Anda di halaman 1dari 20

BAB 2

KONSEP FRAKTUR
2.1

Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, et al, 2000).
Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang
lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang (Linda Juall C, 2000).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasa nyeri, pembengkakan,
deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan krepitasi (Doenges, 2000).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur
terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smelter & Bare,
2002).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik
yang bersifat total maupun yang parsial. (Rasjad, 2007).
2.2

Etiologi
1. Trauma Langsung
Yaitu apabila fraktur terjadi pada tulang dimana bagian tersebut mendapat trauma, misalnya
benturan atau pukulan pada lengan bawah menyebabkan fraktur pada tulang ulna dan radius.
Fraktur demikian sering menyebabkan fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau
miring.
2. Trauma Tidak Langsung
Yaitu apabila fraktur terjadi pada tulang yang jauh dari tempat terjadinya trauma, misalnya
jatuh tertumpu pada tangan menyebabkan fraktur klavikula.
3. Proses Patologis
Terjadi akibat kelemahan dan kelainan pada tulang, misalnya karena osteoporosis dan
osteomielitis.

2.3

Klasifikasi
Penampilan fraktur dapat sangat bervariasi, tetapi untuk alasan yang praktis dibagi menjadi
beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan keadaan luka
a. Fraktur tertutup
Apabila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga
fraktur bersih karena kulit masih utuh.
b. Fraktur terbuka
Apabila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena ada
perlukaan kulit.
Fraktur yang terjadi akibat ligamen tulang bergeser ke bagian otot dan kulit
sehingga adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat yaitu:
1) Derajat I, yaitu luka tembus dengan diameter 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit
dan kontaminasi minimal.
2) Derajat II, terdapat luka laserasi lebih dari 1 cm, tanpa disertai kerusakan jaringan
lunak yang lebih luas, kontaminasi minimal.
Page | 1

2.

3.

4.

5.

3) Derajat III, terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan
neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.
Fraktur derajat III terbagi atas tiga bagian yaitu:
III a : Jaringan lunak menutupi fraktur tulang meskipun terdapat laserasi luar.
III b : Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau
kontaminasi massif.
III c : Luka pada pembuluh arteri/ saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa
melihat kerusakan jaringan lunak.
Berdasarkan garis patahan
a. Fraktur komplit
Apabila garis patahan melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks
tulang.
b. Fraktur inkomplit
Apabila garis patahan tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti:
Hair line fraktur
Buckle atau tonus fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang
spongiosa di bawahnya
Green stick fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi
pada tulang panjang
Berdasarkan arah garis patahan
a. Fraktur transversal
Yaitu fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat tauma angulasi
atau langsung.
b. Fraktur oblique
Yaitu fraktur yang arah garis patahannya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi.
c. Fraktur spiral
Yaitu fraktur yanng arah garis patahannya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
d. Fraktur kompresi
Yaitu fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah
permukaan lain.
e. Fraktur avulsi
Yaitu fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada
tulang.
Berdasarkan jumlah garis patahan
a. Fraktur komunitif
Yaitu fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
b. Fraktur segmental
Yaitu fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
c. Fraktur multipel
Yaitu fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
Berdasarkan pergeseran fragmen tulang
a. Fraktur undisplaced (tidak bergeser)
Garis patah lengkap tetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
b. Fraktur displaced (bergeser)
Terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
Dislokasi ad longitudinam cum contraction (pergeseran searah sumbu dan overlapping)
Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
Page | 2

Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh)


2.4

Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk
menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap
tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya
kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam
korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi
karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan
tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma
dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses
penyembuhan tulang nantinya

2.5

Manifestasi Klinis
Nyeri
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme
otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
Perubahan bentuk
Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. Deformitas dapat di
ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat
berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat
melengketnya obat.
Bengkak
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan
yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari
setelah cedera
Peningkatan temperatur lokal
Pergerakan abnormal
Krepitasi
Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang.
Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
Kehilangan fungsi

1.

2.

3.

4.
5.
6.
7.

2.6
1.
2.
3.
4.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan rontgen
Untuk menentukan lokasi/luasnya fraktur atau trauma
Arteriogram
Dilakukan bila kerusakan vascular dicurigai
Hitung darah lengkap
Peningkatan jumlah sel darah putih adalah respon stres normal setelah trauma
Kreatinin
Page | 3

Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal


5. Profil koagulasi
Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple atau cedera hati
6. Scan tulang, tomogram, CT scan/ MRI dapat digunakan untuk mengidentifi-kasi kerusakan
jaringan lunak.
2.7

Penatalaksanaan
Prinsip Terapi Fraktur
Ada empat konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur yaitu:
1. Rekognisi atau pengenalan (Price & Wilson, 1985)
Rekognisi yaitu pengenalan mengenai dignosis pada tempat kejadian kecelakaan dan
kemudian di rumah sakit. Riwayat kecelakaan, parah tidaknya, jenis kekuatan yang
berperanan dan deskripsi tentang kejadian tersebut oleh klien sendiri, menentukan
kemungkinan tulang yang patah, yang dialami dan kebutuhan pemeriksaan spesifik untuk
fraktur.
2. Reduksi; pemilihan keselarasan anatomi bagi tulang fraktur (Sabiston, 1984)
Reposisi.
Fraktur tertutup pada tulang panjang seringkali ditangani dengan reduksi tertutup.
Untuk mengurangi rasa sakit selama tindakan ini klien dapat diberi narkotika intravena,
obat penenang (sedatif a0 atau anastesia blok saraf lokal). Pada waktu merencanakan
perawatan klien perlu dinilai; keadaan sosial, kemungkinan dukungan dari keluarga,
kemungkinan pengaruh cedera pada kehidupan klien pada beberapa bulan yang akan
datang dan harapan dari klien sendiri. Perlu diberikan penjelasan tentang adnya
kemungkinan reduksi tidak berhasil, akibat fraktur yang dapat terjadi, periode serta sifat
ketidakmampuan klien. Contoh; klien yang mengalami fraktur pada daerah siku jarang
dapat mengekstensikan lengan sepenuhnya dan mengunci sikunya. Jika reduksi
secara manual dan tertutup dengan analgetik lokal tidak berhasil, maka upaya ini harus
dihentikan, klien perlu dirawat di rumah sakit disiapkan untuk anastesi umum dan
direncanakan reduksi di kamar operasi.
Traksi kontinu; dengan plester felt melekat di atas kulit atau dengan memasang pin
trafersa melalui tulang, distal terhadap fraktur.
Reduksi terbuka bedah, biasanya disertai sejumlah bentuk fiksasi interna dengan plat
pin, batang atau sekrup.

3. Imobilisasi (Sabiston, 1995) atau retensi reduksi (Wilson & Price, 1985)
Bila reduksi telah tercapai, maka diperlukan imobilisasi tempat fraktur sampai timbul
penyembuhan yang mencukupi. Berbagai teknik digunakan untuk imobilisasi, yang
tergantung pada fraktur:
Fraktur impaksi pada humerus proksimal sifatnya stabil serta hanya memerlukan ambin
atau balutan lunak
Fraktur kompresi (impaksi) pada vertebra, tepat diterapi dengan korset atau brace
Page | 4

Fraktur yang memerlukan reduksi bedah terbuka biasanya diimobilisasi dengan


perangkat keras interna, imobilisasi eksternal normalnya tidak diperlukan.
Fraktur ekstremits dapat diimobilisasi dengan gibs, gibs fiberglas atau dengan brace
yang tersedia secara komersial
Semua pasien fraktur perlu diperiksa untuk menilaian neurology dan vascular. Adanya
nyeri, pucat, prestesia, dan hilangnya denyut nadi pada ekstremitas distal merupakan
tanda disfungsi neurovaskuler.
Bila traksi digunakan untuk reduksi, maka traksi juga bertindak sebagai imobilisasi dengan
ekstrimitas disokong di atas ranjang atau di atas bidai sampai reduksi tercapai. Kemudian
traksi dilanjutkan sampai ada penyembuhan yang mencukupi, sehingga pasien dapat
dipindahkan memakai gibs atau brace.
Sedapat mungkin pembidaian (splinting) harus dilakukan dalam posisi fungsional sendi
yang bersangkutan.
4. Pemulihan fungsi (restorasi) atau rehabilitasi (Price & Wilson 1985, Sabiston 1995)
Sesudah periode imobilisasi pada bagian manapun selalu akan terjadi kelemahan otot dan
kekakuan sendi. Hal ini dapat diatasi dengan aktivitas secara progresif, dan ini
dimudahkan dengan fisioterapi atau dengan melakukan kerja sesuai dengan fungsi sendi
tersebut. Adanya penyambungan yang awal dari fragmen-fragmen sudah cukup menjadi
indikasi untuk melepas bidai atau traksi, akan tetapi penyambungan yang sempurna
(konsolidasi) seringkali berlangsung dalam waktu yang lama. Bila konsolidasi sudah terjadi
barulah klien diijinkan untuk menahan beban atau menggunakan anggota badan tersebut
secara bebas.
Tahap Penyembuhan Fraktur
1. Stadium pembentukan hematom;
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma dari darah yang mengalir yang
berasal dari pembuluh darah yang robek disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah
membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya
kapiler baru dan fibroblast.
Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (peristeum & otot).
Stadium ini berlangsung 24 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
2. Stadium proliferasi sel/implamasi;
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang
berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone marrow yang telah mengalami trauma.
Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam
menjadi precusor osteoblast, dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses
osteogenesis. Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen tulang.
Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen
tulang yang patah.
Terjadi setelah hari ke 2 kecelakaan terjadi.
Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung
frakturnya.
3. Stadium pembentukan kallus (3-4 minggu)
Page | 5

Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila
diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago.
Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi
dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang
yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal
dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang) menjadi lebih padat
sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur
menyatu.
Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus).
Kallus memberikan rigiditas pada fraktur.
Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu.
Terjadi setelah 6 10 hari setelah kecelakaan terjadi.
4. Stadium konsolidasi (3-4 bulan)
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi
lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos
melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi
celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses
yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa
beban yang normal.
Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah menyatu.
Secara bertahap menjadi tulang mature.
Terjadi pada minggu ke 3 10 setelah kecelakaan.
5. Stadium remodeling (6-12 bulan)
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa
bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan
pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletakkan pada
tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga
sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.
Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur.
Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast.
Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, dewasa masih ada tanda penebalan tulang.

2.8 Komplikasi
1. Komplikasi Awal
a. Kerusakan arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun,
cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang
disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan
reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartemen syndrome
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya
otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema
atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena
Page | 6

tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat. Gejala utama dari
sindrom kompartemen adalah rasa sakit yang bertambah parah terutama pada pergerakan
pasif dan nyeri tersebut tidak hilang oleh narkotik. Tanda lain adalah terjadinya paralysis,
dan berkurangnnya denyut nadi.
c. Fat embolism syndrome
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus
fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow
kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang
ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
Serangan : 2-3 hari setelah cedera.
Pengobatan : Tindakan yang menunjang yakni sikap fowler, pemberian oksigen, transfusi
darah untuk mengatasi shock hipovolemik, berikan diuretik, bronkhodilator, cortico- steroid
dan imobilisasi yang baik serta penanganan yang cermat dapat mencegah terulangnya
masalah.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic
infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus
fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti
pin dan plat.
e. Avaskuler nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang
bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkmans Ischemia.
f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler
yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
g. Osteomyelitis
Kuman masuk ke dalam luka atau dari daerah lain dari tubuh. Infeksi bagian sum-sum
saluran havar dan subperiosteal yang berakibat merusak tulang oleh enzim proteolitik.
Gejala : Edema, nyeri terdapat pus.
Pengobatan : Kultur dan tes sensitif antibiotik, drainage, debridemen.
Pencegahan : Terapkan teknik aseptis pada waktu membalut luka terbuka.
2. Komplikasi Dalam Waktu Lama
a. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan
yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya
pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
b. Delayed union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan suplai darah ke
tulang.
c. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat
kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan
dan reimobilisasi yang baik.

Page | 7

Page | 8

BAB 3
KONSEP ASKEP
3.1

Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu
diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan
arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada
tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
a.
Pengumpulan Data
1)
Anamnesa
a)
Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS,
diagnosa medis.
b)
Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa
akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang
lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
1. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi
nyeri.
2. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah
seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
3. Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau
menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
4. Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa
berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit
mempengaruhi kemampuan fungsinya.
5. Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam
hari atau siang hari.
c)
Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya
membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan
bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya
kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain.
d)
Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk
berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker
tulang dan penyakit pagets yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk
menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya
osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan
tulang.

Page | 9

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor
predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada
beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik.
f)
Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya
baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
g)
Pola-Pola Fungsi Kesehatan
Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan
harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan
tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti
penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium,
pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien
melakukan olahraga atau tidak.
Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya
seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses
penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan
penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang
tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang
merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain
itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun
begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola
eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna,
bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat
mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan
pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta
penggunaan obat tidur.
Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien
menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain
yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada
beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang
lain.
Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien
harus menjalani rawat inap.
e)

Page | 10

Pola Persepsi dan Konsep Diri


Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat
frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image).
Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang
pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada kognitifnya tidak
mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur.
Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena
harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien.
Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama
perkawinannya.
Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul
kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa
tidak efektif.
Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik
terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan
keterbatasan gerak klien.
2)

Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan
gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat
melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya
memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.
a)
Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
1. Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada
keadaan klien.
Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus
fraktur biasanya akut.
Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
2. Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri
tekan.
Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada
nyeri kepala.
Page | 11

Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.
Muka
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk.
Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi
perdarahan)
Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
Paru
a. Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit
klien yang berhubungan dengan paru.
b. Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
c. Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
d. Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti
stridor dan ronchi.
Jantung
a. Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
b. Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
c. Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada mur-mur.
Abdomen
a. Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
b. Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
c. Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
d. Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
Page | 12

Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
b)
Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status
neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:
1. Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
a. Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).
b. Cape au lait spot (birth mark).
c. Fistulae.
d. Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
e. Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa
(abnormal).
f. Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
g. Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
2. Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi
netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:
a. Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.
b. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama
disekitar persendian.
c. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal,tengah, atau
distal).
Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di
permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status
neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan
permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya,
nyeri atau tidak, dan ukurannya.
3. Move (pergeraka terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan
ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan
lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya.
Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik
0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada
gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif
dan pasif.
3)

Pemeriksaan Diagnostik
a)
Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan
sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan
kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral.
Page | 13

Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk
memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa
permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan
hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray:
1.
Bayangan jaringan lunak.
2.
Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik
atau juga rotasi.
3.
Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
4.
Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:
1. Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup
yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks
dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
2. Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di
ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
3. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
4. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari
tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
b)
Pemeriksaan Laboratorium
1.
Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
2.
Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
3.
Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5),
Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.
c)
Pemeriksaan lain-lain
1.
Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
2.
Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
3.
Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan
fraktur.
4.
Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan.
5.
Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada
tulang.
6.
MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
b.

Analisa Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan dianaisa untuk menemukan masalah
kesehatan klien. Untuk mengelompokkannya dibagi menjadi dua data yaitu, data sujektif dan
data objektif, dan kemudian ditentukan masalah keperawatan yang timbul.

Page | 14

3.2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Diagnosa Keperawatan
Resiko trauma (tambahan)
Nyeri akut
Resiko disfungsi neurovaskular perifer
Resiko gangguan pertukaran gas
Gangguan mobilitas fisik
Resiko kerusakan jaringan kulit
Resiko infeksi

3.3 Perencanaan
1. Nyeri akut b.d. spasme otot/ imobilisasi
Tujuan: Nyeri hilang dengan kriteria: Rilek; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/ tidur/ istirahat
dengan tepat.
No.
Intervensi
Rasional
1. Pertahankan bagian yang sakit dengan
Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan
tirah baring
posisi tulang/jaringan yang cedera
2. Tinggikan dan dukung ekstremitas yang
Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan
terluka
edema dan menurunkan nyeri
3. Hindari penggunaan sprei/bantal plastik di
Dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena
bawah ekstremitas dalam gips
peningkatan produksi panas dalam gips yang
kering
4. Tinggikan penutup tempat tidur,
Mempertahankan kehangatan tubuh tanpa
pertahankan linen terbuka pada ibu jari
ketidaknyamanan karena tekanan selimut pada
kaki
bagian yang sakit
5. Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyaman,
Mempengaruhi pilihan atau pengawasan
perhatikan lokasi dan karakteristik,
keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat
termasuk intensitas (skala 0 10).
mempengaruhi persepsi atau reaksi terhadap
Perhatikan petunjuk nyeri non verbal
nyeri
6. Dorong pasien untuk mendiskusikan
Membantu untuk menghilangkan ansietas. Pasien
masalah sehubungan dengan cedera
dapat merasakan kebutuhan untuk
menghilangkan pengalaman kecelakaan
7. Jelaskan prosedur sebelum memulai
Memungkinkan pasien untuk mulai secara mental
untuk aktivitas juga berpartisipasi dalam
mengontrol tingkat ketidaknyamanan.
8. Beri obat sebelum perawatan aktivitas
Meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan
partisipasi.
9. Lakukan dan awasi latihan rentang gerak
Mempertahanakan kekuatan atau mobilitas otot
pasif/aktif
yang sakit dan memudahkan resolusi implamasi
pada jaringan yang cedera
10. Berikan alternatif tindakan kenyamanan,
Meningkatkan sirkulasi umum: menurunkan area
contoh pijatan-pijatan punggung,
tekanan lokal dan kelelahan otot.
perubahan posisi
11. Dorong/ ajari teknik manajemen nyeri,
Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan
latihan nafas dalam, sentuhan teraupeti
rasa kontrol, dan dapat meningkatkan
selidiki keluhan nyeri yang tidak biasa/
kemampuan koping dalam manajemen nyeri yang
Page | 15

tiba-tiba

mungkin menetap untuk periode lebih lama

2. Resiko disfungsi neurovaskular perifer b.d. penurunan aliran darah


Tujuan: Mempertahankan perfusi jaringan dengan kriteria:
Terabanya nadi
Kulit hangat
Sensasi normal
Sensori biasa
Tanda-tanda vital stabil
Haluaran urian adequate untuk situasi individu
No.
Intervensi
Rasional
1. Lepaskan segala
Dapat membendung sirkulasi bila terjadi oedema
perhiasan/aksesoris yang ada
pada ekstremitas yang sakit
2. Evaluasi adanya kualitas nadi
Penurunan/tidak adanya nadi dapat menggambarkan
perifer distal terhadap cedera
cedera vaskuler dan perlunya evaluasi medik segera
melalui palpasi. Bandingkan
terhadap status sirkulasi. Waspadai bahwa kadang-kadang
dengan ekstremitas yang sakit
nadi dapat terhambat oleh bekuan halus dimana pulsasi
mungkin teraba. Selain itu perfusi melalui arteri lebih besar
dapat berlanjut setelah meningkatnya tekanan
kumpertemen yang telah mengempiskan sirkulasi arteriol
atau venula otot
3. Kaji aliran kapiler, warna kulit
Kembalinya warna harus cepat (3 5 detik). Warna kulit
dan kehangatan distal pada
putih menunjukan gangguan arterial. Sianosis diduga ada
fraktur
gangguan vena. Nadi perifer, warna kulit, dan sensasi
mungkin normal, meskipun ada sindrom kompertemen
karena sirkulasi supervisial biasanya tidak dipengaruhi.
4. Lakukan pengkajian
Gangguan perasaan kesemutan, peningkatan atau
neuromuskuler. Perhatikan
penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak
perubahan fungsi motorik/
adequate/saraf rusak.
sensorik untuk melokalisasi
nyeri/ ketidaknyamanan
5. Kaji jaringan sekitar akhir gips
Faktor ini disebabkan atau mengindikasikan tekanan
untuk titik yang kasar/tekan.
jaringan/iskemia, menimbulkan kerusakan/nekrosis.
Selidiki rasa terbakar di bawah
gips
6. Perhatikan keluhan nyeri
Perdarahan atau pembentukan edema berlanjut dalam otot
ekstremitas untuk tipe cedera
tertutup dengan fasia ketat dapat menyebabkan gangguan
atau peningkatan nyeri pada
aliran darah dan iskemia miositis/sindrom kompertemen,
gerakan pasif ekstremitas
perlu intervensi darurat untuk menghilangkan
tekanan/memperbaiki sirkulasi. Kondisi ini memerlukan
kedaruratan medik dan memerlukan intervensi segera.

Page | 16

7.

8.

9.

10.

11.

Perhatikan tanda iskemia


ekstremitas tiba-tiba, contoh
Penurunan suhu kulit dan
peningkatan nyeri
Latih pasien untuk secara rutin
latihan jari/sendi distal cedera.
Ambuilasi sesegera mungkin
Observasi nyeri tekan,
pembengkakan pada dorsofleksi
kaki
Awasi tanda-tanda vital,
perhatikan tanda-tanda sianosis
umum, kulit dingin, perubahan
mental
Kolaborasi: kompres es sekitar
fraktur sesuai indikasi

Dislokasi fraktur sendi (khususnya lutut) dapat


menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan, akibat
hilangnya aliran darah ke distal
Meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpalan
darah khususnya pada ekstremitas bawah.
Terdapat peningkatan potensial untuk tromboflebitis dan
emboli paru pada pasiem immobilisasi selama 5 hari atau
lebih
Ketidakadequatan volume sirkulasi akan mempengaruhi
sistem perfusi jaringan

Menurunkan oedema atau pembentukan hematoma yang


dapat mengganggu sirkulasi

3. Gangguan mobilitas fisik b.d. nyeri daerah fraktur


Tujuan: Meningkatkan atau mempertahankan mobilitas fisik dengan kriteria: mampu melakukan
aktivitas.
No.
Intervensi
Rasional
1. Kaji derajat immobilitas yang
Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi
dihasilkan oleh cedera atau
diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan
pengobatan dan memperhatikan
informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan
persepsi pasien terhadap immobilisasi kesehatan
2. Dorong partisipasi pada aktivitas
Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi,
terapiotik atau relaksasi. Pertahankan menfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa
rangsangan lingkungan, contoh; radio, kontrol diri/harga diri dan membantu menurunkan
TV, barang milik pribadi, jam, kalender,
isolasi sosial
kunjungan keluarga atau teman
3. Instruksikan pasien untuk/bantu
Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk
dalam rentang gerak pasien/aktif
meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak
pada ekstremitas yang sakit dan
sendi, mencegah kontraktor/atrofi dan resporpsi
yang tidak sakit
kalsium karena tidak digunakan
4. Dorong penggunaan latihan
Kontraksi otot isometric tanpa menekuk sendi atau
isometric mulai dengan tungkai yang menggerakkan tungkai dan membantu mempertahankan
tak sakit
kekuatan dan masa otot. Catatan: Latihan ini
dikontraindikasikan pada perdarahan akut/edema
5. Berikan papan kaki, bebat
Berguna dalam mempertahankan posisi fungsional
pergelangan, gulungan trokanter/
ekstremitas, tangan/kaki, dan mencegah komplikasi
tangan yang sesuai
(contoh: kontraktur/kaki jatuh)

6.

Tempatkan dalam posisi telentang

Menurunkan resiko kontraktor fleksi panggul


Page | 17

7.

8.

9.

10.

11.
12.

13.

14.

15.

secara periodik bila mungkin, bila


traksi digunakan menstabilkan fraktur
tungkai bawah
Instruksikan/dorong menggunakan
Memudahkan gerakan selama hygiene/perawatan kulit,
trapeze dan Pasca posisi untuk
dan penggantian linen; menurunkan ketidaknyamanan
fraktur tungkai bawah
dengan tetap datar di tempat tidur. Pasca posisi
melibatkan penempatan kaki yang tidak sakit datar di
tempat tidur dengan lutut menekuk sementara
menggenggam trapeze dan mengangkat tubuh dari
tempat tidur
Bantu.dorong perawatan diri/
Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan
kebersihan (contoh; mandi, mencukur) kontrol pasien dalam situasi, dan meningkatkan
kesehatan diri langsung.
Berikan/bantu dalam mobilisasi
Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring
dengan kursi roda, kruk, tingkat,
(contoh; flebitis) dan meningkatkan penyembuhan dan
sesegera mungkin. Instruksikan
normalisasi fungsi organ. Belajar memperbaiki cara
keamanan dalam menggunakan alat menggunakan alat penting untuk mempertahankan
mobilitas,
mobilisasi optimal dan keamanan pasien.
Awasi TD dengan melakukan
Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai
aktivitas. Perhatikan keluhan pusing tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi
khusus (contoh kemiringan meja dengan peninggian
secara bertahap sampai posisi gerak)
Ubah posisi secara periodik dan dorong Mencegah/menurunkan insiden komplikasi kulit/
untuk latihan batuk/nafas dalam
pernafasan (contoh dekubitus, antelektasis, pneumonia)
Auskultasi bising usus. Awasi
Tirah baring, penggunaan analgesik, dan perubahan
kebiasaan eliminasi dan berikan
dalam kebiasaan diet dapat memperlambat peristaltic
keteraturan defekasi runin.
dan menghasilkan konstipasi. Tindakan keperawatan
Tempatkan pada pispot, bila
yang memudahkan eliminasi dapat mencegah/membatasi
mungkin, atau menggunakan bedpan komplikasi. Bedpan fraktur membatasi fleksi panggul
fraktur. Berikan privasi
dan mengurangi tekanan lumbal/gips ekstremitas bawah
Dorong peningkatan masukan cairan Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resiko
sampai 2000 3000 ml/hari
infeksi urinarius, pembentukan batu, dan konstipasi
termasuk air asam/jus
Berikan diet tinggi protein,
Pada adanya cedera muskulesketal, nutrisi yang
karbohidrat, vitamin dan mineral.
diperlukan waktu penyembuhan berkurang dengan
Pertahankan Penurunan kandungan cepat, sering mengakibatkan Penurunan berat badan
protein sampai setelah defekasi
sebanyak 20-30 pon selama traksi tulang. Ini dapat
pertama
mempengaruhi massa otot, tonus, dan kekuatan.
Catatan: makanan protein m,eningkatkan kandungannya
pada usus halus, mengakibatkan pembentukan gas
konstipasi, sehingga fungsi GI harus secara penuh
membaik sebelum makanan berprotein meningkat
Tingkatkan jumlah diet kasar. Batasi Penambahan bulk pada fases membantu mencegah
makanan pembentukan gas
konstipasi. Makanan pembentuk gas dapat

Page | 18

menyebabkan distensi abdominal, khususnya pada


adnya Penurunan mobilitas usus
16

Kolaborasi
Konsul dengan ahli terapi
fisik/okupasi dan/atau rehabilitasi
spesialis

Lakukan program defekasi (pelunak


feses, edem, lakstif) sesuai indikasi
Rujuk ke perawat spesialis psikiatrik
klinikal/ahli terapi sesuai indikasi

Berguna dalam membuat aktivitas individual/program


latihan. Pasien dapat memerlukan bantuan jangka
panjang dengan gerakan kekuatan, dan aktivitas yang
mengandalkan berat badan, juga penggunaan alat,
contoh, walker, tingkat, meninggikan tempat duduk di
toilet, tingkat pengambil/penggapai, khususnya alat
makan
Dilakukan untuk meningkatkan evakuasi usus
Pasien/orang terdekat memerlukan tindakan intesif
lebih untuk menerima kenyataan kondisi prognosis,
immobilisasi lama, mengalami kehilangan kontrol

Page | 19

DAFTAR PUSTAKA
Apley, A. Graham , Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley, Widya Medika, Jakarta, 1995.
Black, J.M, et al, Luckman and Sorensens Medikal Nursing : A Nursing Process Approach, 4 th
Edition, W.B. Saunder Company, 1995.
Carpenito, Lynda Juall, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta, 1999.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 1991.
Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC
Dudley, Hugh AF, Ilmu Bedah Gawat Darurat, Edisi II, FKUGM, 1986.
Henderson, M.A, Ilmu Bedah untuk Perawat, Yayasan Essentia Medika, Yogyakarta, 1992.
Hudak and Gallo, Keperawatan Kritis, Volume I EGC, Jakarta, 1994.
Ignatavicius, Donna D, Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach, W.B. Saunder
Company, 1995.
Keliat, Budi Anna, Proses Perawatan, EGC, Jakarta, 1994.
Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Edisi 3 EGC, Jakarta, 1996.
Mansjoer, Arif, et al, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Medika Aesculapius FKUI, Jakarta, 2000.
Oswari, E, Bedah dan Perawatannya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.
Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta.
EGC
Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta.
EGC
Tucker, Susan Martin, Standar Perawatan Pasien, EGC, Jakarta, 1998.

Page | 20