan dari orang tua. Ada juga
teladan dari keluarga yang tidak baik, atau memang anak itu sendiri yang sengaja telat.
Efektivitas buku penghubung membantu siswa, kita minta orang tua datang, untuk
melihat catatan pelanggaran yang dilakukan siswa. Ada kasus siswa yang dalam 3 bulan
hanya masuk 1 kali, untuk itu guru memanggil orang tua dan juga murid itu. Namun, setelah
meminta supaya sekolah tidak men-drop out siswa tersebut, namun siswa tersebut hanya
kembali 1 kali masuk saja dan akhirnya kembali dipanggil namun setelah ditanya ternyata
siswa tersebut mau sekolah jika ada motor, padahal keluarganya tidak mampu dan kakaknya
saja tidak sekolah karena tidak ada biaya. Kalau selama ini siswa hanya berpikir sekolah
hanya untuk gaya-gayaan. Karakter itu tidak hanya dibentuk di sekolah tetapi juga di rumah
dan di pergaulan. Orang tua juga mungkin terlalu sibuk bekerja, sehingga sekolah hanya

menasihati, karena hukuman pun tidak memiliki peranan yang membuat siswa sadar dari
kesalahannya. Tahun ini sudah ada 7 orang yang keluar dari sekolah SMPN 198 Jakarta.
Tidak semua siswa terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler karena siswa lebih suka mencari
kesenangan sendiri. Apalagi sekarang sudah banyak tempat hiburan gratis. Seharusnya
tempat-tempat demikian jangan dibiarkan gratis atau dibuka pada jam pelajaran. Karena
pendidikan bukan hanya ada di sekolah tapi juga di berbagai tempat. Mungkin mendidik di
sekolah itu hal yang baik. Tapi jika tempat hiburan melakukan mendidik itu hal yang kurang
baik. Daerah sekitar sekolah juga tidak ada lapangan jadi sulit untuk memakai. Jadi yang
dipakai adalah sabtu minggu.
Layanan khusus yang diselenggarakan di sekolah SMPN 198 Jakarta meliputi
bimbingan konseling, UKS, perpustakaan, laboratorium, koperasi sekolah, kantin sekolah,
kegiatan ekstrakurikuler. Layanan yang dilakukan oleh sekolah kepada siswa yang berbakat
meliputi perencanaan yang jelas, pelaksanaan yang sistemik, evaluasi secara berkala, tindak
lanjut pengembangan.
Layanan Bimbingan Konseling (BK) untuk menunjang pengarahan minat siswa untuk
menempuh sekolah yang lebih tinggi, untuk konsultasi siswa, dan untuk mengatasi siswa yang
bermasalah, sehingga mereka memahami dan mengarahkan diri serta bertindak dan bersikap
sesuai dengan tata tertib dan situasi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Guru BK
melayani setiap pagi dan siang.
Layanan UKS di sekolah ini memiliki kegiatan seperti melayani siswa yang pingsan
saat upacara hari senin, UKS juga bekerja sama dengan PUSKESMAS daerah sekitar sekolah
ini dan telah mengadakan penyuluhan mengenai bagaimana wanita menjaga kesehatan alat
kelamin wanita dan bagaimana menangani menstruasi. Selain itu, sekolah ini juga bekerja
sama dengan PKBI (Program Keluarga Berencana Indonesia), yaitu kelompok untuk
menanggulangi HIV/AIDS, dengan kegiatan seperti dance for life (kegiatan olahraga).
Layanan perpustakaan di sekolah ini anak diwajibkan untuk membaca setiap hari, di
depan ruang perpustakaan juga disediakan bangku-bangku untuk siswa-siswi agar nyaman
saat membaca buku. Hal tersebut diupayakan untuk membudayakan budaya membaca.
Layanan Koperasi membantu untuk menunjang kebutuhan siswa.
Layanan Ekstrakurikuler memiliki berbagai macam kegiatan. Kegiatan ekstrakurikuler
adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu
pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat peserta didik
melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga
kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler

yang diselenggarakan di SMPN 198 Jakarta meliputi ROHIS, ROHKRIS, PASKIBRA, PMR,
Futsal, basket, silat, taekwondo, Pramuka, seni vokal grup. Kegiatan ekstrakurikuler
dilaksanakan pada hari sabtu dan tidak diwajibkan semua siswa mengikuti kegiatan tersebut
karena sekolah tidak ingin memaksa siswa. Tetapi, untuk kegiatan Pramuka wajib seluruh
siswa mengikuti karena pada kurikulum 2013 Pramuka menjadi mata pelajaran. Jadwal
pramuka setiap hari rabu dengan 2 shift yaitu anak pagi belajar sore hari, sedangkan anak
siang pramuka dimulai jam 10 siang. Ruang sekret ekstrakurikuler dan ruang audio tidak ada,
jadi barang-barang biasanya ditaruh di ruang OSIS. Pramuka, PMR, Seni Suara dan Musik,
Futsal, Basket, dan lain-lain.
Sekolah melakukan kegiatan pengendalian absensi, tinggal kelas, dan drop out dengan
adanya sistem perencanaan yang jelas meliputi tata tertib sekolah yang telah disusun, lalu
melaksanakan pengendalian yang sistemik, dan mengevaluasi secara berkala, selanjutnya
menindaklanjuti pengendalian absensi siswa yang sering tidak masuk, tinggal kelas karena
absen dan tidak memenuhi KKM, dan drop out bagi siswa yang bermasalah kasus yang besar
atau mengundurkan diri karena malu dengan teman sekolah.
Bagi siswa yang disiplin dan menerapkan tata tertib diberi reward pujian dan diberi
tanggung jawab.Bagi siswa yang tinggal kelas, biasanya Guru BK dan Guru Wali Kelas
memberi penjelasan dan motivasi untuk siswa supaya tidak malu dan semangat belajar.
Kegiatan pencatatan dan pelaporan ini dimulai sejak peserta didik itu diterima di
sekolah tersebut sampai mereka tamat atau meninggalkan sekolah tersebut. Pencatatan tentang
kondisi peserta didik perlu dilakukan agar pihak lembaga dapat memberikan bimbingan yang
optimal pada peserta didik. Sedangkan pelaporan dilakukan sebagai wujud tanggung jawab
lembaga agar pihak pihak terkait dapat mengetahui perkembangan peserta didik dilembaga
tersebut. Untuk melakukan pencatatan dan pelaporan diperlukan peralatan dan perlengkapan
yang dapat mempermudah. Peralatan dan perlengkapan tersebut berupa buku induk siswa,
buku klappe, daftar presensi, daftar mutasi peserta didik, buku catatan pribadi peserta didik,
daftar nilai, buku legger, dan buku raport.
Proses kelulusan adalah kegiatan paling akhir dari manajemen peserta didik. Kelulusan
adalah pernyataan dari sekolah tentang telah diselesaikannya program pendidikan yang harus
diikuti oleh peserta didik. Setelah peserta didik selesai mengikuti seluruh program pendidikan
di SMPN 198 Jakarta dan berhasil lulus UN, maka kepada peserta didik tersebut diberikan
surat ijazah.
Ketika peserta didik sudah lulus, maka secara formal hubungan antara peserta didiik dan
lembaga telah selesai. Namun, di SMPN 198 Jakarta, Kepala sekolah telah membentuk

komunitas Alumni, namun pengurusnya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Alumni-alumni


biasanya diminta sekolah untuk mengajari adik kelasnya dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Berikut merupakan kajian 5 aspek MBS dari komponen manajemen peserta didik:
1.

Aspek Otonomi
Kegiatan MOPDB, pengelompokkan siswa, dan ekstrakurikuler yang diadakan di
sekolah ini, disesuaikan dengan kondisi sekolah dan siswa.

2.

Aspek Akuntabel
Seluruh data siswa telah dilaporkan dalam dokumen-dokumen seperti buku induk siswa,
buku leger, buku hasil UN, dan sebagainya. Selain itu, guru-guru selalu memantau setiap
siswa agar taat terhadap tata tertib sekolah.

3.

Aspek Transparansi
Semua data siswa dapat dilihat oleh siapapun.

4.

Aspek Partisipasi
Alumni turut berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler. Begitu pula dengan kegiatan
lainnya, sekolah bekerja sama dengan Puskesmas, PKBI, dan universitas, misalnya dalam hal
PPL Mahasiswa UNJ mengajar di sekolah ini.

5.

Aspek Mutu
Pelayanan sekolah terhadap mutu siswa belum seluruhnya optimal. Hal tersebut
dibuktikan dengan banyaknya siswa yang memiliki prestasi non-akademik. Dalam prestasi
akademik, sekolah belum mencetak prestasi. Namun, sejauh ini, siswa SMPN 198 Jakarta
selalu lulus 100% dalam UN.
Solusi untuk masa depan: Kepala sekolah dan guru harus melihat dan menetapkan siswa mana
yang berpotensi untuk mencetak prestasi akademik. Selanjutnya,siswa diberi pelatihanpelatihan yang menunjang agar dapat berkompetisi di bidang akademik.
Solusi: partisipasif sekolah kurang kreativitas dlm memecahkan solusi tidak ada.
Kurangnya kekeluargaan. Seharusnya kepala sekolah dan guru-guru yang sudah tau banyak
siswa yang kurang mampu membuat iklim sekolah dimana mereka sangatlah berharga, dan
mereka memiliki kemampuan untuk membangun prestasi sekolah, bahkan siswa bisa menjadi
kebanggaan sekolah.
Oleh karena itu para stakeholders harus terlebih dulu mendapat sosialisasi MBS.
Kepada mereka diperkenalkan konsep MBS dan alasan-alasan mengapa sekolah harus
melakukan MBS serta keuntungan yang akan diperoleh dengan melaksnakan MBS.
Tanpa dukungan stakeholders MBS akan sulit diterapkan karena salah satu ciri dalam
MBS adalah partisipasi masyarakat

peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan
orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang
mengiringi penerapan kebijakan MBS.