Anda di halaman 1dari 24

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
PROGRAM STUDI GEOFISIKA

PROPOSAL TUGAS AKHIR


Analisa Pola Gempa Tremor Vulkanik sebagai Indikasi terjadinya Erupsi pada kasus
Erupsi Gunung Merapi tahun 2010

NAMA : FATHIA LUTFIANANDA


NIM : 10/305568/PA/13533

YOGYAKARTA
OKTOBER
2014

USULAN TUGAS AKHIR S1

ANALISA POLA GEMPA TREMOR VULKANIK SEBAGAI INDIKASI TERJADINYA


ERUPSI PADA KASUS ERUPSI GUNUNG MERAPI TAHUN 2010

Diusulkan oleh :
Fathia Lutfiananda
10/305568/PA/13533

Telah disetujui
Pada tanggal 15 Oktober 2014

Dosen Pembimbing

Drs. H. Imam Suyannto, M.Si


NIP. 13189312

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang berada di atas pertemuan tiga lempeng besar, yang dua
diantaranya secara signifikan menunjukkan pergerakan tiap tahunnya, tiga lempeng tersebut
adalah lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasific. Sedangkan dua lempeng
yang aktif bergerak tersebut adalah lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia, dengan
lempeng Indo-Australia cenderung bergerak ke arah Utara dan lempeng Pasifik cenderung
bergerak ke arah Barat.
Keberadaan dari lempeng-lempeng tektonik ini mengakibatkan Indonesia memiliki
tatanan tektonik yang komplek di area dekat zona tumbukan sehingga menimbulkan fenomena
Fore arc, Volcanic arc dan Back arc. Fenomena Volcanic arc sendiri merupakan zona atau
gugusan gunung berapi aktif, yang di Indonesia berderet dari arah Utara pulau Sumatera, hingga
Timur-Laut Sulawesi. Jumlah gunung berapi di Indonesia yang terdeteksi hingga saat ini ada
400, dengan 130 diantaranya berstatus aktif. Akibat adanya jumlah gunung berapi aktif yang
cukup banyak ini, Indonesia memiliki resiko cukup besar terdampak bencana letusan gunung api.
Oleh karena itu dibutuhkan studi lanjut terhadap kejadian meletusnya gunung berapi agar
keselamatan dan kelangsungan hidup masyarakat dan hayati di sekitar gunung berapi dapat
terjamin.
Selanjutnya, kejadian meletusnya suatu gunung berapi sendiri, pada umumnya ditandai
dengan beberapa kondisi yang dapat dijadikan sebagai peringatan awal agar dapat segera
dilakukan usaha mitigasi bagi masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana. Beberapa
kejadian yang pada umumnya sering terjadi diantaranya adalah meningkatnya aktivitas seismik
pada gunung api, munculnya kubah lava, meningkatnya volume tubuh gunung, berubahnya unsur
kimia dan kandungan gas di kawasan sekitar gunung berapi, serta masih banyak lainnya. Dari
fenomena-fenomena tersebut, dapat diterapkan metode-metode yang dapat membantu
menganalisanya sehingga tingkat bahaya dari suatu peristiwa meletusnya gunung berapi dapat
semakin diminimalkan. Salah satu metode yang saat ini umum digunakan adalah pengamatan
terhadap aktivitas seismik gunung api, aktivitas tersebut pada umumnya disebut sebagai gempa
vulkanik.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, studi terhadap fenomena gempa


vulkanik juga semakin maju. Saat ini gempa vulkanik telah diklasifikasikan berdasar beberapa
kategori umum, diantaranya berdasar penyebabnya, besar frekuensinya, kedalaman sumbernya,
atau berdasar durasi kejadiannya. Salah satu gempa yang dapat diamati adalah gempa tremor.
Sampai saat ini gempa tremor masih cukup jarang dianalisa, akibat tingginya tingkat
kesulitan dalam penentuan gelombang P dan S yang berguna dalam pencarian hiposenter gempa.
Oleh karena itu, topik gempa tremor ini sangat menarik bagi penulis untuk dikaji lebih lanjut
pada tugas akhir ini dengan objek penelitian Gunung Merapi.

Gambar I.1 Lempeng Tektonik Aktif di Indonesia

Gambar I.2 Fenomena Volcanic Arc di Indonesia

I.2 Maksud dan Tujuan


Pada tugas akhir ini penulis memiliki maksud dan tujuan sebagai berikut :
1. Mengerti tahapan pengolahan data gempa vulkanik Gunung Merapi
2. Memahami klasifikasi gempa-gempa vulkanik
3. Mampu menentukan sumber dan penyebab gempa vulkanik
4. Memahami karakteristik gempa tremor
5. Mampu menentukan pola gempa tremor yang mengindikasikan terjadinya erupsi
6. Memberikan sumbangan kepada pihak BPPTKG terkait topik gempa tremor
7. Memenuhi salah satu mata kuliah wajib dan sebagai prasyarat mengikuti sidang untuk
mendapatkan gelar sarjana di program studi Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada.

I.3 Rencana Penelitian


Tema studi yang akan dilakukan penulis adalah pengamatan data monitoring seismic
Gunung Merapi dengan fokus gempa tremor pada rekaman data kejadian erupsi 2010, sehingga
mencakup sebelum, saat, serta pasca kejadian erupsi. Pelaksanaan dari tugas akhir ini diharapkan
pada :
Tanggal :

1 November 31 Desember 2014 (atau sesuai kebijakan instansi)

Tempat :

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi


(BPPTKG). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Badan
Geologi, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta 55166

No

Kegiatan

Minggu ke 1

Studi Pustaka

Pengenalan Software pengolah

data
3

Persiapan data

Pengolahan data

Konsultasi dan pelaporan


Tabel I.1 Rencana jadwal pelaksanaan tugas akhir

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Gunung Merapi

II.1.1 Letak Gunung Merapi


Gunung Merapi merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 2. 986 meter, yang
secara geografis terletak pada 732'30" LS dan 11026'30" BT, sedangkan secara administratif,
gunung ini termasuk ke dalam 4 kabupaten, yaitu kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di bagian
lereng Barat, kabupaten Sleman, D. I. Yogyakarta, di bagian lereng Selatan, dan kabupaten
Boyolali, Jawa Tengah, di bagian lereng Timur, serta kabupaten Klaten, Jawa Tengah di bagian
lereng Tenggara. Populasi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi cukup tinggi
dengan mata pencaharian utama pada umumnya adalah pertanian dan peternakan. Kondisi
hayati, baik flora maupun fauna di hutan lereng Gunung Merapi hingga saat ini masih cukup
baik, dan berada dalam kelola Taman Nasional Gunung Merapi, dengan luas area lindung sekitar
6.410 ha, dengan 5.126,01 ha di wilayah Jawa Tengah dan 1.283,99 ha di Daerah Istimewa
Yogyakarta.

II.1.2 Geologi Gunung Merapi


Secara fisiografi regional Jawa Tengah (Van Bemmelen, 1949) Gunung Merapi termasuk
pada bagian barat dari Zona Pegunungan Selatan dan hasil Depresi Tengah Jawa Bagian Selatan.
Lebih lanjut, Zona Pegunungan Selatan Jawa Tengah dibagi menjadi 3 wilayah geologi, yaitu
Baturagung range, Panggung Masif, dan Kembengan range.
Kemudian, penelitian Gunung Merapi dilakukan A.D Wirakusumah, dkk dengan
melakukan pemetaan geologi pada tahun 1989, dimana dari hasil pemetaan tersebut A.D
Wirakusumah, dkk menyimpulkan hanya terdapat dua pembagian waktu pembentukan dari
Gunung Merapi, yaitu Merapi Tua yang terdiri dari Endapan aliran piroklastika tua Merapi,
Endapan lahar tua Merapi, dan Aliran lava andesit piroksen, dan Merapi Muda yang terdiri dari
Aliran lava andesit piroksen, Endapan jatuhan piroklastika Merapi, Endapan aliran piroklastika
Muda dan Guguran Merapi, serta Endapan lahar Muda.

Studi lebih lanjut kemudian dilakukan oleh Berthommier (1990) yang kemudian
membagi proses pembentukan Gunung Merapi menjadi 5 tahap, yaitu :
1. Pra Merapi (>400.000 tahun yang lalu)
2. Merapi Tua (berumur 400.000 6.700 tahun yang lalu)
3. Merapi Menengah (6.700 2.200 tahun yang lalu)
4. Merapi Muda ( 2.200 600 tahun yang lalu)
5. Merapi Sekarang (sejak 600 tahun yang lalu)

Gambar II.1 Proses Pembentukan Merapi

Selanjutnya, kondisi geomorfologi dari Gunung Merapi saat ini dapat dibagi menjadi 4
satuan morfologi berdasarkan kelerengannya, yaitu :

1. Satuan Morfologi daerah Puncak Gunung Merapi


Berciri terjal, dengan ketinggian kisaran 2000 mdpl. Pola pengaliran radial. Kerucut
puncak umumnya dibangun oleh endapan paling muda berupa lava dan piroklastik

2. Satuan Morfologi daerah Lereng Atas


Berada pada ketinggian antara 1200 hingga 2000 mdpl, dengan morfologi melandai ke arah
Barat dan Selatan (curam-sedang). Pola pengaliran subparallel. Morfologi Lereng Atas
umumnya dibangun oleh endapan lava, piroklastik dan lahar.

3. Satuan Morfologi daerah Lereng Tengah


Terletak di ketinggian antara 600 hingga 1200 mdpl, memiliki kemiringan sedang dengan
pola pengaliran parallel. Satuan morfologi ini umum dibangun oleh endapan piroklastik,
lahar dan alluvial.

4. Satuan Morfologi daerah Lereng Bawah


Berada pada ketinggian 400 hingga 600 mdpl, kemiringan cukup landai, dengan sungai
sebagai jalur utama suplai material letusan. Satuan morfologi ini juga dibangn dari endapan
piroklastik, lahar, dan alluvial.

II.1.3 Riwayat Letusan Gunung Merapi


Letusan Gunung Merapi sudah tercatat sejak zaman kolonial Belanda, sekitar abad 17.
Letusan-letusan sebelum itu tidak tercatat dengan jelas, namun pada abad 7, kerajaan Mataram
kuno diperkirakan memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur akibat menghindari
letusan dari Gunung Merapi. Letusan-letusan selanjutnya yang tercatat dengan baik, sudah
masuk di periode Merapi baru. Selanjutnya letusan Gunung Merapi dapat dirangkum sebagai
berikut :

Periode 3000 hingga 250 tahun yang lalu, tercatat sekitar 33 letusan, dengan 7
diantaranya merupakan letusan besar. Satu dari tujuh letusan besar tersebut terjadi pada kisaran
tahun 150-500 (Andreastuti dkk, 2000)
Periode Merapi baru, pada abad 19 tercatat terjadi beberapa kali letusan besar (tahun
1768, 1822, 1849, 1872). Selanjutnya pada abad 20 juga terjadi letusan besar pada rentang tahun
1930 hingga 1931. Namun letusan yang terjadi pada kisaran abad 19 lebih besar dari pada abad
20, karena pada kejadian letusan 1872, awan panas mencapai 20 km dari puncak. Pada periode
ini letusan besar dapat diperkiran terjadi tiap 100 tahun sekali (Newhall, 2000).
Sejak tahun 1600-an, telah terjadi letusan lebih dari 80 kali, dengan kisaran letusan
terjadi 4 tahun sekali. Namun Merapi pernah mengalami masa istirahat panjang, sekitar 71 tahun
pada abad 16, tepatnya pada tahun 1587 hingga 1658.

II.2 Monitoring Gunung Api


Pengamatan terhadap Gunung Api sebenarnya didasarkan pada asumsi bahwa terdapat
sejumlah batuan cair atau magma yang bergerak menuju ke permukaan, sebelum terjadinya
letusan. Dimana pergerakan sejumlah massa yang semakin mendekat ke permukaan inilah yang
akan menyebabkan perubahan-perubahan yang dapat diamati dari atas permukaan. Selanjutnya,
ada cukup banyak metode pengamatan atau monitoring Gunung Api yang dapat diterapkan,
namun secara umum dapat dikelompokkan seperti berikut ini :

1. Deformasi Gunung Api


Metode ini berdasarkan prinsip perubahan bentuk tubuh Gunung Api, akibat di bawah
permukaan terjadi pertambahan massa, atau karena penyebab-penyebab lainnya yang dapat
mengindikasikan akan terjadinya erupsi. Pengamatan deformasi ini selanjutnya dapat
menggunakan metode GPS, Electrical Distance Measurament, Tilt, dan beberapa metode
hasil pengembangan lainnya

2. Aktivitas seismik atau kegempaan Gunung Api


Pengamatan berdasar kegempaan ini dikembangkan akibat adanya sejumlah volume magma
yang bergerak ke permukaan, akan menekan tubuh batuan di sekelilingnya, sehingga
mengaktifkan kembali sesar atau regangan-regangan yang ada di tubuh Gunung Api. Namun

selanjutnya aktivitas seismik ini dapat dikategorikan kembali dalam kelas-kelas yang lebih
specifik berdasar bentuk gelombangnya, sumbernya, atau kekuatan serta frekuensinya.
Pengamatan dilakukan dengan memasanga jaringan seismometer di titik-titik dekat puncak
dan lereng atas. Data yang direkam dikirim ke pusat pengamatan melalui serangkaian
pemancar.

3. Geokimia Gunung Api


Bersamaan dengan magma, terkandung sejumlah gas yang kadarnya tergantung oleh banyak
hal. Karena gas lebih mudah bergerak, sebagian diantaranya dapat lebih cepat mencapai
permukaan. Beberapa emisi gas yang umumnya diamati dalam usaha pemantuan gunung api
adalah Sulfur dioksida (SO2). Pengamatan dilakukan pada konsentrasi unsur ini, dari emisi
gas gunung api. Penggunaan emisi gas SO2 tidak dapat dijadikan dasar atau parameter utama
dalam prediksi kejadian erupsi, namun dapat digunakan sebagai data pendukung, dan
sebagai diagnosa awal bahwa terdapat potensi terjadinya erupsi. Sehingga pengamatan
terhadap tingkat emisi gas SO2 sangat baik digunakan sebagai evaluasi tingkat aktivitas
gunung api.

4. Perubahan sifat fisis Gunung Api


Akibat adanya pertambahan sejumlah massa yang bersifat panas di dalam tubuh gunung api,
akan terdapat beberapa sifat fisis yang dapat diamati dari atas permukaan dengan
menggunakan metode-metode geofisika. Diantaranya adalah metode gravitasi, magnetik,
geoelektrisitas, dan suhu. Pengamatan bisa dilakukan secara periodik, dengan mengambil
data pada benchmark-benchmark yang sudah ditentukan dalam rentang waktu tertentu. Hasil
pengolahan data kemudian dibandingkan dan diamati perubahannya dari waktu ke waktu.

II.3 Klasifikasi Gempa Vulkanik


Pengklasifikasian gempa vulkanik secara umum telah dilakukan oleh T. Minakami
(1974) dengan berdasarkan sumber dan perilakunya, menjadi beberapa tipe sebagai berikut :

1. Gempa Vulkanik tipe A (gempa dalam)

Gempa yang bersumber pada kedalaman 1 hingga 20 km. Umumnya muncul pada gunung
api aktif, namun cukup jarang ditemukan pada Gunung Merapi. Penyebab dari gempa ini
adalah adanya magma yang naik ke permukaan yang dengan disertai pembentukan rekahanrekahan. Ciri dai gempa vulkanik tipe A ini adalah memiliki waktu tiba gelombang P dan S
yang sangat jelas.

Gambar II.1 Gempa Vulkanik Tipe A

2. Gempa Vulkanik Tipe B (shock volcanic)


Merupakan gempa yang sumbernya terletak pada kedalaman kurang dari 1 km dari kawah
gunung api aktif sehingga dapat digolongkan sebagai gempa dangkal. Gempa ini umum
terjadi pada proses pembentukan kubah lava. Memiliki ciri gerakan awal yang cukup jelas
namun waktu tiba gelombang S tidak terlalu jelas, pada umumnya bermagnitudo kecil
dengan durasi kurang dari 100 detik dan memiliki periode dominan 0,2 hingga 0,3 detik.
Fasa P dan S sangat sulit dipisahkan, bahkan terlihat seperti banyak fasa. Sehingga gempa
ini juga sering disebut gempa multi-phase. Studi lebih lanjut pada gempa tipe ini dilakukan
oleh Fadeli (1987) dengan mengklasifikasikan lebih rinci menjadi 3 tipe.

Gambar II.2 Gempa Vulkanik Tipe B

3. Gempa Letusan
Gempa ini timbul akibat adanya letusan saat proses erupsi. Magnitudo letusan dapat dilihat
dari amplitude maksimum gempa letusan. Memiliki ciri dengan gerakan awal berupa
gerakan ke atas (push atau up)

Gambar II.3 Gempa Letusan

4. Gempa Tremor Vulkanik


Gempa tremor ini terjadi di sekitar gunung api dalam kurun orde menit hingga jam.
Timbulnya gempa ini dapat diasosiasikan oleh aktivitas fluida magma. Memiliki ciri
gelombang berbentuk stasioner. Selanjutnya gempa ini dapat dibedakan menjadi dua jenis,
sebagai berikut :
a. Tremor Harmonik : merupakan getaran yang menerus berbentuk sinusoidal.
Kedalaman sumber gempa pada kisaran 5 hingga 15 km di bawah permukaan.
b. Tremor Spasmodik : gemapak termor yang terus terjadi namun tidak beraturan. Letak
sumber gempa berkisar pada kedalaman 45 hingga 60 km di bawah permukaan.

Studi

lanjut

terkait

gempa

termor

dilakukan

oleh

Ferrick

(1982)

dengan

mengklasifikasikannya secara lebih rinci berdasar kandungan frekuensi dan durasinya,


menjadi 3 tipe.

Gambar II.4 Gempa Tremor Harmonik

Gambar II.5 Gempa Tremor Spasmodik

5. Gempa Guguran
Gempa ini timbul umumnya setelah terjadi letusan, saat ada guguran kubah lava atau akibat
munculnya aliran awan panas (piroklastik). Memiliki ciri amplitude yang tinggi lalu turun
secara transien.

Gambar II.6 Gempa Tremor Guguran

BAB III
DASAR TEORI

III.1 Gelombang Seismik


Gelombang

seismik

merupakan

gelombang

yang

merambat

melalui

bumi.

Perambatannya sangat bergantung pada sifat elastis material penyusun lapisan batuan.
Gelombang seismic dapat timbul akibat adanya usikan yang disengaja (aktif) atau akibat adanya
gempa bumi (pasif). Dalam hal ini yang menjadi fokus penulis adalah gelombang seismic yang
pasif.
Gelombang seismic juga termasuk dalam gelombang elastik karena medium yang dilaluinya
(bumi) bersifat elastic. Teori lempeng tektonik juga telah menjelaskan tentang pergerakan dari
lempeng bumi yang menyebabkan batuan dapat terdeformasi. Deformasi akibat pergerakan
lempeng ini dapat berupa tegangan (stress) atau regangan (strain).
Selanjutnya, gelombang seismic dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu :

1. Gelombang Badan/ Body wave


Merupakan gelombang yang menjalar dalam medium elastic dengan arah
perambatan ke seluruh bagian di dalam bumi. Dilihat dari pergerakan partikel saat
melewati medium serta arah penjalarannya, gelombang ini dapat dibedakan menjadi
gelombang P (kompresi/ longitudinal) dan gelombang S (shear/ transversal)
Gelombang P memiliki kecepatan rambat paling besar dibanding gelombang
seismic lainnya dan dapat merambat melalui medium padat maupun cair. Pada umumnya
semakin padat suatu batuan maka semakin cepat pula kemampuan perambatan
gelombang P. Hal ini memperlihatkan bahwa adanya perbedaan kecepatan antara tiap
bidang batas. Ketika suatu gelombang melalui medium yang padat, maka simpangannya
akan lebih kecil dari pada saat melalui medium yang lebih renggang.
Gelombang S memiliki arah getaran yang tegak lurus terhadap arah rambat.
Gelombang ini mampu merambat pada batuan dengan kecepatan rata-rata 4 hingga 7
km/detik, dengan periode dari 11 hingga 13 detik. Gelombang sekuder hanya mampu
merambat pada medium padat. Saat melalui medium cair atau udara, gelombangnya akan
teredam sehingga tidak dapat terekam oleh seismograf.

Gambar III.1 Gelombang Primer dan Sekunder

2. Gelombang Permukaan
Gelombang jenis ini menjalar pada batas permukaan medium. Jika dilihat dari
sifat gerakan partikel media elastik, gelombang partikel merupakan gelombang yang
kompleks dengan frekuensi rendah dan memiliki amplitudo besar. Gelombang ini timbul
akibat adanya efek free surface karena adanya perbedaan sifat elastik (Susilawati, 2008).
Gelombang ini selanjutnya dapat dikategorikan menjadi 2 jenis, yaitu gelombang Love
dan gelombang Rayleigh.
Gelombang Love merupakan gelombang geser yang terpolarisasi secara
horizontal dan tidak ada perpindahan secara vertikal. Gelombang ini terbentuk akibat
interferensi konstruktif dari pantulan-pantulan gelombang seismik pada permukaan
bebas. Gelombang Love bergerak sejajar dengan permukaan namun tegak lurus dengan
arah rambat. Gelombang ini akan samapi lebih dulu dibanding gelombang Rayleigh.
Sedangkan Gelombang Rayleigh adalah gelombang permukaan hasil dari
interaksi antara bidang gelombang P dan SV pada permukaan bebas dan merambat secara
paralel terhadap permukaan. Gelombang ini merambat sepanjang permukaan dengan
gerakan partikel elliptical retrograde dan berubah menjadi prograde jika kedalamannya
melewati suatu titik dimana tidak terdapat gerakan. Gelombang Rayleigh hanya bergerak

secara vertikal saja, dan tidak memiliki gerakan tangensial. Amplitudo gelombang ini
akan menurun secara eksponensial terhadap kedalaman.

Gambar III.2 Gelombang Love dan Rayleigh

Gambar III.3 Kenampakan gelombang P, S, dan gelombang permukaan pada seismogram

III.2 Seismik Gunung Api


Seismik Gunung Api dimaksud studi terkait getaran yang ditimbulkan atau yang ada pada
aktivitas gunung api. Karena objek yang dipelajari merupakan getaran bumi alami (gempa bumi)
akibat aktivitas vulkanik, maka dapat digolongkon sebagai Seismologi Gunung Api.
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, gempa bumi vulkanik sendiri merupakan
peristiwa gempa yang disebabkan oleh aktivitas vulkanisme, aktivitas ini dikarenakan oleh
adanya pergerakan magma yang menekan tubuh batuan di sekelilingnya. Gempa ini dapat terjadi,

sebelum dan saat terjadinya letusan gunung api. Getaran yang timbul terkadang dapat dirasakan
oleh langsung oleh masyarakat sekitar gunung api berada. Kejadian meletusnya gunung api pada
umumnya diawali dengan meningkatnya intensitas gempa vulkanik. Sehingga gempa vulkanik
merupakan salah satu precursor pada kejadian erupsi gunung api. Sinyal seismic yang dipelajari
sebenanrnya tidak murni hanya disebabkan pergerakan magma, tapi juga akibat kandungankandungan unsur lain dalam magma, seperti gas, fluida, serta padatan. Karena massa tersebut
bergerak, maka pengamatannya harus bersifat dinamis. Sehingga membuat Seismik Gunung Api
termasuk dalam bidang seismologi yang paling menantang.
Seismik Gunung Api timbul tidak lepas juga oleh pengaruh pergerakan lempeng tektonik
yang ada di sekitar tempat gunung itu berada. Sehingga ilmu ini merupakan hasil interaksi antara
ilmu yang mempelajari tentang gunung api sekaligus proses seismo-tektonik. Selain itu, setiap
gunung api memiliki tingkat seismisitas masing-masing, dan tidak ada yang benar-benar sama
persis. Hal ini disebabkan oleh tiap-tiap gunung api memiliki unsur penyusun magma yang
berbeda-beda serta struktur pipa/ saluran magma yang berbeda-beda. Bahkan pada gunung yang
sama, kejadian erupsinya tidak akan sama persis pada waktu yang berbeda. Hal ini mungkin
terjadi akibat evolusi gunung api atau akibat pengaruh lingkungan/ cuaca saat erupsi terjadi.

III.3 Gempa Tremor Vulkanik


Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, tremor vulkanik merupakan gempa atau
gejala seismic yang sifatnya implusif dan berdurasi dalam orde menit hingga orde jam.
Klasifikasi gempa tremor vulkanik secara lebih lanjut dilakukan oleh Ferrick, 1982, berdasarkan
kandungan frekuensi dan durasinya, menjadi 3 tipe seperti berikut ini :
1. Tipe A : Tremor dengan frekuensi lebih dari 10 Hz dan durasi dalam orde jam
2. Tipe B : Tremor dengan frekuensi kurang dari 10 Hz dan durasi dalam orde menit
3. Tipe C : Tremor Harmonik dengan kenampakan berbentuk fungsi sinusoidal, berfrekuensi
rendah kurang dari 10 Hz dan durasi dalam orde jam.
Gempa tremor yang terjadi pada gunung berapi dapat disebabkan oleh banyak hal.
Beberapa peneliti telah melakukan studi terkait gempa tremor dan memberikan pandangannya
masing-masing terkait penyebab kemunculan gempa tremor vulkanik, seperti yang ditunjukkan
pada table berikut ini :

Nama

Teori sumber tremor vulkanik

Steinberg (1975)
Ferrick,

et

Hasil dari osilasi dinding saluran magma karena gesekan magma


al Aliran magma di dalam pipa saluran magma yang mempunyai

(1982)

penampang berbeda

Chouet (1988)

Rekahan saluran magma karena fluktuasi tekanan dari cairan


magma yang terjadi secara acak

Kirbani (1990)

Tremor disebabkan oleh adanya aliran tak stasioner

Rolf Schick (1991)

Aliran magna yang mempunyai dua fase fluid, yaitu fase gas dan
cair

Wolfgang Brustel Aliran magma di dalam pipa saluran magma yang mempunyai
(1991)

penampang sama

Vera Schlindwein Hasil dari osilasi gas dalam kantong magma


(1995)
Maurizio

Ripepe Pelepasan gas sebagai akibat dari pertambahan tekanan yang

(1999)

berasal dari bagian bawah kantong magma


Tabel III.1 Teori penyebab gempa tremor vulkanik

Dari berbagai pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa penyebab tremor pada
umumnya adalah pergerakan fluida di dalam tubuh gunung api.

III.4 Parameter-parameter Gempa Vulkanik


Gempa vulkanik memiliki parameter-parameter tertentu yang didapatkan dari
perhitungan serta pengamatan terhadap gelombang yang diterima oleh seismometer, yang
selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan karakteristik atau jenis gempa tersebut.
Parameter yang umum digunakan dalam studi terkait gempa adalah sebagai berikut :

1. Amplitudo
Amplitudo dalam suatu gelombang berarti jarak simpangan terjauh dari titik setimbang.
Sehingga jika dalam rekaman data seismik gelombang gempa, amplitude diukur dari
puncak tertinggi ke lembah paling dasar dalam satu gelombang. Namun hal ini tentu tidak
akan mudah dilakukan, karena dalam satu rekaman data memungkinkan untuk

menunjukkan banyak amplitude yang berbeda-beda, sehingga bisa juga dilakukan


penghitungan amplitude rata-rata dalam suatu kejadian gempa. Simbol untuk amplitude
pada umumnya adalah A.

2. Frekuensi
Frekuensi adalah jumlah gelombang gempa yang terbentuk tiap satu detik. Frekuensi
berbanding terbalik dengan Periode, yang merupakan waktu yang dibutuhkan untuk
menempuh satu gelombang (satu puncak dan satu lembah) dengan simbol untuk periode
adalah T. Satuan Internasional untuk periode adalah sekon, sedangkan untuk frekuensi
adalah Hz yang merupakan nilai yang didapat dari satu per periode (1/T). Karena bisa
terbentuk banyak gelombang dalam satu waktu di satu kejadian gempa vulkanik, maka
pada umumnya untuk memudahkan dapat dilakukan analisa spectral agar dapat
ditentukan frekuensi dominannya.

3. Magnitudo
Magnitudo gempa merupakan besaran yang menyatakan besarnya energy seismic yang
dipancarkan oleh sumber gempa. Energi ini merupakan energy total seismic yang
merupakan hasil transfer energi gelombang elastic, karena tidak semua energi gempa
ditransfer dalam bentuk energy gelombang. Sehingga magnitudo ini lebih condong untuk
menggambarkan energi gelombang, bukan energi seismic.
Perhitungan magnitude gempa telah dilakukan oleh banyak ahli, namun yang umum
digunakan saat ini adalah perumusan yang dicetuskan oleh Guttenberg-Richter (1956)
Magnitudo awalnya didefinisikan sebagai hasil log amplitude maksimum (dalam mm)
rekaman komponen horizontal pada seismograf standar, dengan perode bebas (T0) = 0,8
dt, dan Perbesaran atau magnifikasi (V0) = 2800, sedang factor redaman (h) = 0,8
M = log (A) log (A0)

(1)

Akibat gempa kecil mungin tercatat dengan nilai amplitude yang lebi kecil atau sama
dengan getaran standar makan perhitungan dengan persamaan (1) akan memberikan nilai
magnitude negative atau nol. Maka perlu dilakukan penyesuaian terhadap persamaan di
atas, menjadi seperti di bawah ini :
M = log (Ar) log (A0)

(2)

Dengan M merupakan magnitude gemoa, sedang Ar adalah amplitude terkoreksi terhadap


seimograf standar (Wood Anderson standar torsion seismometer ). r = Ap-p x (2800/I)
dengan Ap-p merupakan amplitude dari puncak ke puncak dibagi dua, I adalah perbesaran
seismograf yang digunakan. Log (A0) adalah nilai logaritma variable amplitude gempa
khusus fungsi dari jarak episenter.
Selanjutnya untuk gempa dengan sumber dangkal persamaan (2) dapat ditulis sebagai
berikut :
M =1.4 + log (Ar)

(3)

Hasil dari perhitungan tersebut kemudian diplot terhadap lama (durasi) gempa agar bisa
mendapatkan estimasi magnitude yang terjadi bila lama gempa diketahui. Sehingga
menghasilkan persamaan umum linier antara magnitude dengan lama gempa, sebgai
berikut :
M = a + b log (T)

(4)

Dengan T adalah lama gempa dalam sekon.


Selain menghitung kekuatan gempa dalam tiap kejadian, diperlukan juga penghitungan
energi total gelombang seismic sehingga kedepannya dapat diperkirakan ada seberapa
besar potensi energi gelombang seismik yang belum terlepaskan dalam proses erupsi.

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
IV.1 Alat dan Bahan
Perekaman data dilakukan oleh seismometer yang dipasang secara permanen yang
diantaranya berada dekat puncak Gunung Merapi, dan lainnya sekitar lereng atas gunung. Sinyal
kemudian ditransmisikan ke kantor BPPTKG di jalan Cendana. Data kemudian diolah dengan
memanfaatkan computer milik instansi. Penggunaan perangkat lunak pada pengolahan data in
ditentukan oleh pihak BPPTKG.

IV.2 Tahap Pengolahan Data


Secara umum pengolahan data sinyal seismic gunung api adalah sebagai berikut :

1. Deteksi Sinyal dan pembuatan jendela waktu


Deteksi sinyal dapat dilakukan terhadap bentuk gelombangnya, yang pada umumnya
akan ditunjukkan dengan nilai amplitudo yang lebih besar serta bentuk gelombang yang
khas, sesuai contoh-contoh tampilan gelombang gempa vulkanik yang sudah ditampilkan
sebelumnya. Pemilihan jendela waktu (window) akan mempengaruhi pada nilai resolusi
frekuensi yang diamati, semakin kecil window yang diterapkan akan memberikan resolusi
yang rendah pula.

2. Pentapisan sinyal
Proses ini bertujuan untuk memisahkan sinyal yang datang dari sumber gempa dengan
derau yang mungkin diakibatkan oleh gempa mikro laut. Penapisan ini umumnya
menggunakan tapis lolos atas dengan pendekatan tapis memanfaatkan pendekatan
Butterworth. Namun penggunaan tapis pada tahap ini perlu dikaji lebih lanjut, karena
secara umum tapis memiliki tiga jenis, yaitu low pass filter, high pass filter, dan band
pass filter. Dimana pemakaiannya tentu harus disesuaikan dengan sinyal yang akan
dikenai tapis, dan pengguna harus mengerti mana sinyal yang diharapkan dan mana derau
yang akan dihilangkan, agar proses ini tidak justru menghilangkan sinyal yang
diharapkan untuk dianalisis.

3. Analisis Amplitudo dan Analisis Spektral


Pembacaan data atau nilai amplitudo dilakukan secara kualitatif, dengan melihat langsung
bentuk dari sinyal yang terekam serta membandingan dengan niali amplitudo hasil rerata
dengan metode Root Mean Square (RMS). Analisis Spektral dilakukan untuk
menentukan frekuensi dominan dari sinyal yang tertangkap. Dimana dari karakteristik
nilai amplitudo dan frekuensi inilah tipe gempa tremor akan dikenali.

BAB V
PENUTUP
Penelitian terkait gempa tremor vulkanik ini merupakan salah satu langkah untuk
memperdalam studi terkait gunung api dan perilakunya terhadap lingkungan. Diharapkan dari
hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat yang besar, khususnya bagi peneliti sendiri karena
bertambahnya ilmu, serta umumnya terhadap masyarakat dan kemajuan dalam bidang ilmu
pengetahuan. Keberadaaan BPPTGK sebagai instansi yang menyelenggarakan pengamatan
terhadap fenomena gunung api ini dirasa sangat bermanfaat, dan kesempatan yang selanjutnya
dapat diberikan kepada mahasiswa untuk bisa ikut terlibat dalam proses dan penanggulangan
bencana terkait gunung api ini akan memberikan progress yang signifikan terhadap pengalaman
mahasiswa dalam menghadapi lingkungan kerja di bidang mitigasi bencana alam yang dituntut
untuk memperhatikan banyak aspek.
Semoga dengan diberikannya kesempatan untuk melaksanakan penelitian ini, dapat
semakin mempererat tali kerja sama antara instansi pendidikan yaitu Universitas Gadjah Mada
dengan Balai Pengembangan dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi, dan dapat
semakin memajukan ilmu pengetahuan dalam bidang mitigasi bencana gunung api.

REFERENSI
- Budi Santoso A., Lasage P., dkk. 2013. Analysis of the seismic activity associated with the 2010
eruption of Merpai Volcano, Java. Journal of Volcanology and Geothermal Research. 261. 153170. Elsevier B. V
- G. S. Gorshkov, T. Minakami, dkk. 1971. The surveillance and prediction of volcanic activity.
Paris. Unesco
- Langer, Falsaperla, dkk. 2010. Detecting imminent eruptive activity at Mt. Etna, Italy, in 20072008 through pattern classification of volcanic tremor data. Journal of Volcanology and
Geothermal Research. 200. 1-17. Elsevier B. V
- Suprapto, Bambang HM. (2001). Studi Tentang Tremor Vulkanik Di Gunung Merapi Pada
Erupsi Bulan Oktober 1996. Yogyakarta. Program Pasca Sarjana UGM
- Suyanto, Imam. (1993). Studi Tentang Tremor Harmonik Gunung Merapi (Jawa Tengah)
Sebelum Pembentukan Kubah Lava Tahun 1992. Yogyakarta. Program Pasca Sarjana UGM