Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam metode analisis karakteristik suatu benda atau sistem, diperlukan suatu
sistem rekayasa atau permodelan. Sistem rekayasa dapat ditentukan dengan membuat
runtutan percobaan secara fisik menggunakan model yang sesuai dengan kondisi aslinya.
Percobaan dengan model dimaksudkan untuk mensimulasikan kondisi nyata dari suatu
sistem yang di modelkan. Proses simulasi ini memperkirakan respon atau kinerja suatu
sistem menggunakan serangkaian nilai dari parameter atau variabel dari sistem tersebut.
Permodelan juga dapat dilakukan secara matematis ataupun numerik dengan menggunakan
bantuan software. Dengan demikian simulasi secara umum dapat didefinisikan sebagai
proses replikasi kondisi nyata berdasarkan serangkaian asumsi dan model yang ada.
Salah satu cara untuk menganalisis suatu sistem dapat dilakukan dengan metode
AFOSM (Advanced First Order Second Moment) dimana metode ini digunakan untuk
menentukan moda kegagalan yang memiliki fungsi tidak linear, sehingga diperlukan
moetode khusus untuk penyelesaiannya. Dalam kasus yang diangkat dalam tugas ini adalah
dimana metode AFOSM digunakan untuk menentukan moda kegagalan pada struktur
penopang tandon air yang dimana memiliki fungsi tegangan buckling yang tidak linear,
sehingga diselesaikan dengan metode AFOSM.
1.2

Rumusan Masalah
Dari penjabaran latar belakang diatas, maka dapat ditarik sebuah rumusan masalah
bagaimana cara menentukan moda kegagalan dari suatu struktur penopang tandon air
(struktur tunggal). Jika diketahui data-data sebagai berikut:
P
E
I

1.3 Tujuan

= 50 kN
=
= 8,67 kN

P
E
I

= 5 kN
=
= 0,4335

Tujuan dari tugas ini adalah mampu menyelesaikan permasalahan moda kegagalan
dengan metode AFOSM. Dalam kasus ini, mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan suatu
permasalahan dengan metode AFOSM tentang bagaimana cara menentukan moda kegagalan
dari suatu struktur penopang tandon air (struktur tunggal).

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 AFOSM (Advanced First Order Second Moment)


AFOSM (Advanced First Order Second Moment) menggunakan konsep ketidakpastian
pada titik linearisasi untuk memperoleh nilai indeks keandalan.Pendekatan kami untuk mengatasi
masalah dengan metode ini adalah untuk mengimplementasikan algoritma Advanced First Order
Second Moment (AFOSM) untuk menyelesaikan persoalan moda kegagalan crushing. Dalam
metode baru ini, penyelesaian masalah menggunakan variabel tidak pasti. Segala parameter
statistic dari variabel tidak pasti ditentukan dengan menggunakan nilai saat variable terdefinisi.
Untuk tujuan ini, model optimasi dikembangkan berdasarkan rumusan yang diterapkan. Metode
yang diusulkan sesuai untuk menentukan probabilitas kegagalan tanpa bantuan simulasi. Metode
MVFOSM khususnya yang menggunakan pendekatan ekspansi Taylor, memiliki kelemahan
pokok, yaitu inkonsistensi . Hal ini dikarenakan ada ketidakpastian pada titik linierisasi yang
harus dipilih dan fungsi kinerja FK (X) ditulis secara berbeda (namun secara matematis
ekuivalen) untuk metode kegagalan yang sama, akan diperoleh indeks kegagalan yang berbeda.
Untuk mengatasi persoalan ini, Hasofer dan Lind mengajukan metode AFOSM yang
dikembangkan berdasarkan interpretasi geometri atas fungsi kinerja FK (X) yang linier. Apabila
semua perubah dasar X ditransformasikan menjadi perubahan dasar baku Z (dengan xi = 0 dan
xi = 1) melalui transformasi berikut:

Maka indeks keandalan adalah jarak terdekat dari titik origin 0 ke bidang kegagalan (failure
surface) FK (X) = 0. Interpretasi ini dipakai untuk menentukan titik linierisasi untuk fungsi
kinerja FK (X) nonlinier. Melalui transformasi dengan persamaan di atas, xi dipetakan ke titik 0
dalam ruang perubah acak baku Z.
Apabila semua perubah dasar X terdistribusi secara normal Gaussian. Perhitungan untuk
menentukan apabila FK (X) nonlinier harus dilakukan secara iterative. Apabila didefinisikan
sebuah vector normal satuan yang tegak lurus terhadap bidang singgung di titik A pada bidang
kegagalan FK (Z) = 0, maka jarak dari titik 0 ke A adalah , dan Z i = . Dalam ruang umum

berdimensi n, maka = (1, 2, , n), dan indeks keandalan adalah jarak yang ditentukan
dengan menyelesaikan n + 1 persamaan berikut:
FK (1, 2, , n) = 0

Dimana k adalah resultan panjang vector satuan yang dipakai sebagai pembagi untuk
memperoleh vector satuan pada arah Zi ; n adalah jumlah perubah dasar. Konstanta h dihitung
sebagai berikut:

BAB III
PEMBAHASAN

STUDI KASUS:
Sebuah struktur peopang tandon air berbahan mild steel, akan menopang beban
tandon air dengan data-data sebagai berikut:
V

= 5 m3 air
= 1000 kg/m3
=1t

Dengan ilustrasi struktur penopang tandon air sebagai berikut:

5m = l

Tentukan moda kegagalan dari moda struktur tersebut:

3.2AFOSM (Advanced First Order Second Moment)


Terdapat sebuah tendon air dengan data sebagai berikut :
Data
y
P
A

(rata-rata)
150 MPa
50 kN
100 cm2

(standard deviasi)
10 MPa
10 kN
10 cm2

Tandon Air

Dasar

Hitunglah Index Keandalan dari moda kegaggalan crushing dari struktur diatas !

Pertama kita ubah model struktur diatas menjadi lebih sederhana

M(x)

Kita tentukan persamaan moda kegagalan crushing


= x P/A
= X1-(X2/X3)

Z1

Merumuskan variable-variabel dasar yang random

Mencari parameter statistic

Z1

X1

Z2

Z2

X2

Z3

Z3

X3

10-3. Z3 + 10-2

Fk

107 . Z1 + 15 . 107 (

107 . Z1 + 15 . 107

104 . Z2 + 5 . 104

=0

(107 . Z1 + 15 . 107) (10-3 . Z3 + 10-2) ( 104 . Z2 + 5 . 104) = 0


104 . Z1 . Z3 + 105 . Z1 + 15 . 104 . Z3 + 15. 105 104 . Z2 5 . 104 = 0

-1/k . (105 + 104 . . Z3)

-1/k . (-10-4)

-1/k . (15 . 104 . Z3+ 104 . . Z1)

Fk

105 . Z1 104 . Z2 + 15 . 104 . Z3 + 104 Z1 . Z3 + 145 . 104 = 0

Fk

-1/k . (10+ . Z3)

1/k

-1/k . (15 . Z3+ . Z1)

awal

10 . Z1 Z2 + 15 . Z3 + Z1 . Z3 + 145 = 0

1
2
3
4
5
6
7
8
2.00 6.92 8.17 7.90 7.24 6.63 6.21 5.97 5.86
0.50 0.53 0.64 0.75 0.82 0.85 0.86 0.86 0.85
0.50 0.22 0.09 0.02 -0.02 -0.03 -0.04 -0.05 -0.05
0.50 0.66
9
5.83
0.84
-0.05
1.03

0.81
10
5.84
0.83
-0.05
1.03

0.93
11
5.86
0.83
-0.05
1.02

1.00
12
5.89
0.83
-0.05
1.02

1.04
13
5.90
0.82
-0.05
1.02

1.05
14
5.91
0.82
-0.05
1.02

1.05
15
5.92
0.82
-0.05
1.02

1.04
16
5.92
0.83
-0.05
1.02

dengan nilai k = 194422,2


dan nilai Z ( - - - indeks keandalan) = 5,92
Sehingga melalui table probabilitas didapat nilai Pr (Z) = 0,999999998

Standard Normal Table - Cummulative Probability Distribution


Area under the Standard Normal Curve from for z at various values of
z
Enter z to find
Enter Prob, to
0.999999998
Pr[z]
5.92
find z
0
Pr[z]=
0.999999998
z=
5.88419335
Dapat diartikan bahwa kegagalan Tandon (Tangki Air) = 99 %